Thursday, June 4, 2015

Kisah Ganjil Bertemu Malaikat


Kisah ganjil—baik yang benar-benar ganjil maupun yang sepertinya ganjil—selalu ada dalam setiap buku cerita. Selalu ada. Setidaknya satu. Sebanyak-banyaknya dapatlah dikatakan ada tiga kisah. Kalau lebih dari tiga, maka buku itulah yang ganjil—atau sepertinya ganjil.

Seorang anak kecil bertemu dengan malaikat. Bocah yang sangat menyayangi ayahnya itu pergi mengendap-endap dari rumah menuju sebuah tempat di ujung kota demi bertemu malaikat. Berdasarkan cerita yang sering diulang-ulang oleh ayahnya, di tempat itu ia dapat bertemu malaikat dan meminta apapun yang ia ingin, namun tentu saja bukan hal remeh macam mainan atau permen. Ketika ayahnya sedang tertidur—mungkin akibat obat yang baru saja diminum, ia menemui malaikat dan menyampaikan permohonannya: angkatlah penyakit ayahnya, sembuhkanlah, dan timpakanlah penyakit itu pada ibunya yang entah berada di mana sebab pergi bersama laki-laki lain, meninggalkan ia dan ayahnya—yang entah sakit apa sejak dua tahun lalu, bahkan dokter mana pun tak ada yang tahu penyakit apa yang menjangkiti ayahnya.

Kisah ganjil mengenai pertemuan dengan malaikat itu  saya baca beberapa waktu lalu, di sebuah sobekan kertas bekas rujak yang saya beli di tukang rujak di pinggir komplek. Ketika itu saya sedang kekenyangan setelah melahap rujak—rujak yang saya bicarakan di sini adalah rujak cingur, makanan kegemaran saya nomor dua setelah gado-gado—, dan iseng saya ambil kertas alasnya—yang saya tebak pasti berasal dari sebuah buku karena ada nomor halaman di ujung bawah—, saya buang kertas nasinya. Di situlah sebuah kisah berjudul Bertemu Malaikat pertama kali saya baca.

Kisah Bertemu Malaikat itu ganjil, tentu saja menurut saya. Menurut orang lain, bisa saja tidak. Mungkin saja bagi orang lain, yang disebut kisah ganjil adalah kisah mengenai sepasang sepatu di etalase sebuah toko bermerek yang sedang bercakap-cakap mengenai nasib mereka: hanya dipandangi dari luar dengan tatapan mata yang seringkali susah ditebak apa artinya oleh sebagian besar orang—karena mereka terlalu saying jika harus membeli sepatu yang senilai dengan gaji sebulan—yang kemudian beberapa hari atau minggu kemudian posisi mereka akan tergeser, tergantikan oleh sepatu-sepatu lain yang juga tak kalah menawan namun tetap hanya dipandangi saja oleh sebagian besar orang-orang yang lewat di depan toko. Sepasang sepatu itu, dan teman-temannya, meskipun merasa bahwa mereka adalah yang paling indah dan menarik, ternyata tak lebih hanya berperan sebagai penghias etalase.

Menurut saya yang hobi membacanya pas-pasan ini—omong-omong, bolehkah saya menyebut sesuatu yang saya sukai dengan kadar pas-pasan sebagai hobi?—, kisah Bertemu Malaikat menjadi ganjil lantaran saya baru pertama kali membaca kisah seperti itu. Itu sebab pertama. Sebab kedua adalah, karena saya sendiri belum pernah bertemu dengan malaikat.

Saya percaya bahwa malaikat itu ada. Mungkin lantaran sejak kecil saya sudah pergi langgar dan belajar mengaji pada ustad setiap sore. Di langgar, saya diajari banyak hal, termasuk tentang malaikat itu. Bahwa saya harus mempercayainya. Dan entah mengapa, meskipun ada beberapa hal yang begitu saya percayai ketika kecil namun ketika saya dewasa saya tak lagi meyakininya, tetapi masalah malaikat ini lain. Sampai sekarang, saya percaya bahwa malaikat itu ada.

Namun sama seperti saya percaya bahwa udara itu ada meskipun saya tak bisa melihat wujudnya, saya pun percaya akan keberadaan malaikat meskipun saya belum pernah bertemu dengan malaikat. Sebab saya belum pernah bertemu, maka saya menganggap ganjil kisah Bertemu Malaikat itu.

***

Siang ini, meskipun matahari bersinar dengan sangat terang—pakaian yang saya jemur bahkan bisa kering hanya dalam waktu dua jam, dan ini adalah rekor bagi saya—namun udara tidak terlalu panas. Biasanya di bulan Juni begini, kipas angin tidak pernah mati di siang hari. Namun beberapa hari terakhir, saya sampai merasa bahwa kipas angin itu hanya sebuah benda pajangan di atas meja. Saya tak pernah lagi menghidupkannya.

Namun bagi saya, udara yang tidak panas ini terasa ganjil. Sama ganjilnya dengan kisah Bertemu Malaikat. Namun kali ini, saya tak tahu apa alasan konkretnya. Saya hanya merasa bahwa ada yang ganjil dengan udara beberapa hari terakhir.

Rasa-rasanya ini pertama kalinya dalam hidup saya, udara menjadi seperti ini di musin kemarau. Rasa-rasanya juga, ini terjadi setelah saya membaca kisah Bertemu Malaikat. Bisa saja toh, karena saya merasa kisah itu ganjil, kemudian ada malaikat yang tidak terima lantas ingin semacam mengerjai saya.

***

Adik saya berteriak dari depan, katanya ada seseorang mencari saya. Selepas berkata demikian, ia langsung kabur entah kemana. Mungkin sudah ditunggu kawan-kawannya untuk ngopi di warung pojok jalan seperti biasa.

Tamu saya kali ini adalah seorang laki-laki. Tubuhnya tinggi, tidak begitu besar, namun kokoh. Mungkin ia rajin berolahraga. Pipinya agak tirus, ada jambang tipis yang sepertinya lantaran baru dicukur, serta rambut pendek yang hitam lebat.  Saya tidak mengenal wajahnya, dan ketika ia menyebutkan namanya, saya juga rasanya tidak pernah memiliki ingatan sedikitpun mengenai nama tersebut. Namun saya persilahkan juga ia masuk, karena katanya ia mengenal saya. Selain itu, ia bilang ada yang perlu dibicarakan, dan itu akan memakan banyak waktu sehingga saya akan kasihan jika lututnya nanti gemetar sebab terlalu lama berdiri.

Toh kalaupun di tengah percakapannya nanti saya menemukan ada yang ganjil, atau ia orang yang ganjil, saya bisa pura-pura masuk untuk mengambilkan penganan dan kembali ke ruang tamu dengan membawa senapan angin yang saya gantung di ruang tengah dekat dapur.

Ia mulai bercerita dengan mimik serius. “Saya adalah malaikat.” Katanya.

Ya Tuhan, saya sedang berhadapan dengan orang ganjil. Jika dalam satu menit dia masih begini, saya akan mengusirnya secara halus. Kalau cara itu tidak mempan, maka saya akan menggunakan cara tadi, yaitu pura-pura masuk mengambilkan penganan.

“Jangan mengusir saya ataupun pura-pura masuk untuk mengambilkan penganan.” Lanjutnya cepat, yang membuat saya kaget dan sejenak tidak bisa berpikir bagaimana dia bisa tahu apa yang akan saya lakukan.

“Saya malaikat,” ulangnya, “dan ini tidak ganjil. Banyak yang sebenarnya sudah bertemu dengan malaikat, hanya saja mereka tidak pernah menceritakannya kepada orang lain.”

Saya tidak tahu apakah harus mempercayai omongan dia atau tidak. Saya bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa atas tiap kata yang ia keluarkan dari mulutnya. Saya percaya bahwa malaikat itu ada, namun saya tidak percaya bahwa orang di depan saya adalah malaikat.

“Silakan jika Anda tidak percaya apa yang saya katakan.”

Saya memilih untuk mengangguk saja sebagai respon atas perkataannya.

“Begini saja,” akhirnya saya bersuara juga. Saya sendiri kaget bahwa saya akhirnya berkata-kata juga, namun sepertinya mulut saya bekerja lebih cepat daripada otak saya—meskipun saya ragu apakah hal tersebut bisa terjadi.

“Bagaimana saya bisa percaya bahwa Anda adalah malaikat?” Tanya saya.

Orang di depan saya tidak mengubah posisi duduknya. Ia hanya memutar-mutar pergelangan tangannya sebentar.

“Nanti ketika adik Anda pulang ke rumah, ia akan mendapati bahwa luka di kakinya yang terkena pecahan kaca beberapa waktu lalu telah sembuh.”

Saya hanya diam. Kejadian itu menimpa adik saya beberapa waktu lalu, semestinya memang sekarang sudah cukup membaik kondisinya. Lagipula luka itu seingat saya tidak terlalu parah, kalaupun sembuh mungkin hanya menimbulkan bekas.

Ketika saya tersadar, di depan pintu sudah ada adik saya. Saya bahkan tidak menyadari sejak kapan ia ada di situ.

“Luka saya tiba-tiba sembuh kak. Bahkan tak ada bekas sama sekali.” Katanya datar. Saya bingung dengan ekspresinya, ia memang tipe orang yang tidak terlalu baik dalam menampilkan ekspresi wajahnya.

Saya melihat kakinya. Tak ada bekas apapun di situ. Seakan-akan insiden ia terkena pecahan kaca karena ia lengah saat mengelap kaca jendela bongkar pasang dan kaca itu meluncur dengan suksesnya ke kakinya adalah hal yang tidak pernah terjadi.

Saya menyuruh adik saya masuk.

“Jadi untuk apa Anda kesini?” Saya bertanya pada orang di depan saya, yang mengaku malaikat.

“Saya hanya ingin mengabarkan bahwa jatah waktu anda di dunia tidak akan lama. Nanti sore anda akan meninggalkan keluarga dan dunia ini.” Tidak ada intonasi dalam suaranya.

Saya mencoba tetap tenang. “Bagaimana cara saya akan mati nanti sore?”

“Terpeleset lalu terjatuh.” Singkat.

Sepertinya saya akan mati konyol karena keteledoran saya.

Setelah orang yang mengaku malaikat tadi pamit, saya sebenarnya masih tidak tahu harus bagaimana. Saya tidak percaya perkataannya, tapi fakta bahwa luka adik saya sembuh sama sekali juga cukup mengganggu pikiran saya.

Baiklah, pikir saya. Saya hanya cukup membuktikan apakah perkatannya benar atau tidak. Kalau saya akan mati karena terpeleset lalu terjatuh, saya cukup berhati-hati melangkah agar tidak terpeleset. Dengan begitu, saya bisa tahu apakah ucapannya benar atau tidak, termasuk mengenai apakah ia benar-benar malaikat atau bukan.

***

Baru saja saya tidak menyadari bahwa ada sesuatu di sekitar pagar depan rumah. Ketika saya mendorong pagar, kaki saya menginjak sesuatu yang ternyata tumpahan minyak—entah minyak apa—tersebut, saya oleng, dan terpeleset. Terjatuh. Lalu gelap.

Bertemu Malaikat bukan lagi sebuah kisah ganjil bagi saya.



290515

0 comments:

Post a Comment