Wednesday, December 16, 2015

Tentang Hisao Tanaka, Dirut Toshiba yang Mengundurkan Diri Akibat Skandal Akuntansi



Selasa siang, saat sedang menggulung-gulung layar ponsel yang menampilkan lini masa Twitter, saya membaca selintas judul mengenai Toshiba yang akan mem-PHK ribuan karyawannya. Saya, yang masih terbawa suasana dan semangat sistem informasi—karena beberapa saat sebelumnya alhamdulillah cukup berhasil melewati sebuah rintangan hidup bernama ujian SIA dan SIM secara maraton (yang untungnya dirupakan ujian jarak jauh alias via Google Form), akhirnya menggulung layar kembali ke atas dan mengeklik tautan berita tersebut.

Di artikel detik.com tersebut, disebutkan bahwa langkah tersebut diambil Toshiba menyusul berbagai masalah yang menimpa perusahaan asal Jepang tersebut, terutama skandal keuangan yang melibatkan Dirut Hisao Tanaka dan eksekutif senior lain. Skandal ini merupakan skandal akuntansi terbesar di Jepang dalam beberapa tahun terakhir. Dinilai bertanggung jawab, Hisao Tanaka dan eksekutif senior lainnya akhirnya mundur dari jabatannya pada bulan Juli lalu.

Saya kemudian membuka Yahoo! Japan (Mbak Marissa Mayer, saya masih pakai produkmu lho—yang katanya mau dijual), dan mengetik kata kunci 田中久雄 (Hisao Tanaka), dan muncullah artikel ini di urutan teratas: Peringatan kepada Pasar Secara Khusus dari Toshiba! Ingin Tahu Karier, Universitas Almamater, Ekstrakurikuler, dan Pekerjaan Ayah dari Dirut Hisao Tanaka?. Ketika baca, saya langsung mbatin, ini kalau wartawan detik yang menulis, pasti jadi empat artikel dengan judul: Ini Dia Karier Dirut Toshiba Hisao Tanaka; Ternyata Dirut Toshiba Hisao Tanaka Lulusan Universitas Ini!; Ketika Kuliah, Ini Kegiatan Ekstrakurikuler Dirut Toshiba Hisao Tanaka; Begini Pekerjaan Ayah dari Dirut Toshiba Hisao Tanaka.

Di bawah ini adalah terjemahan dari artikel tersebut.

  •         Bersalah atas Kasus Penggelembungan Keuangan Toshiba, Tiga Pembesar Mengundurkan Diri

Kasus penggelembungan keuangan yang diperkirakan dilakukan oleh manajemen puncak Toshiba telah diberitakan secara ramai oleh media.
Sulit dipercaya bahwa skandal tersebut terjadi pada sebuah perusahaan raksasa Toshiba yang merupakan representasi Jepang, tetapi kasus ini telah bergulir sampai pada pengunduran diri tiga pembesar yaitu Dirut Hisao Tanaka, Wakil Direktur Norio Sasaki, dan Adviser Atsusoshi Nishida—sebagai penanggung jawab atas permasalahan kecurangan akuntansi kali ini.

Ingin mengetahui karir para pembesar Toshiba? Berikut adalah hasil penelusuran mengenai profil mantan direktur utama Hisao Tanaka.

  •          Jejak Karir Mantan Dirut Hisao Tanaka

Mengundurkan diri dari Toshiba atas skandal ini, siapa sebenarnya Hisao Tanaka?

Hisao Tanaka berusia 64 tahun, lahir pada 20 Desember 1950. Ia berasal dari Kobe, Perfektur Hyogo, dan memiliki seorang kakak perempuan.

Ayahnya merupakan PNS pemerintah daerah, yang saking sibuknya bahkan sering bekerja pada hari Sabtu sehingga Hisao hamper tidak pernah bermain dengan ayahnya tersebut. Karena itu, ayahnya hampir tidak pernah marah dalam berkomunikasi dengan Hisao. Dibesarkan dengan sifat ayahnya yang begitu sabar, ketika menjadi ‘orang’, Hisao tidak pernah keras kepada anak buahnya, bahkan dikisahkan bahwa Hisao adalah tipe orang yang mempersilakan seseorang untuk mencari jalan keluar sendiri atas masalahnya.

Ketika SMA di Perfektur Hyogo, Hisao mulai bermain gitar, dan bersama tiga kawannya membentuk sebuah grup folk song yang bahkan pernah tampil di acara radio. Saat berstatus mahasiswa di Universitas Bisnis Kobe, Hisao berkeinginan menekuni jalur profesional, bahkan sampai mengikuti audisi. Namun, sayang sekali perjalanan tersebut tidak mulus sehingga ia akhirnya menyerah.
Selain itu, Hisao, yang mencintai olahraga, menyelesaikan kuliahnya dalam waktu empat tahun dengan tetap melanjutkan aktivitas kempo.

Setelah lulus dari Universitas Bisnis Kobe, pada bulan April tahun 1973 Hisao diterima bekerja di Toshiba. Karena begitu mencintai Kansai—terutama Kobe, sejak masuk Toshiba Hisao berpikir bahwa ia akan selalu bisa berada di Kansai. Namun penugasan Hisao adalah di kantor pusat bagian bahan baku, yang berarti ia harus berpisah dari Kansai dengan berat hati.

Penugasan berikutnya adalah Filipina, Inggris, dan lainnya. Setelah itu Hisao menjadi kepala divisi penyedia bahan baku, kepala pusat produksi komputer, direktur eksekutif, direktur eksekutif senior, managing director, wakil direktur, lalu pada tahun 2013 menjadi direktur utama.

Dan akhirnya terjadilah skandal ini.

Hisao selalu menyampaikan, “Adalah penting untuk berpikir secara zero-based dan tidak mengindahkan  masa lalu.”

Terjadinya skandal ini memang telah mengkhianati kepercayaan masyarakat, tetapi karyawan Toshiba diharapkan dapat melakukan yang terbaik untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat tersebut kepada perusahaan raksasa ini.


Rabu, 161215

Sunday, October 4, 2015

Wisata Gratis ke Jepang, Bagaimana Caranya?



Bagi saya, definisi gratis adalah tidak menggunakan uang pribadi. Sehingga, jawaban dari pertanyaan di judul tadi bisa bermacam-macam: dengan dibayari orang tua, dibayari om-tante-pakde-bude-kakek-nenek, menang undian, dibayari kantor, atau ikut lalu memenangi Kontes Berbahasa Jepang yang diadakan oleh Kyoritsu International Foundation.

Kemarin saya mencoba cara terakhir di atas, meskipun belum berhasil. Haha

Kontes Berbahasa Jepang (KBJ) adalah lomba yang diselenggarakan oleh Kyoritsu International Foundation yang dapat diikuti oleh masyarakat umum, baik pelajar, mahasiswa, maupun karyawan. Tujuannya sederhana, mendorong agar berani berbicara dan mengungkapkan pendapat dalam Bahasa Jepang di muka umum. Sedangkan tujuan diberikannya wisata gratis ke Jepang bagi pemenang adalah agar pemenang dapat lebih mengerti dan menyukai Jepang sehingga dapat lebih bersemangat dalam belajar Bahasa Jepang. Syarat mengikuti KBJ juga tidak sulit, yaitu memiliki kemampuan Bahasa Jepang setara N4 atau lebih dan belum pernah memiliki visa pelajar ke Jepang. Pendaftarannya sendiri dilakukan secara online pada tanggal 27 Juli sampai 28 Agustus 2015 melalui situs Kyoritsu International Foundation di www.kyoritsu.or.id.

gambar dari http://kyoritsu.or.id/kontes-bahasa-jepang/

Tahun ini adalah tahun kedua diselenggarakannya Kontes Berbahasa Jepang, atau yang resminya disebut 第2回日本語体験コンテストinジャカルタ. Sebenarnya terjemahan yang benar ada di versi Bahasa Inggrisnya, yaitu 2nd Japanese Experience Contest in Jakarta. Entah bagaimana bisa menjadi Kontes Berbahasa Jepang—mungkin terdengar aneh jika diterjemahkan secara kata per kata.

Digelar di Istana Ballroom, Hotel Sari Pan Pacific Jakarta, pada Sabtu, 3 Oktober 2015, KBJ 2015 dihadiri oleh sekitar 30-an peserta, meskipun yang mendaftar ada 100 orang.

Tahap pertama KBJ dimulai pukul 12.00, dengan menjawab 30 soal yang terdiri dari 27 soal pilihan ganda dan 3 soal isian. Seluruh soal dibacakan pertanyaannya oleh mbak-mbak cantik mirip Ueno Juri dengan diulang dua kali. Di laman pendaftaran disebutkan bahwa soal yang diberikan meliputi pengetahuan umum tentang Jepang, seperti ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Namun bagi saya, seluruh soal adalah lawakan—saking susahnya: saya cuma menjawab yakin benar sebanyak 2 soal. Hahaha. Saya berhasil menulis ulang dan menerjemahkan beberapa soal dari KBJ ini dengan mengais ingatan saya—dan ingatan dua teman saya di JF yang juga mengikuti KBJ, yaitu Yessie dan Eva. Karena sumbernya hanya dari memori, tentu saja ada beberapa yang tidak lengkap maupun tidak urut, seperti berikut ini:
1. Siapa artis Jepang yang menduduki peringkat 8 dalam daftar seratus wanita tercantik dunia? a. Ishihara Satomi; b. Kiritani Mirei, c. Sasaki Nozomi
2. Apa nama stasiun yang benar-benar ada di Jepang? a. Arigato; b. Gomen; c. Sayonara
3. Jepang menjadi tuan rumah olimpiade pada tahun? a. 2012; b. 1960; c. 1964
4. Siapa anggota AKB48 yang menempati urutan 2 di senbatsu sousenkyou terakhir? a. Sashihara Rino; b. Kashiwagi Yuki; c. Watanabe Mayu
5. Ada berapa jumlah mesin penjual minuman di seluruh Jepang? a. 500.000; b. 2.000.000; c. 1.000.000
6. Ward apa yang tidak ada di Tokyo? a. Midori-ku; b. …; c. Chiyoda-ku
7. Botol plastik pertama di Jepang pada awalnya dipakai untuk kemasan apa? 
a. Cola; b. Kopi;  c. Shoyuu
8. Situs di Jepang yang pertama kali ditetapkan sebagai warisan dunia adalah:
a. …; b. …; c. Gunung Fuji
9. Mana yang termasuk festival yang diadakan di Tokyo? a. Festival Asakusa; b. Festival Kanda; c. Festival Shinjuku
10. Gaya duduk yang ditunjukkan dalam gambar disebut apa? (terdapat gambar orang sedang duduk bersila)  
11. お冷 =
12. … 階から目薬. (Ini merupakan salah satu peribahasa dalam Bahasa Jepang. Isilah titik-titik dengan satu buah bilangan menggunakan angka kanji)

Bagaimana soalnya? Benar-benar pengetahuan umum, kan?

Mbak Ueno Juri jadi juri di KBJ 2015 *ampun mbak
gambar dari http://www.fansshare.com/gallery/photos/12156940/ueno-juri/?displaying 

Kalau saya sih, sepanjang soal dibacakan, saya cuma bisa tertawa miris mengingat saya benar-benar tidak tahu jawabannya, sambil sesekali mencari pembenaran atas ketidaktahuan saya, seperti “lah member AKB yang saya tahu cuma si Mayuyu, itupun karena dia main di serial drama Tatakau! Shoten Girl bareng Inoo-chan”. Dua yang saya yakin benar hanya soal nomor 3 dan 9 di atas. Yang lainnya? Tentu saja saya hanya mengisi berdasarkan perasaan saja.

30 soal tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 30 menit. Setelah itu kami dipersilakan keluar dan menunggu sembari makan kudapan yang diberikan oleh panitia, kemudian kembali lagi ke ruangan pada pukul 13.30 untuk mengetahui hasil siapa yang masuk ke tahap selanjutnya, yaitu pidato.

Pukul 13.30, panitia mengumumkan bahwa hanya ada satu orang yang memperoleh nilai tertinggi yaitu 70, sedangkan sisanya merupakan medioker. Karena itu, akhirnya dipilih yang memiliki jumlah jawaban benar di atas 30%.

Dan nama saya disebut di urutan ketiga. Reaksi saya adalah: “uso deshou?!”. Urutan pemanggilan sejatinya tidak memiliki korelasi dengan peringkat nilai yang diperoleh, karena di kertas tanda peserta milik saya tertulis angka 11. Total peserta yang masuk ke tahap ini ada 12 orang, berarti saya ada di 2 peringkat terbawah. Haha. Saran saya, jika ingin lolos tahap pertama ini, ada dua syarat: kamu harus menguasai pengetahuan umum tentang Jepang, atau kamu harus memiliki peruntungan yang baik—karena soalnya pilihan ganda. Kalau saya, jelas karena yang kedua XD.

Setelah kedua belas nama diumumkan, mbak Ueno Juri kembali tampil untuk membacakan beberapa aturan main, seperti:
1. Terdapat tiga tema yang nanti akan diberikan melalui kertas yang dibagi ke tiap peserta. Satu orang hanya memilih satu tema, dan tidak boleh membahas hal di luar tema;
2. Waktu berpikir adalah 5 menit; peserta yang telah selesai berpikir dapat mengangkat tangannya untuk kemudian ditunjuk oleh panitia dan tampil berpidato; peserta yang maju pertama memperoleh tambahan 1 poin jika dibandingkan peserta yang maju berikutnya;
3. Durasi pidato adalah 3 menit;
4. Jika waktu telah mencapai 2,5 menit maka panitia akan membunyikan bel satu kali; jika waktu telah mencapai 3 menit maka panitia akan membunyikan bel dua kali; jika waktu telah mencapai 3,5 menit panitia akan membunyikan bel terus-menerus dan peserta harus segera menyelesaikan pidatonya;
5. Tidak diperbolehkan membuka gawai atau kamus atau kamus elektronik ketika sedang menyusun pidato.

Setelah mbak Ueno Juri duduk, panitia membagikan selembar kertas berisi tema pidato yang dapat dipilih, aturan main, dan area untuk menulis catatan terkait pidato. Adapun pilihan tema pidato adalah:
1.  生まれ変わって日本人として暮らすとしたら、どの時代のどんな人に生まれ変わってどんな人生を送りたいですか。
2.  日本の最先端技術により、様々なロボットが開発されていますが、あなたがロボット技術者だったら、どんなロボットを作って、どんな社会貢献をしたいですか。
3.  日本語からわかる『日本人の考え方』を、具体例を挙げて話してください。

Sebenarnya, saya sudah mempersiapkan beberapa naskah dengan berbagai tema. Tapi tidak ada satupun dari yang saya siapkan cocok dengan 3 tema itu. Haha. Jadilah saya memilih tema nomor 3. Dan ternyata 5 menit itu bukan waktu yang panjang. Saya masih harus meneruskan berpikir sampai empat atau lima orang maju, baru setelah itu saya mengangkat tangan. Sebenarnya saya sendiri tidak mengerti mengapa saya mengangkat tangan, wong nyatanya ketika di depan podium saya tidak mengerti apa yang saya bicarakan—seakan-akan saya bicara di luar kesadaran. Saya juga tidak yakin empat orang dewan juri paham apa yang saya sampaikan. Gabungan dari grogi dan terbatasnya perbendaharaan kata rupanya cukup mempengaruhi penampilan sehingga saya tidak mampu mengembangkan poin-poin yang sudah saya tuliskan, dan akhirnya ketika bel berbunyi satu kali saya langsung menutup pidato saya. Setelah mengucapkan kalimat penutup, barulah saya sadar, “ah, itu kan bel tanda 2,5 menit, bukan 3 menit.” Begitulah….

 Seumur-umur baru dua kali pidato dengan bahasa Jepang. Yang pertama saat ujian akhir tingkat Lanjutan I di JF, yang kedua ya ini :|
Dokumentasi: Yessie

Dua belas peserta telah selesai membawakan pidato, kemudian ada hiburan berupa permainan angklung dari Universitas Al Azhar Indonesia yang membawakan tiga buah lagu. Lagu pertama saya tidak tahu apa, lagu kedua adalah Kokoro no tomo, dan lagu ketiga adalah lagu latar kartun Chibi Maruko-chan.

Setelah penampilan angklung selesai, empat dewan juri kembali memasuki ruangan untuk mengumumkan lima pemenang yang memperoleh hadiah berupa wisata gratis ke Jepang selama 7 hari. Pemenang terpilih kebanyakan adalah yang tampil pidato di awal waktu, terdiri dari empat perempuan dan satu laki-laki. Setelah prosesi penyerahan piagam untuk lima pemenang, tujuh peserta lain maju satu per satu untuk menerima hadiah hiburan.

Ini dia hadiah hiburan yang saya terima:

Hadiah hiburan berfungsi untuk menghibur hati yang tidak terhibur
 Kain bergambar tujuh dewa. Mungkin...
Tas ini terlalu unyu kalau saya pakai :"(

Bagi saya, tidak menjadi salah satu dari lima pemenang berarti memang belum rejeki saya. Mudah saja, berarti usaha saya belum maksimal.

Oh iya, berdasarkan penjelasan panitia, rencananya kegiatan lomba pidato Kyoritsu ini akan diadakan lagi tahun depan. Jadi, masih ada waktu satu tahun untuk mempersiapkan diri *kalau saya sih mending buat memperdalam pengetahuan tentang negeri sendiri daripada negeri orang lain *eh**.



041015

Sunday, September 20, 2015

Sebuah Melon Seribu Rupiah


Sebenarnya ini bukan kisah baru. Saya sendiri mengalaminya ketika saya baru beberapa hari menghirup udara Surakarta. Namun ini bukan tentang kisah baru atau lama, ini tentang pelajaran seumur hidup.

Ketika saya rindu mengecap buah sedangkan buah di supermarket dijual dengan harga yang tidak begitu murah, maka pilihan yang tersedia bagi saya adalah pergi ke pasar dan membeli buah di sana. Saat itu saya dan Mita, kawan saya, memutuskan untuk pergi ke Pasar Palur, yang sudah masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. 

Sesampai di pasar, kami langsung menuju ke area pedagang buah di bagian belakang pasar. Kami berhenti di depan pedagang bermacam-macam buah. Saya  membeli duku dan jeruk, sedangkan Mita memenuhi plastik belanjaan dengan apel dan jeruk. Belum puas dengan dua macam buah, kami melanjutkan untuk berkeliling lagi. Kali ini mata saya melihat semangka merah besar yang ternyata tidak harus dibeli sebuah—seperti di supermarket. Saya membawa pulang seperempat bagian semangka seharga Rp6000. Sifat tamak dan tidak cepat puas rupanya menguasai saya hari itu. Saya tetap mengajak Mita berkeliling lagi.

Di luar pasar, di atas trotoar di pinggir jalan, saya melihat beberapa buah melon yang ditaruh di atas  karung yang digelar. Seorang ibu paruh baya berkerudung dengan tubuh yang kurus duduk di belakang gelaran karung. Saya mendekat, dan melihat ternyata melon-melon itu memiliki ukuran beragam. Ada yang kecil, ada pula yang besar. 


gambar dari https://www.facebook.com/skyscraperseeds

"Melonnya berapa harganya, Bu?" (sebenarnya saya menggunakan Bahasa Jawa saat bertanya)
"Yang kecil ini seribu, Nak." 
Saya rupanya agak tidak mempercayai pendengaran saya. "Yang kecil berapa, Bu?" saya mengulangi pertanyaan.
"Seribu, Nak." 
Melon yang dijual dengan harga seribu tersebut tampilannya tidak berbeda dengan melon biasanya, hanya ukurannya saja yang memang kecil. Mungkin diameternya sekitar 12 cm. 
Saya, yang sangsi dengan rasa melon tersebut, kembali bertanya, "manis nggak, Bu?"
Ibu pedagang meyakinkan saya bahwa melon yang ia jual rasanya tentu manis. 
Saya menoleh pada Mita. "Seribu cuy. Beli yuk."
"Tapi kalo nggak manis gimana?" tanya Mita.
"Yaudah sih, seribu doang ini juga."


Pada akhirnya kami memang membeli empat buah melon. Dua milik saya, sisanya milik Mita. Dua buah melon milik saya habis dalam dua hari, namun rasa bersalah dan penyesalan saya tak kunjung habis bahkan sampai hari ini.

Kalimat terakhir yang saya ucapkan tersebut jelas bukan suatu pernyataan yang menyenangkan untuk didengar, apalagi oleh si ibu pedagang. Saya baru menyadarinya ketika saya sedang menyetir dalam perjalanan pulang. Bagi saya, yang sebelumnya pernah merasakan betapa luar biasanya harga barang di Jakarta, menemukan sebuah melon seharga seribu adalah sebuah keajaiban. Ekspresi yang sebenarnya saya maksudkan sebagai sebuah wujud keheranan, ternyata terucap dalam rangkaian kata yang salah.

Memiliki kesadaran penuh dan berhati-hati ketika berbicara, kemudian, menjadi hal yang sangat saya perhatikan—meskipun masih sering juga gagal. Kau tidak pernah benar-benar mengerti betapa berharganya uang seribu rupiah bagi orang lain, kan, Wahyu?


200915

Sunday, August 23, 2015

Jepang: Tentang Peristiwa


Tentang peristiwa, saya tak akan menceritakan apa-apa saja yang saya alami secara detil. Hanya beberapa saja--dua saja malah, yang mana peristiwa tersebut tidak dapat ditemui setiap waktu:

1. Gojozaka Pottery Festival
Berlangsung sejak tanggal 7-10 Agustus 2015 di Gojo St., Kyoto, festival ini diadakan setahun sekali, mulai pukul 09.00 sampai 22.00. Di trotoar sepanjang Gojo St., sekitar 400 pengrajin dan pedagang tembikar memamerkan karya dan dagangannya. Tembikar yang dijual pun beragam, baik model, ukuran, warna, maupun harga. Menurut informasi yang pernah saya baca--entah di mana--, kawasan Gojozaka merupakan pusat kerajinan tembikar sejak lama, dan tembikar yang menjadi ciri khas Kyoto diproduksi di Gojozaka.
Selain kios tembikar, ada juga kios makanan seperti jagung bakar dan takoyaki yang sungguh menggoyahkan iman. 
Kami mampir ke festival ini dalam perjalanan pulang penginapan, karena jarak dari lokasi festival ke penginapan tidak lebih dari 20 meter.

2. Nara tokae
Digelar sejak tanggal 5-14 Agustus 2015, Nara tokae adalah sebuah acara yang cantik: lilin-lilin ditata dan dinyalakan sejak pukul 19.00 sampai 21.45. Diselenggarakan sejak tahun 1999, terdapat beberapa lokasi Nara tokae, semisal di Sarusawaike, Koufukuji, dan Kasuga Taisha. Namun atas alasan kemudahan pulang ke penginapan, kami memilih lokasi terdekat dengan stasiun, yaitu di Nara Prefectural Government Office.
Menjelang pukul 19.00, lampu di sekitar lokasi dipadamkan, ratusan lilin dinyalakan di lapangan kecil depan kantor, air mancur di dekat lapangan dihiasi lampu yang didominasi warna biru, dan panggung kecil untuk hiburan disiapkan di dekat pintu masuk gedung. Banyak pengunjung yang mengenakan yukata, yang sebenarnya sudah tampak berlalu-lalang dan memenuhi jalanan sejak sore hari. Lepas pukul 19.30, ketika langit sudah benar-benar gelap, tampak sebuah antrean mengular di pintu masuk gedung. Ternyata itu adalah barisan pengunjung yang mengantre naik lift ke atap gedung untuk sebuah pemandangan spektakuler: pagoda lima tingkat Koufukuji yang bersinar indah di kejauhan. Selain itu, terdapat sebuah teropong untuk dapat melihat wilayah sekitar. Sayangnya, dari atap gedung tersebut lilin-lilin di pelataran kantor tidak dapat terlihat sama sekali--kalau bisa, tentu menghasilkan sebuah potret yang manis.
Meskipun entah mengapa awalnya saya ingin menyaksikan acara ini di Umikido Gazebo, namun ternyata memilih lokasi di kantor pemerintah Perfektur Nara bukan ide yang buruk. Selain karena dapat melihat puncak pagoda Koufukuji yang menakjubkan, juga karena melihat orang-orang yang silih berganti berfoto di dalam jejeran lilin yang ditata berbentuk hati. Saya bahkan diminta tolong untuk mengambilkan gambar dua gadis yang mengenakan yukata dan berpose berhadap-hadapan di dalam 'lilin hati' (dan saya menyesal tidak mengambil gambar mereka dengan kamera saya).  




Jepang: Tentang Peristiwa ini juga menjadi bagian terakhir dari rangkaian tulisan saya tentang Jepang, setelah Jepang: Tentang Manusia dan Jepang: Tentang Makanan (bepergian 8 hari ternyata hanya menghasilkan 3 buah tulisan yang begini). 
Beberapa waktu sebelum berangkat, sebenarnya saya ingin dapat menulis tulisan semacam catatan perjalanan dalam buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia Jilid 2: Kumpulan Catatan Perjalanan karya Sigit Susanto. Di satu sisi, saya menyukai tulisan Sigit dalam buku tersebut karena Sigit mampu mengisahkan perjalanannya dengan baik, rinci, dan runut sehingga saya merasa ikut hadir dalam perjalanan itu; namun di sisi lain panjang tulisan yang luar biasa dan penuh dengan asal-usul baik lokasi, peristiwa, maupun tokoh membuat informasi yang masuk ke pembaca menjadi terlalu padat. Pun demikian, pada akhirnya saya tidak mampu menulis sebuah catatan seperti yang saya ingin-inginkan: ia tidak baik, tidak rinci, tidak runut, dan tidak padat informasi. 
Seusai ini, saya yang tidak tahu harus mengisi blog ini dengan tulisan macam apa lagi, hanya berharap: semoga ada kesempatan lagi untuk bisa bercerita dengan lebih baik.


21 Agustus 2015

Wednesday, August 19, 2015

Jepang: Tentang Makanan



Berbicara tentang makanan Jepang, tentu sebuah hal yang mengasyikkan. Saya sendiri, ingin rasanya mencoba semua makanan yang dijajakan di kedai-kedai atau di toko oleh-oleh. Namun apa daya, saya tak boleh melakukannya. Kami akhirnya bertahan dengan makan buah segar, memasak sendiri, dan makan di restoran halal. Berikut adalah restoran halal yang sempat kami singgahi:

-    Rose Café, Kyoto
Ini adalah tempat yang tidak kami temukan secara sengaja. Awalnya kami hanya berniat membeli bahan-bahan makanan di toko halal di dekat masjid Kyoto, yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Kyoto Imperial Palace. Saat sedang berjalan, mata saya menangkap sederet tulisan yang tidak asing di depan sebuah kedai: Rose Café. Ini restoran halal! Tanpa pikir panjang, kami langsung masuk ke dalam. Setelah melihat-lihat buku menu, entah mengapa ternyata kami semua memesan menu yang sama: lunch set C yang berisi salad, sup, dan nasi kebab ayam. Saya pikir semua memilih menu tersebut karena ia adalah menu paling murah: 900 yen. Saya sendiri menambah pesanan segelas jus mangga seharga 400 yen. Ketika menu pertama, salad, dihidangkan, tak terbayangkan betapa bahagianya kami dapat makan di restoran (meskipun bukan makanan Jepang). Bahkan sampai semua makanan kami tandas, kami masih memperbincangkan betapa beruntungnya dapat bertemu sebuah kedai halal dalam perjalanan ini. Selepas makan, kami malah gagal berkunjung ke toko halal lantaran kami pergi ke sana sekitar pukul 13.00 pada hari Jumat—toko halal ditutup untuk dijadikan tempat sholat Jumat.

-   Ali’s Kitchen, Osaka
Ali’s Kitchen juga sebenarnya bukan merupakan tujuan kami. Yang ingin kami kunjungi adalah restoran Nazar, sebuah restoran Turki, di kawasan Shinsaibashi. Sayang, saat kami sudah mampu menemukan letaknya, restoran tersebut dalam keadaan tutup. Setelah mengecek kembali situs berisi daftar restoran halal, akhirnya Ali’s Kitchen menjadi tujuan kami karena ia juga terletak di kawasan yang sama. Terletak di lantai B1 gedung Toresu, Ali’s Kitchen cukup penuh pengunjung ketika kami masuk. Untunglah masih ada sebuah meja kosong di ujung ruangan yang muat untuk kami berlima. Di sini, kami memesan menu yang berbeda-beda, namun minuman kami sama: mango lassee (dan saya jatuh hati pada rasanya yang sangat segar). Saya sendiri memesan nasi dengan kari ayam seharga 1000 yen. Ketika kami menunggu makanan disajikan, Ali, pemilik restoran, mengajak kami mengobrol. Ia mengatakan bahwa pegawai KJRI di Osaka, yang jaraknya tidak jauh dari restorannya, sering mampir untuk makan. Ia juga memberi kami bocoran di mana kami bisa memperoleh suvenir murah di sekitar Dotonburi (yang sayangnya tidak ada satupun dari kami yang mengingat lokasinya) dan restoran halal yang menjual masakan Jepang. Kami meninggalkan Ali’s Kitchen dengan sangat berat hati, selain karena tidak tega harus berpisah dengan tempat berpendingin ruangan (musim panas di Jepang cukup melelahkan), juga karena makanan di piring kami masih tersisa banyak (porsinya terlalu besar untuk perut kami T.T).

-   Mr. Halal, Osaka

Tidak seperti dua kedai sebelumnya, Mr. Halal memang sengaja kami kunjungi. Ini merupakan kedai rekomendasi dari Ali, di mana Ali menyatakan bahwa Mr. Halal menyediakan juga masakan Jepang seperti ramen, wagyu beef, dan omurice. Kalau saya, demi omurice, maka saya dengan sangat ikhlas pergi ke tempat ini—entah apa motivasi teman-teman. Kedai sedang sepi saat kami sampai. Ketika buku menu disodorkan, hanya tertulis nama-nama masakan Arab. Sedikit kebingungan, kami bertanya kepada pelayan. Dan beginilah jawaban yang kam terima saat bertanya apakah kami bisa memesan masakan Jepang: maaf, saat ini kami tidak menyediakan masakan Jepang. Saya yang kecewa lantaran gagal makan omurice yang sangat saya dambakan, akhirnya memesan menu Shrimp Creamy (yang ternyata adalah tempura udang, berbeda sekali dengan gambar yang ada di buku menu) seharga 900 yen. Duhai pemilik kedai, janganlah kau cantumkan masakan Jepang kalau kau tak sanggup menghidangkannya karena hanya akan mengecewakan orang-orang seperti kami.

-    Sebuah Restoran Soba, Osaka
Seperti dua tempat pertama, kami juga tidak berencana singgah di restoran soba ini. Pada awalnya saya merencanakan makan di restoran The U-don di bandara internasional Kansai, yang sudah bersertifikat halal. Ketika sampai di lantai 2, kami melihat daftar kedai yang ada, dan menemukan bahwa ada satu lagi kedai yang berlogo halal di bawahnya. Sebab gambar menu yang lebih menarik, kami memutuskan untuk makan di restoran soba ini. Nama restorannya sendiri tertulis dalam kanji yang tidak bisa saya baca, jadi saya tidak mengetahui namanya. Yang bisa saya baca hanyalah kata ‘soba’ yang tertulis dalam huruf hiragana. Restoran yang penuh membuat kami harus menunggu sekitar 15 menit untuk memperoleh tempat duduk. Saya memesan Chicken Katsudon dan Mie Soba (tentu saja saya memilih yang berkuah hangat!) seharga 960 yen yang, lagi-lagi, tidak bisa saya habiskan seluruhnya (saya hanya menandaskan ayam katsu yang sungguh lezat). Pun demikian, lega rasanya, tak ada lagi rasa penasaran akan bagaimana rasa soba.

Untuk sebuah perjalanan singkat, empat di atas rasanya sudah cukup menghibur perut kami di antara konsumsi buah segar dan makanan masakan sendiri. Anehnya, terkadang, ketika sedang berjalan-jalan, mata saya samar-samar melihat gerobak cilok dan es teh di trotoar.


17 Agustus 2015
Dirgahayu Indonesia!


Saturday, August 15, 2015

Jepang: Tentang Manusia


Saya bertemu dengan banyak orang! Ah, tentu saja. Selama saya pergi ke sebuah tempat dimana orang lain juga tiggal disana, tentu saja saya akan bertemu dengan banyak orang. Namun ketika saya berhasil bercakap-cakap dengan banyak orang, selain merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan, hal tersebut bagi saya pribadi juga merupakan sebuah prestasi—karena tak jarang saya sangat pelit bicara. Selain petugas stasiun dan polisi baik hati yang tidak membiarkan kami tersesat, perjumpaan saya dengan orang-orang berikut adalah hal yang patut saya kenang:


-      -   Kakak Sepertiga Harga
Ketika baru sampai di bandara internasional Kansai, kami memiliki dua pilihan menuju Kobe: kapal feri atau kereta, dengan harga yang tentu saja berbeda dan pengalaman yang juga tak sama. Saya cenderung memilih feri, jadi saya langsung menuju loket penjualan tiket feri. Namun ternyata harga feri tersebut belum termasuk harga kereta dari bandara Kobe ke Sannomiya, yang merupakan tujuan kami sebenarnya. Setelah berunding plus dan minus, akhirnya kami memutuskan untuk naik feri. Jam keberangkatan bis dari bandara ke dermaga sudah dekat, sehingga Kakak Sepertiga Harga harus berlari-lari kecil meminta agar bis jangan berangkat dahulu. Saat saya bertanya bagaimana dengan paspor—tiket feri dijual dengan harga lebih murah kepada wisatawan asing dengan syarat menunjukkan paspor—, Kakak Sepertiga Harga berkata bahwa karena waktu yang sempit, kami tidak usah menunjukkan paspor. Ia lantas bertanya kemana tujuan kami di Kobe. Saya jawab bahwa yang jelas kami akan berkeliling kota terlebih dahulu. Kemudian ia berkata bahwa kami bisa membeli tiket terusan bis City Loop dengan harga 200 yen dari harga normal 660 yen, dengan diakhiri, “Naisho de ne. Rahasia ya.” serta sebuah senyuman. Tawaran yang langsung saya sambut dengan segera mengeluarkan selembar uang 1000 yen untuk 5 tiket. Ah, kakak. Kepada siapa pula kami akan bercerita bahwa kami memperoleh tiket dengan harga sepertiga dari harga normal?

-     -    Bidadari di Kyoto
Saya bertemu bidadari di Kyoto! Saat kami bergerombol di depan sebuah denah stasiun untuk mencari pemberhentian bis terdekat, Bidadari itu muncul: seorang ibu berusia awal 40-an yang cantik dan baik hati, menginterupsi kami dengan sebuah pertanyaan, “May I help you?” dengan logat Jepang yang sangat kental. Teman saya menjawab dengan Bahasa Inggris yang membuat si Bidadari nampak kebingungan, yang kemudian saya jawab dengan Bahasa Jepang bahwa kami mencari pemberhentian bis. Ia lantas mengantar kami keluar stasiun menuju pemberhentian bis, menunjukkan bis mana yang dapat kami naiki, dan menunggui kami sampai bis tersebut datang. Ia bertanya bagaimana kesan kami terhadap Kyoto, namun karena saat itu kami baru saja tiba dari Kobe, kami sampaikan apa adanya. Ia lantas mengatakan bahwa bepergian dengan bis di Kyoto kadangkala bukanlah ide yang baik karena lalu lintas terkadang sangat padat dan menyebabkan jadwal bis berantakan.  Saat saya bertanya apakah kami bisa menggunakan kartu prabayar yang sudah kami beli sebelumnya, ia menanyakannya kepada orang di sebelahnya. Setelah memperoleh jawaban, ia menyampaikan bahwa kami bisa memakai kartu tersebut. Saat bis datang dan kami sudah duduk, saya melihat ia bahkan menanyakan hal yang sama kepada pengemudi bis. Lantas ia memberikan tanda OK kepada saya: kartu tersebut dapat dipakai. Setelah bis berangkat, teman saya bercerita bahwa si Bidadari tadi baru saja masuk stasiun, sehingga mungkin saja ia tertinggal kereta demi membantu kami. Mendengar itu, saya sedikit menyesal karena tadi saya kurang dalam ketika menundukkan kepala saya saat berterima kasih.

-      -   Nenek 230 Yen
Bis sedang lengang. Saya memberikan uang 10.000 yen kepada sopir untuk membeli 5 tiket terusan bis seharga total 2.500 yen. Namun sopir menjawab bahwa ia hanya menerima uang pas. Saya mengangguk, kembali ke tempat duduk. Lantas saya mengeluarkan dompet, mencari-cari siapa tahu ada uang pas sejumlah 2.500 yen. Tiba-tiba nenek di samping saya mengangsurkan sejumlah uang koin yang saya duga jumlahnya 230 yen—seharga tiket naik bis untuk satu kali— kepada saya. Saya menolak dengan halus, Nenek 230 Yen tetap memaksa dengan berkata, “ tidak apa-apa, ambil saja ini.” Aduh, bagaimana cara saya menolaknya ya? Kemudian saya teringat kartu prabayar yang saya beli hari sebelumnya, dan berkata bahwa saya sudah memiliki kartu itu, lalu basa-basi bertanya apakah saya bisa menggunakan kartu tersebut—yang sudah saya ketahui jawabannya. Nenek 230 Yen menjawab kartu itu dapat dipakai, lantas ia memasukkan kembali koin-koinnya ke dalam dompetnya. Duhai, baik sekali!

-     -    Kakek Internasional
Setiba di gerbang masuk Kyoto Botanical Garden, seorang kakek petugas menyapa kami. “Good afternoon!” Ia lantas menyuruh kami membeli tiket dari mesin di dekat gerbang. Saat kami sedang mengutak-atik mesin untuk membeli 5 tiket, si kakek bertanya kembali, “where are you from?” Kami jawab bahwa kami dari Indonesia. Si kakek kemudian berbicara kepada rekannya sambil tertawa, “atatta. Tebakanku benar.” Saat saya ceritakan bahwa biasanya orang mengira kami berasal dari Malaysia dan bertanya bagaimana si kakek menebak kami berasal dari Indonesia, si kakek hanya berkata, “nantonaku. Bisa saja.” Lanjutnya, “saya orang internasional,” Kakek Internasional berkata dengan penuh kebanggaan. Ketika kami pulang, saya melihat si kakek bercakap-cakap dengan seorang wisatawan asing dalam bahasa asing (saya menduga mereka menggunakan Bahasa Prancis). Kakek Internasional benar-benar internasional!

-      -   Kakek Sopir Galak
Karena kecerobohan saya, tiket bis terusan saya hilang. Akhirnya saya menyiapkan uang 230 yen yang saya taruh di saku celana saya. Saat turun, saya yang tidak tahu harus memasukkan uang di sebelah mana, rupanya salah memasukkan uang. Sopir tidak berkata apa-apa, hanya memencet sebuah tombol dan meletakkan kembali uang saya di atas mesin. Di belakang saya banyak yang mengantre, jadi saya berdiri agak minggir, mempersilakan mereka turun terlebih dulu. Saya yang tetap tidak tahu harus memasukkan uang dimana, tetap saja berdiri di situ. Kemudian sopir menunjuk-nunjuk satu lubang. Saat saya masukkan, mesin menunjukkan uang yang saya masukkan berjumlah 130 yen, alias masih kurang 100 yen. “Makanya, kalau memasukkan uang harus sekaligus!” katanya dengan dialek Kansai yang khas. Saya menunjuk uang 100 yen di atas mesin yang tadi saya masukkan ke tempat yang salah, sambil berkata bahwa itu uang saya. “Mana mungkin ini uangmu. Ini uang penumpang tadi yang cuma memberi 100 yen!” Kemudian saya tetap berdiri, kebingungan. “Lalu bagaimana?” Tanya saya. “Ya sudah! Ya sudah!” Kakek Sopir Galak menunjukkan ekspresi yang tidak enak. Saya lantas turun, dan mengasihani diri saya sendiri. Seandainya saya bertemu Nenek 230 Yen saat itu, mungkin ia akan menyelamatkan saya dari Kakek Sopir Galak.

-     -    Kasir Chang
Sekitar 50 meter dari penginapan, ada minimarket Lawson yang selalu kami sambangi tiap malam demi membeli air mineral kemasan 2 liter seharga 98 yen. Saat saya baru saja mengambil botol saya dan mendekati kasir, di depan saya adalah dua kawan saya yang sedang mencari-cari uang di dalam dompet. Kemudian saya dengar kasir berkata dalam Bahasa Indonesia, “Seratus sembilan puluh enam yen.” Saya lihat di dadanya sebelah kanan tersemat label nama bertuliskan Chang. Saat tiba giliran saya, saya bertanya dalam Bahasa Jepang, bagaimana Kasir Chang bisa berbahasa Indonesia. Dia menjawab, “Saya orang Indonesia. Emm.. lebih tepatnya, keturunan Indonesia.” “Campuran?” Tanya saya. Kasir Chang mengangguk. “Campuran mana?” Kasir Chang menjawab, “Indonesia dan Taiwan.” Setelah saya menerima struk dan uang kembalian, saya berkata pada Kasir Chang dalam Bahasa Indonesia, “Terima kasih.”

-     -    Mbak Aichi
Seorang perempuan Jepang membuka pintu depan penginapan dan bertanya sesuatu kepada teman saya, yang dijawab dengan, “Sorry, I can’t speak Japanese.” Saya kemudian bertanya ada apa, dan ia bertanya dimana ia bisa menemui Kousuke, pemilik penginapan. Saya katakan bahwa Kousuke ada di lantai 4 atau ia akan datang ke lantai 5 jika ada yang memencet bel di meja resepsionis. Tak lama, mbak Aichi masuk lagi bersama Kousuke dan mendapat penjelasan mengenai beberapa hal tentang penginapan, hal yang sama yang kami dapatkan ketika baru datang. Ternyata Mbak Aichi merupakan tamu penginapan juga, ia mendapat tempat tidur di satu dipan yang tersisa. Saat sedang menunggu giliran mandi, saya sempatkan mengobrol dengan mbak Aichi. Sebenarnya saya tidak tahu siapa namanya—bahkan sampai akhir percakapan saya juga tidak menanyakannnya—, namun karena ia berasal dari Perfektur Aichi, marilah kita sebut dia dengan sebutan mbak Aichi. Saya mengobrol cukup banyak dengannya—mulai dari untuk apa dia datang dari Aichi ke Nara, bagaimana kisahnya menjadi seorang juru masak padahal ia mengambil sekolah dengan keahlian membuat kimono dan tidak pernah mengambil kursus memasak apapun, tradisi Obon yang membuat lokasi Obon jadi sangat padat, sampai apakah saya dan teman-teman tidak kepanasan mengenakan pakaian yang tertutup di tengah musim panas. Tentu saja saya tidak memahami semua perkataannya—dia berkata dengan kecepatan yang luar biasa dan menggunakan kosakata yang tidak saya mengerti—, namun beberapa yang saya ingat adalah: ia datang ke Nara demi sebilah pisau seharga 25.000 yen yang sangat dia inginkan dan toko tempat pisau tersebut dijual hanya ada di Nara; dan ia mengetahui hal-hal tentang Islam dengan cukup baik—ia mengetahui bahwa Tuhan dalam Islam hanya ada satu dan tidak ada yang menyerupai-Nya, bahwa perempuan muslim menutup kepalanya, dan bahwa pemeluk Islam tidak boleh mengkonsumsi babi. Ketika saya ungkapkan bahwa makanan yang paling ingin saya makan di Jepang adalah omurice, Mbak Aichi menjawab dengan santai bahwa dengan demikian tidak ada omurice yang dapat saya makan.

-     -    Kakek Berbahasa Inggris
Berbekal informasi dari petugas stasiun bahwa kami bisa menuju Sumiyoshi Taisha dengan bis, kami naik bis dengan cukup percaya diri. Kemudian saya baru ingat bahwa saya tidak menanyakan di halte mana kami harus turun. Akhirnya saya bertanya kepada seorang nenek yang ternyata juga tidak mengerti. Beliau malah bertanya pada seorang kakek yang duduk di depannya. Si kakek juga tak mengerti, ia menyuruh saya bertanya langsung kepada sopir. Setelah saya meminta tolong kepada sopir agar memberitahu nanti saat kami harus turun, saya kembali duduk. Si kakek bertanya dalam Bahasa Inggris, bagaimana kami memperoleh informasi mengenai Sumiyoshi Taisha. Awalnya saya menjawab dalam Bahasa Jepang, namun pertanyaan-pertanyaan berikutnya ternyata juga terlontar dalam Bahasa Inggris. Akhirnya kami bercakap-cakap dengan Bahasa inggris. Yang cukup mengejutkan saya, pelafalan Kakek Berbahasa Inggris ini lebih baik dari yang sering saya dengar. Tak jarang saya sampai harus terbengong beberapa kali demi memahami apa yang dikatakan oleh petugas stasiun dalam Bahasa Inggris—saking anehnya—, namun saya cukup sekali saja mendengar pertanyaan Kakek Berbahasa Inggris seperti, “Where do you learn Japanese?”, “Where will you go after this?”, dan “Where are you from?”.  Kakek sungguh luar biasa! (dan saya agak menyesal tidak bertanya bagaimana Bahasa Inggris si Kakek bisa sedemikian baik).

-     -    Kakek Nishinari
Dengan informasi berupa nomor pintu-keluar stasiun dan alamat, kami mencari penginapan yang sudah kami pesan di Osaka. Tepat di pintu keluar, seorang kakek sedang duduk. Saya menyodorkan ponsel saya yang berisi alamat penginapan sambil bertanya apakah beliau tahu lokasi tersebut. Si kakek menggeleng, “Eigo wakaran. Saya tidak mengerti Bahasa Inggris.” Lantas saya bacakan alamatnya, dan beliau berkata, “Ini daerah Nishinari. Tapi saya tidak tahu tempat itu.” Setelah mengucapkan terima kasih, perhatian saya dan teman-teman teralihkan oleh sebuah mesin penjual minuman seharga 40 yen per botol—harga minuman termurah yang pernah kami lihat adalah 100 yen, jadi kami cukup ndeso melihat harga 40 yen ini. “Apakah kalian mencari hotel?” Kakek Nishinari kembali kepada kami. Saya mengangguk. “Apa nama hotelnya?” setelah saya sebutkan, ia berkata, “kalau hotel itu, ia ada di situ.” Kakek Nishinari menunjuk sebuah plang bertuliskan nama penginapan yang kami cari, yang ternyata hanya berjarak 20 meter dari pintu keluar stasiun. Aha! Kakek Nishinari, terima kasih!

Sebab orang-orang di atas, saya menjadi cukup waras selama berada di sana. Meskipun saya hampir menangis selepas dimarahi Kakek Sopir Galak, namun sepuluh menit kemudian saya bisa tersenyum karena bertemu Kasir Chang. Tentang manusia-manusia, memang selalu ada-ada saja.


15 Agustus 2015
Terlambat sehari untuk mengucapkan Selamat Hari Pramuka!

Tuesday, August 11, 2015

Perjalanan


Perjalanan, katanya, mampu membuat seseorang menemukan dirinya sendiri. 
Tentang diri yang ternyata maunya begini, senangnya begini, tidak suka begini, benci begini. 
Dulu, saya agak menyangsikan pernyataan pertama di atas. 
Sebelumnya saya juga tak jarang melakukan perjalanan, baik jarak dekat maupun jarak jauh, baik sendiri atau bersama entah siapa, namun saya tak pernah merasa ada manfaatnya dari segi pribadi. 
Selain senang karena koleksi foto bertambah, daftar lokasi yang bernah disambangi juga bertambah, serta beberapa hal kecil, saya merasa perjalanan adalah sebuah hal biasa. 
Namun perjalanan kali ini, meskipun belum berakhir, saya merasa ada yang berbeda. 
Perjalanan kali ini tidak sama. 
Beberapa kenyataan yang sungguh berbeda dengan rencana menimbulkan sedikit percikan bahkan letupan, meskipun kecil, dalam kami sendiri. 
Letupan dalam kami yang membuat saya semakin mengerti dan memahami bagaimana saya sebenarnya. 


Ditulis untuk mengusir kantuk.

Menuju Yamatoyagi setelah hari yang pendek namun melelahkan, 
10 Agustus 2015, 17.49 JST 

Monday, June 8, 2015

Selamat Berbahagia, Dien


"Cung, akhir Mei kamu ada acara nggak?"
"Mmm… Nggak ada kayaknya. Kenapa? Mau main ke Solo?"
"Hehe. InsyaAllah temenmu ini akan menggenapkan separuh diennya Cuung."

Saya masih ingat jelas percakapan via whatsapp tersebut, meskipun saya rutin mengosongkan riwayat percakapan—hape saya masih keluaran lama yang sering sekali memberi peringatan bahwa memori penuh kalau saya tak
menghapus riwayat percakapan.

Cung adalah panggilan kami berdua. Saya memanggil dia Cung, dia memanggil saya Cung. Untuk urusan ini, saya tidak terlalu ingat bagaimana awalnya dan apa asbabun nuzul-nya. Mungkin karena kami sama-sama berasal dari Jawa Timur. Saya Gresik, dia Malang (di daerah saya, ‘cung’ biasa digunakan untuk memanggil anak kecil). Dua kota (eh Gresik itu kabupaten ding, bukan kota) yang sangat berkebalikan dalam hal cuaca dan suhu udara, namun tidak berbeda jauh dalam hal bahasa. Karena logat yang sama-sama “lumayan kasar” itu, tak sulit bagi kami untuk berkomunikasi.

Perjumpaan kami sangat sederhana: kami satu kelompok ketika orientasi mahasiswa baru. Kalau bahasa di kampus kami: satu kelompok pas Dinamika. Setelah Dinamika usai, kami masih ditakdirkan bersama karena ternyata kami ada di kelas yang sama.

Sejak itu, tak terhitung berapa kali saya duduk sebangku, mengerjakan tugas, pergi ke suatu tempat, atau diskusi banyak hal dengannya. Namun begitu, meskipun sering belajar bersama, saya tak pernah bisa menyaingi keenceran otaknya. Saya yang memang dari sononya malas mikir dan bodoh ini, cuma manut sama buku. Kalau bukunya bilang A, ya A. Kalau bukunya bilang jurnalnya adalah Account Receivable pada Sales revenue, ya itulah yang saya ikuti. Tapi tidak dengannya. Ia selalu bertanya, kok jurnalnya begini padahal logikanya begitu, kok jumlahnya bisa sekian padahal seharusnya angka yang ini tidak dimasukkan dalam perhitungan, dan sebagainya. Dan lucunya, dia bertanya begitu pada saya. Kalau sudah begitu, saya hanya menjawab, "lha itu bukunya bilang begitu." Kemudian ia cuma diam dan cemberut. Esoknya, dia s
udah kembali dengan jawaban atas pertanyaannya.

Tak jarang saya mampir di kamar kosnya dan berlama-lama di sana. Cerita kami seakan tak pernah habis. Salah. Lebih tepatnya, ceritanya tak pernah habis. Ia, yang sanguinis dan aktif berorganisasi, memiliki banyak teman dan mengenal banyak orang. Jadwalnya selalu penuh. Seratus delapan puluh derajat berbeda dengan saya yang lebih sering di kosan dan cuma nonton drama Jepang ini. Dan seperti kebanyakan manusia sanguinis, ia sangat menyenangkan namun sedikit menyebalkan: tidak ingat hal-hal kecil namun manis, sebut saja macam tanggal ulang tahun. Jangankan ulang tahun saya—yang belum lama masuk di kehidupannya—, ulang tahun ayah, ibu, kakak, dan adiknya saja dia tak ingat.

Tahun-tahun berikutnya, kami tak pernah lagi sekelas. Ia bahkan pindah kos ke tempat yang lebih jauh. Namun toh kami masih sering belajar bersama—tentu saja ia yang mengajari saya. Kami juga tak putus keluar bersama. Seperti ketika saat itu kami berencana membeli kado untuk seorang sahabat kami, Dhiqi. Rencananya kami akan membeli kado di Taman Puring. Karena menggunakan angkutan umum adalah sesuatu yang tidak bersahabat dan sangat membuang waktu, kami putuskan untuk meminjam motor salah satu temannya. Kekhawatiran bahwa tidak ada di antara kami yang mengetahui jalan kami tepis dengan berpikir, toh nanti kami bisa mengekor metromini yang melewati Taman Puring. Bisa ditebak, perjalanan itu hanya berakhir dengan muter-muter entah di mana, sampai hari gelap dan saya terlalu takut untuk berkendara di Jakarta dengan motor pada malam hari. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Malam itu kami dan dua sahabat lain, Fika dan Ima, memberi kejutan pada the birthday boy, namun saya tidak ingat apa yang kami berikan sebagai kado.

Ketika sudah memasuki masa-masa bekerja, intensitas pertemuan kami menjadi jauh berkurang. Padahal cuma Kramat-Rawamangun alias Jakarta Pusat-Jakarta Timur, tapi rasanya itu sudah jauh sekali. Memang jarak bukan satu-satunya masalah. Audit sana-sini, pengajian rutin, dan bazar ini-itu yang diurusnya juga membuat jadwal akhir pekannya penuh, sehingga harus bertanya agendanya jauh-jauh hari agar bisa sekedar ngobrol ngalor ngidul atau pergi ke pameran buku.

Akhir Januari lalu, menjelang saya pindah ke Solo, kami berjanji untuk menyempatkan diri, bertemu di Thamrin City. Btw, saat itu saya sudah hampir tiga tahun di Jakarta namun belum pernah sekalipun pergi ke tempat tersebut. Tidak banyak yang saling kami ceritakan, lebih banyak malah cuma guyon yang tak jelas. Hanya sebuah pesan di akhir pertemuan tersebut: mari tetap saling berkabar.

Dan akhir Maret, itulah kabar darinya yang saya terima. Bahwa ia akan menikah di akhir Mei.

24 Mei 2015, saya datang ke Malang, menyaksikan senyum leganya setelah selesai ijab qabul, melihat ekspresi bahagianya saat menjalani prosesi adat di pelaminan, menertawai wajah malu-malunya saat bersuapan dengan suaminya, dan memandang wajahnya yang berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya. Hari itu ia menikah dengan seorang senior di kantor.

Ya ampun Cung, sejak lama kamu menggalaukan masalah jodoh dan ternyata jodohmu sudah di situ, duduk di ruangan yang sama denganmu, sejak tiga tahun lalu. Haha.

Selamat atas pernikahanmu, Dwi Maulid Diana. Selamat menjalani kehidupan yang sama sekali baru dengan suamimu Indra Pratama. Futari tomo itsumo shiawase ni naru you ni.



080615
Paling kiri adalah Dhiqi. Sahabat saya yang kerja di DJP tapi nggak pernah nraktir. Bye.

Thursday, June 4, 2015

Sesuatu yang Tergantung di Paku di Pintu Kamar


Ada sesuatu yang tergantung di paku di pintu kamar kosku.

Pintu kamar kosku berwana coklat tua—warna standar untuk sebuah benda bernama pintu. Mulanya ia polos saja permukaannya, tidak ada stiker antikorupsi, stiker try out ujian, atau stiker bacalah basmalah. Hanya polos saja.

Beberapa hari pertama, aku masih tak menemukan masalah dengan pintu kamar kosku yang polos.

Sampai kemudian hujan turun dengan cukup luar biasa sehingga aku harus mengenakan mantel hujan sepulang dari kantor.  Ketika aku sampai di kos dan melepas mantel, muncullah masalah tersebut: di mana aku harus meletakkan mantel ini sampai ia kering? Aku tidak mungkin membawanya masuk ke dalam kamar karena aku tak mau kamarku basah. Aku tidak bisa menjemurnya di luar karena tempat jemuran di rumah kos ini adalah sebuah tempat lapang yang terbuka tanpa atap, yang tentu saja juga ikut ketumpahan air hujan. Aku juga tidak bisa meletakkannya begitu saja di depan kamar, karena bisa jadi ia tidak kunjung kering dan malah meninggalkan bau apek yang sangat kubenci.

Kemudian tiba-tiba aku teringat pada seikat paku yang kuletakkan di bawah jendela—aku tak ingat untuk apa menyimpan seikat paku di sana, namun aku tak pernah berkeinginan untuk membuangnya, siapa tahu ia jadi berguna seperti saat ini. Lantas aku mencari sesuatu yang padat, berat, dan tidak mudah hancur—aku teringat pada batu yang ada di pinggir tempat jemuran, yang aku juga tak pernah tahu siapa yang meletakkannya di situ dan mengapa tak pernah ada yang membuang batu tersebut.

Aku memaku pintu kamar kosku. Mantelku kupasangkan pada gantungan baju, kemudian kugantung di paku di pintu kamar kosku.

Sejak saat itu, pintu kamar kosku tidak polos lagi. Memang tetap tidak ada stiker apapun, namun telah ada sebuah paku yang menancap di tengah-tengahnya.

Bagiku, keberadaan paku di pintu kamar itu sangat bermanfaat. Tadi sudah kusebutkan bahwa ia bisa membuat mantelku menjadi kering dengan menggantungnya di sana. Kadang, ketika teman kosku telah kembali dari luar kota atau apa, mereka meletakkan sekotak bakpia, sekotak pie susu, sebungkus kuku macan, seplastik kue sagu, dua buah bros, atau sebutir apel di dalam plastik dan menggantungnya di sana. Tak jarang, ketika mereka baru pulang malam hari dan malam itu aku tidur cepat, maka ketika pagi harinya aku akan menemukan sebuah kejutan kecil yang indah dan cukup membahagiakan dengan kehadiran barang-barang tadi.

Kadang juga, kalau aku terlalu malas bertemu atau bicara dengan siapapun dan pergi ke manapun sementara perutku sedang lapar, aku melakukan ini: memanfaatkan layanan antar makanan dari sebuah kafe di dekat kosku yang bisa dilakukan cukup dengan SMS—tidak perlu telepon, karena aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun. Nanti mereka akan masuk ke dalam kos, menghampiri kamarku, mengambil uang pas yang kuletakkan dalam sebuah plastik bening dan kugantung di paku di pintu kamar, lalu sebagai gantinya mereka akan menggantung makanan atau minuman—atau keduanya—yang kupesan di pintu kamar.

Di lain waktu, aku sedang ingin menyenangkan diri sendiri dengan mendengarkan musik keras-keras melalui headphone. Dan orang yang mendengarkan musik melalui headphone dengan volume keras, mustahil dia akan diam saja. Mayoritas orang-orang itu akan ikut bernyanyi—meskipun mereka tahu suara mereka tidak cukup indah untuk didengarkan—dengan suara keras. Bahkan mungkin jika ada rombongan geng motor lewat dengan menyalak-nyalakkan motor mereka, niscaya para pengguna headphone tadi tidak akan mendengar apapun selain suara musik yang mereka setel. Begitu pun aku: ikut menyanyikan lagu Bokura no Eien milik band asal Jepang, Weaver, keras-keras, tak mau kalah dengan suara Yuji sang vokalis. Paginya, aku menemukan buku kumpulan cerpenku yang kupinjamkan pada salah satu teman kosku sudah tergantung dalam kantong plastik di pintu kamarku dengan kondisi terlipat sebab sudah semalaman di sana. Aku tak bisa marah pada teman kosku karena kurasa itu juga salahku yang terlalu asyik sendiri.

Kejutan-kejutan kecil yang silih berganti mampir kepadaku melalui paku di pintu kamar membuat hidupku menjadi lebih berwarna. Ketika bangun tidur, aku sering menerka-nerka apakah akan ada sesuatu yang tergantung di pintu kamarku. Apaagi jika malam sebelumnya aku tidur cepat, maka aku bisa menghabiskan beberapa menit untuk menerka-nerka hal yang belum pasti itu—baiklah, kuakui aku memang senang pada hal remeh-temeh macam itu.

Atau jika aku sedang pulang dari kantor, di atas motor aku sering membayangkan aku akan menemukan sesuatu di pintu kamarku. Lebih-lebih jika aku tahu bahwa beberapa hari sebelumnya ada temanku yang pergi ke luar kota, maka lamunanku bisa semakin menjadi-jadi. Terkadang apa yang kubayangkan bisa benar-benar terjadi, namun beberapa kali juga ia meleset.

Seperti ketika Duma, temanku di kamar paling pojok, kembali dari Balikpapan. Sehari setelahnya, ketika pulang, aku membayangkan seplastik besar kuku macan akan mampir di pintu kamarku, menungguku dengan sabar. Dan ketika aku pulang, memanglah ia sudah berada di sana. Langsung aku berlari ke kamar Duma dan berterima kasih atas dirinya yang sudah repot-repot mengisi tasnya dengan seplastik besar penganan kesukaanku itu.

Karena kejutan-kejutan yang juga bisa kutemui sepulang kantor itulah, aku seringkali mendapati diriku mengendap-endap masuk kos. Kamarku terletak di ujung, setelah belokan lorong pertama. Dari lorong, aku akan berjalan pelan-pelan, kemudian dengan lebih pelan lagi aku mengintip melalui lorong, untuk melihat apakah ada kejutan untukku di hari itu atau tidak.

Jika aku melihat sesuatu tergantung di pintu kamarku, aku langsung berteriak senang dan berlari ke arah kamarku, meskipun aku tak tahu apa yang digantung disana. Namun jika tak ada apapun, aku berjalan biasa saja ke kamar, melepas sepatu, dan masuk kamar.

***

Kemarin seorang teman kosku baru saja kembali dari Medan. Kupikir tak terlalu berlebihan jika aku membayangkan ketika aku pulang nanti aku bisa menikmati sepotog dua-potong bolu keju yang lezat itu. Atau alih-alih sepotong bolu, tidak tertutup juga kemungkinan bahwa aku akan menemukan selembar kertas yang ditempel di pintu, bertuliskan: ada pancake durian di kulkas, silakan ambil. 

Kalau benar ada tulisan seperti itu nanti, maka hari ini aku menjadi manusia paling bahagia di muka bumi karena tadi siang aku sudah meneguk segelas besar es durian di kedai dekat kantor—aku memang penyuka durian.

Seperti biasa, aku mengendap-endap  dari lorong sebelum belokan menuju kamarku. Ketika kuintip, aku melihat ada sesuatu tergantung di pintu kamarku.
“Ah, mungkin aku benar-benar bisa membuka stan ramalan di sebuah pasar malam kalau tebakanku sering tepat begini.” Pikirku.

Namun entah mengapa hari itu aku tidak berteriak, aku hanya berlari menuju kamarku demi mengambil apa yang tergantung di pintu.

Sebuah undangan pernikahan.

Tertulis nama teman kosku yang baru kembali dari Medan itu, dan nama seorang laki-laki yang tidak kuketahui.

Kubuka undangan tersebut untuk melihat tanggal berapa aku bisa menghadiri pernikahannya. Namun ternyata mataku lebih tertarik pada nama mempelai prianya.

Di situ ada satu nama lengkap yang sangat kukenal—bertolak belakang dengan nama pendek yang asing di amplop undangan. Nama orang tuanya juga. Asal daerahnya juga. Aku pernah kesini! Aku bahkan pernah diajak menginap di rumah itu dan mengobrol banyak dengan orang tuanya!

Aku memasang headphone, menyalakan lagu dengan volume maksimal, kemudian mengambil paku di bawah jendela kamar dan batu di tempat jemuran, pergi ke kamar teman kosku yang akan menikah tersebut, dan lantas memenuhi pintu kamarnya dengan paku. Rasanya seperti memaku tubuh temanku itu.

Tidak kudengar suara batu yang bertemu dengan paku berulang-ulang. Yang kudengar hanyalah suara Yuji, vokalis Weaver, yang menyanyikan lagu Kanseitou.

Dua minggu lagi kekasihku akan menikah dengan teman kosku ini.



280515