Sunday, January 1, 2023

Bunyi-Bunyian Ganjil

Cerpen Natsume Soseki


Bagian Awal

Aku terbangun meskipun masih mengantuk. Terdengar suatu bunyi entah apa dari kamar sebelah. Awalnya aku tidak tahu bunyi apa itu dan dari mana asalnya, tetapi setelah kusimak, perlahan telingaku semakin bisa menangkap bunyi tersebut: bunyi yang ditimbulkan dari memarut sesuatu, entah lobak atau apa, menggunakan parutan wasabi—yang mata parutannya lebih lembut. Ya, tak salah lagi. Aku yakin dengan dugaanku. Aku hanya tidak bisa membayangkan keperluan macam apa yang dihadapi oleh penghuni kamar sebelah, sampai harus memarut lobak pada waktu selarut ini.

Oh, aku lupa mengatakan bahwa tempat ini adalah rumah sakit. Tukang masak hanya ada satu orang, ia bertempat di dapur di lantai bawah yang letaknya terpisah sekitar lima puluh meter. Sementara itu, memasak di bangsal rumah sakit adalah hal yang dilarang. Jadi, apa yang hendak dibikin dari hasil parutan lobak ini, terlebih pada waktu yang tidak biasa seperti ini? Tebersit pikiran bahwa akulah yang salah menganggap bunyi lain sebagai bunyi lobak yang sedang diparut, tapi sama sekali tidak terbayangkan olehku dari mana asal bebunyian itu dan mengapa bisa terdengar ke telingaku.

Setelah memutuskan untuk mengabaikan hal tersebut, aku mencoba mengalihkan perhatian dengan menggunakan pikiranku untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Tapi bunyi misterius yang terdengar sekali lagi itu terus-menerus bergaung di gendang telingaku dan menjalari saraf-sarafku, membuatku tak mampu melupakannya bagaimanapun caranya.

Rumah sakit ini dikelilingi hutan sehingga terasa sunyi. Pasien-pasien yang aktivitasnya terbatas yang dirawat di gedung ini juga pendiam, seolah mereka sudah saling bersepakat. Mereka ini, kalau tidak tidur, ya memikirkan sesuatu. Tidak ada seorang pun yang mengobrol. Bahkan suara langkah kaki para perawat yang mengenakan sandal ruangan pun tidak terdengar. Dalam kondisi sesenyap ini, bunyi aneh seperti sedang memarut sesuatu jadi membuatku penasaran.

Ruang perawatanku dulunya adalah dua ruangan bersebelahan yang, karena sebab tertentu dari pihak rumah sakit, dibangun pembatas sehingga menjadi dua kamar yang benar-benar terpisah. Lantaran itulah, satu kamar berukuran kecil yang dilengkapi tungku arang memiliki dinding tembok; sementara kamar lainnya yang berukuran lebih besar dengan kelengkapan alas tidur memiliki lemari penyimpanan di sisi timur di bagian atas seukuran dua meter. Di dekat lemari tersebut, dipasang penyekat ruangan berbahan kain dari pelepah pisang sebagai akses keluar-masuk ke kamar sebelahnya. Apabila selembar penyekat ini dibuka, kita dapat dengan mudah mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh penghuni kamar sebelah—tetapi apa gunanya berperilaku tidak sopan seperti itu. Pintu di sisi yang menghadap ke halaman dibiarkan terbuka begitu saja sebab saat ini cuaca mulai panas. Dulunya, beranda di sisi tersebut sempit dan panjang, saling tersambung satu sama lain. Lantas demi mencegah pasien pergi ke beranda lalu melongok tidak sepantasnya ke kamar lain, dipasanglah pintu tiap dua kamar, yang berfungsi sebagai penghalang. Di balik pintu itu, dipasang lagi kayu melintang yang di atasnya disusun bilah-bilah tipis secara membujur dengan jarak rapat-rapat sehingga berbentuk serupa palang.  Petugas kebersihan, yang tiap pagi bekerja mengelap dan membersihkan ruangan, selalu membawa serta anak kunci dari lantai bawah. Ia lantas membuka pintu itu satu per satu.

Aku mencoba berdiri di atas undakan pintu—sepertinya bunyi ganjil itu bersumber dari balik pintu ini. Sebetulnya, ada celah setinggi jari telunjuk di bawah pintu, tapi dari celah itu tak nampak sesuatu pun.

Bahkan setelah saat itu, bunyi tersebut berulang kali terdengar. Kadangkala bunyinya menyerang saraf pendengaranku secara beruntun selama lima atau enam menit tanpa henti, tapi terkadang pula sudah berhenti padahal durasinya belum sampai separuhnya. Perihal penyebabnya, aku tak memiliki daya untuk mengetahuinya. Pasien di ruangan itu adalah seorang pria yang pendiam, kadang-kadang saat tengah malam ia membangunkan perawat dengan suaranya yang lirih. Perawatnya adalah seorang perempuan yang berpembawaan ceria. Setelah dua atau tiga kali dipanggil dengan suara kecil, ia akan menjawab panggilan itu dengan ramah, "Ya...?", lantas segera beranjak bangun. Setelah itu ia akan memeriksa kondisi si pasien.

Suatu hari, ketika kamar sebelah sedang mendapat jadwal kunjungan dokter, durasi kunjungannya lebih lama daripada biasanya. Setelah itu, terdengarlah suara bisik-bisik. Percakapan antara dua atau tiga orang itu lalu makin memanas, sepertinya mengalami kebuntuan. Lantas terdengarlah dengan jelas suara sang dokter, bagaimanapun, ini tidak dapat sembuh dalam sekejap.

Dua atau tiga hari setelahnya, tampak beberapa orang yang diam-diam keluar-masuk ke ruangan pasien tersebut. Mereka melakukannya sembunyi-sembunyi, kupikir karena mereka segan untuk mengganggu si pasien. Namun tanpa kusadari, ternyata pasien itu sudah tidak ada di sana. Ia menghilang entah ke mana—seperti bayangan.

Setelah itu, keesokan harinya ada pasien baru yang masuk sehingga plat hitam dengan tulisan warna putih berisi nama pasien yang tergantung di pintu masuk pun diganti. Pasien yang sebelumnya sering menimbulkan bebunyian ganjil itu rupanya sudah pulang—tanpa kuketahui siapa dia. Saat itu pula, aku juga selesai opname dan pulang. Dengan demikian, rasa penasaranku atas bunyi-bunyian itu pun turut lenyap.

 

Bagian Akhir

Baru tiga bulan berselang, aku kembali dirawat inap di rumah sakit. Ruang perawatanku hanya berbeda satu nomor dari sebelumnya; dengan kata lain, di sebelah barat kamar yang dahulu. Aku ingin tahu apakah kamarku terdahulu, yang dibatasi selapis dinding dengan kamar ini, berpenghuni atau tidak. Dengan penuh kewaspadaan aku menengok ke sana, tapi tak terdengar suara apa pun sepanjang hari. Barangkali sedang kosong. Di kamar sampingnya lagi di ujung, yaitu tempat asal bebunyian aneh itu, aku pun tak tahu siapa pasiennya di sana sekarang.

Selang beberapa waktu, aku merasa ada perubahan dahsyat yang terjadi di tubuhku, bahkan hingga menyerang kepalaku. Bayangan masa lalu yang hingga sekarang terus-menerus menimbulkan riak kecil membuatku gemetar sehingga aku tak punya waktu untuk mengingat perihal parutan wasabi itu. Aku justru menaruh perhatian pada pasien-pasien sebelumnya di rumah sakit ini; mereka yang nasibnya mirip denganku. Aku sempat bertanya kepada perawat mengenai jumlah pasien yang juga sedang dirawat di sini, lalu ia menjawab bahwa ada tiga orang pasien. Kutanya lagi apakah penyakit mereka tergolong berat, lalu ia menjawab bahwa sepertinya demikian. Satu atau dua hari setelahnya, aku mengonfirmasi penyakit yang dialami ketiga pasien tersebut kepada perawat. Ternyata, satu orang mengidap kanker tenggorokan. Seorang lainnya menderita kanker lambung, lalu seorang lagi mengalami tukak lambung. Usia mereka nampaknya tak akan panjang lagi, kata perawat, memperkirakan nasib ketiga orang tersebut.

Aku memandangi tanaman begonia dengan bunga kecilnya yang kuletakkan di beranda. Aku teringat pada kisah orang yang membawakanku begonia ini. Sebenarnya ia bermaksud membeli tanaman krisan, tapi saat itu si penjual bilang bahwa harganya enam belas kepeng, ia lalu menawarnya menjadi lima kepeng, tapi si penjual tetap bersikukuh. Saat hendak pulang, ia kembali mengatakan bagaimana kalau enam kepeng, namun si penjual tetap bergeming dan menjelaskan bahwa tahun itu tanaman krisan perlu banyak air sehingga harganya mahal. Sembari memandangi bunga, di kepalaku terbayang pemandangan malam jalanan yang riuh pada festival ennnichi di dekat kuil.

Pasien penderita kanker tenggorokan akhirnya selesai opname dan keluar rumah sakit. Pasien kanker lambung, yang berkata bahwa kematian bukanlah suatu masalah baginya kalau memang ia sendiri sudah menyerah, akhirnya meninggal dengan tenang. Sementara itu, pasien dengan penyakit tukak lambung kondisinya makin memburuk. Saat aku terbangun pada tengah malam, kadangkala dari arah ujung timur terdengar bunyi dari penjaga pasien yang sedang memecah es batu. Bunyi tersebut berhenti bersamaan dengan meninggalnya si pasien. Aku menulis di buku harianku. Dua orang di antara tiga pasien telah meninggal, tinggal aku seorang, dan aku merasa iba pada mereka yang meninggal. Saat orang-orang yang sedang sakit ini merasa mual, mereka tak henti-hentinya muntah dengan suara yang seakan menggema dari ujung sana hingga pojok sini. Namun, dua atau tiga hari belakangan ini suara-suara itu tak lagi terdengar sama sekali. Kupikir itu karena mereka semakin membaik, tapi aku baru tahu bahwa sebenarnya suara itu merupakan puncak penderitaan mereka, yang telah kehilangan seluruh tenaganya.

Selepas itu, pasien datang silih berganti, dirawat lalu pulang. Sementara itu, penyembuhan penyakitku menunjukkan perkembangan yang semakin baik dari hari ke hari, hingga akhirnya aku mulai bisa berjalan bolak-balik di sepanjang lorong yang lebar ini dengan mengenakan sandal ruangan. Gara-gara kejadian yang tak terduga, aku jadi bisa berbincang-bincang dengan perawat yang saat itu kebetulan sedang bertugas. Seusai makan siang pada suatu hari yang hangat, aku keluar menuju ruang cuci untuk mengganti air di vas berisi bunga bakung, sekalian menggerakkan tubuh. Ketika aku membuka keran, perawat itu datang untuk mencuci perabotan minum teh dari ruangan tempatnya berjaga. Ia menguluk salam padaku sebagaimana biasanya, sembari selama beberapa saat memandangi vas mangkuk yang kupegang serta umbi bunga bakung yang terlihat mengembang dan memenuhi vas, kemudian memindahkan pandangannya ke wajahku dan mengatakan, air muka Anda tampak lebih bugar dibandingkan dengan ketika baru diopname, pujinya seakan sedang membandingkan aku pada saat ini dengan aku saat tiga bulan lalu.

"Waktu itu, kau juga bertugas di sini, 'kan?"

"Betul, di kamar sebelah Anda. Saya di tempat Pak A beberapa lama, tetapi mungkin Anda tidak mengetahuinya."

Pak A adalah orang yang menimbulkan bebunyian aneh, yang dirawat di kamar di sebelah timur. Aku melihat perawat di sebelahku, dan sedikit terkejut begitu mengingat bahwa perempuan inilah yang menjawab dengan suara ramah dan segera beranjak bangun atas panggilan si pasien pada tengah malam itu.

“Oh, begitu rupanya,” kataku sambil mengelap vas mangkuk.

Tiba-tiba, dengan pembawaan formal, ia berkata, "Saat itu, dari kamar Anda kadang-kadang terdengar suara-suara aneh...."

Aku seolah mendapat serangan balik mendadak. Kutatap perawat tersebut.

Ia melanjutkan kalimatnya, "Setiap pagi sekitar pukul enam, pasti timbul suara itu."

"Oh, itu." Aku berbicara lantang, seakan-akan teringat sesuatu. "Itu suara alat pengasah pisau cukur otomatis. Tiap pagi aku mencukur janggut, jadi aku mengasah pisau pencukurnya. Itu kulakukan sampai sekarang. Kalau kau berpikir aku berbohong, datanglah, lihat sendiri."

Perawat itu hanya ber-oooh panjang. Informasi yang kudapat tentang si pasien semakin banyak. Nampaknya, pasien bernama Pak A tadi sangat terganggu dengan suara alat pengasah janggut milikku, sehingga ia kerap bertanya suara apa itu. Si perawat menjawab bahwa ia tak tahu, lalu pasien itu berkata, orang di kamar sebelah ini sangat energik, setelah bangun pagi ia segera berolahraga, dan sepertinya itu suara dari alat olahraganya. Enak sekali ya hidupnya, begitu yang ia ucapkan berulang kali.

"Kalau bunyi dari arah kamarnya, itu bunyi apa?"

"Bunyi dari arah kamarnya?"

"Itu lo, bukankah sering terdengar bunyi aneh seperti orang sedang memarut lobak?"

"Oh, itu. Itu suara saat sedang memarut mentimun. Pasien ini merasa kakinya panas dan menyuruh agar kakinya dikompres dengan air parutan mentimun, jadi saya memarut mentimun sepanjang waktu."

"Kalau begitu, memang benar itu suara dari parutan lobak, ya."

"Benar."

"Akhirnya terjawab sudah. Sebenarnya, apa penyakit Pak A ini?"

"Kanker anus."

"Penyakit yang parah, ya."

"Ya, begitulah. Tak lama setelah pulang opname, beliau meninggal dunia."

Aku kembali ke kamarku, termangu-mangu. Aku lantas membandingkan di dalam hati: perbedaan antara seorang pria yang telah meninggal yang membuat dongkol orang lain sebab bunyi parutan mentimun, dan seseorang yang energik yang membuat iri orang lain sebab bunyi alat pengasah pisau pencukur.


********

Cerpen "Bunyi-bunyian Ganjil" berjudul asli Hen na Oto ditulis oleh oleh Natsume Soseki. Cerpen ini dimuat dalam buku Natsume Soseki Zenshuu 10 (Kumpulan Karya Natsume Soseki Volume 10) yang cetakan pertamanya diterbitkan oleh Penerbit Chikuma Shobo pada bulan Juli 1988.


Tentang Pengarang

Natsume Soseki (1867—1916) adalah novelis ternama Jepang. Beberapa karyanya telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, misalnya Botchan Si Anak Bengal (Penerbit Kansha Books, 2012), Rahasia Hati (Penerbit Dunia Pustaka Jaya. 1978; Penerbit KPG, 2016), dan Aku Seekor Kucing (Penerbit Immortal, 2021).

Gambar dari https://www.pexels.com/photo/silver-and-black-steel-door-handle-6258528/