Monday, July 6, 2020

Mimpi Tentang Orang Mati (Terjemahan Esai Yoshimoto Banana)


Kisah berikut ini tidak ada kaitannya dengan apa yang akan saya ceritakan selanjutnya: pagi ini saya bermimpi tengah berjalan di tepi pantai, menginjak bintang laut yang lalu menempel lekat sehingga saya harus menghentakkan kaki. Kaki saya sungguhan memancal, dan saya terbangun dari tidur.

Sungguh menyeramkan.

Beberapa waktu lalu, saya bermimpi tentang suatu kejadian yang memilukan.

Mimpi itu muncul beberapa kali, tentang seorang laki-laki yang telah meninggal dunia. Laki-laki itu sebaya dengan saya; ketika usianya 22 tahun ia memilih untuk meninggalkan dunia ini. Hubungan kami sama sekali tidak terkait percintaan. Ia adalah kawan yang berarti bagi saya.

Entah mengapa, di dalam mimpi itu saya bertemu dengannya, meskipun saya mengetahui bahwa ia telah meninggal dunia.

Lokasinya di depan Stasiun Matsudo. Di dalam mimpi, saya sendiri tidak paham mengapa kami bertemu di situ. Barangkali karena makamnya ada di Matsudo, dan depan Stasiun Matsudo adalah tempat di mana saya bersama seorang kawan saya bertemu ketika berziarah ke makamnya. Saya mengingatnya karena saya melihat bunga sakura bermekaran sekitar bulan April, padahal mimpi itu terjadi pada tanggal 17 Februari.

Di dalam mimpi itu, kami duduk di sebuah bangku di tanah lapang di depan stasiun. Ia bercerita tentang kabar terbaru kawan-kawan kami.

“Si S sudah melahirkan.”

“Si T tidak jadi bercerai. Untunglah.”

“Si H berpindah pekerjaan setelah keluar dari kantornya.”

Ia bercerita sembari menampakkan senyumnya yang indah, tetapi sepertinya ia merasa kesepian. “Enak ya. Sepertinya menyenangkan,” ucapnya. Setelah cukup lama berbincang, tiba-tiba ia berkata, “Yoshimoto, bagaimana kalau kadang-kadang kita bertemu seperti ini lalu mengobrol tentang kawan-kawan kita? Saya butuh teman ngobrol.”

Saya menjawab, “tentu saja!” padahal saya tahu dia sudah meninggal. Saya tidak menyangka ia akan bertanya seperti tadi. Atau kekhawatiran saya adalah, barangkali itu merupakan sinyal-sinyal asmara ala Botan Dourou, mitologi tentang seorang samurai yang jatuh cinta kepada arwah berwujud wanita cantik pembawa lentera. Namun ia memang orang yang sopan dan gemar bercerita tentang teman-teman kami. Saya izin kepadanya untuk pergi sebentar ke toilet. Saya beranjak dari tempat duduk, mengarah ke toilet, berusaha berpikir dengan jernih, lalu kembali dan menemukan bahwa ia sudah tidak berada di sana.

Ia juga tidak ada di sekitar tempat itu.

Saya menunggunya beberapa lama. Lalu entah bagaimana ceritanya, lewatlah Hara, ilustrator buku ini. “Hai, Yoshimoto. Kebetulan sekali. Saya hendak mengantarkan ini ke rumahmu. Kau kan juga wanita,” ujarnya, sembari memperlihatkan sebuah benda, sebatang ranting besar yang berbunga anyelir merah.

“Kau sendiri yang membuatnya?” tanya saya.

“Bukan. Numata yang membuatnya,” jawabnya. Jelas bahwa Numata yang dia maksud adalah si Numata Genki.

Setelah itu kami minum teh sebentar, kemudian berjalan kaki bersama. Sampai di adegan itu, saya terbangun, dan memikirkan apa sesungguhnya arti dari mimpi itu.

Apakah ia, yang sudah berkalang tanah itu, betul-betul ingin menjangkau saya sehingga kami terhubung melalui mimpi, lalu ia menyaksikan kegamangan saya dan memutuskan untuk menghilang? (Memang begitulah orangnya.)

Lalu apa maksud kehadiran Hara? Apakah ia hendak menyelamatkan saya yang sudah dalam kondisi seperti Hoichi Tanpa Telinga, folklor Jepang tentang seorang tuna netra bernama Hoichi yang telinganya dipotong sebab ia memantrai tubuhnya—kecuali telinga—agar tidak dibawa oleh roh jahat? Atau ia memang murni seseorang yang kebetulan saja melintas? (Memang begitulah orangnya; bedanya, ia belum meninggal.)

Kalau melihat dari frekuensi kemunculan Hara di mimpi saya, jangan-jangan saya sendiri sebetulnya mencari sosoknya. Saya memikirkan hal-hal itu dengan serius, tapi sepertinya saya tidak pernah merasa mencarinya. Bagi saya, ia hanyalah orang yang numpang lewat, doyan bercerita, dan teman sesama pengeroyok sup nabe.

Selanjutnya, dari mana Numata Genki muncul? Mengapa?

Misteri ini mengundang misteri berikutnya.

Yang terpenting, saya merasa kesepian karena tidak bisa meneleponnya langsung untuk menceritakan mimpi yang saya alami.

Sebab seiring waktu, ini akan menjadi kisah yang lucu untuk ditertawakan.

Saya, juga untuknya, akan menjalani hidup dengan lebih bergembira. Kalau pun ia sendiri berpulang dalam kondisi tidak sedang bergembira, ia tidak akan iri dengan kegembiraan saya—memang begitulah perangainya. Saya dan kawan-kawannya yang lain yakin bahwa hal itulah yang akan membuatnya bersukacita.
**

Diterjemahkan dari 死んだ人の夢, salah satu tulisan dalam kumpulan esai karya Yoshimoto Banana berjudul 夢について(Perihal Mimpi).

Judul buku: 夢について
Penulis: Yoshimoto Banana
Tahun Terbit: 1994
Penerbit: Gentosha Inc. 

Tuesday, June 30, 2020

Jalan Pembacaan Para Penulis - Machida Ryohei (Volume 7-Habis)

Bagaimana kebiasaan para penulis ketika di toko buku? Bagaimana mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai pembaca? Pertanyaan-pertanyaan itu kami ajukan langsung kepada penulis.

Topik 7: Mendokumentasikan Buku yang Sudah Dibaca pada bookmeter.com
(topik 6 dapat dibaca di sini)


Anda menjelaskan buku-buku yang Anda baca dan buku-buku Anda sendiri dengan tajam dan detail, bahkan menjelaskan analisis Anda dengan bahasa yang mudah dimengerti. Saya jadi ingin membaca kumpulan resensi atas buku-buku favorit Anda. Apakah Anda menyusun semacam dokumentasi bacaan?
Terima kasih. Ya, saya mencatat buku-buku yang saya baca di bookmeter, karena saya sering lupa. Tetapi saya tidak menulis kesan atas pembacaan tersebut. Dahulu saya menulisnya, tetapi ketika saya baca ulang, rasanya kok saya jumawa sekali (tertawa).
Kemudian sejak akhir usia 20-an saya mulai suka puisi dan sering melihat kolom kiriman puisi di majalah, di sana ada sedikit penjelasan dari redaktur mengenai alasan pemilihan karya tersebut. Yang membuat saya menyukai puisi adalah komentar-komentar yang menyertai karya tersebut. Saya ingin bisa menjelaskan mengapa saya menyukai suatu karya, dalam bentuk tulisan.

Luar biasa....
Ini memang sifat pembawaan saya. saya tidak bisa mengacuhkan begitu saja apa yang saya sukai atau saya benci. Jujur, semuanya hanya fantasi. Tidak ada kata-kata yang pas untuk mengungkapkan rasa suka atau benci itu. Tetapi karena tadi hanya fantasi, justru saya makin ingin membaginya kepada orang lain lewat kata-kata.

Apakah Anda senang membaca resensi, kritik sastra, atau catatan redaksi?
Saya sangat suka membaca opini orang lain, semacam ingin tahu bagaimana pandangan orang lain. Mungkin juga karena saya tidak terlalu mempercayai selera saya sendiri. Saya sedikit khawatir sehingga cenderung banyak berpikir setelahnya.

Adakah materi yang wajib Anda baca? Misalnya, reviu majalah sastra, resensi di koran, atau catatan pemilihan pemenang Penghargaan Akutagawa.
Saya usahakan untuk membacanya sekilas. Untuk majalah sastra, saya prioritaskan untuk membaca karya-karya dari penulis yang belum pernah saya baca, karena saya relatif senang dengan pengalaman pembacaan yang saya peroleh dari majalah sastra. Setelah membacanya, saya beralih ke reviu umum dan reviu bulanan atas karya-karya yang dimuat.

Setelah debut sebagai penulis, apakah ada yang berubah dalam bacaan Anda?
Setelah debut, untuk sementara saya hanya membaca apa yang saya suka. Akhir-akhir ini saya terkadang diminta untuk berbicara pada acara gelar wicara, jadi seringkali saya membaca buku-buku penulis yang hadir. Buku karya Kishi Masahiko sangat menarik. Saya hanya tahu novel-novel beliau, kemudian setelah membaca buku sosiologi karya beliau, saya berterima kasih karena telah dibukakan dunia baru yang sedemikian luas.
Selain itu, setelah debut saya menemukan semangat dalam tanka (genre puisi Jepang) sehingga mulai membacanya. Misalnya karya Ohmori Shizuka yang sangat indah. Juga Inoue Noriko, lalu karya Hattori Mariko.

Apa hal-hal yang menarik perhatian Anda akhir-akhir ini?
Untuk novel luar negeri, saya rasa “Ping Pong” karya Park Min-Gyu sangat menarik. Kemudian “La Place de l’Etoile/Night Rounds” karya Patrick Modiano. (Sambil melihat ponsel) saya mencatatnya di bookmeter, jadi saya ingat yang dulu-dulu (tertawa). Oh iya, naskah drama karya Matsubara Shuntaro yang memperoleh penghargaan Kishida Kuniogi Kyokusho, “Yamayama”, juga sangat mencengangkan. Lalu untuk kritikus sastra, saya suka Octavio Paz.
Kalau untuk novel, saya sangat suka buku “The Children’s Room” karya Louis-Rene des Forets. Di dalamnya ada beberapa cerita yang tidak begitu panjang. Bukunya sangat berkesan karena saya menemukannya ketika sedang membaca berbagai novel bertema musik.
Tadi saya sedikit bercerita tentang Robert Walser, itu adalah rekomendasi editor saya sejak saya debut. Ia memberi tahu saya setelah saya bilang pada salah satu redaktur di Penerbit Kawade Shobo bahwa saya suka karya-karya W.G. Sebald. Saya sering mewawancarai orang lain tentang hal-hal yang mereka suka. Ah, saya baru ingat macam-macam setelah membuka-buka bookmeter (tertawa). Ketika “The Yellow Rain” karya Julio Llamazares diterbitkan versi cetaknya, saya membacanya sekali lagi. Saya juga baca cerpen-cerpen yang masuk ke buku tersebut dan terkesan sekali.
Kalau novel-novel Jepang terbaru, saya belum membacanya secara keseluruhan, tapi kebetulan saya membaca “Arakure” karya Tokuda Shusei; novelnya sangat menarik dan mengejutkan. Tokoh-tokoh yang muncul sangat beringas sesuai judul novelnya, juga banyak pertanyaan yang timbul terkait relasinya dengan tokoh-tokoh lain di sekitarnya. Saya sendiri tidak menduga bisa terus membacanya tanpa kehilangan minat sedikit pun. Keberingasan yang jauh melebihi ekspektasi saya.

Saya jadi ingin menggali lebih lanjut (tertawa). Nah, tahun ini ada tiga karya Anda yang diterbitkan, yaitu “1R 1-pun 34-Byou”, “Boku Wa Kitto Yasashii”, dan “Ai Ga Kirai”. Bagaimana rencana Anda ke depan?
Dua tahun belakangan ini banyak yang saya tulis, dan saya merasa semuanya jadi ada wujudnya. Oh ya, akhir Oktober buku saya “Chopin Zombie Contestant” akan terbit. 

**

Diterjemahkan dari artikel ini.

Sunday, June 21, 2020

Masa Lalu (Terjemahan Esai Yoshimoto Banana)


Saya punya kesan tersendiri terhadap diri saya ketika masih kanak-kanak, atau anggap saja ketika masih sekolah dan tinggal bersama orang tua, yaitu tidak pandai memanfaatkan waktu. Padahal saat itu saya punya lebih banyak waktu luang dibandingkan sekarang.
Pada suatu kesempatan wawancara, saya ditanya tentang hal-hal yang saya sesali dari masa sekolah. Saya menjawab, "dengan waktu luang sebanyak itu yang saya habiskan untuk minum-minum, lebih baik bila saya menggunakannya untuk mempelajari sesuatu. Seni lukis tinta cair, misalnya. Hahaha."
Artikel hasil wawancara tersebut lantas terbit dengan kalimat 'Yoshimoto: Menyesal Tidak Belajar Seni Lukis Tinta Cair'. Hal-hal seperti itu pernah juga terjadi.

Omong-omong, pada suatu malam ketika saya pulang ke rumah orang tua saya, buku-buku dan benda-benda lain milik saya ditumpuk di ruangan yang dulunya adalah kamar saya. "Kamar itu tidak boleh menganggur. Coba kaurapikan barang-barangmu," begitu kata ibu saya. Sedikit demi sedikit saya mulai membereskannya dengan tidak bersemangat. Saya melihat naskah-naskah dan catatan-catatan saya dahulu. Cukup memalukan, dan itu membuat pekerjaan membereskan ini tidak kunjung selesai.
Mengenai naskah-naskah tadi, dibandingkan dengan sekarang, sebetulnya tidak banyak yang berubah dari sisi ketidakbecusan menulis dan isi tulisan. Ada tokoh laki-laki dan perempuan yang muncul dan memakan sesuatu, atau ada hantu yang tiba-tiba muncul; itu-itu saja. Muka saya memerah saking mengingat betapa payahnya diri saya.

Saya sendiri tidak begitu ingat pernah menulis tulisan-tulisan itu. Tapi toh memang saya yang menulisnya. Kemudian ada lagi buku catatan pelajaran matematika yang penuh coretan-coretan ala manga. Sungguh memalukan, rasanya saya ingin mati saja.
Membereskan barang-barang seperti itu membuat saya mengenang masa lalu. Seorang gadis yang menggantung cita-cita; berpikir positif; menyenangi manga, film, dan barang-barang lucu; kampungan; tetapi pergaulannya luas.
Saya memutuskan untuk memandangi benda-benda di dalam kamar dengan sudut pandang sebagai orang asing. Saking jarangnya saya menoleh ke belakang untuk melihat bayangan diri—yang ternyata sama persis dengan sekarang, timbul suatu perasaan ganjil. Terkadang kita berhalusinasi bahwa ada sesosok diri-kita-sekarang yang datang, tetapi sesungguhnya sosok itu sudah merupakan pribadi yang berbeda—bahkan sejak dalam sel.

Pada lain waktu, ketika saya melanjutkan proyek beres-beres kamar, saya melihat gunungan benda remeh-temeh dari salah satu laci.
Bolpoin tua lusuh dari India yang bertempelkan cermin, penghapus karet berupa imitasi dari koin emas dan koin perak peringatan 60 tahun turunnya tahta Kaisar, baskom bergambar beruang, cerutu bekas milik Beat Kiyoshi yang diperoleh dari undian program teve Oretachi Hyoukinzoku, set amplop bermotif manju-isi-kastanya, piramida yang kabarnya mampu mendatangkan manfaat luar biasa, bantal kumbang koksi yang besar dan lembut, dan lainnya. Barang-barang yang membuat saya mempertanyakan diri saya dan kebodohan sendiri.

Bukan waktu yang tepat untuk menertawakan tingkah Chibi Maruko-chan—tingkah saya tak kalah patut untuk ditertawakan. Saya berani menjamin, ada seember barang-barang berbentuk anjing laut berbulu dan anjing laut. Saya sampai bosan dengan kedua jenis anjing laut itu yang terus-menerus bermunculan, hingga akhirnya saya katakan kepada ibu saya, "saya heran sendiri dengan perilaku saya dulu di rumah ini. Maaf, ya, Ibu jadi harus tinggal bersama manusia seaneh ini." Mendengar permintaan maaf saya, Ibu menjawab, "memang aneh, seorang bocah yang melulu membeli barang-barang berbentuk anjing laut."

Dengan begitu, ada kekurangan mayor pada kesimpulan pertama saya. Atau barangkali tidak berlebihan kalau saya adalah seorang "Ratu Agung atas Barang Aneh".

Apa yang saya pikirkan tentang diri saya sendiri, atau dengan kata lain diri yang atasnya saya memiliki kesadaran penuh, sungguh hanya sebagian kecil saja. Itu pun bukan bagian yang sebagaimana dilihat oleh orang lain. Andai saja saya bisa menonton diri saya sejak kecil seperti menonton film—yang direkam dalam format 8mm—yang diputar ulang tiga kali, barangkali tidak akan ada lagi kebimbangan seperti yang sedang saya rasakan. Karena sebetulnya saya hanya harus sedikit mengubah apa yang saya lakukan.

**

Diterjemahkan dari 過去 (Masa Lalu), salah satu tulisan dalam kumpulan esai karya Yoshimoto Banana berjudul 夢について(Perihal Mimpi).

Judul buku: 夢について
Penulis: Yoshimoto Banana
Tahun Terbit: 1994
Penerbit: Gentosha Inc. 

Tuesday, June 16, 2020

Jalan Pembacaan Para Penulis - Machida Ryohei (Volume 6)


Bagaimana kebiasaan para penulis ketika di toko buku? Bagaimana mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai pembaca? Pertanyaan-pertanyaan itu kami ajukan langsung kepada penulis.

Topik 6: Menulis di Kamar Mandi
(topik 5 dapat dibaca di sini)




Apakah ada sesuatu yang berubah semenjak Anda debut sebagai penulis?
Sejak debut, saya didampingi oleh editor, kami berdiskusi juga terkait novel sehingga pengerjaan novel saya menjadi lebih cepat. Pada satu titik, bagi saya menulis novel sudah menjadi kebiasaan. Jadi kalau sedang sehat dan bugar, saya jadi mudah menyesuaikan ritme aktivitas sehari-hari, dan justru jadi tidak tenang kalau tidak menulis.

Anda lebih sering menulis di ponsel, ‘kan? Apakah kebiasaan itu berlangsung sejak awal-awal Anda mengirim naskah?
Saya mengetahui ada orang-orang yang menulis novel di ponsel, baik ponsel lawas maupun Iphone. Suatu hari tiba-tiba saya berpikiran bahwa kalau saya bisa menulis dengan laptop, seharusnya itu juga berlaku pada ponsel. Saya ingat, karya saya sejak setahun sebelum Ao Ga Yabureru saya kirimkan, itu saya tulis di ponsel. Untuk Shiki dan Ai Ga Kirai memang saya tulis di laptop, tapi selain karya itu, saya menggunakan ponsel. Ketika menulis di ponsel, saya potong-tempel di Word, saya perbaiki di situ juga sembari saya baca ulang, lalu saya lampirkan file Word-nya untuk saya kirimkan ke editor naskah.

Saya tadi juga bertanya tentang kebiasaan Anda yang menulis di kamar mandi....
Saya mulai menulis di kamar mandi sejak karya kedua. Saat dipublikasikan, judul naskah saya adalah Suimen, tetapi ketika diterbitkan dalam buku, judulnya menjadi Boku Wa Kitto Yasashii.

Oh, itu buku edisi spesial yang terbit tahun ini, ya. Apakah itu karya pertama hasil menulis di kamar mandi?
Kebetulan saja saya saat itu sedang membaca buku karya Nakazawa Shin-ichi, lalu tiba-tiba terpikir, ‘wah sepertinya sekarang saya bisa menulis novel’. Tapi saya merasa terlalu repot kalau harus keluar kamar mandi, jadi akhirnya saya menulis begitu saja dengan ponsel yang saya bawa. Begitulah awalnya. Dan saya rasa itu tidak buruk-buruk amat.

Omong-omong, apa yang berbeda ketika menulis di ponsel?
Yang paling saya sukai, karena menulis di ponsel tidak membuat saya terkungkung. Kalau pakai laptop, ukuran layarnya besar sehingga mata saya akan melirik-lirik ke tulisan sebelumnya, rasanya agak cemas apakah tulisannya sudah baik atau belum. Tetapi saya merasa puas ketika menulis Shiki di laptop. Saya menulisnya dengan menggunakan sudut pandang sebagai orang ketiga. Kesadaran yang otomatis ada di kepala saya adalah, saya menulis sebagai orang ketiga kalau pakai laptop, dan menulis sebagai orang pertama kalau pakai ponsel. Saya menulisnya tanpa melihat-lihat kembali bagian sebelumnya. Saya berusaha selalu menulis ketika fisik saya sedang sehat, tapi bagaimana saya menentukan sehat atau tidaknya tubuh saya tergantung pada apakah saya bisa mengingat bagian-bagian cerita yang sebelumnya telah saya tulis. Dengan kata lain, biasanya saya tidak ingat. Ketika saya bisa mengingatnya, pada waktu yang bersamaan saya jadi terbersit apa yang akan saya tulis selanjutnya. Urutannya bisa terbalik-balik antara depan dan belakang, misalnya ketika saya punya ide untuk menulis bagian selanjutnya, saya justru teringat pada bagian sebelumnya. Momen-momen itulah yang penting. Kadang saya merasa bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan ingatan lebih cocok bila ditulis di ponsel. Tapi untuk Shiki, tokoh-tokohnya diceritakan dalam rentang waktu satu tahun, jadi saya perlu tahu pada waktu A, hal ini terjadi, lalu menjadi seperti itu. Saya menikmati menulis kisah itu di laptop.

Oh, apakah Anda juga menulis dengan laptop di kamar mandi? Saya jadi khawatir....
Cukup sering juga. Tapi kalau untuk saat ini, hanya di hari kerja saja (tertawa).
Akhir-akhir ini saya merasa laptop saya bermasalah, jadi saya sudah beli yang baru. Sebelumnya, saat saya pakai untuk bekerja, loading-nya terasa lambat sekali, bahkan di kabelnya juga sudah terlihat serat tembaganya. Mungkin ia rusak karena terkena air atau semacamnya. Sepertinya begitu.

Pada karya terbaru Anda, Ai Ga Kirai, ada tiga tulisan. Betul begitu?
Ai Ga Kirai saya tulis di laptop, sementara Shizukesa dan Ikiru Karada saya tulis di ponsel. Bagi saya pribadi, Ai Ga Kirai punya kedudukan tersendiri. Di karya saya lainnya, sudut pandang yang saya pakai pasti yang sedekat mungkin dengan si pencerita; sedangkan pada Ai Ga Kirai saya berhati-hati agar tidak absurd.
Ketika menulis, saya berusaha sadar bahwa di antara tokoh-tokoh yang muncul, ada kisah yang hilang dari si pencerita. Saya berharap para pembaca akan menciptakan sendiri kisah yang hilang tadi. Dalam Ai Ga Kirai, ada tokoh dewasa dan anak-anak dengan nama yang pengucapannya sama yaitu Hiro, dan saya rasa itu bisa menjadi penghubung untuk membuat kisah itu menjadi utuh. Mereka melihat dunia dari sudut pandang di antara mereka berdua. Sejak awal saya sudah menyadari bahwa saya tidak piawai menciptakan tulisan dengan kisah yang utuh. Sebelum menulis saya tidak berpikir mengapa saya menulis cerita itu; saya baru sadar setelah menuliskannya. Bahkan ketika memunculkan tokoh anak-anak yang namanya sama dengan nama tokoh utama, saat itulah saya baru berpikir, ‘oh ternyata jadinya seperti ini.’

**

Diterjemahkan dari artikel ini.

Saturday, June 6, 2020

Jalan Pembacaan Para Penulis - Machida Ryohei (Volume 5)


Bagaimana kebiasaan para penulis ketika di toko buku? Bagaimana mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai pembaca? Pertanyaan-pertanyaan itu kami ajukan langsung kepada penulis.

Topik 5: Dunia Lain di Dalam Novel
(topik 4 dapat dibaca di sini)





Buku apa yang Anda baca saat itu?
Saya membaca karya-karya ternama, tetapi yang paling spektakuler menurut saya adalah To The Lighthouse karya Virginia Woolf. Sangat mengesankan. Saya cukup terlambat membacanya, yaitu ketika baru diterjemahkan oleh Konosu Yukiko. Mengesankan karena tokoh dan latar dikisahkan, bisa dibilang, secara ekuivalen atau sejajar. Latar tempat, waktu, dan batin tokoh-tokohnya saling bertentangan berulang kali, dunia-sekarang dan dunia-yang-seharusnya berjalan sejajar seakan-akan berjejalan di dalam novel.
Saya belajar banyak tentang keluarbiasaan dan keagungan suatu latar yang muncul di dalam cerita. Keberadaan novel ini sangat besar artinya bagi saya karena dari sana saya mengetahui pentingnya menciptakan dunia lain di dalam novel.

Padahal tadi Anda menyampaikan bahwa dulu Anda payah ketika berhadapan dengan latar yang tidak Anda ketahui.
Begitulah, saya justru terselamatkan oleh hal itu. Selain itu, karya yang juga sangat saya sukai adalah The Magic Mountain karangan Thomas Mann. Saya juga membaca karya penulis-penulis Amerika Latin. Saya sudah membaca karya Rulfo sebelumnya. Pada dasarnya semuanya menarik, tapi yang saya suka adalah karya Rulfo.
Saya juga suka karya Vladimir Sorokin. Saya membaca semua karyanya, tapi yang paling saya suka adalah Blue Salo.

Hehehe. Buku yang menimbukan berbagai kontroversi, ya.
Banyak, ‘kan, para penulis yang cara berpikirnya liar? (tertawa). Konten yang diusung Vladimir Sorokin kadang remeh, kadang menimbulkan penasaran, tapi di sisi lain ada titik yang membuat kita berpikir bahwa hal tersebut ternyata sangat berkelas dan matang; ketidakteraturan seperti itulah yang sangat saya sukai. Ada bagian-bagian yang membuat saya berpikir saya bisa membaca karya-karya Sorokin. Ada juga penulis lain yang saya sukai, yaitu W.G. Sebald, karyanya misalnya Austerlitz dan The Emigrants. Penulis favorit Sebald adalah Robert Walser, tetapi saya tidak membaca karya Walser satu pun.

Karena percuma?
Ya. Karya-karyanya diterbitkan oleh Penerbit Choeisha, saya membacanya beberapa. Semuanya sangat menakjubkan, tetapi saya ingin membacanya ketika nantinya sudah lebih tenang.
Kemudian ketika saya berusia sekitar 30-an, terbitlah buku yang ditulis oleh para pianis, dan saya tertarik membacanya.

Apakah sedemikian banyak buku yang ditulis oleh para pianis?
Cukup banyak. Bahkan di luar negeri banyak buku yang ditulis selama separuh masa hidup si penulis. Yang paling melekat di ingatan saya adalah pianis Perancis bernama Helene-Rose-Paule Grimaud, ia menerbitkan autobiografinya yang berjudul Wild Harmonies. Helene Grimaud adalah pianis yang luar biasa, ia juga meneliti tentang ekologi serigala dan memeliharanya. Pertemuannya dengan serigala saja sudah merupakan sesuatu yang eksentrik. Kebanyakan pianis memang unik, dan masing-masing dari mereka punya kisah-kisah yang sama mencengangkannya, jadi buku-buku mereka sama menariknya. Cara berpikir dan kebiasaan mereka sangat-sangat unik. Saya kagum dan respek pada mereka. Saya pikir perasaan saya terhadap novel sama dengan perasaan para pianis tersebut ketika berlatih piano. Itu yang membuat saya akhirnya rajin membaca buku bertema musik.

Apakah itu berlaku baik untuk pianis dalam maupun luar negeri?
Ya. Buku Nakamura Hiroko menarik, lalu buku Aoyagi Izumiko juga menakjubkan. Sepertinya buku Aoyagi yang membuat saya tertarik pada buku-buku karya pianis.
Baru-baru ini Penerbit Hakusuisha menerbitkan terjemahan dari buku Maestros and Their Music: The Art and Alchemy of Conducting, saya tengah membacanya dan saya rasa bukunya menarik. Ketika membaca karya-karya luar biasa dari para pianis, ada beberapa bagian yang saya pahami, tetapi lebih banyak yang tidak. Nah, buku-buku karya konduktor ini lebih tidak bisa lagi saya pahami. Tapi rasanya menyenangkan melihat suatu seni diwariskan oleh para maestro itu. Seolah-olah ada jurus rahasia yang disampaikan dari satu anak didik ke anak didik lain. Menurut buku tersebut, mereka menuliskan banyak hal di buku partitur mereka, lalu mengajarkannya pada anak didiknya, jadi itu semacam catatan rahasia. Penulis buku tersebut adalah John Mauceri, seorang maestro populer, dan menurut saya perlu keberanian untuk menulis hal-hal seperti itu.

Jadi terkadang Anda menulis berdasarkan apa yang Anda rasa dan pikir, ya. Novel pertama Anda, Ao Ga Yabureru, dan novel Anda yang menyabet Penghargaan Akutagawa, 1R1-pun 34-byou, keduanya berkisah seputar petinju.
Akhir-akhir ini saya sering mendapat komentar bahwa saya sangat ‘berkarakter fisik’, tapi saya justru ingin bertanya balik, apa definisi ‘berkarakter fisik’ itu? (tertawa). Ketika menulis 1R1-pun 34-byou, memang benar bahwa saya menuliskan dengan detail gerakan-gerakan fisik tapi saya rasa saya menulisnya dengan biasa saja, tidak ada sebersit pikiran untuk menulis secara mendalam.

Sempat muncul rumor yang ramai dibahas bahwa Anda memang benar-benar berlatih tinju.
Ketika SMA saya sempat ikut karate, sekitar umur 24 saya ikut muaythai, setelah itu saya justru relatif lama berolahraga tinju. Kemudian ketika saya memulai debut jadi penulis, saya mulai merasa aktivitas fisik tersebut terlalu berat jadi saya berhenti. Kalau sekarang, saya sedikit berlatih dance.

Apakah ada kemungkinan hal tersebut akan terkait dengan novel lagi?
Saya rasa ada. Omong-omong tentang buku, saya juga kadang membaca buku-buku karya penari butou. Benar-benar hanya segelintir saja yang pernah saya baca, yang terkenal di antaranya adalah Hijikata Tatsumi, Kasai Akira, dan Ohno Kazuo. Dalam buku karya Mikai Kayo yang berjudul Zohokaitei Utsuwa Toshite no Karada: Hijikata Tatsumi, Ankoku Butou Gihou e no Approach, ada pembahasan mengenai pemikiran-pemikiran Hijikata tentang butou itu sendiri yang sangat memotivasi. Menurut pemahaman saya pribadi, yang membuatnya menarik adalah adanya diksi-diksi yang mirip dengan di buku yang ditulis oleh para pianis, tetapi kita tidak tahu di mana diksi itu akan terucap.

**

Diterjemahkan dari artikel ini.

Sunday, May 31, 2020

Jalan Pembacaan Para Penulis - Machida Ryohei (Volume 4)


Bagaimana kebiasaan para penulis ketika di toko buku? Bagaimana mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai pembaca? Pertanyaan-pertanyaan itu kami ajukan langsung kepada penulis.

Topik 4: Mulai Mengirim Naskah Novel
(topik 3 dapat dibaca di sini)










Bagaimana dengan keputusan terkait pilihan Anda untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas?
Saya hidup tanpa tujuan, dan saat SMA saya sudah merasa malas belajar (tertawa). Sewaktu SD saya gagal di ujian masuk SMP, saat itu keluarga saya punya tabungan untuk mengikutkan saya kursus hingga SMA. Saya berhasil melanjutkan ke SMA, tapi justru saya malas belajar. Hidup saya mengalir begitu saja tanpa ada gairah sedikit pun. Bahkan keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi juga tidak ada. Memang ada sedikit kesadaran bahwa orang-orang di sekitar saya melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi keputusan saya untuk tidak berkuliah bukan karena ada suatu tekad tertentu. Itulah yang membuat saya pasrah saja hidup dari hari ke hari. Tetapi toh pekerjaan paruh waktu yang saya jalani juga menyenangkan, kok. Kalau saya membaca buku di ruang istirahat, rekan-rekan membiarkan saja meskipun mereka tidak ada yang suka membaca buku.

Apakah pernah terpikir oleh Anda bahwa suatu hari akan menjadi penulis?
Ya, saya menerka-nerka apakah saya bisa jadi penulis, sebab kalau bisa tentu saja saya senang. Semenjak kecil saya memang tidak begitu bersemangat. Kemudian pada usia awal 20-an saya sepertinya sudah memutuskan tidak akan terbawa arus tren yang ada di sekitar saya. Saya juga terkadang merasa putus asa dan hanya hidup dari waktu ke waktu.

Kapan Anda mulai mencari pekerjaan?
Ketika usia 21 tahun. Saat itu saya hanya ikut-ikutan saja karena di sekeliling saya, orang seusia saya sudah mulai mendapat pekerjaan. Pada masa itu kami masih beruntung, sebab setelah itu mencari pekerjaan menjadi sulit. Dari cerita yang saya dengar dari orang-orang yang bekerja banting tulang, memiliki apa yag kita inginkan dan bisa kita banggakan pada usia muda adalah suatu kemewahan. Orang-orang yang mencari pekerjaan pada masa itu sungguh luar biasa.

Apakah perusahaan tempat Anda mencari kerja saat itu adalah kantor tempat Anda bekerja sekarang?
Bukan. Perusahaan tersebut bangkrut, saya pindah ke kantor saya yang sekarang. Saya termasuk beruntung bisa pindah kerja dengan lancar tanpa hambatan.

Seperti apa Anda menghabiskan usia 20-an terkait aktivitas membaca dan menulis?
Saya sudah mulai menulis ketika itu. di awal usia 20-an, saya baru menyadari bahwa saya bercita-cita ke arah sastra karena saya bebas menulis topik yang saya inginkan. Saya masih ingat judul novel yang saya tulis tersebut, dari sana juga saya tahu tentang keberadaan majalah sastra, lalu mulai ingin mengirim karya ke sana.

Apakah ada momen yang membuat Anda berpikir bahwa diri Anda berubah?
Yang utama adalah mengenai kesadaran dalam diri saya bahwa seluruh tulisan atau kisah yang pernah saya baca hanya ditulis berdasarkan cerita-cerita yang sudah ada sebelumnya, jadi saya tahu bahwa tidak ada yang namanya ‘karya oroginal saya’. Tetapi ketika menulis novel, saya sadar bahwa saya sendiri tetap harus menemukan sesuatu, sekecil apapun itu, yang belum ada di dunia ini. Kalau saya bisa memikirkan suatu impian yang mungkin membuka kesadaran atau cara pandang baru, bagi saya itu adalah suatu hal yang besar. Karya itu saya kirimkan ke sayembara yang diadakan oleh penerbit swa-publikasi, lolos sampai beberapa tahap, kemudian gugur. Itu ketika usia 21 tahun. Sampai 3 tahun setelahnya, saya masih terus mengirimkan tulisan ke majalah sastra. Majalah sastra Bun-gei punya semacam kumpulan cerita dari penulis-penulis, beberapa penulis yang seusia dengan saya seperti Wataya Risa atau Hada Keisuke pernah menang di sana, lalu saya terpikir untuk mengirim karya ke lomba yang diadakan majalah Bun-gei tersebut. Untuk bisa familiar dengan Bun-gei ini, saya perlu lebih banyak waktu dibandingkan dengan majalah sastra lain. Saya hanya membaca karya pemenang penulis-baru majalah Bungakukai, tapi di mata saya Bungakukai ini punya imej seperti novel Robou no Ishi atau Hitoaki no Suna, yang membuat saya frustrasi ketika kanak-kanak. Pemenang penghargaan Bun-gei ini, selain penulis-penulis yang seusia saya, ada juga Yamada Eimi, yang imejnya lekat dengan novel modern.

Lalu Anda mengutamakan untuk mengirim karya ke penghargaan di majalah Bun-gei tersebut?
Awalnya saya mengirim ke sayembara Bun-gei yang diadakan setahun sekali. Selain lomba-lomba kecil, semua karya saya langsung gugur pada seleksi awal, sebelum tiba-tiba bisa sampai ke tahap seleksi akhir ketika usia saya 27 tahun. Sebelum karya saya Ao Ga Yabureru menang penghargaan Bun-gei ketika usia saya 32 tahun, memang kadang karya saya sampai di seleksi akhir, kemudian beberapa hanya sampai tahap pertengahan, ada juga yang sampai ke tahap akhir penghargaan Entame (penghargaan untuk novel tanpa batasan genre yang mengutamakan kemampuan novel untuk dialihmediakan menjadi film, pen.), tapi kebanyakan sudah gugur di seleksi awal. Dua tahun sebelum saya debut sebagai penulis, melalui internet saya bertemu dengan orang-orang yang sama-sama sedang menulis novel. Kami saling membaca dan memberi masukan atas karya masing-masing dan dari situ saya belajar banyak hal. Dengan cara yang mirip seperti itu, saya bertemu dengan orang-orang yang menulis novel atau meneliti sastra Rusia, saya mendapat beragam masukan, dan itu sangat membantu saya.

Tadi Anda sampaikan bahwa Anda juga ikut seleksi untuk penghargaan Entame. Menurut saya, itu sangat di luar dugaan....
Saya belum pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun. Itu tepat sebelum karya saya, Ao ga Yabureru, menang penghargaan Bun-gei. Saya mengubah nama pena, kemudian mengirimnya. Lantaran sebelumnya saya selalu gugur dalam proses seleksi, saya merasa sudah gagal di dunia sastra, lalu mencoba tulisan-tulisan bernafaskan hiburan, dan mengirimnya. Ada anggota juri proses seleksi yang selalu mendukung saya tapi pada akhirnya saya toh juga gagal di genre hiburan.

Ya, ada karya-karya yang sebetulnya bagus tapi gugur karena tidak sesuai dengan karakter penghargaan.
Waktu itu, saya berpikir sudah habis nafas saya di dunia sastra dan hiburan. Meskipun demkian, bahkan kalau pun saya tidak jadi novelis, saya bertekad untuk terus menulis novel. Ketika akhirnya saya menang penghargaan Bun-Gei, saya bersyukur bahwa hasilnya baik, tetapi di sisi lain ada perasaan campur aduk juga karena saya dulu sempat putus asa dan frustrasi.

**

Diterjemahkan dari artikel ini.

Friday, May 22, 2020

Mulai dari Teh


Kadangkala saya mendapat pertanyaan mengenai ‘memasak sendiri’ dari anak-anak muda yang tinggal seorang diri.

Memasak, pun bagi orang yang memang hobi melakukannya, terhitung sulit jika harus memasak sendiri dan harus menyiapkan dua sampai tiga menu dalam sehari. Kesulitannya terletak pada sedikitnya menu yang bisa dibuat sehingga frekuensi pengulangan menu meningkat, akibatnya aktivitas tersebut tidak berlangsung lama.

Selain itu, kesulitan juga timbul dari bagaimana menghabiskan bahan makanan untuk porsi satu orang. Seringkali orang-orang memasak terlalu banyak dan pada akhirnya memakan menu yang sama berulang kali. Dari situlah muncul kebosanan yang membuat mereka perlahan-lahan tidak lagi memasak sendiri.

Untuk mengatasi hal tersebut, saya menyarankan untuk mulai dari teh, alih-alih tiba-tiba menantang diri sendiri untuk memasak. Kalau ada suara-suara dari orang yang tidak bisa minum teh atau tidak suka teh, saya abaikan terlebih dulu suara itu.

Selama dua tahun sejak pindah ke Tokyo, ada periode ketika saya membeli teh dalam botol. Ukurannya dua liter, harganya sekitar 150 yen. Kalau saya memakai teh celup, untuk ukuran dua liter saya hanya mengeluarkan uang tidak sampai 10 yen. Teh celup yang murah dijual sekitar 150 yen yang berisi 50 kantong (satu kantong untuk satu liter). Sampah pun bisa berkurang dengan cara ini.

Menyeduh teh sendiri bukan hanya berurusan dengan menghemat uang. Setiap hari kita akan menjerang air dan membuat minuman. Awalnya memang terasa berat, tetapi dari situ timbul suatu kebiasaan. Kebiasaan itu, bisa jadi, adalah langkah pertama dari kegiatan memasak sendiri.

Ketika masih sekolah, saya pernah berkunjung ke rumah salah seorang kenalan di daerah Izu. Di sana, saya disuguhi teh yang rasanya sangat lezat. Saya bertanya teh dari mana yang digunakan, dan ia menjawab, “Cuma teh yang saya beli di swalayan dekat rumah.” Sepulang dari rumahnya, saya mampir ke swalayan untuk membeli teh yang sama persis. Begitu saya coba seduh dan minum di rumah, rasanya sama sekali berbeda. Saya berpikir mungkin karena faktor air yang digunakan, jadi saya membeli air yang bersumber dari gunung Fuji yang rasanya sangat enak. Saya menyeduh teh dengan air tersebut, tapi tetap saja ada sesuatu yang berbeda. Saya sendiri tidak tahu apa yang berbeda.

Pertanyaan saya itu terjawab sepuluh tahun kemudian.

Kawan saya yang orang Izu itu, setiap hari meminum teh yang diseduh sendiri. Ia sudah hafal di luar kepala berapa banyak daun teh yang dipakai dan berapa lama durasi penyeduhannya. Rasa teh juga bisa berubah dari cara penuangan air panas, apakah langsung atau perlahan-lahan dituang. Setiap hari ia menyeduh teh sendiri, dan lambat laun ia paham hal-hal seperti itu dengan sendirinya.

Tips membuat minuman teh dengan teh celup yaitu menyeduhnya setiap hari. Pertama-tama, gunakan sedikit air panas untuk menguapkan teh sekitar 30 detik. Penjelasan pada kemasan teh untuk cara menyeduh ini biasanya tertulis “angkat teh celup dari air”, tetapi saya menghiraukan penjelasan tersebut. Kalau teh tersebut habis diminum dalam sehari, saya rasa tidak ada masalah. Omong-omong, bekas teh celup bisa digunakan untuk membersihkan noda bekas minyak goreng, dan itu sangat praktis.

Selanjutnya mengenai suhu air. Jamak dikatakan bahwa untuk menyeduh mugicha atau houjicha perlu air mendidih, sementara untuk sencha perlu air bersuhu sekitar 80 derajat; tetapi tak masalah juga kalau pakai ukuran sendiri-sendiri. Walaupun orang menyebut bahwa itulah yang berlaku di seluruh rumah, menurut saya aturan yang saklek begitu tidak akan bertahan lama. Justru dengan kemudahan dan kelonggaran, lebih banyak hal yang bisa terus berjalan dengan lancar. Untuk musim dingin, ketika menyeduh teh, saya memasukkan air panas hingga setengah ke dalam botol tahan panas, lalu menambah setengahnya lagi dengan air bersuhu biasa. Sementara untuk musim panas, saya memasukkan air dingin ke dalam teko, mendinginkannya dengan gel beku dan memasukkannya ke dalam kulkas.

Saya membeli mugicha dan houjicha kemasan celup di kedai teh di dekat rumah. Harganya memang lumayan mahal, tetapi untuk satu liter, hitungannya tetap tidak sampai 10 yen. Kalau bosan dengan teh yang sama, saya membeli kertas saring terpisah di toko serba 100 yen, lalu membuat teh racikan sendiri. Seringkali teh racikan saya adalah campuran dari genmaicha dan houjicha. Kalau rasanya kurang bisa diterima lidah atau perlu aroma teh yang lebih kuat, saya menambahkan mugicha.

Dengan menyeduh teh secara rutin setiap hari, ritme aktivitas keseharian akan terbentuk. Melalui aktivitas menjerang air dan menyeduh teh di teko, kemalasan bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Saat ini saya sudah tinggal berdua bersama istri saya, setelah melalui masa-masa tinggal sendiri. Meskipun setiap hari kami minum teh yang sama, istri saya selalu menyisakan sekitar segelas teh di dalam teko. Sayalah yang meminum segelas teh terakhir tersebut, kemudian mencuci teko, menyaring air leding, menjerang air, lalu menyeduh teh untuk minum selanjutnya.

Dan segelas teh pertama selalu diteguk oleh istri saya.


**
Diterjemahkan dari kolom ini, yang ditulis oleh Ogihara Kyorai, seorang penulis lepas dan esais.

Keterangan:
Mugicha: teh barli
Houjicha: teh hijau sangrai
Sencha: teh hijau
Genmaicha: campuran teh hijau dan beras coklat sangrai