Tuesday, November 19, 2013

Kampung Betawi yang Kurang Betawi


Kampung Betawi | 16-17 Nov | Kawasan Kota Tua ow.ly/qQuDX #jktevent

Berbekal twit @infojakarta pada beberapa hari lalu itu, saya memutuskan untuk mengisi akhir pekan saya dengan mengunjungi kawasan Kota Tua. Atau lebih tepatnya, dengan mengunjungi Kampung Betawi di kawasan Kota Tua. Yang paling saya incar memang embel-embel 'Kampung Betawi'-nya, karena banyak yang masih ingin saya ketahui dari Betawi.

Turun di Halte Transjakarta Stasiun Kota, saya, bersama kawan saya Novi, jalan kaki sedikit ke arah Kota Tua, melewati Museum Mandiri dan Museum Bank Indonesia. Di gerbang selatang kawasan Kota Tua ini, kami disambut spanduk bertuliskan Kampung Betawi, yang membuat saya yakin saya menjejakkan kaki di tempat yang sesuai dengan harapan saya.

Dari gerbang selatan, sampai Cafe Batavia, tidak ada banyak perbedaan suasana dengan Kota Tua pada akhir pekan lainnya. Hanya keberadaan sebuah panggung kosong di sebelah barat Cafe Batavia dengan backdrop bertuliskan Kampung Betawi dan pelataran Museum Sejarah Jakarta yang ditutup melingkar dengan seng hijau yang membuat pemandangan berbeda. kami memutari pagar seng dan sampai di pelataran depan kantor pos. Tetap saja tidak ada yang berbeda. 

Tidak ada tanda-tanda keberadaan sebuah Kampung Betawi di Kota Tua.

Akhirnya kami memutuskan untuk makan pecel yang penjualnya bertebaran di depan Museum Wayang. Ini berarti kami harus kembali lagi mengitari pagar seng.

Sampai di depan panggung, saya melihat ada terop di kawasan depan rumah akar--sebuah rumah tua yang dindingnya dipenuhi akar tumbuhan. Saya pikir mungkin itulah lokasinya, jadi kami menuju ke sana.

Di sepanjang jalan tersebut, selain ada terop dengan banyak meja--tapi banyak yang kosong, ada juga beberapa booth berbentuk tenda. Di antaranya adalah booth dari Taman Arkeologi Onrust, Museum Wayang, Museum Tekstil, Museum Sejarah Jakarta, dan Sudin Kebudayaan Kota Administratif  Jakarta Barat. 



Di depan booth Museum Wayang, ada dua orang bapak-bapak tengah sibuk membuat sesuatu dengan memegang kerangka dari bambu tipis. Saya mendekat dan bertanya, kemudian mereka menjelaskan bahwa mereka sedang membuat wayang janur. Ketika saya bertanya bolehkah saya ikut membuat dan diperbolehkan, akhirnya saya mendudukkan diri di atas tikar yang sudah disediakan. Saya meneruskan membuat wayang--yang sebelumnya sudah mereka buat seperempat jadi--dengan membelit-belitkan janur pada kerangka yang ada.

Menurut penjelasan mereka--ah, saya lupa bertanya nama dua orang itu--, wayang yang saya buat itu adalah wayang Bima. Sedangkan janur yang digunakan, bukan janur segar yang masih berwarna hijau, melainkan sudah direbus dahulu sekitar setengah jam, dijemur, kemudian dipotong-potong lebarnya sesuai yang diperlukan.

"Kalau mampir ke Museum Wayang bisa juga bikin beginian, mbak. Tapi kalau di sana bayar 15 ribu. Nah kalau ada acara-acara begini, baru gratis." Saya mengangguk-angguk sambil bertanya dalam hati kenapa dulu saya tidak menemukan aktivitas membuat wayang janur ketika saya berkunjung ke Museum Wayang.

Ketika saya membuat wayang itu, lama-lama booth Museum Wayang menjadi ramai. Banyak yang kemudian ikut duduk di tikar, membelit-belitkan janur pada kerangka bambu. Dengan bantuan bapak-bapak itu, akhirnya wayang Bima saya berhasil selesai dalam waktu sekitar 15 menit.

Seusai mendapatkan wayang yang kemudian saya tenteng-tenteng dengan bangga itu, saya kemudian mampir ke booth Museum Tekstil yang terletak di sebelah booth Museum Wayang. Ada kain putih dengan corak batik yang belum selesai, beberapa canting, dan pemanas listrik berisi lilin. Setelah menunggu agak lama, petugas Museum Tekstil muncul dan langsung kami 'todong' untuk mengajari kami membatik. Kami diberi selembar kain putih berukuran persegi yang sudah digambari motif berberntuk bunga. Kain tersebut kemudian dipasang di alat berbentuk lingkaran yang biasa digunakan untuk menyulam--apa sih ya namanya >.<. Setelah lilin dipanaskan, barulah kami mulai membatik. 

Beda tangan memang beda hasil. Punya kami berantakan sekali, ketebalan lilinnya tidak rata. Sementara batik milik petugas tadi jadinya bagus dan rapi :(. Menurut salah satu petugas, di Museum Tekstil ada program membatik. Untuk pengunjung yang ingin ikut dalam sekali kunjungan, biayanya 40 ribu. Sedangkan untuk yang ingin belajar lebih intensif, ada juga program khusus dengan beberapa kali tatap muka. Keterangan lebih lanjut dapat ditanyakan ke pihak Museum Tekstil :).

Setelah itu, kami bermaksud melihat Toko Merah. Tetapi mata kami rupanya lebih tertarik pada apa yang ada di belokan sebelah kanan setelah rumah akar--Toko Merah ada di belokan sebelah kiri. Di ujung jalan, terpasang sebuah panggung yang lebih besar daripada panggung di depan Cafe Batavia. Di depannya berjejer banyak kursi tamu, dan ada tiga set rumah tradisional Betawi yang berdiri tegak. Saya tidak tahu persis apakah memang set rumah Betawi ini permanen atau dipasang khusus untuk acara ini saja.

Di atas panggung tadi ada sekelompok orang berpakaian tradisional Betawi tengah memainkan sebuah lagu dengan seperangkat alat musik khas Betawi. Banyak orang menonton sambil duduk di trotoar, kursi tamu, maupun berdiri saja.

Puas berjalan-jalan, kami bermaksud langsung kembali ke kos. Namun ketika lewat depan Museum Wayang, terdengar suara dari arah lapangan depan kantor pos. Beberapa yang dapat saya tangkap adalah, "...akan segera dimulai." Penasaran, saya pun menuju ke sana.

Ternyata sudah banyak orang yang berkumpul di lapangan, membentuk lingkaran, menyisakan area kosong di tengah dan menampakkan beberapa set gubuk dan tanaman-tanaman. Saya edarkan pandangan, dan baru saya sadari maksud dari spanduk di ujung Museum Sejarah Jakarta yang kira-kira bertuliskan: "Rekonstruksi Penyerangan Sultan Agung Banten Tahun 1628-1629." Didukung oleh puluhan pemain teater berpakaian ala pribumi dan kompeni, rekonstruksi sejarah itu berlangsung di bawah gerimis langit Jakarta. 


Satu yang saya sayangkan dari rekonstruksi ini. Pemain harus mengkaver sedemikian luas area terbuka tanpa pengeras suara. Saya yang berjarak sekitar tujuh meter sudah tidak dapat mendengar lagi dialog mereka--padahal mereka sudah berteriak-teriak. Saya menyerah, dan memutuskan untuk pulang.



Membawa pulang sebuah wayang Bima dari janur, sudah mencoba membatik, dan mendapatkan sebuah buku bergambar tentang Peter Elbervert serta stiker dari Museum Sejarah Jakarta tidak serta-merta membuat saya senang dengan perjalanan saya kali ini. 

Kampung Betawi, yang ingin saya kunjungi, hanya bisa saya temukan berupa set rumah tradisional, pemain beserta alat musik tradisional, dan rekonstruksi teater. Kalaupun memang ada kesenian tradisional lain yang ditampilkan, tidak adanya keterangan jadwal acara membuat saya kekurangan informasi. Terop yang sudah dilengkapi meja namun sepi penyewa, mungkin bisa menjadi bukti bahwa tidak banyak pihak yang mengetahui digelarnya acara ini. Sudin Kebudayaan Jakarta Barat, kalau memang berniat membuat  sebuah acara bertitel Kampung Betawi di tahun mendatang, dapat lebih bekerja keras untuk menyebarluaskan informasi acara dan merancang apa saja yang akan ditampilkan dalam acara tersebut.



Di dalem berisik banget, 19 Nov 2013


Monday, November 11, 2013

Kota Santri Abad 19: Kota Perdagangan Regional dan Internasional


Judul Buku: Kota Gresik 1896-1916: Sejarah Sosial Budaya dan Ekonomi
Penulis: Oemar Zainuddin
Penerbit: Ruas
Tahun Terbit: April 2010
Tebal Buku: viii + 160 halaman


Ketika disebut kata “Gresik”, sebuah kabupaten di sebelah utara Jawa Timur, mungkin yang langsung muncul dalam pikiran adalah nasi krawu, Sunan Giri, dan Maulana Malik Ibrahim. Saya pun, yang menghirup udara selama delapan belas tahun di sana, mungkin juga akan menyebutkan hal yang sama ketika Gresik disebut. Atau kalau pun bisa menambah sedikit, hanya deretan nama makanan dan kerajinan khas—pudak, otak-otak, jubung, nasi romo, masin, damar kurung, kopiah—yang mampu saya sebutkan.

Namun siapa sangka, pada abad 19-an, Gresik ternyata terkenal akan industri penyamakan kulitnya. Dengan pusat-kisah industri penyamakan kulit, penulis buku ini, Oemar Zainuddin, mengisahkan juga bagaimana kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Gresik pada tahun 1896-1916.

Sebagian wilayah Gresik yang terdiri dari tanah tandus, gersang, dan bukit kapur membuat sektor pertanian tidak dapat berkembang dengan baik. Mayoritas masyarakat Gresik hidup sebagai pengrajin dan pedagang. Profesi ini diuntungkan oleh posisi geografis Gresik yang terletak di pantai utara Jawa sehingga memungkinkan dibangunnya pelabuhan Gresik—yang kemudian menjadi pelabuhan internasional saat itu—atas jasa Sunan Giri, salah satu wali penyebar agama Islam yang bermukim di daerah Giri, Gresik.  

Dalam buku ini digambarkan bagaimana Industri penyamakan kulit yang terletak di Desa Kebungson, Gresik, mulai berkembang pada akhir abad 19 dan mencapai puncaknya pada awal abad 20. Dalam rentang waktu 1896-1916, industri ini telah mampu menyuplai kulit ke 24 daerah di pulau Jawa, di antaranya Batavia, Semarang, Surakarta, dan Malang. Bukti kejayaan para pemilik industri penyamakan kulit di Gresik dapat dilihat di Kampung Kemasan, di mana masih berdiri sebelas rumah megah yang sudah berusia lebih dari seabad.

Hal lain yang juga menarik untuk disimak adalah bagaimana tokoh-tokoh industri penyamakan kulit Kampung Kemasan ikut berperan dalam pelestarian kebudayaan Gresik. Oemar Zainuddin, yang juga merupakan keturunan ketiga keluarga H. Oemar, saudagar pelopor industri kulit di Kampung Kemasan, menuliskan beberapa kesenian dan budaya yang sering digelar keluarga H. Oemar, yaitu Pencak Macan, Tradisi Jomblang, Tradisi Bedug Teter, Tradisi Tayung Raci Sidayu, dan Tradisi Mulutan. Keunikan tiap tradisi digambarkan dengan cukup jelas dalam buku ini.

Dilengkapi dengan foto surat, iklan, nota dagang, dan dokumen lawas yang disimpan dengan baik oleh keluarga H. Oemar, penulis cukup dapat menceritakan peran dan perkembangan industri penyamakan kulit di Gresik. Hal yang disayangkan adalah tidak adanya subbab dalam buku ini, sehingga pembahasan tiap bab, meskipun masih dalam kerangka judul bab, agak kurang tertata penceritaannya dan terasa melebar.

Di tengah sulitnya mencari referensi tentang sejarah kota Gresik, buku ini mampu mengisahkan apa yang terjadi di kota tersebut pada tahun 1896-1916. Termasuk memberi pengetahuan bahwa pusat kota Gresik pada saat itu ada di wilayah Kelurahan Bedilan, Pekelingan, Pulau Pancikan, Gapura Sukolilo, Karangpoh, dan Kroman—beberapa di antaranya bahkan baru saya ketahui saat membaca buku ini. 

Dengan buku ini, selamat datang di Gresik Kota Santri!


11 11 13
Wanna go home right now. And happy birthday, Tegoshi Yuya!

Thursday, October 24, 2013

Tips Menulis ala Ahmad Fuadi


Kemarin pagi, meskipun terlambat satu jam, saya akhirnya bisa menghadiri acara Bedah Buku Trilogi Negeri 5 Menara yang diadakan oleh Perpustakaan BKF, Kementerian Keuangan. Acara bedah buku ini menghadirkan langsung Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara.

Sekali lagi, Ahmad Fuadi.

Bukan Anwar Fuadi.

….

Meskipun banyak yang dikisahkan oleh Bang Fuadi,—panggilan akrab Ahmad Fuadi—antara lain tentang mimpi, pengalaman, dan karakter, kali ini saya hanya akan berbagi tentang tips menulis yang diberikan oleh beliau.

Ada empat tips yang diberikan oleh bang Fuadi:

1.       Why
Kenapa kita menulis? Apa alasan yang membuat kita memutuskan menulis?
Semakin kuat alasan itu ada di pikiran kita, tulisan yang dihasilkan akan semakin mempunyai ‘hati’.
Bang Fuadi sendiri berkisah demikian: ketika masih nyantri di Gontor, orang tuanya meninggal dan menyebabkan terjadinya perubahan pada banyak hal—termasuk kiriman uang untuk biaya hidup. Sempat berjualan pakaian untuk memperoleh uang, ia akhirnya mencoba menulis, mengirimkan tulisannya ke media cetak, dan ternyata segalanya berawal dari sana. Jawaban dari ‘why’ versi bang Fuadi adalah: menulis untuk memperoleh uang.

2.       What
Apa yang ingin kita tuliskan?
Tips dari bang Fuadi, agar lebih mudah sebaiknya kita menuliskan hal yang paling kita mengerti dan kita sukai. Atau kata bang Fuadi: sesuatu yang kalau kita cerita bisa tiga hari tanpa henti dan tanpa bosan—palingan yang bosan ya pendengarnya.
Dan inilah yang membuat bang Fuadi bisa berkisah tanpa henti selama tiga hari: pengalamannya belajar di pondok pesantren. Karena menurutnya pengalaman itu sangat berharga, berkesan, dan penuh dengan nilai positif.

3.       How
Bagaimana kita menuliskannya?
Ini lebih ke teknis penulisan sih. Bang Fuadi sendiri menyarankan agar lebih banyak membaca buku how-to tentang menulis.

4.       When
Kapan kita menulis? Apakah kita ingin menyampaikan apa yang ingin kita tuliskan saat ini? Atau minggu depan? Atau mungkin bertahun-tahun lagi?
Dan sesungguhnya inilah bagian yang paling susah (iya, ini menurut saya aja)—karena menyangkut komitmen dan kedisiplinan dalam menulis.
Tapi kata bang Fuadi, menulis itu mudah. Karena modalnya hanya pena dan kertas. Lalu mulailah menulis.

Semoga empat tips di atas membantu memudahkan proses menulis.
Selamat menulis :)















In silence, 241013
Ayo menulis, Wahyu! *getok kepala sendiri

Monday, September 16, 2013

Genius at Faking Smiles

Ternyata aku memiliki saudara kembar, dan hal itu baru kuketahui beberapa bulan setelah aku masuk SD. Saat itu aku sedang sendirian di teras, menghitung kelopak bunga melati yang kupetik dari pohon di depan rumah. Tiba-tiba saja ia sudah ada di hadapanku dan memandangku sampai aku merasa bahwa aku sedang berada di depan cermin.

Kami memiliki wajah, tinggi badan, bentuk tubuh, dan tanda lahir yang sama. Aku punya tahi lalat di telapak tangan dan di bahu, dan dia juga memilikinya. Kami kembar identik. Lebih identik dari saudara kembar manapun.

Tapi kami tidak lahir dari ibu yang sama. Orang yang kupanggil ibu adalah seorang wanita dengan kulit kuning, tinggi badan sedang, dan wajah cantik. Sedangkan ia, kembaranku, memanggil ibu kepada seorang wanita yang berkulit agak gelap dan berwajah manis. 

Kami lahir di jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun yang sama. Senin pahing pukul 09.59. Namun karena ibu kami berbeda, kami lahir di rumah sakit yang berbeda. Atau mungkin kembaranku bahkan tidak lahir di rumah sakit. Bisa jadi ibunya melahirkannya di tempat praktik seorang bidan di dekat rumahnya. Aku tak pernah bertanya tentang ini kepadanya, tapi sekali waktu ibuku pernah bercerita padaku bahwa pada Senin pahing itu, hanya ia yang melahirkan di rumah sakit itu. Tidak ada ibu-ibu lainnya.

Kami memiliki kebiasaan dan karakter yang sama. Kami mudah disenangkan oleh hal-hal sederhana dan mungkin terlihat bodoh bagi orang lain, seperti stiker, kertas surat, amplop, dan kartu dengan gambar dan bentuk unik; replika bendera negara-negara di dunia; prangko berseri; dan semangka. Ketika ada lelaki yang dekat dengan kami, kami mudah jatuh cinta—dan kami selalu jatuh cinta pada lelaki yang sama—, namun sulit untuk bangun lagi meskipun kami tahu lelaki itu tidak mencintai salah satu dari kami. Dan bagi kami berdua, mal adalah tempat yang menyebalkan. Kami sepakat tentang hal tersebut dan tidak pernah pergi ke mal manapun dalam tiga bulan terakhir.

--

Kemarin, setelah berpisah cukup lama, kami bertemu di pesta seorang teman. Baik temanku maupun temannya tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa kami adalah kembar identik. Hanya kami berdua yang mengetahui hal itu, dan tidak ada seorang pun dari kami yang berminat untuk menceritakannya pada orang lain. Karena pasti ada banyak pertanyaan panjang yang sama dan membosankan dari semua orang.

Kami kembar identik. Tapi karena dibesarkan oleh ibu yang berbeda, ada satu hal yang membuat kami tidak tampak identik. Celana kargo dan jaket adalah segalanya untukku. Namun baginya, ia tak pantas keluar rumah tanpa rok, bedak, dan pemerah bibir.

Tapi selain pakaian, sebenarnya sejak dulu aku merasa kami memiliki satu lagi perbedaan. Dan kemarin, setelah melihat lekat-lekat, aku mengerti apa yang membuat kami tidak tampak identik: senyumnya palsu.

















Pic from http://www.deviantart.com/art/MMD-NJXA-Purple-twin-tie-with-crown-Download-334571581

Yes, I think i'm genius at faking smiles.
160913

Thursday, August 15, 2013

Lebaran: A.B.C-Z

Bukan tentang jumlah pesan masuk dengan isi hampir sama yang jumlahnya menurun lantaran lebih banyak yang ‘lempar’ pesan di grup. Bukan juga tentang ketupat dan opor yang tidak ada di meja makan di rumah, karena memang biasanya baru terhidang di H+7 Lebaran.

Bukan juga tentang kamu.

-
Gresik. Jalanan penuh. Mobil banyak, sepeda motor apalagi. Era “Jalanan sepi pas Lebaran” mungkin sudah berakhir beberapa tahun lalu. Pun tahun lalu seingatku jalan raya tak seramai ini. Kurasa ini pengaruh dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan ketidakpuasan terhadap kondisi angkutan umum. Atau mungkin ada juga pengaruh dari tingginya rasa gengsi, yang membuat seseorang membeli sepeda motor karena tetangganya mempunyai sepeda motor baru juga.
-
Mobil angkot berjalan dengan kecepatan minimum.  Mencari penumpang. Atau menunggu penumpang? Berharap ada yang tiba-tiba muncul dari belokan di ujung jalan kemudian melambai, ikut naik sampai di tempat tertentu. Karena kisah tentang orang-orang yang mengenakan pakaian terbaik di hari Lebaran berdiri di pinggir jalan raya menunggu angkot lewat sudah bukan topik yang asik untuk dibicarakan. Tema tentang siapa yang punya mobil baru di Lebaran kali ini jauh lebih menarik.
-
Angkutan massal sepertinya sudah berkurang popularitasnya di mata sebagian orang. Di jalan kecil menuju makam kakekku, berjejer tiga mobil dengan plat B. Yang kupikirkan cuma satu saat itu: luar biasa. Aku bisa tidur di kereta atau pesawat, tapi orang-orang ini begadang menyetir mobil dari Jakarta ke Gresik.
-
Kasur di kamar Bulik mengecil. Meskipun sesungguhnya ukuran tubuh kami yang membesar. Dulu kasur ini muat untuk tujuh, bahkan delapan orang. Tempat kami semua, keponakan-keponakan perempuan, tiduran dan bersembunyi dari tamu-tamu simbah yang tidak kami kenal. Tahun ini aku dan beberapa sepupuku mengalah tidak ikut tiduran dan bersembunyi di kasur. Sepupuku yang lain yang jumlahnya empat orang sudah memenuhi seluruh bagian kasur.
-
Aku jadi sering membuka dompet. Meskipun dulu juga begitu, untuk memasukkan uang Lebaran dari saudara-saudara yang baik hati mau menyisihkan sebagian gaji atau bahkan menambah hutang mereka dan berharap selalu bertemu lagi tahun depan dengan uang Lebaran yang lebih besar. Namun harapanku itu harus kuhentikan tahun lalu, karena mulai tahun lalu uang Lebaranlah yang keluar dari dompetku. Aku sendiri juga tak tahu apakah aku melakukannya agar aku dianggap punya banyak uang, baik hati, suka menolong, sukses di tanah jauh, sekedar ikut-ikutan, atau yang lainnya.
-
Bertemu setahun sekali tak membuat durasi pertemuan itu menjadi lebih lama. Dulu, pukul 9 aku sekeluarga sudah sampai di rumah simbah. Setelah saling bertukar senyum, uang, dan kabar—baik yang benar terjadi maupun rekayasa agar terdengar hebat, kami mampir ke rumah tetangga simbah. Kemudian ke rumah adik-adik simbah yang masih satu kecamatan. Lalu kembali ke rumah simbah. Disambung makan bakso dan es kelapa muda atau es campur sambil nonton televisi. Tahu-tahu bangun sudah di kasur Bulik. Sore, baru kami saling bertukar senyum lagi, terkadang ditambah kecup di pipi. Beberapa tahun belakangan, bakso sudah dicoret dari menu Lebaran karena penjualnya, yang menyewa salah satu petak milik simbah di belakang rumah, meninggal dunia. Kami menggantinya dengan jajanan macam siomay, rujak buah, pempek, dan es krim yang dibeli di alun-alun. Tidak sampai sore, tapi sudah lewat cukup lama dari siang hari. Tahun ini, tak ada jajanan. Dan lepas pukul 13, rumah simbah sudah sepi.
-
Biasanya aku tenang-tenang saja ketika Lebaran karena aku punya tameng yang kekuatannya luar biasa: kakakku. Pertanyaan yang katanya menyebalkan bagi para single, seperti “kapan menikah?” selama ini selalu hanya ditujukan pada kakakku. Tapi kisah menjadi lain karena Juni lalu kakakku menikah. Tahun ini, akulah korbannya. Oh my, ternyata pertanyaan itu memang menyebalkan.
-
Buku catatan transportasi mudikku selalu dipenuhi oleh bis. Atau sepeda motor, meskipun seingatku hanya satu kali. Kali ini, aku bisa menambah satu moda transportasi baru di buku catatan itu: mobil. Meskipun penuh dengan logistik makanan; bisa bergerak lebih bebas; bisa memutar lagu sesukaku; tapi setelah tiba di tempat tujuan, aku sampai pada keputusan ini: aku lebih suka mudik dengan bis daripada mobil. Karena di bis aku tak perlu mendengar cerita-cerita yang entah benar entah tidak.
-
Tulungagung. Lontong Tahu khas Tulungagung di warung pinggir jalan. Kupikir akankah ia seperti Tahu Campur, Tahu Tek, atau Kupat Tahu yang masih ada tambahan bahan lain. Lontong tahu ternyata benar-benar hanya berisi lontong dan tahu. Dengan siraman kuah kecap yang dicampur bawang putih dan petis, serta taburan daun bawang dan bawang goreng. Setelah makan, aku merasa sangat beruntung lahir dan besar di Gresik.
-
Trenggalek. Tak sedingin biasanya. Tak lagi berkabut tebal seperti biasanya ketika pagi. Aku bahkan tak menggigil ndeso seperti dulu ketika bangun tidur atau tubuhku terkena air. Tak lagi malas mandi pagi-pagi. Meskipun ketika aku berkata begitu kepada temanku yang tinggal di kota itu juga, dia cuma bilang, “sek tetep adeeeem. Aku ae lho jaketan. Masih tetap dingiiiin. Aku saja pakai jaket.”
-
Anakmu ndak iso Jowoan to?” Aku cuma cengar-cengir. Bapakku menjawab, “nek ngoko yo iso. Tapi nek kromo yo ngerti tapi angel ngomonge. Kalau bahasa Jawa kasar ya bisa. Tapi kalau bahasa Jawa alus ya ngerti tapi susah bicaranya.” Mungkin sepupu-bapak yang bertanya itu belum tahu bahwa aku sangat jago sekali berucap dalam bahasa Jawa halus, “nggih, mboten, sampun, dereng. Iya, tidak, sudah, belum.” Ada juga beberapa tambahan kata seperti wonten, duko, sami-sami. Ada, entah, sama-sama.
-
Teguran kadang datang hanya dengan sebuah kalimat. Pakdheku bertanya, “kantormu depannya kantor Pak Bidin (sepupu Bapak) to, Ndhuk?” Kuiyakan. “Wong kantor cedhak ae kok ndak tau mampir iki piye lho. Kantor dekat saja kok nggak pernah mampir ini gimana sih.” Setelah kutanyakan pada Bapak, sehari sebelumnya ternyata Pak Bidin sudah berkunjung ke rumah Pakdheku ini. Pantas Pakdheku tahu.
-
Alun-alun di malam hari. Tak begitu banyak orang, tapi sebagian besar orang berkumpul di depan tulisan besar TRENGGALEK yang dipasang di salah satu sisi. Antre berfoto. Mungkin untuk dipasang di layar ponsel, komputer, atau sekedar tanda bahwa ini adalah salah satu kota yang pernah dikunjungi selama hidup.
-
Seseorang dan lainnya terhubung oleh enam orang. Aku semakin agak memercayainya ketika kemarin tahu bahwa rumah teman kosku semasa kuliah ternyata ada di belakang rumah salah satu kerabatku, dan mereka saling mengenal. Sayangnya ketika aku berkunjung ke rumah Belinda, temanku ini, dia sudah tidak di rumah. Panggilan tugas membuatnya kembali ke Jakarta sehari sebelumnya. Padahal aku di sini masih enak-enak makan kue dan minum soda.
-
Pertanyaan yang sama kuajukan setiap tahun ketika berkunjung ke rumah kerabat. “Ini siapanya Bapak?” Tiap tahun pula Bapakku mengulang kisah yang sama tentang silsilah keluarga. Dan tiap tahun aku mengangguk-angguk, sok mengerti. Untuk kemudian di tahun berikutnya bertanya dengan pertanyaan yang sama, “ini siapa?” Kurasa aku perlu menggambar silsilah keluarga mulai dari buyutku, lengkap dengan nama dan foto tiap orang.
-
Trenggalek-Madiun. “Tahu kenapa begitu banyak makanan manis saat lebaran? Karena ada banyak kepahitan yang perlu disembunyikan. -Ruslan, buruh serabutan-.“  Twit @el_nonymous. Saat itu aku tengah berada di satu titik di jalan penghubung Trenggalek-Madiun yang berkelok-kelok mengikuti alur gunung. Dan saat itu pula aku ingin sekali bertemu dengan Ruslan. Kalau dia ikut nyaleg, kurasa aku akan langsung mendukungnya tanpa dia perlu memberiku pamflet berisi foto dan nama dirinya serta lambang dan foto pemimpin partai.
-
Madiun. Pun tak sedingin dulu. Mungkin karena sudah ada Matahari, Giant, Carrefour, dan A&W di kota ini. Mungkin juga karena salah satu calon wali kotanya punya kekayaan Rp 12,8 miliar. Memang tidak ada hubungannya sih. Aku hanya mencari sebab kenapa kota ini tidak dingin seperti dulu.
-
Ponorogo. Cuma numpang naik bis. Karena sudah pasti tidak ada kursi yang kosong kalau aku (dan Bapakku) naik di Madiun. Semua akan menyenangkan kalau perjalanan ini berlalu seperti biasa. Tetapi menjadi tidak menyenangkan ketika perjalanan Ponorogo-Gresik yang seharusnya enam jam bertambah dua kali lipat menjadi sebelas jam lebih. Tak ubahnya seperti perjalanan Surabaya-Jakarta dengan kereta api. Jalanan penuh dengan sangat banyak mobil dan cukup banyak bis. Sepeda motor pindah jalur ke trotoar. Sampai di sini, aku berpikir bahwa orang-orang yang naik mobil di jalanan ini sangat egois. Anggota keluarga bertambah satu, beli mobil baru. Tetangga punya mobil, ikutan beli mobil. Ada mobil murah, jadi beli mobil. Padahal sudah ada bis yang bisa mengangkut banyak orang. Tapi kemudian aku sadar bahwa akulah yang paling egois di antara orang-orang ini karena cuma bisa menyalahkan orang lain.
-
RATCHANOK INTHANON, THE YOUNGEST CHAMPIONS EVER. Pesan itu (yang memang dikirim oleh temanku dengan huruf kapital) dan beberapa pesan lain yang mengabarkan bahwa Owi-Butet dan Hendra-Ahsan memenangi Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2013 cukup membuatku sejenak lupa bahwa aku tengah berada di dalam bis menuju Surabaya, bukan di gedung olahraga di Guangzhou ataupun di depan televisi yang menyiarkan pertandingan itu.
-
Ah, kupikir aku bisa menyelesaikan sampai 26 poin. Ternyata tidak. Kadang manusia memang menilai dirinya terlalu tinggi, sampai ia sadar atau disadarkan bahwa kemampuannya tidak setinggi yang ia pikirkan.


Menjelang maghrib, 14 Agustus 2013
Selamat Hari Pramuka :)


Tuesday, July 16, 2013

Dan Ji Ki

Dari tujuh orang yang ada di kelas—termasuk sensei—, cuma saya yang Jawa muslim.

Sabtu terakhir menjelang bulan Ramadan, sensei bertanya pada saya, “Wahyu-san sudah puasa?” Karena memang saat itu belum mulai puasa—wong sidang isbat aja baru akan dilaksakanan Senin selanjutnya—, saya jawab, “Belum, Sensei.”

Kemudian kata sensei, “Ja, mina san. Raishuu kara tabemono no hanashi wa dame. Gokyouryoku onegaishimasu.” Mulai minggu depan, jangan berbicara tentang makanan ya. Mohon kerja samanya.

Sabtu berikutnya, alias Sabtu lalu, benar-benar tidak ada obrolan tentang makanan di kelas. Padahal biasanya selalu ada bahasan tentang toko ramen, sushi, atau makanan Jepang lain. Bahkan ketika ada kalimat yang menggunakan kata kerja taberu, makan, teman-teman langsung berkata, “Ssst… dame dame.” Sampai saya bilang sambil tertawa, “biasa aja kaliiii…”

Biasanya, di tahun-tahun sebelumya, Ramadan ya Ramadan aja. Nggak pernah ada larangan buat ngomongin makanan. Iklan di televisi aja kalo Ramadan jadi penuh produk makanan—dan minuman—, nggak mungkin buat nggak ngomongin makanan.

Tahun-tahun sebelumnya, saya nggak pernah di’gitu’in. Ini pertama kalinya.

Karena sebelumnya, saya selalu jadi mayoritas. Teman saya yang beda agama dan beda suku atau ras, bisa dihitung dengan jari, saking sedikitnya. Sesama mayoritas? Ya tau sama tau aja. Ya tetep ngomongin makanan, tetep ngomongin minuman, tetep ngomongin orang *eh* (astaghfirullah).

Jadi buat saya, perilaku sensei dan teman-teman—meskipun agak berlebihan sampai nggak ada obrolan tentang makanan di kelas—adalah satu bentuk toleransi. Kalau pas SD dulu sering menulis jawaban ‘saling menghormati, menghargai, dan toleransi’ untuk banyak pertanyaan di pelajaran PPKn, nah ini wujud nyatanya. Buat saya pribadi, tanjun ni, kandoshimasu. Sederhananya, saya terharu.

Sesederhana itu.














150713
久しぶり。ずっと 書いたいんですが、 書けなかった。 いろいろね。 :)

Tuesday, April 23, 2013

Can't We?

Tidak bisakah waktu berhenti saat ini saja?

Berhenti saat ini. Saat kita sudah merasa nyaman. Nyaman dengan keseharian kita, aktivitas kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, lingkungan kita. Nyaman dengan hidup kita.

Berhenti saat ini. Saat kita masih dekat dan bisa dengan mudah melepas rindu. Tanpa khawatir rentangan timur dan barat, tanpa khawatir hanya bertukar kabar dengan bantuan canggihnya alat komunikasi, bahkan tanpa khawatir entah kapan berjumpa dan berjabat erat dengan hangat.

Berhenti saat ini. Saat hanya ada senyuman.

Berhenti saat ini. Saat kita tak perlu memikirkan masa depan.

Karena saat ini, semua sudah cukup.
Karena satu detik kemudian semua akan berubah: bisa jadi ia bertambah, tapi sangat tidak tertutup kemungkinan ia akan berkurang.

Jadi, bisakah waktu berhenti saat ini saja?

Menurutku tidak.

Meskipun kita sangat menginginkannya. Meskipun kita berharap sepenuh hati dan berdoa sekuat hati agar hal itu terjadi.

Kalau waktu berhenti saat kita sudah nyaman, itu adalah bencana besar. Karena, kata seorang kawanku, waspada itu ketika merasa nyaman dalam rutinitas monoton tanpa target.

Kalau waktu berhenti saat kita masih dekat dan bisa dengan mudah melepas rindu, suatu hari kita akan lupa apa itu rindu dan bagaimana rasanya. Karena kebanyakan kita tidak menyadari keberadaan sesuatu sampai ia menjauh bahkan menghilang.

Kalau waktu berhenti saat hanya ada senyuman, semakin lama kita akan menjadi tidak paham betapa indah dan berharganya sebuah senyuman. Karena senyuman adalah hal terindah yang hanya mampu hadir dari hati yang jernih.

Karena kalau waktu berhenti saat kita tak perlu memikirkan masa depan, kita hanya akan menjadi manusia pemalas yang tidak pernah berpikir dan berencana untuk melakukan sesuatu yang lebih baik di masa depan. Karena kehadiran kita di dunia ini saja sudah direncanakan oleh-Nya.

Baiklah, ini memang hanya gumaman iseng hampir tengah malam. Mungkin sedikit efek (agak) lebay dari melihat air mata di TIM tadi. Ne, itsuka mata aimashou. Toriaezu, isshoni ganbaruzo!


190413
Seharusnya untuk tanggal 21 April sih: selamat ulang tahun :)

Monday, April 15, 2013

もっと気を付けてね

ドロボ
ずっとあいつらの存在がちょっと信じなかった。昨日の朝まで。
昨日の朝はある場所へ行かなければならなかった。あの場所にたどり着くため、市を歩いた。すごく込んでた。歩きながら、後ろから誰か押されたらしい。一応後ろを振り返て、何も起きなかったからあまり考えなかった。
いよいよ着いたとき、もっと強く押された。困ったから、後ろの人に振り向いた。二人がいた。赤いと白いのシャツを着たヤツ。無邪気そうな顔をしてた。気持ちが悪くなった。鞄をチェックした。チャックが半分開いた。
ヤツラだ!!!
もういなかった。
鞄の中の荷物を調べたとき、財布と携帯電話がまだあった。
[よかった~] だと思った。
でも前の置いたお金の8千ルピアが盗まれた。
これで、もっと気をつけなければならないよ。皆さんも。
*これはこのブロッグに始めての日本語で作文だ。もちろん間違いがたくさんあったは気付いてた。もし良かったら、日本語のことのアドバイスお願いします。
20130415

Thursday, February 7, 2013

#7HariMenulis

Ini hari kedelapan. Sudah lewat tujuh hari. Tapi tetap boleh menyertakan tagar ini kan?

Saya nggak pernah disuruh menulis dengan tenggat waktu sesingkat ini. Tiap harinya selama tujuh hari saya cuma punya waktu 24 jam untuk bikin satu tulisan. Karena saya bukan jurnalis yang pasti sering dapat tenggat waktu untuk artikelnya ataupun orang yang rajin nulis, jadi buat saya ini berat.

#7HariMenulis berat.

Biasanya untuk menyelesaikan sebuah cerpen yang panjangnya sekitar dua halaman, saya butuh waktu berhari-hari. Selain lama mikirnya, waktu pengendapannya juga lama untuk diedit kembali. Di #7HariMenulis ini, saya dipaksa cuma mengendapkan cerpen dalam beberapa jam. Bahkan untuk cerpen terakhir, saya mengerahkan kemampuan saya sama seperti ketika besoknya ujian Hukum Administrasi Keuangan Negara—saya benar-benar baca materi (lebih tepatnya: soal latihan IMMSI) tiga jam sebelum ujian.

Sebelumnya saya tidak pernah menulis resensi buku. Pernah sih, waktu masih sekolah. Itupun karena saya adalah murid baik yang masih ogah dihukum lantaran lalai menyelesaikan tugas. Tapi di #7HariMenulis akhirnya saya merilis resensi pertama saya. Masih berantakan karena saya melakukan tiga hal sekaligus: membaca contoh resensi buku karya orang lain, membolak-balik buku yang saya resensi, dan mengetik tulisan. Mungkin saya berhasil membuang 5700 kalori dari aktivitas tersebut *berharap terlalu tinggi*.

Di hari kelima saya kehabisan ide mau menayangkan apa untuk hari keenam. Cerpen sudah terlalu mainstream (ada tiga cerpen yang saya tayangkan dalam lima hari), saya sendiri juga malas berimajinajis berimajinasi. Jadilah tulisan ala kadarnya seperti ini. Tulisan hari keenam tersebut baru saya tayangkan lepas siang hari. Paginya, saya membuka beberapa blog yang ikut main dalam #7HariMenulis. Tapi saya justru agak menyesal. Blog-blog yang saya buka, semua tulisannya bagus. Saya sempat minder *pukpuk diri sendiri*.

Di hari kedelapan ini, ada yang hilang. Biasanya saya berpikir ‘mau nulis apa’ pada pagi hari. Tapi hari ini tidak. Kan nggak ada yang nyuruh. Nggak ada yang maksa. Ya nggak nulis dong *pentung*.

Tujuh hari belakangan jumlah kunjungan ke blog saya meningkat. Nggak banyak-banyak banget sih, tapi ya lumayan lah buat seneng-senengan dan gaya-gayaan. Haha.

Tujuh hari belakangan, seperti yang pernah saya ungkapkan di sini, saya mampu menulis #onedayonepost. Meskipun cuma tujuh hari. Well, tambah tulisan ini jadi delapan sih. Lumayan laaaaah.

Tujuh hari belakangan hidup saya jadi lebih berwarna. Sebelumnya juga berwarna sih, tapi jadi nambah satu warnanya.

#7HariMenulis aja udah bikin hidup saya berwarna. Tapi saya nggak mau ngebayangin jadi seberwarna apa hidup saya kalau saya ikutan #31HariMenulis.

Mungkin malah jadi モノクロ :)



070213

Wednesday, February 6, 2013

Cerita Malam Ini

Malam, dengan segala keluarbiasaannya, adalah satu keadaan ciptaan Tuhan yang kusenangi. Bahkan hanya dengan gelapnya, aku tetap suka itu. Dan seringkali, malam adalah satu-satunya waktu agar aku bisa lebih dekat dengan anakku.

Tadi ia bercerita bahwa ibu gurunya di kelas membahas tentang cita-cita. Ia lantas bertanya apa cita-citaku ketika kecil.

"Dulu, cita-cita ibu ada setumpuk. Tingginya lebih tinggi dari semua gunung dan untuk bisa sampai ke sana, jalannya lebih berat dari menjelajah semua tempat di manapun."

Ia bertanya ragu. Aku mengangguk dengan mantap dan meyakinkan.

"Sekali waktu, dulu sekali, ibu ingin menjadi guru olah raga."

"Oh iya, ibu kan sering menemaniku pergi berenang."

"Bukan, ibu tak bisa berenang, hanya menungguimu berenang sampai selesai. Ibu bercita-cita begitu karena dulu guru olah raga ibu ternyata tidak bisa olah raga. Guru ibu itu cuma menyuruh muridnya berlari, menendang bola ketika sepak bola, memantulkan bola ketika basket, menggerakkan kaki ketika berenang, dan bergerak dengan benar ketika senam. Ia tidak pernah memberi contoh sama sekali, hanya berteriak dari pinggir lapangan. Padahal pasti ia dibayar. Jadi waktu itu, ibu membayangkan menjadi seorang yang punya banyak uang hanya dengan berteriak-teriak saja. Enak, kan?"

Ia protes. Ia bercerita bahwa Pak Kusno, guru olah raganya di sekolah, tidaklah seperti apa yang kuceritakan. "Pak Kusno," kisahnya, "selalu berlari lebih dulu, berenang lebih dulu, dan melakukan semuanya lebih dulu sebelum kami melakukannya."

Kukatakan bahwa karena itulah aku tak ingin lagi menjadi guru olah raga. Aku menyerah pada satu cita-citaku.

Aku melanjutkan ceritaku. Bahwa dulu aku pernah ingin menjadi pedagang baju. "Setiap hari ibu bisa berganti-ganti baju yang bagus tanpa harus beli. Orang lain tidak akan tahu bahwa baju yang ibu jual ternyata sudah pernah ibu pakai sebelumnya."

Kembali ia melontarkan protes. "Mbak Rini bajunya sering robek-robek dan sudah jelek. Padahal ia berjualan baju."

Sejenak terlintas wajah Rini yang seminggu dua kali berkeliling kampung untuk menawarkan baju yang dijualnya.

Aku mengelus kepalanya. "Karena memang tidak boleh. Tidak ada yang mau membeli baju yang sudah kita pakai. Kalaupun ada, harganya jadi murah. Bisa-bisa sama seperti harga sebungkus-besar permen."

Ia mengangguk-angguk. Kami terdiam sesaat.

"Ibu, pernahkah ibu bercita-cita jadi dokter, insinyur, polisi, atau pilot?"

Aku tersenyum. "Tidak," jawabku singkat.

"Kenapa?"

"Besok ibu ceritakan, karena ini panjang sekali jawabannya. Sekarang giliranmu bercerita. Apa cita-citamu?"

"Aku ingin jadi seperti ayah."

Bibirku terkunci tapi mataku bertanya kenapa.

"Ayah kan uangnya banyak. Jadi bisa pergi jalan-jalan. Sekarang juga lagi jalan-jalan kan, kata ibu sebentar lagi pulang. Saking banyaknya uang ayah, sampai rumah kita dibangun lagi biar bagus. Makanya sekarang aku dan ibu tinggal dulu sama nenek. Kalau uangku banyak, aku bisa pergi ke markas Power Ranger, terus minta jam tangannya yang bisa berubah itu. Pasti keren."

Aku mengecup keningnya. "Sekarang tidur dulu. Besok sekolah."

Ia mengangguk. Kurapatkan selimutnya, kutepuk-tepuk punggungnya.

Bulan lalu suamiku dijadikan tersangka dalam kasus korupsi dan sekarang ditahan di sebuah rumah tahanan, 1000 kilometer jaraknya dari tempat tinggalku sekarang.



060213

Tuesday, February 5, 2013

Helping Others Do What's Right

Sebenarnya sekarang saya ingin sekali merutuk tentang mutu tulisan-tulisan saya yang, bahkan menurut saya sendiri pun, kurang baik. Ah, saya tak tega mengatakan ‘jelek’ pada diri sendiri. Mungkin inilah pengaruh yang ditimbulkan oleh aktivitas jalan-jalan di blog barusan, mengunjungi beberapa pemilik #7HariMenulis.

Namun menulis adalah proses, kan? Kalau rajin menulis dan rajin baca, nanti juga tulisan akan jadi lebih baik. Well, saya harap ini bukan pemakluman diri sendiri.

Oke. Lupakan.

Kali ini saya ingin membahas satu hal: helping others do what’s right.

Beberapa hari lalu di kantor diselenggarakan sosialisasi SE-37/MK.01/2012. Dalam acara tersebut diputar sebuah video yang mengisahkan bagaimana menciptakan sebuah budaya positif. Ada sekian banyak cara, tapi yang paling nancep di otak saya adalah poin helping others do what’s right.

Kebanyakan orang hanya fokus pada diri sendiri. Yang penting gue bener, bodo amat gimana orang lain. Yang penting gue dipuji atasan, salah sendiri yang lain gak bener kayak gue. Hingga tidak peduli pada lingkungan di sekitarnya. Hingga tidak memperhatikan orang lain. Hingga lupa bahwa ia hidup tidak sendiri. Hingga lupa bahwa jika hanya ia yang benar dan orang lain salah, maka itu tetaplah salah. Atau jika ia dan yang lain benar namun ada seorang yang salah, maka itu tetaplah salah. Menggunakan istilah lain, tidak berjalan seirama.

Dalam sebuah gerakan tari Saman, jika sepuluh penari menoleh ke kanan sedangkan seorang menoleh ke kiri, tetap salah kan? Tidak seirama kan? Dan jelas terlihat tidak indah.

Melakukan sesuatu tentu ada tujuannya. Sesederhana makan agar kenyang dan minum agar tidak haus (meskipun makan dan minum tidak semata agar kenyang dan tidak haus). Begitupun helping others do what’s right. Tujuannya agar seirama, sama-sama melakukan what’s right. What’s right-what’s right tadi, jika semuanya dilakukan, tujuan besar pun akan tercapai.

Terlalu muluk?

Sebuah contoh. Di kantor, ada larangan merokok di dalam area gedung,  baik di toilet, pantry, tangga darurat, maupun basement. Tujuan besarnya? Sebuah budaya positif berupa menjaga kedisiplinan (ini ketentuan dari ‘Yang di Atas’). Jadi dalam konteks ini, what’s right adalah tidak merokok di area gedung. Saya bukan perokok sehingga saya sudah do what’s right.

Tapi kan yang berkantor di gedung ini bukan hanya saya. Saya hanya satu dari sekian ribu orang. Dan dari sekian ribu orang tersebut, tidak mungkin semuanya do what’s right. Di ruangan saya ada beberapa bapak-bapak yang merokok. Bahkan seringkali, mereka merokok di dalam ruangan. Apakah mereka do what’s right? Jelas tidak.

Solusinya, kalau memang bapak-bapak yang merokok tadi kurang memiliki kesadaran dan kedisiplinan pribadi, maka saya yang harus helping other do what’s right (dan sebenarnya saya juga memperjuangkan hak saya untuk mendapatkan udara yang bersih): mengingatkan dan melarang mereka merokok.

Masalahnya, ternyata tidak helping others bukan hanya disebabkan oleh terlalu fokus pada diri sendiri. Sebab lain adalah butuh nyali yang tidak kecil untuk bisa melakukan hal tersebut. Apalagi jika yang berbuat salah adalah teman baik kita, orang yang lebih tua dari kita, bahkan atasan kita. Meskipun ditempeli label ‘berkewajiban menegur’, nyatanya itu adalah kewajiban yang paling berat, setidaknya buat saya pribadi.

Sering saya terlalu banyak berpikir bagaimana menyusun kalimat untuk menegur dalam rangka helping others tadi. Tetapi mungkin karena terlalu banyak berpikir, pada akhirnya saya tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menegur. Saya lalai dalam helping other’s do what’s right.

Sekarang saya jadi bertanya-tanya: kalau banyak pegawai yang berpikir seperti saya, kapan sebuah budaya positif—dalam hal ini disiplin—akan tercapai?


050213

Monday, February 4, 2013

Tiga Kata untuk Tiga Museum

Sepi. Pengap. Gelap.

Itulah tiga kata yang akan saya ungkapkan kalau ditanya bagaimana kesan ketika mengunjungi museum. Nggak semua museum sih…. Ada banyak museum di DKI Jakarta, tapi di sini saya akan mengulas tiga museum, yaitu Museum Sumpah Pemuda, Museum Kebangkitan Nasional, dan Museum Joang 45.

1.    Museum Sumpah Pemuda 
  Museum ini terletak di Jl. Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat. Ada tujuh ruangan di dalam bangunan utama museum dan tiga ruangan yang terpisah dari bangunan utama, dengan ruangan yang paling besar adalah ruangan dengan dekorasi patung yang menggambarkan suasana ketika W.R. Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biolanya. Beberapa koleksi yang ada di Museum Sumpah Pemuda adalah panji-panji dari organisasi kepemudaan berbagai daerah, biola W.R. Supratman, benda-benda perlengkapan kepanduan, buku-buku sejarah, dan diorama suasana Kongres Pemuda II. Selain itu, di beberapa ruangan terpasang komputer layar sentuh yang berisi keterangan tentang museum dan sejarahnya.


 Di halaman belakang museum terdapat pahatan dinding berukuran besar yang indah dengan taman kecil di depannya. Sayang, ketika saya berkunjung ke sana air mancur yang terpasang tidak dinyalakan.
 Berbarengan dengan kunjungan saya, ada serombongan anak SD berusia sekitar 9 tahun berjumlah kurang dari sepuluh orang dan dua orang dewasa, mungkin guru pendamping. Saya baru membaca semua keterangan di dinding tentang koleksi yang ada di dua ruangan ketika mereka semua, anak-anak SD itu, selesai mengunjungi seluruh museum dan keluar. Mungkin anak berusia 9 tahun belum tertarik membaca penjelasan koleksi museum dan lebih senang melihat sepintas koleksi lalu foto-foto.

2.    Museum Kebangkitan Nasional
  Lokasi Museum Kebangkitan Nasional ada di Jl. Abdurrahman Saleh No. 26, Jakarta. Letaknya dekat dengan haltebus Transjakarta Kwitang. Menurut tulisan di gerbang depan gedung dan brosur museum, museum ini menempati gedung bekas STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen)—sekolah kedokteran untuk kaum pribumi.
 Bangunan induk Museum Kebangkitan Nasional berbentuk persegi melingkar, dengan halaman dan beberapa ruangan di tengahnya, dan dibagi menjadi ruang pengenalan, ruang sebelum pergerakan nasional, ruang awal kesadaran nasional, ruang pergerakan nasional, dan ruang pendidikan STOVIA.
  Menurut saya, ruang pengenalan sampai ruang pergerakan nasional sangat menjemukan. Menempati mayoritas bangunan induk, ruangan-ruangan tersebut kebanyakan hanya berisi foto-foto yang dibingkai dan disertai sedikit penjelasan. Tak jarang beberapa foto yang berbeda memiliki penjelasan yang sama persis. Ruangan yang besar juga tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Hanya sedikit ruangan yang di tengahnya diletakkan maket atau diorama. Selebihnya hanya berisi foto yang dipasang di dinding.
  Saya sangat bersyukur ketika memasuki ruang pendidikan STOVIA, yang didukung oleh ruang asrama, dosen, dan peragaan kelas STOVIA. Di dinding ruangan dipasang penjelasan besar dengan gambar yang memenuhi dinding—menurut saya sangat menarik—mengenai STOVIA, dan beberapa diorama patung.
  Di antara ruang pergerakan nasional dan ruang pendidikan STOVIA ada beberapa ruangan lain. Ada satu ruangan dengan tulisan ‘Ruang Audio Visual’ yang terletak di sebelah kiri kanopi. Ketika saya coba untuk membuka pintunya, ternyata ruang tersebut dikunci *penonton kecewa*. Selain itu, ada juga ruangan yang terkunci tapi di pintunya bertuliskan Ruang Asrama STOVIA. Saya coba mengintip ke dalam ruangan tersebut, hanya ada beberapa lemari dan rak kaca yang tidak ada isinya.

3.    Museum Joang 45
   Museum Joang 45 berlokasi di Jl. Menteng Raya No. 31, Jakarta Pusat. Bangunannya cukup kecil jika dibandingkan dengan dua museum sebelumnya, tapi menurut saya ini adalah museum yang paling bagus.
  Jika dua museum sebelumnya hanya dibiarkan beralaskan lantai dengan pencahayaan seadanya dan sirkulasi udara dari ventilasi, di Museum Joang 45 ini lantainya sudah beralaskan karpet tebal, pencahayaan terang, dan memiliki pendingin ruangan yang berfungsi dengan baik. Selain menyediakan beberapa komputer layar sentuh, ada juga ruangan audio visual yang memutar film dokumenter koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia.
 Beberapa koleksi museum ini adalah maket, pakaian, dan tandu yang dipakai untuk menandu Jenderal Soedirman saat beliau memimpin perang dalam kondisi sakit. Selain itu, dalam brosur juga disebutkan ada koleksi mobil REP-2 yang pernah digunakan Bung Hatta sebagai Wakil Presiden RI. Namun saya tidak tahu di mana koleksi tersebut diletakkan, karena saya tidak melihatnya :|.


Jadi,
dari tiga museum yang saya kunjungi, Museum Kebangkitan Nasional adalah museum yang paling ‘memprihatinkan’—karena gelap dan pengap—dan membosankan. Sedangkan Museum Joang 45 adalah museum yang paling bagus dan menarik.

Yang saya herankan adalah, bagaimana pembagian dana operasional perawatan dari dinas terkait ke tiap museum? Sampai-sampai museum yang sini bagus banget, yang sana menyedihkan banget. Yang sana sepi banget, yang sini lumayan rame.

Padahal kalau museum ditata dengan apik, pengunjung juga jadi tertarik untuk berkunjung. Lebih dari itu, mereka jadi betah berlama-lama di museum karena nyaman. Dan menurut saya, lebih asyik belajar sejarah di museum daripada dari buku.



040213
Photos are mine

Sunday, February 3, 2013

Enam Kipas Hari Ini

Hari sudah terang betul, matahari dengan ceria sudah menampakkan diri secara utuh. Meskipun begitu, udara masih terasa dingin, ditambah lagi semalam hujan turun. Dan dingin tak pernah membuat Supri lebih bersemangat. Padahal beberapa jam lalu orang-orang sudah mulai beraktivitas. Tetangga-tetangganya sudah sibuk menyapu halaman, menanak nasi, memberi makan ayam yang sepertinya tak kunjung besar, dan lain-lain.

Supri masih mengantuk, matanya juga masih agak sembap karena semalam ia menangis sebentar. Tapi ia sudah bisa mengingat dengan jelas pesan bapaknya kemarin sore. Kata bapaknya, "Bangun tidurlah sebelum matahari melakukannya. Rejekimu tak akan maksimal kalau kamu bangun setelah hari terang. Kalau bisa, beberapa menit sebelum merbot masjid bangun mempersiapkan azan subuh, kamu sudah bangun. Nanti Tuhan akan memberi rejeki yang banyak buat kamu. Tidak cuma hari itu, tapi selamanya. Asal kamu rutin melakukannya." Saat bapaknya berwasiat begitu, Supri hanya mengangguk-angguk. Pikirnya, ia hanya akan menyenangkan bapaknya sebelum beliau meninggal. Makanya ia mengangguk-angguk saja, seolah setuju dan mengiyakan.

---

Di luar, matahari bersinar terik sekali. Meski demikian, sejak pagi tadi sampai sekarang, hanya tiga kipas dagangan Supri yang terjual. Supri memandang langit-langit stasiun. Kipas angin yang banyak terpasang hanya berfungsi kurang dari separuhnya. Di sini juga banyak sekali orang. Beberapa mengelap wajah dan lehernya dengan punggung tangan, tisu, atau sapu tangan, beberapa mengipas-ngipas dengan telapak tangan atau koran.
Tidakkah mereka kegerahan dan ingin sedikit mengeringkan keringat di tubuhnya dengan kipas yang kujajakan?

Supri duduk selonjor di satu sudut stasiun. Dihitungnya uang perolehannya hari ini. Cuma laku enam kipas hari ini, lebih sedikit dari hari-hari biasanya. Supri melepas topi, dikipas-kipaskan ke lehernya yang cukup basah oleh keringat. Hari ini sangat panas tapi hanya laku enam? Batin Supri. Padahal ia sudah rajin berputar-putar di hampir semua sudut stasiun, menyambangi setiap orang dan menawarkan kipas tangan dengan bermacam-macam bentuk yang dijualnya.

Tiba-tiba Supri ingat pesan bapaknya kemarin. Jangan-jangan hari ini aku cuma bisa menjual enam kipas karena aku tidak bangun sebelum merbot masjid bangun mempersiapkan azan subuh. Atau jangan-jangan kipasku kurang laku karena aku hanya mempermainkan janji, kan kemarin aku hanya mengiyakan untuk menyenangkan hati bapak.

Dalam hati Supri bertekad, besok ia harus bangun mendahului Pak Salim, merbot masjid dekat kontrakannya.

Di balik tembok yang disandari Supri, dua orang ibu-ibu saling bercakap. "Jakarta selalu sepanas ini, orang-orang sudah kebal. Pakai tangan saja sudah bisa kering keringatnya." Timpal satunya, "iya. Atau pakai koran. Nggak usah beli kipas...."


030213

Saturday, February 2, 2013

Rumah Kuburan

Kuburan. Sepi, mencekam, gelap (ketika malam), dan menyeramkan. Auranya tak enak bagiku, dan karena itu aku tak suka kuburan. Tapi sialnya, seratus meter di belakang tembok rumahku ini ada ratusan pasang nisan, belasan pohon kamboja rimbun dengan wangi bunganya yang khas dan kadang terlalu harum, gundukan-gundukan tanah gembur maupun padat, dan kesepian ala kuburan yang entah mengapa menular ke rumahku. Rumahku jadi serasa kuburan.

Tapi menurut Nina, kakakku yang usianya cuma terpaut setahun denganku, rumah kami memang kuburan. Bukan lagi serasa kuburan. Katanya, "aku dan kau saja jarang sekali bertemu. Masih untung kita sering sms-an, jadi masih tau seenggaknya masih hidup apa enggak. Coba lihat ayah dan ibu. Seminggu ini apa kau pernah melihat mereka?" Aku menggeleng. "Nah," lanjutnya, "rumah kita memang kuburan. Yang cuma didatangi sesekali. Tak ada ceritanya peziarah datang setiap hari ke kuburan, kan?"

Aku jadi berpikir ulang. Aku dan Nina memang jarang bertemu. Kami berangkat dini hari dan pulang ketika hari sudah hampir dini lagi. Tapi kami berdua tak pernah terlibat pertengkaran. Kami sering bertukar kabar lewat sms meskipun hanya dengan, "nanti aku pulang malam," yang hampir setiap hari saling kami kirimkan--karena kami selalu pulang, seperti yang sudah kubilang, hampir dini hari.

Tapi anehnya kami tak pernah bertanya satu sama lain tentang di mana ayah atau di mana ibu. Kami hanya merasa pasti mereka ada di suatu tempat, entah dengan siapa. Tidak ingin juga kami mengetahuinya. Toh mereka juga tak pernah membalas sms atau mengangkat telepon dari aku dan Nina. Mereka keuar rumah tak pernah bilang, tiba-tiba saja beberapa minggu kemudian satu dari mereka muncul di rumah. Jadwal mereka di rumah tak pernah tentu dan tak pernah sama. Sehari kemudiam, dengan tanpa memberi kabar, mereka sudah tak ada di rumah.

Tentang rumah yang serasa kuburan itu, aku akhirmya berkata pada ayah ketika ia sedang menyiapkan kopernya untuk pergi entah berapa lama. Kupikir aku tak akan berjumpa dengannya dalam waktu lama, jadi aku memberanikan diri untuk bicara padanya.

"Rumah kita seperti kuburan, Yah." Tidak mungkin kukatakan padanya bahwa rumah kami memang kuburan, seperti kata Nina.

Ayahku masih menekan-nekan pakaian, mungkin agar kopernya bisa muat lebih banyak. "Kenapa?" Tanyanya singkat.

Karena peziarah jarang datang ke kuburan. Karena kuburan selalu dibilang lahannya sudah penuh tapi tetap saja sepi, karena memang isinya orang-orang yang sudah mati.

"Sepi, Yah." Tenggorokanku mendadak kering. Aku tak pernah bisa seperti Nina yang selalu sukses mengungkapkan pendapatnya dengan baik.
"Hmm...."

Ayah menutup ritsleting kopernya. Menaikkan pegangan koper. Menyeret kopernya melewatiku. Tanpa berbicara. Aku benar-benar merasa seperti sampah yang dibuang sembarangan dan tak ada yang mau memperhatikanku apalagi memungutku untuk dibuang ke tempat sampah yang seharusnya.

Esoknya, ketika aku pulang rupanya ada sedikit aktivitas di depan rumah. Aku bertanya pada Nina melalui sms, "ada apa ini?". Kurasa ini adalah satu dari sedikit sms yang tidak mengabarkan bahwa nanti aku pulang malam.
"Bikin pos ronda. Kata ayah biar rame." Balas Nina.

Sekitar dua pekan kemudian, pos ronda yang dibangun dengan menggunakan uang pribadi ayah--Nina bilang begitu, aku sendiri tak tahu ia dapat info dari mana--telah berdiri dengan gagah. Banyak orang sering nongkrong di sana. Beberapa kali aku melihat beberapa remaja tanggung bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi ketika aku pulang. Kadang juga pos dikuasai beberapa bapak-bapak yang asyik menyeruput kopi (atau teh? susu?) sambil menonton bapak-bapak lain yang sedang bermain catur. Sesekali pernah juga kulihat orang sedang tidur dengan menyelongsongkan dirinya dalam kain sarung.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu, aku mengirim sms pada ayah--setelah berulang kali kuketik dan kuhapus.

"Pos rondanya ramai, Yah, kayak pasar. Tapi rumahnya tetap sepi, kayak kuburan. Selama ini kita memang tinggal di kuburan, kan?"



020213
Izanaizuki