Friday, December 30, 2011

Blogger-droid: Trial

And this post is posted by Blogger-droid. I'll choose which one is easier to use for me and keep posting with that app. Haha


Regards,

Wahyu Widyaningrum


Published with Blogger-droid v2.0.2

Bloggeroid: Trial

I've downloaded bloggeroid in android market and installed it. This is my very first post using this app. If everything goes well, then i'll use this app more.

Regards,
Wahyu Widyaningrum

posted from Bloggeroid

Dua Hal Tentang 2011

Bismillah…

Oke, ini adalah post pertama saya dalam beberapa bulan terakhir. Saya nggak ngepost bukan karena sibuk *mana ada cerita pengangguran yang sibuk*, tapi karena sok sibuk jadi sok nggak sempat nulis.

Post kali ini saya mau membahas tentang dua tulisan saya yang alhamdulillah berhasil dibukukan pada tahun 2011. Yang satu cerpen, yang satu lagi semacam kisah inspiratif *namanya apa ya?*. Yang akan saya ceritakan disini adalah sinopsis tiap tulisan saya, dan beberapa hal remeh-temeh terkait tulisan saya tersebut.

Selamat membaca :D



1.Cerpen
Cerpen saya yang berhasil masuk antologi Kolase 2: Dari Balik Jendela ini berjudul Sore Terakhir di Taman Kota. Ada dua-puluhan cerpen dalam antologi ini, yang masing-masing ditulis oleh penulis dengan beragam latar belakang. Antologi ini diterbitkan oleh Rumah Pena, IndiePublishing, dan Story Magazine *masih indie :)*. Diluncurkan pada tanggal 27 Februari 2011 di sebuah rumah makan di Tangerang, ini adalah pertama kalinya tulisan saya dibukukan *enggak juga sih. Pernah juga dibukukan oleh nulisbuku.com, tapi karena sistem disana adalah semua naskah pasti naik cetak tanpa saringan, jadi saya tidak menganggap hal itu sebagai sebuah ‘prestasi’*.



Kaver buku Kolase 2: Dari Balik Jendela. Silakan cari yang mana foto saya. Haha

Cerpen Sore Terakhir di Taman Kota ini berkisah tentang sepasang kakak beradik dengan luapan kasih sayang yang hebat. Sang adik yang masih balita mengalami masalah dalam berhitung, yaitu selalu gagal dalam memasukkan angka enam. Setelah berucap lima, ia akan meloncat ke angka tujuh. Meskipun demikian, sang kakak tetap setia membantu adiknya supaya bisa berhitung dengan benar. Di hari terakhir sang kakak tinggal di rumah, sebelum ia merantau ke luar kota, ia mengajak adiknya berjalan-jalan di taman kota. Di taman kota itulah, ditemani sinar matahari berwarna jingga yang menerangi seluruh penjuru kota, sang kakak di akhir usianya akhirnya mampu menyaksikan adiknya menghitung dengan benar. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.

Seingat saya, saya sudah pernah menulis tentang buku ini disini. Nanti lah saya ubek-ubek lagi *koneksi lemot bin selow*. Mungkin lain waktu saya akan mempublikasikan cerpen saya ini di blog ini. Oiya, saya baru ingat satu hal. Antologi cerpen ini nggak masuk toko buku, karena minimnya dana. Haha. Jadi, kalau berminat membaca keseluruhan cerpen dan mengoleksinya, silakan hubungi saya :)

2.Kisah inspiratif
Biar ringkas, saya sebut saja dengan tulisan ya. Tulisan saya ini dimuat dalam antologi berjudul Para Guru Kehidupan, diluncurkan pada 22 April 2011 di sebuah toko buku di kawasan Lenteng Agung. Tulisan saya berjudul Hebatnya Menuliskan Mimpi.




Ini kaver buku Para Guru Kehidupan cetakan kedua

Hebatnya Menuliskan Mimpi merupakan tulisan saya berdasarkan kisah nyata. Ini tentang dosen saya yang ketika kuliah IPnya di bawah 3 dan sering tidur di kelas tapi sekarang memiliki kantor akuntan publik dan konsultan pajak. Satu rahasia beliau adalah menulis mimpi. Salah satu poin yang bisa diambil dari kisah-kisah beliau adalah, dengan menuliskan mimpi kita, maka kita sudah selangkah lebih dekat dengan mimpi tersebut dan makin mudah mencapainya.

Ulasan yang singkat, karena memang tulisan saya ini hanya sepanjang dua halaman A4. Antologi ini diterbitkan juga secara indie oleh Geraibuku.com, namun menurut kabar tersedia juga di beberapa toko buku Gramedia. Saya belum tahu di Gramedia mana saja, tapi teman saya pernah melihat buku tersebut nangkring di Gramedia Bintaro Plaza. Silakan kalau mau mencari dan membaca kisah-kisah di dalamnya.

Sebagaimana cerpen saya, maka tulisan saya ini juga insya Allah akan saya publikasikan di blog ini, entah kapan. Haha


Sekian saja post saya kali ini. semoga saya jadi rajin nulis lagi seperti waktu muda dulu. Ahaha~~. Silakan meninggalkan komentar, saya akan merasa lebih senang :)

Dewa, shitsureishimasu~. Adios, mata ne :DDD

Salam,
Wahyu Widyaningrum

Sunday, June 19, 2011

Simple Plan Being, Do The Action!

Cerita bahwa laptop merupakan sebuah barang mewah dan berstatus kebutuhan tersier sepertinya sudah hampir terlupakan. Saat ini, laptop tampaknya sudah ‘naik kelas’ menjadi barang kebutuhan sekunder. Hal ini berlaku terutama bagi kalangan mahasiswa, yang hampir setiap hari mendapat bermacam tugas, entah presentasi, pembuatan laporan, atau lainnya.

Bagi mahasiswa yang tempat tinggalnya (rumah atau kost) dekat dengan kampus, tentu lebih enak pulang terlebih dahulu kemudian baru mengerjakan tugas. Bisa sambil leyeh-leyeh, tidur-tiduran, dan lainnya. Tapi bagi yang bertempat tinggal jauh dari kampus, pilihan paling efektif adalah mengerjakan tugas tersebut di kampus. Bisa di selasar gedung, plasa jurusan, gazebo, atau di manapun, yang penting ada tempat bersandar. Yang paling beruntung adalah yang bisa dapat tempat duduk di tempat-tempat tadi. Yang kurang beruntung ya tidak kebagian tempat duduk, kemudian duduk di lantai.

Mahasiswa yang kurang beruntung tadi menjadi lebih tidak beruntung karena mereka lebih cepat lelah. Bagaimana tidak? Laptop diletakkan di lantai sehingga untuk bisa lebih jelas melihat layar harus membungkukkan badan. Kalau capek membungkuk, maka laptop dipangku sehingga kaki terasa panas.

Hal-hal di atas ternyata menimbulkan ide bagi sekelompok mahasiswa fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS Surabaya) untuk membuat sebuah alat yang ergonomis sehingga para pengguna laptop tidak perlu membungkuk atau memangku laptopnya. Alat tersebut diberi nama eLAPIS (Ergonomic Intelligent Laptop Pillow and Stand).

“eLAPIS merupakan solusi bagi orang yang suka menggunakan laptop,” kata Marissa Alfia Rachmah, salah satu dari lima mahasiswa ITS yang menggagas eLAPIS. Mahasiswi kelahiran Gresik, 22 Februari 1990 ini mengatakan bahwa tujuan pembuatan eLAPIS adalah untuk menerapkan konsep ergonomis yang masih belum familiar di kalangan anak muda pengguna laptop, demi kesehatan mereka.


Marissa Alfia Rachmah, salah satu penggagas eLAPIS

Ressa, panggilan akrab Marissa, mengungkapkan bahwa sebenarnya proyek eLAPIS ini berawal dari iseng. “Dulu iseng ikut Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM), eh ternyata lolos seleksi dan berhasil mendapat dana dari Dikti sebesar lima setengah juta rupiah.”

“Produk ini lahir berkat keisengan saya dan kawan-kawan yang sering melihat mahasiswa ITS mengerjakan tugas di selasar gedung. Berjam-jam mereka berhadapan dengan laptop dalam dua posisi: membungkuk atau memangku laptop. Padahal posisi tersebut tidak baik untuk kesehatan tubuh. Makanya, kami kepudian terpikir untuk membuat produk yang ergonomis. Faktor ergonomis ini penting karena ia menyesuaikan pekerjaan dengan manusianya. Setelah riset kesana-kemari selama sekitar satu setengah bulan, jadilah desain produk yang kami beri nama eLAPIS ini.” jelas Ressa.

Ressa menjelaskan bahwa pembuatan desain eLAPIS tidak lepas dari proses kreatif. Proses kreatif tersebut meliputi beberapa hal, seperti konsultasi dengan dosen, bertukar pikiran dengan teman-teman lain, berkunjung ke tukang meubel, memanfaatkan teknologi, dan survei pasar suara konsumen dengan membagi kuesioner pada target pasar.

“Kami akhirnya membuat dua buah desain untuk eLAPIS ini.” Yang pertama berbentuk seperti meja dengan tinggi kaki yang dapat disesuaikan. Meja tersebut sudah dilengkapi dengan cooling fan. eLAPIS jenis ini memiliki berat sekitar 1,5 kg sehingga lebih cocok untuk diletakkan di suatu tempat misalnya ruang sekretariat atau kantor. Produk eLAPIS kedua merupakan model bongkar pasang sehingga mudah dibawa kemana-mana. “Keduanya sudah diproduksi. Alhamdulillah, responnya positif.”




Dua bentuk desain eLAPIS

Lebih lanjut, mahasiswi semester 6 jurusan Teknik Industri ITS Surabaya ini mengungkapkan bahwa berdasarkan survey yang dilakukan, konsumen merasa bahwa keberadaan eLAPIS adalah penting. Beberapa aspek yang membuat eLAPIS lebih unggul dibanding kompetitor sejenis adalah ergonomis, harga, umur produk, kenyamanan, dan kekuatan produk.

Tiap unit eLAPIS dipasarkan dengan harga Rp 80.000 per unit. “Harga ini lebih murah dibandingkan produk kompetitor. Selain itu, harga sekian itu karena kami masih memproduksi dalam jumlah kecil. Kalau diproduksi massal, harga eLAPIS per unitnya bisa sekitar Rp 35.000.” Sampai sekarang, Ressa dkk sudah memproduksi 70 unit eLAPIS. “Hal ini juga karena dana dari Dikti baru turun setengahnya sehingga kami baru bisa memproduksi 70 unit.”

Ketika ditanya mengenai hambatan dalam proses perencanaan hingga pemasaran eLAPIS, Ressa menjawab, “Kendala kami ada pada pemasok produk. Di Surabaya, tukang kayu mematok harga yang tinggi. Selain itu, proses pengerjaannya juga lama. Itu kendala terbesar kami.”

Apa pesan Ressa untuk pembaca tulisan ini?
“Jangan takut untuk berpikir out of the box. Amati sekitarmu. Simple plan being, do the action!”


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Sumber foto:
1. Dok. pribadi
2. http://us.surabaya.detik.com/read/2011/05/25/165011/1647031/466/berlama-lama-di-depan-laptop-dengan-meja-elapis

Thursday, June 2, 2011

Malu

Selama kuliah hampir tiga tahun, tas tetap saya hanya satu. Warnanya cokelat khaki, modelnya selempang. Saya masih ingat, tas itu saya beli di BG Junction Surabaya. Bapak yang mengantar saya ke sana. Waktu itu saya masih berstatus mahasiswa ITS Surabaya. Rupanya ketika masuk STAN, saya tetap membawa serta tas tersebut.

Sebenarnya ada satu tas lagi. Tas ransel untuk laptop, warnanya hitam. Saya beli di Ramayana Gresik, lagi-lagi bapak yang mengantar. Tapi tasnya besar, saya kurang suka. Makanya saya jarang pakai. Paling-paling saya cuma pakai tas itu kalau bawa laptop atau kalau bepergian yang butuh membawa barang agak banyak.

Nah, tas saya yang warna cokelat khaki ini, karena sudah saya pakai hampir tiga tahun, warnanya sudah mulai pudar. Dia memakai pengait berupa magnet. Kalau saya tidak sabar, saya sering menariknya dengan lumayan keras. Makanya, sekarang pengait magnetnya sudah tak karuan bentuknya. Bahkan sudah berlubang. Kadang-kadang malu juga saya kalau pakai tas itu.

Di tengah malunya saya terhadap sebuah tas, saya bertemu dengan Risma. Bukan pertemuan pertama, sih. Pertama kali saya bertemu dengan dia sekitar sepekan lalu. Saat itu, informasi yang saya ketahui tentang Risma hanya sebatas dia adalah kakak dari Halimah, salah seorang murid PAUD Komunitas Menara.

Kemarin, saya bertemu lagi dengan Risma. Dia akan mengikuti tes masuk SMP Terbuka Ibnu Sina di kawasan Jombang, Tangerang Selatan. Kebetulan saya diajak berkunjung ke SMP itu.

Kami sudah berada di SMP Ibnu Sina sekitar pukul 11.30, padahal tes baru dimulai pukul 13.00. Masih ada sekitar 1,5 jam lagi. Saya isi dengan membaca buku Andy’s Corner yang terpampang di salah satu rak di aula SMP Ibnu Sina dan mengobrol dengan Risma.

Tahun lalu, Risma masih tercatat sebagai seorang siswa di salah satu MTs di daerah Peladen (seingat saya sih begitu). Ketika hampir ujian semester genap kelas 8, orang tua Risma tidak sanggup lagi membayar biaya sekolah Risma. Hasilnya, Risma terpaksa putus sekolah.

Risma adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Anak kedua adalah Jihan, sekarang kelas 6 SD. Kata Risma, orang tuanya akan menyekolahkan Jihan di sebuah pesantren yang dimiliki oleh Pertamina. Saya kurang jelas juga, apakah pesantren tersebut dimiliki atau dibiayai atau dinaungi oleh Pertamina. Risma sendiri juga bingung. Anak ketiga bernama Arif, duduk di kelas 1 SD. Halimah, murid PAUD KM yang saya kenal, rupanya adalah anak keempat. Seorang lagi, anak kelima, masih bayi. Entah berapa usianya dan siapa namanya. Yang jelas, saya sering melihat ibu Halimah mengantar-jemput Halimah dengan menggendong anak kelima tersebut.

Ayah Risma adalah seorang tukang las keliling. Saya tidak tahu berapa penghasilannya. Dan saya lebih tidak tahu lagi bagaimana pengelolaan uang di keluarga tersebut sehingga sanggup menghidupi tujuh nyawa dengan penghasilan dari las keliling.

Keberadaan SMP Terbuka Ibnu Sina yang tidak memungut biaya apapun dari siswanya selama masa pendidikan membuat Risma ingin masuk ke SMP tersebut. Jadi ia bisa melanjutkan sekolahnya yang sempat terputus. Kalau lolos tes dan diterima di SMP Ibnu Sina, maka Risma akan duduk di kelas 8 (lagi).

“Nggak malu, Ris?” Tanya saya.

“Teman-teman juga menanyakan hal yang sama, kak. Kata mereka, ‘ih, lo nggak malu apa ngulang kelas 8? Kalo gue mah ogah.’ Saya cuma bilang, ‘ngapain malu?’ Nih ya kak, bahkan kalo saya harus ngulang dari kelas 1 SD pun bakal saya jalanin. Saya nggak malu, tuh. Yang penting saya bisa tetep sekolah.”

Saya tersenyum. Lantas kembali menghadap buku Andy’s Corner di tangan saya, pura-pura membaca. Padahal saya tengah termenung. Di samping saya, Risma bahkan rela mengulang sekolahnya tanpa rasa malu sedikitpun. Sedangkan saya, malu hanya karena sebuah tas.

Saya lihat tas saya yang tergeletak di atas meja di depan saya. Hei, kamu kan yang sudah menemani saya selama hampir tiga tahun, ya? Kasihan sekali kamu, bahkan tuanmu pun malu atas keberadaanmu.

Saya ambil tas saya, dan saya melihat Risma. Baiklah, rasa malu saya terhadap sebuah tas rasanya bukan pada tempatnya. Saya jadi malu pada diri sendiri yang kalah pada seorang remaja berusia 16 tahun bernama Risma.

Salam,
Wahyu Widyaningrum

Friday, May 20, 2011

Ketika Bulan Berbentuk Bulat Penuh

Lihatlah ke atas, mendongaklah. Disana, bulan sedang berbentuk bulat penuh.

Dan aku mengingat kalian. Kemudian aku mengingat kita, dan kisah-kisah kita.

Kita adalah orang-orang terpilih. Aku sangat meyakini itu. Jikalau tidak, mana mungkin kita bertahan? Di tengah gempuran cemoohan dan pandangan tak enak dari orang-orang di luar kita.

Bersama kalian aku senang, apapun keadaannya. Aku masih ingat ketika suatu kali, kita pernah sama-sama tak mandi beberapa hari. Kamar mandi yang terbatas, waktu yang sempit, dan jumlah orang yang luar biasa banyak membuat kita terpaksa melakukannya. Aku bahkan ingat, waktu karnaval di hari terakhir itu, kita pun tak mengguyurkan air ke tubuh kita. Dan waktu perjalanan pulang dengan mengendarai truk bak terbuka, kita sama-sama kelelahan. Mungkin lelah karena aktivitas yang padat. Atau mungkin lelah mencium betapa wanginya manusia yang tak mandi.
(Baiklah, paragraf di atas sungguh sebuah kisah yang memalukan. Namun tetap menggelitik tiap kali diingat )

Bersama kalian aku senang, apapun keadaannya. Aku ingat dengan jelas ketika suatu kali, kita pernah sama-sama mencapai sebuah air terjun dengan medan yang aduhai. Waktu itu, jumlah kita ganjil. Lantas seekor kucing mengikuti kita sebagai penggenap, sejak kita berangkat hingga kembali lagi ke lokasi kita bermalam. Dan ternyata medan yang aduhai itu ‘hanya’ berakhir di sebuah air terjun dengan aliran air berbentuk sejajar yang kecil dan tidak terlalu deras. Kala itu aku sedikit kecewa. Namun kecewaku menjadi lenyap ketika melihat kalian saling ribut karena beberapa lintah yang menempel di kaki, ketika melihat senyum kalian saat berfoto, dan ketika melihat ekspresi kalian saat menciduk dan meminum air secara langsung.

Bersama kalian aku senang, apapun keadaannya. Aku ingat ketika pada malam hari kita berjalan melangkah setapak demi setapak demi mencapai sebuah lokasi untuk beristirahat, beberapa kilometer di atas sana. Ketika itu aku sungguh lelah, namun bantuan dan semangat kalian sungguh membuatku tak menyerah. Meskipun pada akhirnya aku tak berhasil mencapai puncak dan hanya main kartu selama beberapa jam, namun aku tetap senang. Semalaman aku khawatir ketika kalian tak juga kembali. Dan aku tertawa ketika mendengar cerita kalian bahwa kalian ‘tersesat’ malam itu sehingga tak kembali tepat waktu.

Dan yang membuatku mengingat kalian, kita, dan kisah kita adalah bulan di atas sana, yang berbentuk bulat penuh. Kita sering sekali bermalam ketika bulan sedang berbentuk bulat penuh. Pada malam itu, kita akan berada di luar tenda sambil menyanyi-nyanyi. Atau hanya duduk di depan tenda sambil bermain kartu. Atau cuma berada di dalam tenda sambil berbagi cerita.

Dimanapun kalian, lihatlah ke atas dan mendongaklah. Disana, bulan sedang berbentuk bulat penuh.

Aku merindukan kalian.


Kamis, 19 Mei 2011

Pojok kamar, ditemani If You’re Not The One – Danield Beddingfield



Salam,
Wahyu Widyaningrum



P.S. Tulisan ini untuk seluruh skuad Pramuka SMPN 1 Gresik dan SMAN 1 Gresik. Untuk Rulissa Qurrata A’yun, Siti Mushonifah, Gusti Eman Ayu Sasmita Jati, Dwi Setyorini, Irfan Syaifudin, Tedi Aji Siswoyo, Deny Novydyanto, Virdia Devi Maharani, Achmad Romansyah, Dewi Kartika, Ari Koesworo, Klepon (sori Pon, ane lupa nama asli ente), dan Afrizon Teguh Prasetyo. Sebenarnya aku tidak sungguh merindukan kalian, hanya saja aku merindukan berada di sebuah tenda di bawah bulan bersama kalian :D.

Wednesday, May 11, 2011

Al Zaytun, Kemegahan yang Pernah Saya Cita-Citakan

Sembilan tahun lalu, apa yang ada di depan mata saya adalah sebuah kemegahan. Kemegahan itu lantas menghipnosis saya untuk mati-matian belajar demi sebuah cita-cita: bersekolah di Al Zaytun.

Saya tak pernah menyangka bahwa saat ini (sebenarnya kasus ini sudah sejak dahulu bergulir), nama Pondok Pesantren Al Zaytun, atau yang juga biasa disebut Ma'had Al Zaytun, sangat lekat dengan Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah 9 (KW 9). Saya tak pernah menyangka bahwa Panji Gumilang, yang dulu namanya tak pernah saya dengar karena saya hanya tahu nama pesantrennya, saat ini tengah menjadi pusat perhatian karena kemampuannya memeroleh dan mengelola uang sekian triliun demi pesantren dan NII-nya.

Saya mengenal Al Zaytun sejak kelas 5 SD. Saat itu, murid ibu-saya adalah seorang santri di Al Zaytun. Ibu saya kemudian memeroleh cerita tentang pesantren tersebut dari ibu muridnya. Cerita itu lantas diturunkan kepada saya, bahwa Al Zaytun adalah pesantren yang sangat bagus: menjamin setiap santrinya hafal Al Quran begitu lulus dari sana, mengembalikan seluruh ‘uang pangkal’ yang telah dibayar di awal pendidikan ketika sudah lulus, dan bla bla bla lain.

Yang menjadi sedikit masalah adalah, untuk bisa menjadi santri Al Zaytun, ada beberapa tes. Salah satu tesnya adalah hafalan Juz Amma atau juz 30 dalam Al Quran.

Terdorong oleh keinginan untuk menjadi bagian dari ribuan santri Al Zaytun, saya akhirnya mulai hafalan surat-surat dalam juz 30. Ketika itu, kota saya juga sepertinya sedang demam Al Zaytun. Banyak anak yang juga ingin bersekolah di Al Zaytun, dan fakta ini membuat saya semakin tertekan. Dibantu ibu saya, saya jadi semakin rajin menghafal ayat-ayat Allah juz 30. Kadang patah arang karena tidak kunjung hafal, tapi ibu tetap memberi semangat.

Nah, beberapa ratus meter dari rumah saya, tapi masih dalam satu komplek, ada sebuah rumah yang menjadi semacam pusat penggemblengan hafalan juz 30 khusus untuk anak yang ingin masuk Al Zaytun. Semacam asrama begitu. Di sana kegiatannya hanya menghafal dan menghafal. Sempat terpikir untuk mengikuti penggemblengan tersebut, namun akhirnya urung. Saya takut tak kuat dan takut juga membayangkan betapa membosankannya hidup tanpa televisi (di ‘asrama’ tak boleh nonton teve).

Selain dari cerita ibu, ada juga cerita-cerita dari majalah yang mampir ke rumah. Al Zaytun memiliki majalah sendiri, seingat saya nama majalahnya juga Al Zaytun. Salah satu kaver belakang majalah yang saya ingat adalah gambar burung Rangkong. Kabarnya, Al Zaytun memiliki penangkaran burung Rangkong yang terancam punah.

Suatu kali, ayah saya mengajak saya berkunjung ke rumah salah seorang kawannya. Kawan ayah ini memiliki putra yang usianya setahun lebih tua dari saya, dan ia adalah santri Al Zaytun. Saat itu, ia sedang liburan dan berada di rumah. Saya bertemu dengannya. Kawan ayah bercerita banyak tentang betapa enaknya bersekolah di Al Zaytun, sambil sesekali bertanya kepada putranya tersebut.

Sepulang dari tempat kawan ayah, keinginan saya untuk masuk Al Zaytun makin besar. Sayangnya, saya tak juga berhasil menghafalkan juz 30. Hafalan saya masih patah-patah. Kadang lupa, terbolak-balik, atau macet. Padahal, kabarnya, tes hafalan untuk masuk Al Zaytun ini dilakukan secara acak. Tak ada yang tahu surat apa yang akan diujikan, kemungkinannya 1 dari 37 karena ada 37 surat dalam juz 30. Kalau misalnya dapat surat Asy Syams sih masih mending. Kalau dapat Al Fajr, An Nazi’ah, atau surat agak panjang lainnya? Tentu saya puyeng, karena hafalan dengan ibu saja masih kacau, apalagi hafalan di depan penguji.

Sekitar bulan Desember ketika saya kelas 6 SD, kalau saya tak salah ingat, ada rombongan santri dan wali santri yang akan kembali ke Al Zaytun selepas liburan. Wali santri hanya bertugas mengantar, jadi jumlahnya tak begitu banyak. Yang lebih banyak adalah santrinya (ya iyalah). Seingat saya tidak hanya satu bus yang memberangkatkan para santri ini.

Saya tidak tahu dari siapa ide ini muncul—entah ayah entah ibu—, tiba-tiba ayah mengajak saya ikut rombongan ini. Kami berdua akan melihat sendiri bagaimana Al Zaytun. Kami membawa perlengkapan seperlunya. Saya tidak ingat apa saja yang ayah masukkan ke dalam tas besar kami.

Saya dan ayah tidak mungkin ikut dalam rombongan santri, jadi kami ikut rombongan wali santri. Wali santri tidak ikut naik bus, tapi naik mobil. Entah ada berapa mobil yang ikut berkonvoi dalam perjalanan Gresik-Indramayu ini, yang jelas saya dan ayah ada dalam salah satu mobil di antara rangkaian konvoi itu. Selain kami berdua, di dalam mobil tersebut empat orang wali murid. Jadi ketika itu, sayalah yang paling imut dan unyu :p.

Perjalanan panjang antara Gresik dan Indramayu ini kami tempuh dalam waktu entah berapa jam entah berapa hari. Saya sudah lupa. Yang jelas, kami sering mampir di SPBU. Bukan untuk isi bahan bakar, tapi sekedar untuk buang air atau menegakkan salat.

Singkat cerita, sampailah kami pada sebuah pondok pesantren bernama Al Zaytun. Oiya. Jalan menuju ke pesantren adalah jalan raya yang tidak terlalu lebar. Di samping jalan raya masih banyak sawah yang membentang. Pokoknya ndeso banget lah.

Tapi jangan tanya apakah Al Zaytun ndeso. Sama sekali tidak. Gedungnya justru keren-keren.

Saya menginap di salah satu kamar santri perempuan, ayah saya bersama wali santri lain. Ah, saya lupa siapa nama santri yang memberi saya tumpangan tidur. Nama gedung asramanya pun saya lupa. Yang saya ingat, gedung-gedung Al Zaytun dinamai seperti sahabat Rasulullah. Jadi ada gedung Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash Ahiddiq, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Aisyah, Fatimah Az Zahra, dan Khadijah.

Di Al Zaytun, kegiatan saya dan ayah tak lain adalah jalan-jalan. Kami berkunjung ke masjid utama Al Zaytun. Di sinilah saya terpesona untuk pertama kalinya. Masjid ini memiliki kolam ikan di bawahnya! Jadi kalau mengantuk, jangan duduk di pinggir masjid. Bisa-bisa nanti tercebur ke kolam. Saya tidak tahu ikan apa yang dipelihara, tapi yang jelas ikan itu berukuran besar. Panjang ikan-ikan itu sekitar dua jengkal orang dewasa. Menurut santri di sana, ikan itu untuk keperluan konsumsi sehari-hari. Selain di bawah masjid, ada lagi beberapa kolam ikan lainnya.

Kemudian, kami mengitari kompleks pesantren Al Zaytun dengan menggunakan bus. Saking besarnya sampai butuh bus untuk mengelilinginya.

Berturut-turut, pemandangan berikut hadir di hadapan saya:
Peternakan sapi. Sapi-sapi ini selain diambil dagingnya, juga diperah susunya. Jadi, santri dan guru minum susu perah asli, hasil peternakan sendiri.
Peternakan ayam. Tentu Anda sekalian sudah tahu hasil apa yang ingin diperoleh dari sebuah peternakan ayam. Yang super, kandang ayamnya dilengkapi dengan AC alias pendingin ruangan. Katanya sih, biar steril.
Perkebunan mangga. Kebun mangga ini luas sekali. Entah berapa ton mangga yang dihasilkan ketika musim panen. Mungkin mangganya adalah mangga indramayu, tapi saya tidak tahu juga.
Sawah. Ini yang super. Mereka punya sawah sendiri untuk memenuhi kebutuhan beras bagi ribuan mulut di pesantren Al Zaytun.
Deretan pohon kurma. Saya melihat beberapa pohon kurma yang berjejer. Saya tidak tahu kenapa pohon-pohon kurma itu ditanam karena setahu saya pohon kurma tidak bisa berbuah di Indonesia. Tapi menurut beberapa kabar, di Al Zaytun pohon kurma itu berhasil berbuah.
Pohon zaytun. Mungkin dari sinilah nama itu diambil, jadi pihak pesantren menanam pohonnya. Saya tidak begitu ingat bagaimana bentuk pohonnya, karena mereka terhampar di lahan yang luas.
Lapangan olahraga. Ada lapangan sepakbola yang seingat saya berjumlah enam buah, lapangan basket, dan voli. Super sekali pokoknya.
Koperasi. Gedung koperasinya besar sekali, tidak seperti Alfa Mart. Yang dijual pun beragam, bahkan hingga pakaian seragam santri.

Sepertinya masih banyak yang saya lihat, tapi hanya itu yang bisa saya ingat.

Begitulah. Sepulang dari Al Zaytun, keinginan saya untuk bisa bersekolah disana semakin besar. Saya semakin bersemangat menghafal, dan sepertinya orang tua saya juga makin bersemangat untuk mengumpulkan uang pangkal yang seingat saya sebesar 20 juta rupiah ketika itu.

Lantas, bagaimana kelanjutan kisahnya?

Kisah selanjutnya adalah, saya justru meneruskan sekolah di SMP Negeri 1 Gresik, bukan di Pondok Pesantren Al Zaytun. Saya tak ingat mengapa akhirnya saya tidak jadi mendaftar untuk bersekolah disana. Mungkin salah satu sebabnya adalah saya tidak berhasil menghafal keseluruhan surat dalam juz 30 Al Quran. Hehe

Sampai sekarang, ketika mendengar nama Al Zaytun, yang ada di benak saya adalah sebuah pondok pesantren yang hebat karena fasilitasnya yang sedemikian lengkap. Terkadang bahkan saya tak percaya pada berita-berita tentang NII-Panji Gumilang-Al Zaytun itu.

Bagaimanapun, beginilah jalan hidup saya. Allah swt telah memilihkan jalan terbaik untuk saya. Kalau dulu saya diterima di Al Zaytun, mungkin saya sekarang tidak kuliah di STAN. Kalau dulu saya diterima di Al Zaytun, mungkin saya bisa menguasai bahasa Sunda (nggak nyambung). Juga kalau dan mungkin lainnya.

Sampai sekarang, saya masih ingat dengan jelas kolam ikan di bawah masjid itu…


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Monday, May 2, 2011

Aku (Tidak) Suka Menulis

Aku tidak suka menulis.

Menonton serial drama Jepang atau Korea lebih menyenangkan. Jang Geun Seok, Lee Min Ho, Kim Bum, dan Tomohisa Yamashita sangat memukau ketika berakting—atau aku terbius oleh tampang mereka, bukan akting mereka? Entahlah—. Jalan cerita yang terkadang berlebihan dan berlawanan dengan realita tetap menarik untuk ditonton. Menghabiskan waktu bersama serial drama selalu kusukai, dan memang aku selalu sedemikian suka. Menonton serial drama Jepang atau Korea lebih menyenangkan daripada menulis.

Aku tidak suka menulis.

Tidur lebih menyenangkan. Ia menjadi obat yang sangat pas ketika aku lelah beraktivitas, ketika aku malas menyalakan komputer untuk menonton serial drama, atau ketika aku merasa memang harus tidur. Aku menjadi lupa segalanya ketika tidur, maka aku menyukainya. Sekejap saja, beberapa jam telah kuhabiskan dengan kegiatan ini. Tidur lebih menyenangkan daripada menulis.

Aku tidak suka menulis.

Menonton televisi lebih menyenangkan. Berita tidak penting selalu menarik untuk diikuti. Tidak terlalu menarik sebetulnya, namun memang tak ada pilihan tayangan lain yang lebih pantas untuk diikuti. Briptu norman, teror bom, NII KW 9, dan William-Kate memaksa pemirsa, termasuk aku, untuk setia di depan televisi. Tidak terlalu setia sih, tapi ya aku cukup mengikuti perkembangan lah. Sambil menjejali otakku dengan berita-berita aneh namun disiarkan terus-terusan itu, aku bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam. Menonton televisi lebih menyenangkan daripada menulis.

Aku tidak suka menulis.

Membaca novel lebih menyenangkan. Konflik antara tokoh Astari, Satrijo, dan Hendrik dalam novel Bidik! lebih menarik untuk diikuti. Cerita rekaan ini menyita beratus-menit waktuku. Lomografi dan marketing komunikasi menyisipi pikiranku gara-gara buku cerita fiksi ini. Aku juga suka berkhayal menjadi tokoh ‘aku’ yang berpikir bahwa Bruno, dalam novel The History of Love, adalah tokoh nyata padahal ia tak lain hanyalah sesuatu yang tak pernah ada. Aku juga mereka-reka bagaimana hari tuaku esok, akankah sama jadinya dengan tokoh ‘aku’ tersebut. Membaca tak butuh banyak berpikir, jadi aku menyukainya. Membaca novel lebih menyenangkan daripada menulis.

Aku tidak suka menulis.

Mendengarkan lagu lebih menyenangkan. Album E.M.D, David Archuleta, dan OST Hwang Jin Yi sangat akrab di telingaku. Aku tak pernah bosan mendengarkan rangkaian lagu-lagu mereka, meskipun aku menyetelnya berulang-ulang. Apalagi dengan bernyanyi keras-keras mengikuti mereka, rasa-rasanya aku menjadi orang paling bebas dan bahagia sedunia. Aku suka itu. Mendengarkan lagu lebih menyenangkan daripada menulis.

Aku tidak suka menulis. Menulis butuh berpikir. Menulis butuh pengetahuan. Menulis butuh ide. Menulis butuh kemauan. Menulis butuh tekad. Menulis butuh waktu.

Aku tidak suka menulis. Maka aku mengingkari janjiku sendiri untuk menulis setidaknya satu cerpen atau satu tulisan setiap hari. Maka aku menjauh dari targetku mengirim naskah cerpen ke media massa setidaknya seminggu sekali. Maka aku menjauh dari mimpiku untuk meraih KLA 2012.

Aku tidak suka menulis. Tapi ketika aku menulis kalimat ‘aku tidak suka menulis’, aku mengingkari hatiku. Ketika menulis kalimat tersebut, aku berbohong pada cita-cita dan mimpiku. Ketika menulis kalimat tersebut, aku sadar bahwa aku adalah orang yang paling bodoh sedunia.


Sabtu, 30 April 2011. Pukul 18.28
Pojok kamar, ditemani Anywhere is Paradise – E.M.D


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Sunday, April 17, 2011

Tiga Potongan Puzzle Ketika Senja (2)

(2)

Bagiku, senja selalu menyenangkan. Aku suka melihat semburat warna jingga di langit barat, yang menurutku indah sekali. Terlebih jika aku bisa melihat langsung sepersekian bagian matahari yang perlahan tenggelam di balik gedung dan bangunan lain.

Namun selain semburat jingga, ada satu hal lagi yang membuatku menyukai senja. Sekitar pukul empat, aku sudah memberesi meja kerjaku. Hanya komputer yang menyala. Aku selalu berharap tak ada lagi pekerjaan untukku selepas pukul empat itu. Jikalau ada, aku akan dengan cepat menyelesaikannya. Mengetik data dengan cepat, mengantarkan arsip ke bagian lain dengan hampir berlari, mencetak dokumen dengan selalu berdoa semoga printer bisa bekerja lebih cepat, atau menggandakan dokumen dengan doa yang sama.

Sisa waktu kugunakan untuk melihat ke arah luar. Tuhan baik sekali padaku, Ia sangat mengerti kesukaanku. Kepala-seksiku menyuruhku menempati meja paling ujung, langsung bersebelahan dengan jendela. Dan mejaku yang berada di lantai tujuh ini membuatku lebih senang, karena senja bisa tampak lebih indah.

Ah, aku selalu tak sabar menanti pukul lima sore. Terkadang, di sela-sela memandangi suasana senja dan semburat jingga, aku melihat kawan-kawanku. Beberapa masih bekerja lantaran tadi pagi terlalu banyak mengobrol, beberapa sedang mengobrol karena tadi pagi sudah mencicil pekerjaannya.

Mereka yang bekerja tampak sibuk sekali, dan lebih gugup. Tangannya lebih sulit membalik kertas-kertas yang bertumpuk. Aku selalu begitu, mengalami kesulitan membalik kertas ketika gugup, jadi kurasa mereka pun mengalaminya karena gugup. Sedangkan mereka yang mengobrol terkadang tertawa lebar, kaki diangkat di atas kaki satunya, dan tangan bebas bergerak.

Lima menit menjelang pukul lima, aku mematikan komputerku. Beberapa kawan lain sudah beranjak, mengantre di mesin absen untuk menempelkan jempol-jempol mereka. Tapi aku tidak. Aku baru beranjak ketika jam dinding di ruangan sudah menunjukkan pukul lima tepat.

Inilah yang kusukai dari senja. Senja berarti aku selesai bekerja, dan punya banyak waktu untuk kuhabiskan di rumah. Senja berarti aku bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan orang yang kusayangi. Senja berarti menjelang malam, dan akan ada makan malam yang selalu indah. Senja berarti, esok aku akan kembali ke kantor ini, duduk di mejaku di samping jendela, dan kembali menanti senja berikutnya.


Jurangmangu, 170411

Salam,
Wahyu Widyaningrum

P.S. Post pertama dari Tiga Potongan Puzzle Ketika Senja (1) dapat dibaca disini.

Tuesday, April 12, 2011

Au Neko

Seorang wanita tua duduk di emperan sebuah toko. Ia mengenakan daster panjang bergambar bunga-bunga. Bunga-bunga di dasternya seharusnya berwarna merah, kuning, dan oranye. Kenyataannya, bunga-bunga itu sudah berubah warna, menjadi serupa abu-abu. Mungkin bunga-bunga itu ada di sebuah taman yang letaknya dekat dengan tempat orang-orang membakar sampah sehingga mereka tertutup abu yang beterbangan dan akhirnya warna asli mereka tak lagi tampak.

Wanita itu seharusnya mengenakan daster dengan jahitan rapi. Kenyatannya,di dasternya banyak sekali lubang-lubang, baik besar maupun kecil. Lebih banyak dari lubang-lubang itu adalah sebentuk garis berjajar yang dibuat dengan benang untuk menyambungkan dua sisi kain yang terbelah. Entah siapa yang menjahit-tangan dasternya.


Tidak ada yang tahu persis berapa usia wanita itu. Beberapa orang menerka-nerka, namun sebagian besar dari mereka setuju bahwa wanita itu berusia antara 55 sampai 60 tahun. Jika ditanya bagaimana orang-orang itu menerka angka sekian, mereka akan menjawab bahwa memang wanita itu berpenampilan seperti seorang berusia 55 sampai 60 tahun. Mungkin maksud mereka adalah kekencangan kulit dan roman muka wanita itu yang menyatakan demikian. Mereka hanya menerka, tidak ada yang bertanya langsung kepada wanita itu sehingga mendapatkan jawaban langsung yang tentu lebih akurat dan melegakan dibanding hanya menerka-nerka tanpa dasar yang jelas.

Wanita itu sedang menggendong seorang anak perempuan. Seperti bagaimana orang-orang tak tahu berapa persisnya usia si wanita, mereka pun tak tahu berapa usia anak perempuan yang digendong si wanita. Namun, dari perawakan anak itu, mereka menebak ia berusia sekitar 3 sampai 4 tahun. Perawakannya kecil, kulitnya putih, dan senyumnya indah.

Tapi kali ini tak ada yang mampu melihat seindah apa senyum anak perempuan itu. Sejak tadi ia tidak tersenyum. Sejak tadi ia hanya meringkuk di gendongan seorang wanita tua. Ia merasa ingin sekali menangis dan mengeluarkan air mata, tapi tak ada setetes pun air matanya yang keluar. Ia tak tahu kenapa. Mungkin sudah surut dan kelenjar air matanya tak lagi berproduksi lantaran sudah terlampau lama ia menangis. Pipinya sudah tak lagi basah oleh air mata, tapi masih tampak bekas-bekas air mata disana.

Seorang pun tak ada yang tahu kenapa sejak tadi anak perempuan itu menangis. Gengsi mereka terlalu tinggi untuk sekedar bertanya mengapa ia menangis. Mereka terlalu acuh untuk mendekat. Aktivitas mereka masing-masing lebih menarik perhatian daripada melangkah mendekati sepasang wanita tua dan anak perempuan kemudian mencoba membantu mereka berdua.

Sejak tadi, wanita itu hanya menepuk-nepuk punggung anak di gendongannya sambil menggoyang-goyangkan badannya. Ia mengatakan sesuatu, tapi juga tak ada yang tahu. Orang-orang hanya menerka apa yang ia katakan. Mereka menerka dari gerak bibirnya, berapa kali ia membuka-tutup mulutnya dan berapa jumlah suku kata yang sepertinya ia ucapkan. Mereka kemudian sepakat, bahwa ia tak mengucapkan “jangan menangis” atau “cup cup cup”.

Suara tangis anak perempuan dalam gendongan wanita tua makin kencang, meskipun tetap saja tak ada air mata yang keluar. Sejak dua hari lalu ia tak makan apapun. Hanya air putih yang diambilkan wanita itu dari kran air di depan sebuah rumah. Perutnya sudah tak tahan lagi. Ia butuh makan, tak lagi butuh air. Perutnya menolak dan protes, menyuruh pikirannya untuk menangis. Jadi menangislah ia sejak tadi. Wanita yang menggendongnya hanya menepuk-nepuknya, sambil mengatakan sesuatu. Orang-orang di sekitarnya tak ada yang mendekat barang sejenak bahkan untuk berbasa-basi. Mereka hanya memandang dari jauh sambil membicarakannya.

Wanita itu tak punya apa-apa, dan tak bisa apa-apa. Yang bisa ia lakukan saat itu adalah terus saja menepuk-nepuk punggung anak perempuan di gendongannya sambil mengatakan sesuatu. Lama kelamaan, tangis anak itu reda. Mungkin lelah menangis, atau mungkin juga lelah meminta tapi tak ada yang menuruti. Atau lelah meminta tapi tak ada yang mengerti.

Suasana sepi, tak ada lagi tangis yang pecah. Orang-orang tetap memandang si wanita yang masih saja menepuk punggung anak itu dan mengatakan sesuatu meskipun ia sudah tak lagi menangis. Mereka mempertajam pendengarannya. Beberapa orang mampu mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, dan mereka sedikit berdiksusi sambil menerka-nerka. Akhirnya mereka sepakat, wanita itu sejak tadi berkata, “Au neko.”

Ia berkata au neko, aku sayang kamu.


Salam,
Wahyu Widyaningrum

N.B.: Au neko adalah bahasa Timor, artinya kurang lebih aku sayang kamu. Kisah ini terinspirasi oleh tulisan ini.

Monday, April 11, 2011

(3)

Kesediaan berbagi tidak tergantung dari seberapa banyak harta yang kau miliki. Ketika kau kaya, kesediaan berbagi tidak dengan serta merta muncul. Bisa saja kau terlena oleh hartamu, merasa berada dalam zona aman, dan lupa bahwa kau harus berbagi. Ketika kau tidak seberuntung orang kaya bahkan papa, kesediaan berbagi pun tidak langsung hadir dalam dirimu. Bisa saja kau terlalu sibuk dengan kemiskinan dan ketidakpunyaanmu sehingga lupa bahwa kau tetap harus berbagi. Kesediaan berbagi muncul dari pribadi yang ikhlas, yang sadar bahwa apapun yang terjadi, berbagi adalah sebuah keharusan.

Salam,
Wahyu Widyaningrum

Wednesday, April 6, 2011

Lema Ajaib dalam KBBI

Lema n 1 kata atau frasa masukan dalam kamus di luar definisi atau penjelasan lain yang diberikan dalam entri; 2 butir masukan; entri.

Bagi saya, ada beberapa buah lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang memiliki semacam kekuatan ajaib dan magis buat saya. Kekuatan itu dapat berupa sebuah mimpi, sebuah cita-cita, sebuah fanatisme, atau sebuah harapan.

Mereka adalah penulis, wartawan, sukarelawan, penyiar, dan pencinta alam.

Semuanya tak ada yang berhubungan dengan bidang kuliah saya. Haha….


Penulis
Pe-nu-lis n 1 orang yang menulis; 2 pengarang: ~ naskah; 3 panitera; sekretaris; setia usaha; 4 pelukis; penggambar.

Kenapa penulis?

Karena bagi saya, penulis itu hebat. Otaknya, menurut saya, penuh dengan pemikiran mendalam dan rumit, yang kemudian diungkapkan secara lugas dan sederhana melalui tulisan sehingga orang lain tak perlu jungkir balik memahami apa yang ingin ia sampaikan.

Karena bagi saya, penulis adalah pemotret yang handal. Ia bisa memotret sekecil apapun peristiwa dan membuat orang yang ‘melihat’ hasil potretannya merasa ikut melihat peristiwa tersebut secara langsung. Hasil potretan tersebut ia ungkapkan dalam tulisan. Kadang ia dan pembaca melihat hasil potret yang sama, dan kadang juga berbeda karena imajinasi pembaca tak sama dengan imajinasinya ketika menulis hasil potretnya (tapi kayaknya yang terakhir ini jarang terjadi).


Karena bagi saya, penulis itu dewa. Melalui tulisannya, ia bisa saja mengubah dunia semaunya. Tinggal tulis saja apa yang ia inginkan, menyusupkannya ke dalam pemikiran orang lain dan banyak orang-lain, dan dunia akan berubah. Kalau mau dunia ini jadi baik, ya tulis saja kata-kata motivasi, kisah-kisah para pahlawan dan orang sukses, ilmu pengetahuan, dan cerita-cerita yang sarat nilai dan makna. Kalau mau dunia jadi bejat, tambah mudah. Tulis saja yang porno-porno, sejarah palsu, dan cerita-cerita stensilan.


Ini dia Linda Christanty, penulis favorit saya :*

Wartawan
War-ta-wan n orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat di surat kabar, majalah, radio, dan televisi; juru warta; jurnalis.

Kenapa wartawan?

Karena wartawan itu keren. Lihat saja luarnya. Seragamnya keren, bawa kamera mahal, mikrofon, dan buku kecil (kalau sekarang sudah banyak yang tidak pakai buku, ya. Kebanyakan sudah pakai Blackberry dan semacamnya). Dan yang paling keren di antara semuanya: kartu identitas pers.

Karena wartawan itu enak. Saya gandrung bulutangkis. Jadi saya ingin jadi wartawan olahraga, khususnya bulutangkis. Kalau jadi wartawan bulutangkis, ini enaknya: bisa ketemu atlet, wawancara langsung sama atlet, foto bareng, minta tanda tangan (semua dilakukan tanpa perlu berebutan layaknya fans yang harus berjuang setengah mati di tengah ratusan bahkan ribuan fans lain), jalan-jalan ke tempat turnamen diselenggarakan tanpa keluar uang pribadi (malah dibayari kantor), dan tetap dapat gaji! What a life! Jadi, dengan menyandang status wartawan bulutangkis, saya ‘kan bisa bertemu LANGSUNG dengan Lee Yong Dae, Fu Hai Feng, Hendra Setiawan, Lilyana Natsir, Sony Dwi Kuncoro, Vita Marissa, Dionysius Hayom Rumbaka, dan Boonsak Ponsana.


Sukarelawan
Su-ka-re-la-wan n orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan).

Kenapa sukarelawan?

Untuk kata yang satu ini, saya juga nggak tahu kenapa saya jadi terbius. Tapi saya rasa, karena keikutsertaan saya dalam Pramuka semasa SD sampai SMA. Di benak saya, Pramuka seharusnya mengabdi langsung pada masyarakat (cermati saja tiap butir isi Dasa Dharma Pramuka). Faktanya, saya cuma belajar baris berbaris, sandi-sandi, tali temali, dan membuat rujak (untuk yang terakhir, saya mempelajarinya ketika SMA karena hampir tiap pekan kami makan rujak bareng).

Lantaran adanya jarak antara ‘seharusnya’ dan ‘fakta’ itulah, saya jadi merasa kurang berguna. Saya salut pada orang-orang yang dengan sukarela mengabdi dengan mengajar; memberi penyuluhan; berbagi ilmu, keterampilan, dan keahlian; mengasihi alam; dan apapun. Saya salut dengan mereka yang sudah membiarkan dirinya tenggelam dan kemudian larut dalam sebuah dunia bernama ‘berbagi’. Mungkin hanya sedikit atau bahkan tak ada keuntungan finansial yang didapat, tapi kepuasan batin yang diperoleh dan dirasakan ketika berbagi dan menjadi bermanfaat tentu lebih luar biasa.


Penyiar
Pe-nyi-ar n 1 orang yang menyiarkan; 2 penyeru pada radio; 3 pemancar (radio); 4 penerbit dan penjual (buku dsb).

Kenapa penyiar?

Karena saya suka mendengarkan radio. Kesukaan saya memuncak ketika SMA. Waktu itu, pola belajar saya yang sekitar pukul 23.00 sampai pukul 03.00 membuat saya ‘terpaksa’ mendengarkan radio sebagai hiburan. Selain agar tidak mengantuk, saya kurang suka dengan suara jangkrik, kucing, burung, atau angin yang ‘hawa’nya agak gimana gitu. Radio, adalah teman yang sangat berjasa bagi saya karena mampu membuat saya tampak seperti orang gila yang tertawa sendiri ketika penyiarnya kocak, atau mampu membuat saya mewek tak karuan ketika penyiarnya ‘sok bijak’.

(selingan: penyiar radio favorit saya sampai sekarang adalah Yohanes Albertus, apalagi pas Koko Yo—panggilan akrabnya—masih siaran di 94,8 DJ FM Surabaya).

Karena penyiar itu asik. Tak perlu modal tampang, hanya perlu modal suara(menurut saya loh ini). Saya sering penasaran dengan wajah-wajah penyiar kesukaan saya yang suaranya keren. Begitu melihat gambarnya di internet, atau melihat mereka di televisi—karena banyak juga penyiar yang kemudian sering jadi pembawa acara di televisi—, saya sering kecewa: wajah mereka tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Hahaha

Karena penyiar itu enak. Bisa mendengarkan lagu-lagu terbaru dengan cepat, sebelum orang lain mendengarnya. Bisa mendapat album-album terbaru dari label (kalau yang ini hanya khayalan saya, saya kurang tahu bagaimana sesungguhnya) dan sekalian tanda tangan artisnya kalau sang artis sedang promo ke stasiun radio tersebut.

Karena penyiar itu keren. Saya juga nggak tahu dimana kerennya, tapi yang jelas buat saya, profesi ini adalah sesuatu yang sangat keren! Berbanggalah Anda yang seorang penyiar, karena saya setengah-mati ingin sekali menjadi penyiar.


Pencinta alam
Pen-cin-ta n orang yang sangat suka akan –alam

Kenapa pencinta alam?

Karena dari kata-katanya saja keren. Pencinta alam. Yang mencintai alam. Lebih keren lagi adalah aktivitasnya: naik gunung, masuk gua, turun sungai, dan masuk hutan. Apa yang lebih keren dari alam? Lihat sawah saja saya sudah senang (nasib orang (mengaku) kota yang jarang lihat sawah).

Karena pencinta alam itu keren. Saya tak tahu kata apa yang lebih ‘keren’ dari keren. Bisa sampai di puncak gunung, masuk ke lembah terdalam, hutan terlebat, dan sungai terderas.

Karena saya cinta alam! Ketika di Pramuka dulu, saya ingin masuk saka Wana Bhakti. Sayang, di kota saya saka ini mati suri. Saya jadi tak bisa ikut reboisasi dan masuk hutan seperti yang diceritakan kakak-kakak, dan hal ini sungguh menyedihkan.


Kesemua kata tersebut, bagi saya, merupakan kata-kata yang ajaib. Seketika, saya salut setengah-mati pada setiap orang yang berstatus penulis, wartawan, sukarelawan, penyiar, dan pencinta alam. Kalau saya bertemu mereka, senyum saya selalu mengembang lebih lebar dari biasanya lantaran takjub. Kalau saya bertemu mereka, saya akan memandang mereka dari atas sampai bawah lantaran kagum. Kalau saya bertemu mereka, saya akan selalu bergumam bahwa saya ingin menjadi seperti mereka.

Kalau saya bertemu mereka, saya berdoa semoga Tuhan mengabulkan doa saya sehingga saya menjadi seorang penulis, wartawan, sukarelawan, penyiar, dan pencinta alam SEKALIGUS.
Terdengar serakah, tapi tak ada salahnya, kan?


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Monday, April 4, 2011

Upaya Menyatroni Bulakan: Sebuah Aksi Sosial

Sabtu pagi. Ada yang berbeda dengan kawasan Bulakan, Pondok Ranji, hari itu. Tak biasanya musala sudah dipenuhi oleh anak-anak. Biasanya, hari Sabtu memang mereka belajar bersama kakak-kakak dari Komunitas Pondok Matahari, tapi baru dimulai pukul 13.00. Sedangkan sepagi itu, dengan penuh semangat mereka berdatangan dengan pakaian mereka yang –bisa dibilang—seadanya. Beberapa anak mengatakan, mereka sudah mandi sejak pukul 05.00 demi acara hari itu, saking semangatnya –saya tak tahu apakah informasi ini benar, tapi anggap saja begitu—.

Tak biasanya pula musala dipasangi hiasan dari kertas crepe berwarna-warni. Di beberapa bagian dinding dipasangi hiasan berbentuk anak bergandengan tangan berwarna biru muda dan merah. Di dinding bagian atas dipasangi hiasan serupa jalinan rantai yang terbuat dari bahan yang sama.

Saya sendiri baru datang sekitar pukul 08.30. Rupanya saya kalah cepat dengan anak-anak itu. Mereka sudah datang terlebih dahulu dari saya.

Hari itu, Sabtu 2 April 2011, warga Bulakan ‘disatroni’ oleh dua komunitas yang bekerja sama menyelenggarakan Hari Sehat Ceria (HSC). Dua komunitas tersebut adalah Komunitas Menara (KM) dan Komunitas Pondok Matahari (KPM).

Pada rangkaian acara pembukaan yang dimulai pukul 08.45, anak-anak diberi kesempatan menyanyikan lagu Indonesia Raya, memeragakan senam mencuci, malafalkan ikrar, dan doa selesai mengaji. Sambil menyimak kawan-kawannya maju di depan, mereka minum susu yang telah diberi sebelumnya oleh panitia.


Laskar KaosHitam ini membaca ikrar

Sekitar pukul 09.30, acara inti yang berupa berbagai perlombaan dimulai. Seluruh lomba dilakukan di kawasan musala. Ada lomba merangkai puzzle, menggambar, hafalan surat pendek Al Quran, dan lomba keterampilan. Seorang anak hanya boleh mengikuti satu macam lomba. Oiya, lomba puzzle ditujukan untuk anak berusia 3-4 tahun. Sedangkan lomba menggambar dibagi menjadi dua kategori, yaitu kategori usia 5-6 tahun dan 7-8 tahun. Untuk lomba hafalan, yang boleh mengikuti adalah yang berusia 9-10 tahun. Sedangkan lomba keterampilan boleh diikuti oleh yang berusia 11-12 tahun.

Lomba menyusun puzzle


Lomba menggambar

Sebenarnya, rentang waktu lomba adalah dari pukul 09.30 sampai 10.30. Tapi mungkin anak-anak Bulakan ini terlalu pandai, sehingga belum satu jam mereka sudah menyelesaikan semua lomba.

Ah, iya. Selain lomba, ada acara inti lainnya yang digelar di luar musala, yaitu bazar dan penyuluhan untuk ibu-ibu. Dalam bazar kali itu dijual berbagai macam pakaian dengan harga Rp 1.000 sampai Rp 10.000. Beberapa orang warga pulang sambil membawa dua kantong penuh berisi pakaian, entah berapa potong dan berapa rupiah. Bazar berjalan lancar, tapi tidak dengan penyuluhan. Penyuluhan terpaksa batal, karena ada kesalahpahaman dari penyuluh sendiri yang merupakan pihak luar.

Suasana bazar

-kembali ke rangkaian lomba-
Seusai lomba, sambil menunggu kakak-kakak dari KPM menilai dan menentukan juara dari tiap lomba, digelar acara dongeng. Pendongengnya adalah Kak Ucon. Tawa tak henti terdengar dari mulut-mulut anak Bulakan. Bahkan saya pun tertawa melihat gaya mendongeng Kak Ucon. Lucu.

Inilah yang namanya Kak Ucon

Seusai acara dongeng yang luar biasa, saatnya pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah. Setiap orang yang menang memperoleh hadiah berupa tas sekolah.

Untuk anak yang sudah besar, tas sekolahnya warna hitam. Yang kecil, tas sekolahnya warna kuning




Ada kisah dari pemenang lomba menggambar kategori usia 7-8 tahun ini. Pemenang pertama, di sebelah kanan gambar di atas, bernama Karna. Usianya 11 tahun, tapi diperbolehkan mengikuti lomba gambar. Karna adalah seorang tuna rungu dan tuna wicara. Ketika ditawari ikut lomba menggambar, Karna dengan mantap langsung mengangguk cepat. Dan dengan usahanya, ia berhasil menang di lomba tersebut.

Inilah Karna


Bagaimana dengan yang tidak menang lomba? Tenang, mereka tetap mendapatkan sebuah goody bag. Goody bag ini—seingat saya— berisi wafer, susu, roti, tempat pensil dan alat tulis, buku tulis, dan buku gambar.

Yeaayyy...! Tiap anak mendapat goody bag


Hari itu, Bulakan menjelma menjadi sebuah kawasan yang diliputi keceriaan.



Semoga keceriaan tak pernah luput dari Bulakan. Semoga hadiah-hadiah yang diberikan dapat bermanfaat bagi mereka. Semoga HSC dapat diselenggarakan di tempat-tempat lain. Dan semoga semakin banyak yang berbuat demikian untuk seluruh masyarakat yang kurang mampu.

Mari ikhlas berbagi, karena berbagi tak pernah rugi.


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Photo credit to Mbak Lis

Thursday, March 31, 2011

(2)

Kesuksesan-yang-sesungguhnya adalah ketika kau memiliki sebuah tujuan, kemudian kau berusaha keras untuk tujuan itu: melewati gunung tertinggi, tebing paling terjal, menyeberangi sungai terderas, mendobrak tembok paling tebal, dan menanggung beban terberat, lantas akhirnya kau mendapatkan apa yang kau tuju. Kesuksesan-yang-sesungguhnya tidak datang semudah kau mengedipkan kelopak mata, karena yang datang sedemikian mudah adalah sebuah keberuntungan.

Salam,
Wahyu Widyaningrum

Monday, March 28, 2011

Mimpi dan Kita

Kita, apapun dan bagaimanapun, tentu memiliki mimpi. Tentang apa yang ingin kita capai, tentang apa yang ingin kita peroleh, dan tentang bagaimana hidup kita selanjutnya. Yang aku inginkan adalah, selama kita tidak bertemu, marilah kita berusaha melakukan apapun—ingat, apapun!—untuk menggapai mimpi-mimpi kita itu. Jika ada tembok menghalangi kita dan mimpi kita, setebal apapun tembok itu, dobrak saja terus. Sampai habis energi kita, sampai tak bersisa lagi seluruh tenaga kita, dan sampai hanya harapan kita yang belum habis. Nanti pada saatnya, tembok itu akan runtuh karena kerasnya dobrakan kita dan tingginya harapan yang tersisa tadi. Di balik tembok itu, mari kita menikmati emas dan makanan, seperti dalam game Mario Bross yang sering kita mainkan dulu.


Ketika kita bertemu lagi, entah kapan, mari kita bercengkerama bersama. Mengobrol, bercerita tentang apa saja pencapaian kita dan bagaimana nasib mimpi-mimpi kita: apakah sudah terwujud atau belum. Bukan untuk saling sombong, saling pongah, saling meninggikan gengsi atau yang lain. Bukan itu. Hanya semata bukti, bahwa mimpi, sebagaimanapun tingginya, jika dibarengi dengan usaha dan doa yang tak kenal putus, maka insya Allah akan tercapai. Hanya semata kenangan, bahwa kita pernah sama-sama bermimpi, kita pernah sama-sama menderita demi mimpi itu, dan akhirnya kita sama-sama mencapai apa yang kita mimpikan.


Ketika nanti kita bertemu dengan segudang pencapaian atas mimpi kita yang terdahulu, mari kita menyusun mimpi-mimpi baru. Biarkan diri kita terus merangkai dan menyambung mimpi, biarkan diri kita terus berkembang. Biar nanti, tujuan kita tercapai. Sebuah tujuan akhir hidup kita: kita ingin dikenang sebagai apa.


Salam,

Wahyu Widyaningrum

Friday, March 25, 2011

Tiga Potongan Puzzle Ketika Senja (1)

(1)

Saat ini, kekasihku sedang menantiku di bandara. Aku hampir yakin ketika nanti kami bertemu, ia akan terus memelukku erat sampai waktu boarding tiba. Kemudian ia akan menggeret kopernya dengan setengah hati, seperti ketika dulu ia pergi ke Makassar selama seminggu untuk menemani ibunya.

Tapi yang membuatku berkata hampir yakin dan bukan yakin adalah, karena nanti ia akan berangkat ke Jepang untuk kuliah selama empat tahun. Empat tahun, bukan seminggu seperti waktu itu ia ke Makassar. Selama empat tahun, kami tak akan bertemu. Mungkin hanya akan ada percakapan yang singkat lewat telepon, atau tatap muka tak langsung lewat webcam.

Jadi sekarang aku agak berlama-lama di depan cermin, memastikan penampilanku sudah keren dan tak membuatnya kecewa di pertemuan-fisik terakhir kami untuk empat tahun ke depan.

Kunyalakan motor di halaman rumah. Kutinggal sebentar masuk rumah untuk mengambil helm dan pamit pada ibu. Tapi baru beberapa langkah dari ibu, kulihat tiba-tiba ibu ambruk. Wajahnya pucat.

---

Tuhan, jangan ambil ibuku sekarang.

Sejak tadi aku hanya mondar-mandir di depan ruang ICU. Aku tak tahu apa yang dilakukan beberapa dokter dan perawat di dalam, yang jelas aku yakin mereka akan mengupayakan yang terbaik demi ibuku.

Tapi selain perasaan gelisah karena ibu, ada satu lagi yang membuatku gelisah. Aku belum tahu apa. Kucoba mengingat sambil terus mondar-mandir di depan ICU.

Ah iya, kekasihku!

Kuraba seluruh saku celana dan jaket. Sial, ponselku tertinggal di rumah. Kulihat jam tanganku. Hahaha, setengah jam sudah berlalu dari waktu keberangkatannya. Mendadak aku jadi merasa sangat pusing, dan tiba-tiba gelisahku berlipat-lipat: jangan-jangan aku akan kehilangan ibuku, juga kekasihku.

Thursday, March 24, 2011

(1)

Pengkhianatan terbesar adalah ketika kau menyadari suatu hal yang buruk terjadi dan kau tahu penyebabnya, tapi di masa datang kau tetap saja melakukan hal-hal yang menyebabkan hal buruk tadi. Kau berkhianat pada hatimu, pada dirimu, pada komitmenmu, dan pada penyesalanmu.

Salam,
Wahyu Widyaningrum

Friday, March 18, 2011

Kalimat Penyemangat Diri

Alhamdulillah, libur semester 5 sudah selesai, sekarang saatnya kembali menyemai harapan dan cita-cita untuk kemudian dengan keras berusaha meraihnya di waktu yang akan datang. Sehubungan dengan semangat di semester baru ini, saya punya beberapa kalimat-keren dari berbagai tokoh, yang mungkin bisa membantu membakar semangat teman-teman. Kebetulan kemarin pas libur, saya ngubek-ubek tumpukan buku dan berhasil menemukan salah satu buku tulis saya semasa SMA. Di buku ini, saya suka menuliskan kalimat-kalimat keren yang pernah saya baca dari buku ataupun saya dengar dari seseorang. Maka dari itu, saya hanya mencantumkan siapa tokohnya, tanpa sumber dari mana saya tahu kalimat tersebut. Mohon maklum :).
Selamat membaca, selamat meresapi maknanya, dan selamat menyerap energi baru yang semoga mampu membawa diri menjadi lebih baik.


Kegagalan terkadang menjadi berkah, kalau kegagalan itu membelokkan seseorang dari tujuan yang perlu direnungkan dan akan berakibat memalukan atau bahkan akan merusak sekiranya tujuan itu berhasil diraih. Kegagalan membuka pintu kesempatan baru yang memberikan pengetahuan langsung kepada seseorang tentang kenyataan hidup. Kegagalan memberi tahu kelemahan-kelemahan dan mengobati kesombongan manusia yang sia-sia. Kegagalan biasanya memengaruhi orang dalam satu atau dua cara: ‘kegagalan menantang seseorang untuk berusaha lebih keras’ atau ‘kegagalan mematahkan semangat dan mengalahkan seseorang untuk mencoba lagi’.
(Napoleon Hill)

Sesungguhnya penderitaan merupakan suatu hikmah, karena dibalik penderitaan, orang banyak meraih kesenangan dan kemuliaan.
(Imam Al Ghazali)

Seandainya dunia dibuat dari emas dan akhirat dibuat dari tembikar, maka lebih baik memilih tembikar yang tak akan sirna daripada emas tapi cepat lenyap.
(Fadhl bin Iyadh)

Yang dikatakan cinta sejati yaitu cinta yang tidak bertambah karena kebaikan dan tidak berkurang karena kesalahan.
(Yahya bin Muaz Ar Rafi)

Setiap penderita penyakit pasti menginginkan kesembuhan. Hanya penderita sakit cinta yang selalu ingin menanggungnya.
(Jalaluddin Rumi)

Tiga tanda orang berakal yaitu meninggalkan dunia sebelum ditinggalkan oleh dunia, membuat kuburan sebelum memasukinya, dan mencari keridhaan Allah sebelum jumpa denganNya.
(Yahya bin Muaz Ar Rafi)

Ada tiga waktu di dunia, yaitu: waktu yang telah berlalu, waktu yang sedang kita jalani, dam waktu yang kita tidak tahu secara pasti apakah kita akan sampai atau tidak. Perlu diketahui, sebenarnya waktu yang kita miliki hanya satu, karena kematian datang dari waktu ke waktu.
(Abu Dzar Al Ghifari)

Keutamaan seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan atas seorang ahli ibadah, bagaikan bulan dengan sekumpulan bintang. Ketahuilah bahwa ulama adalah ahli waris para nabi. Dan para nabi tidaklah mewariskan uang dinar ataupun uang dirham, melainkan mewariskan ilmu pengetahuan. Maka barangsiapa mengambilnya, berarti dia mendapat keberuntungan besar.
(Diriwayatkan oleh H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Baihaqi, dan Ibn Hibban)

Terutama melalui buku-buku, kita menikmati hubungan dengan pikiran superior. Di dalam buku-buku terbaik, orang-orang besar berbicara kepada kita, memberikan kepada kita pikiran paling berharga yang mereka miliki, juga menuangkan jiwa mereka ke dalam diri kita. Mereka adalah suara-suara dari yang jauh dan sudah tiada dan membuat kita pewaris dari kehidupan spiritual zaman-zaman silam.
(William Ellery Channing)

Setelah menuruni lembah terdalam barulah Anda dapat menilai keindahan gunung yang tinggi. Ketika Anda murung, keunggulan Anda teruji, kentara, dan terlihat. Anda memerlukan sebanyak mungkin pengalaman pahit untuk melahirkan keunggulan.
(Richard Nixon)

Jika kita melihat hidup dengan segala tantangannya sebagai ujian atau serangkaian ujian, maka kita mulai dapat melihat setiap masalah yang kita hadapi sebagai kesempatan untuk berkembang, kesempatan uuntuk menghadapi tantangan. Apakah kita sedang dibanjiri masalah, tanggung jawab, bahkan hambatan yang sulit dihadapi, bila kita memandangnya sebagai ujian, maka kita akan selalu memiliki kesempatan untuk sukses. Sebaliknya, bila kita melihat masalah yang sedang dihadapi sebagai pertempuran yang harus dimenangkan untuk mempertahankan hidup, maka mungkin kita sedang berada di perjalanan mendaki pegunungan yang terjal.
(Richard Carlson)

Kesempatan muncul dalam bentuk yang berbeda dan dari arah yang berbeda dari apa yang kita harapkan. Kesempatan punya kebiasaan licik untuk menyelinap lewat pintu belakang, dan kerap kali datang dalam bentuk kemalangan atau kekalahan sementara.
(Napoleon Hill)

Jika akhirat bersemayam di dalam hati, dunia akan datang mendesaknya. Jika dunia berada di dalam hati, akhirat tak akan mendesaknya. Hal itu mengingat, akhirat adalah mulia dan dunia terlaknat.
(Abu Sulaiman Ad Darani)

Barangsiapa yang mempunyai ilmu, lalu beramal serta mengajar, maka dia patut disebuta sebagai orang besar di segala petala langit.
(Nabi Isa)

Ilmu guru hanya akan dapat diterima, jika kamu menyerahkan diri sepenuhnya kepada beliau. Karena itu, cacian gurumu hendaklah diterima dengan sabar.
(Imam Syafi’i)

Pencapaian terbesar pada mulanya dan selama beberapa waktu adalah sebuah mimpi. Pohon Ek tidur dalam bijinya, burung menunggu dalam telurnya, dan dalam bayangan jiwa tertinggi, malaikat yang terjaga pun bergerak. Impian adalah persemaian kenyataan.
(James Allen)

Pelajarilah suatu ilmu, sesungguhnya mempelajarinya adalah bentuk adanya rasa takut kepada Allah, mencari ilmu itu sebagai ibadah, mengulangnya sebagai tasbih. Juga meneliti ilmu itu jihad, mengajarkannya pada orang yang tak tahu itu sedekah, serta menyerahkan pada ahlinya itu bentuk pendekatan diri pada Allah. Karena, ilmu itu pedoman untuk mengetahui yang halal dan haram, penerang jalan bagi penghuni surga. Ilmu berperan menjadi penenang dalam keributan, sebagai teman dalam pengembaraan, sebagai teman bicara dalam kesendirian, petunjuk dalam kesenangan dan kesusahan, senjata ketika menghadapi musuh, penghias bagi para kekasih.
Dengan ilmu, Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan menjadikan mereka sebagai para tokoh dan pemimpin yang akan dicatat sejarah mereka dan diikuti perbuatan mereka serta pendapat mereka dijadikan pedoman. Para malaikat pun suka karakter mereka sehingga dengan sayap-sayapnya para malaikat itu mengusap mereka. Bahkan binatang darat dan air, ikan hiu dan hewan lautan, binatang ganas dan jinak di daratan pun ikut memintakan ampun bagi ahli ilmu. Karena ilmu sebagai penghidup hati dari kebodohannya, penerang akal dari kegelapannya. Dengan ilmu seorang hamba bisa naik ke derajat orang-orang pilihan dan derajat-derajat yang tinggi di dunia dan akhirat. Berpikir tentang ilmu sebanding dengan puasa, mempelajarinya sebanding dengan tahajud. Dengan ilmu akan terjalin silaturahmi, dengan ilmu akan bisa diketahui yang halal dan haram karena ilmu adalah pembimbing suatu amal perbuatan dan amal perbuatan itu sebagai pengikut ilmu. Sehingga ilmu itu akan mengajari amal perbuatan menuju kebahagiaan dan menghindarkannya dari kesengsaraan.
(Muadz bin Jabal)

Kesempurnaan itu dalam tiga hal: menjaga kesucian agama, sabar atas musibah, dan berperilaku baik dalam mencari penghidupan.
(Muhammad Ibn Hanifah)

Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diamanahkan oleh Allah untuk aku bawa adalah seperti hujan lebat yang menimpa bumi. Maka, di antara tanah itu ada yang menyerap air hujan untuk menumbuhkan pepohonan. Di antara tanah itu ada pula yang keras yang mampu menampung air, sehingga banyak orang mengambil manfaat dari air tersebut. Air hujan juga menimpa kelompok tanah lain yang seperti bebatuan, yang tak mampu menampung air maupun menumbuhkan pepohonan. Semua adalah perumpamaan orang yang memahami agama ini dan bermanfaat bagi orang lain, dengan mempelajarinya dan selanjutnya mengajarkannya pada orang lain. Dan seperti perumpamaan orang yang sama sekali tak menyambut ajaran itu dan tak menerima petunjuk Allah yang dikirim-Nya melalui diriku.
(Diriwayatkan oleh H.R. Bukhari)


Nah, kalau kalimat keren berikut ini, saya nggak tahu mengutip dari siapa. Di buku tulis saya cuma tertulis demikian, tanpa keterangan apapun. Kalau teman-teman ada yang tahu siapa yang berkata demikian, izinkan untuk membaginya kepada saya :).

Seberapa jauh kita siap untuk menderita,
seberapa jauh kita siap untuk bersabar,
seberapa besar tekad kita untuk bangkit kembali setelah gagal,
seberapa dalam kita dapat menahan ego kita,
seberapa dalam kita menahan nafsu kita,
seberapa lama kita dapat bertahan saat dimana seolah tiada harapan,
seberapa kuat kita bertahan menghadapi segala rintangan,
Itulah harga yang harus dibayar untuk menjemput impian kita.



Salam,
Wahyu Widyaningrum

Saturday, March 5, 2011

Aktivitas PAUD Komunitas Menara

Komunitas Menara adalah sebuah yayasan yang didirikan oleh A. Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna. Royalti buku-buku beliau digunakan untuk membiayai kegiatan operasional yayasan ini, dan sekarang alhamdulillah yayasan juga sudah punya nomor rekening bagi yang ingin mendonasikan sebagian rizkinya. Dulu Komunitas Menara (KM) pernah membantu membangun kembali sebuah SD yang rusak akibat gempa di Jabar. Kali ini, KM mendirikan sebuah PAUD, alias Pendidikan Anak Usia Dini.

PAUD KM ini terletak di Jl. Beruang II, Bintaro Jaya. Sekarang ada 25 anak yang belajar disini, yang berasal dari keluarga kurang mampu. Belajar di PAUD ini gratisss loh :). Gurunya ada 2 orang: Bu Vita dan Bunda Lis, dan kadang dibantu oleh beberapa relawan. Kadang saya juga main ke PAUD, ngeliatin adik-adiknya yang bikin gemes.

Kegiatan belajar-mengajar di PAUD KM diselenggarakan pada hari Senin, Rabu, dan Jumat. Kalau hari Senin dan Rabu pukul 08.00-11.00, kalau hari Jumat pukul 08.00-10.30. Kegiatannya seru sekali. Berikut saya kasih liat foto-fotonya, hasil jepretan Bunda Lis.

Cekidot...


Sedang belajar menulis huruf 'B' di papan kecil





Rame-rame menyusun pasel




Duduk melingkar. Rapi kan?




Adik ini namanya Salman. Dia sedang menunjukkan hasil karya melipatnya




Entah kenapa, mainan perosotan inilah yang paling banyak diminati. Antrenya selalu sampai panjang begitu...


Oiya. Foto-foto ini diambil hari Senin, 28 Februari 2011 dan Rabu, 2 Maret 2011. Semoga adik-adik PAUD KM akan menjadi orang-orang yang bermanfaat dan sukses, seperti motto PAUD Komunitas Menara: Man Jadda, Wa Jada. Siapa bersungguh-sungguh, akan berhasil. Yes, yes, yesss!!!


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Wednesday, February 23, 2011

Cermin: Meminjam Sajadah

Masjid sepi, jamaah terakhir salat isya sudah meninggalkan masjid lima belas menit lalu. Merbot mematikan semua lampu di bagian dalam masjid, hanya lampu teras yang ditinggalkan menyala. Ia juga mengunci semua pintu dan jendela, mungkin supaya mimbar di tempat imam tak dicuri maling.

Tertatih-tatih, merbot masjid akhirnya meninggalkan masjid juga.

Setelah merbot pergi dan tak ada seorang pun di masjid, seseorang menyelinap masuk lewat jendela masjid—seperti hari kemarin dan kemarin-kemarin, selama puluhan hari. Sepertinya merbot yang sudah berusia 60an tahun alpa mengunci jendela itu, selama puluhan hari juga. Seseorang itu hanya sebentar saja di dalam masjid. Tak sampai lima menit. Lantas keluar lagi lewat jendela yang sama, sambil menenteng sesuatu.

Seseorang yang lain, warga yang rumahnya berada di sebelah masjid, melihat kejadian itu. Selama puluhan hari juga. Tapi toh tiap pagi ketika ia memeriksa masjid, tak ada yang janggal. Semuanya ada di tempatnya. Ia bertanya pada merbot, barangkali merbot lebih paham inventaris masjid. Puluhan hari juga, si merbot mengatakan bahwa barang di masjid tak ada yang hilang.

*****

Malam itu, si warga melihatnya lagi, seperti puluhan hari yang lalu: seseorang masuk lewat jendela-masjid yang sama, berada di dalam masjid tak sampai lima menit, dan keluar dengan membawa sesuatu.

Si warga penasaran. Ia akhirnya mengikuti seseorang itu.

Di emperan sebuah toko, si warga melihat seseorang itu: seorang bocah laki-laki berusia sekitar 8 tahun, menggelar selembar sajadah yang lantas dijadikan alas tidur oleh adiknya: seorang bocah perempuan berusia kira-kira 6 tahun dengan rambut kemerahan dan hidung yang selalu mengeluarkan ingus.

Setiap hari, selama puluhan hari, si bocah laki-laki menyelinap ke dalam masjid, meminjam selembar sajadah untuk alas tidur adiknya, dan sebelum subuh ia mengembalikan sajadah itu lagi ke masjid.




Ruang Hidup, 20 Feb 2011

Salam,
Wahyu Widyaningrum

Tulisan dari 'Setahun Koin Keadilan'

Sebuah tulisan jika ditulis dengan hati, apalagi berdasarkan sebuah kejadian yang nyata, dipercaya mampu menyentuh hati pembacanya. Saya termasuk yang memercayai hal tersebut karena saya baru mengalaminya. Saya membaca sebuah tulisan, satu di antara beberapa tulisan dalam e-book Setahun Koin Keadilan: Sebuah Kenangan dan Penghargaan untuk Orang-orang yang Berkehendak Baik, yang membuat saya terharu *kalau nggak mau disebut menangis :p*.

E-book Setahun Koin Keadilan itu sendiri adalah e-book yang diterbitkan oleh Rumah Langsat pada bulan desember 2010, yang mengupas segala sesuatu tentang gerakan sosial koin keadilan bagi Prita Mulyasari. Ada sekitar 14 tulisan dalam e-book ini, berkisah dari segala sisi.

Tulisan yang saya bicarakan sebelumnya berjudul Pemulung Cilik dan Kejujuran, ditulis oleh Muhammad Zamroni. Saya tampilkan tulisan itu disini, semoga bisa diambil hikmahnya. Sungguh kita patut malu setelah membacanya. Selamat membaca :).


Pemulung Cilik dan Kejujuran
Pemulung cilik itu menunggu cukup lama sebelum mendekati tempat sampah di Langsat yang penuh dengan tumpukan kardus, kaleng, dan bekas celengan. Rupanya dia menunggu kumpulan gelas plastik minuman kemasan yang tercecer untuk diletakkan di tempat sampah itu. Begitu kardus berisi gelas-gelas plastik itu diletakkan di dekat tempat sampah (karena tempat sampah sudah tidak muat), pemulung cilik itu dengan cekatan segera menyortir dan mengumpulkan benda-benda yang sekiranya bisa dia ambil dan dijual kembali, ke dalam karung plastik besar berwarna putih kusam yang ia bawa.

Kardus, kaleng-kaleng, dan bekas celengan plastik yang telah disobek untuk dikeluarkan isinya, berkeping-keping uang logam untuk dihitung di Posko Langsat, menjadi sasaran utamanya. Selain gelas-gelas plastik bekas air minum dalam kemasan yang sepertinya sudah diincarnya sejak tadi tentunya.

Posko Koin Keadilan rupanya juga membawa berkah bagi orang lain. Contoh nyatanya adalah si pemulung cilik yang diceritakan di atas. Terjadi sebuah simbiosis mutualisme.

Tumpukan sampah yang menggunung, rupanya bisa menjadi ladang rezeki bagi orang lain. Tempat sampah Langsat pun kembali kosong dan siap menampung sampah-sampah berikutnya.

Tiba-tiba terdengar bunyi gemerincing. Koinkoin yang tercecer dan masih berada di dalam kaleng, terselip di sela-sela lipatan kardus, atau di dalam celengan yang mungkin lupa terambil oleh relawan, kembali dilemparkan si pemulung cilik ke atas karpet tempat penghitungan koin.

Kami yang melihatnya langsung terdiam, sementara si pemulung cilik seakan tidak mengetahui kami yang memperhatikan gerak-geriknya, masih sibuk mengorek-korek sampah. Tidak satu-dua kali aksinya melempar kembali koin yang ditemukannya di tempat sampah kembali ke posko penghitungan.

Bisa saja si pemulung cilik mengambil dan menyimpan koin-koin yang tercecer itu. Bila dikumpulkan pun, hasilnya cukup lumayan, walau toh tak seberapa bila dibandingkan dengan jumlah yang terkumpul yang saat itu hingga mencapai sekitar 280 juta.

Namun ini tidak dilakukannya. Si pemulung seolah bisa mengerti, mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan haknya. Sampah adalah miliknya, namun koin itu bukan, koin itu milik Prita.

Perilaku jujurnya ini juga ditunjukkan sejak awal. Dia memilih menunggu hingga gelas-gelas plastik
yang memang tercecer di seputaran posko, ditaruh dahulu di tempat sampah, meski jika dia mengambil ceceran gelas plastik itu secara langsung pun tidak akan dianggap sebagai masalah. Seolah-olah ia ingin memastikan, bahwa gelas-gelas platik itu benarbenar menjadi haknya, berada di tempat sampah.

Kami yang melihatnya pun tergerak. Bantuan logistik untuk para relawan penghitung koin berupa makanan dan minuman begitu melimpah di Langsat. Seseorang di antara kami menawarkan si pemulung cilik untuk mengambil nasi kotak. Si pemulung menolak, dengan alasan dia sudah mengambil jatah dari sisa-sisa nasi kotak. Sontak kami yang mendengarnya langsung terdiam.

Hampir tengah malam, ketika si pemulung cilik itu kembali ke Langsat untuk meneruskan pengumpulan sampahnya, kami akhirnya harus sedikit memaksa si pemulung cilik untuk tidak menolak pemberian nasi kotak.

Kami memaksanya untuk membawa beberapa nasi kotak, untuk dibawanya pulang, untuk disantapnya bersama keluarganya.

Wednesday, February 16, 2011

Maulid Akbar Majelis Rasulullah saw


Puluhan ribu jamaah menyesaki area Monumen Nasonal-Monas, Jakarta. Mereka datang demi menunjukkan rasa cintanya kepada rasulullah saw. Hari itu, 15 Februari 2011, Majelis Rasulullah saw yang dipimpin oleh Habib Munzir al Musawa menggelar Maulid Akbar.Saya bersama kawan-kawan Ikatan Mahasiswa Nahdliyin (IMAN) STAN sampai di Jl. Medan Merdeka sekitar pukul 8.40. Tapi jalanan yang ramai sekali membuat kami akhirnya turun di gerbang luar Monas dan jalan kaki masuk area Monas. Sekitar lima puluh meter sebelum pagar Monas, orang-orang sudah berkerumun, berebutan masuk. Padahal seingat saya,dulu kondisinya nggak separah ini (saya sudah pernah ikut Majelis Rasulullah satu kali).



Habib Munzir al Musawa

Setelah antre berdesak-desakan sekitar 20 menit, akhirnya kami berhasil masuk. Dan saya menemukan penyebab lamanya antre: ada pemeriksaan oleh Paspampres. Jadi ada semacam ‘pintu’ metal detector. Tapi berhubung yang antre sudah banyak sekali, akhirnya nggak semua orang masuk metal detector itu. Beberapa hanya diperiksa oleh paspampres (ada paspampres wanita juga, khusus memeriksa jamaah wanita) dengan diraba-raba, dibuka tasnya, bahkan tidak dilirik sama sekali (saya termasuk yang tidak diperiksa. Mungkin saya nggak ada tampang teroris, jadi si paspampres acuh saja).

Dan ribetnya masuk area Maulid ini membuat kami baru duduk sekitar pukul 08.25. Super sekali, bukan? Padahal acara dimulai pukul 08.00. Jadi kami ketinggalan zikir-zikir pembuka.

Di tengah-tengah zikir dan pembacaan maulid, Habib Munzir mengatakan bahwa presiden sedang menuju ke monas. Dan barulah saya sadar: Oalah, pantes ada paspampres. Ternyata ada presiden yang rawuh toh.




Yang dikasih lingkaran itu anggota Paspampres, pakai baju batik, corak dan warnanya seragam semua. Saya motretnya pas acara udah selesai.

Habib Munzir berkisah dalam ceramahnya tentang keunggulan akhlak Rasulullah saw,” Suatu hari seorang sahabat mengutus sahabat lain untuk mengantarkan hadiah berupa pakaian dari sutera kepada Rasul. Sahabat yang memberi tidak mengetahui bahwa sutera haram dipakai oleh laki-laki. Sahabat yang mengantar hadiah tadi berkata, “sutera itu haram.”
Lantas si pemberi terkejut, “Astaghfirullah, aku memberi barang haram kepada Rasul? Lalu apa yang beliau lakukan terhadap pemberianku?”
“Beliau merobek-robek pakaian pemberianmu. Tapi sekarang beliau meminta baju yang sedang kau pakai.”
“Apa maksudmu? Saat ini kan Rasulullah sedang meladang di kebun kurma. Mana mungkin beliau meminta pakaian yang sedang kupakai ini?”
“Begitulah kata Rasulullah saw.” Jawab sahabat yang mengantar hadiah tadi. Sungguh menunjukkan akhlak Rasul yang luar biasa.”

Setelah pembacaan maulid dan ceramah selesai, giliran pak Presiden memberikan sambutan. Dari beliau, saya tahu bahwa ada pejabat penting lain yang juga rawuh: Wakil Presiden Budiono, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Panglima TNI, Kapolri, Mensesneg Sudi Silalahi, dan menteri-menteri lain. Hadir juga K.H. Idris, pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Dalam sambutannya, Pak SBY mengungkapkan bahwa selayaknya kita mencontoh kepribadian Rasulullah saw. yang bijak, teduh, penuh pengayoman. Selain itu, beliau juga berkata, “Pemerintahan yang saya pimpin akan terus berjuang untuk mengatasi semua permasalahan dan terus membangun untuk kesejahteraan seluruh rakyat. Banyak yang sudah kita capai, tapi jujur saya akui, masih banyak pula PR yang harus diselesaikan agar masa depan kita lebih baik.”

Maulid Akbar kemudian ditutup dengan doa oleh K.H. Idris Lirboyo yang, subhanallah, meskipun kurang sehat namun beliau menyempatkan diri rawuh di Monas bersama puluhan ribu jamaah Majelis Rasulullah saw.

Acara selesai sekitar pukul 11.30, diakhiri dengan foto-foto arek-arek IMAN. Hehehe



Inilah panggungnya. Yang jamaah wanita ada di sebelah kanan panggung, makanya angle foto saya begini.



Segini banyak jamaah yang datang. Ini saya cuma motret yang jamaah wanita. Kalau yang jamaah laki-laki, bisa sampai ujung tuh. Buanyak banget! Subhanallah...

Semoga di kesempatan lain masih bisa ikut serta. Shallu alannabi Muhammad!

Salam,
Wahyu Widyaningrum




Silakan baca juga:
Al Zaytun, Kemegahan yang Pernah Saya Cita-Citakan