Monday, April 11, 2011

(3)

Kesediaan berbagi tidak tergantung dari seberapa banyak harta yang kau miliki. Ketika kau kaya, kesediaan berbagi tidak dengan serta merta muncul. Bisa saja kau terlena oleh hartamu, merasa berada dalam zona aman, dan lupa bahwa kau harus berbagi. Ketika kau tidak seberuntung orang kaya bahkan papa, kesediaan berbagi pun tidak langsung hadir dalam dirimu. Bisa saja kau terlalu sibuk dengan kemiskinan dan ketidakpunyaanmu sehingga lupa bahwa kau tetap harus berbagi. Kesediaan berbagi muncul dari pribadi yang ikhlas, yang sadar bahwa apapun yang terjadi, berbagi adalah sebuah keharusan.

Salam,
Wahyu Widyaningrum

Wednesday, April 6, 2011

Lema Ajaib dalam KBBI

Lema n 1 kata atau frasa masukan dalam kamus di luar definisi atau penjelasan lain yang diberikan dalam entri; 2 butir masukan; entri.

Bagi saya, ada beberapa buah lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang memiliki semacam kekuatan ajaib dan magis buat saya. Kekuatan itu dapat berupa sebuah mimpi, sebuah cita-cita, sebuah fanatisme, atau sebuah harapan.

Mereka adalah penulis, wartawan, sukarelawan, penyiar, dan pencinta alam.

Semuanya tak ada yang berhubungan dengan bidang kuliah saya. Haha….


Penulis
Pe-nu-lis n 1 orang yang menulis; 2 pengarang: ~ naskah; 3 panitera; sekretaris; setia usaha; 4 pelukis; penggambar.

Kenapa penulis?

Karena bagi saya, penulis itu hebat. Otaknya, menurut saya, penuh dengan pemikiran mendalam dan rumit, yang kemudian diungkapkan secara lugas dan sederhana melalui tulisan sehingga orang lain tak perlu jungkir balik memahami apa yang ingin ia sampaikan.

Karena bagi saya, penulis adalah pemotret yang handal. Ia bisa memotret sekecil apapun peristiwa dan membuat orang yang ‘melihat’ hasil potretannya merasa ikut melihat peristiwa tersebut secara langsung. Hasil potretan tersebut ia ungkapkan dalam tulisan. Kadang ia dan pembaca melihat hasil potret yang sama, dan kadang juga berbeda karena imajinasi pembaca tak sama dengan imajinasinya ketika menulis hasil potretnya (tapi kayaknya yang terakhir ini jarang terjadi).


Karena bagi saya, penulis itu dewa. Melalui tulisannya, ia bisa saja mengubah dunia semaunya. Tinggal tulis saja apa yang ia inginkan, menyusupkannya ke dalam pemikiran orang lain dan banyak orang-lain, dan dunia akan berubah. Kalau mau dunia ini jadi baik, ya tulis saja kata-kata motivasi, kisah-kisah para pahlawan dan orang sukses, ilmu pengetahuan, dan cerita-cerita yang sarat nilai dan makna. Kalau mau dunia jadi bejat, tambah mudah. Tulis saja yang porno-porno, sejarah palsu, dan cerita-cerita stensilan.


Ini dia Linda Christanty, penulis favorit saya :*

Wartawan
War-ta-wan n orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat di surat kabar, majalah, radio, dan televisi; juru warta; jurnalis.

Kenapa wartawan?

Karena wartawan itu keren. Lihat saja luarnya. Seragamnya keren, bawa kamera mahal, mikrofon, dan buku kecil (kalau sekarang sudah banyak yang tidak pakai buku, ya. Kebanyakan sudah pakai Blackberry dan semacamnya). Dan yang paling keren di antara semuanya: kartu identitas pers.

Karena wartawan itu enak. Saya gandrung bulutangkis. Jadi saya ingin jadi wartawan olahraga, khususnya bulutangkis. Kalau jadi wartawan bulutangkis, ini enaknya: bisa ketemu atlet, wawancara langsung sama atlet, foto bareng, minta tanda tangan (semua dilakukan tanpa perlu berebutan layaknya fans yang harus berjuang setengah mati di tengah ratusan bahkan ribuan fans lain), jalan-jalan ke tempat turnamen diselenggarakan tanpa keluar uang pribadi (malah dibayari kantor), dan tetap dapat gaji! What a life! Jadi, dengan menyandang status wartawan bulutangkis, saya ‘kan bisa bertemu LANGSUNG dengan Lee Yong Dae, Fu Hai Feng, Hendra Setiawan, Lilyana Natsir, Sony Dwi Kuncoro, Vita Marissa, Dionysius Hayom Rumbaka, dan Boonsak Ponsana.


Sukarelawan
Su-ka-re-la-wan n orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan).

Kenapa sukarelawan?

Untuk kata yang satu ini, saya juga nggak tahu kenapa saya jadi terbius. Tapi saya rasa, karena keikutsertaan saya dalam Pramuka semasa SD sampai SMA. Di benak saya, Pramuka seharusnya mengabdi langsung pada masyarakat (cermati saja tiap butir isi Dasa Dharma Pramuka). Faktanya, saya cuma belajar baris berbaris, sandi-sandi, tali temali, dan membuat rujak (untuk yang terakhir, saya mempelajarinya ketika SMA karena hampir tiap pekan kami makan rujak bareng).

Lantaran adanya jarak antara ‘seharusnya’ dan ‘fakta’ itulah, saya jadi merasa kurang berguna. Saya salut pada orang-orang yang dengan sukarela mengabdi dengan mengajar; memberi penyuluhan; berbagi ilmu, keterampilan, dan keahlian; mengasihi alam; dan apapun. Saya salut dengan mereka yang sudah membiarkan dirinya tenggelam dan kemudian larut dalam sebuah dunia bernama ‘berbagi’. Mungkin hanya sedikit atau bahkan tak ada keuntungan finansial yang didapat, tapi kepuasan batin yang diperoleh dan dirasakan ketika berbagi dan menjadi bermanfaat tentu lebih luar biasa.


Penyiar
Pe-nyi-ar n 1 orang yang menyiarkan; 2 penyeru pada radio; 3 pemancar (radio); 4 penerbit dan penjual (buku dsb).

Kenapa penyiar?

Karena saya suka mendengarkan radio. Kesukaan saya memuncak ketika SMA. Waktu itu, pola belajar saya yang sekitar pukul 23.00 sampai pukul 03.00 membuat saya ‘terpaksa’ mendengarkan radio sebagai hiburan. Selain agar tidak mengantuk, saya kurang suka dengan suara jangkrik, kucing, burung, atau angin yang ‘hawa’nya agak gimana gitu. Radio, adalah teman yang sangat berjasa bagi saya karena mampu membuat saya tampak seperti orang gila yang tertawa sendiri ketika penyiarnya kocak, atau mampu membuat saya mewek tak karuan ketika penyiarnya ‘sok bijak’.

(selingan: penyiar radio favorit saya sampai sekarang adalah Yohanes Albertus, apalagi pas Koko Yo—panggilan akrabnya—masih siaran di 94,8 DJ FM Surabaya).

Karena penyiar itu asik. Tak perlu modal tampang, hanya perlu modal suara(menurut saya loh ini). Saya sering penasaran dengan wajah-wajah penyiar kesukaan saya yang suaranya keren. Begitu melihat gambarnya di internet, atau melihat mereka di televisi—karena banyak juga penyiar yang kemudian sering jadi pembawa acara di televisi—, saya sering kecewa: wajah mereka tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Hahaha

Karena penyiar itu enak. Bisa mendengarkan lagu-lagu terbaru dengan cepat, sebelum orang lain mendengarnya. Bisa mendapat album-album terbaru dari label (kalau yang ini hanya khayalan saya, saya kurang tahu bagaimana sesungguhnya) dan sekalian tanda tangan artisnya kalau sang artis sedang promo ke stasiun radio tersebut.

Karena penyiar itu keren. Saya juga nggak tahu dimana kerennya, tapi yang jelas buat saya, profesi ini adalah sesuatu yang sangat keren! Berbanggalah Anda yang seorang penyiar, karena saya setengah-mati ingin sekali menjadi penyiar.


Pencinta alam
Pen-cin-ta n orang yang sangat suka akan –alam

Kenapa pencinta alam?

Karena dari kata-katanya saja keren. Pencinta alam. Yang mencintai alam. Lebih keren lagi adalah aktivitasnya: naik gunung, masuk gua, turun sungai, dan masuk hutan. Apa yang lebih keren dari alam? Lihat sawah saja saya sudah senang (nasib orang (mengaku) kota yang jarang lihat sawah).

Karena pencinta alam itu keren. Saya tak tahu kata apa yang lebih ‘keren’ dari keren. Bisa sampai di puncak gunung, masuk ke lembah terdalam, hutan terlebat, dan sungai terderas.

Karena saya cinta alam! Ketika di Pramuka dulu, saya ingin masuk saka Wana Bhakti. Sayang, di kota saya saka ini mati suri. Saya jadi tak bisa ikut reboisasi dan masuk hutan seperti yang diceritakan kakak-kakak, dan hal ini sungguh menyedihkan.


Kesemua kata tersebut, bagi saya, merupakan kata-kata yang ajaib. Seketika, saya salut setengah-mati pada setiap orang yang berstatus penulis, wartawan, sukarelawan, penyiar, dan pencinta alam. Kalau saya bertemu mereka, senyum saya selalu mengembang lebih lebar dari biasanya lantaran takjub. Kalau saya bertemu mereka, saya akan memandang mereka dari atas sampai bawah lantaran kagum. Kalau saya bertemu mereka, saya akan selalu bergumam bahwa saya ingin menjadi seperti mereka.

Kalau saya bertemu mereka, saya berdoa semoga Tuhan mengabulkan doa saya sehingga saya menjadi seorang penulis, wartawan, sukarelawan, penyiar, dan pencinta alam SEKALIGUS.
Terdengar serakah, tapi tak ada salahnya, kan?


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Monday, April 4, 2011

Upaya Menyatroni Bulakan: Sebuah Aksi Sosial

Sabtu pagi. Ada yang berbeda dengan kawasan Bulakan, Pondok Ranji, hari itu. Tak biasanya musala sudah dipenuhi oleh anak-anak. Biasanya, hari Sabtu memang mereka belajar bersama kakak-kakak dari Komunitas Pondok Matahari, tapi baru dimulai pukul 13.00. Sedangkan sepagi itu, dengan penuh semangat mereka berdatangan dengan pakaian mereka yang –bisa dibilang—seadanya. Beberapa anak mengatakan, mereka sudah mandi sejak pukul 05.00 demi acara hari itu, saking semangatnya –saya tak tahu apakah informasi ini benar, tapi anggap saja begitu—.

Tak biasanya pula musala dipasangi hiasan dari kertas crepe berwarna-warni. Di beberapa bagian dinding dipasangi hiasan berbentuk anak bergandengan tangan berwarna biru muda dan merah. Di dinding bagian atas dipasangi hiasan serupa jalinan rantai yang terbuat dari bahan yang sama.

Saya sendiri baru datang sekitar pukul 08.30. Rupanya saya kalah cepat dengan anak-anak itu. Mereka sudah datang terlebih dahulu dari saya.

Hari itu, Sabtu 2 April 2011, warga Bulakan ‘disatroni’ oleh dua komunitas yang bekerja sama menyelenggarakan Hari Sehat Ceria (HSC). Dua komunitas tersebut adalah Komunitas Menara (KM) dan Komunitas Pondok Matahari (KPM).

Pada rangkaian acara pembukaan yang dimulai pukul 08.45, anak-anak diberi kesempatan menyanyikan lagu Indonesia Raya, memeragakan senam mencuci, malafalkan ikrar, dan doa selesai mengaji. Sambil menyimak kawan-kawannya maju di depan, mereka minum susu yang telah diberi sebelumnya oleh panitia.


Laskar KaosHitam ini membaca ikrar

Sekitar pukul 09.30, acara inti yang berupa berbagai perlombaan dimulai. Seluruh lomba dilakukan di kawasan musala. Ada lomba merangkai puzzle, menggambar, hafalan surat pendek Al Quran, dan lomba keterampilan. Seorang anak hanya boleh mengikuti satu macam lomba. Oiya, lomba puzzle ditujukan untuk anak berusia 3-4 tahun. Sedangkan lomba menggambar dibagi menjadi dua kategori, yaitu kategori usia 5-6 tahun dan 7-8 tahun. Untuk lomba hafalan, yang boleh mengikuti adalah yang berusia 9-10 tahun. Sedangkan lomba keterampilan boleh diikuti oleh yang berusia 11-12 tahun.

Lomba menyusun puzzle


Lomba menggambar

Sebenarnya, rentang waktu lomba adalah dari pukul 09.30 sampai 10.30. Tapi mungkin anak-anak Bulakan ini terlalu pandai, sehingga belum satu jam mereka sudah menyelesaikan semua lomba.

Ah, iya. Selain lomba, ada acara inti lainnya yang digelar di luar musala, yaitu bazar dan penyuluhan untuk ibu-ibu. Dalam bazar kali itu dijual berbagai macam pakaian dengan harga Rp 1.000 sampai Rp 10.000. Beberapa orang warga pulang sambil membawa dua kantong penuh berisi pakaian, entah berapa potong dan berapa rupiah. Bazar berjalan lancar, tapi tidak dengan penyuluhan. Penyuluhan terpaksa batal, karena ada kesalahpahaman dari penyuluh sendiri yang merupakan pihak luar.

Suasana bazar

-kembali ke rangkaian lomba-
Seusai lomba, sambil menunggu kakak-kakak dari KPM menilai dan menentukan juara dari tiap lomba, digelar acara dongeng. Pendongengnya adalah Kak Ucon. Tawa tak henti terdengar dari mulut-mulut anak Bulakan. Bahkan saya pun tertawa melihat gaya mendongeng Kak Ucon. Lucu.

Inilah yang namanya Kak Ucon

Seusai acara dongeng yang luar biasa, saatnya pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah. Setiap orang yang menang memperoleh hadiah berupa tas sekolah.

Untuk anak yang sudah besar, tas sekolahnya warna hitam. Yang kecil, tas sekolahnya warna kuning




Ada kisah dari pemenang lomba menggambar kategori usia 7-8 tahun ini. Pemenang pertama, di sebelah kanan gambar di atas, bernama Karna. Usianya 11 tahun, tapi diperbolehkan mengikuti lomba gambar. Karna adalah seorang tuna rungu dan tuna wicara. Ketika ditawari ikut lomba menggambar, Karna dengan mantap langsung mengangguk cepat. Dan dengan usahanya, ia berhasil menang di lomba tersebut.

Inilah Karna


Bagaimana dengan yang tidak menang lomba? Tenang, mereka tetap mendapatkan sebuah goody bag. Goody bag ini—seingat saya— berisi wafer, susu, roti, tempat pensil dan alat tulis, buku tulis, dan buku gambar.

Yeaayyy...! Tiap anak mendapat goody bag


Hari itu, Bulakan menjelma menjadi sebuah kawasan yang diliputi keceriaan.



Semoga keceriaan tak pernah luput dari Bulakan. Semoga hadiah-hadiah yang diberikan dapat bermanfaat bagi mereka. Semoga HSC dapat diselenggarakan di tempat-tempat lain. Dan semoga semakin banyak yang berbuat demikian untuk seluruh masyarakat yang kurang mampu.

Mari ikhlas berbagi, karena berbagi tak pernah rugi.


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Photo credit to Mbak Lis

Thursday, March 31, 2011

(2)

Kesuksesan-yang-sesungguhnya adalah ketika kau memiliki sebuah tujuan, kemudian kau berusaha keras untuk tujuan itu: melewati gunung tertinggi, tebing paling terjal, menyeberangi sungai terderas, mendobrak tembok paling tebal, dan menanggung beban terberat, lantas akhirnya kau mendapatkan apa yang kau tuju. Kesuksesan-yang-sesungguhnya tidak datang semudah kau mengedipkan kelopak mata, karena yang datang sedemikian mudah adalah sebuah keberuntungan.

Salam,
Wahyu Widyaningrum

Monday, March 28, 2011

Mimpi dan Kita

Kita, apapun dan bagaimanapun, tentu memiliki mimpi. Tentang apa yang ingin kita capai, tentang apa yang ingin kita peroleh, dan tentang bagaimana hidup kita selanjutnya. Yang aku inginkan adalah, selama kita tidak bertemu, marilah kita berusaha melakukan apapun—ingat, apapun!—untuk menggapai mimpi-mimpi kita itu. Jika ada tembok menghalangi kita dan mimpi kita, setebal apapun tembok itu, dobrak saja terus. Sampai habis energi kita, sampai tak bersisa lagi seluruh tenaga kita, dan sampai hanya harapan kita yang belum habis. Nanti pada saatnya, tembok itu akan runtuh karena kerasnya dobrakan kita dan tingginya harapan yang tersisa tadi. Di balik tembok itu, mari kita menikmati emas dan makanan, seperti dalam game Mario Bross yang sering kita mainkan dulu.


Ketika kita bertemu lagi, entah kapan, mari kita bercengkerama bersama. Mengobrol, bercerita tentang apa saja pencapaian kita dan bagaimana nasib mimpi-mimpi kita: apakah sudah terwujud atau belum. Bukan untuk saling sombong, saling pongah, saling meninggikan gengsi atau yang lain. Bukan itu. Hanya semata bukti, bahwa mimpi, sebagaimanapun tingginya, jika dibarengi dengan usaha dan doa yang tak kenal putus, maka insya Allah akan tercapai. Hanya semata kenangan, bahwa kita pernah sama-sama bermimpi, kita pernah sama-sama menderita demi mimpi itu, dan akhirnya kita sama-sama mencapai apa yang kita mimpikan.


Ketika nanti kita bertemu dengan segudang pencapaian atas mimpi kita yang terdahulu, mari kita menyusun mimpi-mimpi baru. Biarkan diri kita terus merangkai dan menyambung mimpi, biarkan diri kita terus berkembang. Biar nanti, tujuan kita tercapai. Sebuah tujuan akhir hidup kita: kita ingin dikenang sebagai apa.


Salam,

Wahyu Widyaningrum

Friday, March 25, 2011

Tiga Potongan Puzzle Ketika Senja (1)

(1)

Saat ini, kekasihku sedang menantiku di bandara. Aku hampir yakin ketika nanti kami bertemu, ia akan terus memelukku erat sampai waktu boarding tiba. Kemudian ia akan menggeret kopernya dengan setengah hati, seperti ketika dulu ia pergi ke Makassar selama seminggu untuk menemani ibunya.

Tapi yang membuatku berkata hampir yakin dan bukan yakin adalah, karena nanti ia akan berangkat ke Jepang untuk kuliah selama empat tahun. Empat tahun, bukan seminggu seperti waktu itu ia ke Makassar. Selama empat tahun, kami tak akan bertemu. Mungkin hanya akan ada percakapan yang singkat lewat telepon, atau tatap muka tak langsung lewat webcam.

Jadi sekarang aku agak berlama-lama di depan cermin, memastikan penampilanku sudah keren dan tak membuatnya kecewa di pertemuan-fisik terakhir kami untuk empat tahun ke depan.

Kunyalakan motor di halaman rumah. Kutinggal sebentar masuk rumah untuk mengambil helm dan pamit pada ibu. Tapi baru beberapa langkah dari ibu, kulihat tiba-tiba ibu ambruk. Wajahnya pucat.

---

Tuhan, jangan ambil ibuku sekarang.

Sejak tadi aku hanya mondar-mandir di depan ruang ICU. Aku tak tahu apa yang dilakukan beberapa dokter dan perawat di dalam, yang jelas aku yakin mereka akan mengupayakan yang terbaik demi ibuku.

Tapi selain perasaan gelisah karena ibu, ada satu lagi yang membuatku gelisah. Aku belum tahu apa. Kucoba mengingat sambil terus mondar-mandir di depan ICU.

Ah iya, kekasihku!

Kuraba seluruh saku celana dan jaket. Sial, ponselku tertinggal di rumah. Kulihat jam tanganku. Hahaha, setengah jam sudah berlalu dari waktu keberangkatannya. Mendadak aku jadi merasa sangat pusing, dan tiba-tiba gelisahku berlipat-lipat: jangan-jangan aku akan kehilangan ibuku, juga kekasihku.

Thursday, March 24, 2011

(1)

Pengkhianatan terbesar adalah ketika kau menyadari suatu hal yang buruk terjadi dan kau tahu penyebabnya, tapi di masa datang kau tetap saja melakukan hal-hal yang menyebabkan hal buruk tadi. Kau berkhianat pada hatimu, pada dirimu, pada komitmenmu, dan pada penyesalanmu.

Salam,
Wahyu Widyaningrum