Sunday, May 31, 2020

Jalan Pembacaan Para Penulis - Machida Ryohei (Volume 4)


Bagaimana kebiasaan para penulis ketika di toko buku? Bagaimana mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai pembaca? Pertanyaan-pertanyaan itu kami ajukan langsung kepada penulis.

Topik 4: Mulai Mengirim Naskah Novel
(topik 3 dapat dibaca di sini)










Bagaimana dengan keputusan terkait pilihan Anda untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas?
Saya hidup tanpa tujuan, dan saat SMA saya sudah merasa malas belajar (tertawa). Sewaktu SD saya gagal di ujian masuk SMP, saat itu keluarga saya punya tabungan untuk mengikutkan saya kursus hingga SMA. Saya berhasil melanjutkan ke SMA, tapi justru saya malas belajar. Hidup saya mengalir begitu saja tanpa ada gairah sedikit pun. Bahkan keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi juga tidak ada. Memang ada sedikit kesadaran bahwa orang-orang di sekitar saya melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi keputusan saya untuk tidak berkuliah bukan karena ada suatu tekad tertentu. Itulah yang membuat saya pasrah saja hidup dari hari ke hari. Tetapi toh pekerjaan paruh waktu yang saya jalani juga menyenangkan, kok. Kalau saya membaca buku di ruang istirahat, rekan-rekan membiarkan saja meskipun mereka tidak ada yang suka membaca buku.

Apakah pernah terpikir oleh Anda bahwa suatu hari akan menjadi penulis?
Ya, saya menerka-nerka apakah saya bisa jadi penulis, sebab kalau bisa tentu saja saya senang. Semenjak kecil saya memang tidak begitu bersemangat. Kemudian pada usia awal 20-an saya sepertinya sudah memutuskan tidak akan terbawa arus tren yang ada di sekitar saya. Saya juga terkadang merasa putus asa dan hanya hidup dari waktu ke waktu.

Kapan Anda mulai mencari pekerjaan?
Ketika usia 21 tahun. Saat itu saya hanya ikut-ikutan saja karena di sekeliling saya, orang seusia saya sudah mulai mendapat pekerjaan. Pada masa itu kami masih beruntung, sebab setelah itu mencari pekerjaan menjadi sulit. Dari cerita yang saya dengar dari orang-orang yang bekerja banting tulang, memiliki apa yag kita inginkan dan bisa kita banggakan pada usia muda adalah suatu kemewahan. Orang-orang yang mencari pekerjaan pada masa itu sungguh luar biasa.

Apakah perusahaan tempat Anda mencari kerja saat itu adalah kantor tempat Anda bekerja sekarang?
Bukan. Perusahaan tersebut bangkrut, saya pindah ke kantor saya yang sekarang. Saya termasuk beruntung bisa pindah kerja dengan lancar tanpa hambatan.

Seperti apa Anda menghabiskan usia 20-an terkait aktivitas membaca dan menulis?
Saya sudah mulai menulis ketika itu. di awal usia 20-an, saya baru menyadari bahwa saya bercita-cita ke arah sastra karena saya bebas menulis topik yang saya inginkan. Saya masih ingat judul novel yang saya tulis tersebut, dari sana juga saya tahu tentang keberadaan majalah sastra, lalu mulai ingin mengirim karya ke sana.

Apakah ada momen yang membuat Anda berpikir bahwa diri Anda berubah?
Yang utama adalah mengenai kesadaran dalam diri saya bahwa seluruh tulisan atau kisah yang pernah saya baca hanya ditulis berdasarkan cerita-cerita yang sudah ada sebelumnya, jadi saya tahu bahwa tidak ada yang namanya ‘karya oroginal saya’. Tetapi ketika menulis novel, saya sadar bahwa saya sendiri tetap harus menemukan sesuatu, sekecil apapun itu, yang belum ada di dunia ini. Kalau saya bisa memikirkan suatu impian yang mungkin membuka kesadaran atau cara pandang baru, bagi saya itu adalah suatu hal yang besar. Karya itu saya kirimkan ke sayembara yang diadakan oleh penerbit swa-publikasi, lolos sampai beberapa tahap, kemudian gugur. Itu ketika usia 21 tahun. Sampai 3 tahun setelahnya, saya masih terus mengirimkan tulisan ke majalah sastra. Majalah sastra Bun-gei punya semacam kumpulan cerita dari penulis-penulis, beberapa penulis yang seusia dengan saya seperti Wataya Risa atau Hada Keisuke pernah menang di sana, lalu saya terpikir untuk mengirim karya ke lomba yang diadakan majalah Bun-gei tersebut. Untuk bisa familiar dengan Bun-gei ini, saya perlu lebih banyak waktu dibandingkan dengan majalah sastra lain. Saya hanya membaca karya pemenang penulis-baru majalah Bungakukai, tapi di mata saya Bungakukai ini punya imej seperti novel Robou no Ishi atau Hitoaki no Suna, yang membuat saya frustrasi ketika kanak-kanak. Pemenang penghargaan Bun-gei ini, selain penulis-penulis yang seusia saya, ada juga Yamada Eimi, yang imejnya lekat dengan novel modern.

Lalu Anda mengutamakan untuk mengirim karya ke penghargaan di majalah Bun-gei tersebut?
Awalnya saya mengirim ke sayembara Bun-gei yang diadakan setahun sekali. Selain lomba-lomba kecil, semua karya saya langsung gugur pada seleksi awal, sebelum tiba-tiba bisa sampai ke tahap seleksi akhir ketika usia saya 27 tahun. Sebelum karya saya Ao Ga Yabureru menang penghargaan Bun-gei ketika usia saya 32 tahun, memang kadang karya saya sampai di seleksi akhir, kemudian beberapa hanya sampai tahap pertengahan, ada juga yang sampai ke tahap akhir penghargaan Entame (penghargaan untuk novel tanpa batasan genre yang mengutamakan kemampuan novel untuk dialihmediakan menjadi film, pen.), tapi kebanyakan sudah gugur di seleksi awal. Dua tahun sebelum saya debut sebagai penulis, melalui internet saya bertemu dengan orang-orang yang sama-sama sedang menulis novel. Kami saling membaca dan memberi masukan atas karya masing-masing dan dari situ saya belajar banyak hal. Dengan cara yang mirip seperti itu, saya bertemu dengan orang-orang yang menulis novel atau meneliti sastra Rusia, saya mendapat beragam masukan, dan itu sangat membantu saya.

Tadi Anda sampaikan bahwa Anda juga ikut seleksi untuk penghargaan Entame. Menurut saya, itu sangat di luar dugaan....
Saya belum pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun. Itu tepat sebelum karya saya, Ao ga Yabureru, menang penghargaan Bun-gei. Saya mengubah nama pena, kemudian mengirimnya. Lantaran sebelumnya saya selalu gugur dalam proses seleksi, saya merasa sudah gagal di dunia sastra, lalu mencoba tulisan-tulisan bernafaskan hiburan, dan mengirimnya. Ada anggota juri proses seleksi yang selalu mendukung saya tapi pada akhirnya saya toh juga gagal di genre hiburan.

Ya, ada karya-karya yang sebetulnya bagus tapi gugur karena tidak sesuai dengan karakter penghargaan.
Waktu itu, saya berpikir sudah habis nafas saya di dunia sastra dan hiburan. Meskipun demkian, bahkan kalau pun saya tidak jadi novelis, saya bertekad untuk terus menulis novel. Ketika akhirnya saya menang penghargaan Bun-Gei, saya bersyukur bahwa hasilnya baik, tetapi di sisi lain ada perasaan campur aduk juga karena saya dulu sempat putus asa dan frustrasi.

**

Diterjemahkan dari artikel ini.

Friday, May 22, 2020

Mulai dari Teh


Kadangkala saya mendapat pertanyaan mengenai ‘memasak sendiri’ dari anak-anak muda yang tinggal seorang diri.

Memasak, pun bagi orang yang memang hobi melakukannya, terhitung sulit jika harus memasak sendiri dan harus menyiapkan dua sampai tiga menu dalam sehari. Kesulitannya terletak pada sedikitnya menu yang bisa dibuat sehingga frekuensi pengulangan menu meningkat, akibatnya aktivitas tersebut tidak berlangsung lama.

Selain itu, kesulitan juga timbul dari bagaimana menghabiskan bahan makanan untuk porsi satu orang. Seringkali orang-orang memasak terlalu banyak dan pada akhirnya memakan menu yang sama berulang kali. Dari situlah muncul kebosanan yang membuat mereka perlahan-lahan tidak lagi memasak sendiri.

Untuk mengatasi hal tersebut, saya menyarankan untuk mulai dari teh, alih-alih tiba-tiba menantang diri sendiri untuk memasak. Kalau ada suara-suara dari orang yang tidak bisa minum teh atau tidak suka teh, saya abaikan terlebih dulu suara itu.

Selama dua tahun sejak pindah ke Tokyo, ada periode ketika saya membeli teh dalam botol. Ukurannya dua liter, harganya sekitar 150 yen. Kalau saya memakai teh celup, untuk ukuran dua liter saya hanya mengeluarkan uang tidak sampai 10 yen. Teh celup yang murah dijual sekitar 150 yen yang berisi 50 kantong (satu kantong untuk satu liter). Sampah pun bisa berkurang dengan cara ini.

Menyeduh teh sendiri bukan hanya berurusan dengan menghemat uang. Setiap hari kita akan menjerang air dan membuat minuman. Awalnya memang terasa berat, tetapi dari situ timbul suatu kebiasaan. Kebiasaan itu, bisa jadi, adalah langkah pertama dari kegiatan memasak sendiri.

Ketika masih sekolah, saya pernah berkunjung ke rumah salah seorang kenalan di daerah Izu. Di sana, saya disuguhi teh yang rasanya sangat lezat. Saya bertanya teh dari mana yang digunakan, dan ia menjawab, “Cuma teh yang saya beli di swalayan dekat rumah.” Sepulang dari rumahnya, saya mampir ke swalayan untuk membeli teh yang sama persis. Begitu saya coba seduh dan minum di rumah, rasanya sama sekali berbeda. Saya berpikir mungkin karena faktor air yang digunakan, jadi saya membeli air yang bersumber dari gunung Fuji yang rasanya sangat enak. Saya menyeduh teh dengan air tersebut, tapi tetap saja ada sesuatu yang berbeda. Saya sendiri tidak tahu apa yang berbeda.

Pertanyaan saya itu terjawab sepuluh tahun kemudian.

Kawan saya yang orang Izu itu, setiap hari meminum teh yang diseduh sendiri. Ia sudah hafal di luar kepala berapa banyak daun teh yang dipakai dan berapa lama durasi penyeduhannya. Rasa teh juga bisa berubah dari cara penuangan air panas, apakah langsung atau perlahan-lahan dituang. Setiap hari ia menyeduh teh sendiri, dan lambat laun ia paham hal-hal seperti itu dengan sendirinya.

Tips membuat minuman teh dengan teh celup yaitu menyeduhnya setiap hari. Pertama-tama, gunakan sedikit air panas untuk menguapkan teh sekitar 30 detik. Penjelasan pada kemasan teh untuk cara menyeduh ini biasanya tertulis “angkat teh celup dari air”, tetapi saya menghiraukan penjelasan tersebut. Kalau teh tersebut habis diminum dalam sehari, saya rasa tidak ada masalah. Omong-omong, bekas teh celup bisa digunakan untuk membersihkan noda bekas minyak goreng, dan itu sangat praktis.

Selanjutnya mengenai suhu air. Jamak dikatakan bahwa untuk menyeduh mugicha atau houjicha perlu air mendidih, sementara untuk sencha perlu air bersuhu sekitar 80 derajat; tetapi tak masalah juga kalau pakai ukuran sendiri-sendiri. Walaupun orang menyebut bahwa itulah yang berlaku di seluruh rumah, menurut saya aturan yang saklek begitu tidak akan bertahan lama. Justru dengan kemudahan dan kelonggaran, lebih banyak hal yang bisa terus berjalan dengan lancar. Untuk musim dingin, ketika menyeduh teh, saya memasukkan air panas hingga setengah ke dalam botol tahan panas, lalu menambah setengahnya lagi dengan air bersuhu biasa. Sementara untuk musim panas, saya memasukkan air dingin ke dalam teko, mendinginkannya dengan gel beku dan memasukkannya ke dalam kulkas.

Saya membeli mugicha dan houjicha kemasan celup di kedai teh di dekat rumah. Harganya memang lumayan mahal, tetapi untuk satu liter, hitungannya tetap tidak sampai 10 yen. Kalau bosan dengan teh yang sama, saya membeli kertas saring terpisah di toko serba 100 yen, lalu membuat teh racikan sendiri. Seringkali teh racikan saya adalah campuran dari genmaicha dan houjicha. Kalau rasanya kurang bisa diterima lidah atau perlu aroma teh yang lebih kuat, saya menambahkan mugicha.

Dengan menyeduh teh secara rutin setiap hari, ritme aktivitas keseharian akan terbentuk. Melalui aktivitas menjerang air dan menyeduh teh di teko, kemalasan bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Saat ini saya sudah tinggal berdua bersama istri saya, setelah melalui masa-masa tinggal sendiri. Meskipun setiap hari kami minum teh yang sama, istri saya selalu menyisakan sekitar segelas teh di dalam teko. Sayalah yang meminum segelas teh terakhir tersebut, kemudian mencuci teko, menyaring air leding, menjerang air, lalu menyeduh teh untuk minum selanjutnya.

Dan segelas teh pertama selalu diteguk oleh istri saya.


**
Diterjemahkan dari kolom ini, yang ditulis oleh Ogihara Kyorai, seorang penulis lepas dan esais.

Keterangan:
Mugicha: teh barli
Houjicha: teh hijau sangrai
Sencha: teh hijau
Genmaicha: campuran teh hijau dan beras coklat sangrai

Friday, May 15, 2020

Jalan Pembacaan Para Penulis - Machida Ryohei (Volume 3)

Bagaimana kebiasaan para penulis ketika di toko buku? Bagaimana mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai pembaca? Pertanyaan-pertanyaan itu kami ajukan langsung kepada penulis.

Topik 2: Buku yang Membuat Saya Bisa Membaca Buku
(topik 2 dapat dibaca di sini)



Pertanyaan 1
Tanya:
Buku-buku apa yang Anda baca ketika SMA?
Jawab:
Semasa SMA saya cukup sering pergi ke toko buku Book Off. Ketika saya membaca Houkago no Onpu (Key Note) karya Yamada Amy, saya merasa bisa memahami buku tersebut. Banyak gempuran-gempuran keterkejutan di kepala saya ketika membacanya, dan berkat karya itulah saya jadi bisa membaca buku. Ketika saya bilang kepada ibu saya bahwa buku karya Yamada Amy sangat menarik, ibu meminjamkan setumpuk buku karya Ekuni Kaori dari rekan kerjanya. Tetapi saat itu saya tidak membaca buku-buku itu. Saya taruh begitu saja. Tak lama kemudian ternyata Reisei to Jounetsu no Aida karya Ekuni Kaori menjadi sangat populer.

Pertanyaan 2 
Tanya:
Ekuni Kaori dan Tsuji Hitonari menulis novel romantis tentang sepasang manusia yang ditulis masing-masing dari sudut pandang laki-laki dan sudut pandang perempuan.
Jawab:
Saya membaca versi Ekuni ketika SMA di tengah-tengah pelajaran (tertawa). Saya tidak berpikir macam-macam ketika membacanya. Tetapi setelah dipikir kembali, saya merasa buku itu sangat menarik. Sampai sekarang saya cukup sering tidak paham isi sebuah buku ketika sedang membacanya, tetapi setelah selesai barulah saya menyadari bahwa bukunya luar biasa. Dari pengalaman itu, saya membaca buku-buku Ekuni yang sebelumnya hanya saya taruh begitu saja, lalu dari sana saya mulai masuk membaca karya Dazai Osamu serta Mishima Yukio. Itu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya mengenai novel dan budaya.

Pertanyaan 3 
Tanya:
Apa yang menarik dari karya-karya Ekuni Kaori selain Reisei To Jounetsu No Aida?
Jawab:
Saya suka Holy Garden dan masih sering membacanya ulang hingga sekarang. Tentang persahabatan, kekasih, juga hati yang berubah kepada mantan kekasih dari kedua tokohnya, Kaho dan Shizue. Saat awal-awal membacanya, saya tidak begitu paham isinya, mungkin karena bercerita tentang dunia yang tidak saya ketahui. Meskipun saya tidak paham, tetapi saya tetap merasa bukunya menarik, dan itu luar biasa.
Pada bagian catatan penulis di akhir buku, Ekuni menjelaskan bahwa ia hanya menulis tentang hal-hal yang tercecer karena suka. Yang menarik adalah bagaimana hal-hal yang tercecer itu dihubungkan jadi satu dalam sebuah novel yang utuh. Saya rasa saya membaca buku itu lebih dari 30 kali.

Pertanyaan 4 
Tanya:
Apakah Anda membaca karya-karya Yamada Amy selain Houkago No Onpu (Key Note)?
Jawab:
Iya, saya juga membacanya. Saya membaca begitu ada karya terbarunya yang terbit. Sepertinya penyebab saya tidak bisa dengan mudah masuk ke dunia sastra adalah karena saya payah dalam menyadari latar-latar yang muncul dalam buku yang semuanya berbentuk kalimat, hal itu sangat menyita waktu. Sementara karya Yamada yang Houkago No Onpu (Key Note) atau Boku wa Benkyou ga Dekinai, ceritanya berkembang dalam latar yang saya tahu dan emosi yang dipakai juga mirip dengan orang-orang dari generasi saya, sehingga saya mudah mencernanya.
Saya sangat suka kumpulan cerpen berjudul Hime Kun. Tokoh-tokohnya keren. Baik Yamada Amy maupun Ekuni Kaori sering menggambarkan orang-orang berjiwa pelopor yang agresif, yang sangat luar biasa. Terutama melalui tokoh Himeko dalam tulisan yang menjadi judul buku ini, juga melalui salah satu tulisan berjudul MENU. Dalam Hime Kun, ceritanya menohok lewat tokoh laki-lakinya, Mashu, yang nrimo. Kisahnya tentang tokoh laki-laki tadi yang saling jatuh cinta dengan seorang perempuan garang seperti Himeko, dan hubungan mereka seperti relasi antara si bengis dan si baik. Kemudian pada satu waktu, sifat agresif dan nrimo mereka saling tertukar. Saya, yang belum genap dua puluh tahun saat itu, merasa sangat berdebar-debar ketika membacanya. Selain itu, gambar sampul Hime Kun yang digambar oleh Manabe Shohei, pembuat manga Yamikin-yu Ushijimakun, juga sangat keren. Kemudian ketika SMA saya juga cukup sering membaca novel pop karena pengaruh ibu saya, karena ibu saya menyukai genre hard-boiled.

Pertanyaan 5 
Tanya:
Genre hard-boiled? Ibu Anda penyuka karya siapa?
Jawab:
Osawa Arimasa, Kirino Natsuo, Higashino Keigo, dan Miyabe Miyuki. Saya membaca novel-novel bertema misteri. Yang paling membekas dalam ingatan adalah buku berjudul Kokoro de wa Omosugiru karya Osawa Arimasa, baru-baru ini saya membacanya ulang, karena tiba-tiba ingin membacanya. Bukunya sangat bagus. Saya juga membaca ulang karya Kirino Natsuo seperti Yawarakana Hoho dan OUT.
Jadi sembari membaca novel pop, saya bertemu karya-karya Yamada Amy, dan sedikit demi sedikit saya jadi bisa membaca buku-buku sastra Jepang.

Pertanyaan 5
Tanya:
Anda jadi bisa membaca karya-karya yang dulunya tidak bisa Anda baca, misal milik Dazai Osamu atau Mishima Yukio. Apakah itu karena Anda melakukan semacam latihan atau pemanasan, begitu? Bahkan orang-orang yang kutu buku tidak bisa tiba-tiba membaca semua buku dengan mudah, perlu ada kebiasaan hingga suatu tingkat tertentu.
Jawab:
Tepat sekali. Saya pribadi butuh pemanasan untuk latihan agar terbiasa. Apabila telah terbiasa, kita tentu bisa membaca buku apapun, tetapi jalan menuju titik itu tidaklah mudah. Menurut saya, urutan membaca juga hal yang penting. Seringkali saya merasa dahulu tidak bisa membaca suatu tulisan, kemudian ketika mencobanya sekali lagi setelahnya, ternyata tulisan tersebut sangat menarik.

Pertanyaan 6 
Tanya:
Apa karya-karya Dazai Osamu dan Mishima Yukio yang Anda sukai?
Jawab:
Karya Dazai Osamu favorit saya adalah Tsugaru. Saya suka membaca catatan perjalanan atau tulisan-tulisan yang menyenangkan. Saya menggemari keseluruhan karya Dazai Osamu pada masa-masa itu yang emosional, tetapi saya relatif lebih suka tulisannya yang ceria. Pada waktu itu saya juga sangat menyukai karya-karya Mishima Yukio; saya tidak bisa mengingat ceritanya sama sekali tetapi yang jelas saya berulang kali membacanya. Saya mungkin agak terbolak-balik menyebutkan urutan penulis-penulis pada periode sekitar itu, tetapi saya cukup banyak membaca naskah-naskah penulis generasi saat ini. Saya lumayan banyak juga membaca karya-karya populer Murakami Haruki, yang memang sudah menulis sejak dahulu, lalu Kazushi Hosaka, juga Machida Ko. Kemudian ketika mencari di internet, saya mengetahui penulis-penulis yang juga keluarga dari penulis yang saya senangi, seperti Furui Yoshikida dan Kojima Nobuo, lalu saya membaca karya mereka berdua. Juga Oe Kenzaburo. Setelah dari sana, saya kemudian baru bisa membaca naskah-naskah Natsume Soseki. Kalau diminta menyebut penulis novel modern Jepang yang saya suka, saya akan menyebut nama Natsume Soseki.

Pertanyaan 7 
Tanya:
Kapan kira-kira Anda mulai menyukai Natsume Soseki?
Jawab:
Selepas lulus SMA, sekitar usia 20-an, semasa jadi pekerja lepas lalu jadi karyawan, ya sekitar masa-masa itu. Ketika masih jadi siswa SMA dan pekerja lepas, saya sama sekali tidak punya teman yang suka membaca buku dan saya juga tidak tahu apakah kutu buku benar-benar ada di dunia ini. Tetapi ketika menjadi karyawan, saya melihat teman saya yang rak bukunya dipenuhi novel sastra karya penulis luar negeri seperti Charles Bukowski dan Juan Rulfo, dan itu membuat saya tercengang, bahwa ternyata di dunia ini orang yang benar-benar membaca memang sungguhan ada. Saya meminjam karya Bukowski dan Rulfo dari teman saya itu, lalu pelan-pelan saya mulai membaca novel-novel luar negeri. Awalnya saya yang saat itu berusia 23 tahun merasakan adanya paradoks ketika membaca novel dari luar negeri itu, persis seperti paradoks literasi yang saya rasakan saat masih SD, semacam mepertanyakan siapa gerangan manusia-manusia yang mau membaca novel sepelik itu. Tetapi begitu mengetahui bahwa teman saya sudah membacanya, saya berubah pikiran, bahwa ternyata novel-novel itu memang bisa dibaca. Entah apa jadinya kalau saya tidak bertemu kawan saya itu.

Pertanyaan 8
Tanya:
Bagaimana kesan setelah Anda membacanya? Menarik?
Jawab:
Saat itu awalnya saya hanya sok saja, tetapi ketika sudah mulai membaca, ternyata bukunya menarik dan saya jadi menyukainya. Saya tidak kuliah sehingga tidak pernah mendapat pelajaran tentang pendidikan kebudayaan atau seminar pembacaan karya sastra, jadi bagi saya ada semacam gegar budaya ketika membacanya.

**

Diterjemahkan dari artikel ini.
Photo by Dina Nasyrova from Pexels 

Friday, May 8, 2020

Jalan Pembacaan Para Penulis - Machida Ryohei (Volume 2)

Bagaimana kebiasaan para penulis ketika di toko buku? Bagaimana mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai pembaca? Pertanyaan-pertanyaan itu kami ajukan langsung kepada penulis.

Topik 2: Kegamangan Ketika Pembacaan Mandek dan Tidak Kunjung Berlanjut
(topik 1 dapat dibaca di sini)



Pertanyaan 1
Tanya:
Apakah ada buku yang berkesan ketika Anda SMP?
Jawab:
Saat SMP saya juga sering ke taman baca dan terkadang membaca novel remaja. Sampai sekarang pun saya masih senang membaca Summer of Pearls karya penulis cerita anak Saito Hiroshi. Ceritanya semacam kisah cinta selama musim panas, tokoh utamanya seorang anak laki-laki yang diajari tentang dasar-dasar investasi saham oleh abangnya. Kemudian di tengah-tengah ia berlatih simulasi saham, ia terlibat dalam sebuah kisah cinta, dan ini berlanjut menjadi kisah yang sangat menarik. Saya sarankan untuk membacanya.
Selanjutnya adalah Ogiwara Noriko yang sudah punya beberapa karya, salah satunya adalah Red Data Girl. Ia punya banyak pembaca setia. Bukunya berjudul Kore wa Kokuou no Kagi bercerita tentang anak perempuan yang berkelana ke dunia seribu satu malam, bertemu dengan seseorang seperti pangeran, lalu mereka bertualang bersama. Saya juga menemukan buku itu di ruang baca dan sangat menyukainya.
Kemudian saya juga membaca buku yang sangat populer saat itu, Battle Royale. Saya membaca novel yang dibaca bergantian oleh siswa-siswa di sekolah, tetapi saya tidak merasa sebagai remaja penggila sastra.

Pertanyaan 2
Tanya:
Lalu apakah Anda merasa ingin menjadi novelis setelah itu?
Jawab:
Saya suka buku dan cerita. Sepertinya sejak masa-masa itu kadangkala terbersit pikiran, bahwa saya ingin menulis sesuatu. Ada keterikatan, entah apa, terhadap cerita. Sampai sekarang saya juga tidak tahu apa arti keterikatan itu. Saya orang yang cenderung introvert, saya gugup jika bertemu orang lain, fisik saya juga lemah karena punya asma dan eksim, tetapi saya punya rasa ingin tahu tentang manusia. Di situlah saya merasa senang jika rasa ingin tahu saya terjawab dalam bentuk sebuah cerita. Namun demikian, pembacaan saya sama sekali tidak berkembang. Itu cukup membuat saya frustrasi.

Pertanyaan 3
Tanya:
Jadi Anda suka buku tapi tidak bisa selesai membacanya?
Jawab:
Benar. Saya betul-betul tidak tahu apa yang sebaiknya saya baca. Cerita-cerita yang muncul di buku teks pelajaran bahasa Jepang juga terlalu sulit bagi saya. Tapi saya senang memandangi buku latihan bahasa Jepang.

Pertanyaan 4
Tanya:
Mungkin akan berbeda kalau Anda bertemu penerbit Aotori Bunko.
Jawab:
Pada dasarnya saya orang yang konsentrasinya mudah terpecah. Ada banyak serial anak-anak, seperti Zukkoke Sannin Gumi. Saya juga membacanya tetapi berhenti di tengah jalan, lanjut baca lagi, tapi berhenti lagi. Saya juga sempat membaca cerita anak yang sering dibaca oleh para penulis ketika mereka kecil, atau novel-novel petualangan, tetapi kemudian saya justru merasa frustrasi.
Sebentar, jawaban saya malah melenceng dari topik ‘jalan pembacaan’....

Pertanyaan 5
Tanya:
Pada akhirnya Anda berhasil memenangi Penghargaan Sastra Akutagawa. Adakah hal-hal  di luar membaca yang Anda sukai atau seriusi?
Jawab:
Ketika SD saya sering bermain gim RPG. Menjelang ujian masuk SMP, saya fokus belajar dan dilarang bermain gim selama masa ujian. Saat SMP saya anggota klub voli jadi sering bermain voli. Kemudian saya juga belajar memainkan piano, meskipun tidak piawai tetapi saya cukup sering memainkannya. Waktu SMP saya juga suka musik J-Pop, saya sering pergi ke tempat karaoke untuk menaikkan peringkat lagunya di tangga lagu Oricon. Saya rasa saya seperti anak SMP pada umumnya.

Pertanyaan 6
Tanya:
Tadi Anda sampaikan bahwa Anda pernah terbersit pikiran untuk menulis sesuatu. Apakah Anda juga pernah membayangkan sebuah cerita atau mencoba menuliskannya?
Jawab:
Sewaktu SMP saya dan teman saya saling bertukar catatan. Awalnya saya menulis tulisan yang ceritanya meniru-niru manga. Saat itu karena masih kanak-kanak, saya merasa karya saya sangat orisinil, tetapi kalau sekarang diingat-ingat lagi, saya hanya mengalihmediakan manga menjadi prosa saja. Saya seolah-olah sedikit mencampuradukkan isi manga ala Shonen Jump dengan manga romantis ... ya, cukup memalukan. Saya juga menambahkan gambar sendiri karena saya suka manga. Betul, saya jadi malu sendiri (tertawa).

Pertanyaan 7
Tanya:
Apakah ada kemungkinan catatan itu sekarang masih tersimpan di tempat teman Anda?
Jawab:
Sejujurnya, catatan-catatan itu ada di rumah saya. Parah, ‘kan? Saya melihatnya ketika pindah rumah beberapa tahun lalu. Tulisan bagian teman saya juga masih ada, tapi kalau dibandingkan, punya saya sangat kekanak-kanakan, jauh dari kedewasaan. Makanya tidak ada yang boleh melihatnya. Mungkin lebih baik saya bakar saja, mumpung masih ingat.

Pertanyaan 8
Tanya:
Saya jadi makin ingin melihatnya (tertawa). Apakah setelah itu Anda semakin berkeinginan menjadi penulis?
Jawab:
Ketika SMA, sudah timbul perasaan bahwa kalau memang bisa, saya ingin jadi penulis. Oh, iya. Semenjak saya SD di kelas atas, mulai ramai drama televisi, saya cukup senang menontonnya. Saya ingat suatu ketika sehabis mandi atau lainnya, saya sampai berkata kepada ibu bahwa saya ingin menjadi aktor. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, itu sangat mustahil. Pede sekali. Setelah itu saya ingin menjadi orang yang ikut membuat drama khususnya menjadi penulis naskah, tapi saya tidak tahu bagaimana cara menjadi penulis naskah. Sempat galau juga, apa yang harus saya lakukan.
Oh ya, sewaktu SD saya pernah membaca buku berjudul semacam Menjadi Penulis Naskah di taman baca. Waktu itu juga saya ingin membuat skenario sendiri dari drama yang saya rekam jadi saya memutar rekamannya dengan kecepatan pelan sekali, ternyata itu semua tidak berhasil (tertawa). Lalu kira-kira ketika SMA saya sadar bahwa mustahil saya menjadi penulis naskah, dan akhirnya bertekad menjadi novelis.

Pertanyaan 9
Tanya:
Mengenai drama populer yang tadi Anda ceritakan, adakah drama yang spesifik?
Jawab:
Drama yang paling awal saya ingat berjudul Houkago yang dimainkan oleh Mizuki Alisa dan Ishida Issei. Ceritanya, kedua tokoh itu saling bertukar tubuh. Sepertinya ini juga pengaruh ibu dan abang yang sering menontonnya di rumah. Waktu itu nenek juga tinggal bersama kami, ia menyukai drama seperti Kayou Suspense Gekijou dan Wataru Seken wa Oni Bakari, dan saya ingat tiba-tiba teve di rumah jadi menayangkan drama bergenre seperti itu (suspense dan thriller, pen.).

**


Diterjemahkan dari artikel ini.
Photo by Dina Nasyrova from Pexels 


Saturday, May 2, 2020

Jalan Pembacaan Para Penulis - Machida Ryohei (Volume 1)

Bagaimana kebiasaan para penulis ketika di toko buku? Bagaimana mereka mengidentifikasikan diri mereka sebagai pembaca? Pertanyaan-pertanyaan itu kami ajukan langsung kepada penulis.

Topik 1: Paradoks Sastra yang Misterius




Pertanyaan 1
Apa kenangan tertua Anda tentang membaca?
Jawab:
Sejak kecil saya bukan orang yang sering membaca buku, tetapi saya ingat ibu sering mengajak saya pergi ke taman baca di ruang publik di dekat rumah, kami meminjam paket pertunjukan cerita bergambar, lalu ibu membacakannya untuk saya.

Pertanyaan 2
Apakah ibu Anda bermain peran dengan pertunjukan cerita bergambar itu?
Jawab:
Betul. Ibu membawakan peran dari semua halaman cerita bergambar yang ada di dalam paket. Seingat saya yang paling sering dibacakan adalah kisah-kisah dongeng seperti Momotaro.

Pertanyaan 3
Menurut Anda, ketika kecil dulu Anda termasuk anak yang bandel ataukah anak rumahan?
Jawab:
Pada dasarnya saya lebih sering di dalam rumah, dan saya sepertinya sama sekali tidak bandel (tertawa). Saya di rumah menonton teve, atau bermain semacam crossword puzzle karena keluarga saya sering memainkannya. Meskipun saya bilang saya lebih senang di rumah, tetapi karena keluarga saya tinggal di apartemen, saya juga cukup sering bermain dengan teman-teman yang tinggal di apartemen yang sama. Saya tidak begitu cepat akrab dengan orang baru, tapi di apartemen itu banyak teman-teman yang seusia, jadi saya sangat terbantu atas hal tersebut (tertawa).

Pertanyaan 4
Anda lahir di Tokyo, ‘kan?
Jawab:
Sejak lahir hingga usia 2 atau 3 tahun saya dibesarkan di daerah di dekat Hanayashiki di Asakusa, Tokyo. Tetapi ingatan pertama saya adalah pada hari ketika kami pindah ke Saitama, jadi saya lebih menganggap Saitama sebagai tempat saya dibesarkan. Saya cuma menumpang lahir di Tokyo (tertawa).

Pertanyaan 5
Betul juga (tertawa). Apa yang Anda ingat dari buku-buku yang Anda baca ketika SD?
Jawab:
Yang paling membekas di ingatan ketika saya SD adalah esai karya Sakura Momoko. Selain itu, entah kenapa saya gemar mencari dan membaca karya-karya nonfiksi tentang anak-anak yang meninggal karena sakit atau tewas karena kecelakaan.

Pertanyaan 6
Bagaimana cara Anda mencarinya?
Jawab:
Saat SD, saya sering sekali berada di taman baca, lalu di sana saya menemukan buku berjudul semacam “Catatan si A yang Berjuang Melawan Leukimia” dan tertegun ketika membacanya. Ceritanya menurut saya cukup kelam.

Pertanyaan 7
Anda memiliki ketertarikan dengan tema kematian, semacam itu?
Jawab:
Kalau saya pikir-pikir sekarang, ya, saya rasa ada. Sewaktu SD atau SMP, saya menantang diri dengan membaca Robou no Ishi1 atau karya Natsumi Soseki atau Dazai Osamu, kemudian merasa tidak sanggup. Itu sekitar SD, SMP. Saya frustasi karena tidak bisa memahami buku-buku berjudul bagus yang saya kagumi seperti Ichiaku no Suna2. Itu sebabnya ketika SMP atau SMA saya kagum kalau melihat orang-orang yang mendapat pengaruh dari Dazai Osamu atau mereka yang berkisah bahwa hidupnya berubah setelah membaca karya Mishima Yukio atau Terayama Shuji. Saya juga ingin mendapat pencerahan seperti itu. Jadi kalau saya bilang, sejak kecil saya punya semacam paradoks yang misterius terkait karya sastra.


Pertanyaan 8
Apakah Anda memiliki saudara kandung? Barangkali dari sanalah Anda mendapat pengaruh tentang budaya.
Jawab:
Saya punya abang yang usianya enam tahun lebih tua. Usia kami terpaut jauh, jadi tidak bisa dibilang akrab, justru saya hanya merasa ‘saya punya abang’ begitu saja. Tetapi abang punya banyak manga, ia banyak menceritakan cerita-cerita ketika saya beranjak remaja, dan itu cukup mempengaruhi saya. Yang paling awal adalah cerita dari Sakura Momoko atau dari majalah mingguan Shonen Jump. Saat itu Shonen Jump sangat populer sehingga kami pergi membeli dan membacanya tiap pekan, lebih tepatnya saya disuruh membeli tapi kalau saya yang membacanya terlebih dulu pasti dimarahi (tertawa). Yang saya suka adalah Yū Yū Hakusho3, Dragon Ball, dan Slam Dunk. Sampai sekarang saya masih suka Togashi Yoshihiro, penulis Yū Yū Hakusho. Ketika abang saya semakin besar, ia membaca manga yang baru saja muncul saat itu yaitu manga bertema percintaan untuk pembaca laki-laki, dan saya ikut membacanya ketika SD.

Pertanyaan 9
Manga percintaan untuk laki-laki? Seperti Boys Be4?
Jawab:
Betul sekali. Waktu kecil saya berpikir enak sekali kalau menjadi Boys Be. Selain itu ada juga manga yang mirip Boys Be, misalnya Angel Beat5 karya Yasuhara Ichiru, saya sangat suka karena tokoh anak-anak laki-laki dan perempuan digambar lucu dan penuh semangat. Sekarang ini Yasuhara Ichiro menggambar manga komedi romantis berdialek Hakata dengan judul Barisuki, saya juga membacanya karena senang.

Pertanyaan 10
Apakah Anda dulu suka prosa atau resensi?
Jawab:
Lumayan suka. Sejak kecil saya relatif suka memperhatikan raut wajah orang-orang, jadi saya mengerti apa yang sebaiknya saya tulis untuk menyenangkan orang lain. Itulah makanya saya bisa menulis dengan cukup lancar. Saya dulu termasuk anak yang agak licik (tertawa). Ketika tes masuk SMP, saya gagal di semua sekolah pilihan, tetapi bahasa Jepang saya baik. Saya diajari cara mengerjakan soal-soal ujian masuk SMP, termasuk bahasa Jepang, di tempat kursus.
**

Keterangan:
1. Robou no Ishi/Batu di Tepi Jalan adalah novel karya Yamamoto Yūzō yang paling terkenal. Dimuat sebagai serial di koran Asahi Shimbun pada tahun 1937. Kisahnya mengambil latar waktu pada periode Meiji dan menceritakan tentang kehidupan Aikawa Goichi, seorang anak kelas 6 SD berotak pandai tetapi tidak mampu melanjutkan sekolah karena ayahnya yang merupakan shizoku (kelas menengah pada periode Meiji) tidak memiliki pekerjaan.
2. Ichiaku no Suna/Segenggam Pasir adalah kumpulan puisi karya Ishikawa Takuboku, diterbitkan pertama kali pada tahun 1910.
3. Yū Yū Hakusho dimuat pada majalah Shonen Jump pada tahun 1990 sampai 1994, bercerita tentang Urameshi Yūsuke sebagai tokoh utama yang meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas karena menyelamatkan seorang anak, ia kemudian harus melalui berbagai peristiwa untuk dapat hidup kembali.
4. Boys Be dimuat pertama kali di majalah Shonen Jump pada tahun 1991. Manga ini mengisahkan kehidupan percintaan sekumpulan remaja laki-laki SMP dan SMA dengan gadis-gadis teman sekelas atau teman masa kecil mereka.
5. Angel Beat dimuat di majalah Shonen Jump pada tahun 1989 sampai tahun 1996. Bercerita tentang sebuah program radio berjudul Angel Beat dengan penyiarnya, Chitose Maria, yang mengisahkan beragam cerita cinta siswa SMA dengan tokoh yang berbeda-beda. 


**
Diterjemahkan dari artikel ini.
Photo by Dina Nasyrova from Pexels 

Wednesday, April 22, 2020

Saat Senja


Di selembar kertas angket sebuah perusahaan asuransi, tertulis, ‘menurut Anda, sampai usia berapa Anda akan hidup?’. Mineo Ojiro, 79 tahun, mengisi ’90 tahun’. Alasannya, ibunya hidup hingga usia 96 tahun.
Apakah Anda berpikir bahwa Anda mampu hidup sampai usia seperti ibu Anda?
“Bagaimana, ya….” Kata Mineo sambil memiringkan kepalanya, “aku menulis 90 tahun, tapi orang-orang lanjut usia di lingkungan sekitarku meninggal pada usia lebih kurang 80-an tahun. Aku jadi berpikir, apa aku juga akan meninggal usia 80, ya?”
Istri Mineo, Yoshiko, 70 tahun, mengisi angka ’85 tahun’. Ia beralasan, jika suaminya hidup sampai usia 90 tahun, ialah yang berkewajiban merawat suaminya. Tetapi Yoshiko memiliki kekhawatiran terhadap penyakitnya.
“Kata dokter, sudah bagus kalau pasien sirosis hati bisa hidup lima tahun lagi,” kata Yoshiko, “katanya, setelah lima tahun, kalau tidak jadi kanker hati, ya aneurisma. Itu delapan tahun lalu. Waktu pemeriksaan kemarin, dokter bilang aku menjaga kesehatanku dengan baik, jadi penyakitnya sama sekali tidak berkembang. Tapi kalau aku terkena kanker, kupikir aku juga mungkin saja meninggal.”
Bagi sepasang suami istri berusia 79 dan 70 tahun, kematian bukanlah sesuatu yang berada jauh di depan.

8 Desember, Selasa, Pukul 07.00
Sepasang suami istri ini terbangun. Yoshiko, begitu bangun tidur, langsung mulai menyiapkan sarapan. Ia membuat sup miso, membakar ikan aji kering, merebus bayam, dan mengeluarkan natto—kedelai terfermentasi—dari lemari pendingin. Mineo menggosok gigi, berganti pakaian, lalu senam.
“Pak, ini nattonya beli di mana?” tanya Yoshiko sembari meletakkan natto di atas meja.
“Di toko A. Entah enak atau tidak,” jawab Mineo sambil membayangkan sarapannya.
Kemarin Mineo berbelanja di toko. Setelah pensiun, ia jadi lebih aktif melakukan pekerjaan domestik.
Rumah mereka terletak di pinggiran kota Yokohama. Ruang tamu kediaman keluarga Ojiro. Sejak putra (49) dan putri (48) mereka meninggalkan rumah, lebih dari dua puluh tahun mereka hanya tinggal berdua. Mereka sama sekali tak merepotkan anak-anak. Untuk keperluan sehari-hari, mereka mengandalkan uang pensiun.

Pukul 08.00
Mineo pergi ke taman hutan Negishi yang berjarak dua stasiun dari rumah dengan menggunakan bus. Dua kali sepekan ia bekerja paruh waktu membersihkan taman. Ada tujuh orang pekerja, baik laki-laki maupun perempuan, yang berusia tujuh puluhan tahun. Berdua dengan rekannya, ia berjalan mendorong gerobak, mengumpulkan sampah dari tempat sampah di dalam taman. Jam kerjanya adalah selama empat jam, sejak pukul 08.30 sampai pukul 12.30. Upah sehari untuk pekerjaan paruh waktu tersebut adalah 2.640 yen.
“Tak peduli berapa usiamu, selama masih bisa bekerja, maka lebih baik bekerja,” kata Mineo, “tidak baik juga kalau tidak punya sesuatu yang bisa dilakukan. Paling-paling setelah bangun pagi hanya melamun. Itu tidak baik untuk tubuh. Tak ada salahnya terikat dengan waktu, misalnya besok ada acara ini, jadi harus pergi sebelum pukul sekian.”
Di saat bersamaan, Yoshiko sedang di rumah; membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Setelah memasukkan pakaian ke adalam mesin cuci otomatis, ia merapikan ruang tidur dan ruang tamu serta membersihkannya dengan mesin penyedot debu. Setelah itu ia merapikan dapur.
Sembari mencuci, mulut Yoshiko menggumamkan sebuah lagu,
Wasurenaino (aku tak bisa melupakannya)
Ano hito ga suki yo (aku mencintainya)
Aoi shatsu kite sa (pakaiannya berwarna biru)
Umi wo miteta wa (aku seolah memandang laut)” (Judul: Koi no Kisetsu; Lirik: Tokiko Iwatani; Penyanyi: Pinky & Killers).
Ketika muda, Yoshiko pernah tampil di acara “Penyanyi Kebanggaan NHK”. Banyak yang memberikan dukungan suara untuknya. Baginya, itulah kebanggaannya.
Ia menikah saat berusia 19 tahun, sedangkan usia Mineo saat itu 28 tahun.
Mineo merupakan seorang awak kapal; ia sendiri adalah putri dari sebuah keluarga yang menjalankan bisnis penginapan bagi awak kapal. Saat itu, bagi Yoshiko yang berusia 19 tahun, Mineo yang lebih tua sembilan tahun lebih tampak sebagai seorang om-om. Mereka berdua sama-sama tidak memiliki saudara. Menurut Yoshiko, barangkali itulah yang membuat mereka saling terikat. Ia adalah anak angkat, bukan anak kandung dari kedua orang tuanya saat itu. Mineo, yang berasal dari suatu tempat yang jauh—pulau Miyako, Perfektur Okinawa, merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Kalaupun ia kembali ke kampung halaman, tak ada cukup makanan untuknya di rumah.
“Seorang senior di perusahaan kapal pernah datang kepadaku, dengan semangat ia menawarkan seseorang bernama Totsuka yang satu penginapan dengannya, untuk menjadi calonku. Ayah angkatku juga bilang bahwa Totsuka adalah orang baik, tetapi aku lebih menyukai Mineo. Menurutku, ia orang yang baik kepribadiannya. Hehe…” Yoshiko tersenyum tersipu.

Pukul 13.00
Mineo sudah pulang ke rumah. Ia dan Yoshiko lalu makan siang bersama. Menunya telur dan daging asap, salad kentang, serta roti dan susu. Setelah makan siang, mereka menghangatkan diri di bawah selimut penghangat di ruang tamu dan tertidur bersebelahan begitu saja.
Siang yang sunyi terus bergulir. Hanya ada suara nafas mereka berdua dan detak jarum jam dinding.
               
Pukul 14.30
“Pak, sudah minum obat?” Yoshiko yang baru bangun tidur langsung bertanya pada Mineo.
“Sekarang pukul berapa?” tanya Mineo sambil memutar lehernya.
“Aduh, sudah setengah dua. Kita tidur lelap rupanya,” Yoshiko lalu bangkit.
“Minta air…” kata Mineo, ia mengeluarkan obat dari dalam tas.
Mereka berdua minum obat tiap kali habis makan.
“Kemarin aku pergi ke dokter karena lututku sakit,” kata Yoshiko, ia datang membawa air, “kata dokter, tulang rawanku berkurang. ‘Bu Yoshiko, tulang rawan ini sudah bekerja selama 70 tahun, jadi wajar kalau berkurang. Mau diobati?’ begitu. Sebenarnya sudah diterapi dengan aliran listrik, tapi karena sudah berumur begini, kalau cuma terapi tidak akan sembuh.”
“Dokter pasti bilang begitu ke semua orang lanjut usia,” jawab Mineo, “mau bagaimana lagi, sudah 70 tahun lebih. Dia ingin kita cepat menyerah. Meskipun dia juga berpura-pura membuat kita berpikir bahwa pengobatan A atau B mungkin bisa menyembuhkan, tetapi tetap saja lebih baik dia tidak bilang begitu.”

Pukul 15.00
Mineo pergi ke kantor simpatisan Partai Komunis di Kota Ogiwa dengan menumpangi bus. Ia turun di depan sebuah rumah dengan papan reklame di jalan utama. Tertempel poster berisi daftar anggota Partai Komunis dan poster bertuliskan tuntutan atas kebijakan pemerintah. Pintu tak terkunci, ia masuk ke dalamnya.
Mineo masuk Partai Komunis pada tahun 1960, saat terjadi konflik perjanjian keamanan antara Jepang dan Amerika Serikat. Sejak saat itu ia terus menjadi pengurus serikat pekerja. Sebagai pengurus Partai Komunis tingkat perfektur, ia telah tiga kali gagal menjadi kandidat. Selama itu, seluruh hidupnya ia curahkan untuk kegiatan serikat dan partai; sama sekali tidak menggubris kehidupan rumah tangga atau lainnya. Ia mendapat protes tidak puas dari Yoshiko. Ia tidak pulang di hari syukuran renovasi rumah; ia tidak menepati janji pergi berkemah bersama Yoshiko; ia juga lupa mengambil gajinya pada hari gajian dan pulang ke rumah tanpa membawa apapun. Yoshiko sampai berpiikir bahwa mereka lebih baik berpisah.
“Karena aku bekerja, aku jadi punya penghasilan sendiri. Aku bahkan bilang, selama urusan anak dan rumah kau penuhi, tak masalah kau pergi ke manapun. Tapi dia tidak menggubrisnya. Lalu seperti biasa, ia pergi pagi, pulang larut malam dan berkata bahwa ia ingin makan,” Yoshiko berkisah.
Saat Mineo pensiun, Yoshiko baru memahami mengapa suaminya begitu bersemangat berjuang. Tepat di hari pensiun itu, mereka berdua diundang oleh pihak kantor. Selain mereka, ada tiga lagi pasangan suami istri yang juga pensiun. “Terima kasih atas kerja kerasnya,” kata pimpinan perusahaan. Begitu mereka keluar dari ruangan, telah banyak pegawai muda yang menunggu di luar. Mereka mengelilingi Mineo dan mengucap, “Pak Mineo, terima kasih atas kerja kerasnya,” sambil menjabat tangan Mineo.
“Melihat begitu banyaknya orang yang berterima kasih, untuk pertama kalinya aku berpikir, itu merupakan suatu penghargaan tersendiri. Meskipun keluarga di rumah yang jadi korban,kata Yoshiko mengenang, air matanya berlinang.

Pukul 15.30
Yoshiko menaiki bus menuju pusat kesejahteraan manula. Ia naik ke lantai dua kantor tersebut. Di sana ada sebuah aula berukuran sekitar dua kali ruang kelas SD. Ada dua puluh perempuan bergaun yang duduk di kursi sebelah kanan. Di seberang mereka, di sebelah kiri aula, dua puluh laki-laki yang mengenakan jas juga duduk di kursi. Itu adalah kelas dansa. Mereka semua berusia lebih dari 60 tahun.
Seorang perempuan dengan gaun merah menuju ke tengah aula.
“Nah, untuk pemanasan, mari kita mulai dengan gerakan mambo. Silakan, Bu Yoshiko.”
Setelah diaba-aba, Yoshiko menyalakan tape recorder. Ia mengenakan gaun warna hitam dan memakai sepatu dansa yang juga berwarna hitam. Ia adalah asisten di kelas dansa tersebut.
Melodi penuh semangat mengalun lewat lagu Mambo No. 5 yang diputar. Laki-laki dan perempuan, masing-masing melangkahkan kaki mengikuti irama.
Selanjutnya adalah rumba. Setelah satu lagu selesai, instruktur yang bergaun merah bertanya, “Apa ada yang tidak bisa?”
Tatsuko Ikeda, seorang pemilik kedai sake, mengangkat tangan.
“Nah, bu Yoshiko, tolong berpasangan dengan Pak Tatsuko,” kata instruktur.
Yoshiko meraih tangan Tatsuko. Musik mengalun, tarian dimulai.
Slow, slow, quick, quick…” Yoshiko bergumam.
“Ah, maaf….” Tatsuko meminta maaf, rupanya ia menginjak kaki Yoshiko.
“Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja,” kata Yoshiko sambil menunjukkan ekspresi semangat.
Yoshiko berkata bahwa ia senang mengajar karena ia bisa membahagiakan orang lain.
“Beberapa waktu lalu, ketika sedang berjalan di kawasan pertokoan sekitar sini,” kata Yoshiko, “aku bertemu istri Pak Tatsuko. Katanya, ‘Bu Yoshiko, maaf suami saya merepotkan. Dia senang sekali, berkat Bu Yoshiko dia jadi lebih mahir,’ lalu dia membungkukkan badannya padaku. Pak Tatsuko itu daya ingatnya buruk lho. Aku jadi aneh sendiri kalau memikirkan apa yang dia katakan kalau ia pulang ke rumahnya. Hahaha…”

Pukul 16.00
Setelah menyelesaikan keperluannya di pertemuan simpatisan partai, Mineo naik bus, turun di pusat perbelanjaan Isezakicho, lalu masuk ke sebuah toko bernama BYD France.
“Ini kedai kue, tapi di luar dugaan, kalau mampir ke sini jadi lebih rileks. Ini tak bisa dilakukan di tempat yang dipenuhi anak muda seperti di Mekdi atau Mos Burger,” kata Mineo. Orang-orang tua menyebut Mekdi, singkatan dari Mc Donald. Ia tersenyum dan menghirup nafas dalam-dalam; perasaan bahwa ia ‘hidup’ dapat tersampaikan dengan jelas dari ekspresi wajahnya.
Ia berkisah bahwa ia senang duduk sendirian di kedai teh dan memikirkan sesuatu.          
Hal-hal seperti apa yang Anda pikirkan?
“Tidak penting, sih, tapi banyak hal yang bagaimana pun tak kumengerti dengan baik. Misalnya, mengapa di musim dingin, daun bisa jatuh dari pohonnya. Kemudian kenapa jika terkena sinar matahari, benda-benda di bawah pohon itu menjadi hangat. Di musim panas, daun-daun akan tumbuh lagi, pohon jadi rindang, benda-benda di bawahnya jadi sejuk. Semuanya berlangsung sempurna. Tapi mengapa semuanya bisa sesempurna itu? Itu yang kupikirkan. Pikiran-pikiranku semakin aneh, setelah membaca buku pun aku tidak juga menemukan jawabannya. Atau lagi, mengapa tiga sudut dalam dari segitiga berjumlah 180 derajat? Kenapa lingkaran itu 360 derajat? Kenapa bukan angka-angka yang mudah seperti 100 atau 200; malah angka yang aneh, 360 derajat? Banyak hal yang tidak kumengerti. Tapi, memikirkan hal-hal seperti itu semakin hari semakin menarik.”

Pukul 20.00
Setelah makan malam, Mineo dan Yoshiko menonton televisi, acara konser NHK. Takashi Hosokawa sedang menyanyikan lagu Yagiri no Watashi—sebuah nama kapal feri yang digunakan pada zaman Edo.
“Eh, eh, itu lagu kesukaan Bapak,” kata Yoshiko.
Mineo lalu mulai bernyanyi mengikuti suara dari televisi.              
          “Tsurenigeteyo... (pergi menjauh)
Tsuiteoideyo... (patang mendekat)
Yuugure no ame ga furu (hujan turun saat senja)
Yagiri no Watashi…” (Judul: Yagiri no Watashi; Lirik: Miyuki Ishimoto; Penyanyi: Takashi Hosokawa)
Musik mengalun begitu saja. Sebelumnya Mineo tak pernah menyanyikan lagu atau apapun. Tetapi dua bulan lalu, Yoshiko mengajaknya ke kelas karaoke sebuah klub manula. Orang-orang memuji nyanyiannya, lalu mereka berdua jadi sering pergi ke tempat karaoke.
“Aku,” kata Yoshiko, “diajak oleh tetangga sekitar, lalu pernah dua kali ikut kelas karaoke. Tapi aku tidak tega kalau meninggalkan Bapak sendirian, jadi aku mengajaknya. Awalnya ia acuh saja. Lalu kubilang bahwa Pak Noda, yang rumahnya di seberang sana, pandai menyanyi lagu yang ia suka, dan Pak Noda tidak keberatan untuk mengajarinya menyanyi. Kemudian ia bilang, ‘oke, ayo kita pergi,’. Aku berpikir, sebisa mungkin kami melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama-sama.”

Pukul 20.30
Yoshiko, yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian piama, duduk di depan Mineo. “Punggungku sebelah sini sakit,” katanya. Ia meyerahkan koyo tempel pada Mineo, lalu membuka piamanya di bagian pundak.
“Ini?” tanya Mineo, jarinya menekan punggung Yoshiko.
“Agak ke kiri.”
“Ini? Apa tidak lebih baik kalau ke dokter saja?”
“Tidak separah itu. Kalau sudah ditempel koyo juga nanti bisa sembuh.”
Mineo menempel koyo di punggung Yoshiko, lalu menekannya dengan kedua tangan.    
“Terima kasih,” kata Yoshiko. Ia mengenakan kembali piamanya dan mengancingkannya.
“Kalau begitu, aku tidur duluan ya,” kata Yoshiko.
“Iya. Selamat tidur,” jawab Mineo.
Yoshiko naik ke lantai dua, tempat tidurnya. Sejak pensiun, mereka memutuskan untuk tidur di ruangan terpisah. Yoshiko tidur di lantai dua, Mineo tidur di lantai satu.
Mineo duduk, membaca buku. Buku karya Tsuyoshi Mori berjudul Sejarah Matematika.
Dengan hubungan suami istri yang sedemikian baik, apakah akan semakin berat saat terpisah oleh maut?
“Mmm… Saat-saat itu pasti datang,” kata Mineo.
“Kalau aku bilang bahwa orang yang lebih tua akan meninggal lebih dulu, dia jadi senang. Tawanya lebar. Jadi kalau aku sedang ingin membuatnya senang, aku bilang, ‘karena aku akan mati duluan, kau lakukan semuanya dengan benar ya,’. Hahaha…”

Pukul 22.00
Mineo menggapai meja dengan tangannya, pelan-pelan berdiri, mematikan lampu ruang keluarga, lalu masuk ke kamar tidurnya.
Rumah menjadi sunyi. Hanya suara detak jarum jam dinding yang terdengar.



***
Tulisan diterjemahkan dari 黄昏時 dalam buku 喜びは悲しみのあとに (Bitter with the Sweet) karya Takashi Uehara yang diterbitkan tahun 2004 oleh Penerbit Gentosha Outlaw Bunko.  
Foto oleh GEORGE DESIPRIS dari Pexels