Friday, May 22, 2020

Mulai dari Teh


Kadangkala saya mendapat pertanyaan mengenai ‘memasak sendiri’ dari anak-anak muda yang tinggal seorang diri.

Memasak, pun bagi orang yang memang hobi melakukannya, terhitung sulit jika harus memasak sendiri dan harus menyiapkan dua sampai tiga menu dalam sehari. Kesulitannya terletak pada sedikitnya menu yang bisa dibuat sehingga frekuensi pengulangan menu meningkat, akibatnya aktivitas tersebut tidak berlangsung lama.

Selain itu, kesulitan juga timbul dari bagaimana menghabiskan bahan makanan untuk porsi satu orang. Seringkali orang-orang memasak terlalu banyak dan pada akhirnya memakan menu yang sama berulang kali. Dari situlah muncul kebosanan yang membuat mereka perlahan-lahan tidak lagi memasak sendiri.

Untuk mengatasi hal tersebut, saya menyarankan untuk mulai dari teh, alih-alih tiba-tiba menantang diri sendiri untuk memasak. Kalau ada suara-suara dari orang yang tidak bisa minum teh atau tidak suka teh, saya abaikan terlebih dulu suara itu.

Selama dua tahun sejak pindah ke Tokyo, ada periode ketika saya membeli teh dalam botol. Ukurannya dua liter, harganya sekitar 150 yen. Kalau saya memakai teh celup, untuk ukuran dua liter saya hanya mengeluarkan uang tidak sampai 10 yen. Teh celup yang murah dijual sekitar 150 yen yang berisi 50 kantong (satu kantong untuk satu liter). Sampah pun bisa berkurang dengan cara ini.

Menyeduh teh sendiri bukan hanya berurusan dengan menghemat uang. Setiap hari kita akan menjerang air dan membuat minuman. Awalnya memang terasa berat, tetapi dari situ timbul suatu kebiasaan. Kebiasaan itu, bisa jadi, adalah langkah pertama dari kegiatan memasak sendiri.

Ketika masih sekolah, saya pernah berkunjung ke rumah salah seorang kenalan di daerah Izu. Di sana, saya disuguhi teh yang rasanya sangat lezat. Saya bertanya teh dari mana yang digunakan, dan ia menjawab, “Cuma teh yang saya beli di swalayan dekat rumah.” Sepulang dari rumahnya, saya mampir ke swalayan untuk membeli teh yang sama persis. Begitu saya coba seduh dan minum di rumah, rasanya sama sekali berbeda. Saya berpikir mungkin karena faktor air yang digunakan, jadi saya membeli air yang bersumber dari gunung Fuji yang rasanya sangat enak. Saya menyeduh teh dengan air tersebut, tapi tetap saja ada sesuatu yang berbeda. Saya sendiri tidak tahu apa yang berbeda.

Pertanyaan saya itu terjawab sepuluh tahun kemudian.

Kawan saya yang orang Izu itu, setiap hari meminum teh yang diseduh sendiri. Ia sudah hafal di luar kepala berapa banyak daun teh yang dipakai dan berapa lama durasi penyeduhannya. Rasa teh juga bisa berubah dari cara penuangan air panas, apakah langsung atau perlahan-lahan dituang. Setiap hari ia menyeduh teh sendiri, dan lambat laun ia paham hal-hal seperti itu dengan sendirinya.

Tips membuat minuman teh dengan teh celup yaitu menyeduhnya setiap hari. Pertama-tama, gunakan sedikit air panas untuk menguapkan teh sekitar 30 detik. Penjelasan pada kemasan teh untuk cara menyeduh ini biasanya tertulis “angkat teh celup dari air”, tetapi saya menghiraukan penjelasan tersebut. Kalau teh tersebut habis diminum dalam sehari, saya rasa tidak ada masalah. Omong-omong, bekas teh celup bisa digunakan untuk membersihkan noda bekas minyak goreng, dan itu sangat praktis.

Selanjutnya mengenai suhu air. Jamak dikatakan bahwa untuk menyeduh mugicha atau houjicha perlu air mendidih, sementara untuk sencha perlu air bersuhu sekitar 80 derajat; tetapi tak masalah juga kalau pakai ukuran sendiri-sendiri. Walaupun orang menyebut bahwa itulah yang berlaku di seluruh rumah, menurut saya aturan yang saklek begitu tidak akan bertahan lama. Justru dengan kemudahan dan kelonggaran, lebih banyak hal yang bisa terus berjalan dengan lancar. Untuk musim dingin, ketika menyeduh teh, saya memasukkan air panas hingga setengah ke dalam botol tahan panas, lalu menambah setengahnya lagi dengan air bersuhu biasa. Sementara untuk musim panas, saya memasukkan air dingin ke dalam teko, mendinginkannya dengan gel beku dan memasukkannya ke dalam kulkas.

Saya membeli mugicha dan houjicha kemasan celup di kedai teh di dekat rumah. Harganya memang lumayan mahal, tetapi untuk satu liter, hitungannya tetap tidak sampai 10 yen. Kalau bosan dengan teh yang sama, saya membeli kertas saring terpisah di toko serba 100 yen, lalu membuat teh racikan sendiri. Seringkali teh racikan saya adalah campuran dari genmaicha dan houjicha. Kalau rasanya kurang bisa diterima lidah atau perlu aroma teh yang lebih kuat, saya menambahkan mugicha.

Dengan menyeduh teh secara rutin setiap hari, ritme aktivitas keseharian akan terbentuk. Melalui aktivitas menjerang air dan menyeduh teh di teko, kemalasan bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Saat ini saya sudah tinggal berdua bersama istri saya, setelah melalui masa-masa tinggal sendiri. Meskipun setiap hari kami minum teh yang sama, istri saya selalu menyisakan sekitar segelas teh di dalam teko. Sayalah yang meminum segelas teh terakhir tersebut, kemudian mencuci teko, menyaring air leding, menjerang air, lalu menyeduh teh untuk minum selanjutnya.

Dan segelas teh pertama selalu diteguk oleh istri saya.


**
Diterjemahkan dari kolom ini, yang ditulis oleh Ogihara Kyorai, seorang penulis lepas dan esais.

Keterangan:
Mugicha: teh barli
Houjicha: teh hijau sangrai
Sencha: teh hijau
Genmaicha: campuran teh hijau dan beras coklat sangrai

0 comments:

Post a Comment