Tuesday, October 26, 2021

定年は歳の問題?それとも、体力の問題?




「何歳まで働き続けたいと思いますか?」

こういう質問はあまり考えたことがなくて、突然聞かれたとしたらすぐ明確な答えを出せないと思う。とりあえず公務員として60歳まで社会に尽くしたいということを目標にしていた。


そのため、世論調査でせめて70歳まで働きたいと回答していた日本人の会社員に対しては感心するばかりである。強い意志がないと、そういう考え方はできないだろう。


だが、この間オンライン新聞に感心を超えて尊敬の念を抱く記事があった。それは70歳まで働き続けたいと言った人ではなく、今90歳で働き続けているとある人についての記事だ。ギネス世界記録で「最高齢の総務部員」と認められた玉置泰子さんである。


経理や庶務を担当している玉置さんは元気で前向きに64年間勤続してきた。仕事の事もそうだし、周囲に対してのこともそうだ。例えば、60代の頃は、当時普及したパソコンを勉強し始めて、使用できるようになった。世間では老後と言われる歳にもかかわらず、仕事に必要なスキルを磨いたという玉置さんの強い意志に感心した。かたや周囲との関係作りにもきちんと取り組んで、同僚や上司の間でも玉置さんは評判の良い仕事をしてきたそうだ。


そんな元気でポジティブな玉置さんは毎日どう過ごすのか、そして、何を考えているのか?生活に何か秘密があるのだろうか。彼女の毎日のルーティンに密着すると、朝活が大ヒントになるかもしれない。朝5時半に起き、それからヨガをし、その後はバスと電車を乗り換え通勤。他にはフェイスブックで仲間を作り、ポジティブな精神を保っているそうだ。


人生経験を積んできた玉置さんから学んだ重要なポイントは2つ。1つは年齢は壁ではないということ、もう1つは年配者と若者が一緒に手を取り合って前へ進むべきだということ。偏見を持つ、あるいは人に価値をつけることはやめるべきだと筆者は強調した。



写真提供 Photo by Alexandr Nikulin from Pexels

Sunday, August 15, 2021

Hoshi no Ko: Rumitnya Perjalanan Emosi Seorang Remaja SMP


Judul: 星の子 (Hoshi no Ko)

Pengarang: Natsuko Imamura

Penerbit: Asahi Shimbun

Tahun Terbit: 2017

Jumlah Halaman: 220 halaman

 

Chihiro berada di persimpangan jalan.

Di salah satu ujung jalan, orang tuanya menantinya dengan sabar. Merekalah yang dengan gigih mencoba segala upaya untuk membuatnya sembuh dari sakit yang ia idap sejak lahir. Salah satu upaya itu adalah dengan menyeka tubuhnya dengan Berkah Bintang Kejora: air ajaib yang disebut-sebut diberkati oleh energi alam raya. Sejak saat itu, Berkah Bintang Kejora rutin hadir di rumah itu. Sebagai air minum sudah tentu—walaupun tak diperkenankan untuk menyeduh kopi. Selain itu, air itu hadir sebagai bahan jaram utama yang membasahi handuk putih di atas kepala orang tuanya.

Handuk putih beserta air ajaib sebagai jaram yang ditumpangkan di atas kepala itu adalah keberkatan bagi orang tuanya, tapi kegilaan di mata orang lain.

Orang-orang lain ini berada di ujung jalan satunya. Gurunya berkata orang tuanya aneh. Teman baiknya bilang ia dan orang tuanya ditipu habis-habisan. Pamannya menganggap orang tuanya diperdaya. Sepupunya berpendapat ia lebih baik menjaga jarak dengan orang tuanya.

Sebab hidup adalah perkara memilih satu (atau beberapa) hal atas hal lainnya, Chihiro pun dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang harus ia ambil satu (atau beberapa) di antaranya. Serangkaian bintang jatuh yang ia saksikan, agaknya, telah membantunya mengambil keputusan.

 

Saya membayangkan hidup sebagai seorang Chihiro. Orang tua saya dipertemukan dengan sebotol air, mengalami keajaiban, lantas percaya setengah mati kepada air tersebut. Orang lain bisa apa kalau orang tua saya sendiri sudah merasakan betapa terberkatinya air tersebut? Belum lagi saya sendiri juga merasakan mukjizat itu saat kecil, dan melihat orang tua saya sehat walafiat selama lima belas tahun. Lalu tiba-tiba orang-orang itu: guru, kawan sekolah, dan kerabat; mencerocos dan mendikte tentang betapa apa yang orang tua saya (dan saya) yakini adalah konyol dan kami ditipu. Bah, siapa mereka? Tetapi mereka juga membawa bukti-bukti yang, sayangnya, cukup membuat pendirian saya goyah dan kepercayaan saya kepada orang tua meluntur. Ke mana saya harus menuju? Ini rumit sekali.

Saya tak sanggup menghadapi beban seperti Chihiro.

 

Segala detail beban dan kebimbangan yang dialami Chihiro itulah yang agaknya dipilih untuk diramu oleh Natsuko Imamura dalam novel Hoshi no Ko. Kebimbangan ini semakin pelik karena tokoh Chihiro digambarkan duduk di kelas 3 SMP, usia remaja yang penuh dengan pencarian jati diri. Jalan pencarian Chihiro tidak mudah. Terjalnya jalan emosi Chihiro dipotret dengan detail yang apik oleh Natsuko. Penuhnya isi kepala Chihiro dapat dibaca dari dialog-dialognya dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya.

 

Sayangnya, ada sedikit detail yang cukup menganggu bagi saya.

Pada halaman 79, termuat biodata Minami, guru Chihiro yang juga merupakan orang yang ia sukai. Di situ tertulis bahwa negara favorit sang guru adalah Hawai. Saya langsung menandai bagian ini: sejak kapan Hawai menjadi sebuah negara?

Selain itu, novel ini didominasi oleh dialog. Kebanyakan merupakan dialog singkat satu atau dua baris dan kurang penting, yang membuat jalan cerita menjadi agak membosankan. Misalnya dari halaman 212 hingga 219, yang menggambarkan adegan keluarga Chihiro duduk bersama di bukit sembari ngobrol ngalor-ngidul memandang langit malam. Pada bagian tersebut, mayoritas—ada sekitar 75 baris—dipadati tarik-ulur demikian dari Chihiro: “aku tidak melihat bintang jatuh, tapi pulang sajalah,” dan Ayah-Ibunya: “kita tidak akan pulang sebelum kita semua melihat bintang jatuh.”

 

Pun demikian, adegan itulah yang menarik perhatian Yoko Ogawa, salah satu dewan juri Akutagawa Prize yang memberi nilai sempurna untuk Hoshi no Ko. “Adegan langit malam di bagian terakhir. Penuh letupan emosi di sana, meskipun akhir kisahnya tidak diceritakan. … Kalimat-kalimat yang tidak dituliskan terasa hadir lebih dekat dibanding yang dituliskan,” demikian komentarnya.

Selain Yoko Ogawa, ada seorang dewan juri lain yang juga memberi tanda dua lingkaran biru sebagai tanda nilai tertinggi pada karya Natsuko ini. Adalah Hiromi Kawakami, yang berkomentar, “Penulis novel ini memahami dengan baik sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun: bagaimana cara menulis novel agar menjadi sebuah novel yang seharusnya.”

Sementara itu, juri lainnya berpendapat bahwa novel ini "berhasil menggambarkan dunia seorang anak yang sedang terperangkap".

Menanggapi pujian-pujian itu, Natsuko hanya mengatakan ia mencintai aktivitas menulis dan akan terus melakukannya sepanjang ia masih menikmati kegiatan tersebut. "Saya sama sekali tidak merasa sedang melakoni pekerjaan sebagai penulis, tapi saya akan merasa sedih jika dilarang menulis."

Natsuko menceritakan dalam sebuah wawancara dengan suatu koran Jepang, bahwa ia mendapat inspirasi untuk menulis novel dari pengalamannya sehari-hari. Untuk novel Hoshi no Ko ini, Natsuko mengambilnya dari apa yang ia lihat pada suatu waktu di Osaka. Ia berkisah, ia melihat sepasang suami istri yang saling menuangkan air dari botol minuman ke atas kepala satu sama lain. Bagian inilah yang menjadi ide utama Hoshi no Ko: orang tua Chihiro melakukan rutinitas tersebut setelah mengenal air ajaib. 

 

Novel ini mungkin juga menyisipkan semacam pesan bagi orang-orang dewasa: bijaklah mengambil langkah, sebab anakmu juga akan menerima dampaknya; kau sangat beruntung kalau anakmu tak sampai limbung.

 

Hoshi no Ko menjadi satu dari empat novel yang masuk daftar pendek Akutagawa Prize ke-157. Dari sepuluh orang dewan juri, dua orang memberi penilaian tertinggi untuk novel ini. Hoshi no Ko akhirnya tidak memenangi penghargaan tersebut. Novel ini kalah dari karya berjudul Eiri karya Shinsuke Numata, yang memperoleh penilaian tertinggi dari tiga dewan juri. Akutagawa Prize sendiri adalah salah satu penghargaan paling bergengsi untuk karya sastra Jepang.

 

 

 

Thursday, September 17, 2020

Kembali Ke Malam Biru (Terjemahan Esai Yoshimoto Banana)




Kemarin, untuk pertama kalinya saya pergi ke Roma.

Tapi rasanya ini bukan yang pertama kali--entah ini pertanda baik atau buruk.

Ketika saya pergi ke luar negeri, ada tempat-tempat yang membuat saya merasa, 'rasa-rasanya saya sudah pernah ke sini'. Lupakan ide tentang kehidupan sebelumnya, jelas bukan. Perasaan bahwa itu bukan yang pertama kalinya saya menjejakkan kaki di tempat tersebut membuat saya merasa aneh dan tidak betah. Hal yang terburuk adalah rusaknya luapan kegembiraan untuk merasa, 'ini pertama kalinya saya ke sini!'

Sementara hal baiknya adalah saya merasa rindu dan bisa lebih rileks. 

Malam itu kami semua letih setelah menuntaskan diskusi yang sangat memompa adrenalin.

Namun ada keseganan untuk mengakhirinya dengan ekspresi lega serupa, 'akhirnya selesai!' yang membuat kami akhirnya tetap ogah-ogahan di bar. Setelah diserang kantuk hebat, kami akhirnya kembali ke apartemen di Roma setelah mengantarkan Amitrano-sensei sampai ke parkiran mobilnya.

Amitrano-sensei (Giorgio Amitrano) adalah penerjemah buku-buku saya ke bahasa Italia, dan kami punya ketertarikan terhadap hal yang sama. Saya mempercayainya. Barangkali ia bahkan bisa menerjemahkan aliran atmosfer yang ada di dalam buku saya.

"Kami akan berjalan-jalan ke arah sana kemudian pulang." Mendengar hal tersebut, ia langsung menyahut, "kalau begitu, ayo berkeliling kota dahulu." Saya, rekan dari agensi bernama D, dan juru bahasa Are-chan menyambut dengan gembira dan berteriak seperti bocah, "kami mencintaimu, Sensei!" Kami berempat pun berangkat.

Roma pada malam hari.

Dari jendela mobil, saya memandang Roma dengan sudut pandang yang sama seperti warga yang tinggal di sana. Roma terasa seperti sebuah kota yang ganjil.

Masa lalu seolah mengambang. Bukan seperti hantu, melainkan seperti arwah.

Reruntuhan bangunan bersejarah dan benteng di kota pada malam hari yang diterangi lampu sungguh memberi energi yang besar. Benda-benda raksasa itu seolah menyatu dengan pemandangan kota.

Di sini, saya merasa yakin cara berpikir saya sedikit berubah.

Kami bersenang-senang dan menjadi riuh.

Dua pria Italia ini menyanyikan lagu berbahasa Italia untuk kami. Suara mereka mengalun, mewarnai Roma di malam hari.

"Orang-orang yang mobilnya lewat di samping mobil kita pasti berpikir kalau kami adalah wisatawan lugu dari Jepang yang berhasil dirayu oleh orang Italia," gurau kami. Begitu memasuki Vatikan, kami segera terdiam karena tergugu-gugu oleh megahnya tempat tersebut.

Sulit dipercaya bangunan semegah itu dibangun oleh manusia.

Saya sampai berpikir ada yang tidak beres dengan mata dan badan saya.

Jalanan di tepi sungai tampak cantik seperti dalam film, orang-orang berlalu-lalang dalam diam di tengah pekatnya malam.

Benteng terlihat gelap, besar, dan menjulang tinggi; langit berwarna hitam.

Saking seringnya melihat pemandangan yang sangat indah, saya berpikir, 'sepertinya saya sudah pernah melihat malam yang seperti ini'. Seolah ada yang terngiang, entah di mana: kekosongan, kegelapan total,  dan kesendirian.

Rupanya itu tergambar dalam lagu populer karya maestro Hara Masumi, judulnya "Aoi Yoru" (Malam Biru).

Tidak pernah terlintas sedikit pun di pikiran saya pertanyaan semacam padahal ia sendiri tak pernah pergi ke Roma, bagaimana bisa?

Sebab yang digambarkan oleh para pekerja seni adalah wewangian dari seluruh malam, dari malam pada suatu waktu, dari malam-malam yang akan datang, dan dari malam yang menyelimuti negeri asing yang jauh dalam mimpi.

Saya menyukai lagu itu, sampai pernah menuliskannya dalam sebuah esai saya. Namun waktu itu saya tidak membayangkan bahwa pada suatu hari di Roma saya akan menyusuri malam pada lagu itu.

Pengalaman yang absurd.

Bagi saya pribadi, semakin bertambahnya hal-hal indah pada laci kehidupan saya akan menghubungkan keindahan yang baru saya ketahui dengan keindahan lainnya. Dan itu membuat saya menganggap bahwa suatu saat akan lahir suatu keindahan paripurna yang tiada duanya di alam raya, milik saya sendiri.

Thursday, September 3, 2020

Kisah Sederhana Tentang Kaum Paisano


 

Judul buku      : Dataran Tortilla (Judul Asli: Tortilla Flat)

Penulis             : John Steinbeck

Penerjemah      : Djokolelono

Penerbit           : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tahun              : 2016

Tebal               : 219 halaman

 

Krisis ekonomi besar yang melanda Amerika Serikat, dan kemudian meluas ke seluruh dunia, pada rentang tahun 1929 hingga 1939 memberi pengaruh luar biasa di segala bidang. Krisis yang sering disebut dengan istilah Depresi Besar itu menyebabkan harga saham jatuh bebas, PDB turun, tingkat pengangguran meningkat, dan jumlah tunawisma membludak.


Novel Dataran Tortilla terbit pada tahun 1935, ketika Depresi Besar tengah berlangsung. John Steinbeck, yang memperoleh Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1962 “atas karyanya yang realistis dan imajinatif, yang memadukan humor dan kritik sosial yang tajam”, tampaknya betul-betul berusaha menyajikan humor ringan sebagai oase di tengah krisis melalui karyanya ini.


Novel ini bercerita tentang Danny dan beberapa kawannya—Pilon, Pablo, Jesus Maria, Si Bajak Laut, dan Big Joe—, serta kehidupan yang melingkupi mereka di sebuah rumah di wilayah bernama Dataran Tortilla di Monterey, California. Danny dan kawan-kawannya adalah paisano: kaum dengan darah campuran Spanyol, Indian, Meksiko, dan berbagai ras kulit putih Eropa. Kehidupan mereka sungguh ringan, polos, tanpa beban, seringkali hangat, minim target, dan tidak begitu memusingkan uang. Kalaupun ada satu barang yang harus hadir dalam tiap embusan nafas mereka, itu adalah anggur. Mereka bahkan lebih memilih menghabiskan uang untuk membeli anggur daripada menggunakannya untuk membayar uang muka agar layanan perusahaan air minum bisa sampai ke tempat tinggal mereka (halaman 11). Bersama-sama mereka menghadapi masalah yang datang, saling berdiskusi, bercerita, dan bahu-membahu dengan cara masing-masing yang menimbulkan humor dan tawa—tentu kadangkala mereka sedikit saling berbohong dan berseteru satu sama lain.


Suatu ketika, terjadi perubahan drastis pada sikap Danny yang membuat hidupnya berakhir, meskipun kawan-kawannya berusaha sekuat tenaga mencegahnya. Setelah upacara penguburan Danny usai, rumah mereka—rumah milik Danny yang ditinggali bersama—, yang menjadi jimat pemersatu pertemanan dan atap pelindung tempat mereka menghabiskan hari dengan tidur dan minum anggur, pada akhirnya juga hangus; habis tak berwujud menyusul pemiliknya yang juga telah berpulang. Ketiadaan jimat pemersatu tersebut membuat kawan-kawannya berpisah, pergi berpencar dengan tujuan masing-masing.


John Steinbeck menyematkan beberapa kalimat penghibur agar pembacanya, barangkali, bisa sedikit lupa pada krisis ekonomi, misalnya “kebahagiaan lebih baik daripada kekayaan” (halaman 94) serta “ada kacang polong berarti selamat. Kacang polong merupakan atap pelindung perut, selimut hangat yang menangkis dinginnya tekanan ekonomi.” (halaman 154). Selain itu, ada juga kalimat yang diucapkan Danny, “senang sekali mempunyai banyak kawan. Dunia ini terasa sunyi, bila tak ada kawan untuk diajak berbincang-bincang atau untuk menghabiskan grappa.” (halaman 53).


Namun demikian, novel yang mengangkat nama John Steinbeck ini bukannya bebas dari kontroversi. Dataran Torilla dianggap rasis. Penggambaran kaum paisano melalui tokoh Danny dan kawan-kawannya sebagai orang-orang pemalas, gemar minum, dan enggan berpikir jangka panjang dianggap menimbulkan stereotip buruk dan melukai perasaan orang-orang Hispanik. John Steinback memang telah meminta maaf atas hal tersebut dan menyebut kebiasaan-kebiasaan tadi sebagai “suatu filosofi, dan tidak ada masalah atas hal itu”. Pernyataan maaf itu dimuat di Dataran Tortilla yang diterbitkan oleh penerbit Modern Library pada tahun 1937, tetapi tak lagi muncul pada cetakan-cetakan selanjutnya.


**


John Steinbeck lahir pada tahun 1902 di Salinas, California, tempat yang kelak akan menjadi latar bagi beberapa karyanya. Ia wafat pada tahun 1968. Sepanjang hidupnya, ia kerap bermasalah dengan kesehatannya, misalnya peradangan paru-paru pada usia 16, usus buntu pada usia 17, dan seterusnya: infeksi ginjal, operasi retina, stroke, serangan jantung, dan cedera punggung. Penyakit-penyakit yang datang silih berganti itu juga yang menjadi salah satu faktor yang meneguhkan niatnya untuk menjadi penulis.


Karier menulis John Steinbeck dimulai pada tahun 1929 melalui novel debutnya, Cup of Gold. Ia juga menulis dua novel dan dua kumpulan cerpen sebelum menerbitkan Dataran Tortilla, karya pertamanya yang mendapat sambutan hangat dan mendulang kesuksesan. Sepanjang hidupnya, ia telah menulis lebih dari 40 karya dan memenangi Hadiah Pulitzer (1940), Hadiah Nobel Sastra (1962), dan United States Medal of Freedom (1964). Karya besar yang melambungkan namanya adalah Of Mice and Men (1937), Amarah (The Grapes of Wrath, 1939), dan Sebelah Timur Eden (East of Eden, 1952)—ketiganya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 


John Steinbeck adalah seorang pengarang jenius dengan celanya sendiri. Dalam rangka memperingati 50 tahun kematiannya, surat kabar harian asal Inggris, The Independent, pernah memuat artikel panjang tentang betapa unik dan kontroversialnya penulis ini. Salah satu anekdot yang diangkat adalah ketika ia ditanyai oleh seorang kawannya dari Vietnam tentang motto hidupnya, dan ia menjawab, “jangan beralasan. Jangan biarkan orang-orang melihatmu menderita. Jangan pernah terpisah dari barang-barangmu. Selalu cari tahu pukul berapa bar mulai buka.” Keunikan pribadinya itu pula yang mungkin membuatnya mampu memotret kondisi zaman serta menyusun penokohan dan jalan cerita luar biasa atas kisah-kisah sederhana yang ia tulis. Karya-karyanya lalu diganjar berbagai penghargaan, termasuk Hadiah Nobel Sastra, dan terus diminati oleh para penikmat sastra selama hampir seabad ini.

 

 

 

 

Monday, August 17, 2020

Tradisi Unik Akutagawa Prize Ke-163

Tradisi Unik Ketika Hakyoku Mendapat Akutagawa Prize Ke-163

Oleh Tono Haruka (Peraih Akutagawa Prize Ke-163)



Begitu Hakyoku diumumkan masuk nominasi Akutagawa Prize, pihak penerbit berencana akan menggelar semacam 'nubar' atau nunggu bareng pada hari pengumuman pemenang. Sesuai namanya, pertemuan itu memang hanya berisi agenda menunggu panggilan masuk terkait hasil akhir penghargaan. Manusia-manusia yang sibuk itu berkumpul dan menunggu sampai ponsel saya berdering. Buku saya diterbitkan oleh penerbit Kawade Shobo Shinsha, tetapi nubar ini meluas, tidak hanya terbatas bagi pihak penerbit saja. Menurut saya itu adalah suatu tradisi yang absurd. Tentu baik kalau saya menang, tapi kalau tidak menang, bukankah justru jadi canggung? Selain itu, kalau saya tidak datang nubar, saya bisa memanfaatkan waktu itu untuk menulis naskah saya. Kalau saya datang nubar, mustahil saya bisa menulis naskah. Tidak sopan kalau saya justru menulis naskah ketika ada orang lain di depan saya. Tidak mungkin saya melakukannya. Saya juga mempertimbangkan untuk absen saja di gelaran nubar ini.


Saya akhirnya hadir karena mendengar bahwa kue-kue telah dipersiapkan. Kue lemonnya sangat lezat--saya diberitahu kedai kue mana yang membuat, tetapi saya lupa. Karena menunggu panggilan masuk tanpa melakukan apa pun justru menambah rasa canggung, saya mengusulkan agar menonton Ju-On di Netflix bersama-sama. Sudah lama saya ingin menontonnya, setelah seorang penulis sci-fi mencuit di twitter bahwa film itu menarik. Selain itu, saya paham bahwa tingkat adrenalin yang lebih tinggi paling efektif untuk melenyapkan deg-degan.


Editor buku saya pernah bercerita bahwa drama Korea berjudul It's Okay To Not Be Okay sangat menarik, lalu saya menontonnya. Saya belum sampai pada taraf gila, masih terhitung normal. Tapi kalau misal saya gila dan itu ternyata tidak masalah, saya merasa tenang. Sebagaimana saya yang memutuskan menonton suatu drama atau tidak dari judulnya, apakah orang lain juga memutuskan membaca suatu novel atau tidak dari judulnya? Saya tersadar kembali akan pentingnya suatu judul, meskipun sampai saat ini saya terus berhati-hati dalam menentukan judul.


**

Pihak Komite Promosi Sastra Jepang menelepon saya dengan nada suara seperti sedang menginformasikan sesuatu yang buruk, dan itu membuat saya berasumsi bahwa saya kalah. Memang sejak awal saya merasa bahwa saya tidak favorit dan yang akan menang adalah Takayama Hanako, jadi saya tidak terkejut. Namun setelah saya dengar penjelasannya, ternyata saya menang. Apa nada suaramu bisa sedikit lebih ceria, pikir saya. Tetapi kalaupun saya kalah, menurut saya tetap lebih baik kalau ia berbicara dengan nada yang ceria.


Saya menaiki taksi. Di dalam taksi saya menerima satu wawancara via telepon. Ada konferensi pers setelah pemberitahuan pemenang yang diselenggarakan di sebuah hotal--saya lupa hotel apa--. Pada acara tersebut saya harus menjawab berbagai pertanyaan. Saya sebetulnya tidak punya apa pun untuk disampaikan saat itu; juga sebelumnya, dan mungkin setelahnya. Namun konferensi pers lebih mirip seperti suatu kewajiban bagi seorang penerima penghargaan. Para wartawan pun seolah bukan bertanya karena ingin mengajukan pertanyaan, tetapi harus bertanya karena memang itulah pekerjaan mereka.


Ada pertanyaan, apakah saya sudah memberi tahu keluarga tentang penghargaan ini, lalu saya jawab bahwa saya belum melakukannya. Kemudian entah mengapa meledaklah tawa-tawa. Saya bahkan tidak terpikir untuk menceritakannya kepada keluarga. Apakah normalnya adalah memberi tahu? Apakah mereka tertawa karena saya tidak normal? Kalau benar begitu, menurut saya hal itu kurang sopan. Atau apakah mereka berpikir bahwa saya sedang bergurau lalu mereka terpaksa tertawa? Kalau benar begitu, menurut saya mereka sungguh baik hati. Sampai sekarang pun saya tidak berpikir bahwa saya perlu memberi tahu keluarga saya. Kalaupun mereka tertarik, mereka akan menonton televisi atau video lucu, dan setelah itu, mereka akan segera tahu.


**


Diterjemahkan dari sini 

Thursday, August 6, 2020

Kesamaan Haruki Murakami dan Gabriel Garcia Marquez: Resensi Novel Cinta di Tengah Wabah Kolera


Judul buku: Love In The Time Of Cholera (Cinta di Tengah Wabah Kolera)

Penulis: Gabriel Garcia Marquez

Penerjemah: Rosemary Kesauli

Penerbit: GPU, 2018

Tebal: 635 halaman


Gabriel Garcia Marquez memungut inspirasi untuk bahan bakar karyanya dari mana saja. Ia pernah berbincang sejak pukul 9 pagi hingga 4 sore dengan seorang perempuan yang kebetulan duduk di sebelahnya di ruang tunggu bandar Charles de Gaulle, Paris, dan dari situlah cerita “Putri Tidur dan Pesawat Terbang” lahir. Ketika menulis “Tales of Shipwreck”, ia juga memperoleh ide untuk mengangkat kisah petualangan seorang pelaut yang hilang di samudera dari sebuah detail pendek: pelaut itu hilang selama 40 hari. Dari sana, ia akhirnya menuliskan kisah itu dalam 40 bab: satu bab untuk kisah satu hari.


Gabriel Garcia Marquez—jamak dipanggil Gabo—lahir pada 1927 di Aracataca, Kolombia, dan meninggal pada 2014. Nicholas Shakespeare, novelis Inggris, pernah menulis begini dalam artikelnya: Gabo meyakini bahwa suatu pertemuan, sesingkat apa pun, memiliki kekuatan untuk mengubah kita—itulah sebab ia percaya seruannya pada Ernest Hemingway pada suatu hari yang dibalas dengan lambaian tangan berpengaruh besar terhadap hidupnya. Pertemuan singkat pula yang mengawali kisah cinta dalam bentang waktu setengah abad lebih yang diceritakan dalam novel ini.


Florentino Ariza remaja melihat Fermina Daza gadis dari balik jendela ruang jahit, gadis itu melihatnya balik dengan singkat, dan itulah awal dari rasa cinta abadi yang terus bertahan dalam hati Florentino. Ia mengirimkan surat-surat puitis buatannya setiap hari, yang pada akhirnya hanya bertepuk sebelah tangan karena Fermina justru dinikahkan ayahnya dengan dr. Juvenal Urbino, seorang dokter muda dari keluarga terpandang dan bereputasi baik yang besar jasanya bagi lingkungannya. Namun toh hal itu tidak membuat cinta abadi Florentino luntur, bahkan sampai ia mampu mencapai puncak karier sebagai direktur umum suatu perusahaan pelayaran sungai. Perasaan itu tetap ia simpan utuh di sana, walaupun dalam jangka waktu itu ia telah tidur dengan lebih dari 622 perempuan dan jatuh cinta pada beberapa di antaranya. Florentino mencatat rapi seluruh petualangannya dalam 25 buku catatan.


Lantas pada suatu hari, dr. Juvenal Urbino meninggal di usianya yang ke-81 tahun karena patah tulang akibat jatuh setelah memanjat dahan mangga untuk menangkap burung nuri. Florentino datang ke upacara pemakamannya, juga pada hari-hari berikutnya, untuk menemani Fermina yang sudah menjadi janda. Setelah waktu bergulir 51 tahun, 9 bulan, 41 hari, sekali lagi ia mengutarakan apa yang pernah ia ungkapkan pada Fermina, dan mereka akhirnya bersatu.


Kalau Haruki Murakami, novelis Jepang ternama yang berkali-kali diunggulkan menerima Nobel Sastra, menggandrungi lari, kafe, jazz, dan The Beatles sehingga memunculkan detail-detail itu dalam karyanya, Gabo pun tidak jauh berbeda. Ia menuangkan di sana-sini apa-apa saja yang ia sukai: cinta, keberadaannya di dekat wanita, dan tokoh wanita berkarakter independen, tajam, tetapi tak berdosa.


Novel ini mengambil latar waktu antara tahun 1870—1930, saat wabah kolera terjadi di seluruh negeri serta adanya berbagai perang saudara yang menimbulkan ketidakstabilan pemerintahan dan politik. Gabo, yang telah menjadi jurnalis sejak berusia 19 tahun, menyelipkan kritik sosial di karyanya ini. Salah satunya meluncur dari bibir Paman Leo XII, paman dari Florentino Ariza. Paman Leo XII berkata,


“Umurku hampir seratus tahun dan aku sudah melihat segala sesuatu berubah, termasuk posisi bintang-bintang di semesta, tapi aku belum pernah melihat perubahan apa pun di negeri ini,” kata Paman Leo biasanya. “Di sini mereka membuat undang-undang baru, konstitusi baru, dan perang baru setiap tiga bulan sekali, tapi kita masih terjebak di zaman kolonial.”  


Cinta di Tengah Wabah Kolera ini adalah novel pertama Gabo yang terbit setelah ia menerima Nobel Sastra pada tahun 1982. Karya-karyanya memiliki ciri khas berupa penyampaian realita dan pesan yang kuat. Wajahnya dikenal di seluruh penjuru negeri, bahkan oleh orang-orang yang belum pernah membaca tulisan-tulisannya. Ia menjadi pahlawan yang dielu-elukan semua kalangan. Sekelompok gerilyawan pernah menculik seseorang dan membuat tuntutan agar Gabo mau menjadi presiden ‘demi menyelamatkan tanah air’.


Cinta Florentino Ariza abadi bagi Fermina Daza, dan karya Gabriel Garcia Marquez abadi bagi sastra dunia.


**

Sumber bacaan tambahan: 

Memikirkan Kata: Panduan Menulis untuk Semua, 2019, terbitan Galeri Buku Jakarta.

Monday, July 6, 2020

Mimpi Tentang Orang Mati (Terjemahan Esai Yoshimoto Banana)


Kisah berikut ini tidak ada kaitannya dengan apa yang akan saya ceritakan selanjutnya: pagi ini saya bermimpi tengah berjalan di tepi pantai, menginjak bintang laut yang lalu menempel lekat sehingga saya harus menghentakkan kaki. Kaki saya sungguhan memancal, dan saya terbangun dari tidur.

Sungguh menyeramkan.

Beberapa waktu lalu, saya bermimpi tentang suatu kejadian yang memilukan.

Mimpi itu muncul beberapa kali, tentang seorang laki-laki yang telah meninggal dunia. Laki-laki itu sebaya dengan saya; ketika usianya 22 tahun ia memilih untuk meninggalkan dunia ini. Hubungan kami sama sekali tidak terkait percintaan. Ia adalah kawan yang berarti bagi saya.

Entah mengapa, di dalam mimpi itu saya bertemu dengannya, meskipun saya mengetahui bahwa ia telah meninggal dunia.

Lokasinya di depan Stasiun Matsudo. Di dalam mimpi, saya sendiri tidak paham mengapa kami bertemu di situ. Barangkali karena makamnya ada di Matsudo, dan depan Stasiun Matsudo adalah tempat di mana saya bersama seorang kawan saya bertemu ketika berziarah ke makamnya. Saya mengingatnya karena saya melihat bunga sakura bermekaran sekitar bulan April, padahal mimpi itu terjadi pada tanggal 17 Februari.

Di dalam mimpi itu, kami duduk di sebuah bangku di tanah lapang di depan stasiun. Ia bercerita tentang kabar terbaru kawan-kawan kami.

“Si S sudah melahirkan.”

“Si T tidak jadi bercerai. Untunglah.”

“Si H berpindah pekerjaan setelah keluar dari kantornya.”

Ia bercerita sembari menampakkan senyumnya yang indah, tetapi sepertinya ia merasa kesepian. “Enak ya. Sepertinya menyenangkan,” ucapnya. Setelah cukup lama berbincang, tiba-tiba ia berkata, “Yoshimoto, bagaimana kalau kadang-kadang kita bertemu seperti ini lalu mengobrol tentang kawan-kawan kita? Saya butuh teman ngobrol.”

Saya menjawab, “tentu saja!” padahal saya tahu dia sudah meninggal. Saya tidak menyangka ia akan bertanya seperti tadi. Atau kekhawatiran saya adalah, barangkali itu merupakan sinyal-sinyal asmara ala Botan Dourou, mitologi tentang seorang samurai yang jatuh cinta kepada arwah berwujud wanita cantik pembawa lentera. Namun ia memang orang yang sopan dan gemar bercerita tentang teman-teman kami. Saya izin kepadanya untuk pergi sebentar ke toilet. Saya beranjak dari tempat duduk, mengarah ke toilet, berusaha berpikir dengan jernih, lalu kembali dan menemukan bahwa ia sudah tidak berada di sana.

Ia juga tidak ada di sekitar tempat itu.

Saya menunggunya beberapa lama. Lalu entah bagaimana ceritanya, lewatlah Hara, ilustrator buku ini. “Hai, Yoshimoto. Kebetulan sekali. Saya hendak mengantarkan ini ke rumahmu. Kau kan juga wanita,” ujarnya, sembari memperlihatkan sebuah benda, sebatang ranting besar yang berbunga anyelir merah.

“Kau sendiri yang membuatnya?” tanya saya.

“Bukan. Numata yang membuatnya,” jawabnya. Jelas bahwa Numata yang dia maksud adalah si Numata Genki.

Setelah itu kami minum teh sebentar, kemudian berjalan kaki bersama. Sampai di adegan itu, saya terbangun, dan memikirkan apa sesungguhnya arti dari mimpi itu.

Apakah ia, yang sudah berkalang tanah itu, betul-betul ingin menjangkau saya sehingga kami terhubung melalui mimpi, lalu ia menyaksikan kegamangan saya dan memutuskan untuk menghilang? (Memang begitulah orangnya.)

Lalu apa maksud kehadiran Hara? Apakah ia hendak menyelamatkan saya yang sudah dalam kondisi seperti Hoichi Tanpa Telinga, folklor Jepang tentang seorang tuna netra bernama Hoichi yang telinganya dipotong sebab ia memantrai tubuhnya—kecuali telinga—agar tidak dibawa oleh roh jahat? Atau ia memang murni seseorang yang kebetulan saja melintas? (Memang begitulah orangnya; bedanya, ia belum meninggal.)

Kalau melihat dari frekuensi kemunculan Hara di mimpi saya, jangan-jangan saya sendiri sebetulnya mencari sosoknya. Saya memikirkan hal-hal itu dengan serius, tapi sepertinya saya tidak pernah merasa mencarinya. Bagi saya, ia hanyalah orang yang numpang lewat, doyan bercerita, dan teman sesama pengeroyok sup nabe.

Selanjutnya, dari mana Numata Genki muncul? Mengapa?

Misteri ini mengundang misteri berikutnya.

Yang terpenting, saya merasa kesepian karena tidak bisa meneleponnya langsung untuk menceritakan mimpi yang saya alami.

Sebab seiring waktu, ini akan menjadi kisah yang lucu untuk ditertawakan.

Saya, juga untuknya, akan menjalani hidup dengan lebih bergembira. Kalau pun ia sendiri berpulang dalam kondisi tidak sedang bergembira, ia tidak akan iri dengan kegembiraan saya—memang begitulah perangainya. Saya dan kawan-kawannya yang lain yakin bahwa hal itulah yang akan membuatnya bersukacita.
**

Diterjemahkan dari 死んだ人の夢, salah satu tulisan dalam kumpulan esai karya Yoshimoto Banana berjudul 夢について(Perihal Mimpi).

Judul buku: 夢について
Penulis: Yoshimoto Banana
Tahun Terbit: 1994
Penerbit: Gentosha Inc.