「次の2択の中で、どちらを選ぶ? A, 500円を貰って、自分で自由に使える。B, 5000円を貰って、その後に全額を誰かにあげなければならない。」
Wednesday, May 18, 2022
Thursday, February 3, 2022
Kucing Hitam dan Gelas dari Nenek
Seekor
kucing hitam sekonyong-konyong melompat ke arahku. Tubuhku limbung, tanganku
melepaskan gelas yang tengah kupegang. Aku sendiri berputar agak oleng demi
menghindari si kucing, dan tangan kiriku melayang demi menjaga keseimbangan. Naas,
bukannya keseimbangan yang kudapat, justru tangan kiriku ini menyambar
serangkaian benda pecah belah di dekatku. Dalam waktu tak begitu lama, bunyi
barang pecah—yang lebih terdengar seperti dentuman bom di kupingku—memenuhi
ruangan.
Sementara
si kucing dengan seenaknya keluar rumah lewat pintu depan, pintu yang sama yang
tadi ia masuki. Ia meninggalkanku dalam keadaan tercengang.
Kupandangi
beberapa benda yang pecah berantakan. Benar-benar berantakan, karena beberapa
pecahan masih ada di rak ketiga, tempat tanganku tadi menyambar. Beberapa lagi
turun di rak pertama, dan sebagian besar mengotori lantai.
Dengan
berjingkat, kulangkahi semua pecahan-pecahan itu. Ah, kucing itu membuatku rugi
setengah mati.
Benda
pecah-belah yang kupecahkan tadi adalah koleksiku, yang kukumpulkan dengan
susah payah, melalui beragam pengorbanan. Anda juga tentu tahu, mengumpulkan
koleksi tidak mudah. Lihat saja perjuangan para pengoleksi perangko. Filatelis
itu bahkan harus mengeluarkan barang yang tidak sedikit demi perangko langka.
Atau kisah para pengoleksi action figure berbagai tokoh. Bahkan yang hanya
diproduksi beberapa unit dan harganya selangit, mereka rela membelinya. Demi
apa? Tanya saja pada mereka.
Aku
masih lebih beruntung, karena belum pernah merogoh kantong demi
koleksi-koleksiku. Hanya perlu mengeluarkan uang sejumlah ala kadarnya untuk
kumasukkan dalam amplop, dan berharap semoga kedua mempelai bahagia.
Selebihnya? Aku makan-makan sampai kekenyangan, tertawa-tawa dengan kawan-kawan
yang juga hadir, dan koleksiku bertambah satu. Atau lebih, jika teman-temanku
tadi mau memberikan milik mereka untukku.
Betul, kuakui upayaku untuk mengumpulkan koleksiku sangat minimal. Jangan kaubandingkan dengan kolektor-kolektor yang tadi sudah kusebutkan. Tapi seperti juga sudah kubilang tadi, hancurnya benda-benda kesayanganku ini membuatku rugi. Sebab sebuah gelas mungil pemberian almarhum nenekku juga pecah. Gelas itu berada di antara koleksiku yang lain. Kata nenekku dulu, gelas tersebut berusia lebih tua daripada buyutnya buyutnya nenek—entah berapa generasi sebelum nenek.
Kemarin aku mendapat pesan pribadi
dari seseorang. Ia mengutarakan minatnya untuk membeli gelas tersebut seharga
tiga puluh juta rupiah.
Thursday, January 13, 2022
「チャレスポ!TOKYO」に参加して感じたこと
初めて「ボッチャ」という言葉を聞いたとき、特に何も思うことがなくて、かわいい名前だなとしか考えていなかった。私はだいたい、「チャ」が入っている名前は可愛いと思う。それでも可愛さだけで興味を引かれたのは人生で初めてかもしれない。結構前から私の知っていたペタンクという競技と似ているこのボッチャは、元々脳性まひの障害者のために作られ、パラリンピックにおいて初めて競技として採用されたのは1984年のことだそうだ。
このボッチャという言葉を初めて聞いてから三か月後。私がボランティアの活動のために参加しているANICという団体の代表者から「十月の体育の日、ユニバーサルスポーツ体験が荻窪であります」というメールが届いた。申し込みを終え、体験日までワクワクが止まらなかった。体験したことがある他のボランティアによると、「簡単そうだが、いざやってみたらそうではなかった」「ボールを投げるだけなのに、あんなに難しいとは思わなかった」「以外とボールを投げるには技術が必要」という、どれも似たような感想が聞かれた。
体験日。時間が限られていたこともあって、ボッチャとユニカールという競技をやってみた。体験後の、同行者の友達と:「案外難しかったけど、とても楽しかったね」と話した。なかなかボッチャ(ユニカールもそう)の体験ができず、今度機会があったら絶対に見逃してはいけない、と自分に言い聞かせた。
すると、ある日ツイッターでチャレスポ!TOKYOの広告が偶々目に入ってきた。そして、「ボッチャ」についてもこの広告のポスターに書いてあった。想像しづらいほど独特なセンスのタイトルはさておき、どんなイベントか分からないまま受付の予約をした。
そして、去年の12月19日に東京国際フォーラムに足を運んだ。このビルの外には私の好物、Ya Kun Kaya Toastのお店があるため、少しだけ寄って名物のカヤトーストを口に入れてもいいかな、と一瞬の迷いもあったが、時間に余裕がなかったため、すぐにチャレスポの入口へ向かった。有楽町店舗のカヤトーストは今度食べに行くつもりだ。
ホールに入ったら、色んな種類のパラスポーツのエリアが並んでいた。体験可能な競技は広々としたエリアの中に道具があったが、一方で、体験不可能な競技はユニホーム、競技の説明表、道具などが展示されているだけであった。
入口の左側のすぐのところはフライングディスクのエリアであった。フリスビーと何が違うんだろう、と思いながら受付に地図表を見せ、スタンプを貰った。備え付けられた3つのゲームの中で、真ん中のゲームには一番長い列ができていた。3メートル先にある、番号の付いた9つのパネルに向かってディスクを投げ入れるゲームだった。その時、パネル越しに何かを叩き音をたてているスタッフさんがいて、その音を頼りに、盲目の体験者が音の方向に一所懸命ディスクを投げた。3号→番?、5号、6号、7号、9号のパネルにディスクが入った。ディスクが入る度、私は気づかず拍手をした。それを見てこのゲームもやってみたくなったが、並んでいる人があまりにも多すぎたから、誰も体験者がいない三番目のゲームに挑戦した。3メートル先にある直径2メートルの大きな輪にディスクを投げ入れるゲーム。10枚のディスク中、輪に入ったのは6枚だけだった。
フライングディスクを後にして、次に私は車いすバドミントンを体験した。私の前に並んでいるのは車いすで来場した一人の男性だった。20分順番を待った後、やっと自分の番が来た。車いすに乗るとかの競技の下準備を手伝ってくれるスタッフさんは一人しかいなかったため、私はしばらく待った。その間、さっきの男の人の手伝いを観察した。一分間も経たない間に、この男の人はコートに入り、ラケットを振り始めた。軽快な動きで車いすの方向を転換し、ラケットを振る姿は素晴らしかった。私もそのあとコートに入り、2分後に、車いすの方向転換の際にラケットと車輪のハンドリムの間に手を挟んじゃったり当たったりしたことによって、掌に少し痛みを感じながら、車いすバドミントンのエリアから離れて行った。
その後、メインステージで開催されていたパラリンピック・オリンピックのメダリストのトークショーを聞きながら、ふと友達の言葉を思い出した。日本以外に米中英、シンガポール、ベトナム、インドネシアに住んでいたことがあるこの日本人の友達が、「自立している障害者を街でよく見かける国は日本のほかにはない。」と教えてくれた。私はインドネシアと日本にしか住んでいたことがないから、他の国の様子は見たことがないが、思い返せば確かにそうだった。
インドネシアは障害者の安全を優先しない国だと考えられる。歩行者通路は駐車場になっていたり、印の→移動をサポートする黄色いブロックが突然途切れたり、電柱や木が途中でドンとあらわれたり、テレビなどにも字幕がなかったりする。障害者自立支援制度はあるかどうか分からないが、あるとしても実際の社会で生かされていないように思う。この支援がないことによって、高い壁を越えていかないといけない自立が更に難しくなるだろう。実家が裕福な家庭じゃないとほぼ家で時間を過ごし、社会に出る余裕はない。
インドネシアにおいてPancasilaと呼ばれている建国五原則のひとつ、「全国民にたいする社会正義」という五番目の原則は全国民に対するもれなく平等な扱いを指している。この熱心→熱意/情熱?は原則として心に留めた上で、日常生活でも実践する必要がある。このチャレスポのようなイベントを通して、障害のある人とない人がお互いのことを思いやり、みんなが楽しめる社会になれば良い。
Tuesday, October 26, 2021
定年は歳の問題?それとも、体力の問題?
「何歳まで働き続けたいと思いますか?」
こういう質問はあまり考えたことがなくて、突然聞かれたとしたらすぐ明確な答えを出せないと思う。とりあえず公務員として60歳まで社会に尽くしたいということを目標にしていた。
そのため、世論調査でせめて70歳まで働きたいと回答していた日本人の会社員に対しては感心するばかりである。強い意志がないと、そういう考え方はできないだろう。
だが、この間オンライン新聞に感心を超えて尊敬の念を抱く記事があった。それは70歳まで働き続けたいと言った人ではなく、今90歳で働き続けているとある人についての記事だ。ギネス世界記録で「最高齢の総務部員」と認められた玉置泰子さんである。
経理や庶務を担当している玉置さんは元気で前向きに64年間勤続してきた。仕事の事もそうだし、周囲に対してのこともそうだ。例えば、60代の頃は、当時普及したパソコンを勉強し始めて、使用できるようになった。世間では老後と言われる歳にもかかわらず、仕事に必要なスキルを磨いたという玉置さんの強い意志に感心した。かたや周囲との関係作りにもきちんと取り組んで、同僚や上司の間でも玉置さんは評判の良い仕事をしてきたそうだ。
そんな元気でポジティブな玉置さんは毎日どう過ごすのか、そして、何を考えているのか?生活に何か秘密があるのだろうか。彼女の毎日のルーティンに密着すると、朝活が大ヒントになるかもしれない。朝5時半に起き、それからヨガをし、その後はバスと電車を乗り換え通勤。他にはフェイスブックで仲間を作り、ポジティブな精神を保っているそうだ。
人生経験を積んできた玉置さんから学んだ重要なポイントは2つ。1つは年齢は壁ではないということ、もう1つは年配者と若者が一緒に手を取り合って前へ進むべきだということ。偏見を持つ、あるいは人に価値をつけることはやめるべきだと筆者は強調した。
写真提供 Photo by Alexandr Nikulin from Pexels
Sunday, August 15, 2021
Hoshi no Ko: Rumitnya Perjalanan Emosi Seorang Remaja SMP
Judul: 星の子 (Hoshi no Ko)
Pengarang:
Natsuko Imamura
Penerbit:
Asahi Shimbun
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 220 halaman
Chihiro berada di persimpangan jalan.
Di salah satu ujung jalan, orang tuanya
menantinya dengan sabar. Merekalah yang dengan gigih mencoba segala upaya untuk
membuatnya sembuh dari sakit yang ia idap sejak lahir. Salah satu upaya itu
adalah dengan menyeka tubuhnya dengan Berkah Bintang Kejora: air ajaib yang disebut-sebut
diberkati oleh energi alam raya. Sejak saat itu, Berkah Bintang Kejora rutin
hadir di rumah itu. Sebagai air minum sudah tentu—walaupun tak diperkenankan
untuk menyeduh kopi. Selain itu, air itu hadir sebagai bahan jaram utama yang
membasahi handuk putih di atas kepala orang tuanya.
Handuk putih beserta air ajaib sebagai
jaram yang ditumpangkan di atas kepala itu adalah keberkatan bagi orang tuanya,
tapi kegilaan di mata orang lain.
Orang-orang lain ini berada di ujung jalan satunya.
Gurunya berkata orang tuanya aneh. Teman baiknya bilang ia dan orang tuanya ditipu
habis-habisan. Pamannya menganggap orang tuanya diperdaya. Sepupunya
berpendapat ia lebih baik menjaga jarak dengan orang tuanya.
Sebab hidup adalah perkara memilih satu
(atau beberapa) hal atas hal lainnya, Chihiro pun dihadapkan dengan
pilihan-pilihan yang harus ia ambil satu (atau beberapa) di antaranya. Serangkaian
bintang jatuh yang ia saksikan, agaknya, telah membantunya mengambil keputusan.
Saya membayangkan hidup sebagai seorang
Chihiro. Orang tua saya dipertemukan dengan sebotol air, mengalami keajaiban,
lantas percaya setengah mati kepada air tersebut. Orang lain bisa apa kalau orang
tua saya sendiri sudah merasakan betapa terberkatinya air tersebut? Belum lagi
saya sendiri juga merasakan mukjizat itu saat kecil, dan melihat orang tua saya
sehat walafiat selama lima belas tahun. Lalu tiba-tiba orang-orang itu: guru, kawan
sekolah, dan kerabat; mencerocos dan mendikte tentang betapa apa yang orang tua
saya (dan saya) yakini adalah konyol dan kami ditipu. Bah, siapa mereka? Tetapi
mereka juga membawa bukti-bukti yang, sayangnya, cukup membuat pendirian saya
goyah dan kepercayaan saya kepada orang tua meluntur. Ke mana saya harus
menuju? Ini rumit sekali.
Saya tak sanggup menghadapi beban seperti
Chihiro.
Segala detail beban dan kebimbangan yang
dialami Chihiro itulah yang agaknya dipilih untuk diramu oleh Natsuko Imamura dalam
novel Hoshi no Ko. Kebimbangan ini semakin pelik karena tokoh Chihiro
digambarkan duduk di kelas 3 SMP, usia remaja yang penuh dengan pencarian jati
diri. Jalan pencarian Chihiro tidak mudah. Terjalnya jalan emosi Chihiro
dipotret dengan detail yang apik oleh Natsuko. Penuhnya isi kepala Chihiro
dapat dibaca dari dialog-dialognya dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Sayangnya, ada sedikit detail yang cukup
menganggu bagi saya.
Pada halaman 79, termuat biodata Minami,
guru Chihiro yang juga merupakan orang yang ia sukai. Di situ tertulis bahwa
negara favorit sang guru adalah Hawai. Saya langsung menandai bagian ini: sejak
kapan Hawai menjadi sebuah negara?
Selain itu, novel ini didominasi oleh
dialog. Kebanyakan merupakan dialog singkat satu atau dua baris dan kurang
penting, yang membuat jalan cerita menjadi agak membosankan. Misalnya dari
halaman 212 hingga 219, yang menggambarkan adegan keluarga Chihiro duduk
bersama di bukit sembari ngobrol ngalor-ngidul memandang langit malam. Pada
bagian tersebut, mayoritas—ada sekitar 75 baris—dipadati tarik-ulur demikian dari
Chihiro: “aku tidak melihat bintang jatuh, tapi pulang sajalah,” dan
Ayah-Ibunya: “kita tidak akan pulang sebelum kita semua melihat bintang jatuh.”
Pun demikian, adegan itulah yang menarik
perhatian Yoko Ogawa, salah satu dewan juri Akutagawa Prize yang memberi nilai
sempurna untuk Hoshi no Ko. “Adegan langit malam di bagian terakhir. Penuh letupan
emosi di sana, meskipun akhir kisahnya tidak diceritakan. … Kalimat-kalimat
yang tidak dituliskan terasa hadir lebih dekat dibanding yang dituliskan,”
demikian komentarnya.
Selain Yoko Ogawa, ada seorang dewan juri
lain yang juga memberi tanda dua lingkaran biru sebagai tanda nilai tertinggi
pada karya Natsuko ini. Adalah Hiromi Kawakami, yang berkomentar, “Penulis novel
ini memahami dengan baik sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun:
bagaimana cara menulis novel agar menjadi sebuah novel yang seharusnya.”
Sementara itu, juri lainnya berpendapat bahwa novel ini "berhasil menggambarkan dunia seorang anak yang sedang terperangkap".
Menanggapi pujian-pujian itu, Natsuko hanya mengatakan ia mencintai aktivitas menulis dan akan terus melakukannya sepanjang ia masih menikmati kegiatan tersebut. "Saya sama sekali tidak merasa sedang melakoni pekerjaan sebagai penulis, tapi saya akan merasa sedih jika dilarang menulis."
Natsuko menceritakan dalam sebuah wawancara dengan suatu koran Jepang, bahwa ia mendapat inspirasi untuk menulis novel dari pengalamannya sehari-hari. Untuk novel Hoshi no Ko ini, Natsuko mengambilnya dari apa yang ia lihat pada suatu waktu di Osaka. Ia berkisah, ia melihat sepasang suami istri yang saling menuangkan air dari botol minuman ke atas kepala satu sama lain. Bagian inilah yang menjadi ide utama Hoshi no Ko: orang tua Chihiro melakukan rutinitas tersebut setelah mengenal air ajaib.
Novel ini mungkin juga menyisipkan semacam pesan
bagi orang-orang dewasa: bijaklah mengambil langkah, sebab anakmu juga akan menerima
dampaknya; kau sangat beruntung kalau anakmu tak sampai limbung.
Hoshi no Ko menjadi satu dari empat novel
yang masuk daftar pendek Akutagawa Prize ke-157. Dari sepuluh orang dewan juri,
dua orang memberi penilaian tertinggi untuk novel ini. Hoshi no Ko akhirnya
tidak memenangi penghargaan tersebut. Novel ini kalah dari karya berjudul Eiri
karya Shinsuke Numata, yang memperoleh penilaian tertinggi dari tiga dewan
juri. Akutagawa Prize sendiri adalah salah satu penghargaan paling bergengsi
untuk karya sastra Jepang.
Thursday, September 17, 2020
Kembali Ke Malam Biru (Terjemahan Esai Yoshimoto Banana)
Thursday, September 3, 2020
Kisah Sederhana Tentang Kaum Paisano
Judul buku : Dataran Tortilla (Judul Asli: Tortilla Flat)
Penulis : John Steinbeck
Penerjemah :
Djokolelono
Penerbit :
KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun :
2016
Tebal :
219 halaman
Krisis ekonomi besar yang melanda Amerika Serikat, dan
kemudian meluas ke seluruh dunia, pada rentang tahun 1929 hingga 1939 memberi pengaruh
luar biasa di segala bidang. Krisis yang sering disebut dengan istilah Depresi
Besar itu menyebabkan harga saham jatuh bebas, PDB turun, tingkat pengangguran
meningkat, dan jumlah tunawisma membludak.
Novel Dataran Tortilla terbit pada tahun 1935, ketika
Depresi Besar tengah berlangsung. John Steinbeck, yang memperoleh Hadiah Nobel
Sastra pada tahun 1962 “atas karyanya yang realistis dan imajinatif, yang
memadukan humor dan kritik sosial yang tajam”, tampaknya betul-betul berusaha menyajikan
humor ringan sebagai oase di tengah krisis melalui karyanya ini.
Novel ini bercerita tentang Danny dan beberapa
kawannya—Pilon, Pablo, Jesus Maria, Si Bajak Laut, dan Big Joe—, serta
kehidupan yang melingkupi mereka di sebuah rumah di wilayah bernama Dataran
Tortilla di Monterey, California. Danny dan kawan-kawannya adalah paisano:
kaum dengan darah campuran Spanyol, Indian, Meksiko, dan berbagai ras kulit
putih Eropa. Kehidupan mereka sungguh ringan, polos, tanpa beban, seringkali
hangat, minim target, dan tidak begitu memusingkan uang. Kalaupun ada satu
barang yang harus hadir dalam tiap embusan nafas mereka, itu adalah anggur.
Mereka bahkan lebih memilih menghabiskan uang untuk membeli anggur daripada
menggunakannya untuk membayar uang muka agar layanan perusahaan air minum bisa
sampai ke tempat tinggal mereka (halaman 11). Bersama-sama mereka menghadapi
masalah yang datang, saling berdiskusi, bercerita, dan bahu-membahu dengan cara
masing-masing yang menimbulkan humor dan tawa—tentu kadangkala mereka sedikit saling
berbohong dan berseteru satu sama lain.
Suatu ketika, terjadi perubahan drastis pada sikap
Danny yang membuat hidupnya berakhir, meskipun kawan-kawannya berusaha sekuat
tenaga mencegahnya. Setelah upacara penguburan Danny usai, rumah mereka—rumah
milik Danny yang ditinggali bersama—, yang menjadi jimat pemersatu pertemanan
dan atap pelindung tempat mereka menghabiskan hari dengan tidur dan minum
anggur, pada akhirnya juga hangus; habis tak berwujud menyusul pemiliknya yang
juga telah berpulang. Ketiadaan jimat pemersatu tersebut membuat kawan-kawannya
berpisah, pergi berpencar dengan tujuan masing-masing.
John Steinbeck menyematkan beberapa kalimat penghibur
agar pembacanya, barangkali, bisa sedikit lupa pada krisis ekonomi, misalnya “kebahagiaan
lebih baik daripada kekayaan” (halaman 94) serta “ada kacang polong berarti
selamat. Kacang polong merupakan atap pelindung perut, selimut hangat yang
menangkis dinginnya tekanan ekonomi.” (halaman 154). Selain itu, ada juga kalimat
yang diucapkan Danny, “senang sekali mempunyai banyak kawan. Dunia ini terasa
sunyi, bila tak ada kawan untuk diajak berbincang-bincang atau untuk
menghabiskan grappa.” (halaman 53).
Namun demikian, novel yang mengangkat nama John
Steinbeck ini bukannya bebas dari kontroversi. Dataran Torilla dianggap
rasis. Penggambaran kaum paisano melalui tokoh Danny dan kawan-kawannya
sebagai orang-orang pemalas, gemar minum, dan enggan berpikir jangka panjang
dianggap menimbulkan stereotip buruk dan melukai perasaan orang-orang Hispanik.
John Steinback memang telah meminta maaf atas hal tersebut dan menyebut
kebiasaan-kebiasaan tadi sebagai “suatu filosofi, dan tidak ada masalah atas hal
itu”. Pernyataan maaf itu dimuat di Dataran Tortilla yang diterbitkan
oleh penerbit Modern Library pada tahun 1937, tetapi tak lagi muncul pada
cetakan-cetakan selanjutnya.
**
John Steinbeck lahir pada tahun 1902 di Salinas,
California, tempat yang kelak akan menjadi latar bagi beberapa karyanya. Ia
wafat pada tahun 1968. Sepanjang hidupnya, ia kerap bermasalah dengan
kesehatannya, misalnya peradangan paru-paru pada usia 16, usus buntu pada usia
17, dan seterusnya: infeksi ginjal, operasi retina, stroke, serangan
jantung, dan cedera punggung. Penyakit-penyakit yang datang silih berganti itu
juga yang menjadi salah satu faktor yang meneguhkan niatnya untuk menjadi
penulis.
Karier menulis John Steinbeck dimulai pada tahun 1929
melalui novel debutnya, Cup of Gold. Ia juga menulis dua novel dan dua
kumpulan cerpen sebelum menerbitkan Dataran Tortilla, karya pertamanya
yang mendapat sambutan hangat dan mendulang kesuksesan. Sepanjang hidupnya, ia
telah menulis lebih dari 40 karya dan memenangi Hadiah Pulitzer (1940), Hadiah
Nobel Sastra (1962), dan United States Medal of Freedom (1964). Karya besar
yang melambungkan namanya adalah Of Mice and Men (1937), Amarah (The
Grapes of Wrath, 1939), dan Sebelah Timur Eden (East of Eden, 1952)—ketiganya
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
John Steinbeck adalah seorang pengarang jenius dengan
celanya sendiri. Dalam rangka memperingati 50 tahun kematiannya, surat kabar harian
asal Inggris, The Independent, pernah memuat artikel panjang tentang betapa unik
dan kontroversialnya penulis ini. Salah satu anekdot yang diangkat adalah
ketika ia ditanyai oleh seorang kawannya dari Vietnam tentang motto hidupnya,
dan ia menjawab, “jangan beralasan. Jangan biarkan orang-orang melihatmu
menderita. Jangan pernah terpisah dari barang-barangmu. Selalu cari tahu pukul
berapa bar mulai buka.” Keunikan pribadinya itu pula yang mungkin membuatnya
mampu memotret kondisi zaman serta menyusun penokohan dan jalan cerita luar
biasa atas kisah-kisah sederhana yang ia tulis. Karya-karyanya lalu diganjar berbagai
penghargaan, termasuk Hadiah Nobel Sastra, dan terus diminati oleh para
penikmat sastra selama hampir seabad ini.


