Friday, December 30, 2011

Blogger-droid: Trial

And this post is posted by Blogger-droid. I'll choose which one is easier to use for me and keep posting with that app. Haha


Regards,

Wahyu Widyaningrum


Published with Blogger-droid v2.0.2

Bloggeroid: Trial

I've downloaded bloggeroid in android market and installed it. This is my very first post using this app. If everything goes well, then i'll use this app more.

Regards,
Wahyu Widyaningrum

posted from Bloggeroid

Dua Hal Tentang 2011

Bismillah…

Oke, ini adalah post pertama saya dalam beberapa bulan terakhir. Saya nggak ngepost bukan karena sibuk *mana ada cerita pengangguran yang sibuk*, tapi karena sok sibuk jadi sok nggak sempat nulis.

Post kali ini saya mau membahas tentang dua tulisan saya yang alhamdulillah berhasil dibukukan pada tahun 2011. Yang satu cerpen, yang satu lagi semacam kisah inspiratif *namanya apa ya?*. Yang akan saya ceritakan disini adalah sinopsis tiap tulisan saya, dan beberapa hal remeh-temeh terkait tulisan saya tersebut.

Selamat membaca :D



1.Cerpen
Cerpen saya yang berhasil masuk antologi Kolase 2: Dari Balik Jendela ini berjudul Sore Terakhir di Taman Kota. Ada dua-puluhan cerpen dalam antologi ini, yang masing-masing ditulis oleh penulis dengan beragam latar belakang. Antologi ini diterbitkan oleh Rumah Pena, IndiePublishing, dan Story Magazine *masih indie :)*. Diluncurkan pada tanggal 27 Februari 2011 di sebuah rumah makan di Tangerang, ini adalah pertama kalinya tulisan saya dibukukan *enggak juga sih. Pernah juga dibukukan oleh nulisbuku.com, tapi karena sistem disana adalah semua naskah pasti naik cetak tanpa saringan, jadi saya tidak menganggap hal itu sebagai sebuah ‘prestasi’*.



Kaver buku Kolase 2: Dari Balik Jendela. Silakan cari yang mana foto saya. Haha

Cerpen Sore Terakhir di Taman Kota ini berkisah tentang sepasang kakak beradik dengan luapan kasih sayang yang hebat. Sang adik yang masih balita mengalami masalah dalam berhitung, yaitu selalu gagal dalam memasukkan angka enam. Setelah berucap lima, ia akan meloncat ke angka tujuh. Meskipun demikian, sang kakak tetap setia membantu adiknya supaya bisa berhitung dengan benar. Di hari terakhir sang kakak tinggal di rumah, sebelum ia merantau ke luar kota, ia mengajak adiknya berjalan-jalan di taman kota. Di taman kota itulah, ditemani sinar matahari berwarna jingga yang menerangi seluruh penjuru kota, sang kakak di akhir usianya akhirnya mampu menyaksikan adiknya menghitung dengan benar. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.

Seingat saya, saya sudah pernah menulis tentang buku ini disini. Nanti lah saya ubek-ubek lagi *koneksi lemot bin selow*. Mungkin lain waktu saya akan mempublikasikan cerpen saya ini di blog ini. Oiya, saya baru ingat satu hal. Antologi cerpen ini nggak masuk toko buku, karena minimnya dana. Haha. Jadi, kalau berminat membaca keseluruhan cerpen dan mengoleksinya, silakan hubungi saya :)

2.Kisah inspiratif
Biar ringkas, saya sebut saja dengan tulisan ya. Tulisan saya ini dimuat dalam antologi berjudul Para Guru Kehidupan, diluncurkan pada 22 April 2011 di sebuah toko buku di kawasan Lenteng Agung. Tulisan saya berjudul Hebatnya Menuliskan Mimpi.




Ini kaver buku Para Guru Kehidupan cetakan kedua

Hebatnya Menuliskan Mimpi merupakan tulisan saya berdasarkan kisah nyata. Ini tentang dosen saya yang ketika kuliah IPnya di bawah 3 dan sering tidur di kelas tapi sekarang memiliki kantor akuntan publik dan konsultan pajak. Satu rahasia beliau adalah menulis mimpi. Salah satu poin yang bisa diambil dari kisah-kisah beliau adalah, dengan menuliskan mimpi kita, maka kita sudah selangkah lebih dekat dengan mimpi tersebut dan makin mudah mencapainya.

Ulasan yang singkat, karena memang tulisan saya ini hanya sepanjang dua halaman A4. Antologi ini diterbitkan juga secara indie oleh Geraibuku.com, namun menurut kabar tersedia juga di beberapa toko buku Gramedia. Saya belum tahu di Gramedia mana saja, tapi teman saya pernah melihat buku tersebut nangkring di Gramedia Bintaro Plaza. Silakan kalau mau mencari dan membaca kisah-kisah di dalamnya.

Sebagaimana cerpen saya, maka tulisan saya ini juga insya Allah akan saya publikasikan di blog ini, entah kapan. Haha


Sekian saja post saya kali ini. semoga saya jadi rajin nulis lagi seperti waktu muda dulu. Ahaha~~. Silakan meninggalkan komentar, saya akan merasa lebih senang :)

Dewa, shitsureishimasu~. Adios, mata ne :DDD

Salam,
Wahyu Widyaningrum

Sunday, June 19, 2011

Simple Plan Being, Do The Action!

Cerita bahwa laptop merupakan sebuah barang mewah dan berstatus kebutuhan tersier sepertinya sudah hampir terlupakan. Saat ini, laptop tampaknya sudah ‘naik kelas’ menjadi barang kebutuhan sekunder. Hal ini berlaku terutama bagi kalangan mahasiswa, yang hampir setiap hari mendapat bermacam tugas, entah presentasi, pembuatan laporan, atau lainnya.

Bagi mahasiswa yang tempat tinggalnya (rumah atau kost) dekat dengan kampus, tentu lebih enak pulang terlebih dahulu kemudian baru mengerjakan tugas. Bisa sambil leyeh-leyeh, tidur-tiduran, dan lainnya. Tapi bagi yang bertempat tinggal jauh dari kampus, pilihan paling efektif adalah mengerjakan tugas tersebut di kampus. Bisa di selasar gedung, plasa jurusan, gazebo, atau di manapun, yang penting ada tempat bersandar. Yang paling beruntung adalah yang bisa dapat tempat duduk di tempat-tempat tadi. Yang kurang beruntung ya tidak kebagian tempat duduk, kemudian duduk di lantai.

Mahasiswa yang kurang beruntung tadi menjadi lebih tidak beruntung karena mereka lebih cepat lelah. Bagaimana tidak? Laptop diletakkan di lantai sehingga untuk bisa lebih jelas melihat layar harus membungkukkan badan. Kalau capek membungkuk, maka laptop dipangku sehingga kaki terasa panas.

Hal-hal di atas ternyata menimbulkan ide bagi sekelompok mahasiswa fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS Surabaya) untuk membuat sebuah alat yang ergonomis sehingga para pengguna laptop tidak perlu membungkuk atau memangku laptopnya. Alat tersebut diberi nama eLAPIS (Ergonomic Intelligent Laptop Pillow and Stand).

“eLAPIS merupakan solusi bagi orang yang suka menggunakan laptop,” kata Marissa Alfia Rachmah, salah satu dari lima mahasiswa ITS yang menggagas eLAPIS. Mahasiswi kelahiran Gresik, 22 Februari 1990 ini mengatakan bahwa tujuan pembuatan eLAPIS adalah untuk menerapkan konsep ergonomis yang masih belum familiar di kalangan anak muda pengguna laptop, demi kesehatan mereka.


Marissa Alfia Rachmah, salah satu penggagas eLAPIS

Ressa, panggilan akrab Marissa, mengungkapkan bahwa sebenarnya proyek eLAPIS ini berawal dari iseng. “Dulu iseng ikut Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM), eh ternyata lolos seleksi dan berhasil mendapat dana dari Dikti sebesar lima setengah juta rupiah.”

“Produk ini lahir berkat keisengan saya dan kawan-kawan yang sering melihat mahasiswa ITS mengerjakan tugas di selasar gedung. Berjam-jam mereka berhadapan dengan laptop dalam dua posisi: membungkuk atau memangku laptop. Padahal posisi tersebut tidak baik untuk kesehatan tubuh. Makanya, kami kepudian terpikir untuk membuat produk yang ergonomis. Faktor ergonomis ini penting karena ia menyesuaikan pekerjaan dengan manusianya. Setelah riset kesana-kemari selama sekitar satu setengah bulan, jadilah desain produk yang kami beri nama eLAPIS ini.” jelas Ressa.

Ressa menjelaskan bahwa pembuatan desain eLAPIS tidak lepas dari proses kreatif. Proses kreatif tersebut meliputi beberapa hal, seperti konsultasi dengan dosen, bertukar pikiran dengan teman-teman lain, berkunjung ke tukang meubel, memanfaatkan teknologi, dan survei pasar suara konsumen dengan membagi kuesioner pada target pasar.

“Kami akhirnya membuat dua buah desain untuk eLAPIS ini.” Yang pertama berbentuk seperti meja dengan tinggi kaki yang dapat disesuaikan. Meja tersebut sudah dilengkapi dengan cooling fan. eLAPIS jenis ini memiliki berat sekitar 1,5 kg sehingga lebih cocok untuk diletakkan di suatu tempat misalnya ruang sekretariat atau kantor. Produk eLAPIS kedua merupakan model bongkar pasang sehingga mudah dibawa kemana-mana. “Keduanya sudah diproduksi. Alhamdulillah, responnya positif.”




Dua bentuk desain eLAPIS

Lebih lanjut, mahasiswi semester 6 jurusan Teknik Industri ITS Surabaya ini mengungkapkan bahwa berdasarkan survey yang dilakukan, konsumen merasa bahwa keberadaan eLAPIS adalah penting. Beberapa aspek yang membuat eLAPIS lebih unggul dibanding kompetitor sejenis adalah ergonomis, harga, umur produk, kenyamanan, dan kekuatan produk.

Tiap unit eLAPIS dipasarkan dengan harga Rp 80.000 per unit. “Harga ini lebih murah dibandingkan produk kompetitor. Selain itu, harga sekian itu karena kami masih memproduksi dalam jumlah kecil. Kalau diproduksi massal, harga eLAPIS per unitnya bisa sekitar Rp 35.000.” Sampai sekarang, Ressa dkk sudah memproduksi 70 unit eLAPIS. “Hal ini juga karena dana dari Dikti baru turun setengahnya sehingga kami baru bisa memproduksi 70 unit.”

Ketika ditanya mengenai hambatan dalam proses perencanaan hingga pemasaran eLAPIS, Ressa menjawab, “Kendala kami ada pada pemasok produk. Di Surabaya, tukang kayu mematok harga yang tinggi. Selain itu, proses pengerjaannya juga lama. Itu kendala terbesar kami.”

Apa pesan Ressa untuk pembaca tulisan ini?
“Jangan takut untuk berpikir out of the box. Amati sekitarmu. Simple plan being, do the action!”


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Sumber foto:
1. Dok. pribadi
2. http://us.surabaya.detik.com/read/2011/05/25/165011/1647031/466/berlama-lama-di-depan-laptop-dengan-meja-elapis

Thursday, June 2, 2011

Malu

Selama kuliah hampir tiga tahun, tas tetap saya hanya satu. Warnanya cokelat khaki, modelnya selempang. Saya masih ingat, tas itu saya beli di BG Junction Surabaya. Bapak yang mengantar saya ke sana. Waktu itu saya masih berstatus mahasiswa ITS Surabaya. Rupanya ketika masuk STAN, saya tetap membawa serta tas tersebut.

Sebenarnya ada satu tas lagi. Tas ransel untuk laptop, warnanya hitam. Saya beli di Ramayana Gresik, lagi-lagi bapak yang mengantar. Tapi tasnya besar, saya kurang suka. Makanya saya jarang pakai. Paling-paling saya cuma pakai tas itu kalau bawa laptop atau kalau bepergian yang butuh membawa barang agak banyak.

Nah, tas saya yang warna cokelat khaki ini, karena sudah saya pakai hampir tiga tahun, warnanya sudah mulai pudar. Dia memakai pengait berupa magnet. Kalau saya tidak sabar, saya sering menariknya dengan lumayan keras. Makanya, sekarang pengait magnetnya sudah tak karuan bentuknya. Bahkan sudah berlubang. Kadang-kadang malu juga saya kalau pakai tas itu.

Di tengah malunya saya terhadap sebuah tas, saya bertemu dengan Risma. Bukan pertemuan pertama, sih. Pertama kali saya bertemu dengan dia sekitar sepekan lalu. Saat itu, informasi yang saya ketahui tentang Risma hanya sebatas dia adalah kakak dari Halimah, salah seorang murid PAUD Komunitas Menara.

Kemarin, saya bertemu lagi dengan Risma. Dia akan mengikuti tes masuk SMP Terbuka Ibnu Sina di kawasan Jombang, Tangerang Selatan. Kebetulan saya diajak berkunjung ke SMP itu.

Kami sudah berada di SMP Ibnu Sina sekitar pukul 11.30, padahal tes baru dimulai pukul 13.00. Masih ada sekitar 1,5 jam lagi. Saya isi dengan membaca buku Andy’s Corner yang terpampang di salah satu rak di aula SMP Ibnu Sina dan mengobrol dengan Risma.

Tahun lalu, Risma masih tercatat sebagai seorang siswa di salah satu MTs di daerah Peladen (seingat saya sih begitu). Ketika hampir ujian semester genap kelas 8, orang tua Risma tidak sanggup lagi membayar biaya sekolah Risma. Hasilnya, Risma terpaksa putus sekolah.

Risma adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Anak kedua adalah Jihan, sekarang kelas 6 SD. Kata Risma, orang tuanya akan menyekolahkan Jihan di sebuah pesantren yang dimiliki oleh Pertamina. Saya kurang jelas juga, apakah pesantren tersebut dimiliki atau dibiayai atau dinaungi oleh Pertamina. Risma sendiri juga bingung. Anak ketiga bernama Arif, duduk di kelas 1 SD. Halimah, murid PAUD KM yang saya kenal, rupanya adalah anak keempat. Seorang lagi, anak kelima, masih bayi. Entah berapa usianya dan siapa namanya. Yang jelas, saya sering melihat ibu Halimah mengantar-jemput Halimah dengan menggendong anak kelima tersebut.

Ayah Risma adalah seorang tukang las keliling. Saya tidak tahu berapa penghasilannya. Dan saya lebih tidak tahu lagi bagaimana pengelolaan uang di keluarga tersebut sehingga sanggup menghidupi tujuh nyawa dengan penghasilan dari las keliling.

Keberadaan SMP Terbuka Ibnu Sina yang tidak memungut biaya apapun dari siswanya selama masa pendidikan membuat Risma ingin masuk ke SMP tersebut. Jadi ia bisa melanjutkan sekolahnya yang sempat terputus. Kalau lolos tes dan diterima di SMP Ibnu Sina, maka Risma akan duduk di kelas 8 (lagi).

“Nggak malu, Ris?” Tanya saya.

“Teman-teman juga menanyakan hal yang sama, kak. Kata mereka, ‘ih, lo nggak malu apa ngulang kelas 8? Kalo gue mah ogah.’ Saya cuma bilang, ‘ngapain malu?’ Nih ya kak, bahkan kalo saya harus ngulang dari kelas 1 SD pun bakal saya jalanin. Saya nggak malu, tuh. Yang penting saya bisa tetep sekolah.”

Saya tersenyum. Lantas kembali menghadap buku Andy’s Corner di tangan saya, pura-pura membaca. Padahal saya tengah termenung. Di samping saya, Risma bahkan rela mengulang sekolahnya tanpa rasa malu sedikitpun. Sedangkan saya, malu hanya karena sebuah tas.

Saya lihat tas saya yang tergeletak di atas meja di depan saya. Hei, kamu kan yang sudah menemani saya selama hampir tiga tahun, ya? Kasihan sekali kamu, bahkan tuanmu pun malu atas keberadaanmu.

Saya ambil tas saya, dan saya melihat Risma. Baiklah, rasa malu saya terhadap sebuah tas rasanya bukan pada tempatnya. Saya jadi malu pada diri sendiri yang kalah pada seorang remaja berusia 16 tahun bernama Risma.

Salam,
Wahyu Widyaningrum

Friday, May 20, 2011

Ketika Bulan Berbentuk Bulat Penuh

Lihatlah ke atas, mendongaklah. Disana, bulan sedang berbentuk bulat penuh.

Dan aku mengingat kalian. Kemudian aku mengingat kita, dan kisah-kisah kita.

Kita adalah orang-orang terpilih. Aku sangat meyakini itu. Jikalau tidak, mana mungkin kita bertahan? Di tengah gempuran cemoohan dan pandangan tak enak dari orang-orang di luar kita.

Bersama kalian aku senang, apapun keadaannya. Aku masih ingat ketika suatu kali, kita pernah sama-sama tak mandi beberapa hari. Kamar mandi yang terbatas, waktu yang sempit, dan jumlah orang yang luar biasa banyak membuat kita terpaksa melakukannya. Aku bahkan ingat, waktu karnaval di hari terakhir itu, kita pun tak mengguyurkan air ke tubuh kita. Dan waktu perjalanan pulang dengan mengendarai truk bak terbuka, kita sama-sama kelelahan. Mungkin lelah karena aktivitas yang padat. Atau mungkin lelah mencium betapa wanginya manusia yang tak mandi.
(Baiklah, paragraf di atas sungguh sebuah kisah yang memalukan. Namun tetap menggelitik tiap kali diingat )

Bersama kalian aku senang, apapun keadaannya. Aku ingat dengan jelas ketika suatu kali, kita pernah sama-sama mencapai sebuah air terjun dengan medan yang aduhai. Waktu itu, jumlah kita ganjil. Lantas seekor kucing mengikuti kita sebagai penggenap, sejak kita berangkat hingga kembali lagi ke lokasi kita bermalam. Dan ternyata medan yang aduhai itu ‘hanya’ berakhir di sebuah air terjun dengan aliran air berbentuk sejajar yang kecil dan tidak terlalu deras. Kala itu aku sedikit kecewa. Namun kecewaku menjadi lenyap ketika melihat kalian saling ribut karena beberapa lintah yang menempel di kaki, ketika melihat senyum kalian saat berfoto, dan ketika melihat ekspresi kalian saat menciduk dan meminum air secara langsung.

Bersama kalian aku senang, apapun keadaannya. Aku ingat ketika pada malam hari kita berjalan melangkah setapak demi setapak demi mencapai sebuah lokasi untuk beristirahat, beberapa kilometer di atas sana. Ketika itu aku sungguh lelah, namun bantuan dan semangat kalian sungguh membuatku tak menyerah. Meskipun pada akhirnya aku tak berhasil mencapai puncak dan hanya main kartu selama beberapa jam, namun aku tetap senang. Semalaman aku khawatir ketika kalian tak juga kembali. Dan aku tertawa ketika mendengar cerita kalian bahwa kalian ‘tersesat’ malam itu sehingga tak kembali tepat waktu.

Dan yang membuatku mengingat kalian, kita, dan kisah kita adalah bulan di atas sana, yang berbentuk bulat penuh. Kita sering sekali bermalam ketika bulan sedang berbentuk bulat penuh. Pada malam itu, kita akan berada di luar tenda sambil menyanyi-nyanyi. Atau hanya duduk di depan tenda sambil bermain kartu. Atau cuma berada di dalam tenda sambil berbagi cerita.

Dimanapun kalian, lihatlah ke atas dan mendongaklah. Disana, bulan sedang berbentuk bulat penuh.

Aku merindukan kalian.


Kamis, 19 Mei 2011

Pojok kamar, ditemani If You’re Not The One – Danield Beddingfield



Salam,
Wahyu Widyaningrum



P.S. Tulisan ini untuk seluruh skuad Pramuka SMPN 1 Gresik dan SMAN 1 Gresik. Untuk Rulissa Qurrata A’yun, Siti Mushonifah, Gusti Eman Ayu Sasmita Jati, Dwi Setyorini, Irfan Syaifudin, Tedi Aji Siswoyo, Deny Novydyanto, Virdia Devi Maharani, Achmad Romansyah, Dewi Kartika, Ari Koesworo, Klepon (sori Pon, ane lupa nama asli ente), dan Afrizon Teguh Prasetyo. Sebenarnya aku tidak sungguh merindukan kalian, hanya saja aku merindukan berada di sebuah tenda di bawah bulan bersama kalian :D.

Wednesday, May 11, 2011

Al Zaytun, Kemegahan yang Pernah Saya Cita-Citakan

Sembilan tahun lalu, apa yang ada di depan mata saya adalah sebuah kemegahan. Kemegahan itu lantas menghipnosis saya untuk mati-matian belajar demi sebuah cita-cita: bersekolah di Al Zaytun.

Saya tak pernah menyangka bahwa saat ini (sebenarnya kasus ini sudah sejak dahulu bergulir), nama Pondok Pesantren Al Zaytun, atau yang juga biasa disebut Ma'had Al Zaytun, sangat lekat dengan Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah 9 (KW 9). Saya tak pernah menyangka bahwa Panji Gumilang, yang dulu namanya tak pernah saya dengar karena saya hanya tahu nama pesantrennya, saat ini tengah menjadi pusat perhatian karena kemampuannya memeroleh dan mengelola uang sekian triliun demi pesantren dan NII-nya.

Saya mengenal Al Zaytun sejak kelas 5 SD. Saat itu, murid ibu-saya adalah seorang santri di Al Zaytun. Ibu saya kemudian memeroleh cerita tentang pesantren tersebut dari ibu muridnya. Cerita itu lantas diturunkan kepada saya, bahwa Al Zaytun adalah pesantren yang sangat bagus: menjamin setiap santrinya hafal Al Quran begitu lulus dari sana, mengembalikan seluruh ‘uang pangkal’ yang telah dibayar di awal pendidikan ketika sudah lulus, dan bla bla bla lain.

Yang menjadi sedikit masalah adalah, untuk bisa menjadi santri Al Zaytun, ada beberapa tes. Salah satu tesnya adalah hafalan Juz Amma atau juz 30 dalam Al Quran.

Terdorong oleh keinginan untuk menjadi bagian dari ribuan santri Al Zaytun, saya akhirnya mulai hafalan surat-surat dalam juz 30. Ketika itu, kota saya juga sepertinya sedang demam Al Zaytun. Banyak anak yang juga ingin bersekolah di Al Zaytun, dan fakta ini membuat saya semakin tertekan. Dibantu ibu saya, saya jadi semakin rajin menghafal ayat-ayat Allah juz 30. Kadang patah arang karena tidak kunjung hafal, tapi ibu tetap memberi semangat.

Nah, beberapa ratus meter dari rumah saya, tapi masih dalam satu komplek, ada sebuah rumah yang menjadi semacam pusat penggemblengan hafalan juz 30 khusus untuk anak yang ingin masuk Al Zaytun. Semacam asrama begitu. Di sana kegiatannya hanya menghafal dan menghafal. Sempat terpikir untuk mengikuti penggemblengan tersebut, namun akhirnya urung. Saya takut tak kuat dan takut juga membayangkan betapa membosankannya hidup tanpa televisi (di ‘asrama’ tak boleh nonton teve).

Selain dari cerita ibu, ada juga cerita-cerita dari majalah yang mampir ke rumah. Al Zaytun memiliki majalah sendiri, seingat saya nama majalahnya juga Al Zaytun. Salah satu kaver belakang majalah yang saya ingat adalah gambar burung Rangkong. Kabarnya, Al Zaytun memiliki penangkaran burung Rangkong yang terancam punah.

Suatu kali, ayah saya mengajak saya berkunjung ke rumah salah seorang kawannya. Kawan ayah ini memiliki putra yang usianya setahun lebih tua dari saya, dan ia adalah santri Al Zaytun. Saat itu, ia sedang liburan dan berada di rumah. Saya bertemu dengannya. Kawan ayah bercerita banyak tentang betapa enaknya bersekolah di Al Zaytun, sambil sesekali bertanya kepada putranya tersebut.

Sepulang dari tempat kawan ayah, keinginan saya untuk masuk Al Zaytun makin besar. Sayangnya, saya tak juga berhasil menghafalkan juz 30. Hafalan saya masih patah-patah. Kadang lupa, terbolak-balik, atau macet. Padahal, kabarnya, tes hafalan untuk masuk Al Zaytun ini dilakukan secara acak. Tak ada yang tahu surat apa yang akan diujikan, kemungkinannya 1 dari 37 karena ada 37 surat dalam juz 30. Kalau misalnya dapat surat Asy Syams sih masih mending. Kalau dapat Al Fajr, An Nazi’ah, atau surat agak panjang lainnya? Tentu saya puyeng, karena hafalan dengan ibu saja masih kacau, apalagi hafalan di depan penguji.

Sekitar bulan Desember ketika saya kelas 6 SD, kalau saya tak salah ingat, ada rombongan santri dan wali santri yang akan kembali ke Al Zaytun selepas liburan. Wali santri hanya bertugas mengantar, jadi jumlahnya tak begitu banyak. Yang lebih banyak adalah santrinya (ya iyalah). Seingat saya tidak hanya satu bus yang memberangkatkan para santri ini.

Saya tidak tahu dari siapa ide ini muncul—entah ayah entah ibu—, tiba-tiba ayah mengajak saya ikut rombongan ini. Kami berdua akan melihat sendiri bagaimana Al Zaytun. Kami membawa perlengkapan seperlunya. Saya tidak ingat apa saja yang ayah masukkan ke dalam tas besar kami.

Saya dan ayah tidak mungkin ikut dalam rombongan santri, jadi kami ikut rombongan wali santri. Wali santri tidak ikut naik bus, tapi naik mobil. Entah ada berapa mobil yang ikut berkonvoi dalam perjalanan Gresik-Indramayu ini, yang jelas saya dan ayah ada dalam salah satu mobil di antara rangkaian konvoi itu. Selain kami berdua, di dalam mobil tersebut empat orang wali murid. Jadi ketika itu, sayalah yang paling imut dan unyu :p.

Perjalanan panjang antara Gresik dan Indramayu ini kami tempuh dalam waktu entah berapa jam entah berapa hari. Saya sudah lupa. Yang jelas, kami sering mampir di SPBU. Bukan untuk isi bahan bakar, tapi sekedar untuk buang air atau menegakkan salat.

Singkat cerita, sampailah kami pada sebuah pondok pesantren bernama Al Zaytun. Oiya. Jalan menuju ke pesantren adalah jalan raya yang tidak terlalu lebar. Di samping jalan raya masih banyak sawah yang membentang. Pokoknya ndeso banget lah.

Tapi jangan tanya apakah Al Zaytun ndeso. Sama sekali tidak. Gedungnya justru keren-keren.

Saya menginap di salah satu kamar santri perempuan, ayah saya bersama wali santri lain. Ah, saya lupa siapa nama santri yang memberi saya tumpangan tidur. Nama gedung asramanya pun saya lupa. Yang saya ingat, gedung-gedung Al Zaytun dinamai seperti sahabat Rasulullah. Jadi ada gedung Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash Ahiddiq, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Aisyah, Fatimah Az Zahra, dan Khadijah.

Di Al Zaytun, kegiatan saya dan ayah tak lain adalah jalan-jalan. Kami berkunjung ke masjid utama Al Zaytun. Di sinilah saya terpesona untuk pertama kalinya. Masjid ini memiliki kolam ikan di bawahnya! Jadi kalau mengantuk, jangan duduk di pinggir masjid. Bisa-bisa nanti tercebur ke kolam. Saya tidak tahu ikan apa yang dipelihara, tapi yang jelas ikan itu berukuran besar. Panjang ikan-ikan itu sekitar dua jengkal orang dewasa. Menurut santri di sana, ikan itu untuk keperluan konsumsi sehari-hari. Selain di bawah masjid, ada lagi beberapa kolam ikan lainnya.

Kemudian, kami mengitari kompleks pesantren Al Zaytun dengan menggunakan bus. Saking besarnya sampai butuh bus untuk mengelilinginya.

Berturut-turut, pemandangan berikut hadir di hadapan saya:
Peternakan sapi. Sapi-sapi ini selain diambil dagingnya, juga diperah susunya. Jadi, santri dan guru minum susu perah asli, hasil peternakan sendiri.
Peternakan ayam. Tentu Anda sekalian sudah tahu hasil apa yang ingin diperoleh dari sebuah peternakan ayam. Yang super, kandang ayamnya dilengkapi dengan AC alias pendingin ruangan. Katanya sih, biar steril.
Perkebunan mangga. Kebun mangga ini luas sekali. Entah berapa ton mangga yang dihasilkan ketika musim panen. Mungkin mangganya adalah mangga indramayu, tapi saya tidak tahu juga.
Sawah. Ini yang super. Mereka punya sawah sendiri untuk memenuhi kebutuhan beras bagi ribuan mulut di pesantren Al Zaytun.
Deretan pohon kurma. Saya melihat beberapa pohon kurma yang berjejer. Saya tidak tahu kenapa pohon-pohon kurma itu ditanam karena setahu saya pohon kurma tidak bisa berbuah di Indonesia. Tapi menurut beberapa kabar, di Al Zaytun pohon kurma itu berhasil berbuah.
Pohon zaytun. Mungkin dari sinilah nama itu diambil, jadi pihak pesantren menanam pohonnya. Saya tidak begitu ingat bagaimana bentuk pohonnya, karena mereka terhampar di lahan yang luas.
Lapangan olahraga. Ada lapangan sepakbola yang seingat saya berjumlah enam buah, lapangan basket, dan voli. Super sekali pokoknya.
Koperasi. Gedung koperasinya besar sekali, tidak seperti Alfa Mart. Yang dijual pun beragam, bahkan hingga pakaian seragam santri.

Sepertinya masih banyak yang saya lihat, tapi hanya itu yang bisa saya ingat.

Begitulah. Sepulang dari Al Zaytun, keinginan saya untuk bisa bersekolah disana semakin besar. Saya semakin bersemangat menghafal, dan sepertinya orang tua saya juga makin bersemangat untuk mengumpulkan uang pangkal yang seingat saya sebesar 20 juta rupiah ketika itu.

Lantas, bagaimana kelanjutan kisahnya?

Kisah selanjutnya adalah, saya justru meneruskan sekolah di SMP Negeri 1 Gresik, bukan di Pondok Pesantren Al Zaytun. Saya tak ingat mengapa akhirnya saya tidak jadi mendaftar untuk bersekolah disana. Mungkin salah satu sebabnya adalah saya tidak berhasil menghafal keseluruhan surat dalam juz 30 Al Quran. Hehe

Sampai sekarang, ketika mendengar nama Al Zaytun, yang ada di benak saya adalah sebuah pondok pesantren yang hebat karena fasilitasnya yang sedemikian lengkap. Terkadang bahkan saya tak percaya pada berita-berita tentang NII-Panji Gumilang-Al Zaytun itu.

Bagaimanapun, beginilah jalan hidup saya. Allah swt telah memilihkan jalan terbaik untuk saya. Kalau dulu saya diterima di Al Zaytun, mungkin saya sekarang tidak kuliah di STAN. Kalau dulu saya diterima di Al Zaytun, mungkin saya bisa menguasai bahasa Sunda (nggak nyambung). Juga kalau dan mungkin lainnya.

Sampai sekarang, saya masih ingat dengan jelas kolam ikan di bawah masjid itu…


Salam,
Wahyu Widyaningrum