Tuesday, January 10, 2017

Kamar Robot


               
Gaiking, Voltus 5, God Sigma, Gordian, Golion, Daidenjin, Godmars ….

Chogokin. Begitulah nama yang diberikan pada robot mainan ini.

Tubuhnya memiliki 10 kepala. Di kepalanya ada tanduk yang bisa digunakan sebagai senjata, sedangkan tangan dan kakinya disatukan masing-masing dengan engsel. Jika engselnya dilepas, bagian-bagiannya bisa dibengkokkan atau dilipat dan menjadi mobil, senjata, atau pesawat. Robot kombinasi.

Agar mencolok, robot ini diwarnai merah, biru, kuning, atau perak. Bobotnya cukup berat. Yang besar berukuran 30 cm, jika dikecilkan menjadi 10 cm.

Robot-robot ini berjejer di rak berpintu kaca, berdempet-dempetan seperti foto album kelulusan sekolah. Raknya bertingkat lima, tiap rak dipenuhi oleh robot.

Ini bukan kamar mainan. Bukan juga museum. Hanya kamar seorang pemuda.
Pemilik kamar ini bernama Mitsuru Kobayashi, 26 tahun.

Pekerjaan Mitsuru tidak ada hubungannya dengan mainan. Ia hanya seorang pekerja kantoran di sebuah perusahaan konsultan yang berfokus pada komunikasi publik pemerintah. Tubuhnya setinggi 180 cm, badannya besar, tetapi wajahnya kekanak-kanakan.

Ia sekarang sedang duduk di ranjang, sedang membongkar robot Goggle. “Kalau kakinya dipasang begini jadinya truk tronton, badan bagian tengahnya dipisah jadi depan dan belakang.” Mitsuru menjelaskan pada saya sambil melepas dan melipat bagian-bagian robot mainannya dengan lihai. “Lihat, bagian depan jadi pesawat jet, lalu yang belakang jadi mobil, kan?”

Kamar berukuran 4,5 tatami ini hanya disesaki oleh ranjang dan rak. Di ujung ranjang bagian kepala pun terdapat rak. Setiap hari, Mitsuru hidup dengan merawat robot-robotnya.

Di ujung ranjang bagian kaki, diletakkan robot yang terbuat dari plastik, berukuran tinggi 80 cm.

“Kalau ini Combattler 5. Dibelikan waktu TK. Kalau dibeginikan ….” Mitsuru melipat ujung kaki robot ke depan, mengambil roda dari bagian dada, dan menelungkupkan robotnya, “bagian atasnya jadi bisa dinaiki. Saya pernah bermain-main dengan naik ini.”

Meskipun 20 tahun lebih telah berlalu, mainan yang dimiliki saat TK tetap dirawat dengan baik.

Saya bertanya-tanya mengapa Mitsuru bisa sampai tergila-gila begini pada robot.

Ketika Mitsuru baru masuk kelas 1 SD, ibunya berkata, “kita akan pergi ke rumah kakek di Yokohama.” Berdua bersama ibunya, Mitsuru keluar dari rumah.
Hari Minggu sore, ayahnya tidak ada di rumah. ‘Pasti tidak lama lagi pulang’, pikir Mitsuru. Sedikitpun tidak terlintas bahwa, “setelah itu, kami terus hidup terpisah dari ayah,kata Mitsuru.

Ternyata kedua orangtuanya bercerai.

Mitsuru tidak pernah sekalipun bertanya kepada ibunya, “mengapa kita tidak kembali ke rumah di Tokyo?” atau “mengapa Ayah tidak datang ke sini?”

“Mungkin orangtua memang tidak bisa mengatakan alasannya, tapi toh anak-anak juga akhirnya tahu.” kata Mitsuru.

Ibunya mengelola sebuah butik, ia bekerja sampai larut malam. Yang merawat Mitsuru adalah neneknya.

Jika hari Minggu tiba, Mitsuru pergi diajak ibunya ke kawasan pertokoan bernama Isezakicho. Mereka masuk ke pusat perbelanjaan dan melihat-lihat pakaian. Kemudian turun ke lantai bawah tanah, membeli bahan makanan. Setelah itu pergi ke toko mainan. Pada akhirnya, itu menjadi rute tetap mereka.

Di toko mainan, Mitsuru selalu langsung menuju ke lokasi yang sama. Yang diinginkannya bukanlah sarung tangan baseball, bukan bola sepak, bukan mainan plastik rakitan, bukan permainan perangkat lunak; tapi robot. Tiap pekan ia dibelikan robot. Ibunya tidak pernah berkata, “Beli robot lagi?” atau “bagaimana kalau beli yang lain?”.

Robot sering muncul di program kartun di televisi. Bukan sebagai pemeran utama, robot adalah benda yang menjadi pemeran pendukung bahkan kendaraan. Meskipun tiap pekan Mitsuru membeli robot, robot-robot baru tetap saja berjejer silih berganti di etalase toko.

Bagi ibunya, mungkin ada perasaan bersalah karena tidak bisa mendampingi Mitsuru seperti biasa; tetapi bagi Mitsuru, mungkin itu dilakukan untuk mengisi kekosongan karena tak adanya sosok ayah.

“Di antara semua mainan, robot yang paing mirip dengan manusia, kan?” kata Mitsuru, “ maka dari itu, robot mudah dibuatkan cerita. Mana yang paling kuat, atau mana yang paling baik. Dia menggambarkan manusia. Saya sering bermain dengan menggunakan karakter robot yang berbeda-beda.”

***

Ketika kelas 6 SD, Mitsuru diajak ibunya pergi ke swalayan di depan pintu barat stasiun Yokohama. Ada ayahnya berdiri di sana. Mereka bertemu kembali setelah lima tahun.

Ibunya bilang bahwa ia ada urusan sehingga harus pergi, meninggalkan Mitsuru dan ayahnya berdua saja. Suasananya segera berubah menjadi seperti dahulu.
“Kalau ada benda yang kamu inginkan, bilang saja.” Kata ayahnya.

“Mainan.” Jawab Mitsuru.

Mereka pergi ke tempat penjualan mainan di swalayan. Mitsuru mencari robot Goggle, setelah ketemu ia menyerahknnya pada ayahnya.

Mitsuru ingin berkata, ‘di rumah ada banyak sekali robot seperti ini. Ayo lihat ke rumah’, tetapi sebelum ia mengungkapkannya, ayahnya berbisik, “kamu suka benda-benda seperti ini?” Ekspresinya terdengar sedikit kecewa. Mitsuru menjadi sedih.

Bahkan setelah berusia 26 tahun pun Mitsuru masih ingat ekspresi wajah ayahnya saat itu.

***

Mitsuru dan ibunya tinggal di lantai 4 sebuah rumah susun. Kakek dan neneknya tinggal tepat di bawah rumahnya, di lantai 3. Selesai sekolah, Mitsuru pulang ke rumah kakek-neneknya. Ia akan terus bersama neneknya sampai ibunya pulang.

Jika ibunya pulang, ibunya datang memanggilnya, lalu mereka berdua bersama-sama kembali ke lantai 4.

Suatu hari, terdengar suara dari lantai atas, tetapi ibunya tidak datang memanggilnya.

“Sepertinya Ibu sudah pulang,” kata Mitsuru pada neneknya.

“Kalau ibumu pulang, ia akan datang menjemput. Tunggu saja dulu,” sahut neneknya.

“Aku mau pulang,” kata Mitsuru. Ia berlari keluar, tetapi neneknya menghentikannya.

“Coba kita telepon dulu, ya.” Setelah berkata demikian, neneknya menelepon rumah Mitsuru. Ibunya lalu datang menjemput. Mitsuru bersama ibunya pulang ke rumah mereka; dan sudah ada seorang pria di sana. Kekasih ibunya.

Setelah peristiwa itu, jika malam tiba, Mitsuru sering membuka jendela rumah neneknya dan melihat ke lantai atas: jendela di posisi yang sama di lantai atas juga terbuka. Ia tahu ibunya sudah pulang dari cahaya yang keluar melalui jendela tersebut.

Malam-malam, Mitsuru yang masih SD berkali-kali melongokkan lebih dari separuh badannya melalui jendela untuk melihat ke atas. Neneknya melihatnya.

“Ini rumahmu. Yang di atas itu milik ibumu!” Neneknya marah.

“Tidak, rumahku yang di lantai empat,” pikirnya.

Pada masa itu, ibunya berkencan dengan banyak laki-laki. Ketika Mitsuru kelas 6 SD, ibunya tinggal bersama Mikio Muta (nama samaran), usianya 50 tahun. Mikio yang seorang asisten di kota T sudah memiliki istri dan anak. Kadang-kadang bahkan istrinya menelepon. Mikio membenci Mitsuru. Kalau Mitsuru sedang melihat televisi, Mikio membentaknya. “Berisik!”. Kalau Mitsuru menyetel pendingin ruangan terlalu dingin, Mikio memarahinya.

Suatu ketika, Mitsuru pergi untuk mengambil surat yang ditujukan untuk dirinya. Di kotak pos, selain surat, ada juga koran. Mitsuru berpikir ia lebih baik tidak mengambil yang bukan untuknya, jadi akhirnya ia hanya mengambil suratnya dan membawanya kembali ke ruangan. Tiba-tiba Mikio menanyainya, “mana korannya?”

“Ada di kotak pos ….” Mitsuru menjawab lirih.

“Kenapa korannya tidak diambil? Benar-benar anak yang tidak tanggap!” Mikio marah.

Bagi Mitsuru, Mikio adalah sosok yang menyeramkan.

Tengah malam, tiba-tiba Mikio membentak ibu Mitsuru. Ketika Mitsuru keluar, ia tercengang melihat ibunya membawa barang-barang. Mikio membentak ibunya dengan suara keras, sehingga Mitsuru berkata, “HENTIKAN!” Mendengar itu, Mikio menatapnya tajam, “Apa kau?”

“Karena Anda pejabat, harga diri Anda juga tinggi kan?” kata Mitsuru.

Saat kelas 1 SMP, Mitsuru dan ibunya meninggalkan rumah susun, lantas tinggal di sebuah rumah. Ketika mereka akan pindah, Mikio datang dan marah, “ini tidak sesuai dengan pembicaraan kita … “. Sebelumnya, Mikio berencana menitipkan Mitsuru pada kakek-neneknya, lalu menyewa rumah dan tinggal berdua dengan ibu Mitsuru.

Pada plat nama di depan rumah, tertulis nama Mikio dan ibu Mitsuru.

Bagi Mitsuru saat itu, hal yang paling menyebalkan adalah ketika teman-temannya yang datang bermain ke rumahnya bertanya mengenai plat nama itu.

***

Kelas 1 SMA, Mitsuru yang ingin bertemu dengan ayahnya mengintip buku agenda kecil milik ibunya dan mencari alamat kantor serta nomor telepon ayahnya. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan kecil yang menjual pernak-pernik secara eceran ke swalayan.

Mitsuru bolos sekolah dan pergi ke Tokyo. Di tengah hari yang dingin di musim salju, Mitsuru pergi ke alamat kantor ayahnya. Tetapi ternyata kantor itu tidak ada lagi karena sudah pindah lokasi. Ia mengumpulkan nyali dan menelepon ayahnya. Telepon tersambung. Tapi ayahnya sedang pergi, tidak ada di kantor.

“Ini Mitsuru, ya?”

Mitsuru ingat suara di seberang telepon. Rupanya teman kantor ayahnya yang dulu sering mampir ke rumah.

“Iya,” jawab Mitsuru.

“Ada urusan mendadak?”

“Ah, tidak.”

“Kalau begitu, nanti saya sampaikan kalau ada telepon darimu ya. Nanti telepon lagi saja.”

‘Padahal aku ingin dengar suara Ayah ….” Mitsuru kecewa. Ia bersandar pada dinding dan jatuh terduduk. Di bawah sinar matahari musim dingin, ia memeluk lutut dan sejenak tak bisa bergerak.

***

Ketika Mitsuru lulus ujian masuk universitas, ibunya bahagia sekali.

“Ibu beri hadiah. Mau apa?” tanya ibunya.

Sejak dahulu Mitsuru menjawab bahwa ia ingin robot, karena barang selain robot tidak akan membuatnya puas. Tapi ia mengajukan permohonan lain kepada ibunya.

“Aku ingin Ayah datang di hari penyambutan universitas.”

Pada hari penyambutan universitas, mereka bertiga bertemu di stasiun Shibuya. Mitsuru terakhir kali bertemu ayahnya saat kelas 6 SD, jadi ini adalah pertemuan setelah tujuh tahun terpisah.

“Kamu sudah besar, ya.” Kata ayahnya.

“Terima kasih.” Mitsuru menjawab sambil tersenyum.

Mereka bertiga kemudian pergi ke acara penyambutan universitas, lalu makan, lalu berpisah. Tidak banyak percakapan yang terjadi, tetapi seharian itu Mitsuru merasa ada kehangatan di dadanya.

Kesan Mitsuru pada ayahnya saat itu adalah: ‘ternyata tubuh Ayah kecil’. Badan Mitsuru sendiri makin membesar. Tingginya 180 cm.

Ayahnya juga memiliki kesan pada Mitsuru. ”Ayah terkejut kamu sebesar ini. Lalu, apa ya, tampaknya kamu laki-laki yang baik, jadi ayah merasa tenang. Hahaha ….” Kata ayahnya yang disusul dengan tawa. Rupanya ia tersipu karena memuji anaknya, “sejak berpisah waktu kamu SD, ayah selalu berpikir kita tak bisa bertemu lagi. Lalu ketika kamu bilang ingin ayah datang ke penyambutan universitas, ayah berpikir, ‘Wah, Mitsuru ingin bertemu denganku, aku boleh pergi ke penyambutan universitas.’ Beban di dada ayah rasanya sudah terlepas.”
***
Setelah itu, ayah dan anak itu bersua empat mata.

“Aku mempertimbangkan banyak hal untuk bertemu Ayah,” kata Mitsuru, “aku berpikir aku menyimpan dendam pada Ayah. Awalnya aku bilang; tidak, aku tidak dendam. Lalu setelah kita bercakap tentang banyak hal dan pikiranku lebih terbuka, ayah memasukkan tiket kereta kemudian  memperlihatkan foto istri dan anaknya dengan wajah gembira.”

Ayahnya berkata begini, “Waktu kita bertemu dan bisa mengobrol dengan santai, pertama-tama ayah bilang, ‘maaf, ayah telah membuatmu menderita.’

Lantas pertemuan ayah-anak itu dimulai.

“Sebenarnya ada hal yang bagaimanapun ingin sekali kukatakan,” kata Mitsuru, “SD, SMP, SMA, aku ingin sekali bertemu Ayah. Kupikir mungkin saja Ayah juga ingin bertemu denganku, tetapi … bagaimana sebenarnya?”

Ayahnya menjawab.

“Ayah mengatakan yang sejujurnya. Ayah tidak ada pikiran ingin bertemu denganmu.”

Ada perbedaan antara perasaan anak dan ayah ini. namun itu merupakan hal yang tak bisa terhindarkan. Ayahnya memiliki istri, dengan istrinya yang ini mereka telah memiliki putri. Ada keluarga yang harus diberi curahan kasih saying. Demi melindungi keluarganya ini dan membiayai keperluan Mitsuru, ayahnya harus bekerja di perusahaan. Jangankan untuk memikirkan bagamana perasaan Mitsuru kepadanya; memikirkan Mitsuru saja ayahnya tak ada waktu.
Tetapi bagi Mitsuru, tetap saja jawaban itu menyedihkan.

Ayahnya mengetahui kesedihan Mitsuru. Ia diajak berjalan-jalan dengan keluarga ayahnya yang sekarang. “Sebelumnya aku sudah pernah bertemu dengan keluarga Ayah,” ungkap Mitsuru, “istri Ayah tahu kalau aku putra Ayah, tapi putri Ayah tidak tahu. Kalau disambungkan, dia jadi adikku kan. Ah, rasanya agak absurd.”

Mitsuru, yang sejak SD hampir selama sepuluh tahun melalui waktunya dengan kehampaan lalu tiba-tiba bertemu dengan ayahnya, ingin kembali menjadi anak SD di depan ayahnya.

***

“Waktu saya TK, Ayah pergi berlibur ke luar negeri. Nah ini, ini oleh-oleh waktu itu,” Mitsuru berkata sambil menunjuk gambar kecil yang terpajang di dinding. Lukisan suasana Venesia. Di bawahnya ada senar yag menjulur; Mitsuru menarik senar itu, terdengar suara benda beradu, lalu terdengar alunan nada dari kotak musik. Lagunya adalah Eden no Higashi.

Sebuah melodi yang memancarkan kesedihan mulai menggema. Di kamar berukuran 4,5 tatami ini terdengar suara kotak musik yang kesepian.

Di tengah mengalunnya lagu, saya melihat dengan saksama wajah robot satu per satu. Mata saya menyapu pelan seperti di film. Mulut yang berbentuk seperti topeng berwarna perak, hidung yang kecil dan detil, mata berwarna kuning yang bersinar, segitiga merah yang terpatri di dahi. Ekspresi tiap robot yang dingin terlihat seperti sedang menanggung sesuatu.

“Apa arti robot bagimu?” tanya saya pada Mitsuru.

“Misalnya ini ….” Mitsuru memegang salah satu robot, “saya ingat ini adalah robot yang dibelikan Ayah. Dengan memegang ini saya tidak bisa melupakan saat-saat itu. Semacam barang warisan: menatap masa depan tapi tidak melupakan masa lalu. Kalau saya berkeluarga, saya bersumpah saya tidak akan pernah meninggalkan anak saya sendiri.”

Yang sedang digenggam oleh Mitsuru adalah robot Goggle.

Itu adalah robot yang dibelikan oleh ayahnya saat ia kelas 6 SD, ketika mereka kembali bertemu di pintu barat Stasiun Yokohama.



Diterjemahkan dari “ロボットのへや”  karya Takashi Uehara dalam buku 喜びは悲しみのあとに, Gentosha Outlaw Bunko, 2004.
                

Saturday, December 24, 2016

Orang-orang Shibuya


Persimpangan jalan di depan patung Hachiko, Stasiun Shibuya.

Orang-orang pergi dan pulang saling mendekat, bersimpangan. Tak ubahnya seperti ombak yang mendekat ke pantai yang saling bertabrakan dengan ombak yang menyurut, saling menindih satu sama lain. Dalam sehari, ada sekitar 270.000 orang yang menyeberangi persimpangan ini. Kebanyakan adalah orang-orang berusia muda. Mereka adalah orang-orang yang datang karena mengagumi Shibuya, sebuah kota yang modern. Selain mereka, ada juga orang-orang yang sudah nyaman tinggal di kota ini.

***

Orang-orang muda yang menyeberangi persimpangan ini kebanyakan masuk ke pusat kota. Jalan-jalan dipenuhi oleh generasi muda yang terus bergerak. Bersela beberapa jalan kecil dari pusat kota itu, ada satu ruas jalan sempit menanjak berupa anak tangga. Sebutannya Lereng Spanyol. Beberapa gadis naik. Ada pusat perbelanjaan Parco di depan pertigaan di ujung lereng. Di ujung palang jalan pertigaan tersebut, tiga pemuda sedang berlarian tak tentu arah—ke kiri dan ke kanan. Mereka mengejar dan menyapa perempuan yang lewat. Bila tak digubris, mereka langsung mengejar perempuan yang lain. Tiga pemuda itu terus berlarian, ke kiri dan ke kanan tanpa henti, di jalan yang memiliki lebar tiga meter dan panjang sepuluh meter itu. Persis seperti tikus yang dimasukkan dalam sebuah alat percobaan yang dialiri listrik.

***

Akhir Maret. Hari Minggu. Pukul 16.00. Saya memanggil salah seorang dari tiga pemuda itu.

“Sekarang saya sedang bekerja,” ia memandang saya lekat dengan ekspresi wajah yang menakutkan.

“Oh, maaf. Bisakah kita mengobrol sebentar? Setelah jam kerja juga tidak apa-apa,” tanya saya yang jadi ketakutan.

“Boleh. Tunggu di sini pukul setengah sembilan,”

“Baik. Sambil menunggu, boleh saya melihat kamu bekerja?”

“Boleh saja.”

Pemuda ini bernama Hitoshi Idehara. Di antara tiga pemuda itu, ia yang paling tua, usianya 23 tahun. Ketiga pemuda itu wajahnya terbakar sinar matahari, rambutnya panjang dan dicat, serta mengenakan pakaian warna kehitaman. Hitoshi memakai mantel panjang warna hitam. Di bawah mantelnya ia memakai celana panjang hitam yang ujung bawahnya terpotong serampangan sehingga benangnya bergantungan. Sepertinya akibat seharian berjalan tanpa henti.

“Maaf … siswa sekolah?”

Sembari berkata demikian, Hitoshi tersenyum lebar pada dua orang perempuan yang lewat di depannya, kedua tangannya ditempelkan di dahi seperti sedang memohon, tubuhnya dicondongkan ke samping. Kedua perempuan itu tampak tidak nyaman, lalu pergi menjauh dari Hitoshi. “Eh … eh ….” Hitoshi berjalan menjejeri mereka berdua. Setelah mengejar sekitar tiga meter, ia menyerah. “Bego. Mati sajalah!” gerutunya. Ia mencari dua orang calon konsumen selanjutnya. Begitu ketemu, ia berlari, lalu berdiri di depan dua perempuan tersebut. Ia tersenyum lebar, kedua tanganya ditaruh di depan dahi. “Maaf … siswa sekolah?” Dua perempuan itu berlari, kabur. Wajah Hitoshi tampak marah, ia menggerutu, “Jangan main-main, bego!” Sambil menggerutu, ia langsung menemukan calon konsumen selanjutnya, dan berlari mendekat. Senyuman plus kedua tangan memohon, dan “maaf … siswa sekolah?”, lalu targetnya menjauh. Muka Hitoshi berubah menakutkan. Ekspresi wajahnya berubah-ubah. Berlarian, tersenyum, diacuhkan, marah, menggerutu. Begitu terus berulang-ulang.

***

Setelah pekerjaan Hitoshi selesai, kami pergi ke kedai minum. Saya ingin mendengarkan ceritanya. Pertama-tama, ia bercerita mengenai apa yang dilakukan oleh seorang penjual sistem-cegat.

Tugas mereka adalah menyapa calon konsumen perempuan, meminta tolong untuk menjawab angket, membawa mereka ke dalam gedung, lalu mendudukkan mereka di meja konter dengan konselor perempuan di baliknya. Sembari mengambil angket, si konselor membincangkan masalah kecantikan dan menawarkan kosmetik serta alat perawatan wajah. Kebanyakan adalah produk berharga mulai dari 250.000 sampai 500.000 yen, dengan fasilitas pinjaman. Jika berjalan lancar, saat itu juga langsung ada kontrak-sementara. Dokumen kontrak tersebut lalu dikirimkan ke perusahaan penyedia pinjaman. Setelah konsumen membubuhkan stempel, maka kontrak tersebut sudah menjadi kontrak-resmi. Di titik inilah Hitoshi akan menerima hasil bagiannya, yaitu sekitar tujuh persen dari total nilai kontrak. Jadi dari kontrak senilai 250.000 yen, bagian untuknya adalah 17.000 yen.

Dari total jumlah kontrak-sementara di meja konter itu, separuhnya tidak berlanjut. Kalau Hitoshi membawa sepuluh orang, yang berlanjut sampai kontrak-sementara adalah sekitar empat orang. Dengan kata lain, hanya dua orang yang sampai pada tahap kontrak-resmi. Kenyataannya, dalam sehari ia paling banyak bisa membawa sepuluh orang ke meja konter, dan paling apes ia tak membawa seorang pun.

Pekerjaan itu dilakukan sejak pukul satu siang hingga pukul delapan malam. Ada lima orang konselor; jika calon konsumen yang dibawa masuk sudah memenuhi meja konter, barulah Hitoshi dan kawan-kawannya memiliki waktu istirahat.

Shibuya adalah lokasi rebutan bagi para penjual sistem-cegat. Dari stasiun sampai Lereng Spanyol, tempat Hitoshi, ada beberapa laki-laki dari perusahaan lain, jadi ia harus mengejar para perempuan yang tadi sudah menghindar dari penjual sistem-cegat sebelumnya. Memang penjualan sistem-cegat lebih baik dilancarkan di lokasi yang sedekat mungkin dengan stasiun, tetapi sudah ada wilayah kekuasaan masing-masing, dan untuk wilayah tersebut tiap perusahaan membayar setoran sebesar 70.000 yen per bulan kepada yakuza. Selain itu, terkait dengan pembayaran pinjaman, tiap konsumen harus memiliki kemampuan untuk melunasi pinjaman itu, padahal orang-orang muda yang datang ke Shibuya kebanyakan adalah siswa sekolah atau pengangguran. Jadi pertama-tama, para penjual sistem-cegat wajib menyeleksi calon konsumennya. Atas alasan tersebut, kalimat pertama yang diajukan menjadi beralasan jelas.

“Siswa sekolah?”

***

Hitoshi sedang mengejar dua orang perempuan. Namun keduanya terus saja berjalan tanpa mempedulikan Hitoshi. Hitoshi meminum kopi kaleng yang ia pegang dengan tangan kirinya, lalu menghisap rokok yang ia pegang dengan tangan kanannya. Ini sudah akhir bulan Maret, tetapi angin yang berhembus masih saja dingin.

Dua orang perempuan berambut panjang dikuncir yang masing-masing mengenakan mantel biru dan krem berjalan mendekati tanjakan Lereng Spanyol. Hitoshi meletakkan kopi kalengnya di sudut jalan, lalu saat keduanya naik, Hitoshi sudah berdiri di depan mereka. Kedua tangannya diletakkan di depan dahi, dan ia tersenyum lebar.

“Maaf … siswa sekolah?”

Perempuan yang mengenakan mantel biru memandangi Hitoshi lekat lalu berteriak keras.

“Berisik!”

***

Dahulu Hitoshi tinggal di sebuah kota kecil di pedalaman Perfektur Saitama. Saat SMP, ia berpikir bahwa anak yang bandel lebih populer di mata para gadis sehingga ia mendekati gerombolan anak bandel. Ia memotong rambutnya di bagian samping sampai tipis dan menyisakan rambut tebal di kepala bagian tengah, serta bergabung dengan geng di daerah Omiya dan Urawa. Kedua orangtuanya bercerai, ia dan adik laki-lakinya dibesarkan hanya oleh ibunya. Setelah lulus SMP, ia berkerja, tetapi tak juga menemukan yang cocok sehingga berkali-kali pindah tempat kerja. Dalam enam bulan ia pindah kerja sebanyak enam kali. Setelah itu, atas rekomendasi seniornya, ia menjadi pekerja pembuat cetakan di lokasi konstruksi. Selama empat tahun ia bekerja di sana, bahkan mendapat kepercayaan menjadi penanggung jawab lokasi. Namun karena ada masalah yang disebabkan oleh perubahan desain, ia melarikan diri dan berhenti bekerja. Ia keluar dari kotanya tanpa tujuan sambil menghirup cairan pengencer cat.

“Saya tidak kuat mental, jadi saya melarikan diri,” kata Hitoshi.

Ketika sedang duduk di bundaran stasiun Akabane, ia berkenalan dengan seorang laki-laki pencari bakat aktris porno dan ditawari apakah ia mau menjadi penjual sistem-cegat di Shibuya.

“Sebelumnya saya pernah main ke Shibuya dan pernah melihat laki-laki penjual sistem-cegat yang sedang bekerja,” kata Hitoshi mengenang. “Saya berpikir, ‘wah, Shibuya. Pasti laki-laki ini sering berkenalan dengan gadis-gadis.’”

Tak lama kemudian, ia menelepon si laki-laki pencari bakat, ingin diperkenalkan pada pekerjaan tersebut. Hitoshi merasa ia telah memasuki satu babak baru.

“Entah mengapa, memikirkan bisa bekerja di Shibuya saja membuat saya senang.”

Para lelaki yang bekerja sebagai penjual sistem-cegat itu mayoritas berasal dari daerah, sehingga bekerja di kota besar seperti Shibuya merupakan suatu kebanggaan.

“Awalnya menyenangkan bisa menyapa dan mengobrol dengan gadis-gadis,” Hitoshi berkisah sambil tertawa. “Seperti ‘setelah bisa menggoda seorang gadis dan mengajaknya pergi, apa yang harus dilakukan?’. Tapi melakukan hal itu setiap hari ternyata sama sekali tidak meyenangkan. Kebanyakan yang lewat sini cuma perempuan-perempuan yang tidak menarik.”

Tiap hari, Hitoshi merasa seperti diejek oleh perempuan-perempuan kota besar ini dari cara mereka melihat dirinya.

“Awalnya saya menyapa mereka dan diacuhkan. Ini tidak begitu menyakitkan. Tapi, misalnya saat saya sudah berusaha sekuat tenaga tapi tak ada yang jadi kontrak, atau kalau saya berjuang mati-matian, melakukannya mati-matian dengan sekuat tenaga menyapa calon konsumen, bertanya apakah para konselor di atas sedang menunggu, berusaha terlibat, membawa lima belas atau enam belas pasang calon konsumen tapi sama sekali tidak membuahkan hasil; maka pada saat-saat seperti itu saya jadi turun gedung lagi dengan lunglai, tidak bersemangat. Saat para konselor sedang tak ada calon konsumen, maka itulah giliran kami, itu pekerjaan kami, jadi kami harus lebih bersemangat. Lalu juga ketika menyapa dan dibalas begini (ia menggerakkan tangan seperti gestur mengusir), atau ketika menyapa malah mereka kabur, dibilang bego, bersembunyi di tembok dan berteriak, ‘huaaaaa … ‘ seperti melihat kecoa; itu menyakitkan. Pekerjaan ini memang berat secara fisik, tetapi lebih berat lagi untuk mental.” Setelah berkata demikian, Hitoshi lalu meneguk bir. “Sekarang saya tak bisa menyapa calon konsumen dengan sensasi menyapa gadis sebagaimana apa yang dahulu saya bayangkan. Sekarang saya menyapa dengan memikirkan … aneh kalau menyinggung uang, tetapi mungkin lebih ke urusan perut.”

***

Dua orang perempuan berambut pendek mendengarkan cerita Hitoshi. Salah seorang yang bertubuh kurus memandang wajah Hitoshi, sementara seorang lagi yang bertubuh gemuk melihat ke arah lain.

“Sekarang saya juga bekerja di bagian promosi sebuah salon. Saya mempromosikan sebuah salon yang terletak di gedung berlantai lima di sebelah toko GAP.” Hitoshi menunjuk gedung GAP. Ia menurunkan file foto yang tergantung di lehernya dan menunjuknya, “salon ini dulu direnovasi dan sekarang sudah dibuka kembali; promosinya adalah dengan meminta orang-orang untuk mengingat nama dan alamat salon ini. Nah, saya adalah karyawan yang bekerja paruh waktu.

Selamat siang.” Hitoshi tersenyum-senyum sambil memandang wajah dua perempuan tadi. “Usia saya 23 tahun, kalau Kakak-kakak ini berapa?” Keduanya tidak menjawab. Mereka melanjutkan berjalan, tetapi Hitoshi menghalangi jalan mereka dengan tubuhnya, lalu menunjukkan bagian belakang file-nya. “Saat ini kami sedang mencari orang untuk melingkari dua belas jenis model rambut yang disukai dari majalan mode dan sejenisnya. Kalau Kakak bilang tidak bisa memilih juga tidak apa-apa. Kami sudah mempersiapkan hadiah sebagai ucapan terima kasih, dan promosi yang sedang kami lakukan yaitu kami ingin Kakak mengingat nama serta alamat salon kami.” Perempuan bertubuh gemuk melihat Hitoshi.

“Wah, Kakak ini sepertinya tegang ya. Tapi tenang, Kakak tidak perlu menulis alamat atau nomor telepon; kami tidak meminta untuk mengisi angket atau apalah itu di sana. Mungkin kalau perempuan sedang berjalan-jalan, entah untuk berbelanja atau makan, pasti ada bermacam-macam tempat yang ingin dikunjungi, kan?”

“Iya,” jawab perempuan bertubuh kurus.

Nah, jalan kaki ke salon kami cuma lima belas detik. Mengisi angketnya juga tidak perlu waktu lama kok. Tidak akan mengganggu waktu Kakak sekalian untuk belanja atau makan. Jadi, mohon bantuannya,” setelah berkata demikian, Hitoshi menyatukan tangannya, memohon kepada kedua perempuan itu. Keduanya seperti terganggu tetapi mereka tertawa.

“Tidak perlu menulis alamat dan nomor telepon, cuma menulis nama. Misalnya nama panggilan. Kalau nama Kakak adalah Yoshiko, ditulis Yocchan juga boleh. Atau kalau mau menulis Ketua juga tidak masalah.”

“Kenapa saya jadi Ketua?” tanya perempuan bertubuh gemuk.

“Bukan begitu. Kakak kalau berjalan selangkah lebih cepat, seperti bilang ayo ikuti saya, jadi mengajak kakak yang satunya ini,”

Dua perempuan itu tertawa.

“Ada di sebelah sana saja kok ….” Hitoshi mulai melangkah. Dua perempuan tadi jadi sedikit tertinggal, lalu mereka menyusul. Sambil berjalan, Hitoshi terus-terusan berbicara, “hadiahnya tidak besar, tapi bukan tisu kok. Yang jelas tidak akan membebani bawaan Kakak-kakak ….”

Bertiga, mereka memasuki gedung. Tidak sampai semenit, Hitoshi sudah keluar lagi.

Ia menyenandungkan sebuah lagu.

“ … Itsudemo kimi no egao ni yurete (Aku selalu melambai pada senyumanmu)
Taiyou no you ni tsuyoku saiteitai (Aku ingin mekar dengan kuat, seperti matahari)
Mune ga itakute, itakute, kowaresou dakara (Karena hatiku pedih, pedih, seakan hancur)
Kanawanu omoi nara, semete karetai ….” (Rasa yang tak terwujud ini, biarkan layu saja)
(Judul: Flower. Lirik: hyde. Penyanyi: L’Arc~En~Ciel)

“Saya kadang terlalu bersemangat ketika berbicara. Sayang saja, tak ada orang yang menanggapinya,” Hitoshi minum bir, wajahnya memerah.

Jika sudah mulai menceritakan saat-saat kontrak-sementara terjadi, Hitoshi berubah menjadi penceramah.

“Sudah saya duga, pasti di sini,” Hitoshi menekan jantungnya sendiri, “saya akan berusaha agar semangat saya tidak turun. Kalau saya, begitu menyanyi lagu L’Arc~En~Ciel, semangat saya jadi meningkat.”

“Apakah penjualan sistem-cegat tidak tergolong penipuan?” tanya saya

“Tidak,” Hitoshi agak tegang, “kami tidak berbohong. Jika misalnya konsumen ingin membatalkan kontrak, ya langsung bisa batal.”

Hitoshi sudah menjalankan pekerjaan ini selama dua tahun, tetapi selama itu tidak sekalipun ia pulang ke rumahnya.

“Kamu bilang kerja apa pada ibumu?” saya bertanya.

“Saya bilang kalau kerja di perusahaan manufaktur mobil,” Hitoshi mematikan rokoknya dengan menekannya di asbak.

“Kenapa tidak bilang yang sebenarnya?”

“Kalau tahu saya kerja sebagai penjual sistem-cegat, ibu pasti sedih. Saya tidak ingin membuat ibu khawatir lagi.”

***

Dua orang perempuan sedang berjalan di tepi jalan; seorang berambut panjang terurai ke belakang dan memakai mantel hitam, sementara seorang lainnya berambut pendek dan memakai sweter warna krem. Dari kejauhan, Hitoshi melambaikan tangan dan tersenyum, seakan sudah mengenal mereka.

“Maaf … siswa sekolah?”

Keduanya mengacuhkan Hitoshi sama sekali, kemudian berlalu menjauh dengan pandangan meremehkan.

“Hari ini sama sekali tidak berhasil,” wajah Hitoshi tampak ingin menangis, “ini gawat.” Ia melihat ke atas, berbicara sendiri. Tepat di depannya adalah dinding Parco dengan gambar wajah Amino Suzuki berukuran besar, dan sederet huruf berukuran kecil: tersenyumlah!

***

“Berapa peghasilanmu sebulan?” tanya saya.

“500.000 yen. Saya harus bekerja keras agar tidak turun,” jawab Hitoshi.

Walaupun pendapatannya 500.000 yen, tapi ia tak punya tabungan. Setelah saya tanya ia menggunakan uangnya untuk apa, ternyata untuk minum sake. “Lalu untuk pergi ke klub kabaret; di sana saya jadi ingin berteriak lepas. Pekerjaan ini menimbulkan stres.” Kata Hitoshi.

Uang yang ia kumpulkan mati-matian ternyata terpakai habis. Tidakkah ia memikirkan masa depannya?

“Tentu saja saya pikirkan,” Hitoshi menjawab dengan nada marah.

Ia berkeinginan menjadi pihak yang mempekerjakan para penjual sistem-cegat.

“Asalkan bisa merangkul beberapa penjual sistem-cegat dan konselor, dengan mengeluarkan uang saja sudah bisa menjadi pemilik. Banyak yang begitu. Bos saya, kepala divisi saya, mereka dulu juga melakukan itu dan berhasil. Sebelumnya mereka juga penjual sistem-cegat,” Hitoshi mengambil botol bir dengan tangannya dan menuangnya ke gelas saya.

“Hah …?”

Melihat wajah saya yang kaget karena terkesan, Hitoshi tertawa lepas.

Katanya, “dunia yang tidak mengenal latar belakang pendidikan memang sungguh ada ….”

***

Hitoshi berbicara lewat telepon dengan menempelkan ponselnya di telinga. Di sampingnya lewat dua orang perempuan yang sedang membawa es krim.

“Jangan main-main, bego!” Tiba-tiba Hitoshi berteriak keras. Orang-orang di sekitar sampai menoleh. Dua perempuan yang membawa es krim tadi lalu tergopoh-gopoh menaiki lereng.

Hitoshi berlari masuk gedung.

Sepuluh menit kemudian, ia keluar dari gedung dengan langkah gontai. Ia mendongak, melihat langit. Ia mengelap matanya dengan lengan mantelnya. Ia menangis.

***

“Hari ini kamu menangis?” saya bertanya.

“Iya, saya menangis,” Hitoshi tertawa tersipu.

“Apa ada sesuatu?”

“Saya sudah membawa banyak target calon konsumen, tetapi konselor tidak berhasil mencapai kontrak. Saya hilang kesabaran. Biasanya, jika tak ada yang berakhir sampai kontrak, konselor-konselor itu akan menelepon, ‘maaf, tak ada yang mencapai kontrak, padahal sudah berusaha membawa target ke sini. Mohon bantuannya untuk target selanjutnya.’ Tapi karena hari ini tidak ada telepon dari Junko Sato, saya jadi marah-marah di telepon. Kemudian saya dipanggil kepala divisi. Katanya, ‘saya tahu kamu sudah berusaha, tapi ingat bahwa konselor pun begitu,’”

“Dimarahi?”

“Bukan dimarahi, malah Pak Kepala Divisi kemudian menghibur saya. Saya menghormatinya.” Ekspresi Hitoshi menunjukkan keseriusan. Katanya, kepala divisinya berusia 27 tahun.

“Apa yang Kepala Divisi katakan untuk menghiburmu?”

“Katanya, ‘jujur, bos menjadikan kemampuanmu sebagai senjata; dia akan terganggu kalau kamu tak ada. Tapi kalau sampai ada masalah seperti ini, kamu akan dapat poin minus. Jadi kalau kamu berbuat seperti ini lagi, saya akan panggil kamu lagi; saya tidak akan membiarkan kamu. Setelah ini, kalau kamu seperti merasa hilang kesabaran, ingat kata-kata saya barusan.’ Saya jadi ingin berubah setelah dibilang begitu. Di depan gedung tadi saya memang menangis. Saya benar-benar serius dengan pekerjaan ini.”

***

Keluar dari kedai minum, saya dan Hitoshi berjalan ke arah Stasiun Shibuya. Pukul 12 malam. Ada banyak pemuda yang berjalan sambil mengobrol.

“Di sini ada banyak perempuan yang digoda, laki-laki yang bertengkar, dan macam-macam lainnya; dan semuanya tak ada artinya.” Hitoshi berkata sambil menghela nafas.

Ia membenci laki-laki dan perempuan yang berjalan d Shibuya.

“Kau suka pekerjaan sebagai penjual sistem-cegat?” tanya saya.

“Saya membencinya. Tapi bagi lulusan SMP seperti saya agar bisa berpenghasilan seperti sekarang ini, tak ada pilihan lain selain pekerjaan ini.”
Kami berdiri di persimpangan jalan di depan Stasiun Shibuya. Ada banyak orang berusia muda di seluruh penjuru.

“Waktu di Saitama,” Hitoshi mulai berkisah, “orang mengagumi segala tentang Shibuya yang populer. Tapi kalau melihat kami, para penjual sistem-cegat ini, masih adakah orang yang kagum? Kadang saya pikir tak ada salahnya mereka itu bekerja sebentar di Shibuya.”

Lampu lalu lintas berganti warna. Kami menyeberang. Kerumunan manusia mengarah ke stasiun.

“Apa kau mengenal wajah orang-orang yang berprofesi sama denganmu di Shibuya ini?” saya bertanya.

“Iya. Saya suka bergaul dengan penjual dari perusahaan lain, jadi sebagian besar kenal. Mereka lulusan SMP atau keluar sekolah saat SMA, tapi semuanya bekerja dengan giat. Meskipun tetap saja ada yang pintar bekerja, atau sebaliknya, tidak becus bekerja.”

Ketika berjalan melintasi lapangan depan stasiun, Hitoshi menunjuk seorang laki-laki yang sedang berdiri di kios majalah.

“Itu dia, si pencari bakat.”

“Ooh ….” Saya menyahut. Hitoshi berjalan cepat ke arah laki-laki itu. Mengenakan mantel, laki-laki yang sepintas tampak seperti pekerja kantoran biasa itu membalikkan badannya, tangannya memegang majalan mingguan yang baru saja dibelinya. Saya tertinggal dari Hitoshi, lalu mengejarnya.

“Sekarang saya sedang diwawancarai majalah,” kata Hitoshi, seakan mengenalkan saya pada lelaki itu.

Laki-laki itu memandang saya dengan tatapan tajam.

“Jangan berkata macam-macam. Kemarin Shige juga diwawancarai majalah, lalu ia terkena masalah,” katanya.

“Tenang, tidak apa-apa ….” Hitoshi tersenyum dengan terpaksa.

Saya merasa suasananya menjadi tidak mengenakkan, jadi saya berkata pada Hitoshi, “Kalau begitu, terima kasih ya atas waktunya hari ini.” kemudian saya meninggalkan tempat tersebut.

Setelah berpisah, dari kejauhan saya kembali penasaran dengan kondisi Hitoshi. Si pencari bakat sudah tidak ada. Di tengah kemacetan, Hitoshi menelepon. Saya tahu ia berbicara dengan suara keras dan ekspresi senang. Setelah itu, seorang laki-laki yang juga sedang menelepon mendekat. Rambutnya panjang dan dicat terang, wajahnya terbakar matahari. Keduanya mendekat lalu tertawa. Lalu mereka berdua pergi ke arah kawasan pertokoan. Hitoshi berbicara dengan antusias. Dengan langkah kaki yang mantap, mereka menyeberang persimpangan jalan.

Hitoshi berjalan di kota Shibuya dengan penuh keceriaan. Shibuya adalah rumahnya.

*


Diterjemahkan dari “キャッチ。セールス” (Catch Sales) karya Takashi Uehara dalam buku 喜びは悲しみのあとに, Gentosha Outlaw Bunko, 2004.

Wednesday, December 21, 2016

Kontes Berbahasa Jepang Kyoritsu 2016 (2) – 5 Alasan Harus Ikut KBJ Kyoritsu


KBJ Kyoritsu adalah ajang pidato tahunan yang diselenggarakan oleh Kyoritsu Foundation. Para pembelajar bahasa Jepang saya sarankan untuk mengikuti kontes ini. Kenapa? Ada lima alasan mengapa pembelajar bahasa Jepang wajib mendaftar di situs Kyoritsu begitu pengumuman kontes ini keluar.

    1.  Melatih kemampuan bercakap bahasa Jepang
Pembelajar bahasa Jepang tentu mengetahui UKBJ (Ujian Kemampuan Bahasa Jepang) atau Nihongo Nouryoku Shiken yang mengukur kemampuan membaca, kanji, tata bahasa, dan mendengar. Padahal untuk bisa menguasai suatu bahasa, kemampuan di atas saja tidak cukup. Ada dua yang kurang: menulis dan berbicara. Untuk poin terakhir, beruntunglah para pembelajar yang berada dalam lingkungan yang mendukung, misalnya sebagai mahasiswa jurusan Bahasa Jepang, mengikuti kursus, atau memiliki rekan orang Jepang. Tentu lain cerita untuk para pembelajar otodidak yang harus lebih bersemangat agar kemampuannya meningkat. Mengikuti kontes Kyoritsu ini dapat memacu, terutama bagi otodidak-ers, agar lebih sering melatih kemampuannya berbicara sehingga paket kemampuan komunikasinya lebih komplet.

    2. Tidak ada syarat kemampuan bahasa Jepang minimal
Umumnya, lomba pidato bahasa Jepang mempersyaratkan peserta untuk memiliki sertifikat UKBJ. Namun tidak demikian dengan kontes Kyoritsu competition ini. Siapapun yang merasa mampu memahami dan berbicara bahasa Jepang dipersilakan mengikuti kontes. Tidak ada batasan usia maksimal dan minimal. Pokoknya siapapun yang merasa mampu, silakan daftar. Saat mendaftar, peserta memang diminta mengisi level UKBJ yang pernah didapatkan. Namun panitia tidak akan meminta peserta menunjukkan sertifikat tersebut. Jadi kalau kemampuan bahasa Jepangnya sudah sangat baik tetapi tidak pernah mengambil UKBJ, tetap diperbolehkan mendaftar.

    3. Tidak ada batasan usia dan status
Usia dan status seringkali menjadi penghalang saat mengikuti kontes pidato. Seringnya, kontes hanya diperuntukkan bagi pembelajar usia SMA dan mahasiswa. Padahal tidak sedikit pembelajar yang baru memulai mempelajari bahasa Jepang saat sudah tidak menyandang predikat mahasiswa. Untuk pembelajar seperti ini, silakan mengukur kemampuan dengan mengikuti KBJ Kyoritsu!

    4.  Peluang untuk menang sangat besar
Kyoritsu Foundation memang membatasi peserta sebanyak 100 orang. Namun dari tiga kali penyelenggaraan (tahun 2016 adalah yang ketiga), pesertanya selalu kurang dari angka tersebut. Dari jumlah itu, dipilih belasan peserta untuk masuk ke babak pidato (pada tahun 2015 terpilih 12 peserta, pada tahun 2016 terpilih 17 peserta, sedangkan di buku panduan tertulis kisaran 15-20 peserta). Setelah babak pidato, langsung dipilih lima pemenang yang semuanya memperoleh hadiah yang sama. Lima pemenang! Menjadi yang terbaik memang luar biasa, tetapi dalam KBJ Kyoritsu ini, menjadi nomor lima pun sudah cukup :D.

    5. Hadiahnya besar!
Ini dia poin paling penting. Hadiah bagi kelima pemenang adalah wisata ke Jepang 8 hari 7 malam. Akomodasi, makan, dan transortasi seluruhnya ditanggung oleh Kyoritsu Foundation. Bahkan ada agenda bermain ski dengan biaya sewa peralatan yang juga ditanggung panitia. Bagi manusia negeri tropis, salju tentu merupakan kemewahan tersendiri. Kapan lagi bisa bermain ski dan wisata ke Jepang secara gratis?


Nah, para pembelajar bahasa Jepang, apakah masih ragu untuk mengikuti KBJ Kyoritsu? Panitia mengungkapkan pada tahun 2017 kontes tersebut masih akan diadakan. Pendaftaran biasanya dibuka sekitar bulan Agustus, sedangkan pelaksanaan kontesnya sendiri biasanya pada bulan Oktober.

Bagi para pembelajar yang berniat mendaftar, silakan mempersiapkan diri dan semoga berhasil ^^


Foto: dokumentasi Intan, https://intandoankz.wordpress.com/