Wednesday, February 22, 2017

新しいような新しくないような

今日から7日後、新しいような新しくないような日々がまた始まる。

交通渋滞に慣れた感、仕事場でのつまらなかった感、同僚や上司との関係の懐かしかった感、朝から晩までの繰り返し方が新しくないような。


ここ二年間の全く仕事しない、自分の行動が自由で決め、昼間では買い物したりカフェで美味しい食べ物を味わえ、宿題しながら笑いが止まらない日々がもう二度と来ない新しいような。


不安がいっぱいです。


リズムに乗れたかどうかの不安。

周りに合わせるかどうかの不安。
人生を楽しめるかどうかの不安。
笑顔ができるかどうかの不安。

頑張らなきゃ。きっと何とかなる。


正直、


まだ何も知らない明日に不安を感じるのは不安ではなく、自分の小ささである。

Thursday, February 16, 2017

Uji Adrenalin di Wahana-wahana Fuji-Q Highland!


Jargon ‘taman hiburan terkondang se-Jepang di kaki Gunung Fuji’ nampaknya tak salah digaung-gaungkan oleh Fuji-Q Highland. Wahana-wahananya kerap dijajal pesohor-pesohor Jepang dan menjadi lokasi syuting banyak program televisi. Layak memang, sebab roller coaster dan rumah hantunya—wahana paling masyhur di taman ini—jelas-jelas memegang rekor dunia.

Begitu mengetahui bahwa Fuji-Q Highland ada dalam jadwal perjalanan kami, saya langsung menetapkan satu wahana yang HARUS saya naiki, apapun yang terjadi. Nama wahananya adalah Eejanaika. Salah satu wahana roller coaster ini sukses membuat artis dalam salah satu acara televisi yang saya tonton bergetar lututnya, dan saya menertawakannya. Saya bahkan sedikit sesumbar, “sesangar apa sih Eejanaika ini? Paling-paling artisnya yang lebay.” Selain Eejanaika, roller coaster lainnya adalah Fujiyama (disebut sebagai 'King of Coaster', memiliki panjang 2.045 meter, kecepatan maksimum 130 km/jam, dan ketinggian maksimum 79 meter)—yang sayangnya sedang dalam perbaikan saat kami berkunjung, Takabisha, dan Dodonpa (disebut-sebut sebagai roller coaster paling menyenangkan di dunia dengan kecepatan maksimum 172 km/jam)—yang sayangnya juga sedang ditutup dan baru dibuka pada bulan Juli 2017.

Berbekal selembar tiket masuk terusan, kami diberi waktu sekitar enam jam untuk memuaskan diri menjelajahi Fuji-Q Highland. Mengenai tiket ini, laman situs https://www.fujiq.jp/en/ menayangkan harga 5.700 yen untuk tiket terusan sehari bagi pengunjung dewasa; sedangkan harga 4.800 yen dapat diperoleh bagi pengunjung dalam kelompok berjumlah lebih dari 15 orang. Namun entah mengapa, pada tiket yang dibagikan kepada kami kemarin tertera tulisan 3.800 yen. Tiket ini sendiri sebenarnya dapat dibeli terpisah. Tiket masuk saja tersedia dengan harga 1.500 yen; dan tiket untuk tiap wahana dijual dengan harga bervariasi, mulai dari 100 yen sampai dengan 1.000 yen.

Terdapat dua pintu masuk ke area taman bermain ini. Karena tempat parkir terletak di dekat pintu 1, jadi kami masuk lewat pintu tersebut. Alur menuju pintu 1 ini cukup unik. Kami disambut oleh toko oleh-oleh yang menjual beragam buah tangan khas Fuji-Q Highland. Keluar dari toko, suasananya sedikit berubah; rasanya tidak sedang berada di Jepang. Deretan toko berarsitektur Eropa berdiri dan menjual berbagai macam kue, penganan, maupun pernak-pernik. Rupanya, ini adalah taman pertama di dunia yang dibuat dengan mengusung tema karakter populer dari Prancis, yaitu Gaspard dan Lisa. Taman ini pun memiliki nama tersendiri: La Ville de Gaspard et Lisa. Di ujung taman bahkan dibangun replika Menara Eiffel, yang semakin menguatkan suasana Prancis.

Di depan pintu masuk menuju kios oleh-oleh

Setelah melewati kota Gaspard dan Lisa, tampak pintu masuk dengan enam gerbang otomatis. Dari sini, rombongan besar telah berpencar. Kami, rombongan Indonesia, bergabung dengan rombongan Kamboja. Saya berjalan di belakang, menurut saja pada pimpinan rombongan di depan. Rupanya wahana pertama yang dituju adalah Takabisha. Saat kami sampai, panjang antrean di depan kami mungkin sekitar 15 meter. Kami menunggu sambil bercanda, sampai kemudian melewati dinding di dekat pintu wahana. Di dinding tersebut tergantung sebuah pigura yang berisi sertifikat rekor dunia. Rupanya, Takabisha memegang rekor dunia sebagai ‘roller coaster tercuram di dunia pada 1210’. Saya tak pernah tahu tentang Takabisha sebelumnya, dan angka 121 ini sama sekali tak memberikan efek apapun bagi saya.

Pintu masuk 1

Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya tiba juga giliran kami. Begitu masuk, kami diminta melepas kacamata, syal, topi, gelang, dan apapun yang berpotensi jatuh. Seluruh barang dititipkan di loker yang dilengkapi kunci. Setelah loker dikunci, anak kunci disimpan dengan mengaitkan karet di pergelangan tangan. Kami yang berjilbab bahkan diberi tambahan jaket bertudung untuk dikenakan. Tudungnya dilengkapi tali di bagian tepi wajah, sehingga dari kepala sampai pinggang tertutup jaket. Hal ini untuk berjaga-jaga agar kerudung tak terjatuh atau bahkan terbang ke suatu tempat~

Ada 2 atau 3 ‘mesin’ tersedia, dan satu mesin berkapasitas 8 orang. Kami yang bersembilan –satu orang kawan dari Indonesia memilih untuk berjalan-jalan di Thomas Land saja—jadinya dipisah ke dalam dua gelombang. Saya duduk di barisan belakang, di kursi nomor dua dari kiri. Menjelang berangkat, mbak-mbak dan mas-mas petugas memastikan bahwa pengaman telah dikaitkan dengan baik dan kencang. Kemudian tak lupa mereka juga melepas keberangkatan kami dengan senyum dan kata-kata yang indah.

Takabisha meluncur. Lambat. Keadaan lorong gelap. Belok ke kiri. Tak lama kemudian terowongan berakhir, dan Takabisha langsung menukik ke atas. Saya masih sesumbar ‘ternyata gini doang’, lalu sesumbar saya hilang dalam sekejap saat Takabisha memelintir dan turun dengan kecepatan yang tak terkira. Saat itu kepala saya rasanya hampir terlepas dari leher, bernafas tak bisa normal, dan jantung saya entah tertinggal di mana. Saya cuma bisa banyak-banyak mohon ampun pada Tuhan. Mata saya tak sedetikpun membuka. Setelah itu Takabisha naik lagi, berputar lagi, turun, naik lagi, berputar lagi, dan meliuk-liuk sebelum kemudian masuk kembali ke terowongan. Saya menarik nafas. Keluar dari terowongan, Takabisha naik dengan kecepatan yang pelan, bahkan cenderung tersendat-sendat. Saya menyempatkan diri membuka mata. Rupanya inilah perjalanan menuju puncak yang dibangga-banggakan oleh Takabisha. Bentuk rel mungkin siku-siku 900  sehingga rasanya seperti duduk biasa dengan punggung di bawah. Kondisi ini berlangsung sampai hampir 20 detik. Di puncak tertinggi, Takabisha berhenti sejenak. Menggantung. Kemudian ia menghempaskan tubuh saya, dan jantung saya yang sebelumnya sudah tidak saya ketahui di mana tempatnya kembali menghilang. Saya tak henti-henti baca istighfar; sementara orang di samping saya berteriak-teriak. Lantas saya berpikir, ‘barangkali dengan berteriak, jantung saya dapat kembali ke tempatnya dan mata saya dapat terbuka,’. Detik berikutnya saya ikut-ikutan berteriak, yang kemudian saya anggap itu adalah keputusan yang salah: berteriak sungguh menghabiskan nafas dan saya jadi butuh energi lebih untuk mengambil nafas. Akhirnya saya pasrah saja, terus-terusan memohon ampun sambil menjalani serangkaian pelintiran dan tukikan yang mengocok isi perut saya.

Penderitaan saya berakhir setelah menempuh 1.004 meter dalam waktu sekitar 3 menit.

Turun dari Takabisha, seluruh tubuh saya rasanya seperti tak lagi memiliki sendi. Belum lagi perut saya yang jadi sangat mual. Kawan saya bahkan berkomentar kalau wajah saya pucat. Lantas saya bersumpah, Takabisha adalah roller coaster pertama dan terakhir dalam hidup saya.

Tulisan di plang yang saya pegang itu artinya 'saya dikerjai Takabisha'

Perjalanan kembali dilanjutkan. Pimpinan rombongan mengarah ke wahana Eejanaika.

Saya menyerah.

Tak mungkin saya naik Eejanaika. Yang mengerikan dari Takabisha barangkali hanya kecuramannya saja. Namun di Eejanaika, curamnya lintasan berpadu dengan kursi yang dapat berputar. Roller coaster ini bahkan memegang rekor sebagai ‘roller coaster dengan jumlah total putaran terbanyak di dunia’. Kecepatan maksimalnya yang mencapai 126 km/jam pun melebihi Takabisha yang ‘hanya’ 100 km/jam.

Dengan berat hati; saya dan 2 kawan perempuan saya akhirnya berpisah dari rombongan. Kami memilih berkelana sendiri, menuju wahana selanjutnya: korsel alias komidi putar. Hahaha. Namun, saat naik korsel pun, gerakan kuda yang naik-turun juga membuat saya mual. Efek Takabisha rupanya belum habis.

Setelah naik korsel bersama dengan beberapa anak kecil dan sepasang kekasih, kami memutuskan untuk beristirahat di tempat duduk di samping Eejanaika. Sekitar satu jam kami habiskan dengan makan—sambil mendengarkan teriakan berisik penumpang Eejanaika—dan salat.

Lepas istirahat, kami kembali memulai petualangan dengan naik bianglala. Bianglala bernama Shining Flower dengan ketinggian 50 meter ini mampu membuat kami memandang seluruh area Fuji-Q Highland dari ketinggian. Gunung Fuji bahkan terlihat dengan jelas! Tak lupa, Takabisha juga masuk ke pandangan dan membuat kami berceloteh, ‘Demi apa tadi kita naik wahana itu!’. Dalam waktu 11 menit di dalam gondola yang berputar pelan, kami telah memutuskan akan naik wahana apa selanjutnya.

Gunung Fuji dari dalam gondola Shining Flower. Rel mengular yang berputar-putar di tengah gambar adalah lintasan Takabisha

Kaki kami lantas mengarah ke wahana bernama Cool Jappaan, sebuah wahana yang meluncurkan pengunjungnya dari ketinggian 30 meter ke air. Di sini, kami juga diminta menitipkan tas ke dalam loker. Kemudian kami naik ke dalam semacam perahu berkapasitas sekitar 20 orang. Perahu lalu mulai melaju mengikuti rel, dan di akhir kami seakan diajak menantang menubruk air. Basah? Tenang, perahu ini dilengkapi dengan penutup bening—bentuk keseluruhan perahu jadi mirip kapsul—sehingga tak perlu khawatir cipratan air akan membasahi tubuh.

Turun dari Cool Jappaan, kami membuka peta Fuji-Q Highland. Ingin hati masuk rumah hantu, tapi rupanya nyali ini tak cukup besar. Akhirnya mata saya melihat deretan wahana yang diletakkan di bawah judul ‘horor’. Salah satunya adalah wahana bernama Ge-Ge-Ge no Youkai Yokocho, Youkai Kobanashi atau Mizuki Shigeru’s Ge-Ge-Ge Haunted Mansion. Letaknya ternyata persis di depan Cool Jappaan. Kami memutuskan untuk masuk ke dalamnya.

Di depan pintu masuk, ada sekitar 6 orang yang mengantre. Sebenarnya saya sedikit heran dengan wahana ini: apakah rumah hantu bisa sekecil ini? Ukurannya, barangkali hanya sekitar 5x10 meter. Hantu macam apa yang menghuni bangunan kecil ini?

Keheranan saya belum terjawab saat pintu terbuka. Seorang petugas yang saya taksir usianya sudah lebih dari 60 tahun mempersilakan kami masuk ke dalam sebuah ruangan. Ia meminta kami untuk melihat layar televisi yang terpasang di atas. Ia lalu meninggalkan kami, masuk ke dalam ruangan lain. Tak lama kemudian, lampu menjadi remang-remang, dan televisi menyala. Animasi Ge-Ge-Ge diputar. Saya tak sepenuhnya paham, tapi di akhir tayangan, tokoh-tokohnya berpesan pada kami— para pengunjung, untuk berhati-hati dalam memasuki rumah hantu ini. Setelah tayangan selesai, lampu kembali menyala, dan si petugas tadi muncul, lalu mengarahkan kami untuk masuk ke dalam sebuah ruangan.

Ruangannya kecil saja, sekitar 2,5x6 meter. Hanya tampak kursi-kursi dan semacam meja kecil yang menghadap dinding. Kami lantas diminta duduk satu per satu di kursi yang telah disediakan. Di atas meja, rupanya, telah tersedia seperangkat headphone. Petugas menyuruh kami memasang headphone. Mulai terdengar suara tokoh anime yang mengetes apakah bagian kanan dan kiri headphone telah dipasang dengan benar. Setelah itu, lampu dipadamkan. Ruangan benar-benar gelap.

Jangan-jangan kami diajak menonton film animasi yang disorotkan ke dinding?

Suara-suara tokoh anime kembali terdengar. Hantu-hantu muncul di telinga kanan lantas menghilang di telinga kiri. Beberapa tokoh lari tunggang-langgang. Tak ada apapun yang disorot ke dinding. Tak ada tayangan. Rupanya di wahana ini kami hanya diminta mendengarkan kisah seram dari cerita Ge-Ge-Ge, sebagaimana mendengarkan sandiwara radio.

Saya keluar wahana dengan ekspresi datar; lebih tepatnya, tak tahu harus berekspresi bagaimana. Wahana ini jelas-jelas tak sesuai dengan ekspektasi saya. Untungnya, di pintu keluar, terdapat kios kecil yang menjual berbagai barang bertema Ge-Ge-Ge. Saya memutuskan untuk membawa pulang satu map bergambar Ge-Ge-Ge.

(Catatan: ketika menulis tulisan ini, saya baru mengerti cara baca dan arti kanji kobanashi pada Ge-ge-ge no Youkai Yokocho, Youkai Kobanashi. Kobanashi dapat diartikan kisah pendek yang menarik. Barangkali kalau saya bisa membaca kanji tersebut saat melihat peta, saya mengurungkan niat masuk ke Rumah Ge-Ge-Ge.)

Setelah itu, mata Nisya, kawan saya, tertumbuk pada permainan sepeda di samping Cool Jappaan. Sepeda yaang dikayuh di atas lintasan rel yang letaknya antara 1,8 sampai 6,3 meter di atas tanah ini nampaknya cukup menarik untuk dimainkan. Kami akhirnya masuk ke wahana, menitipkan tas, lalu naik ke atas sepeda. Pengamannya hanya semacam sabuk yang diikatkan ke bagian perut. Seram juga rasanya, seperti melintas di atas seutas tali (rel ding); apalagi di bawah pengayuh tak ada tempat lagi untuk kaki bersandar. Rel ini dibuat mengelilingi sebidang taman kecil berisi beberapa patung hamster berbentuk Hamtaro dan kawan-kawannya. Ada juga beberapa mainan dan bangku-bangku taman untuk duduk-duduk. Usut punya usut, wahana bernama Dokidoki Mori no Kakurenbo atau Hide and Seek in the Woods ini rupanya dikategorikan sebagai atraksi untuk anak-anak.

Saat naik sepeda-sepedaan tadi, saya melihat patung kucing keberuntungan (patung berbentuk kucing sedang duduk yang biasanya ada di depan toko atau kedai, dianggap membawa keberuntungan) berukuran besar yang tak jauh dari lokasi kami. Saya mengusulkan agar kami menaiki atraksi tersebut. Dua kawan saya setuju, jadi kami langsung berpindah dengan sedikit berlari mengingat waktu yang hampir habis.

Wahana yang kami naiki ini bernama Nagashimasuka, mirip dengan wahana arung jeram di Dufan, Taman Impian Jaya Ancol. Karena akan basah-basahan, jadi pengunjung disarankan membeli ponco plastik seharga 100 yen yang kuponnya dapat dibeli di mesin penjual di samping pintu masuk. Kupon ini hanya bisa dibeli terpisah, jadi kami tetap harus mengeluarkan uang 100 yen meskipun ada tiket terusan yang kami miliki. Kupon tadi kemudian ditukarkan dengan ponco yang diberikan oleh mbak-mbak petugas. Setelah menitipkan barang di loker dan mengaretkan kunci di pergelangan tangan, kami mengenakan ponco. Setelah siap, kami dipersilakan menaiki ‘perahu’ berkapasitas 4 orang, yang bentuknya lingkaran dengan pegangan di tengah. Tak ada penutup di atas ‘perahu’, tidak seperti pada Cool Jappaan. Masalah yang muncul di pikiran saya selanjutnya adalah: sarung tangan saya berbahan wol yang tentu akan basah jika terkena air dan ia akan menjadi jauh lebih dingin dalam kondisi demikian. Akhirnya saya melepas sarung tangan, dan itu adalah pilihan yang sangat menyedihkan. Sepanjang perjalanan diombang-ambingkan air serta meluncur dari ketinggian 18 meter, air acapkali masuk lewat samping dan mengenai tangan—rasanya seperti disiram air es; belum lagi pegangan yang terbuat dari besi juga terasa sangat dingin. Nagashimasuka tak pelak membuat tangan saya serasa membeku.

Nagashimasuka menjadi wahana terakhir yang kami jelajahi di Fuji-Q Highland. Keluar dari Nagashimasuka, waktu sudah menunjukkan pukul 16.10. Sisa waktu kami tinggal 50 menit. Kami berlari menyeberang ke gedung di seberang, berjudul Kids’ Studio-Character Shop. Beragam pernak-pernik bergambar berbagai karakter tersedia di sini. Ada Doraemon, Pokemon, One Piece, Hello Kitty, dan lain sebagainya. Saya melihat-lihat dengan cepat dan menjatuhkan pilihan pada pasel One Piece seukuran kartu pos (belum saya buka, nih. Ada yang mau?).

Dari kios ini, kawan saya meminta agar kami mampir sebentar ke rumah hantu yang letaknya persis di belakang Nagashimasuka. Rumah hantu yang diklaim sebagai rumah hantu terseram dan terpanjang di dunia ini juga menjadi salah satu wahana yang menjadi andalan di Fuji-Q Highland—sebagaimana Eejanaika. Tiketnya pun dijual terpisah seharga 500 yen, dan tiket terusan tidak dapat dipergunakan. Saking kondangnya, untuk bisa masuk, pengunjung bahkan harus rela antre sekitar 1 jam. Dengan panjang rute 900 meter, diperlukan waktu sekitar 50 menit untuk mengkhatamkan rumah hantu ini. Kami yang memang sudah tidak bernyali semenjak turun dari Takabisha benar-benar hanya mampir foto di depan gedung wahana yang bernama Super Scary Labyrinth of Fear ini.

Setelah kembali ke bus, selama lima belas menit pertama kami semua masih sibuk mengisahkan pengalaman masing-masing, kemudian suara-suara itu perlahan terdengar makin sayup, lalu habis sama sekali. Hampir semuanya tertidur, barangkali kelelahan. Enam jam di Fuji-Q Highland benar-benar menguras tenaga kami.


Peta Fuji-Q Highland (dari pamflet; peta di situs web tidak sama dengan pamflet). Wahana yang kami naiki: no. 1 (Takabisha), no. 20 (korsel), no. 19 (Shining Flower), no. 12 (Cool Jappaan), no. 15 (Mizuki Shigeru's Ge-Ge-Ge Haunted Mansion), no. 37 (Hide n Seek in the Woods), dan no. 7 (Nagashimasuka).
Maafkan gambar yang seadanya ini T.T



Ditulis 7 Februari 2017
Foto: dokumen pribadi

Friday, February 10, 2017

Cantiknya Saiko Iyashi no Sato Nenba, Desa Wisata ala Jepang


Disebut-sebut sebagai ‘desa ala Jepang’, Saiko Iyashi no Sato Nenba’ merupakan sebuah desa wisata yang akan memikat hati siapapun. Dilatari Gunung Fuji yang megah serta dialiri Sungai Honsawa, barangkali memang desa ini identik dengan gambaran yang terbayang di benak begitu kata ‘desa’ disebut.

Belum lagi, laku para pedagang di kedai sepanjang jalan sebelum gerbang masuk. Dalam tulisan, mereka mempromosikan barang yang mereka jajakan dalam berbagai bahasa—tak terkecuali Bahasa Indonesia (atau Bahasa Melayu?), seolah-olah menyambut para pengunjung untuk ‘selamat pulang kembali ke desa’. Tak jarang berlembar-lembar karton bergantungan di depan kios mereka lantaran banyaknya bahasa yang ditulis.

Betapa saya merasa sedang pulang kampung!

Dengan membayar tanda masuk sebesar 350 yen untuk orang dewasa dan 150 yen untuk anak-anak, kemolekan desa wisata ini sudah dapat dinikmati. Setelah melewati gerbang masuk, pengunjung langsung disuguhi rumah-rumah kecil yang ditata dengan apik mengikuti kontur tanah yang semakin menanjak. Kawasan desa ini bentuknya memanjang ke belakang. Dengan demikian, bangunan di bagian belakang letaknya semakin tinggi dibandingkan dengan yang di depan. Dari bangunan di bagian belakang ini, Gunung Fuji semakin memperlihatkan keindahannya yang khas dengan topi salju di puncaknya.

Gerbang masuk Saiko Iyashi no Sato Nenba

Namun siapa sangka, desa ini rupanya hasil rekonstruksi ulang. Pada tahun 1966, angin topan melanda kawasan ini dan meluluhlantakkan seluruh desa. Rumah-rumah dengan atap ‘kabuto-zukuri’ yang bentuknya mirip penutup kepala para samurai, hancur tak bersisa. Pemerintah kota Fujikawaguchiko akhirnya memutuskan untuk membangun ulang desa ini pada tahun 2003. Hal ini dilakukan demi membangkitkan ingatan akan sebuah desa ala Jepang yang rumahnya beratap jerami. Kawasan ini kemudian dibuka kembali pada tahun 2006 setelah proses rekonstruksi selesai.

Begini wujud atap jerami yang bentuknya mirip penutup kepala samurai

Terdapat 21 bangunan utama di Saiko Iyashi no Sato Nenba. Kios oleh-oleh diletakkan di dekat gerbang masuk, dan sukses menghabiskan waktu pengunjung yang tidak menyadari bahwa masih ada banyak bangunan tersisa untuk dikunjungi. Kios ini menjual beragam produk lokal seperti miso, beras, udon basah, teh, serta kerajinan tangan. Kami sempat tertarik dengan udon basah yang dijual. Komposisi bahan pembuatnya aman untuk kami konsumsi sehingga udon ini sungguh siap dibawa pulang lintas negara. Namun sayangnya, karena ia berupa mi basah yang harus disimpan dalam mesin pendingin, dikhawatirkan ia tak akan bertahan lama—apalagi jika harus dibawa sampai ke Surabaya.

Kesedihan lantaran gagal membawa pulang udon sedikit terobati dengan tawaran minum teh gratis dari penjaga toko. Di luar bangunan toko ini memang tertulis ‘tersedia teh gratis’. Ada dua mesin semacam teko elektrik yang masing-masing berisi teh kombucha dan teh oolong. Dua cangkir teh ini, selain mengobati kesedihan, juga membantu menghangatkan tubuh di tengah musim dingin seperti ini.

Bangunan kedua yang kami kunjungi adalah Rumah Seseragiya. Dinding rumah ini dipenuhi gambar-gambar indah, yang kebanyakan berbentuk potret orang, baik sendiri maupun rombongan. Di dekat pintu terpajang instalasi seni berbentuk ayam, yang saya yakini dibuat dalam rangka menyambut tahun ayam. Cukup lama kami duduk-duduk di luar rumah ini, sekaligus mencari kehangatan karena letaknya yang menghadap timur, pun matahari cukup terik saat itu.

Menyambut tahun ayam

Kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah jembatan Fujimi. Di sini terlihat beberapa orang berfoto dengan mengenakan kimono. Beberapa kawan dari Myanmar bahkan sudah wira-wiri dalam balutan kimono. Rupanya mereka menyewa dari Rumah Hinomiya. Di rumah ini pengunjung dapat menyewa kimono dengan harga yang terjangkau, yaitu 500 yen. Selain penyewaan kimono, di dekat pintu masuk rumah juga terdapat instalasi pakaian perang para samurai.

Lantaran kami tidak tertarik menyewa kimono, kami melanjutkan langkah ke Rumah Miharashiya. Lantai-satu rumah ini mirip galeri, dipenuhi dengan hasil seni yang telah memperoleh penghargaan baik di tingkat kota maupun perfektur; sedangkan lantai duanya berfungsi sebagai semacam menara pandang. Untuk naik ke lantai dua, pengunjung harus melepas alas kaki sebelum naik tangga dan berganti mengenakan sandal yang telah disediakan. Di sebelah kiri ujung tangga terdapat jendela besar, dan inilah menara pandang tersebut. Gunung Fuji terlihat sangat menawan dari sini, disertai hiasan pemandangan atap jerami rumah-rumah yang juga berwarna putih sebab tertimpa salju.

Pemandangan dari lantai dua Rumah Miharashiya

Keluar dari Rumah Miharashiya, kami memutuskan mampir ke galeri kerja tembikar Fuji Roman-gama. Sesuai namanya, di dalam rumah ini pengunjung dapat menemukan beragam tembikar yang dipatok dengan harga yang bersahabat. Dudukan sumpit berbentuk kucing dijual mulai harga 200 yen. Mangkuk kecil khas Jepang dengan motif yang indah dan menarik dibanderol dengan harga mulai dari 400 yen. Selain itu masih banyak pajangan, cangkir, dan tembikar lainnya. Saya sendiri akhirnya tergoda untuk membawa pulang pajangan berbentuk Gunung Fuji yang imut, seharga 500 yen. Selain membeli tembikar yang dipajang, pengunjung juga dapat mencoba membuat hiasan berbentuk burung hantu serta mewarnai tembikar.

Plang kayu di depan galeri tembikar Fuji Roman-gama, mengajak pengunjung untuk mencoba membuat tembikar sendiri

Rumah galeri kerja tembikar Fuji Roman-gama menjadi rumah terakhir yang kami singgahi di Saito Iyashi no Sato Nenba. Masih tersisa 15 menit sebelum waktu habis dan harus kembali ke bus, jadi kami menyempatkan diri terus berjalan ke kios oleh-oleh yang tersebar di dekat area parkir. Seorang pemilik kedai menawari kami untuk menghangatkan diri dengan makan udon di dalam kedainya. Kami hanya tersenyum sambil terus melihat-lihat dagangan yang dijejer di atas meja di depan kedai. Menyerah menawarkan udon, si pemilik lantas menawarkan cicip-cicip buah kering. Alih-alih mencicip buah kering, mata kami justru lebih tertarik pada satu meja berisi kotak-kotak kecil. Kotak tersebut rupanya berisi sabun batang khas desa itu. Selain sabun batang, ada juga kotak berisi batu. Empat buah batu kecil disusun dan diwadahi dalam kotak tembus pandang, diberi sabuk kertas bertuliskan bahwa batu tersebut berasal dari Gunung Fuji. Dari keterangan pemilik kedai, batu dari Gunung Fuji ini berbeda dengan batu biasa; ia memiliki lebih banyak lubang sehingga jika batu tersebut direndam di dalam air biasa, air tersebut dapat menjadi air bermineral. Kawan saya rupanya sangat tertarik dengan batu ini, lantas ia menebusnya dengan selembar uang pecahan 1.000 yen.

Desa wisata ini, dengan segala pesonanya—mulai dari pemandangannya sampai bentuk bangunan dan sejarahnya—, mampu menarik pengunjung untuk datang dan tak segan merogoh kocek demi membawa pulang barang-barang yang dijajakan.



Ditulis 1 Februari 2017
Foto: dokumen pribadi

Saturday, February 4, 2017

Serunya Berlayar Sembari Santap Malam di Sungai Sumidagawa, Tokyo


Langit hampir gelap saat kami berkumpul di semacam dermaga kecil di samping jembatan Azumabashi, salah satu jembatan yang membentang di atas Sungai Sumidagawa, Tokyo. Waktu menunjukkan pukul 17.20 saat akhirnya kami dipersilakan menaiki kapal.

Kapal kecil ini akan bergerak menyusuri Sungai Sumidagawa di Tokyo dengan judul perjalanan: mengelilingi 16 jembatan di Sungai Sumidagawa. Memang ada 16 jembatan yang akan dilalui, yaitu jembatan Komagatabashi, Umayabashi, Kuramaebashi, Ryogokubashi, Shin o hashi, Kiyosubashi, Sumidagawa o hashi, Eitabashi, Chuo o hashi, Tsukuda o hashi, Kachidokibashi, Rainbow Bridge, Toyosu o hashi, Reimeibashi, Harubashi, dan Aioibashi. Dengan rute ini, terdapat beberapa titik tempat wisata yang akan terlihat saat dilewati, yakni Tokyo Tower yang merah menyala, Rainbow Bridge di kawasan Odaiba, dan Tokyo Skytree yang menjulang.

Sebelum memasuki kapal, di muka pintu pengunjung akan diberi selembar kantong plastik untuk wadah alas kaki. Pengunjung kemudian dipersilakan duduk di atas bantal duduk yang mengitari meja. Di atas meja sendiri telah terhidang bermacam masakan yang ragam dan tampilannya sungguh menggoda.

Suasana di dalam kapal

Tersedia dua kotak berisi bermacam sushi—baik sushi kepal maupun gulung, satu wadah besar sashimi, satu kotak berisi beragam hidangan laut, semangkuk besar sayuran rebus, dan sepiring edamame di atas tiap meja. Setelah seluruh tamu duduk, pelayan menawarkan minuman: bir, kola, teh, teh oolong, sake, dan jus jeruk. Kami memilih jus jeruk, yang tak lama kemudian dibawakan ke meja kami. Selang beberapa waktu kemudian, pelayan keluar dapur sambil membawa piring-piring dan sebuah wadah. Satu piring diletakkan di tiap meja; sedangkan wadah tadi, rupanya berisi bermacam tempura/gorengan yang baru diangkat. Asap masih mengepul saat tempura yang pertama muncul dihidangkan di atas piring: sebentuk cabai yang rasanya tidak pedas tetapi juga tidak manis, serta udang. Berturut-turut selanjutnya, tempura yang disajikan hangat-hangat adalah kerang, terung, ikan—entah ikan apa, dan ubi manis. Minuman dan tempura ini dapat dimakan dan dihabiskan sesuka hati karena akan terus diisi ulang, tetapi tidak demikian dengan makanan utama yang telah tersaji di atas meja saat datang tadi.

Sushi!

Sashimi dalam wadah berbentuk kapal

Beragam hidangan laut

Tempura udang

Apabila sedikit jenuh dengan makanan, pengunjung dapat membakar kalori dan mengalihkan perhatian terlebih dahulu dengan bernyanyi. Peralatan karaoke juga tersedia, lengkap dengan dua unit televisi layar datar yang dipasang di depan dan belakang. Buku tebal berisi daftar lagu pun ada, supaya pengunjung dapat memilih lagu terlebih dahulu. Agar suasana karaoke lebih meriah, tersedia pula berbagai perlengkapan kecil seperti topi karakter, kacamata dan topeng unik, serta alat musik ritmis semacam marakas dan tamborin. Untuk dapat menikmati fasilitas karaoke ini, pengunjung tidak dikenakan biaya tambahan alias gratis.

Topi karakter Arale

Dua puluh menit jelang waktu berlayar berakhir, pelayan menyajikan satu cup es krim sebagai makanan penutup. Kali ini es krim Haagen Dazs rasa vanila yang dihidangkan.


Perjalanan menyusuri Sungai Sumidagawa ini berakhir setelah sekitar dua jam. Kapal akan menepi di tempat pemberangkatan semula. Saat keluar kapal, kantong plastik yang tadi digunakan sebagai wadah alas kaki dikembalikan kepada pelayan.

Entah ada berapa penyedia jasa tur semacam ini. Penyedia yang kami gunakan kemarin adalah Amisei, yang juga menawarkan beberapa pilihan paket. Untuk perjalanan dua jam plus makanan seperti kali ini, biayanya adalah 10.800 yen per orang dewasa.

Lampion Amisei

Memandang gemerlap Tokyo yang semarak di malam hari dari atas kapal sembari menyantap hidangan ala Jepang sungguh bukanlah ide yang buruk.

Pemandangan Rainbow Bridge dari atas kapal



Ditulis 29 Januari 2017
Foto: dokumen pribadi

Saturday, January 28, 2017

Menelusuri Gua Es Narusawa di Kaki Gunung Fuji


Terbentuk sekitar 1140 tahun lalu, Gua Es Narusawa merupakan situs yang ditetapkan sebagai cagar nasional oleh Kementerian Pendidikan, Budaya, dan Sains Jepang pada tahun 1929. Letaknya tak begitu jauh dari Danau Kawaguchi di Perfektur Yamanashi, dapat ditempuh dengan mobil dalam waktu sekitar 30 menit.

Turun di tempat parkir, kita akan disambut oleh sebuah bangunan mirip rumah yang terbuat dari kayu. Terpampang tulisan Narusawa Ice Cave Entrance yang cukup besar sehingga mudah dilihat dan dikenali. Dari depan pintu masuk ini, tak ada tanda-tanda suatu mulut gua atau apapun jalan masuk ke gua.

Bangunan yang berfungsi sebagai loket dan kios buah tangan

Di loket, tanda masuk gua es ini dapat diperoleh dengan harga 350 yen per kepala untuk orang dewasa atau 200 yen untuk anak-anak. Harga ini bisa lebih murah jika berkunjung dalam kelompok dengan jumlah minimal 15 orang, yaitu 250 yen per kepala untuk orang dewasa, 200 yen untuk siswa SMP, dan 100 yen untuk siswa SD. Sebagai tanda masuk, pengunjung juga akan mendapatkan pamflet berisi rute Gua Es Narusawa dan Gua Angin Fugaku. Dua gua yang letaknya hanya terpisah dua menit berkendara dengan mobil ini memang dipromosikan sepaket, bahkan tersedia tiket terusan untuk dua gua yang harganya lebih murah 100 yen daripada jika membelinya secara terpisah.

Peta Gua Es Narusawa dan Gua Angin Fugaku

Setelah mendapat tanda masuk, pengunjung akan dipinjami helm pengaman yang wajib dikenakan. Pemandu akan mengecek apakah tiap orang sudah mengenakan helm dan menguncinya dengan benar sebelum masuk gua. Dari pintu masuk di sebelah kiri loket, pengunjung dibawa mengitari loket ke arah belakang, kemudian tembus ke depan. Mulut gua ternyata terletak di sebelah kanan bangunan.

Karena sedang musim dingin, tangga turun masuk ke mulut gua dipenuhi tumpukan salju. Begitu masuk mulut gua, pencahayaan menjadi minim dan gua hanya diterangi temaram lampu berwarna kuning yang dipasang di beberapa sudut. Barangkali sebab salju yang mencair, jalan di sepanjang gua menjadi basah dan cukup licin sehingga kaki perlu berhati-hati menapak.

Sekitar sepuluh meter dari mulut gua, pengunjung langsung disambut oleh terowongan yang tinggi langit-langitnya hanya 91 cm. Untuk dapat melewati jalan ini, tak ada cara selain berjalan jongkok. Terowongan beratap rendah ini rupanya dibarengi dengan jalan menurun yang wujud anak tangganya tidak begitu jelas sehingga harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset.

Lepas dari terowongan, jalur di dalam gua cukup datar. Di sini pengunjung dapat melihat tumpukan balok es setinggi sekitar dua meter di dinding gua. Tumpukan balok es ini rupanya sengaja dibuat kembali untuk menunjukkan bagaimana gua ini dulunya difungsikan sebagai tempat penyimpanan es, ketika mesin pembeku belum ditemukan.

Tumpukan balok es ini nampaknya merupakan jalur mendatar terakhir, sebab setelah itu pengunjung harus meniti undak-undakan naik yang cukup curam dan sempit untuk akhirnya keluar dari gua. Jalur gua ini hanya memiliki satu pintu, sehingga pintu keluar gua juga merupakan mulut gua. Keduanya hanya dipisahkan oleh batangan logam yang juga berfungsi sebagai pegangan; di beberapa lokasi pegangannya berupa batang bambu, bukan logam.

Lubang kecil di belakang mbak-mbak bermantel ungu itu adalah 
pintu keluar gua

Jalur gua es ini memang tidak begitu panjang, hanya sekitar 100 meter. Dalam waktu sepuluh menit pengunjung sudah dapat menyelesaikan acara telusur Gua Es Narusawa ini. Durasi yang lebih panjang justru diperlukan saat kembali ke dalam bangunan—setelah mengembalikan helm—dan disambut oleh ruangan berisi buah tangan yang beragam untuk dibawa pulang. Berbagai pilihan buah tangan tersedia dan dapat dipertimbangkan untuk dibeli, misalnya pajangan, kue, gantungan kunci, gantungan ponsel, kartu pos, magnet, dan boneka. Sebagian berbentuk atau bergambar Gua Es Narusawa, sebagian bergambar Gunung Fuji, sisanya bergambar hal-hal berbau Jepang.

Saran saya pribadi, saat mengunjungi gua ini lebih baik tidak membawa tas. Selain itu, mengenakan mantel panjang atau rok panjang juga tidak saya sarankan. Hal-hal tersebut dapat cukup mengganggu, terutama saat melewati terowongan. Tas yang isinya terlalu gembung dapat tersangkut atau tergores langit-langit gua, sedangkan mantel panjang dan rok panjang kemungkinan besar akan basah, kotor, serta berpotensi terinjak ketika harus berjalan jongkok di terowongan.



Ditulis 28 Januari 2017
Foto: dokumen pribadi

Tuesday, January 10, 2017

Kamar Robot


               
Gaiking, Voltus 5, God Sigma, Gordian, Golion, Daidenjin, Godmars ….

Chogokin. Begitulah nama yang diberikan pada robot mainan ini.

Tubuhnya memiliki 10 kepala. Di kepalanya ada tanduk yang bisa digunakan sebagai senjata, sedangkan tangan dan kakinya disatukan masing-masing dengan engsel. Jika engselnya dilepas, bagian-bagiannya bisa dibengkokkan atau dilipat dan menjadi mobil, senjata, atau pesawat. Robot kombinasi.

Agar mencolok, robot ini diwarnai merah, biru, kuning, atau perak. Bobotnya cukup berat. Yang besar berukuran 30 cm, jika dikecilkan menjadi 10 cm.

Robot-robot ini berjejer di rak berpintu kaca, berdempet-dempetan seperti foto album kelulusan sekolah. Raknya bertingkat lima, tiap rak dipenuhi oleh robot.

Ini bukan kamar mainan. Bukan juga museum. Hanya kamar seorang pemuda.
Pemilik kamar ini bernama Mitsuru Kobayashi, 26 tahun.

Pekerjaan Mitsuru tidak ada hubungannya dengan mainan. Ia hanya seorang pekerja kantoran di sebuah perusahaan konsultan yang berfokus pada komunikasi publik pemerintah. Tubuhnya setinggi 180 cm, badannya besar, tetapi wajahnya kekanak-kanakan.

Ia sekarang sedang duduk di ranjang, sedang membongkar robot Goggle. “Kalau kakinya dipasang begini jadinya truk tronton, badan bagian tengahnya dipisah jadi depan dan belakang.” Mitsuru menjelaskan pada saya sambil melepas dan melipat bagian-bagian robot mainannya dengan lihai. “Lihat, bagian depan jadi pesawat jet, lalu yang belakang jadi mobil, kan?”

Kamar berukuran 4,5 tatami ini hanya disesaki oleh ranjang dan rak. Di ujung ranjang bagian kepala pun terdapat rak. Setiap hari, Mitsuru hidup dengan merawat robot-robotnya.

Di ujung ranjang bagian kaki, diletakkan robot yang terbuat dari plastik, berukuran tinggi 80 cm.

“Kalau ini Combattler 5. Dibelikan waktu TK. Kalau dibeginikan ….” Mitsuru melipat ujung kaki robot ke depan, mengambil roda dari bagian dada, dan menelungkupkan robotnya, “bagian atasnya jadi bisa dinaiki. Saya pernah bermain-main dengan naik ini.”

Meskipun 20 tahun lebih telah berlalu, mainan yang dimiliki saat TK tetap dirawat dengan baik.

Saya bertanya-tanya mengapa Mitsuru bisa sampai tergila-gila begini pada robot.

Ketika Mitsuru baru masuk kelas 1 SD, ibunya berkata, “kita akan pergi ke rumah kakek di Yokohama.” Berdua bersama ibunya, Mitsuru keluar dari rumah.
Hari Minggu sore, ayahnya tidak ada di rumah. ‘Pasti tidak lama lagi pulang’, pikir Mitsuru. Sedikitpun tidak terlintas bahwa, “setelah itu, kami terus hidup terpisah dari ayah,” kata Mitsuru.

Ternyata kedua orangtuanya bercerai.

Mitsuru tidak pernah sekalipun bertanya kepada ibunya, “mengapa kita tidak kembali ke rumah di Tokyo?” atau “mengapa Ayah tidak datang ke sini?”

“Mungkin orangtua memang tidak bisa mengatakan alasannya, tapi toh anak-anak juga akhirnya tahu.” kata Mitsuru.

Ibunya mengelola sebuah butik, ia bekerja sampai larut malam. Yang merawat Mitsuru adalah neneknya.

Jika hari Minggu tiba, Mitsuru pergi diajak ibunya ke kawasan pertokoan bernama Isezakicho. Mereka masuk ke pusat perbelanjaan dan melihat-lihat pakaian. Kemudian turun ke lantai bawah tanah, membeli bahan makanan. Setelah itu pergi ke toko mainan. Pada akhirnya, itu menjadi rute tetap mereka.

Di toko mainan, Mitsuru selalu langsung menuju ke lokasi yang sama. Yang diinginkannya bukanlah sarung tangan baseball, bukan bola sepak, bukan mainan plastik rakitan, bukan permainan perangkat lunak; tapi robot. Tiap pekan ia dibelikan robot. Ibunya tidak pernah berkata, “Beli robot lagi?” atau “bagaimana kalau beli yang lain?”.

Robot sering muncul di program kartun di televisi. Bukan sebagai pemeran utama, robot adalah benda yang menjadi pemeran pendukung bahkan kendaraan. Meskipun tiap pekan Mitsuru membeli robot, robot-robot baru tetap saja berjejer silih berganti di etalase toko.

Bagi ibunya, mungkin ada perasaan bersalah karena tidak bisa mendampingi Mitsuru seperti biasa; tetapi bagi Mitsuru, mungkin itu dilakukan untuk mengisi kekosongan karena tak adanya sosok ayah.

“Di antara semua mainan, robot yang paing mirip dengan manusia, kan?” kata Mitsuru, “ maka dari itu, robot mudah dibuatkan cerita. Mana yang paling kuat, atau mana yang paling baik. Dia menggambarkan manusia. Saya sering bermain dengan menggunakan karakter robot yang berbeda-beda.”

***

Ketika kelas 6 SD, Mitsuru diajak ibunya pergi ke swalayan di depan pintu barat stasiun Yokohama. Ada ayahnya berdiri di sana. Mereka bertemu kembali setelah lima tahun.

Ibunya bilang bahwa ia ada urusan sehingga harus pergi, meninggalkan Mitsuru dan ayahnya berdua saja. Suasananya segera berubah menjadi seperti dahulu.
“Kalau ada benda yang kamu inginkan, bilang saja.” Kata ayahnya.

“Mainan.” Jawab Mitsuru.

Mereka pergi ke tempat penjualan mainan di swalayan. Mitsuru mencari robot Goggle, setelah ketemu ia menyerahknnya pada ayahnya.

Mitsuru ingin berkata, ‘di rumah ada banyak sekali robot seperti ini. Ayo lihat ke rumah’, tetapi sebelum ia mengungkapkannya, ayahnya berbisik, “kamu suka benda-benda seperti ini?” Ekspresinya terdengar sedikit kecewa. Mitsuru menjadi sedih.

Bahkan setelah berusia 26 tahun pun Mitsuru masih ingat ekspresi wajah ayahnya saat itu.

***

Mitsuru dan ibunya tinggal di lantai 4 sebuah rumah susun. Kakek dan neneknya tinggal tepat di bawah rumahnya, di lantai 3. Selesai sekolah, Mitsuru pulang ke rumah kakek-neneknya. Ia akan terus bersama neneknya sampai ibunya pulang.

Jika ibunya pulang, ibunya datang memanggilnya, lalu mereka berdua bersama-sama kembali ke lantai 4.

Suatu hari, terdengar suara dari lantai atas, tetapi ibunya tidak datang memanggilnya.

“Sepertinya Ibu sudah pulang,” kata Mitsuru pada neneknya.

“Kalau ibumu pulang, ia akan datang menjemput. Tunggu saja dulu,” sahut neneknya.

“Aku mau pulang,” kata Mitsuru. Ia berlari keluar, tetapi neneknya menghentikannya.

“Coba kita telepon dulu, ya.” Setelah berkata demikian, neneknya menelepon rumah Mitsuru. Ibunya lalu datang menjemput. Mitsuru bersama ibunya pulang ke rumah mereka; dan sudah ada seorang pria di sana. Kekasih ibunya.

Setelah peristiwa itu, jika malam tiba, Mitsuru sering membuka jendela rumah neneknya dan melihat ke lantai atas: jendela di posisi yang sama di lantai atas juga terbuka. Ia tahu ibunya sudah pulang dari cahaya yang keluar melalui jendela tersebut.

Malam-malam, Mitsuru yang masih SD berkali-kali melongokkan lebih dari separuh badannya melalui jendela untuk melihat ke atas. Neneknya melihatnya.

“Ini rumahmu. Yang di atas itu milik ibumu!” Neneknya marah.

“Tidak, rumahku yang di lantai empat,” pikirnya.

Pada masa itu, ibunya berkencan dengan banyak laki-laki. Ketika Mitsuru kelas 6 SD, ibunya tinggal bersama Mikio Muta (nama samaran), usianya 50 tahun. Mikio yang seorang asisten di kota T sudah memiliki istri dan anak. Kadang-kadang bahkan istrinya menelepon. Mikio membenci Mitsuru. Kalau Mitsuru sedang melihat televisi, Mikio membentaknya. “Berisik!”. Kalau Mitsuru menyetel pendingin ruangan terlalu dingin, Mikio memarahinya.

Suatu ketika, Mitsuru pergi untuk mengambil surat yang ditujukan untuk dirinya. Di kotak pos, selain surat, ada juga koran. Mitsuru berpikir ia lebih baik tidak mengambil yang bukan untuknya, jadi akhirnya ia hanya mengambil suratnya dan membawanya kembali ke ruangan. Tiba-tiba Mikio menanyainya, “mana korannya?”

“Ada di kotak pos ….” Mitsuru menjawab lirih.

“Kenapa korannya tidak diambil? Benar-benar anak yang tidak tanggap!” Mikio marah.

Bagi Mitsuru, Mikio adalah sosok yang menyeramkan.

Tengah malam, tiba-tiba Mikio membentak ibu Mitsuru. Ketika Mitsuru keluar, ia tercengang melihat ibunya membawa barang-barang. Mikio membentak ibunya dengan suara keras, sehingga Mitsuru berkata, “HENTIKAN!” Mendengar itu, Mikio menatapnya tajam, “Apa kau?”

“Karena Anda pejabat, harga diri Anda juga tinggi kan?” kata Mitsuru.

Saat kelas 1 SMP, Mitsuru dan ibunya meninggalkan rumah susun, lantas tinggal di sebuah rumah. Ketika mereka akan pindah, Mikio datang dan marah, “ini tidak sesuai dengan pembicaraan kita … “. Sebelumnya, Mikio berencana menitipkan Mitsuru pada kakek-neneknya, lalu menyewa rumah dan tinggal berdua dengan ibu Mitsuru.

Pada plat nama di depan rumah, tertulis nama Mikio dan ibu Mitsuru.

Bagi Mitsuru saat itu, hal yang paling menyebalkan adalah ketika teman-temannya yang datang bermain ke rumahnya bertanya mengenai plat nama itu.

***

Kelas 1 SMA, Mitsuru yang ingin bertemu dengan ayahnya mengintip buku agenda kecil milik ibunya dan mencari alamat kantor serta nomor telepon ayahnya. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan kecil yang menjual pernak-pernik secara eceran ke swalayan.

Mitsuru bolos sekolah dan pergi ke Tokyo. Di tengah hari yang dingin di musim salju, Mitsuru pergi ke alamat kantor ayahnya. Tetapi ternyata kantor itu tidak ada lagi karena sudah pindah lokasi. Ia mengumpulkan nyali dan menelepon ayahnya. Telepon tersambung. Tapi ayahnya sedang pergi, tidak ada di kantor.

“Ini Mitsuru, ya?”

Mitsuru ingat suara di seberang telepon. Rupanya teman kantor ayahnya yang dulu sering mampir ke rumah.

“Iya,” jawab Mitsuru.

“Ada urusan mendadak?”

“Ah, tidak.”

“Kalau begitu, nanti saya sampaikan kalau ada telepon darimu ya. Nanti telepon lagi saja.”

‘Padahal aku ingin dengar suara Ayah ….” Mitsuru kecewa. Ia bersandar pada dinding dan jatuh terduduk. Di bawah sinar matahari musim dingin, ia memeluk lutut dan sejenak tak bisa bergerak.

***

Ketika Mitsuru lulus ujian masuk universitas, ibunya bahagia sekali.

“Ibu beri hadiah. Mau apa?” tanya ibunya.

Sejak dahulu Mitsuru menjawab bahwa ia ingin robot, karena barang selain robot tidak akan membuatnya puas. Tapi ia mengajukan permohonan lain kepada ibunya.

“Aku ingin Ayah datang di hari penyambutan universitas.”

Pada hari penyambutan universitas, mereka bertiga bertemu di stasiun Shibuya. Mitsuru terakhir kali bertemu ayahnya saat kelas 6 SD, jadi ini adalah pertemuan setelah tujuh tahun terpisah.

“Kamu sudah besar, ya.” Kata ayahnya.

“Terima kasih.” Mitsuru menjawab sambil tersenyum.

Mereka bertiga kemudian pergi ke acara penyambutan universitas, lalu makan, lalu berpisah. Tidak banyak percakapan yang terjadi, tetapi seharian itu Mitsuru merasa ada kehangatan di dadanya.

Kesan Mitsuru pada ayahnya saat itu adalah: ‘ternyata tubuh Ayah kecil’. Badan Mitsuru sendiri makin membesar. Tingginya 180 cm.

Ayahnya juga memiliki kesan pada Mitsuru. ”Ayah terkejut kamu sebesar ini. Lalu, apa ya, tampaknya kamu laki-laki yang baik, jadi ayah merasa tenang. Hahaha ….” Kata ayahnya yang disusul dengan tawa. Rupanya ia tersipu karena memuji anaknya, “sejak berpisah waktu kamu SD, ayah selalu berpikir kita tak bisa bertemu lagi. Lalu ketika kamu bilang ingin ayah datang ke penyambutan universitas, ayah berpikir, ‘Wah, Mitsuru ingin bertemu denganku, aku boleh pergi ke penyambutan universitas.’ Beban di dada ayah rasanya sudah terlepas.”
***
Setelah itu, ayah dan anak itu bersua empat mata.

“Aku mempertimbangkan banyak hal untuk bertemu Ayah,” kata Mitsuru, “aku berpikir aku menyimpan dendam pada Ayah. Awalnya aku bilang; tidak, aku tidak dendam. Lalu setelah kita bercakap tentang banyak hal dan pikiranku lebih terbuka, ayah memasukkan tiket kereta kemudian  memperlihatkan foto istri dan anaknya dengan wajah gembira.”

Ayahnya berkata begini, “Waktu kita bertemu dan bisa mengobrol dengan santai, pertama-tama ayah bilang, ‘maaf, ayah telah membuatmu menderita.’

Lantas pertemuan ayah-anak itu dimulai.

“Sebenarnya ada hal yang bagaimanapun ingin sekali kukatakan,” kata Mitsuru, “SD, SMP, SMA, aku ingin sekali bertemu Ayah. Kupikir mungkin saja Ayah juga ingin bertemu denganku, tetapi … bagaimana sebenarnya?”

Ayahnya menjawab.

“Ayah mengatakan yang sejujurnya. Ayah tidak ada pikiran ingin bertemu denganmu.”

Ada perbedaan antara perasaan anak dan ayah ini. namun itu merupakan hal yang tak bisa terhindarkan. Ayahnya memiliki istri, dengan istrinya yang ini mereka telah memiliki putri. Ada keluarga yang harus diberi curahan kasih saying. Demi melindungi keluarganya ini dan membiayai keperluan Mitsuru, ayahnya harus bekerja di perusahaan. Jangankan untuk memikirkan bagamana perasaan Mitsuru kepadanya; memikirkan Mitsuru saja ayahnya tak ada waktu.
Tetapi bagi Mitsuru, tetap saja jawaban itu menyedihkan.

Ayahnya mengetahui kesedihan Mitsuru. Ia diajak berjalan-jalan dengan keluarga ayahnya yang sekarang. “Sebelumnya aku sudah pernah bertemu dengan keluarga Ayah,” ungkap Mitsuru, “istri Ayah tahu kalau aku putra Ayah, tapi putri Ayah tidak tahu. Kalau disambungkan, dia jadi adikku kan. Ah, rasanya agak absurd.”

Mitsuru, yang sejak SD hampir selama sepuluh tahun melalui waktunya dengan kehampaan lalu tiba-tiba bertemu dengan ayahnya, ingin kembali menjadi anak SD di depan ayahnya.

***

“Waktu saya TK, Ayah pergi berlibur ke luar negeri. Nah ini, ini oleh-oleh waktu itu,” Mitsuru berkata sambil menunjuk gambar kecil yang terpajang di dinding. Lukisan suasana Venesia. Di bawahnya ada senar yag menjulur; Mitsuru menarik senar itu, terdengar suara benda beradu, lalu terdengar alunan nada dari kotak musik. Lagunya adalah Eden no Higashi.

Sebuah melodi yang memancarkan kesedihan mulai menggema. Di kamar berukuran 4,5 tatami ini terdengar suara kotak musik yang kesepian.

Di tengah mengalunnya lagu, saya melihat dengan saksama wajah robot satu per satu. Mata saya menyapu pelan seperti di film. Mulut yang berbentuk seperti topeng berwarna perak, hidung yang kecil dan detil, mata berwarna kuning yang bersinar, segitiga merah yang terpatri di dahi. Ekspresi tiap robot yang dingin terlihat seperti sedang menanggung sesuatu.

“Apa arti robot bagimu?” tanya saya pada Mitsuru.

“Misalnya ini ….” Mitsuru memegang salah satu robot, “saya ingat ini adalah robot yang dibelikan Ayah. Dengan memegang ini saya tidak bisa melupakan saat-saat itu. Semacam barang warisan: menatap masa depan tapi tidak melupakan masa lalu. Kalau saya berkeluarga, saya bersumpah saya tidak akan pernah meninggalkan anak saya sendiri.”

Yang sedang digenggam oleh Mitsuru adalah robot Goggle.

Itu adalah robot yang dibelikan oleh ayahnya saat ia kelas 6 SD, ketika mereka kembali bertemu di pintu barat Stasiun Yokohama.



Diterjemahkan dari “ロボットのへや”  karya Takashi Uehara dalam buku 喜びは悲しみのあとに, Gentosha Outlaw Bunko, 2004.