Friday, February 10, 2017

Cantiknya Saiko Iyashi no Sato Nenba, Desa Wisata ala Jepang


Disebut-sebut sebagai ‘desa ala Jepang’, Saiko Iyashi no Sato Nenba’ merupakan sebuah desa wisata yang akan memikat hati siapapun. Dilatari Gunung Fuji yang megah serta dialiri Sungai Honsawa, barangkali memang desa ini identik dengan gambaran yang terbayang di benak begitu kata ‘desa’ disebut.

Belum lagi, laku para pedagang di kedai sepanjang jalan sebelum gerbang masuk. Dalam tulisan, mereka mempromosikan barang yang mereka jajakan dalam berbagai bahasa—tak terkecuali Bahasa Indonesia (atau Bahasa Melayu?), seolah-olah menyambut para pengunjung untuk ‘selamat pulang kembali ke desa’. Tak jarang berlembar-lembar karton bergantungan di depan kios mereka lantaran banyaknya bahasa yang ditulis.

Betapa saya merasa sedang pulang kampung!

Dengan membayar tanda masuk sebesar 350 yen untuk orang dewasa dan 150 yen untuk anak-anak, kemolekan desa wisata ini sudah dapat dinikmati. Setelah melewati gerbang masuk, pengunjung langsung disuguhi rumah-rumah kecil yang ditata dengan apik mengikuti kontur tanah yang semakin menanjak. Kawasan desa ini bentuknya memanjang ke belakang. Dengan demikian, bangunan di bagian belakang letaknya semakin tinggi dibandingkan dengan yang di depan. Dari bangunan di bagian belakang ini, Gunung Fuji semakin memperlihatkan keindahannya yang khas dengan topi salju di puncaknya.

Gerbang masuk Saiko Iyashi no Sato Nenba

Namun siapa sangka, desa ini rupanya hasil rekonstruksi ulang. Pada tahun 1966, angin topan melanda kawasan ini dan meluluhlantakkan seluruh desa. Rumah-rumah dengan atap ‘kabuto-zukuri’ yang bentuknya mirip penutup kepala para samurai, hancur tak bersisa. Pemerintah kota Fujikawaguchiko akhirnya memutuskan untuk membangun ulang desa ini pada tahun 2003. Hal ini dilakukan demi membangkitkan ingatan akan sebuah desa ala Jepang yang rumahnya beratap jerami. Kawasan ini kemudian dibuka kembali pada tahun 2006 setelah proses rekonstruksi selesai.

Begini wujud atap jerami yang bentuknya mirip penutup kepala samurai

Terdapat 21 bangunan utama di Saiko Iyashi no Sato Nenba. Kios oleh-oleh diletakkan di dekat gerbang masuk, dan sukses menghabiskan waktu pengunjung yang tidak menyadari bahwa masih ada banyak bangunan tersisa untuk dikunjungi. Kios ini menjual beragam produk lokal seperti miso, beras, udon basah, teh, serta kerajinan tangan. Kami sempat tertarik dengan udon basah yang dijual. Komposisi bahan pembuatnya aman untuk kami konsumsi sehingga udon ini sungguh siap dibawa pulang lintas negara. Namun sayangnya, karena ia berupa mi basah yang harus disimpan dalam mesin pendingin, dikhawatirkan ia tak akan bertahan lama—apalagi jika harus dibawa sampai ke Surabaya.

Kesedihan lantaran gagal membawa pulang udon sedikit terobati dengan tawaran minum teh gratis dari penjaga toko. Di luar bangunan toko ini memang tertulis ‘tersedia teh gratis’. Ada dua mesin semacam teko elektrik yang masing-masing berisi teh kombucha dan teh oolong. Dua cangkir teh ini, selain mengobati kesedihan, juga membantu menghangatkan tubuh di tengah musim dingin seperti ini.

Bangunan kedua yang kami kunjungi adalah Rumah Seseragiya. Dinding rumah ini dipenuhi gambar-gambar indah, yang kebanyakan berbentuk potret orang, baik sendiri maupun rombongan. Di dekat pintu terpajang instalasi seni berbentuk ayam, yang saya yakini dibuat dalam rangka menyambut tahun ayam. Cukup lama kami duduk-duduk di luar rumah ini, sekaligus mencari kehangatan karena letaknya yang menghadap timur, pun matahari cukup terik saat itu.

Menyambut tahun ayam

Kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah jembatan Fujimi. Di sini terlihat beberapa orang berfoto dengan mengenakan kimono. Beberapa kawan dari Myanmar bahkan sudah wira-wiri dalam balutan kimono. Rupanya mereka menyewa dari Rumah Hinomiya. Di rumah ini pengunjung dapat menyewa kimono dengan harga yang terjangkau, yaitu 500 yen. Selain penyewaan kimono, di dekat pintu masuk rumah juga terdapat instalasi pakaian perang para samurai.

Lantaran kami tidak tertarik menyewa kimono, kami melanjutkan langkah ke Rumah Miharashiya. Lantai-satu rumah ini mirip galeri, dipenuhi dengan hasil seni yang telah memperoleh penghargaan baik di tingkat kota maupun perfektur; sedangkan lantai duanya berfungsi sebagai semacam menara pandang. Untuk naik ke lantai dua, pengunjung harus melepas alas kaki sebelum naik tangga dan berganti mengenakan sandal yang telah disediakan. Di sebelah kiri ujung tangga terdapat jendela besar, dan inilah menara pandang tersebut. Gunung Fuji terlihat sangat menawan dari sini, disertai hiasan pemandangan atap jerami rumah-rumah yang juga berwarna putih sebab tertimpa salju.

Pemandangan dari lantai dua Rumah Miharashiya

Keluar dari Rumah Miharashiya, kami memutuskan mampir ke galeri kerja tembikar Fuji Roman-gama. Sesuai namanya, di dalam rumah ini pengunjung dapat menemukan beragam tembikar yang dipatok dengan harga yang bersahabat. Dudukan sumpit berbentuk kucing dijual mulai harga 200 yen. Mangkuk kecil khas Jepang dengan motif yang indah dan menarik dibanderol dengan harga mulai dari 400 yen. Selain itu masih banyak pajangan, cangkir, dan tembikar lainnya. Saya sendiri akhirnya tergoda untuk membawa pulang pajangan berbentuk Gunung Fuji yang imut, seharga 500 yen. Selain membeli tembikar yang dipajang, pengunjung juga dapat mencoba membuat hiasan berbentuk burung hantu serta mewarnai tembikar.

Plang kayu di depan galeri tembikar Fuji Roman-gama, mengajak pengunjung untuk mencoba membuat tembikar sendiri

Rumah galeri kerja tembikar Fuji Roman-gama menjadi rumah terakhir yang kami singgahi di Saito Iyashi no Sato Nenba. Masih tersisa 15 menit sebelum waktu habis dan harus kembali ke bus, jadi kami menyempatkan diri terus berjalan ke kios oleh-oleh yang tersebar di dekat area parkir. Seorang pemilik kedai menawari kami untuk menghangatkan diri dengan makan udon di dalam kedainya. Kami hanya tersenyum sambil terus melihat-lihat dagangan yang dijejer di atas meja di depan kedai. Menyerah menawarkan udon, si pemilik lantas menawarkan cicip-cicip buah kering. Alih-alih mencicip buah kering, mata kami justru lebih tertarik pada satu meja berisi kotak-kotak kecil. Kotak tersebut rupanya berisi sabun batang khas desa itu. Selain sabun batang, ada juga kotak berisi batu. Empat buah batu kecil disusun dan diwadahi dalam kotak tembus pandang, diberi sabuk kertas bertuliskan bahwa batu tersebut berasal dari Gunung Fuji. Dari keterangan pemilik kedai, batu dari Gunung Fuji ini berbeda dengan batu biasa; ia memiliki lebih banyak lubang sehingga jika batu tersebut direndam di dalam air biasa, air tersebut dapat menjadi air bermineral. Kawan saya rupanya sangat tertarik dengan batu ini, lantas ia menebusnya dengan selembar uang pecahan 1.000 yen.

Desa wisata ini, dengan segala pesonanya—mulai dari pemandangannya sampai bentuk bangunan dan sejarahnya—, mampu menarik pengunjung untuk datang dan tak segan merogoh kocek demi membawa pulang barang-barang yang dijajakan.



Ditulis 1 Februari 2017
Foto: dokumen pribadi

0 comments:

Post a Comment