Wednesday, December 14, 2016

Kontes Berbahasa Jepang Kyoritsu 2016 (1) – Flashback, Soal, dan Tema




Ini kedua kalinya saya mengikuti Kontes Berbahasa Jepang (KBJ) Kyoritsu. Tahun lalu saya hanya sampai di babak pidato, tetapi belum berhasil menjadi pemenang kontes. Berbekal pengalaman tahun lalu, kali ini saya dapat lebih mempersiapkan diri. Target saya sebenarnya sederhana: saya sendiri paham apa yang saya sampaikan saat pidato.

Acara dimulai pukul 12.00, sama seperti tahun kemarin. Sebenarnya pada surel konfirmasi yang dikirim oleh panitia, tertulis waktu dimulainya acara adalah pukul 11.00. Barangkali karena panitia sangat paham dengan jam karet orang Indonesia, maka waktu pelaksanaan pada pemberitahuan dipercepat satu jam. Bagi para peserta yang datang sesuai pemberitahuan, panitia memutarkan video yang diambil saat pemenang tahun lalu berwisata ke Jepang. Video tersebut berdurasi sekitar 20 menit, jadi tentu saja ia diputar lebih dari sekali.

Pukul 12.00 tepat, panitia memulai acara yang dibuka dengan pidato super ringkas oleh salah satu juri. Setelah itu Ibu Tomoe Sakamoto (Mbak Ueno Juni versi KW super) maju ke podium dan mulai membacakan tata tertib babak pertama.

Jenis lomba pada babak pertama ini tidak berubah dari tahun lalu. Terdapat tiga puluh soal, 27 soal berupa pilihan ganda dengan pilihan A, B, C serta 3 soal berupa menjawab soal dengan petunjuk gambar. Soal dibacakan dua kali dengan tempo sedang dan pengucapan yang jelas sehingga mudah ditangkap.

Selepas babak pertama selesai,  peserta dipersilakan keluar ruangan untuk beristirahat dan memberikan waktu bagi panitia untuk menata ulang meja dan kursi, sementara dewan juri memeriksa lembar jawaban. Sekitar pukul 13.30, peserta dipanggil kembali masuk ke ruangan untuk memperoleh pengumuman mengenai siapa saja yang masuk ke babak pidato. Dengan kriteria nilai minimal 70, terdapat 17 peserta yang masuk ke babak pidato.

Untuk babak pidato, aturan mainnya pun sama dengan tahun kemarin, dan pernah saya tuliskan di sini.

Pada babak pidato ini, ada beberapa hal yang menarik perhatian. Jika tahun lalu seluruh peserta maju setelah mengangkat tangan, tahun ini, ketika masih ada sekitar setengah dari peserta yang belum maju, tidak ada satupun yang mengangkat tangan. Dewan juri cukup lama juga menunggu aksi sukarelawan peserta mengangkat tangan, sampai akhirnya mereka memutuskan memanggil peserta secara acak untuk maju menyampaikan pidatonya. Selain itu, tak sedikit peserta yang masih berstatus pelajar. Bahkan ada seorang peserta yang masih SMP tetapi sudah cukup lancar berbicara bahasa Jepang. Ketika juri bertanya bagaimana dia belajar bahasa Jepang, ia menjawab bahwa ia sangat menyukai anime dan banyak belajar dari situ.

Setelah menyampaikan pidato, sementara menunggu juri berdiskusi mengenai pemenang, para peserta serta pengunjung (atau pendukung?) dihibur dengan penampilan pertunjukan angklung dari Universitas Al Azhar. Ada tiga lagu yang dimainkan, yaitu Kokoro no Tomo milik Mayumi Itsuwa, lagu latar Doraemon, dan Wa ni Natte Odoro milik grup V6. Saya termasuk salah satu yang sangat gembira begitu menyadari ada lagu V6 yang dimainkan, apalagi dengan alat musik angklung.

Juri kembali memasuki ruangan beberapa saat setelah pertunjukan angklung berakhir. Salah satu dewan juri memberikan sedikit kesan mengenai kontes kali ini, yang dilanjutkan dengan pemanggilan nama-nama pemenang. Lima orang pemenang dipanggil satu per satu untuk diberikan piagam. Setelah itu, peserta yang masuk babak pidato juga dipanggil satu per satu untuk menerima bingkisan. Acara kemudian diakhiri dengan berfoto bersama.

Nah, kalau ada yang bertanya-tanya, bagaimana jenis soal yang keluar serta apa saja pilihan tema pidato tahun ini, di bawah ini saya menulis ulang beberapa soal yang berhasil saya ingat. Untuk tema pidato, saya menyalinnya dari lembar kertas yang diberikan panitia.

SOAL PENGETAHUAN UMUM (BABAK PERTAMA)
1
Manga tertua sudah ada sejak jaman?

a. Edo
b. Heian
c. Showa
2
Perdana menteri sekarang adalah

a. Abe ...
b. Abe Shinzo
c.  Abeno ...
3
Periode sekarang adalah?

a.  Showa.
b. Taisho
c.  Heisei
4
Kegiatan mencari kerja disingkat apa?

a.  Shuukatsu
b. Tonkatsu
c.
5
Artis dengan penonton konser terbanyak tahun 2015 adalah?

a.  Mr Children
b.  Arashi
c.  Exile
6
Yang pernah jadi shogun adalah?

a.  Oda nobunaga
b.    
c.  Tokugawa Ieyasu
7
Pemenang M-1 Grand Prix tahun lalu adalah?

a.  Ginshari
b. Jarujaru
c.  Trendy Angel
8
Perfektur yang populasinya paling sedikit adalah?

a.  Kumamoto
b. Tottori
c.  Kanagawa
9
Ada berapa total jalur kereta bawah tanah yang melintasi 23 distrik di Tokyo?

a.  7
b. 17
c.  27
10
Berapa persentase jumlah orang yang berusia 65 tahun ke atas di Jepang?

a.  17%
b. 27%
c.  37%
11
Apa sebutan untuk baju berlengan panjang yang dipakai oleh perempuan muda ketika hari upacara kedewasaan?

a.  Furisode
b.     
c.  Yukata
12
Apa nama maskot yuru-kyara dari Perfektur Kumamoto?

a.  Kumamon.
b. Doraemon
c.
13
Hari libur nasional yang baru ditetapkan pada tahun ini adalah?

a.
b.
c. Hari gunung
14
Yang manakah logo olimpiade tokyo 2020? (terdapat pilihan tiga buah logo)




15
Gambar di samping disebut? 






TEMA PIDATO (BABAK PIDATO)
1. 日本を訪れる観光客を増やすために、日本政府あるいは日本人はどうしたらいいと思いますか。具体的なアイデアを話してください。
2.
日本のアニメを見て、「日本らしい」あるいは 「日本人らしい」と思う場面や主人公の考え方を見たことがありますか。理由やエピソードとあわせて話してください。
3.
あなたの好きな漢字一文字は何ですか。それが好きな理由をエピソードとあわせて話してください


Semoga berguna ^^

Sunday, August 28, 2016

Jakarta dan Kentang


Kentang disebut-sebut berasal dari dataran tinggi Andes di wilayah Amerika Selatan. Setelah kedatangan Colombus di kepulauan India barat sekitar tahun 1492, orang Spanyol membawa kentang ke wilayah Eropa. Di Perancis, tanaman ini dikembangkan karena bunganya dipandang memiliki nilai estetika.

Kentang masuk ke Jepang sekitar 400 tahun lalu. Orang Belandalah yang mengangkut kentang dari Jakarta, Indonesia. Nampaknya karena itulah umbi ini lantas disebut “jagataraimo” (umbi jagatara), yang kemudian berubah menjadi “jagaimo”.

*kentang=jagaimo (Bahasa Jepang)


Diterjemahkan dari じゃがいもの歴史 (Sejarah Kentang), buku 中級を学ぼう, terbitan スリーエネットワーク tahun 2011.

Semoga ada yang dapat mengisahkan bagaimana Jakarta (Bahasa Jepang: Jakaruta) bertransformasi menjadi Jagatara.
280816

Friday, August 19, 2016

Barangkali Ini Sebab Ia Jarang Berkata-kata Akhir-akhir Ini

Bicaranya jarang-jarang. Sudah empat tahun dia tinggal di sini, tapi Bahasa Indonesianya masih terpatah-patah. Padahal setahu saya ia sangat bersemangat belajar Bahasa Indonesia, apalagi di tahun pertama dahulu. Memasuki tahun keempat, ia yang seharusnya sudah mampu berbahasa Indonesia dengan lancar, justru semakin pelit berkata-kata. Hitunglah sendiri berapa kali ia berucap dalam sehari, kalau kau tak percaya.

Pekan lalu ia menghampiri saya, mengangsurkan selembar kertas, sambil berkata, “wawancara televisi.” Dua kata itu tak membuat saya mengerti apa maksud pembicaraannya, jadi saya langsung membaca kertas yang ia berikan.

Ia diminta menjadi narasumber suatu acara televisi yang membahas mengenai bagaimana Islam di berbagai negara.

Lima menit lagi acara dimulai. Sejak satu jam yang lalu televisi di rumah sudah saya nyalakan, meskipun saya tidak melulu duduk di depannya karena hal itu tak membuat acaranya dimulai lebih cepat.

Rupanya ada tiga orang narasumber yang dihadirkan. Masing-masing dari Uzbekistan, Mesir, dan Suriah. Saat diperkenalkan oleh pembawa acara, narasumber dari Uzbekistan dan Mesir memperlihatkan senyum di wajah mereka sambil menghadap kamera, tapi tidak begitu dengannya. Padahal sebelum berangkat tadi ia sudah saya ingatkan untuk mengendurkan wajah. Saat perkenalan itu, wajahnya disorot dari dekat, di sampingnya ditayangkan foto keluarganya—ayah, ibu, adik, dan ia sendiri—, di bawahnya dituliskan nama, asal negara, serta telah berapa lama ia tinggal di Indonesia.

Tak berapa lama setelah itu, ia mendapatkan pertanyaan pertama mengenai apa yang membuat ia menyukai Indonesia, yang hanya dijawab pendek saja. Pembawa acara kembali mengejar, tetapi lagi-lagi hanya jawaban pendek yang keluar. Saya pikir ia menjawab pendek begitu sebab ia harus berbicara dalam Bahasa Indonesia, tetapi saya tampik sendiri pikiran itu. Jawaban semacam, “saya jatuh cinta pada rendang sejak gigitan pertama waktu saya berkunjung ke sini dua belas tahun lalu, ketika itu saya menjadi relawan tsunami Aceh. Seperti jatuh cinta pada seorang gadis, saya terus memikirkan rendang itu sampai akhirnya empat tahun lalu saya mulai tinggal di sini,” seharusnya dapat ia sampaikan dengan lancar seperti ceritanya dahulu, bukan hanya “saya suka” yang ia katakan.

Barangkali sebab jawaban pendeknya di awal acara, ditambah dengan wajah muramnya yang bisa menambah kemuraman pemirsa, pembawa acara dan juru kamera lebih banyak berbincang dengan gadis cantik asal Uzbekistan dan pemuda dari Mesir.

 “Terkait kondisi dalam negeri di Suriah, Anda yang tinggal jauh dari negara Anda tentu khawatir dengan hal tersebut.”

Lima menit lagi acara ini akan berakhir, dan akhirnya ia mendapat perhatian dari pembawa acara.

“Anda berasal dari Aleppo?”

“Iya,” ia mengangguk.

“Aleppo adalah kota tempat terjadinya perang, bukan?”

Juru kamera menyorot wajahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam.

“Benar. Baru-baru ini ada rumah sakit yang dibom. Dalam sehari ada 250 nyawa yang hilang. Di Aleppo hanya ada satu orang dokter anak, dan Rusia telah membunuhnya....” Kalimatnya patah-patah. Suaranya tercekat. Matanya berkaca-kaca.

“... maka dari itu saya tak bisa memaafkan Rusia.”

Barangkali ini sebab ia jarang berkata-kata akhir-akhir ini.


190816
Setelah melihat wawancara yang ditayangkan dalam program News Every, stasiun NTV di sini.

Sunday, August 14, 2016

Anggap Saja Epilog (Bagian 2)

Melanjutkan post sebelumnya di sini, ini adalah bagian terakhir dari rangkaian tulisan mengenai perjalanan ke wilayah Kansai, Jepang, setahun lalu. 

3.       Tentang Rusa di Nara
Heijo Palace
Jangan mempercayai jarak yang disampaikan oleh orang Jepang dalam ukuran menit, misalnya jalan kaki 15 menit, karena itu tidak berlaku bagi orang Indonesia—atau setidaknya bagi kami. Menurut keterangan di situs penginapan, Heijo Palace dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari penginapan selama 15 menit. Nyatanya, kami memerlukan waktu sekitar 50 menit berjalan kaki di pagi hari menuju Heijo Palace, itu pun belum benar-benar dekat dengan istananya. Kami hanya melihat dari jauh, dan menyerah pada terik matahari yang jelas akan membakar kami di area lapang terbuka di sekitar Heijo Palace.

Nara Park
Tidak sampai satu kilometer dari stasiun Kintetsu Nara, rusa-rusa sudah tampak berjalan-jalan di trotoar, rambu bergambar rusa yang kira-kira memiliki arti “awas rusa lewat” tampak terpasang di sisi jalan raya, beberapa orang mengenakan celemek dan topi putih menjaga lapak mereka yang berjualan senbei—bukan wortel seperti di KRB— untuk pakan rusa, dan beberapa anak terlihat menangis sambil berlari ketakutan menjauhi rusa. Rusa-rusa di Nara Park, selain memiliki penciuman yang sangat tajam— dibuktikan dengan tetap mendekati orang yang telah memberikan senbei namun sebenarnya sudah tidak memegang senbei lagi, juga cukup rakus—beberapa dari mereka terlihat memakan kertas pamflet yang dipegang oleh pengunjung. Peta Nara yang dipegang salah satu teman saya juga menjadi korban dimakan rusa hingga tinggal separuh.  

Koufukuji
Koufukuji benar-benar berada persis di belakang Nara Park. Ada dua pagoda, yaitu lima tingkat dan tiga tingkat. Pagoda lima tingkat bisa dinikmati pengunjung secara gratis, sedangkan untuk dapat menyaksikan pagoda tiga tingkat pengunjung harus membayar tiket masuk karena ia berada di kompleks dalam. Dan kami, lebih memilih untuk berada di luarnya saja.

Yoshikien
Rumah dan taman gaya Jepang di dalam Yoshikien
 Berbekal peta, kami menuju Taman Yoshikien. Taman Yoshikien adalah taman yang berbatasan dengan Taman Isuien. Bedanya, wisatawan mancanegara bisa masuk dengan cuma-cuma di Yoshikien, sedangkan untuk ke Isuien tetap harus membayar. Kami memasuki Yoshikien, dan langsung duduk-duduk menguasai beranda rumah tradisional yang langsung menghadap taman gaya Jepang yang indah—hanya ada satu orang wisatawan selain kami. Selain taman gaya Jepang, terdapat juga taman lumut, rumah teh untuk istirahat, serta taman bunga yang sayangnya tidak sedang berbunga. 
Di gazebo dekat taman bunga, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan salat, setelah meminta izin kepada seorang petugas yang sedang memangkas ranting. Sejak kami datang sampai kami pergi meninggalkan gazebo, bapak pemangkas ranting itu tak beranjak dari satu pohon: setelah satu dahan dipangkas, beliau mengamati pokok pohon, memotong beberapa daun, memangkas ranting-ranting kecil, mengamati pokok pohon kembali, memangkas ranting, dan begitu seterusnya. Kami hanya heran, butuh berapa lama sampai semua pohon selesai dipangkas?

Todaiji
Rusa tak hanya ada di Nara Park,
tetapi juga di sekitar Todaiji
Dari Taman Yoshikien, kami melalui jalan yang agak menanjak menuju Todaiji. Karena kami tidak masuk dari gerbang utama, maka pemandangan yang terhampar begitu kami datang adalah sebuah kolam berukuran cukup besar dengan satu buah torii berwarna merah menyala di seberang kolam. Kami pun tidak masuk ke Todaiji, hanya berkeliling di seputaran Todaiji saja, yaitu di Kaidan-in.


4.       Cenderamata Gratis dari Mie
Iga Ryu Ninja Museum
Jika melihat foto-foto yang bertebaran di internet mengenai ninja di kereta dan stasiun, maka hal itu benar adanya. Saya menemukan ninja di rak atas di kereta, serta beberapa ninja, baik di stasiun Igakambe maupun stasiun Uenoshi. Jalur kereta dari Igakambe ke Uenoshi ini hanya dilewati oleh kereta ninja, dengan stasiun-stasiun kecil dan persawahan di sepanjang jalur.
Kami sampai di museum Ninja sekitar pukul 9 lewat sedikit, dan masuk dalam rombongan kedua pengunjung museum. Awalnya, pengunjung diajak memasuki rumah ninja, di mana petugas museum yang berpakaian ala ninja menjelaskan beberapa trik yang ada di rumah ninja, misalnya rak yang berfungsi sebagai tangga, tempat mengawasi yang ada di lantai atas, tempat menyimpan barang berharga di dalam lantai, serta pintu berputar. Selama penjelasan, pengunjung diperbolehkan mengambil gambar, namun dilarang merekam video. Setelah sekitar lima belas menit, barulah pengunjung memasuki museum Ninja. 

Mbak pemandu dari pihak museum ninja
menunjukkan tempat penyimpanan rahasia ala ninja
Museum ini memiliki berbagai macam pajangan yang menarik, misalnya rahasia bagaimana ninja berjalan di atas air (yang ternyata menggunakan sandal khusus) dan replika sandalnya, bentuk-bentuk penyamaran ninja menjadi petani atau rakyat biasa, pakaian ninja, bentuk-bentuk shuriken, bagaimana cara ninja memprediksi cuaca dengan melihat tanda-tanda di langit, dan lain sebagainya. Di ujung rute museum, terdapat sebuah tempat penjualan cenderamata, misalnya shuriken dan kartu pos.
Di dalam museum kami bertemu sepasang bocah laki-laki dan perempuan yang memakai kostum ninja, yang tampak lucu dan menggemaskan sehingga kami ajak berfoto bersama. Di luar museum, kami bertemu serombongan turis asing berambut pirangmungkin siswa SMA atau mahasiswa tingkat awalyang memakai kostum ninja, tetapi tampak sangat aneh dan … entahlah.

Ueno Castle
Dekat saja dari museum Ninja, kami menaiki anak tangga yang jumlahnya cukup banyak, dan Ueno Castle sudah ada di depan mata. Ukurannya tidak begitu besar, namun saya baru ingat kalau ia terlihat dari stasiun Uenoshi—mungkin karena ia dibangun di atas bukit. Kami hanya duduk-duduk di kursi luar istana. Ada satu lapak yang menjual es serut sebagai pelepas dahaga bagi pengunjung. Setelah duduk-duduk cukup lama, kami kemudian memutari istana. Dari balik istana, kami bisa melihat wilayah sekitar dari ketinggian. Kemudian selepas itu kami kembali ke stasiun.

Ise Grand Shrine – Geku
Sebenarnya ada dua Ise Grand Shrine, yaitu Geku (luar) dan Naiku (dalam). Geku terletak cukup dekat dari stasiun Iseshi, sedangkan Naiku cukup jauh, tetapi tersedia bus kota yang menuju ke sana. Dari stasiun menuju Geku, kami melewati sebuah kawasan pertokoan dengan jalan yang cukup lebar. Geku tidak terlalu luas, kami mengelilinginya dalam waktu sekitar 20 menit, selebihnya kami beristirahat di tempat istirahat yang dibangun menghadap kolam bergaya Jepang. Terdapat museum di samping tempat istirahat tersebut, namun untuk memasukinya pengunjung harus membeli tiket yang saya lupa berapa harganya.
Di ujung jalan tepat di depan Geku, terdapat pusat informasi wisata—yang juga ada di stasiun Iseshi, padahal jarak keduanya tidak begitu jauh. Kami masuk untuk bertanya barangkali ada tempat yang bisa digunakan untuk salat. Kami tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, tetapi kami diberi bros bertuliskan Mie dengan gambar mutiara, kerajinan khas daerah Toba, Mie.

5.       Akhirnya Tidak Terlewat di Osaka: Tsutenkaku dan Glico Man
Johnny’s Shop
Kalau saya sudah jauh-jauh ke Osaka tapi tidak mampir ke tempat ini, maka saya termasuk golongan orang yang merugi. Terletak di lantai 1 dan 2 gedung Shiroguchi, Johnny’s Shop tidak seperti yang saya bayangkan. Di bayangan saya, selain menjual foto-foto artis yang tergabung dalam manajemen Johnny & Associates, toko ini juga menyediakan cenderamata konser, album, dan CD. Ternyata saya tidak menemukan album dan CD sama sekali. Mengenai cenderamata konser, sepertinya hanya cenderamata dari konser yang sedang berlangsung saja yang tersedia. Karena konser NEWS sudah berakhir pada 6 Agustus, sementara saya baru ke toko ini pada 11 Agustus, maka saya tidak menemukan satupun cenderamata konser NEWS. Akhirnya saya hanya menghabiskan waktu dengan memelototi satu-satu foto NEWS yang dipajang, beberapa foto Hey! Say! JUMP, dan membeli beberapa—entah untuk apa.
Ketika saya datang, keadaan toko cukup sepi. Kabarnya, kalau sedang ramai, pengunjung bahkan bisa memperoleh nomor antrean untuk nanti masuk pada waktu yang telah ditentukan. Selain satu-dua orang bapak-bapak yang menunggu di luar area pajangan foto, yang tampak di area pajangan foto hanya perempuan yang membawa kertas pesanan foto hingga berlembar-lembar, dan telah memilih lebih dari 20 foto untuk dibeli. Dan seperti biasa, tidak boleh mengambil gambar, baik di dalam maupun di luar. Bahkan ketika saya berfoto di luar, saya diperingatkan oleh petugas keamanan untuk tidak mengambil gambar.

Nakanoshima Park
Nakanoshima Park tampaknya bukan tempat yang terlalu terkenal di kalangan masyarakat sekitar. Setelah keluar dari stasiun dan berjalan melewati beberapa blok namun tidak kunjung menemukan taman ini, saya melihat peta area sekitar yang sayangnya ditulis dalam huruf kanji, dan memutuskan untuk bertanya pada seorang kakek yang sedang lewat. Ia bilang tidak tahu taman yang saya maksud. Kemudian lewat dua orang anak seusia SMP, yang ditanyai oleh si kakek. Dua anak perempuan ini juga menggeleng, kemudian mereka melihat peta, dan akhirnya menunjuk suatu titik—yang kemudian saya sadari bertuliskan Nakanoshima Kouen, sambil bertanya kepada saya, “apakah ini yang Anda maksud?”.  Setelah saya sadar bahwa titik itu bertuliskan Nakanoshima Kouen, saya mengangguk dan berterima kasih pada mereka.
Nakanoshima Park adalah sebuah taman berukuran luas yang cukup indah, apalagi jika dikunjungi pada sore hari . Di dalam kompleks taman terdapat satu blok berisi bunga mawar berbagai varietas dengan penataan taman yang simetris, air mancur di pojok, serta tepat bersebelahan dengan sungai. Kami datang saat matahari sedang bersinar sangat terik, dan keindahan taman jadi berkurang karena tidak ada pohon besar di taman, terutama taman bunga mawar, kecuali di bagian tepi.

Sumiyoshi Taisha
Jembatan yang menjadi ciri khas Sumiyoshi Taisha
Untuk menuju Sumiyoshi Taisha, informasi yang saya dapatkan adalah saya cukup turun di stasiun Sumino Kouen dan disambung berjalan kaki sampai lokasi. Di stasiun Sumino Kouen, saya menanyakan arah menuju kuil kepada petugas stasiun. Ia berkata bahwa saya harus naik bus lagi dari terminal, dan untuk menuju terminal kami bisa berjalan kaki. Ia memberikan selembar peta wilayah yang dilengkapi nomor bus beserta rute dan halte pemberhentian, dan mewanti-wanti saya nomor bus yang bisa saya naiki menuju kuil. Berbekal peta tersebut, kami menuju ke terminal—dan harus tersesat juga. Sesampai di terminal, ada satu unit bus yang hampir berangkat—pintunya sudah tertutup. Saya melihat nomor bus dan menyadari bahwa itu adalah bus yang harus kami naiki. Kami berlari-lari, lalu berhenti di belakang bus. Sopir tampaknya melihat kami, lalu membukakan pintu. Penumpang tak begitu penuh, kami semua masih dapat tempat duduk. Di dalam bus inilah saya bertemu dengan Kakek Berbahasa Inggris.
Setelah turun dari bus, kami menyeberang jalan, dan melewati sebuah taman cantik penuh bunga warna-warni bermekaran: putih, merah, kuning, ungu. Banyak anak-anak kecil bermain di area bermain. Kami berfoto sejenak di taman, lalu bergegas menuju kuil mengingat waktu sudah hampir pukul lima sore. Kami menaiki jembatan besar yang tersusun dari kayu yang menjadi daya tarik Sumiyoshi Taisha, kemudian berjalan menyusuri sungai kecil lalu masuk ke dalam kuil. Tak ada karcis yang harus ditebus untuk memasuki Sumiyoshi Taisha. Baru semenit di dalam, benar saja, petugas kuil sudah mengingatkan pengunjung karena kuil akan tutup pukul lima. Kami mempercepat langkah melewatkan jajaran bangunan-bangunan kecil berwarna merah di dalam kuil, kemudian keluar kuil. Di pintu keluar, kami menemui serombongan wisatawan asing yang tak bisa lagi masuk sebab waktunya sudah habis. Mereka akhirnya hanya berfoto-foto di sekitar jembatan.

HEP
Sebenarnya HEP sudah kami kunjungi sebelum kami mampir ke Johnny’s Shop, tetapi karena kami merasa saat itu masih terlalu siang, jadi kami menukar urutan lokasi kunjungan. Tak ada tujuan lain di HEP selain menaiki bianglala raksasanya berwarna merah terang. Setelah naik lift sampai ke lantai teratas, kami membeli tiket seharga 500 yen di mesin penjual. Setelah itu, sebelum naik bianglala, kami dipersilakan berfoto bersama di sebuah area foto dengan latar tulisan HEP. Tiap kereta berisi empat orang; karena kami berlima, kami terpisah dalam dua kereta berisi dua dan tiga orang. Durasi naik bianglala ini adalah sekitar lima belas menit. Dari puncak ketinggian, tampak gedung-gedung di sekitar area HEP.
Begitu waktu habis dan kami turun dari bianglala, di depan pintu keluar terdapat sebuah stan yang menawarkan hasil cetak foto kami sebelum naik bianglala tadi. Foto tersebut dijual bersama dengan pigura kertas, mirip cenderamata foto ala resepsi pernikahan. Per lembar foto dan pigura dijual seharga 1.200 yen.


Tsutenkaku Tower
Bicara mengenai Osaka, tentu tak bisa lepas dari Tsutenkaku. Menara yang juga dapat menunjukkan prakiraan cuaca esok hari melalui warna lampunya ini jelas tak akan kami lewatkan dalam daftar kunjungan.
Kami sampai di Tsutenkaku sekitar pukul tujuh malam lewat, setelah melintasi deretan kios-kios yang menjajakan dan memajang banyak hal. Karena sudah cukup malam dan kami memang tidak berniat naik ke atas menara, jadi kami hanya berfoto beberapa ratus meter di depan Tsutenkaku saja, lantas kembali ke penginapan. Kami bahkan tak sempat mampir ke Shinsekai, kawasan pertokoan yang terkenal di dekat Tsutenkaku. 

Minoo Park
Air terjun Minoo, dari menara pandang

Alasan saya memasukkan Minoo Park dalam daftar kunjungan adalah karena ingin melihat wisata alam, bukan melulu bangunan buatan manusia. Kami berangkat cukup pagi dari penginapan, dan sampai di stasiun Minoo, stasiun terdekat dengan Minoo Park, sekitar pukul 8.30. Keluar dari stasiun, kami langsung berjalan mengikuti arus orang-orang. Tak jauh dari stasiun, segera dapat dilihat sebuah papan berisi informasi Minoo Park dalam Bahasa Jepang, Inggris, Mandarin, dan Korea yang menyebutkan bahwa taman ini sudah ada sejak 1.300 tahun lalu.
Pemandangan pun sudah mulai berubah: banyak pohon dan aliran sungai, dengan suara gemericik air. Makin masuk ke dalam, suasana menjadi semakin sunyi, karena tak banyak kendaraan bermotor yang lewat. Kebanyakan orang berjalan kaki. Tak jarang saya melihat orang berusia lanjut berjalan dengan menggendong tas ransel kecil berisi botol minum di saku bagian samping, mengenakan topi, pakaian olahraga, serta sepatu kets. Nampaknya banyak yang memanfaatkan jalur tersebut untuk berolahraga. Hal itu tidak mengherankan, sebab dari papan informasi sampai air terjun berjarak sekitar 7 km, dengan papan kecil terpasang di sepanjang perjalanan yang menginformasikan jarak tersisa menuju lokasi air terjun. Teman saya bahkan tak melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk menunggu di dekat stasiun sebab jarak tersebut.
Di ujung jalan, terhampar air terjun setinggi sekitar 20 meter dengan airnya yang jernih. Sekitar sepuluh meter di depannya, dibangun tempat yang lebih tinggi dengan beberapa tempat duduk panjang yang terbuat dari kayu. Beberapa orang meregangkan otot, beberapa duduk di kursi. Ada juga semacam menara pandang yang sebenarnya hanya berupa sebuah bangunan dua lantai.
Setelah beberapa lama duduk di kursi di depan air terjun dan mengambil beberapa gambar melalui menara pandang, saya kembali dengan mengambil jalan yang berbeda dari jalan berangkat—tiga kawan saya baru sampai di air terjun setelah saya pulang. Saya mengikuti seorang kakek yang melewati jalan setapak di bukit yang memang tersedia dengan pagar rendah dari kayu. Jalan ini lebih menantang daripada jalan utama, karena medannya naik turun. Di tengah jalan, saya menyerah karena mulai lelah dan memutuskan kembali ke jalan utama; sementara kakek di depan saya tadi masih setia dengan jalan naik turun itu.

Osaka Castle
Setelah melewati Taman Morinomiya dan salat di bawah pepohonan di sana, kami menuju ke Osaka Castle. Tampaknya objek wisata ini tak pernah sepi; sepanjang jalan dari taman sampai ke gerbang istana, arus pengunjung tak juga menyurut.
Di depan istana, pengunjung cukup padat. Lokasi terbaik untuk berfoto juga tak pernah sepi. Antrean masuk ke dalam istana pun begitu, sudah mengular. Kami tak punya cukup waktu untuk masuk, jadi kami hanya berkeliling di depan istana. Seorang kawan saya bercerita, ia bertemu dengan tiga pemuda asal Jawa Barat yang bekerja di Jepang setelah lulus SMA; mereka datang ke Osaka Castle untuk berlibur, dan tak henti mengagumi kami yang bisa mengunjungi Jepang dengan stastus mahasiswa. Saya cuma bisa tertawa.

Kyocera Dome
Kyocera Dome adalah objek wisata yang menuruti ego pribadi saya. Saya pun berangkat sendiri ke tempat ini, empat kawan saya lainnya pergi ke Daiso terdekat dari Osaka Castle untuk berbelanja.
Keluar dari stasiun Dome-mae Chiyozaki, saya bertemu dengan banyak sekali orang yang mengarah ke Kyocera Dome. Setelah bangunan tersebut terlihat, keheranan saya terjawab: sedang ada pertandingan baseball di sana. Pantas saja banyak juga yang memakai pernak-pernik terkait baseball. Saya berjalan mengitari Kyocera Dome; melihat antrean pengunjung di depan pintu masuk, jejeran stan yang menjual pernak-pernih berupa kaos, corong pengeras suara, dan lain-lain. Sampai saya beranjak meninggalkan lokasi ini, aliran orang yang muncul dari pintu keluar stasiun ke arah Kyocera Dome masih belum berhenti.

Dotonbori
THE Glico Man!!!
Ada satu tempat yang menjadi penanda khas Osaka: papan reklame raksasa bergambar Glico Man. Letaknya di kawasan pertokoan Dotonbori yang sangat ramai, sehingga sayang untuk dilewatkan. Ketika sampai di sana, sulit rasanya untuk mengambil gambar dengan leluasa karena jembatan dan sepanjang jalan penuh dengan orang. Keramaiannya tak jauh berbeda dengan hari terakhir pasar malam dengan diskon gila-gilaan. Apalagi, keramaian itu rupanya tak hanya berlangsung di jembatan dekat Glico Man, tetapi juga berlanjut di sepanjang jalan kawasan pertokoan. Saat itu rasanya persediaan oksigen di udara hanya tipis sekali sehingga sulit bernapas. Memang tak mengherankan, sebab kawasan ini menjadi lokasi favorit wisatawan untuk berfoto, makan, dan berbelanja.


Menyelesaikan tulisan ini membuat saya sedikit tersadar bahwa berkunjung ke tempat baru selalu memberikan dua perasaan pada saat bersamaan: cemas dan gembira. Keduanya menjadi energi tambahan yang cukup ampuh untuk menambah semangat. Ajaibnya, perasaan itu seakan masih berbekas dengan baik meskipun kunjungan tersebut sudah terlewat sekian lama. Sebab perasaan yang masih berbekas itulah, saya tidak tahu bagaimana harus memberikan akhir pada apa yang saya sebut epilog ini.

040816

Friday, June 24, 2016

Satu Kisah Patah Hati


Seorang penulis sekaligus penyair sekaligus sastrawan sekaligus budayawan—dan beberapa sekaligus lagi yang hampir tak terhingga—pernah mengungkapkan suatu pernyataan dalam sebuah wawancara. Bahwa patah hati akan membuat seseorang jadi produktif menulis. Pernyataan tersebut kemudian, oleh wartawan dan disetujui oleh editor, dijadikan judul berita dan dimuat dalam sebuah koran. Tentu bukan jadi judul utama berita di halaman muka karena bagian itu sudah memiliki penghuni tetap—politikus brengsek, pejabat korup, pelaku kriminal yang kisahnya dinantikan kelanjutannya oleh pembaca setia koran tersebut. Tulisan hasil wawancara tersebut tersempil begitu saja di halaman ketiga dari belakang, di bagian bawah.

Tadi pagi, saat membeli nasi pecel di ibu-ibu penjual nasi banyak macam—ia tak hanya berdagang pecel—di ujung pertigaan jalan, ibu itu mengambil selembar kertas koran yang ukurannya telah menjadi lebih kecil dari ukuran kertas koran sebenarnya. Kertas koran yang kalau dibentangkan panjangnya bisa mencapai 70 sentimeter itu dipotong-potong menjadi delapan bagian. Ibu penjual nasi tentu saja tak hanya memotong selembar kertas koran. Mungkin anaknya di rumah sudah memotongkan kertas koran sepuluh eksemplar, yang kemudian ditumpuk dengan hasil potongan yang lalu-lalu sehingga sudah menjadi setinggi dua bolpoin yang ditegakkan dan ditumpuk. Salah satu bagian dari sekian eksemplar tersebut diambil oleh ibu penjual dan dilapisi daun pisang, diisi nasi, sayur-mayur, serta bumbu pecel. Itu nasi pecel untuk saya. Saya menambahkan dua potong tempe goreng dan satu telur dadar di atasnya sebelum ibu penjual dengan cekatan melipat kertas lantas membungkusnya dan menyerahkannya kepada saya.

Setelah menghabiskan pecel sembari menonton televisi, saya beranjak ke tempat sampah dan membuang daun pisang yang mengalasi nasi pecel saya tadi. Kertas korannya tetap saya pegang, lalu saya kembali ke depan televisi. Teve saya matikan, koran bekas bungkus nasi pecel mulai saya baca. Begitulah ungkapan penulis serbabisa itu lantas sampai di tangan saya.

Lantas saya sedikit merenung. Tak sedikit orang-orang di sekitar saya yang mengalami patah hati. Beberapa di antaranya bahkan sampai patah tulang, sebab mencoba lompat dari jendela kamar. Tapi tak ada yang mengalahkan cerita satu kawan saya. sebenarnya tak terlalu nyambung juga dengan wejangan si penulis, tetapi karena masih ada sedikit sangkut-pautnya, baiklah saya ceritakan saja kisah kawan saya.

Kawan saya yang satu ini bebalnya keterlaluan. Sebenarnya ia pandai saja, tetapi mengenai cinta, ia sungguh bebal.

Pernah suatu kali ia jatuh cinta pada orang yang sama selama sepuluh tahun. Selama sepuluh tahun itu, tak sekalipun hatinya beranjak pada orang lain yang bahkan ada di depan hidungnya. Kepala dan hatinya setiap hari selalu disesaki orang yang merebut hatinya itu. Saking sesaknya, ia jadi bersikap dingin pada orang-orang yang ingin mendekatinya. Senyumnya murah, tetapi bisa mendadak mahal pada orang-orang itu. Hatinya baik, tetapi bisa tiba-tiba buruk pada orang-orang itu.

“Kau tampak seperti orang jahat kalau terus begitu,” sekali waktu pernah saya mengingatkannya demikian.

“Aku cuma tak ingin goyah. Juga tak ingin memberikan harapan awal pada mereka.”

Saya lantas terdiam.

Kawan saya ini,  hanya pernah bertemu empat tahun dengan cintanya itu. Saya masih menganggap tak ada yang aneh kalau ia jadi cuek pada orang lain selama empat tahun itu. Karena kalau saya jadi dia, saya juga bisa jadi begitu. Selepas empat tahun itu, mereka berpisah. Ada jarak sejauh sekitar 850 kilometer yang memisahkan.

Kawan saya, yang pemalu ini, tak pernah bertanya nomor ponsel atau surel atau apapun pada pujaan hatinya itu—sejak awal mereka bertemu sampai tak pernah bertemu. Dengan kata lain, pada enam tahun sisanya ia mencintai orang yang tak pernah berkabar dengannya dan tak tahu ada di mana. Ia tak pernah tahu bagaimana perubahan wajah orang yang entah kenapa selalu bisa ia rindukan itu; mungkinkah keriput dengan cepat menghampirinya, apakah ia orang yang suka menumbuhkan kumis dan jambang, atau apakah rahangnya makin menegaskan bentuk wajahnya. Ia juga tak punya ide apakah 850 kilometer di seberang sana, tambatan hatinya itu sudah memiliki kekasih atau belum.

“Kalau sudah, kau menghabiskan waktu memikirkan orang yang tak memikirkanmu. Rugi.” Kata saya padanya.

“Kalau belum?” sahutnya. Sejak tadi matanya tak beralih dari novel grafis kisah Dalai Lama—yang sebenarnya sudah ia khatamkan berjuta-juta kali—dan tangannya tak henti memindahkan keripik kentang dari bungkus ke mulutnya.

Saya mencari-cari jawaban. Atau mungkin ia tak pernah peduli apakah cintanya di sana itu sudah memiliki kekasih atau belum.

Bagi saya, mencintai orang yang tak ada wujudnya di depan kita dan tak pernah berkomunikasi adalah serupa mencabut pagar balkon dengan tangan kosong: itu mustahil, dan saya bodoh kalau terus mencobanya. Itulah bodohnya kawan saya ini, yang tetap saya sayangi apa adanya walaupun ia keterlaluan bebalnya.

Suatu hari, saat hari masih dini dan matahari baru muncul beberapa jam lagi, saya memperoleh kabar dari kawan jauh saya. Ada berita tentang orang yang selalu dicintai oleh kawan saya selama sepuluh tahun tanpa henti. Dua pekan sebelumnya ia tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Dokter bilang, ada suatu cairan yang harus diambil dari otaknya. Ia dioperasi. Namun tak kunjung sadar.

Ketika hari mulai agak terang, saya berlari ke tempat kawan saya. wajahnya pias mendengar kabar itu. Saya ajak ia duduk, dan saya menyeduhkan teh untuknya. Kawan saya hanya diam saja, mulutnya rapat. Matanya bergerak-gerak cepat. Kedua tangannya mencengkeram celana yang ia kenakan.

“Aku harus ke sana.” Katanya, tiba-tiba.

“Tiket pesawat. Pesankan.” Lanjutnya. Ia lalu berdiri, berjalan menuju lemarinya. mengambil tas ransel, lalu menyambar beberapa helai pakaian dari dalam lemari.

Ponsel saya berbunyi. Saat membaca pesan yang masuk, saya segera tahu bahwa saya harus menyampaikannya pada kawan saya ini.

Kawan saya lunglai. Ia jatuh terduduk. Kedua tangannya menutupi wajahnya, lalu saya dengar senggukan-senggukan kecil yang makin lama makin membesar. Beberapa saat kemudian, bersamaan dengan tangannya yang terbuka dan wajahnya yang terangkat, senggukan itu berubah menjadi raungan yang kencang.

Kawan saya kehilangan orang yang ia cintai selama sepuluh tahun. Hatinya, yang penuh sesak oleh sosok itu, juga dibawa pergi orang tersebut.


240616 

Thursday, June 9, 2016

Anggap Saja Epilog (Bagian 1)

Rangkaian tulisan mengenai memori saya saat mengunjungi Jepang (khususnya wilayah Kansai): tentang manusianya, makanannya, dan peristiwanya, memang sudah saya nyatakan habis. Sejak awal saya memang tidak ingin menuliskan apa saja yang saya lakukan setiap harinya, tempat apa yang saya kunjungi, bagaimana transportasinya, dan lain-lain. Dan saya punya alasan remeh untuk tidak melakukan itu: terlalu mainstream. Namun beberapa hari belakangan saya agak sedih karena mulai lupa kesan pribadi saya terhadap tempat-tempat yang saya kunjungi. Karena foto yang saya ambil tidak akan pernah menceritakan dengan baik apa yang saya rasakan, maka saya memutuskan untuk mengisahkan ini. Anggap saja seperti epilog di akhir sebuah buku cerita.

1.       Melewatkan Landmark Kobe: Kobe Port Tower dan Meriken Park
Masjid Kobe
Masjid Kobe, tampak samping (dok. pri)

Terletak di belakang gedung NHK, Masjid Kobe merupakan masjid pertama di Jepang. Kami sengaja pergi ke masjid Kobe dengan tujuan awal yaitu mencari restoran halal. Memang ada satu restoran India dengan stiker halal di kaca jendelanya, namun membayar 1.200 yen untuk seporsi makan siang di hari pertama kami terasa begitu berat. Akhirnya kami langsung ke masjid yang sangat dekat dengan restoran tersebut.
Masjid Kobe terdiri dari dua lantai. Lantai pertama adalah tempat sholat utama. Selain itu, terdapat juga ruang sekretariat masjid. Saat kami datang, pintu masjid terbuka, namun tidak ada siapapun, baik di tempat sholat maupun di ruang sekretariat. Akhirnya kami mengikuti kertas petunjuk yang ditempel di pintu: jamaah wanita di lantai atas. Luas tempat sholat di lantai atas ini sekitar setengah luas lantai bawah. Terdapat dua kipas angin berdiri yang langsung kami nyalakan. Karpet tebal yang mengalasi lantai masjid langsung membuat tiga dari kami pulas. Di luar tempat sholat, masih di lantai atas, terdapat sebuah lorong yang memiliki tiga ruangan berjejer: tempat wudu, toilet, dan tempat mesin cuci. Di seberang lorong tersebut terdapat sebuah ruangan yang dapat dipakai untuk kegiatan pengajian atau seminar, yang untuk menggunakannya harus seizin pengurus masjid.
Seusai sholat dan beristirahat, ketika kami turun, kami bertemu seorang pria berjenggot yang mengenakan gamis dan peci putih. Beliau, yang ternyata berasal dari Malaysia, adalah muazin yang sempat kami saksikan mengumandangkan azan Asar beberapa menit sebelumnya. 

Kitano Meister Garden
Dari Masjid Kobe, kami harus naik bis City Loop untuk melanjutkan perjalanan. Sungguh tidak ada niat untuk mengunjungi Kitano Meister Garden, namun karena halte bis CityLoop ada di area di belakang gedung ini, jadilah kami terpaksa masuk. Terdiri atas tiga lantai, Kitano Meister Garden, menurut saya, adalah sebuah galeri sekaligus toko seni. Beragam benda yang dijual di lantai satu dan dua, mulai dari makanan, minuman, rajutan, hingga keramik. Yang unik dari bangunan ini adalah lantainya dibuat dari kayu, sehingga berderit-derit kecil setiap ada pengunjung yang lewat. Sedangkan lantai tiga digunakan sebagai tempat pameran yang tidak kami kunjungi karena tidak ada tenaga tersisa untuk menaiki tangga.

2.       Kyoto yang Tak Ada Habisnya
Kiyomizu Temple
Terletak di bukit sehingga harus menapaki jalan menanjak sejauh sekitar 700 meter, Kiyomizudera adalah sebuah tempat yang pertama kali masuk dalam daftar kunjungan saya karena ia muncul dalam film Detective Conan: Meikyuu no Juujiro. Kami berangkat cukup pagi, sekitar pukul 07.30. Jalan menuju Kiyomizudera masih sepi, jejeran toko di dekat kuil pun belum buka seluruhnya, baru beberapa saja. Yang paling saya senangi adalah tiket masuknya yang sangat cocok untuk digunakan sebagai pembatas buku: terbuat dari kertas semacam karton dengan gambar depan Kiyomizudera dan bagian belakangnya berisi tulisan semacam kata mutiara.  
Komplek Kiyomizudera cukup besar, dan karena terletak di bukit, masih banyak ditumbuhi pohon. Saya sempat mengikuti tiga siswa sekolah yang tampaknya sedang berwisata juga. Mereka memasuki semacam gerbang kayu yang jalannya masih dipenuhi batu-batu kecil dan sejauh saya melihat hanya berisi pohon, juga tidak ada petunjuk bahwa akan ada sesuatu di dalam sana. Saya bertanya kepada tiga anak tersebut, “ini di dalam ada apa ya?”. Salah satu dari mereka menjawab,”kami juga tidak tahu, baru kali ini datang ke sini.” Daripada saya jalan terus dan ternyata tidak ada apa-apa di ujung sana, saya akhirnya meninggalkan tiga anak tersebut yang masih terus berjalan masuk ke arah pohon-pohon. Rute yang akhirnya saya ambil melewati kolam ternyata membawa saya kembali ke depan kuil. Karena sebelumnya saya dan teman-teman berjanji untuk bertemu di dalam, akhirnya saya kembali masuk.
Yang saya sayangkan, saya lupa melihat ke arah tenggara untuk melihat sebuah pemadangan yang khas: seharusnya menara Kyoto tampak dari beranda bangunan utama Kiyomizudera.

Yasaka Shrine
Komplek Yasaka Shine tidak begitu besar. Saat kami datang, sepertinya sedang ada sembahyang di bangunan bagian belakang. Terdengar rapalan-rapalan kalimat dibacakan. Beberapa lelaki berkepala botak berpakaian putih, mungkin biksu, nampak mondar-mandir.
Di bangunan tengah, di sekelilingnya terdapat kertas-kertas yang digantung di batang-batang bambu, seperti festival Tanabata. Satu keluarga datang mendekat, terdiri dari seorang laki-laki bertampang Eropa namun berbicara dalam Bahasa Jepang dengan seorang perempuan berwajah Jepang, seorang anak laki-laki, dan seorang anak perempuan. Dua bocah ini kemudian masing-masing menulis pada selembar kertas yang telah disediakan. Keduanya menulis hal yang sama seperti yang telah didiktekan oleh ibunya: semoga aku bisa memperoleh sabuk hitam. Namun si bocah perempuan, yang sepertinya adik dari bocah laki-laki, berulang kali bertanya pada ibunya bagaimana cara menulis kalimat tersebut, dan pada akhirnya mencontek tulisan kakaknya (meskipun awalnya ia salah menulis hiragana ‘o’ pada ‘obi’-sabuk- menjadi ‘a’).

Kyoto Imperial Palace
Kami berjalan kaki dari Kyoto Rose Café menuju Kyoto Imperial Palace yang ternyata hanya berjarak satu blok. Sebelumnya, kami telah mendaftar untuk mengikuti tur keliling istana melalui website resmi sankan.kunaicho.go.jp. Tur ini gratis, namun untuk mengikutinya peserta diwajibkan mendaftar sebelumnya, bahkan jauh hari sebelumnya, karena jumlah peserta dibatasi. Dari beberapa jenis tur, kami memilih tur berbahasa Inggris di Kyoto Imperial Palace.
Beberapa puluh menit sebelum tur dimulai, kami mendatangi kantor pengelola untuk mendapatkan surat izin masuk. Petugas mencocokkan data di paspor dengan data di formulir aplikasi, mengonfirmasi jumlah peserta yang didaftarkan, kemudian menuliskan selembar surat izin masuk untuk kami. Lebih dari 50 wisatawan menjadi peserta dari tur ini. Begitu masuk, kami masih harus memperlihatkan surat izin kepada petugas loket untuk memperoleh brosur Kyoto Imperial Palace berbahasa Inggris, lalu dipersilakan menunggu di sebuah ruangan dengan kursi-kursi panjang berjajar ke belakang. Terdapat dua penjual cenderamata di pojok depan ruangan, sementara di bagian belakang teradapat satu mesin penjual minuman, satu kran air minum (kami mengisi ulang wadah minum di sini), dan sebuah lemari loker. Tur diawali dengan menonton sebuah video yang menayangkan rute dan tempat-tempat yang akan dilalui dari televisi layar datar yang dipasang di bagian depan ruangan. Tak berapa lama, pemandu tur datang: seorang wanita berumur, mengenakan celana hitam dan kemeja putih, mencangklong pengeras suara berukuran kecil.
Di depan tiap bangunan, pemandu berhenti dan menjelaskan beberapa hal, misalnya sejarah, material yang digunakan dalam membuat bangunan, fungsi bangunan, dan terkadang menunjukkan beberapa foto yang memperlihatkan bagaimana bentuk asli bangunan sebelum direnovasi. Awalnya saya selalu berada di dekat pemandu agar bisa mendengarkan penjelasannya, tetapi lama-lama saya lelah harus berkonsentrasi lebih untuk memahami Bahasa Inggrisnya, selain itu juga karena saya ingin banyak mengambil gambar. Berada di dekat pemandu yang langsung bergerak meninggalkan lokasi begitu penjelasan usai membuat saya tidak leluasa memotret. Tur berlangsung selama kurang lebih 60 menit, diakhiri dengan ucapan terima kasih dari pemandu dan tepuk tangan meriah dari peserta tur.
Oikeniwa Garden, salah satu taman di dalam kompleks Kyoto Imperial Garden (dok. pri)
Uniknya, ada seorang petugas keamanan yang berjaga mengikuti rombongan selama tur. Ia tidak akan berpindah tempat sampai peserta terakhir pergi. Sekali waktu, rombongan sudah cukup jauh di depan, saya menjadi yang paling belakang karena ingin memotret lebih banyak. Namun akhirnya saya tidak jadi lama-lama di situ karena merasa tidak enak hati pada petugas keamanan tersebut.

Fushimi Inari Shrine
Gerbang masuk Fushimi Inari Shrine (dok.pri)

Rencana awal kami adalah kami naik bis menuju halte Tofukuji, dari sana berjalan kaki menuju Fushimi Inari. Namun menurut petugas di Kyoto Imperial Palace yang saya tanyai, keduanya berjarak sangat jauh (sangat jauh untuk ukuran orang Jepang berarti sangat sangat jauh untuk ukuran kami), jadi lebih baik kami naik kereta.
Benar saja kata petugas tersebut. Dari stasiun Fushimi Inari jalur Keihan, kami hanya perlu berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk sampai di Fushimi Inari. Selain Kiyomizudera, tempat ini juga merupakan tempat yang masuk daftar wajib kunjungan saya. Bukan karena ia muncul di film Detective Conan, namun karena tempat ini sungguh populer.
Deretan torii berwarna merah menyala benar-benar luar biasa. Dan dibutuhkan tenaga yang luar biasa pula untuk bisa melewati seluruh rute torii karena jalannya menanjak ke arah puncak bukit. Kami—yang tenaga dan semangatnya tidak cukup luar biasa—hanya berjalan sampai tengah, masih cukup jauh dari puncak bukit, kemudian kembali lagi ke gerbang awal.

Tenryuji
Saat menyusun jadwal perjalanan, saya memperoleh informasi bahwa Tenryuji adalah jalan masuk menuju Sagano. Dari keterangan tersebut, yang saya pahami adalah kami harus masuk Tenryuji untuk bisa masuk Sagano.
Ada dua jenis tiket untuk masuk ke Tenryuji, yaitu masuk ke bangunan utama kuil dan masuk ke taman bergaya Jepang. Kami memilih yang kedua dengan membeli tiket seharga 500 yen. Taman gaya Jepang sebenarnya bagus, namun ya begitu-begitu saja: kolam, tanaman, batu besar, dan batu kecil yang dibentuk beralur menyerupai aliran air. Namun, taman Tenryuji ini agak berbeda dan tampak lebih bagus dari taman gaya Jepang lainnya karena latar belakangnya: bukit yang dipenuhi pohon-pohon berdaun hijau dan oranye di beberapa bagian serta hamparan langit biru cerah.
Setelah taman gaya Jepang, terdapat taman dengan bermacam bunga yang sayangnya tidak sedang berbunga kecuali tanaman hydrangea—yang di Indonesia dikenal dengan Bunga Panca Warna—, itupun warna bunganya kebanyakan masih hijau.
Di dekat pintu keluar taman, mulai tampak rimbunan pohon bambu, yang menandakan bahwa Sagano sudah ada di depan mata.

Sagano Bamboo Forest
Masuk sebagai salah satu daftar wajib kunjungan versi saya karena sepertinya memiliki daya magis dan misterius, maka bagaimanapun saya harus ke lokasi ini. Sebenarnya hanya sebuah hutan bambu yang juga banyak ditemukan di dekat rumah kakek saya di Trenggalek, namun jenis bambu yang berwarna hijau cerah, batang panjang, tumbuh lurus ke atas, dan tidak bergerombol membuat hutan bambu ini unik.
Sayangnya, saya tidak menemukan cara agar bisa mendapatkan gambar yang bagus di sini. Itu yang pertama. Hal kedua yang saya sayangkan adalah kami datang berbarengan dengan beberapa rombongan wisatawan, entah dari Tiongkok atau Taiwan, yang tak habis-habisnya (dan sangat berisik), sehingga mengurangi daya magis Sagano.
Ketika pulang, kami mengikuti satu-satunya jalan yang selalu dirimbuni pepohonan sehingga sangat adem. Begitu sampai di jalan raya, saya baru menyadari bahwa Sagano dapat dimasuki langsung dari jalan raya, tidak perlu masuk terlebih dahulu ke Tenryuji.

Kinkakuji
Saya akan memberikan satu tips untuk dapat menikmati keindahan Kinkakuji: datanglah pagi-pagi saat loket baru dibuka. Kalau tidak, maka akan bernasib seperti saya yang datang sekitar pukul 12 siang: sesak nafas. Memang bukan dalam arti sesungguhnya, namun melihat begitu banyaknya wisatawan yang berkerumun di depan pagoda berwarna emas membuat saya merasa ingin segera meninggalkan tempat tersebut, tidak peduli betapapun bagusnya. Hanya ada satu lokasi yang bagus untuk mengambil gambar pagoda yaitu dari depan, tetapi tempatnya sangat sempit, sehingga pengunjung terlihat berjubel dan tidak teratur. Ketika menyusuri jalan setapak ke arah keluar, keadaannya ternyata tidak kalah menyedihkan: jalan tidak cukup lebar, agak menanjak dengan beberapa anak tangga, banyak orang berhenti di pinggir, dan tak sedikit pengunjung yang tetap mengembangkan payungnya sehingga berpotensi mengenai kepala orang lain.
Saya baru bisa bernafas lega ketika telah mecapai pintu keluar Kinkakuji.

Kyoto Botanical Garden
Salah satu sudut Kyoto Botanocal Garden (dok. pri)

Di sinilah saya bertemu dengan Kakek Internasional. Begitu masuk, tampak aneka bunga warna-warni bermekaran di jalan utama yang menyambut pengunjung. Namun kami tak langsung berkeliling, hal pertama yang kami lakukan justru mencari tempat duduk untuk makan bekal makan siang. Setelah itu, kami menuju ke gedung pusat informasi pengunjung untuk salat. Harapan kami, kami akan menemukan tempat perawatan bayi yang dapat ditumpangi untuk salat seperti di Kyoto Imperial Palace. Ternyata, tempat perawatan bayi di sini menyatu dengan toilet sehingga tidak dapat digunakan untuk tempat salat. Saya meminta teman saya untuk bertanya kepada petugas—dan akhirnya saya dipanggil juga karena petugas tersebut tidak dapat berbahasa Inggris. Setelah petugas tersebut berunding dengan rekannya, kami akhirnya diperbolehkan salat di depan perpustakaan di lantai dua yang kebetulan sedang tutup sehingga tidak mengganggu siapapun.  
Setelah salat, saya sempatkan mampir ke kafetaria yang juga sekaligus tempat penjualan cenderamata untuk membeli kartu pos. Penjualnya memberikan kami bonus tiga buah kipas untuk kami—dua teman sedang menunggu di luar sehingga tidak memperoleh kipas. Di hari-hari berikutnya, kipas ini adalah senjata yang sangat bermanfaat di tengah musim panas yang sangat menyengat.
Kami berkeliling di taman hingga jam operasional tutup, yaitu pukul 17.00, dan hanya mengelilingi beberapa area saja, seperti taman sakura, taman lotus, taman maple, taman mawar, taman gaya eropa, dan taman gaya jepang, dan taman gaya Amerika. Satu hal yang kami sadari, kami tidak menemukan rombongan keluarga yang menggelar tikar dan makan bersama seperti di Kebun Raya Bogor—mungkin situasinya akan berbeda kalau kami datang ketika musim semi.

JR Kyoto Station
Sungguh tidak ada niat untuk mengajak teman-teman pergi ke Stasiun JR Kyoto. Ini hanya rencana saya sendiri saja untuk membeli tiket Hankyu Railway Pass 5 hari di BicCamera. Saya membebaskan teman-teman untuk pergi terserah ke manapun, namun ternyata mereka memilih untuk menemani saya (peluk!). Pada akhirnya, saya memang sendirian membeli tiket, dan meminta mereka untuk menunggu saja di Daiso di gedung seberang.
Setelah saya memperoleh tiket, saya menyusul teman-teman ke Daiso (Tuhan, Daiso adalah sebuah tempat penuh keajaiban!), kemudian kami kembali ke depan stasiun. Di depan stasiun terdapat sebuah gedung bertuliskan Aqua Fantasy yang mempertunjukkan atraksi air mancur menari di atap gedungnya dengan pendaran lampu berwarna-warni dan iringan musik yang cukup familiar.
Oh iya, saat hari masih terang dan kami belum berpencar, kami bertemu dengan dua orang laki-laki yang usianya sepertinya tidak berbeda jauh dengan kami dan berwajah Melayu di depan stasiun. Salah seorang di antaranya mengenakan kaos jersey sepak bola Timnas Indonesia yang berwarna merah, sehingga tak diragukan lagi mereka adalah orang Indonesia.


--- bersambung ---