Tuesday, April 1, 2014

Melepas Puisi

Ratusan orang sedang tenang mendengarkan obrolan segar dua orang pembawa acara—sesegar wajah si pembawa acara wanita—ketika belasan orang berkaos merah tiba-tiba masuk dari pinggir lapangan. Mereka masuk dari segala penjuru lalu berpencar, mendatangi sekelompok penonton sambil membawa sesuatu. Setelah sejenak berkata-kata, sambil beberapa kali mereka saling mendekatkan mulut dan telinga—kurasa karena pembawa acara di atas panggung terus berbicara dan pengeras suara berfungsi dengan baik—orang-orang berkaos merah kemudian membagikan beberapa potong kertas berwarna kuning dan mengulurkan beberapa batang spidol. Salah satu dari sekelompok orang yang didatangi mengambil satu spidol dan membagikan kertas yang diterimanya kepada teman-teman sekelompoknya. Dengan segera, si pemegang spidol menulis di atas kertas kuning.

Semua orang berkaos merah melakukan hal yang sama, dalam hitungan waktu yang sama. Bergerak serempak yang mengingatkanku pada liliput-liliput yang muncul di film Willy Wonka si pemilik pabrik cokelat, namun bedanya orang-orang berkaos merah ini wajahnya tidak mirip satu sama lain, tidak menari, dan tidak mengenakan topi runcing seperti liliput Willy Wonka. Pendeknya, aku semakin yakin orang-orang berkaos merah ini adalah manusia biasa. Bukan liliput.

Dua pembawa acara di panggung—yang wanitanya berwajah segar—masih saling ngobrol tanpa sedikitpun terganggu oleh kehadiran orang-orang berkaos merah. Si lelaki bercerita bahwa ia ingin sekali belajar bahasa Perancis dan berguru pada si wanita yang memang lulusan Sastra Perancis. Si wanita menimpali dengan berkata bahwa ia bisa saja berbuat demikian dengan imbalan, yaitu si lelaki yang seorang anggota paduan suara harus mengajarinya bernyanyi. Mereka berdua sepakat, kemudian saling bersalaman, tertawa, dan melanjutkan obrolannya tentang hal lain.

Dua orang laki-laki yang juga mengenakan kaos merah tiba-tiba naik ke panggung. Ada sebentuk benda di tangan mereka. Aku tidak memerhatikan apakah mereka dipanggil untuk naik atau atas inisiatif sendiri naik panggung untuk mengkudeta pembawa acara. Tapi tidak ada ekspresi terkejut sama sekali dari dua pembawa acara tadi, jadi kupikir mereka pasti sudah bekerja sama sebelumnya.

Dan kurasa aku melewatkan sesuatu. Aku terlalu memusatkan perhatian pada panggung, yang sekarang diisi empat orang. Ketika aku menoleh pada ratusan orang yang beberapa di antara mereka masih sibuk menulis-nulis di atas kertas kuning dengan spidol, orang-orang berkaos merah sudah membawa sesuatu yang lain di tangan mereka. Sebentuk benda, sama persis dengan yang dibawa dua orang laki-laki yang barusan naik ke panggung.

Tidak butuh banyak waktu, orang-orang di depan panggung memegang sebentuk benda tadi. Pandangan mereka mengarah ke panggung, menirukan apa yang diperagakan oleh dua laki-laki berkaos merah. Mula-mula mereka meletakkan kertas-kertas kuning di permukaan benda tersebut. Kertas-kertas itu kemudian ditekan-tekan. Hei, mereka menempel!. Samar kulihat, ada tulisan—atau coretan—di kertas kuning itu. Setelah itu, mereka memegang sebentuk benda tadi. Bahannya tipis, kurasa mirip kertas. Diangin-anginkan, ke kiri dan ke kanan. Ia menjadi bervolume dan berbentuk mirip balon.

Lantas beberapa orang, masih menirukan dua laki-laki berkaos merah di panggung, mulai mengeluarkan korek api dan membakar sesuatu di bagian bawah benda berbentuk mirip balon tersebut. Ujung balon kertas diarahkan ke atas. Orang-orang mulai tersenyum, lalu tertawa. Masing-masing memegang kerangka bagian bawah di balon kertas. Sambil tetap tertawa, mereka mengobrol dengan keras atau mengambil kamera dan memotret.

Balon kertas-balon kertas mulai penuh oleh asap. Satu balon kertas dilepaskan dan perlahan-lahan membumbung. Tinggi, terbang ke atas. Bercahaya merah indah di langit hitam pekat. Diiringi tepuk tangan riuh rendah banyak orang.

“Terbanglah puisi-puisiku,” aku bisa mendengar dengan jelas kata-kata dua pembawa acara di panggung. “Terbanglah lampionku,” sambung si pembawa acara wanita berwajah segar—maaf, aku mengulang-ulang frase ini. Wajah pembawa acara itu begitu segar, aku senang sekali melihatnya. Ini pujianku untuknya—.

Satu per satu balon kertas—apa tadi namanya? Lampion?—melayang di udara. Langit dipenuhi titik-titik merah beragam ukuran—tentu karena lampion-lampion itu tidak terbang bersamaan. Orang-orang semakin banyak yang bertepuk tangan dan tertawa, dan titik-titik merah di langit semakin banyak.

“Cantik sekali,” seorang anak perempuan kecil berbaju dan berbando merah muda berteriak sambil menunjuk titik-titik merah tadi.

Kemana lampion dan puisi itu pergi ya?

Aku mendekat ke arah kerumunan orang. Kuambil kertas yang terjatuh, spidol yang tergeletak, lampion yang belum digunakan, dan korek yang terlupakan. Aku mengikuti apa yang tadi mereka lakukan: menulis di kertas kuning dengan spidol, menempelkennya di permukaan lampion, menyalakan sesuatu di bagian bawah lampion, menunggu sampai lampion terisi penuh oleh asap, dan melepaskannya. Aku menerbangkan lampionku.

Kulihat lampionku perlahan mengangkasa, bergabung dengan lampion lain. Menciptakan titik-titik yang semakin cantik.

Malam yang merah, indah, meriah.

Mataku lekat menatap lampionku. Kemana lampion dan puisiku pergi?

Ah, tapi aku tidak bisa berpuisi. Tadi aku hanya menulis ini: あいしてる。 分かる?


















Yeah! Latar lagunya cocok sekali: 内容の無い手紙
27 Maret 2014

0 comments:

Post a Comment