Sunday, August 14, 2016

Anggap Saja Epilog (Bagian 2)

Melanjutkan post sebelumnya di sini, ini adalah bagian terakhir dari rangkaian tulisan mengenai perjalanan ke wilayah Kansai, Jepang, setahun lalu. 

3.       Tentang Rusa di Nara
Heijo Palace
Jangan mempercayai jarak yang disampaikan oleh orang Jepang dalam ukuran menit, misalnya jalan kaki 15 menit, karena itu tidak berlaku bagi orang Indonesia—atau setidaknya bagi kami. Menurut keterangan di situs penginapan, Heijo Palace dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari penginapan selama 15 menit. Nyatanya, kami memerlukan waktu sekitar 50 menit berjalan kaki di pagi hari menuju Heijo Palace, itu pun belum benar-benar dekat dengan istananya. Kami hanya melihat dari jauh, dan menyerah pada terik matahari yang jelas akan membakar kami di area lapang terbuka di sekitar Heijo Palace.

Nara Park
Tidak sampai satu kilometer dari stasiun Kintetsu Nara, rusa-rusa sudah tampak berjalan-jalan di trotoar, rambu bergambar rusa yang kira-kira memiliki arti “awas rusa lewat” tampak terpasang di sisi jalan raya, beberapa orang mengenakan celemek dan topi putih menjaga lapak mereka yang berjualan senbei—bukan wortel seperti di KRB— untuk pakan rusa, dan beberapa anak terlihat menangis sambil berlari ketakutan menjauhi rusa. Rusa-rusa di Nara Park, selain memiliki penciuman yang sangat tajam— dibuktikan dengan tetap mendekati orang yang telah memberikan senbei namun sebenarnya sudah tidak memegang senbei lagi, juga cukup rakus—beberapa dari mereka terlihat memakan kertas pamflet yang dipegang oleh pengunjung. Peta Nara yang dipegang salah satu teman saya juga menjadi korban dimakan rusa hingga tinggal separuh.  

Koufukuji
Koufukuji benar-benar berada persis di belakang Nara Park. Ada dua pagoda, yaitu lima tingkat dan tiga tingkat. Pagoda lima tingkat bisa dinikmati pengunjung secara gratis, sedangkan untuk dapat menyaksikan pagoda tiga tingkat pengunjung harus membayar tiket masuk karena ia berada di kompleks dalam. Dan kami, lebih memilih untuk berada di luarnya saja.

Yoshikien
Rumah dan taman gaya Jepang di dalam Yoshikien
 Berbekal peta, kami menuju Taman Yoshikien. Taman Yoshikien adalah taman yang berbatasan dengan Taman Isuien. Bedanya, wisatawan mancanegara bisa masuk dengan cuma-cuma di Yoshikien, sedangkan untuk ke Isuien tetap harus membayar. Kami memasuki Yoshikien, dan langsung duduk-duduk menguasai beranda rumah tradisional yang langsung menghadap taman gaya Jepang yang indah—hanya ada satu orang wisatawan selain kami. Selain taman gaya Jepang, terdapat juga taman lumut, rumah teh untuk istirahat, serta taman bunga yang sayangnya tidak sedang berbunga. 
Di gazebo dekat taman bunga, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan salat, setelah meminta izin kepada seorang petugas yang sedang memangkas ranting. Sejak kami datang sampai kami pergi meninggalkan gazebo, bapak pemangkas ranting itu tak beranjak dari satu pohon: setelah satu dahan dipangkas, beliau mengamati pokok pohon, memotong beberapa daun, memangkas ranting-ranting kecil, mengamati pokok pohon kembali, memangkas ranting, dan begitu seterusnya. Kami hanya heran, butuh berapa lama sampai semua pohon selesai dipangkas?

Todaiji
Rusa tak hanya ada di Nara Park,
tetapi juga di sekitar Todaiji
Dari Taman Yoshikien, kami melalui jalan yang agak menanjak menuju Todaiji. Karena kami tidak masuk dari gerbang utama, maka pemandangan yang terhampar begitu kami datang adalah sebuah kolam berukuran cukup besar dengan satu buah torii berwarna merah menyala di seberang kolam. Kami pun tidak masuk ke Todaiji, hanya berkeliling di seputaran Todaiji saja, yaitu di Kaidan-in.


4.       Cenderamata Gratis dari Mie
Iga Ryu Ninja Museum
Jika melihat foto-foto yang bertebaran di internet mengenai ninja di kereta dan stasiun, maka hal itu benar adanya. Saya menemukan ninja di rak atas di kereta, serta beberapa ninja, baik di stasiun Igakambe maupun stasiun Uenoshi. Jalur kereta dari Igakambe ke Uenoshi ini hanya dilewati oleh kereta ninja, dengan stasiun-stasiun kecil dan persawahan di sepanjang jalur.
Kami sampai di museum Ninja sekitar pukul 9 lewat sedikit, dan masuk dalam rombongan kedua pengunjung museum. Awalnya, pengunjung diajak memasuki rumah ninja, di mana petugas museum yang berpakaian ala ninja menjelaskan beberapa trik yang ada di rumah ninja, misalnya rak yang berfungsi sebagai tangga, tempat mengawasi yang ada di lantai atas, tempat menyimpan barang berharga di dalam lantai, serta pintu berputar. Selama penjelasan, pengunjung diperbolehkan mengambil gambar, namun dilarang merekam video. Setelah sekitar lima belas menit, barulah pengunjung memasuki museum Ninja. 

Mbak pemandu dari pihak museum ninja
menunjukkan tempat penyimpanan rahasia ala ninja
Museum ini memiliki berbagai macam pajangan yang menarik, misalnya rahasia bagaimana ninja berjalan di atas air (yang ternyata menggunakan sandal khusus) dan replika sandalnya, bentuk-bentuk penyamaran ninja menjadi petani atau rakyat biasa, pakaian ninja, bentuk-bentuk shuriken, bagaimana cara ninja memprediksi cuaca dengan melihat tanda-tanda di langit, dan lain sebagainya. Di ujung rute museum, terdapat sebuah tempat penjualan cenderamata, misalnya shuriken dan kartu pos.
Di dalam museum kami bertemu sepasang bocah laki-laki dan perempuan yang memakai kostum ninja, yang tampak lucu dan menggemaskan sehingga kami ajak berfoto bersama. Di luar museum, kami bertemu serombongan turis asing berambut pirangmungkin siswa SMA atau mahasiswa tingkat awalyang memakai kostum ninja, tetapi tampak sangat aneh dan … entahlah.

Ueno Castle
Dekat saja dari museum Ninja, kami menaiki anak tangga yang jumlahnya cukup banyak, dan Ueno Castle sudah ada di depan mata. Ukurannya tidak begitu besar, namun saya baru ingat kalau ia terlihat dari stasiun Uenoshi—mungkin karena ia dibangun di atas bukit. Kami hanya duduk-duduk di kursi luar istana. Ada satu lapak yang menjual es serut sebagai pelepas dahaga bagi pengunjung. Setelah duduk-duduk cukup lama, kami kemudian memutari istana. Dari balik istana, kami bisa melihat wilayah sekitar dari ketinggian. Kemudian selepas itu kami kembali ke stasiun.

Ise Grand Shrine – Geku
Sebenarnya ada dua Ise Grand Shrine, yaitu Geku (luar) dan Naiku (dalam). Geku terletak cukup dekat dari stasiun Iseshi, sedangkan Naiku cukup jauh, tetapi tersedia bus kota yang menuju ke sana. Dari stasiun menuju Geku, kami melewati sebuah kawasan pertokoan dengan jalan yang cukup lebar. Geku tidak terlalu luas, kami mengelilinginya dalam waktu sekitar 20 menit, selebihnya kami beristirahat di tempat istirahat yang dibangun menghadap kolam bergaya Jepang. Terdapat museum di samping tempat istirahat tersebut, namun untuk memasukinya pengunjung harus membeli tiket yang saya lupa berapa harganya.
Di ujung jalan tepat di depan Geku, terdapat pusat informasi wisata—yang juga ada di stasiun Iseshi, padahal jarak keduanya tidak begitu jauh. Kami masuk untuk bertanya barangkali ada tempat yang bisa digunakan untuk salat. Kami tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, tetapi kami diberi bros bertuliskan Mie dengan gambar mutiara, kerajinan khas daerah Toba, Mie.

5.       Akhirnya Tidak Terlewat di Osaka: Tsutenkaku dan Glico Man
Johnny’s Shop
Kalau saya sudah jauh-jauh ke Osaka tapi tidak mampir ke tempat ini, maka saya termasuk golongan orang yang merugi. Terletak di lantai 1 dan 2 gedung Shiroguchi, Johnny’s Shop tidak seperti yang saya bayangkan. Di bayangan saya, selain menjual foto-foto artis yang tergabung dalam manajemen Johnny & Associates, toko ini juga menyediakan cenderamata konser, album, dan CD. Ternyata saya tidak menemukan album dan CD sama sekali. Mengenai cenderamata konser, sepertinya hanya cenderamata dari konser yang sedang berlangsung saja yang tersedia. Karena konser NEWS sudah berakhir pada 6 Agustus, sementara saya baru ke toko ini pada 11 Agustus, maka saya tidak menemukan satupun cenderamata konser NEWS. Akhirnya saya hanya menghabiskan waktu dengan memelototi satu-satu foto NEWS yang dipajang, beberapa foto Hey! Say! JUMP, dan membeli beberapa—entah untuk apa.
Ketika saya datang, keadaan toko cukup sepi. Kabarnya, kalau sedang ramai, pengunjung bahkan bisa memperoleh nomor antrean untuk nanti masuk pada waktu yang telah ditentukan. Selain satu-dua orang bapak-bapak yang menunggu di luar area pajangan foto, yang tampak di area pajangan foto hanya perempuan yang membawa kertas pesanan foto hingga berlembar-lembar, dan telah memilih lebih dari 20 foto untuk dibeli. Dan seperti biasa, tidak boleh mengambil gambar, baik di dalam maupun di luar. Bahkan ketika saya berfoto di luar, saya diperingatkan oleh petugas keamanan untuk tidak mengambil gambar.

Nakanoshima Park
Nakanoshima Park tampaknya bukan tempat yang terlalu terkenal di kalangan masyarakat sekitar. Setelah keluar dari stasiun dan berjalan melewati beberapa blok namun tidak kunjung menemukan taman ini, saya melihat peta area sekitar yang sayangnya ditulis dalam huruf kanji, dan memutuskan untuk bertanya pada seorang kakek yang sedang lewat. Ia bilang tidak tahu taman yang saya maksud. Kemudian lewat dua orang anak seusia SMP, yang ditanyai oleh si kakek. Dua anak perempuan ini juga menggeleng, kemudian mereka melihat peta, dan akhirnya menunjuk suatu titik—yang kemudian saya sadari bertuliskan Nakanoshima Kouen, sambil bertanya kepada saya, “apakah ini yang Anda maksud?”.  Setelah saya sadar bahwa titik itu bertuliskan Nakanoshima Kouen, saya mengangguk dan berterima kasih pada mereka.
Nakanoshima Park adalah sebuah taman berukuran luas yang cukup indah, apalagi jika dikunjungi pada sore hari . Di dalam kompleks taman terdapat satu blok berisi bunga mawar berbagai varietas dengan penataan taman yang simetris, air mancur di pojok, serta tepat bersebelahan dengan sungai. Kami datang saat matahari sedang bersinar sangat terik, dan keindahan taman jadi berkurang karena tidak ada pohon besar di taman, terutama taman bunga mawar, kecuali di bagian tepi.

Sumiyoshi Taisha
Jembatan yang menjadi ciri khas Sumiyoshi Taisha
Untuk menuju Sumiyoshi Taisha, informasi yang saya dapatkan adalah saya cukup turun di stasiun Sumino Kouen dan disambung berjalan kaki sampai lokasi. Di stasiun Sumino Kouen, saya menanyakan arah menuju kuil kepada petugas stasiun. Ia berkata bahwa saya harus naik bus lagi dari terminal, dan untuk menuju terminal kami bisa berjalan kaki. Ia memberikan selembar peta wilayah yang dilengkapi nomor bus beserta rute dan halte pemberhentian, dan mewanti-wanti saya nomor bus yang bisa saya naiki menuju kuil. Berbekal peta tersebut, kami menuju ke terminal—dan harus tersesat juga. Sesampai di terminal, ada satu unit bus yang hampir berangkat—pintunya sudah tertutup. Saya melihat nomor bus dan menyadari bahwa itu adalah bus yang harus kami naiki. Kami berlari-lari, lalu berhenti di belakang bus. Sopir tampaknya melihat kami, lalu membukakan pintu. Penumpang tak begitu penuh, kami semua masih dapat tempat duduk. Di dalam bus inilah saya bertemu dengan Kakek Berbahasa Inggris.
Setelah turun dari bus, kami menyeberang jalan, dan melewati sebuah taman cantik penuh bunga warna-warni bermekaran: putih, merah, kuning, ungu. Banyak anak-anak kecil bermain di area bermain. Kami berfoto sejenak di taman, lalu bergegas menuju kuil mengingat waktu sudah hampir pukul lima sore. Kami menaiki jembatan besar yang tersusun dari kayu yang menjadi daya tarik Sumiyoshi Taisha, kemudian berjalan menyusuri sungai kecil lalu masuk ke dalam kuil. Tak ada karcis yang harus ditebus untuk memasuki Sumiyoshi Taisha. Baru semenit di dalam, benar saja, petugas kuil sudah mengingatkan pengunjung karena kuil akan tutup pukul lima. Kami mempercepat langkah melewatkan jajaran bangunan-bangunan kecil berwarna merah di dalam kuil, kemudian keluar kuil. Di pintu keluar, kami menemui serombongan wisatawan asing yang tak bisa lagi masuk sebab waktunya sudah habis. Mereka akhirnya hanya berfoto-foto di sekitar jembatan.

HEP
Sebenarnya HEP sudah kami kunjungi sebelum kami mampir ke Johnny’s Shop, tetapi karena kami merasa saat itu masih terlalu siang, jadi kami menukar urutan lokasi kunjungan. Tak ada tujuan lain di HEP selain menaiki bianglala raksasanya berwarna merah terang. Setelah naik lift sampai ke lantai teratas, kami membeli tiket seharga 500 yen di mesin penjual. Setelah itu, sebelum naik bianglala, kami dipersilakan berfoto bersama di sebuah area foto dengan latar tulisan HEP. Tiap kereta berisi empat orang; karena kami berlima, kami terpisah dalam dua kereta berisi dua dan tiga orang. Durasi naik bianglala ini adalah sekitar lima belas menit. Dari puncak ketinggian, tampak gedung-gedung di sekitar area HEP.
Begitu waktu habis dan kami turun dari bianglala, di depan pintu keluar terdapat sebuah stan yang menawarkan hasil cetak foto kami sebelum naik bianglala tadi. Foto tersebut dijual bersama dengan pigura kertas, mirip cenderamata foto ala resepsi pernikahan. Per lembar foto dan pigura dijual seharga 1.200 yen.


Tsutenkaku Tower
Bicara mengenai Osaka, tentu tak bisa lepas dari Tsutenkaku. Menara yang juga dapat menunjukkan prakiraan cuaca esok hari melalui warna lampunya ini jelas tak akan kami lewatkan dalam daftar kunjungan.
Kami sampai di Tsutenkaku sekitar pukul tujuh malam lewat, setelah melintasi deretan kios-kios yang menjajakan dan memajang banyak hal. Karena sudah cukup malam dan kami memang tidak berniat naik ke atas menara, jadi kami hanya berfoto beberapa ratus meter di depan Tsutenkaku saja, lantas kembali ke penginapan. Kami bahkan tak sempat mampir ke Shinsekai, kawasan pertokoan yang terkenal di dekat Tsutenkaku. 

Minoo Park
Air terjun Minoo, dari menara pandang

Alasan saya memasukkan Minoo Park dalam daftar kunjungan adalah karena ingin melihat wisata alam, bukan melulu bangunan buatan manusia. Kami berangkat cukup pagi dari penginapan, dan sampai di stasiun Minoo, stasiun terdekat dengan Minoo Park, sekitar pukul 8.30. Keluar dari stasiun, kami langsung berjalan mengikuti arus orang-orang. Tak jauh dari stasiun, segera dapat dilihat sebuah papan berisi informasi Minoo Park dalam Bahasa Jepang, Inggris, Mandarin, dan Korea yang menyebutkan bahwa taman ini sudah ada sejak 1.300 tahun lalu.
Pemandangan pun sudah mulai berubah: banyak pohon dan aliran sungai, dengan suara gemericik air. Makin masuk ke dalam, suasana menjadi semakin sunyi, karena tak banyak kendaraan bermotor yang lewat. Kebanyakan orang berjalan kaki. Tak jarang saya melihat orang berusia lanjut berjalan dengan menggendong tas ransel kecil berisi botol minum di saku bagian samping, mengenakan topi, pakaian olahraga, serta sepatu kets. Nampaknya banyak yang memanfaatkan jalur tersebut untuk berolahraga. Hal itu tidak mengherankan, sebab dari papan informasi sampai air terjun berjarak sekitar 7 km, dengan papan kecil terpasang di sepanjang perjalanan yang menginformasikan jarak tersisa menuju lokasi air terjun. Teman saya bahkan tak melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk menunggu di dekat stasiun sebab jarak tersebut.
Di ujung jalan, terhampar air terjun setinggi sekitar 20 meter dengan airnya yang jernih. Sekitar sepuluh meter di depannya, dibangun tempat yang lebih tinggi dengan beberapa tempat duduk panjang yang terbuat dari kayu. Beberapa orang meregangkan otot, beberapa duduk di kursi. Ada juga semacam menara pandang yang sebenarnya hanya berupa sebuah bangunan dua lantai.
Setelah beberapa lama duduk di kursi di depan air terjun dan mengambil beberapa gambar melalui menara pandang, saya kembali dengan mengambil jalan yang berbeda dari jalan berangkat—tiga kawan saya baru sampai di air terjun setelah saya pulang. Saya mengikuti seorang kakek yang melewati jalan setapak di bukit yang memang tersedia dengan pagar rendah dari kayu. Jalan ini lebih menantang daripada jalan utama, karena medannya naik turun. Di tengah jalan, saya menyerah karena mulai lelah dan memutuskan kembali ke jalan utama; sementara kakek di depan saya tadi masih setia dengan jalan naik turun itu.

Osaka Castle
Setelah melewati Taman Morinomiya dan salat di bawah pepohonan di sana, kami menuju ke Osaka Castle. Tampaknya objek wisata ini tak pernah sepi; sepanjang jalan dari taman sampai ke gerbang istana, arus pengunjung tak juga menyurut.
Di depan istana, pengunjung cukup padat. Lokasi terbaik untuk berfoto juga tak pernah sepi. Antrean masuk ke dalam istana pun begitu, sudah mengular. Kami tak punya cukup waktu untuk masuk, jadi kami hanya berkeliling di depan istana. Seorang kawan saya bercerita, ia bertemu dengan tiga pemuda asal Jawa Barat yang bekerja di Jepang setelah lulus SMA; mereka datang ke Osaka Castle untuk berlibur, dan tak henti mengagumi kami yang bisa mengunjungi Jepang dengan stastus mahasiswa. Saya cuma bisa tertawa.

Kyocera Dome
Kyocera Dome adalah objek wisata yang menuruti ego pribadi saya. Saya pun berangkat sendiri ke tempat ini, empat kawan saya lainnya pergi ke Daiso terdekat dari Osaka Castle untuk berbelanja.
Keluar dari stasiun Dome-mae Chiyozaki, saya bertemu dengan banyak sekali orang yang mengarah ke Kyocera Dome. Setelah bangunan tersebut terlihat, keheranan saya terjawab: sedang ada pertandingan baseball di sana. Pantas saja banyak juga yang memakai pernak-pernik terkait baseball. Saya berjalan mengitari Kyocera Dome; melihat antrean pengunjung di depan pintu masuk, jejeran stan yang menjual pernak-pernih berupa kaos, corong pengeras suara, dan lain-lain. Sampai saya beranjak meninggalkan lokasi ini, aliran orang yang muncul dari pintu keluar stasiun ke arah Kyocera Dome masih belum berhenti.

Dotonbori
THE Glico Man!!!
Ada satu tempat yang menjadi penanda khas Osaka: papan reklame raksasa bergambar Glico Man. Letaknya di kawasan pertokoan Dotonbori yang sangat ramai, sehingga sayang untuk dilewatkan. Ketika sampai di sana, sulit rasanya untuk mengambil gambar dengan leluasa karena jembatan dan sepanjang jalan penuh dengan orang. Keramaiannya tak jauh berbeda dengan hari terakhir pasar malam dengan diskon gila-gilaan. Apalagi, keramaian itu rupanya tak hanya berlangsung di jembatan dekat Glico Man, tetapi juga berlanjut di sepanjang jalan kawasan pertokoan. Saat itu rasanya persediaan oksigen di udara hanya tipis sekali sehingga sulit bernapas. Memang tak mengherankan, sebab kawasan ini menjadi lokasi favorit wisatawan untuk berfoto, makan, dan berbelanja.


Menyelesaikan tulisan ini membuat saya sedikit tersadar bahwa berkunjung ke tempat baru selalu memberikan dua perasaan pada saat bersamaan: cemas dan gembira. Keduanya menjadi energi tambahan yang cukup ampuh untuk menambah semangat. Ajaibnya, perasaan itu seakan masih berbekas dengan baik meskipun kunjungan tersebut sudah terlewat sekian lama. Sebab perasaan yang masih berbekas itulah, saya tidak tahu bagaimana harus memberikan akhir pada apa yang saya sebut epilog ini.

040816

Friday, June 24, 2016

Satu Kisah Patah Hati


Seorang penulis sekaligus penyair sekaligus sastrawan sekaligus budayawan—dan beberapa sekaligus lagi yang hampir tak terhingga—pernah mengungkapkan suatu pernyataan dalam sebuah wawancara. Bahwa patah hati akan membuat seseorang jadi produktif menulis. Pernyataan tersebut kemudian, oleh wartawan dan disetujui oleh editor, dijadikan judul berita dan dimuat dalam sebuah koran. Tentu bukan jadi judul utama berita di halaman muka karena bagian itu sudah memiliki penghuni tetap—politikus brengsek, pejabat korup, pelaku kriminal yang kisahnya dinantikan kelanjutannya oleh pembaca setia koran tersebut. Tulisan hasil wawancara tersebut tersempil begitu saja di halaman ketiga dari belakang, di bagian bawah.

Tadi pagi, saat membeli nasi pecel di ibu-ibu penjual nasi banyak macam—ia tak hanya berdagang pecel—di ujung pertigaan jalan, ibu itu mengambil selembar kertas koran yang ukurannya telah menjadi lebih kecil dari ukuran kertas koran sebenarnya. Kertas koran yang kalau dibentangkan panjangnya bisa mencapai 70 sentimeter itu dipotong-potong menjadi delapan bagian. Ibu penjual nasi tentu saja tak hanya memotong selembar kertas koran. Mungkin anaknya di rumah sudah memotongkan kertas koran sepuluh eksemplar, yang kemudian ditumpuk dengan hasil potongan yang lalu-lalu sehingga sudah menjadi setinggi dua bolpoin yang ditegakkan dan ditumpuk. Salah satu bagian dari sekian eksemplar tersebut diambil oleh ibu penjual dan dilapisi daun pisang, diisi nasi, sayur-mayur, serta bumbu pecel. Itu nasi pecel untuk saya. Saya menambahkan dua potong tempe goreng dan satu telur dadar di atasnya sebelum ibu penjual dengan cekatan melipat kertas lantas membungkusnya dan menyerahkannya kepada saya.

Setelah menghabiskan pecel sembari menonton televisi, saya beranjak ke tempat sampah dan membuang daun pisang yang mengalasi nasi pecel saya tadi. Kertas korannya tetap saya pegang, lalu saya kembali ke depan televisi. Teve saya matikan, koran bekas bungkus nasi pecel mulai saya baca. Begitulah ungkapan penulis serbabisa itu lantas sampai di tangan saya.

Lantas saya sedikit merenung. Tak sedikit orang-orang di sekitar saya yang mengalami patah hati. Beberapa di antaranya bahkan sampai patah tulang, sebab mencoba lompat dari jendela kamar. Tapi tak ada yang mengalahkan cerita satu kawan saya. sebenarnya tak terlalu nyambung juga dengan wejangan si penulis, tetapi karena masih ada sedikit sangkut-pautnya, baiklah saya ceritakan saja kisah kawan saya.

Kawan saya yang satu ini bebalnya keterlaluan. Sebenarnya ia pandai saja, tetapi mengenai cinta, ia sungguh bebal.

Pernah suatu kali ia jatuh cinta pada orang yang sama selama sepuluh tahun. Selama sepuluh tahun itu, tak sekalipun hatinya beranjak pada orang lain yang bahkan ada di depan hidungnya. Kepala dan hatinya setiap hari selalu disesaki orang yang merebut hatinya itu. Saking sesaknya, ia jadi bersikap dingin pada orang-orang yang ingin mendekatinya. Senyumnya murah, tetapi bisa mendadak mahal pada orang-orang itu. Hatinya baik, tetapi bisa tiba-tiba buruk pada orang-orang itu.

“Kau tampak seperti orang jahat kalau terus begitu,” sekali waktu pernah saya mengingatkannya demikian.

“Aku cuma tak ingin goyah. Juga tak ingin memberikan harapan awal pada mereka.”

Saya lantas terdiam.

Kawan saya ini,  hanya pernah bertemu empat tahun dengan cintanya itu. Saya masih menganggap tak ada yang aneh kalau ia jadi cuek pada orang lain selama empat tahun itu. Karena kalau saya jadi dia, saya juga bisa jadi begitu. Selepas empat tahun itu, mereka berpisah. Ada jarak sejauh sekitar 850 kilometer yang memisahkan.

Kawan saya, yang pemalu ini, tak pernah bertanya nomor ponsel atau surel atau apapun pada pujaan hatinya itu—sejak awal mereka bertemu sampai tak pernah bertemu. Dengan kata lain, pada enam tahun sisanya ia mencintai orang yang tak pernah berkabar dengannya dan tak tahu ada di mana. Ia tak pernah tahu bagaimana perubahan wajah orang yang entah kenapa selalu bisa ia rindukan itu; mungkinkah keriput dengan cepat menghampirinya, apakah ia orang yang suka menumbuhkan kumis dan jambang, atau apakah rahangnya makin menegaskan bentuk wajahnya. Ia juga tak punya ide apakah 850 kilometer di seberang sana, tambatan hatinya itu sudah memiliki kekasih atau belum.

“Kalau sudah, kau menghabiskan waktu memikirkan orang yang tak memikirkanmu. Rugi.” Kata saya padanya.

“Kalau belum?” sahutnya. Sejak tadi matanya tak beralih dari novel grafis kisah Dalai Lama—yang sebenarnya sudah ia khatamkan berjuta-juta kali—dan tangannya tak henti memindahkan keripik kentang dari bungkus ke mulutnya.

Saya mencari-cari jawaban. Atau mungkin ia tak pernah peduli apakah cintanya di sana itu sudah memiliki kekasih atau belum.

Bagi saya, mencintai orang yang tak ada wujudnya di depan kita dan tak pernah berkomunikasi adalah serupa mencabut pagar balkon dengan tangan kosong: itu mustahil, dan saya bodoh kalau terus mencobanya. Itulah bodohnya kawan saya ini, yang tetap saya sayangi apa adanya walaupun ia keterlaluan bebalnya.

Suatu hari, saat hari masih dini dan matahari baru muncul beberapa jam lagi, saya memperoleh kabar dari kawan jauh saya. Ada berita tentang orang yang selalu dicintai oleh kawan saya selama sepuluh tahun tanpa henti. Dua pekan sebelumnya ia tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Dokter bilang, ada suatu cairan yang harus diambil dari otaknya. Ia dioperasi. Namun tak kunjung sadar.

Ketika hari mulai agak terang, saya berlari ke tempat kawan saya. wajahnya pias mendengar kabar itu. Saya ajak ia duduk, dan saya menyeduhkan teh untuknya. Kawan saya hanya diam saja, mulutnya rapat. Matanya bergerak-gerak cepat. Kedua tangannya mencengkeram celana yang ia kenakan.

“Aku harus ke sana.” Katanya, tiba-tiba.

“Tiket pesawat. Pesankan.” Lanjutnya. Ia lalu berdiri, berjalan menuju lemarinya. mengambil tas ransel, lalu menyambar beberapa helai pakaian dari dalam lemari.

Ponsel saya berbunyi. Saat membaca pesan yang masuk, saya segera tahu bahwa saya harus menyampaikannya pada kawan saya ini.

Kawan saya lunglai. Ia jatuh terduduk. Kedua tangannya menutupi wajahnya, lalu saya dengar senggukan-senggukan kecil yang makin lama makin membesar. Beberapa saat kemudian, bersamaan dengan tangannya yang terbuka dan wajahnya yang terangkat, senggukan itu berubah menjadi raungan yang kencang.

Kawan saya kehilangan orang yang ia cintai selama sepuluh tahun. Hatinya, yang penuh sesak oleh sosok itu, juga dibawa pergi orang tersebut.


240616 

Thursday, June 9, 2016

Anggap Saja Epilog (Bagian 1)

Rangkaian tulisan mengenai memori saya saat mengunjungi Jepang (khususnya wilayah Kansai): tentang manusianya, makanannya, dan peristiwanya, memang sudah saya nyatakan habis. Sejak awal saya memang tidak ingin menuliskan apa saja yang saya lakukan setiap harinya, tempat apa yang saya kunjungi, bagaimana transportasinya, dan lain-lain. Dan saya punya alasan remeh untuk tidak melakukan itu: terlalu mainstream. Namun beberapa hari belakangan saya agak sedih karena mulai lupa kesan pribadi saya terhadap tempat-tempat yang saya kunjungi. Karena foto yang saya ambil tidak akan pernah menceritakan dengan baik apa yang saya rasakan, maka saya memutuskan untuk mengisahkan ini. Anggap saja seperti epilog di akhir sebuah buku cerita.

1.       Melewatkan Landmark Kobe: Kobe Port Tower dan Meriken Park
Masjid Kobe
Masjid Kobe, tampak samping (dok. pri)

Terletak di belakang gedung NHK, Masjid Kobe merupakan masjid pertama di Jepang. Kami sengaja pergi ke masjid Kobe dengan tujuan awal yaitu mencari restoran halal. Memang ada satu restoran India dengan stiker halal di kaca jendelanya, namun membayar 1.200 yen untuk seporsi makan siang di hari pertama kami terasa begitu berat. Akhirnya kami langsung ke masjid yang sangat dekat dengan restoran tersebut.
Masjid Kobe terdiri dari dua lantai. Lantai pertama adalah tempat sholat utama. Selain itu, terdapat juga ruang sekretariat masjid. Saat kami datang, pintu masjid terbuka, namun tidak ada siapapun, baik di tempat sholat maupun di ruang sekretariat. Akhirnya kami mengikuti kertas petunjuk yang ditempel di pintu: jamaah wanita di lantai atas. Luas tempat sholat di lantai atas ini sekitar setengah luas lantai bawah. Terdapat dua kipas angin berdiri yang langsung kami nyalakan. Karpet tebal yang mengalasi lantai masjid langsung membuat tiga dari kami pulas. Di luar tempat sholat, masih di lantai atas, terdapat sebuah lorong yang memiliki tiga ruangan berjejer: tempat wudu, toilet, dan tempat mesin cuci. Di seberang lorong tersebut terdapat sebuah ruangan yang dapat dipakai untuk kegiatan pengajian atau seminar, yang untuk menggunakannya harus seizin pengurus masjid.
Seusai sholat dan beristirahat, ketika kami turun, kami bertemu seorang pria berjenggot yang mengenakan gamis dan peci putih. Beliau, yang ternyata berasal dari Malaysia, adalah muazin yang sempat kami saksikan mengumandangkan azan Asar beberapa menit sebelumnya. 

Kitano Meister Garden
Dari Masjid Kobe, kami harus naik bis City Loop untuk melanjutkan perjalanan. Sungguh tidak ada niat untuk mengunjungi Kitano Meister Garden, namun karena halte bis CityLoop ada di area di belakang gedung ini, jadilah kami terpaksa masuk. Terdiri atas tiga lantai, Kitano Meister Garden, menurut saya, adalah sebuah galeri sekaligus toko seni. Beragam benda yang dijual di lantai satu dan dua, mulai dari makanan, minuman, rajutan, hingga keramik. Yang unik dari bangunan ini adalah lantainya dibuat dari kayu, sehingga berderit-derit kecil setiap ada pengunjung yang lewat. Sedangkan lantai tiga digunakan sebagai tempat pameran yang tidak kami kunjungi karena tidak ada tenaga tersisa untuk menaiki tangga.

2.       Kyoto yang Tak Ada Habisnya
Kiyomizu Temple
Terletak di bukit sehingga harus menapaki jalan menanjak sejauh sekitar 700 meter, Kiyomizudera adalah sebuah tempat yang pertama kali masuk dalam daftar kunjungan saya karena ia muncul dalam film Detective Conan: Meikyuu no Juujiro. Kami berangkat cukup pagi, sekitar pukul 07.30. Jalan menuju Kiyomizudera masih sepi, jejeran toko di dekat kuil pun belum buka seluruhnya, baru beberapa saja. Yang paling saya senangi adalah tiket masuknya yang sangat cocok untuk digunakan sebagai pembatas buku: terbuat dari kertas semacam karton dengan gambar depan Kiyomizudera dan bagian belakangnya berisi tulisan semacam kata mutiara.  
Komplek Kiyomizudera cukup besar, dan karena terletak di bukit, masih banyak ditumbuhi pohon. Saya sempat mengikuti tiga siswa sekolah yang tampaknya sedang berwisata juga. Mereka memasuki semacam gerbang kayu yang jalannya masih dipenuhi batu-batu kecil dan sejauh saya melihat hanya berisi pohon, juga tidak ada petunjuk bahwa akan ada sesuatu di dalam sana. Saya bertanya kepada tiga anak tersebut, “ini di dalam ada apa ya?”. Salah satu dari mereka menjawab,”kami juga tidak tahu, baru kali ini datang ke sini.” Daripada saya jalan terus dan ternyata tidak ada apa-apa di ujung sana, saya akhirnya meninggalkan tiga anak tersebut yang masih terus berjalan masuk ke arah pohon-pohon. Rute yang akhirnya saya ambil melewati kolam ternyata membawa saya kembali ke depan kuil. Karena sebelumnya saya dan teman-teman berjanji untuk bertemu di dalam, akhirnya saya kembali masuk.
Yang saya sayangkan, saya lupa melihat ke arah tenggara untuk melihat sebuah pemadangan yang khas: seharusnya menara Kyoto tampak dari beranda bangunan utama Kiyomizudera.

Yasaka Shrine
Komplek Yasaka Shine tidak begitu besar. Saat kami datang, sepertinya sedang ada sembahyang di bangunan bagian belakang. Terdengar rapalan-rapalan kalimat dibacakan. Beberapa lelaki berkepala botak berpakaian putih, mungkin biksu, nampak mondar-mandir.
Di bangunan tengah, di sekelilingnya terdapat kertas-kertas yang digantung di batang-batang bambu, seperti festival Tanabata. Satu keluarga datang mendekat, terdiri dari seorang laki-laki bertampang Eropa namun berbicara dalam Bahasa Jepang dengan seorang perempuan berwajah Jepang, seorang anak laki-laki, dan seorang anak perempuan. Dua bocah ini kemudian masing-masing menulis pada selembar kertas yang telah disediakan. Keduanya menulis hal yang sama seperti yang telah didiktekan oleh ibunya: semoga aku bisa memperoleh sabuk hitam. Namun si bocah perempuan, yang sepertinya adik dari bocah laki-laki, berulang kali bertanya pada ibunya bagaimana cara menulis kalimat tersebut, dan pada akhirnya mencontek tulisan kakaknya (meskipun awalnya ia salah menulis hiragana ‘o’ pada ‘obi’-sabuk- menjadi ‘a’).

Kyoto Imperial Palace
Kami berjalan kaki dari Kyoto Rose Café menuju Kyoto Imperial Palace yang ternyata hanya berjarak satu blok. Sebelumnya, kami telah mendaftar untuk mengikuti tur keliling istana melalui website resmi sankan.kunaicho.go.jp. Tur ini gratis, namun untuk mengikutinya peserta diwajibkan mendaftar sebelumnya, bahkan jauh hari sebelumnya, karena jumlah peserta dibatasi. Dari beberapa jenis tur, kami memilih tur berbahasa Inggris di Kyoto Imperial Palace.
Beberapa puluh menit sebelum tur dimulai, kami mendatangi kantor pengelola untuk mendapatkan surat izin masuk. Petugas mencocokkan data di paspor dengan data di formulir aplikasi, mengonfirmasi jumlah peserta yang didaftarkan, kemudian menuliskan selembar surat izin masuk untuk kami. Lebih dari 50 wisatawan menjadi peserta dari tur ini. Begitu masuk, kami masih harus memperlihatkan surat izin kepada petugas loket untuk memperoleh brosur Kyoto Imperial Palace berbahasa Inggris, lalu dipersilakan menunggu di sebuah ruangan dengan kursi-kursi panjang berjajar ke belakang. Terdapat dua penjual cenderamata di pojok depan ruangan, sementara di bagian belakang teradapat satu mesin penjual minuman, satu kran air minum (kami mengisi ulang wadah minum di sini), dan sebuah lemari loker. Tur diawali dengan menonton sebuah video yang menayangkan rute dan tempat-tempat yang akan dilalui dari televisi layar datar yang dipasang di bagian depan ruangan. Tak berapa lama, pemandu tur datang: seorang wanita berumur, mengenakan celana hitam dan kemeja putih, mencangklong pengeras suara berukuran kecil.
Di depan tiap bangunan, pemandu berhenti dan menjelaskan beberapa hal, misalnya sejarah, material yang digunakan dalam membuat bangunan, fungsi bangunan, dan terkadang menunjukkan beberapa foto yang memperlihatkan bagaimana bentuk asli bangunan sebelum direnovasi. Awalnya saya selalu berada di dekat pemandu agar bisa mendengarkan penjelasannya, tetapi lama-lama saya lelah harus berkonsentrasi lebih untuk memahami Bahasa Inggrisnya, selain itu juga karena saya ingin banyak mengambil gambar. Berada di dekat pemandu yang langsung bergerak meninggalkan lokasi begitu penjelasan usai membuat saya tidak leluasa memotret. Tur berlangsung selama kurang lebih 60 menit, diakhiri dengan ucapan terima kasih dari pemandu dan tepuk tangan meriah dari peserta tur.
Oikeniwa Garden, salah satu taman di dalam kompleks Kyoto Imperial Garden (dok. pri)
Uniknya, ada seorang petugas keamanan yang berjaga mengikuti rombongan selama tur. Ia tidak akan berpindah tempat sampai peserta terakhir pergi. Sekali waktu, rombongan sudah cukup jauh di depan, saya menjadi yang paling belakang karena ingin memotret lebih banyak. Namun akhirnya saya tidak jadi lama-lama di situ karena merasa tidak enak hati pada petugas keamanan tersebut.

Fushimi Inari Shrine
Gerbang masuk Fushimi Inari Shrine (dok.pri)

Rencana awal kami adalah kami naik bis menuju halte Tofukuji, dari sana berjalan kaki menuju Fushimi Inari. Namun menurut petugas di Kyoto Imperial Palace yang saya tanyai, keduanya berjarak sangat jauh (sangat jauh untuk ukuran orang Jepang berarti sangat sangat jauh untuk ukuran kami), jadi lebih baik kami naik kereta.
Benar saja kata petugas tersebut. Dari stasiun Fushimi Inari jalur Keihan, kami hanya perlu berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk sampai di Fushimi Inari. Selain Kiyomizudera, tempat ini juga merupakan tempat yang masuk daftar wajib kunjungan saya. Bukan karena ia muncul di film Detective Conan, namun karena tempat ini sungguh populer.
Deretan torii berwarna merah menyala benar-benar luar biasa. Dan dibutuhkan tenaga yang luar biasa pula untuk bisa melewati seluruh rute torii karena jalannya menanjak ke arah puncak bukit. Kami—yang tenaga dan semangatnya tidak cukup luar biasa—hanya berjalan sampai tengah, masih cukup jauh dari puncak bukit, kemudian kembali lagi ke gerbang awal.

Tenryuji
Saat menyusun jadwal perjalanan, saya memperoleh informasi bahwa Tenryuji adalah jalan masuk menuju Sagano. Dari keterangan tersebut, yang saya pahami adalah kami harus masuk Tenryuji untuk bisa masuk Sagano.
Ada dua jenis tiket untuk masuk ke Tenryuji, yaitu masuk ke bangunan utama kuil dan masuk ke taman bergaya Jepang. Kami memilih yang kedua dengan membeli tiket seharga 500 yen. Taman gaya Jepang sebenarnya bagus, namun ya begitu-begitu saja: kolam, tanaman, batu besar, dan batu kecil yang dibentuk beralur menyerupai aliran air. Namun, taman Tenryuji ini agak berbeda dan tampak lebih bagus dari taman gaya Jepang lainnya karena latar belakangnya: bukit yang dipenuhi pohon-pohon berdaun hijau dan oranye di beberapa bagian serta hamparan langit biru cerah.
Setelah taman gaya Jepang, terdapat taman dengan bermacam bunga yang sayangnya tidak sedang berbunga kecuali tanaman hydrangea—yang di Indonesia dikenal dengan Bunga Panca Warna—, itupun warna bunganya kebanyakan masih hijau.
Di dekat pintu keluar taman, mulai tampak rimbunan pohon bambu, yang menandakan bahwa Sagano sudah ada di depan mata.

Sagano Bamboo Forest
Masuk sebagai salah satu daftar wajib kunjungan versi saya karena sepertinya memiliki daya magis dan misterius, maka bagaimanapun saya harus ke lokasi ini. Sebenarnya hanya sebuah hutan bambu yang juga banyak ditemukan di dekat rumah kakek saya di Trenggalek, namun jenis bambu yang berwarna hijau cerah, batang panjang, tumbuh lurus ke atas, dan tidak bergerombol membuat hutan bambu ini unik.
Sayangnya, saya tidak menemukan cara agar bisa mendapatkan gambar yang bagus di sini. Itu yang pertama. Hal kedua yang saya sayangkan adalah kami datang berbarengan dengan beberapa rombongan wisatawan, entah dari Tiongkok atau Taiwan, yang tak habis-habisnya (dan sangat berisik), sehingga mengurangi daya magis Sagano.
Ketika pulang, kami mengikuti satu-satunya jalan yang selalu dirimbuni pepohonan sehingga sangat adem. Begitu sampai di jalan raya, saya baru menyadari bahwa Sagano dapat dimasuki langsung dari jalan raya, tidak perlu masuk terlebih dahulu ke Tenryuji.

Kinkakuji
Saya akan memberikan satu tips untuk dapat menikmati keindahan Kinkakuji: datanglah pagi-pagi saat loket baru dibuka. Kalau tidak, maka akan bernasib seperti saya yang datang sekitar pukul 12 siang: sesak nafas. Memang bukan dalam arti sesungguhnya, namun melihat begitu banyaknya wisatawan yang berkerumun di depan pagoda berwarna emas membuat saya merasa ingin segera meninggalkan tempat tersebut, tidak peduli betapapun bagusnya. Hanya ada satu lokasi yang bagus untuk mengambil gambar pagoda yaitu dari depan, tetapi tempatnya sangat sempit, sehingga pengunjung terlihat berjubel dan tidak teratur. Ketika menyusuri jalan setapak ke arah keluar, keadaannya ternyata tidak kalah menyedihkan: jalan tidak cukup lebar, agak menanjak dengan beberapa anak tangga, banyak orang berhenti di pinggir, dan tak sedikit pengunjung yang tetap mengembangkan payungnya sehingga berpotensi mengenai kepala orang lain.
Saya baru bisa bernafas lega ketika telah mecapai pintu keluar Kinkakuji.

Kyoto Botanical Garden
Salah satu sudut Kyoto Botanocal Garden (dok. pri)

Di sinilah saya bertemu dengan Kakek Internasional. Begitu masuk, tampak aneka bunga warna-warni bermekaran di jalan utama yang menyambut pengunjung. Namun kami tak langsung berkeliling, hal pertama yang kami lakukan justru mencari tempat duduk untuk makan bekal makan siang. Setelah itu, kami menuju ke gedung pusat informasi pengunjung untuk salat. Harapan kami, kami akan menemukan tempat perawatan bayi yang dapat ditumpangi untuk salat seperti di Kyoto Imperial Palace. Ternyata, tempat perawatan bayi di sini menyatu dengan toilet sehingga tidak dapat digunakan untuk tempat salat. Saya meminta teman saya untuk bertanya kepada petugas—dan akhirnya saya dipanggil juga karena petugas tersebut tidak dapat berbahasa Inggris. Setelah petugas tersebut berunding dengan rekannya, kami akhirnya diperbolehkan salat di depan perpustakaan di lantai dua yang kebetulan sedang tutup sehingga tidak mengganggu siapapun.  
Setelah salat, saya sempatkan mampir ke kafetaria yang juga sekaligus tempat penjualan cenderamata untuk membeli kartu pos. Penjualnya memberikan kami bonus tiga buah kipas untuk kami—dua teman sedang menunggu di luar sehingga tidak memperoleh kipas. Di hari-hari berikutnya, kipas ini adalah senjata yang sangat bermanfaat di tengah musim panas yang sangat menyengat.
Kami berkeliling di taman hingga jam operasional tutup, yaitu pukul 17.00, dan hanya mengelilingi beberapa area saja, seperti taman sakura, taman lotus, taman maple, taman mawar, taman gaya eropa, dan taman gaya jepang, dan taman gaya Amerika. Satu hal yang kami sadari, kami tidak menemukan rombongan keluarga yang menggelar tikar dan makan bersama seperti di Kebun Raya Bogor—mungkin situasinya akan berbeda kalau kami datang ketika musim semi.

JR Kyoto Station
Sungguh tidak ada niat untuk mengajak teman-teman pergi ke Stasiun JR Kyoto. Ini hanya rencana saya sendiri saja untuk membeli tiket Hankyu Railway Pass 5 hari di BicCamera. Saya membebaskan teman-teman untuk pergi terserah ke manapun, namun ternyata mereka memilih untuk menemani saya (peluk!). Pada akhirnya, saya memang sendirian membeli tiket, dan meminta mereka untuk menunggu saja di Daiso di gedung seberang.
Setelah saya memperoleh tiket, saya menyusul teman-teman ke Daiso (Tuhan, Daiso adalah sebuah tempat penuh keajaiban!), kemudian kami kembali ke depan stasiun. Di depan stasiun terdapat sebuah gedung bertuliskan Aqua Fantasy yang mempertunjukkan atraksi air mancur menari di atap gedungnya dengan pendaran lampu berwarna-warni dan iringan musik yang cukup familiar.
Oh iya, saat hari masih terang dan kami belum berpencar, kami bertemu dengan dua orang laki-laki yang usianya sepertinya tidak berbeda jauh dengan kami dan berwajah Melayu di depan stasiun. Salah seorang di antaranya mengenakan kaos jersey sepak bola Timnas Indonesia yang berwarna merah, sehingga tak diragukan lagi mereka adalah orang Indonesia.


--- bersambung ---

Wednesday, December 16, 2015

Tentang Hisao Tanaka, Dirut Toshiba yang Mengundurkan Diri Akibat Skandal Akuntansi



Selasa siang, saat sedang menggulung-gulung layar ponsel yang menampilkan lini masa Twitter, saya membaca selintas judul mengenai Toshiba yang akan mem-PHK ribuan karyawannya. Saya, yang masih terbawa suasana dan semangat sistem informasi—karena beberapa saat sebelumnya alhamdulillah cukup berhasil melewati sebuah rintangan hidup bernama ujian SIA dan SIM secara maraton (yang untungnya dirupakan ujian jarak jauh alias via Google Form), akhirnya menggulung layar kembali ke atas dan mengeklik tautan berita tersebut.

Di artikel detik.com tersebut, disebutkan bahwa langkah tersebut diambil Toshiba menyusul berbagai masalah yang menimpa perusahaan asal Jepang tersebut, terutama skandal keuangan yang melibatkan Dirut Hisao Tanaka dan eksekutif senior lain. Skandal ini merupakan skandal akuntansi terbesar di Jepang dalam beberapa tahun terakhir. Dinilai bertanggung jawab, Hisao Tanaka dan eksekutif senior lainnya akhirnya mundur dari jabatannya pada bulan Juli lalu.

Saya kemudian membuka Yahoo! Japan (Mbak Marissa Mayer, saya masih pakai produkmu lho—yang katanya mau dijual), dan mengetik kata kunci 田中久雄 (Hisao Tanaka), dan muncullah artikel ini di urutan teratas: Peringatan kepada Pasar Secara Khusus dari Toshiba! Ingin Tahu Karier, Universitas Almamater, Ekstrakurikuler, dan Pekerjaan Ayah dari Dirut Hisao Tanaka?. Ketika baca, saya langsung mbatin, ini kalau wartawan detik yang menulis, pasti jadi empat artikel dengan judul: Ini Dia Karier Dirut Toshiba Hisao Tanaka; Ternyata Dirut Toshiba Hisao Tanaka Lulusan Universitas Ini!; Ketika Kuliah, Ini Kegiatan Ekstrakurikuler Dirut Toshiba Hisao Tanaka; Begini Pekerjaan Ayah dari Dirut Toshiba Hisao Tanaka.

Di bawah ini adalah terjemahan dari artikel tersebut.

  •         Bersalah atas Kasus Penggelembungan Keuangan Toshiba, Tiga Pembesar Mengundurkan Diri

Kasus penggelembungan keuangan yang diperkirakan dilakukan oleh manajemen puncak Toshiba telah diberitakan secara ramai oleh media.
Sulit dipercaya bahwa skandal tersebut terjadi pada sebuah perusahaan raksasa Toshiba yang merupakan representasi Jepang, tetapi kasus ini telah bergulir sampai pada pengunduran diri tiga pembesar yaitu Dirut Hisao Tanaka, Wakil Direktur Norio Sasaki, dan Adviser Atsusoshi Nishida—sebagai penanggung jawab atas permasalahan kecurangan akuntansi kali ini.

Ingin mengetahui karir para pembesar Toshiba? Berikut adalah hasil penelusuran mengenai profil mantan direktur utama Hisao Tanaka.

  •          Jejak Karir Mantan Dirut Hisao Tanaka

Mengundurkan diri dari Toshiba atas skandal ini, siapa sebenarnya Hisao Tanaka?

Hisao Tanaka berusia 64 tahun, lahir pada 20 Desember 1950. Ia berasal dari Kobe, Perfektur Hyogo, dan memiliki seorang kakak perempuan.

Ayahnya merupakan PNS pemerintah daerah, yang saking sibuknya bahkan sering bekerja pada hari Sabtu sehingga Hisao hamper tidak pernah bermain dengan ayahnya tersebut. Karena itu, ayahnya hampir tidak pernah marah dalam berkomunikasi dengan Hisao. Dibesarkan dengan sifat ayahnya yang begitu sabar, ketika menjadi ‘orang’, Hisao tidak pernah keras kepada anak buahnya, bahkan dikisahkan bahwa Hisao adalah tipe orang yang mempersilakan seseorang untuk mencari jalan keluar sendiri atas masalahnya.

Ketika SMA di Perfektur Hyogo, Hisao mulai bermain gitar, dan bersama tiga kawannya membentuk sebuah grup folk song yang bahkan pernah tampil di acara radio. Saat berstatus mahasiswa di Universitas Bisnis Kobe, Hisao berkeinginan menekuni jalur profesional, bahkan sampai mengikuti audisi. Namun, sayang sekali perjalanan tersebut tidak mulus sehingga ia akhirnya menyerah.
Selain itu, Hisao, yang mencintai olahraga, menyelesaikan kuliahnya dalam waktu empat tahun dengan tetap melanjutkan aktivitas kempo.

Setelah lulus dari Universitas Bisnis Kobe, pada bulan April tahun 1973 Hisao diterima bekerja di Toshiba. Karena begitu mencintai Kansai—terutama Kobe, sejak masuk Toshiba Hisao berpikir bahwa ia akan selalu bisa berada di Kansai. Namun penugasan Hisao adalah di kantor pusat bagian bahan baku, yang berarti ia harus berpisah dari Kansai dengan berat hati.

Penugasan berikutnya adalah Filipina, Inggris, dan lainnya. Setelah itu Hisao menjadi kepala divisi penyedia bahan baku, kepala pusat produksi komputer, direktur eksekutif, direktur eksekutif senior, managing director, wakil direktur, lalu pada tahun 2013 menjadi direktur utama.

Dan akhirnya terjadilah skandal ini.

Hisao selalu menyampaikan, “Adalah penting untuk berpikir secara zero-based dan tidak mengindahkan  masa lalu.”

Terjadinya skandal ini memang telah mengkhianati kepercayaan masyarakat, tetapi karyawan Toshiba diharapkan dapat melakukan yang terbaik untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat tersebut kepada perusahaan raksasa ini.


Rabu, 161215

Sunday, October 4, 2015

Wisata Gratis ke Jepang, Bagaimana Caranya?



Bagi saya, definisi gratis adalah tidak menggunakan uang pribadi. Sehingga, jawaban dari pertanyaan di judul tadi bisa bermacam-macam: dengan dibayari orang tua, dibayari om-tante-pakde-bude-kakek-nenek, menang undian, dibayari kantor, atau ikut lalu memenangi Kontes Berbahasa Jepang yang diadakan oleh Kyoritsu International Foundation.

Kemarin saya mencoba cara terakhir di atas, meskipun belum berhasil. Haha

Kontes Berbahasa Jepang (KBJ) adalah lomba yang diselenggarakan oleh Kyoritsu International Foundation yang dapat diikuti oleh masyarakat umum, baik pelajar, mahasiswa, maupun karyawan. Tujuannya sederhana, mendorong agar berani berbicara dan mengungkapkan pendapat dalam Bahasa Jepang di muka umum. Sedangkan tujuan diberikannya wisata gratis ke Jepang bagi pemenang adalah agar pemenang dapat lebih mengerti dan menyukai Jepang sehingga dapat lebih bersemangat dalam belajar Bahasa Jepang. Syarat mengikuti KBJ juga tidak sulit, yaitu memiliki kemampuan Bahasa Jepang setara N4 atau lebih dan belum pernah memiliki visa pelajar ke Jepang. Pendaftarannya sendiri dilakukan secara online pada tanggal 27 Juli sampai 28 Agustus 2015 melalui situs Kyoritsu International Foundation di www.kyoritsu.or.id.

gambar dari http://kyoritsu.or.id/kontes-bahasa-jepang/

Tahun ini adalah tahun kedua diselenggarakannya Kontes Berbahasa Jepang, atau yang resminya disebut 第2回日本語体験コンテストinジャカルタ. Sebenarnya terjemahan yang benar ada di versi Bahasa Inggrisnya, yaitu 2nd Japanese Experience Contest in Jakarta. Entah bagaimana bisa menjadi Kontes Berbahasa Jepang—mungkin terdengar aneh jika diterjemahkan secara kata per kata.

Digelar di Istana Ballroom, Hotel Sari Pan Pacific Jakarta, pada Sabtu, 3 Oktober 2015, KBJ 2015 dihadiri oleh sekitar 30-an peserta, meskipun yang mendaftar ada 100 orang.

Tahap pertama KBJ dimulai pukul 12.00, dengan menjawab 30 soal yang terdiri dari 27 soal pilihan ganda dan 3 soal isian. Seluruh soal dibacakan pertanyaannya oleh mbak-mbak cantik mirip Ueno Juri dengan diulang dua kali. Di laman pendaftaran disebutkan bahwa soal yang diberikan meliputi pengetahuan umum tentang Jepang, seperti ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Namun bagi saya, seluruh soal adalah lawakan—saking susahnya: saya cuma menjawab yakin benar sebanyak 2 soal. Hahaha. Saya berhasil menulis ulang dan menerjemahkan beberapa soal dari KBJ ini dengan mengais ingatan saya—dan ingatan dua teman saya di JF yang juga mengikuti KBJ, yaitu Yessie dan Eva. Karena sumbernya hanya dari memori, tentu saja ada beberapa yang tidak lengkap maupun tidak urut, seperti berikut ini:
1. Siapa artis Jepang yang menduduki peringkat 8 dalam daftar seratus wanita tercantik dunia? a. Ishihara Satomi; b. Kiritani Mirei, c. Sasaki Nozomi
2. Apa nama stasiun yang benar-benar ada di Jepang? a. Arigato; b. Gomen; c. Sayonara
3. Jepang menjadi tuan rumah olimpiade pada tahun? a. 2012; b. 1960; c. 1964
4. Siapa anggota AKB48 yang menempati urutan 2 di senbatsu sousenkyou terakhir? a. Sashihara Rino; b. Kashiwagi Yuki; c. Watanabe Mayu
5. Ada berapa jumlah mesin penjual minuman di seluruh Jepang? a. 500.000; b. 2.000.000; c. 1.000.000
6. Ward apa yang tidak ada di Tokyo? a. Midori-ku; b. …; c. Chiyoda-ku
7. Botol plastik pertama di Jepang pada awalnya dipakai untuk kemasan apa? 
a. Cola; b. Kopi;  c. Shoyuu
8. Situs di Jepang yang pertama kali ditetapkan sebagai warisan dunia adalah:
a. …; b. …; c. Gunung Fuji
9. Mana yang termasuk festival yang diadakan di Tokyo? a. Festival Asakusa; b. Festival Kanda; c. Festival Shinjuku
10. Gaya duduk yang ditunjukkan dalam gambar disebut apa? (terdapat gambar orang sedang duduk bersila)  
11. お冷 =
12. … 階から目薬. (Ini merupakan salah satu peribahasa dalam Bahasa Jepang. Isilah titik-titik dengan satu buah bilangan menggunakan angka kanji)

Bagaimana soalnya? Benar-benar pengetahuan umum, kan?

Mbak Ueno Juri jadi juri di KBJ 2015 *ampun mbak
gambar dari http://www.fansshare.com/gallery/photos/12156940/ueno-juri/?displaying 

Kalau saya sih, sepanjang soal dibacakan, saya cuma bisa tertawa miris mengingat saya benar-benar tidak tahu jawabannya, sambil sesekali mencari pembenaran atas ketidaktahuan saya, seperti “lah member AKB yang saya tahu cuma si Mayuyu, itupun karena dia main di serial drama Tatakau! Shoten Girl bareng Inoo-chan”. Dua yang saya yakin benar hanya soal nomor 3 dan 9 di atas. Yang lainnya? Tentu saja saya hanya mengisi berdasarkan perasaan saja.

30 soal tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 30 menit. Setelah itu kami dipersilakan keluar dan menunggu sembari makan kudapan yang diberikan oleh panitia, kemudian kembali lagi ke ruangan pada pukul 13.30 untuk mengetahui hasil siapa yang masuk ke tahap selanjutnya, yaitu pidato.

Pukul 13.30, panitia mengumumkan bahwa hanya ada satu orang yang memperoleh nilai tertinggi yaitu 70, sedangkan sisanya merupakan medioker. Karena itu, akhirnya dipilih yang memiliki jumlah jawaban benar di atas 30%.

Dan nama saya disebut di urutan ketiga. Reaksi saya adalah: “uso deshou?!”. Urutan pemanggilan sejatinya tidak memiliki korelasi dengan peringkat nilai yang diperoleh, karena di kertas tanda peserta milik saya tertulis angka 11. Total peserta yang masuk ke tahap ini ada 12 orang, berarti saya ada di 2 peringkat terbawah. Haha. Saran saya, jika ingin lolos tahap pertama ini, ada dua syarat: kamu harus menguasai pengetahuan umum tentang Jepang, atau kamu harus memiliki peruntungan yang baik—karena soalnya pilihan ganda. Kalau saya, jelas karena yang kedua XD.

Setelah kedua belas nama diumumkan, mbak Ueno Juri kembali tampil untuk membacakan beberapa aturan main, seperti:
1. Terdapat tiga tema yang nanti akan diberikan melalui kertas yang dibagi ke tiap peserta. Satu orang hanya memilih satu tema, dan tidak boleh membahas hal di luar tema;
2. Waktu berpikir adalah 5 menit; peserta yang telah selesai berpikir dapat mengangkat tangannya untuk kemudian ditunjuk oleh panitia dan tampil berpidato; peserta yang maju pertama memperoleh tambahan 1 poin jika dibandingkan peserta yang maju berikutnya;
3. Durasi pidato adalah 3 menit;
4. Jika waktu telah mencapai 2,5 menit maka panitia akan membunyikan bel satu kali; jika waktu telah mencapai 3 menit maka panitia akan membunyikan bel dua kali; jika waktu telah mencapai 3,5 menit panitia akan membunyikan bel terus-menerus dan peserta harus segera menyelesaikan pidatonya;
5. Tidak diperbolehkan membuka gawai atau kamus atau kamus elektronik ketika sedang menyusun pidato.

Setelah mbak Ueno Juri duduk, panitia membagikan selembar kertas berisi tema pidato yang dapat dipilih, aturan main, dan area untuk menulis catatan terkait pidato. Adapun pilihan tema pidato adalah:
1.  生まれ変わって日本人として暮らすとしたら、どの時代のどんな人に生まれ変わってどんな人生を送りたいですか。
2.  日本の最先端技術により、様々なロボットが開発されていますが、あなたがロボット技術者だったら、どんなロボットを作って、どんな社会貢献をしたいですか。
3.  日本語からわかる『日本人の考え方』を、具体例を挙げて話してください。

Sebenarnya, saya sudah mempersiapkan beberapa naskah dengan berbagai tema. Tapi tidak ada satupun dari yang saya siapkan cocok dengan 3 tema itu. Haha. Jadilah saya memilih tema nomor 3. Dan ternyata 5 menit itu bukan waktu yang panjang. Saya masih harus meneruskan berpikir sampai empat atau lima orang maju, baru setelah itu saya mengangkat tangan. Sebenarnya saya sendiri tidak mengerti mengapa saya mengangkat tangan, wong nyatanya ketika di depan podium saya tidak mengerti apa yang saya bicarakan—seakan-akan saya bicara di luar kesadaran. Saya juga tidak yakin empat orang dewan juri paham apa yang saya sampaikan. Gabungan dari grogi dan terbatasnya perbendaharaan kata rupanya cukup mempengaruhi penampilan sehingga saya tidak mampu mengembangkan poin-poin yang sudah saya tuliskan, dan akhirnya ketika bel berbunyi satu kali saya langsung menutup pidato saya. Setelah mengucapkan kalimat penutup, barulah saya sadar, “ah, itu kan bel tanda 2,5 menit, bukan 3 menit.” Begitulah….

 Seumur-umur baru dua kali pidato dengan bahasa Jepang. Yang pertama saat ujian akhir tingkat Lanjutan I di JF, yang kedua ya ini :|
Dokumentasi: Yessie

Dua belas peserta telah selesai membawakan pidato, kemudian ada hiburan berupa permainan angklung dari Universitas Al Azhar Indonesia yang membawakan tiga buah lagu. Lagu pertama saya tidak tahu apa, lagu kedua adalah Kokoro no tomo, dan lagu ketiga adalah lagu latar kartun Chibi Maruko-chan.

Setelah penampilan angklung selesai, empat dewan juri kembali memasuki ruangan untuk mengumumkan lima pemenang yang memperoleh hadiah berupa wisata gratis ke Jepang selama 7 hari. Pemenang terpilih kebanyakan adalah yang tampil pidato di awal waktu, terdiri dari empat perempuan dan satu laki-laki. Setelah prosesi penyerahan piagam untuk lima pemenang, tujuh peserta lain maju satu per satu untuk menerima hadiah hiburan.

Ini dia hadiah hiburan yang saya terima:

Hadiah hiburan berfungsi untuk menghibur hati yang tidak terhibur
 Kain bergambar tujuh dewa. Mungkin...
Tas ini terlalu unyu kalau saya pakai :"(

Bagi saya, tidak menjadi salah satu dari lima pemenang berarti memang belum rejeki saya. Mudah saja, berarti usaha saya belum maksimal.

Oh iya, berdasarkan penjelasan panitia, rencananya kegiatan lomba pidato Kyoritsu ini akan diadakan lagi tahun depan. Jadi, masih ada waktu satu tahun untuk mempersiapkan diri *kalau saya sih mending buat memperdalam pengetahuan tentang negeri sendiri daripada negeri orang lain *eh**.



041015