Thursday, April 9, 2015

Secangkir Teh Tawar Hangat


Hari saya terbilang sempurna jika sudah ditemani secangkir teh tawar hangat.

Tawar saja. Tanpa gula, tanpa pemanis. Toh hidup juga tidak selalu manis.
Airnya hangat saja, tidak panas, tidak juga dingin. Senyum yang hangat lebih berkesan daripada tawa yang dingin, bukan?
Satu lagi. Tehnya biasa saja, tidak terlalu encer, tidak terlalu pekat. Percaya atau tidak, hidup dalam kepekatan bisa membunuh otak dan tubuhmu perlahan-lahan.
Oh, ternyata ada lagi. Teh celup yang dicelupkan maksimal 30 detik lebih nikmat daripada teh seduh. Kata orang, mencelupkan kepala dalam air maksimal 30 detik juga membuat pikiranmu lebih segar.

Secangkir teh tawar hangat setiap hari tidak akan membuat hidupmu semakin repot. Apa yang repot kalau kamu masih bisa menyeruput teh sambil menghirup aromanya yang—terdengar klise, namun memang inilah faktanya—wangi dan menyegarkan? Apa yang repot kalau kamu masih bisa menikmati indahnya hidup dengan segala pernak-perniknya di depan mata dengan secangkir teh?

Kalau kata ‘tawar’ sudah membuatmu ogah, sebaiknya simak kalimat berikut terlebih dahulu: kamu bisa saja sangat mencari orang yang dahulu sangat kamu hindari.

Teh tawar hangat tidak pernah ada dalam daftar minuman kesukaan saya, sampai sekitar tiga tahun lalu. Ketika itu, saya akhirnya menyadari bahwa bubur ayam adalah menu yang paling pas untuk sarapan: porsinya pas, cukup mengenyangkan untuk mengganjal perut sampai tiba waktu makan siang, namun tidak terlalu berat sehingga tidak membuat mata mengantuk di pagi hari. Dan terima kasih yang paling dalam dan tulus dari saya teruntuk abang-abang penjual bubur ayam di Jakarta yang memberikan teh tawar hangat sebagai pendamping bubur ayam. Gratis pula.

Karena seringnya bubur ayam dan teh tawar hangat mengawali hari saya, saya jadi berubah pikiran. Awalnya, saya selalu beranggapan bahwa teh manis, apalagi ditambah es batu, adalah cara paling jenius untuk minum teh. Perlahan, bagi saya teh tawar hangat adalah teman yang paling menyenangkan, melebihi hadirnya es teh manis saat matahari sedang bersinar terik.

Berpaling dari es teh manis ke teh tawar hangat bukanlah sebuah dosa. Demikian pula, berubah pikiran bukanlah sesuatu yang konyol. Wong yang darinya cinta kemudian berubah menjadi nggak cinta saja lumrah, apalah lagi hanya sekedar masalah teh.

Teh, kabarnya, mengandung antiosidan yang baik untuk kesehatan. Kabarnya juga, teh mengandung tanin alami yang mengurangi penyerapan zat besi sehingga dapat menyebabkan anemia. Mengenai  seabrek manfaat ataupun segunung bahaya teh, saya tidak begitu peduli, apalagi ambil pusing. Buat saya, keberadaan secangkir teh tawar hangat di hari saya sudah sangat cukup.

Secangkir teh tawar hangat. Sesekali, cobalah minum. Memang sedikit pahit di awal, namun segar. Seperti kerikil yang membuat tersandung di tengah jalan, namun justru membuat kita awas.

Lupakan kerikil.

Ini hanya sekedar masalah teh.

















https://id.pinterest.com/pin/327848047848919824/




明日金だ!

Friday, March 6, 2015

Dek, Lagunya Bisa Diganti Ndak?


Pagi ini, dalam rangka mewujudkan tubuh sehat dan bugar, saya memutuskan untuk lari pagi di kampus. Ketika bersiap-siap, saya ditemani oleh lagu mbak Rihanna - Take a Bow, yang disetel oleh salah satu teman kos. Karena kamar saya yang paling dekat dan memang dia memutar dengan volume kencang, saya sangat bisa mendengar lagu tersebut.

Don’t tell me you’re sorry cause you’re not…

Saya keluar kos sekitar pukul 6. Setelah selesai lari sekalian sarapan, saya kembali sekira pukul 7.30. 

Mbak Rihanna masih menyanyi, lagu yang sama.

Saya pergi mandi, cukup lama, bahkan sampai sempat nyanyi-nyanyi juga di kamar mandi.

Ketika saya kembali ke kamar, masih saja mbak Rihanna menyanyi Take a Bow seolah tidak mengenal bosan.

Satu jam berlalu, namun tidak ada lagu lain yang terdengar selain “Don’t tell me a sorry cause you’re not.”

Duh Gusti, mesakne kupingku….

Kenapa seseorang bisa memutar lagu yang sama selama sekian jam? Karena menyenangi liriknya (atau menghayati liriknya, dalam kasus teman kos ini mungkin dia habis putus cinta lantaran dibohongin oleh pacarnya sehingga sangat klik dengan lagu ini), atau lainnya?

Sebuah teori yang disebut sebagai mere exposure effect yang pertama kali diungkapkan oleh Robert Zajonc menyatakan bahwa seseorang semakin menyukai sesuatu setelah berulang kali melihat atau mendengarnya. Dan prinsip inilah yang digunakan dalam industri musik untuk membuat pendengar menyukai sebuah lagu, seperti lagu All About That Bass-nya Tante Meghan Trainor. Lagu dibuat dengan lirik yang repetitif dan sering diputar di manapun: radio, pusat perbelanjaan, atau di Seven Eleven dan Indomaret, sehingga menjadi earworm dan secara tidak sadar jadi bergaung terus di kepala kita.

Repetisi adalah kunci menuju aspek partisipatif dalam musik. Repetisi inilah yang mampu mengubah sebuah frase yang pada awalnya terdengar aneh menjadi terdengar lebih indah dan komunikatif setelah didengarkan kembali. Dalam sebuah karya musik, repetisi pada akhirnya membuat pendengar cenderung tidak tahan untuk tidak ikut menyanyi. 

Jadi, semakin sering mendengar suatu karya musik akan semakin suka, dan karena suka, maka semakin ingin sering mendengarnya. Cukup masuk akal untuk sebuah fakta “memutar satu lagu yang sama selama sekian jam”.

Kembali ke repetisi. Kalau kata Profesor Elizabeth Margulis, penulis buku On Repeat: How Music Plays the Mind, repetisi musikal membuat pikiran kita membayangkan atau menyanyikan bagian yang kita harapkan akan muncul selanjutnya. Inilah yang disebut sebagai partisipasi virtual oleh Profesor Elizabeth. Seiring dengan perkembangan teknologi dalam musik, repetisi menjadi tidak mungkin untuk diacuhkan. Itulah mengapa musik menjadi sangat berarti bagi kita.

Saya ingin menutup tulisan ini (yang merupakan rangkuman artikel dari internet yang dibumbui curhatan gara-gara lagu mbak Rihanna) dengan kalimat dari salah satu artikel di situs aeon.co, “…and the 347 times that iTunes says you have listened to your favourite album isn’t evidence of some pathological compulsion—it’s just a crucial part of how music works its magic.”

Jadi, sampai di sini, tidak ada bukti bahwa teman kos saya memiliki pathological compulsion

Nah, kalau sampai saya tuntas meramban artikel dan menyelesaikan tulisan ini sementara dia tetap memutar lagu Take a Bow, saya jadi cenderung tidak mengindahkan teori-teori di atas dan berpikiran bahwa dia memang habis putus cinta lantaran dibohongin pacarnya. 











Sumber:
Pic http://www.deviantart.com/art/Muusic-160724635

Thursday, January 1, 2015

2015: Untuk Perhatian



Malam pergantian tahun kali ini berlalu dengan sangat biasa, sangat
datar, dan ya benar-benar biasa saja, tidak ada yang istimewa—kalau tidak mau dibilang menyedihkan.

Saya bukan termasuk dalam jajaran kaum bermadzhab
jangan-ikutan-hura-hura-di-
jakarta-night-festival-karena-banyak-mudharatnya—wong pas pergantian tahun 2012-2013 yang lalu, saya adalah satu di antara sekian ribu orang yang memadati bundaran HI dan heboh berfoto ria di sela gerimis waktu itu. Saya juga bukan salah satu pengecam aksi kembang api dengan alasan membakar uang sia-sia, toh saya selalu berhasil jatuh cinta pada nyala kembang api di malam hari—apalagi jika warna dan bentuknya tidak biasa, yang bisa membuat saya selalu tengadah ke langit sembari tersenyum sampai kembang api terakhir diletupkan.

Tadi sepulang kerja, saya membeli majalah Mombi edisi 24 Desember 2014 sebagai bekal di malam pergantian tahun. Sekedar informasi, majalah Mombi adalah majalah kreativitas untuk anak-anak usia 3 sampai 5 tahun. Mungkin ini terdengar sangat tidak elegan: saking kesepiannya di malam tahun baru kau sampai membeli majalah anak-anak! Tapi saya punya krayon di lemari yang jarang saya pakai, gunting yang lebih sering digunakan untuk membuka kemasan plastik makanan, dan double tip yang tak kunjung berkurang panjangnya. Biarlah saya menyapa mereka sejenak, sebelum tiba waktu mereka kembali terlupakan. Lepas maghrib saya mulai mewarnai gambar keluarga Mombi di halaman 10, namun baru mengeluarkan tiga batang krayon, saya berhenti: gambarnya besar, krayon saya bisa cepat habis.
Kemudian saya beralih ke aktivitas gunting-lipat-tempel, yang ternyata menghabiskan waktu dua jam untuk dua karya—faktanya saya hanya menyelesaikan dengan sempurna satu karya yaitu sebentuk buket bunga bertuliskan ‘Happy Mother’s Day’ yang saya berikan untuk teman saya Novi; karya satunya yang berbentuk kuda-kudaan tidak berhasil saya tegakkan sehingga akhirnya saya taruh ia begitu saja di sela-sela halaman Mombi.

Sebenarnya saya punya satu bekal lagi selain majalah Mombi. Tadi saya ingat bahwa saya pernah membeli majalah Intisari edisi Desember 2014 yang sedianya saya habiskan di kereta dalam perjalanan pulang pekan lalu, tapi justru saya tumpuk di antara kertas-kertas tugas bahasa Jepang. Saat saya akhirnya ingat itu, sebenarnya saya berniat akan membacanya seusai mengerjakan aktivitas di majalah Mombi. Namun toh ngobrol ngalor ngidul bersama arek kosan sanggup mengingkarkan saya dari keinginan mengkhatamkan majalah tersebut. Sambil mengunyah Cokoten--merek keripik singkong dengan rasa enak dan kerenyahan pas namun dibungkus dalam kemasan yang kurang ciamik—, kami benar-benar ngobrol ngetan  ngulon. Mulai dari tema mengapa saya membeli Mombi, pernikahan si anu, persiapan pernikahan si itu, kantor baru si ini, humor-tragis antara si situ dengan kecoa, sampai kisah si gini dengan motor bututnya yang berat di sebelah kiri lantaran sering jatuh. Obrolan yang diselingi tawa ini akhirnya hanya bertahan sampai lama-sebelum kembang api ramai dinyalakan.

Dan ketika suara kembang api mulai bersahut-sahutan, saya keluar kamar
dan berdiri di balkon: hei, kembang api itu sesuatu yang cantik. Meskipun bentuknya ya begitu-begitu saja dan tak ada yang meledakkan tulisan 'Happy New Year' atau bentuk hati dan yang lainnya seperti yang sering kita saksikan pada tayangan berita di televisi tentang perayaan tahun baru di berbagai negara keesokan paginya, mereka tetap cantik.

Secantik poster dan MyOneWord yang saya dapat dari getoneword.com ini.
 
Kata UP tersebut, buat saya, banyak artinya. Tapi sederhananya, karena saya suka film Up, film animasi produksi Pixar Animation Studio, dengan tokoh kesayangan tokoh Russel, anak kecil gembul imut ngegemesin berseragam Pramuka dengan selempang penuh badge(saya sampai bingung antara dua pernyataan ini: saya suka Up karena suka Russel, atau saya suka Russel karena suka Up). Yang lebih sederhana lagi, itu sama saja dengan yang sering ditulis di tujuan surat: u.p.. Untuk Perhatian.


Selamat menjalani tahun 2015 dengan sukacita!

Saturday, September 20, 2014

Haruka: Orang Jahat Lebih Baik Mati


Teater, di benak saya, adalah suatu hal yang tidak akan jauh berbeda dari apa yang saya saksikan saat MOS SMA. Saat itu, di tengah lapangan ada beberapa orang yang sebagian berpakaian putih-dari atas sampai bawah- dan sebagian lagi berpakaian hitam. Mereka meliuk-liuk, terkadang berguling, berlari, melompat, sambil membawa kain panjang. Tidak ada percakapan. Hanya teriakan, lolongan, diselingi rapal yang keras. Sampai pertunjukan selesai, saya tak paham apapun. Sejak saat itu, teater di kepala saya adalah sebuah pertunjukan tanpa dialog yang membosankan dan tak akan pernah saya pahami maksudnya.

Namun sekarang saya hampir yakin bahwa definisi teater di kepala saya salah.

Beberapa jam lalu saya menonton pementasan teater berjudul Haruka yang ditampilkan oleh Teater Niyaniya di Hall The Japan Foundation Jakarta.
Sekitar 100 penonton hadir dalam pertunjukan berdurasi sekitar 50 menit yang menjadi bagian dari rangkaian Jak-Japan Matsuri 2014 ini. Sebagian besar penonton bahkan sudah datang sebelum pukul 19.00, padahal pintu masuk baru dibuka pukul 19.30 dan pertunjukan dimulai pukul 20.00. Dengan bantal duduk yang sudah tertata rapi sebelum pertunjukan, penonton dapat duduk berbaris dengan tidak berdempetan dan lebih nyaman. Dan yang paling saya sukai, penonton wajib melepas alas kaki di luar ruangan hall—ini sangat mendukung untuk dapat duduk bersila dengan nyaman.  

Dengan subjudul Orang Jahat Lebih Baik Mati, pertunjukan ini—menurut hitungan saya, terdiri dari lima babak. Kisah dibuka dengan pertarungan dua kelompok laki-laki dengan membawa katana. Kemudian tokoh utama, Haruka, muncul dengan melakukan sebuah kesalahan yang membuat ayahnya marah dan memukuli ia serta ibunya. Tidak tahan dengan perlakuan kasar ayahnya, Haruka meninggalkan rumah. Di suatu tempat, ia bertemu dengan Kamiko, yang setelah mendapat cerita lengkap, berkata bahwa orang jahat lebih baik mati.
Ketika pulang ke rumah, ibu Haruka memberinya sebuah pisau, yang diharapkan dapat berguna untuk menjaga diri. Saat kemudian ayahnya datang untuk kembali marah dan mengatai Haruka sebagai anak tak berguna, Haruka yang masih mengingat perkataan Kamiko dan mendapatkan pisau dari ibunya, akhirnya melakukan sesuatu. Sesuatu yang ia anggap benar.


 Haruka dan Kamiko

Dengan kisah serta konflik yang apik, kemampuan akting yang baik dari para artis, latar musik yang dimainkan secara langsung, pencahayaan yang mendukung, serta ruangan yang tidak terlalu besar sehingga efek audio terdengar baik, saya merasa pertunjukan teater ini menyenangkan dan tidak mengecewakan. Di akhir pertunjukan, tepuk tangan penonton terdengar berkali-kali lipat lebih meriah daripada di awal pertunjukan.

Sekarang, bagi saya, teater ada bukan untuk tidak dipahami.





 

Kamar kos 00.04, 20 September 2014
I do love Yukidaruma by Tegomass!!