Tuesday, June 26, 2012

Hari Terakhir Hari


Demi apapun, aku tak akan pernah melakukan hal ini lagi. 

Sejak tadi aku sudah mengelilingi lokasi ini. Tadinya kupikir pencarianku tak akan sesulit ini. Ketika pertama memasuki gang, kulihat beberapa meter dari mulut gang ada sekelompok ibu-ibu sedang berkumpul. Aku mendekat, kukatakan bahwa aku mencari orang bernama Hari. Satu persatu, ibu-ibu itu menggeleng. 

“Hari siapa, mbak?” Tanya salah satu dari mereka.

Aku juga menggeleng. Aku tak tahu nama lengkap Hari. 

“Orangnya kayak apa?” Tanya mereka lagi.

Hari yang kukenal adalah seorang laki-laki dengan usia sekitar setahun di atasku. Tinggi badannya rata-rata, sekitar 172 cm. Tidak gemuk, juga tidak kurus. Standar lah. Rambutnya pendek. Mengenakan kaca mata dengan gagang penuh berwarna cokelat. Apa lagi? Ah iya. Lesung pipi di pipi sebelah kiri.

Ibu-ibu di depanku kembali menggeleng setelah aku menjelaskan perawakan Hari. Gelengan mereka membuatku mengucapkan terima kasih untuk kemudian balik badan, mencari ibu-ibu atau bapak-bapak lainnya yang bisa kumintai informasi mengenai keberadaan Hari.

Dan ternyata kumpulan ibu-ibu di dekat mulut gang tadi adalah satu-satunya yang kutemukan. Selanjutnya aku tak menemukan ada kumpulan orang lagi. Jadi aku menyusuri jalan pelan-pelan, mencari rumah yang pintunya sedikit terbuka—aku berpikir bahwa rumah dengan pintu tertutup berarti penghuninya sedang sibuk atau tak mau diganggu—dan bertanya pada sang tuan rumah. Tentu saja mengenai Hari.

Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 13.30, hasil masih nihil. Aku beristirahat sejenak di bawah sebatang pohon kersen. Ada batu lumayan besar. Aku duduk di atas batu itu.

Sambil mengibas-ngibaskan tangan dan memandangi matahari yang entah kenapa sinarnya seperti makin terang, aku merutuki diriku sendiri. Merutuki kenapa aku tak tahu siapa nama lengkap Hari, kenapa aku tak tahu apa pekerjaan dia dengan jelas—yang kutahu, dia bekerja di sebuah bengkel motor. Titik.—, dan kenapa aku hanya tahu nama kampung tempat tinggalnya: Kampung Sumur dekat pasar. Jadi bekalku hanya: Hari, tinggal di Kampung Sumur dekat pasar, kerja di bengkel.

Ponselku bergetar. Aku sedikit berharap, jangan-jangan pesan masuk dari Hari!

Segera kurogoh kantongku, kubuka ponselku dengan cepat. Dan semangatku kembali meredup ketika nama pengirim yang muncul bukanlah nama Hari. Sejak sebulan lalu nomor ponselnya tak aktif.

Rabu lalu, saat berkunjung ke rumah singgah, aku dihujani pertanyaan yang kesekian kalinya oleh adik-adik di sana.

“Kak, Kak Hari kapan ke sini? Kok Kak Hari nggak pernah dateng lagi sih?”

Aku pertama kali bertemu dengan Hari tujuh bulan lalu, saat ada pertemuan sukarelawan mengajar di rumah singgah. Sejak perkenalan pertama, entah kenapa rupanya Hari mampu menarik perhatian anak-anak di rumah singgah yang kebanyakan berusia 4-12 tahun. Hari jadi magnet utama anak-anak untuk datang setiap Rabu dan Sabtu di rumah singgah. Kalau tak ada Hari, rumah singgah jadi sepi. 

Tujuh bulan berjalan, jumlah sukarelawan menyusut. Mulanya ada sepuluh orang, kini tinggal dua. Hanya tersisa aku dan Hari. Oh salah. Kini tinggal satu. Hanya aku. Karena Hari sudah tak pernah hadir sejak sebulan lalu. 

Rumah singgah sudah sepi. Hanya tinggal aku, mbak Mei, dan mbak Lis. Mereka adalah pengurus yayasan. Ketika aku sedang memasang sepatu di bibir pintu, seorang anak menghampiriku. Namanya Adit. Usianya sekitar lima tahun.

“Kak, besok sabtu Kak Hari dateng nggak? Kalo Kak Hari nggak dateng, aku sama Nina juga nggak dateng.” Ucapnya ringan. Nina adalah adik Adit, usia mereka terpaut satu tahun.

Aku tersenyum. “Iya, besok Kak Hari dateng kok. Jadi, Adit dan Nina harus dateng juga, ya.”

“Kak Hari dateng? Janji?”

“Iya. Janji.” Kuacungkan jempolku sambil tersenyum lebar.

Adit mengangguk ceria, kemudian berlari meninggalkanku.

Demi janji itulah aku berada di sini sekarang. Untuk mencari dan menemukan sosok Hari. Supaya anak-anak di rumah singgah tak kehilangan semangatnya untuk belajar karena ketidakhadiran Hari.

Kuputuskan melanjutkan pencarian. Apapun yang terjadi, Hari harus kutemukan. Besok ia harus datang!
Sebuah rumah tampak terbuka sedikit pintunya. Kuucap permisi sambil kuketuk pintunya.

Seseorang menjawab dengan sedikit berteriak, kemudian kudengar langkah kakinya mendekat ke arah pintu.

Di depanku, berdiri seorang laki-laki. Yang sebulan belakangan menghilang. Yang tak bisa dihubungi. Yang dirindukan anak-anak di rumah singgah. Yang kucari-cari sedemikian rupa. 

Hari!!!!!

Ia hanya tersenyum meringis.

“Maaf.” Itu kata pertamanya. Aku dipersilakan masuk. Ia menghidangkan segelas air putih yang kuminum dengan semangat, sebelum kusadari bahwa rasanya agak payau.

“Bengkel tempatku bekerja tutup. Bangkrut. Sampai sekarang aku belum bekerja lagi. Ponselku kujual untuk menyambung hidup. Aku tak sempat mampir ke rumah singgah, setiap hari aku berkeliling kota mencari pekerjaan. Mungkin nanti, kalau aku sudah dapat kerja, aku bisa bantu di rumah singgah lagi.”

“Besok, bisa? Anak-anak mencarimu. Beberapa sudah tak pernah datang lagi sejak kamu menghilang.”

“Aku tidak menghilang. Hanya istirahat sebentar dari sumah singgah.”

“Apapun lah. Gimana? Besok bisa?”

Hari terdiam lama.

“Oke. Besok aku datang. Oiya, di sini orang mengenalku dengan nama Ahmad.”

*****

Dua orang sukarelawan-baru datang. Ia akan membantu aku, Mbak Mei, dan Mbak Lis mengajar anak-anak di rumah singgah ini.

“Hari.” Kata salah seorang sukarelawan tersebut.

“Novi.” Kataku memperkenalkan diri.

Ah, kenapa namanya sama dengan Hari yang dulu? Aku mengingat-ingat persitiwa dua bulan lalu, saat terakhir kali Hari datang ke rumah singgah. Ia datang dengan senyum, tawa, keriangan, dan kehangatan seperti biasa. Sabtu itu, rumah singgah penuh oleh anak-anak. 

Di akhir pertemuan, anak-anak seperti biasa mencium tangan kami—para pengajar. Hari juga tetap mengelus kepada setiap anak, seperti biasanya. Tak ada yang berubah. 

Tunggu sebentar. Sepertinya ada yang berbeda.

Ah iya. Saat itu, Hari mengambil posisi berjongkok. Sambil mengelus kepala tiap anak, kurasa ia mengucapkan sesuatu. Entah apa. Mungkin nasihat agar mereka tetap rajin belajar dan datang ke rumah singgah. Atau mungkin berpesan bahwa esoknya ia tak akan datang lagi.

Sabtu itu adalah hari terakhir Hari datang ke rumah singgah. Pada hari Rabu pekan depannya, ia tak datang. Begitu juga pada Rabu dan Sabtu berikutnya. Hari tak pernah datang lagi. 

Aku pernah kembali ke tempat tinggalnya, tapi Hari tak kutemukan. Tetangganya bilang ia pindah, tak ada yang tahu ke mana.

Aku memandang salah satu sudut rumah singgah yang berukuran 3x5 meter ini. Sehelai kertas tertempel di sana. Beberapa baris tulisan tertulis di atasnya: Tetap rajin belajar ya. Raihlah cita-cita setinggi bintang.  Hari.



Numpang di kamar orang, Juni 2012
Cerpen pertama setelah sekian abad :)


Tuesday, June 12, 2012

Tipe Orang Saat Mendaki Gunung: Opini Sok Tau


“Waduh gawat, minggu depan aku beneran jadi naik gunung!” Warga kos sedang asik berkumpul di depan tv saat teman saya tiba-tiba berteriak demikian. Serempak, kami menoleh ke arahnya.

“Ngapain naik gunung? Kapan?”

Teman saya, yang masih syok dengan kabar yang dia peroleh dari temannya melalui sms, menjawab sambil terus melihat hapenya. “Diklat, Selasa sampai Jumat minggu depan.”

“Aduuuh… kok naik gunung sih? Sama Kopassus pula.” Gumamnya. Mungkin masih syok.

“Ih kan keren. Kopassus gitu loh.” Kata saya.

“Keren dari Hongkoooong…” sungutnya. “Heran deh. Judulnya diklat kepemimpinan, kok malah naik gunung ya?” katanya.

Saya merenungi pertanyaan teman saya sebentar. Tak begitu lama, jawabannya muncul di kepala saya. Dan saya setuju ide siapapun-itu yang menggagas diklat kepemimpinan berupa mendaki gunung. Kalau boleh, saya mau ikut deh #eh

Haha.

Ketika mendaki gunung, akan terlihat bagaimana watak asli seseorang.
Saya pernah dua kali naik gunung *yaelah, cuma dua kali toh. Gitu aja bangga*. Biarin lah ya, daripada enggak pernah naik sama sekali. Lagipula biasanya, orang yang sok-sokan tahu sesuatu *seperti saya, dalam kasus naik gunung ini* akan lebih banyak berkomentar dan berceloteh.

Dua kali saya naik gunung itu, saya selalu berada dalam posisi terbelakang, alias yang paling lambat. Memang jarang olahraga sih, jadi gampang capek. Sedikit-sedikit minta berhenti, ngaso. Padahal yang lain masih belum berkeringat. 

Dalam posisi terbelakang itu, ada beberapa karakter yang bisa saya lihat. 

Pertama, orang yang cuek. Saya nggak tau juga sih ini cuek atau gimana. Tapi, jika orang seperti ini mempunyai teman yang ketinggalan, dia cenderung terus berjalan. Nggak peduli lagi deh pokoknya. Entah berbeda jarak berapa ratus meter, dia nggak bakal berhenti dan menunggui temannya tersebut kecuali diminta oleh teman-teman lainnya. Atau juga dia nggak bakal berhenti kecuali dia sendiri yang capek.

Kedua, teman yang baik. Orang seperti ini bakal selalu ada di samping kita. Nggak selalu juga sih. Haha. Tapi kalau dia melihat kita sedikit kelelahan, dia akan menanyai kita dan menawari bantuan. Orang bertipe teman yang baik ini juga selalu menghibur kita dengan terus memberi semangat ataupun mengajak ngobrol sehingga lupa kalau sebenarnya capek. Tiba-tiba aja sudah sampai puncak. Wohooo..

Ketiga, tipe silent. Kalau yang ini, dia antara acuh-tak acuh. Kalau di dunia maya mungkin tergolong silent reader gitu. Liat doang, tapi nggak ikut berpendapat atau urun rembug. Kalau ada temannya capek, dia cuma ngeliat, trus ikutan berhenti. Nggak nanyain atau nawarin bantuan. Kalau si temannya yang capek tadi udah ada yang nemenin di belakang, kadang juga dia langsung tancap gas, nggak ikutan berhenti.

Keempat, tipe pahlawan. Biasanya sih yang begini ini ya para koordinatornya atau penanggung jawabnya. Nggak tau juga sih. Tapi selama ini yang jadi pahlawan buat saya ya cuma koordinatornya #ngenes. Haha. Orang-orang ini selalu ada di belakang orang yang paling belakang. Kalau ada yang capek, dia bakal nemenin si yang capek tadi. Dan kalau jarak dari teman-teman yang lain sudah jauh, dia bakal meminta sekelompok buat berhenti. Dia juga paling sering kasih semangat, meskipun itu dengan ngibul yang becanda. Misalnya, “Tinggal lima belokan lagi nih.” Padahal faktanya: lima belokan ke kanan dan entah berapa puluh belokan ke kiri. Hahahaha

Kelima, tipe gampang menyerah. Saya banget nih *kok bangga -.-‘*. Tipe ini, kalo udah beberapa kali capek, bakal nggak mau nerusin perjalanan. Eh tapi saya nggak gitu ding. Saya cuma minta istirahat, tapi ya lanjut jalan *ngeles*. Yang bisa bikin dia nggak menyerah, salah satunya adalah “Sebentar lagi sampe di puncak, koook.” Haha

Begitulah lima tipe yang sejauh ini saya kenali dalam perjalanan naik gunung saya. Mungkin masih banyak yang lain, tapi sayanya yang nggak ngeh karena emang masih newbie dalam dunia daki-mendaki. 

Menulis begini, saya jadi ingin naik gunung lagi. Lelah, tapi seru!


 Gunung Gede, November 2010


Menjelang Zuhur, 12 Juni 2012
Salam,
Wahyu Widyaningrum