Friday, March 6, 2015

Dek, Lagunya Bisa Diganti Ndak?


Pagi ini, dalam rangka mewujudkan tubuh sehat dan bugar, saya memutuskan untuk lari pagi di kampus. Ketika bersiap-siap, saya ditemani oleh lagu mbak Rihanna - Take a Bow, yang disetel oleh salah satu teman kos. Karena kamar saya yang paling dekat dan memang dia memutar dengan volume kencang, saya sangat bisa mendengar lagu tersebut.

Don’t tell me you’re sorry cause you’re not…

Saya keluar kos sekitar pukul 6. Setelah selesai lari sekalian sarapan, saya kembali sekira pukul 7.30. 

Mbak Rihanna masih menyanyi, lagu yang sama.

Saya pergi mandi, cukup lama, bahkan sampai sempat nyanyi-nyanyi juga di kamar mandi.

Ketika saya kembali ke kamar, masih saja mbak Rihanna menyanyi Take a Bow seolah tidak mengenal bosan.

Satu jam berlalu, namun tidak ada lagu lain yang terdengar selain “Don’t tell me a sorry cause you’re not.”

Duh Gusti, mesakne kupingku….

Kenapa seseorang bisa memutar lagu yang sama selama sekian jam? Karena menyenangi liriknya (atau menghayati liriknya, dalam kasus teman kos ini mungkin dia habis putus cinta lantaran dibohongin oleh pacarnya sehingga sangat klik dengan lagu ini), atau lainnya?

Sebuah teori yang disebut sebagai mere exposure effect yang pertama kali diungkapkan oleh Robert Zajonc menyatakan bahwa seseorang semakin menyukai sesuatu setelah berulang kali melihat atau mendengarnya. Dan prinsip inilah yang digunakan dalam industri musik untuk membuat pendengar menyukai sebuah lagu, seperti lagu All About That Bass-nya Tante Meghan Trainor. Lagu dibuat dengan lirik yang repetitif dan sering diputar di manapun: radio, pusat perbelanjaan, atau di Seven Eleven dan Indomaret, sehingga menjadi earworm dan secara tidak sadar jadi bergaung terus di kepala kita.

Repetisi adalah kunci menuju aspek partisipatif dalam musik. Repetisi inilah yang mampu mengubah sebuah frase yang pada awalnya terdengar aneh menjadi terdengar lebih indah dan komunikatif setelah didengarkan kembali. Dalam sebuah karya musik, repetisi pada akhirnya membuat pendengar cenderung tidak tahan untuk tidak ikut menyanyi. 

Jadi, semakin sering mendengar suatu karya musik akan semakin suka, dan karena suka, maka semakin ingin sering mendengarnya. Cukup masuk akal untuk sebuah fakta “memutar satu lagu yang sama selama sekian jam”.

Kembali ke repetisi. Kalau kata Profesor Elizabeth Margulis, penulis buku On Repeat: How Music Plays the Mind, repetisi musikal membuat pikiran kita membayangkan atau menyanyikan bagian yang kita harapkan akan muncul selanjutnya. Inilah yang disebut sebagai partisipasi virtual oleh Profesor Elizabeth. Seiring dengan perkembangan teknologi dalam musik, repetisi menjadi tidak mungkin untuk diacuhkan. Itulah mengapa musik menjadi sangat berarti bagi kita.

Saya ingin menutup tulisan ini (yang merupakan rangkuman artikel dari internet yang dibumbui curhatan gara-gara lagu mbak Rihanna) dengan kalimat dari salah satu artikel di situs aeon.co, “…and the 347 times that iTunes says you have listened to your favourite album isn’t evidence of some pathological compulsion—it’s just a crucial part of how music works its magic.”

Jadi, sampai di sini, tidak ada bukti bahwa teman kos saya memiliki pathological compulsion

Nah, kalau sampai saya tuntas meramban artikel dan menyelesaikan tulisan ini sementara dia tetap memutar lagu Take a Bow, saya jadi cenderung tidak mengindahkan teori-teori di atas dan berpikiran bahwa dia memang habis putus cinta lantaran dibohongin pacarnya. 











Sumber:
Pic http://www.deviantart.com/art/Muusic-160724635

Thursday, January 1, 2015

2015: Untuk Perhatian



Malam pergantian tahun kali ini berlalu dengan sangat biasa, sangat
datar, dan ya benar-benar biasa saja, tidak ada yang istimewa—kalau tidak mau dibilang menyedihkan.

Saya bukan termasuk dalam jajaran kaum bermadzhab
jangan-ikutan-hura-hura-di-
jakarta-night-festival-karena-banyak-mudharatnya—wong pas pergantian tahun 2012-2013 yang lalu, saya adalah satu di antara sekian ribu orang yang memadati bundaran HI dan heboh berfoto ria di sela gerimis waktu itu. Saya juga bukan salah satu pengecam aksi kembang api dengan alasan membakar uang sia-sia, toh saya selalu berhasil jatuh cinta pada nyala kembang api di malam hari—apalagi jika warna dan bentuknya tidak biasa, yang bisa membuat saya selalu tengadah ke langit sembari tersenyum sampai kembang api terakhir diletupkan.

Tadi sepulang kerja, saya membeli majalah Mombi edisi 24 Desember 2014 sebagai bekal di malam pergantian tahun. Sekedar informasi, majalah Mombi adalah majalah kreativitas untuk anak-anak usia 3 sampai 5 tahun. Mungkin ini terdengar sangat tidak elegan: saking kesepiannya di malam tahun baru kau sampai membeli majalah anak-anak! Tapi saya punya krayon di lemari yang jarang saya pakai, gunting yang lebih sering digunakan untuk membuka kemasan plastik makanan, dan double tip yang tak kunjung berkurang panjangnya. Biarlah saya menyapa mereka sejenak, sebelum tiba waktu mereka kembali terlupakan. Lepas maghrib saya mulai mewarnai gambar keluarga Mombi di halaman 10, namun baru mengeluarkan tiga batang krayon, saya berhenti: gambarnya besar, krayon saya bisa cepat habis.
Kemudian saya beralih ke aktivitas gunting-lipat-tempel, yang ternyata menghabiskan waktu dua jam untuk dua karya—faktanya saya hanya menyelesaikan dengan sempurna satu karya yaitu sebentuk buket bunga bertuliskan ‘Happy Mother’s Day’ yang saya berikan untuk teman saya Novi; karya satunya yang berbentuk kuda-kudaan tidak berhasil saya tegakkan sehingga akhirnya saya taruh ia begitu saja di sela-sela halaman Mombi.

Sebenarnya saya punya satu bekal lagi selain majalah Mombi. Tadi saya ingat bahwa saya pernah membeli majalah Intisari edisi Desember 2014 yang sedianya saya habiskan di kereta dalam perjalanan pulang pekan lalu, tapi justru saya tumpuk di antara kertas-kertas tugas bahasa Jepang. Saat saya akhirnya ingat itu, sebenarnya saya berniat akan membacanya seusai mengerjakan aktivitas di majalah Mombi. Namun toh ngobrol ngalor ngidul bersama arek kosan sanggup mengingkarkan saya dari keinginan mengkhatamkan majalah tersebut. Sambil mengunyah Cokoten--merek keripik singkong dengan rasa enak dan kerenyahan pas namun dibungkus dalam kemasan yang kurang ciamik—, kami benar-benar ngobrol ngetan  ngulon. Mulai dari tema mengapa saya membeli Mombi, pernikahan si anu, persiapan pernikahan si itu, kantor baru si ini, humor-tragis antara si situ dengan kecoa, sampai kisah si gini dengan motor bututnya yang berat di sebelah kiri lantaran sering jatuh. Obrolan yang diselingi tawa ini akhirnya hanya bertahan sampai lama-sebelum kembang api ramai dinyalakan.

Dan ketika suara kembang api mulai bersahut-sahutan, saya keluar kamar
dan berdiri di balkon: hei, kembang api itu sesuatu yang cantik. Meskipun bentuknya ya begitu-begitu saja dan tak ada yang meledakkan tulisan 'Happy New Year' atau bentuk hati dan yang lainnya seperti yang sering kita saksikan pada tayangan berita di televisi tentang perayaan tahun baru di berbagai negara keesokan paginya, mereka tetap cantik.

Secantik poster dan MyOneWord yang saya dapat dari getoneword.com ini.
 
Kata UP tersebut, buat saya, banyak artinya. Tapi sederhananya, karena saya suka film Up, film animasi produksi Pixar Animation Studio, dengan tokoh kesayangan tokoh Russel, anak kecil gembul imut ngegemesin berseragam Pramuka dengan selempang penuh badge(saya sampai bingung antara dua pernyataan ini: saya suka Up karena suka Russel, atau saya suka Russel karena suka Up). Yang lebih sederhana lagi, itu sama saja dengan yang sering ditulis di tujuan surat: u.p.. Untuk Perhatian.


Selamat menjalani tahun 2015 dengan sukacita!

Saturday, September 20, 2014

Haruka: Orang Jahat Lebih Baik Mati


Teater, di benak saya, adalah suatu hal yang tidak akan jauh berbeda dari apa yang saya saksikan saat MOS SMA. Saat itu, di tengah lapangan ada beberapa orang yang sebagian berpakaian putih-dari atas sampai bawah- dan sebagian lagi berpakaian hitam. Mereka meliuk-liuk, terkadang berguling, berlari, melompat, sambil membawa kain panjang. Tidak ada percakapan. Hanya teriakan, lolongan, diselingi rapal yang keras. Sampai pertunjukan selesai, saya tak paham apapun. Sejak saat itu, teater di kepala saya adalah sebuah pertunjukan tanpa dialog yang membosankan dan tak akan pernah saya pahami maksudnya.

Namun sekarang saya hampir yakin bahwa definisi teater di kepala saya salah.

Beberapa jam lalu saya menonton pementasan teater berjudul Haruka yang ditampilkan oleh Teater Niyaniya di Hall The Japan Foundation Jakarta.
Sekitar 100 penonton hadir dalam pertunjukan berdurasi sekitar 50 menit yang menjadi bagian dari rangkaian Jak-Japan Matsuri 2014 ini. Sebagian besar penonton bahkan sudah datang sebelum pukul 19.00, padahal pintu masuk baru dibuka pukul 19.30 dan pertunjukan dimulai pukul 20.00. Dengan bantal duduk yang sudah tertata rapi sebelum pertunjukan, penonton dapat duduk berbaris dengan tidak berdempetan dan lebih nyaman. Dan yang paling saya sukai, penonton wajib melepas alas kaki di luar ruangan hall—ini sangat mendukung untuk dapat duduk bersila dengan nyaman.  

Dengan subjudul Orang Jahat Lebih Baik Mati, pertunjukan ini—menurut hitungan saya, terdiri dari lima babak. Kisah dibuka dengan pertarungan dua kelompok laki-laki dengan membawa katana. Kemudian tokoh utama, Haruka, muncul dengan melakukan sebuah kesalahan yang membuat ayahnya marah dan memukuli ia serta ibunya. Tidak tahan dengan perlakuan kasar ayahnya, Haruka meninggalkan rumah. Di suatu tempat, ia bertemu dengan Kamiko, yang setelah mendapat cerita lengkap, berkata bahwa orang jahat lebih baik mati.
Ketika pulang ke rumah, ibu Haruka memberinya sebuah pisau, yang diharapkan dapat berguna untuk menjaga diri. Saat kemudian ayahnya datang untuk kembali marah dan mengatai Haruka sebagai anak tak berguna, Haruka yang masih mengingat perkataan Kamiko dan mendapatkan pisau dari ibunya, akhirnya melakukan sesuatu. Sesuatu yang ia anggap benar.


 Haruka dan Kamiko

Dengan kisah serta konflik yang apik, kemampuan akting yang baik dari para artis, latar musik yang dimainkan secara langsung, pencahayaan yang mendukung, serta ruangan yang tidak terlalu besar sehingga efek audio terdengar baik, saya merasa pertunjukan teater ini menyenangkan dan tidak mengecewakan. Di akhir pertunjukan, tepuk tangan penonton terdengar berkali-kali lipat lebih meriah daripada di awal pertunjukan.

Sekarang, bagi saya, teater ada bukan untuk tidak dipahami.





 

Kamar kos 00.04, 20 September 2014
I do love Yukidaruma by Tegomass!!


Saturday, August 23, 2014

Of Mice and Men di Sabtu Pagi


Sabtu pagi saya hari ini berbeda dari Sabtu-Sabtu saya yang lalu. Biasanya kalau sedang malas sekali, saya masih meneruskan tidur, atau kalau sedang rajin, saya sudah pegang buku bahasa Jepang sambil sedia kamus, atau kalau sedang rajin sekali, saya sudah berada di tempat lain—bukan di kamar kos. Tapi Sabtu saya kali ini tidak demikian. Saya tidak tidur, tidak pegang buku bahasa Jepang dan kamus, dan masih di kamar kos.

Pagi ini mata saya sudah basah, sudah mbrebes mili. Padahal masih sekitar pukul 9 pagi. Saya sampai merasa cengeng sekali. Apalagi sebab saya mbrebes mili itu adalah sebuah novel. Judulnya Of Mice and Men, karya John Steinbeck. Novel terjemahan terbitan Ufuk Press itu sampai di tangan saya hari Rabu lalu, namun baru saya baca hari Jumat malam—cuma baca satu bab saja waktu itu, kemudian saya tertidur. 

Selain harganya yang amat murah—diskon sekian puluh persen di bukabuku.com sampai harganya hanya sekitar Rp 13.000, saya tertarik membelinya karena sinopsis di bawah identitas buku di situs bukabuku.com.

Begini sinopsisnya:
George yang bertubuh kecil dan Lennie yang jauh lebih besar dan dungu adalah sepasang pengelana. Mereka tak punya apa-apa di dunia ini selain diri mereka sendiri dan sebuah impian. Mereka bermimpi memiliki sebidang tanah sehingga bisa hidup dengan damai. Mereka pun mencari pekerjaan di sebuah peternakan di Kalifornia, dengan harapan akan tinggal cukup lama di sana dan mengumpulkan uang bersama. Tetapi, Lennie, yang baik hati dan bersifat kekanakan, sering mendapat masalah. Ia tak mampu mengendalikan diri, baik emosi maupun kekuatan luar biasa. Ia pun menjadi sasaran kekejaman orang lain. Ketika suatu hari ia mendapat masalah besar lagi, tampaknya George tak akan dapat menyelamatkan sahabat sejatinya seperti sebelumnya. Bagaimanakah akhir petualangan mereka, akankah mereka terpisah?
Of Mice and Men merupakan salah satu buku karya John Steinback yang terkenal dan paling populer.

Membaca sinopsis itu saja, saya sudah ingin membeli novel ini. Namun saya tidak mau tergoda begitu saja dengan kalimat terakhir di atas, meskipun itu juga cukup untuk menjadi sebuah jaminan: Of Mice and Men merupakan salah satu buku karya John Steinback yang terkenal dan paling populer. Saya mencari tahu tentang buku ini, tentu saja dengan bantuan Google. Informasi yang muncul di sana kemudian semakin memperkuat keyakinan saya bahwa buku ini harus saya beli: ia sudah diterjemahkan ke banyak bahasa dan sekian kali cetak ulang, serta sudah pula diangkat ke film.

Ketika novel itu pada akhirnya ada di depan saya, sebaris tulisan di bagian bawah sampul depan semakin membuat saya penasaran. Ia berbunyi demikian: salah satu novel klasik terbaik sepanjang masa.

Jalinan kisahnya sungguh sangat sederhana, namun diceritakan dengan rapi dan baik. Hanya berpusat tentang dua orang laki-laki. Persis seperti sinopsisnya. Namun penggambaran George yang—menurut pengakuannya sendiri—tidak terlalu cerdas, tetapi sangat peduli pada teman perjalanannya, Lennie, yang sedemikian dungu dan sangat polos—ia selalu hanya ingin diizinkan memelihara kelinci—membuat saya semakin jatuh hati pada novel ini. Tokohnya tidak banyak, latar tempatnya pun begitu. Pendeknya, tidak perlu berpikir keras mengingat-ingat nama tokoh dan lokasi.

Dialog-dialog yang sederhana namun sangat indah juga sangat memikat. Lennie begitu senang mendengar kisah yang diceritakan George berulang-ulang sampai ia hafal—Lennie sungguh dungu, ia sering melupakan peristiwa namun ia sering ingat perkataan George.
Lennie merasa senang. “Itu dia, itu dia. Sekarang katakan bagaimana tentang kita sendiri.”
George melanjutkan. “Kita tidak seperti itu. Kita punya masa depan. Kita punya seseorang yang dapat kita ajak bicara yang sangat memperhatikan kita. Kita tidak perlu duduk di bar menghabiskan uang kita karena kita tak punya tujuan pulang. Jika orang lain masuk penjara, tak ada yang membesuk mereka karena tidak ada yang peduli. Kita tidak seperti itu.”
Lennie menyela. “Tetapi kita tidak seperti itu! Mengapa begitu. Karena…karena aku punya kau yang selalu menjagaku, dan kau punya aku yang selalu menjagamu, yah…itulah sebabnya.” Lalu, ia tertawa gembira. “Lanjutkan, George!”
“Kau telah hafal. Kau bisa melakukannya sendiri.”
“Tidak, kau saja. Aku lupa beberapa bagiannya. Ceritakan saja apa yang akan terjadi.”

Akhir kisah yang mengejutkan juga patut menjadi poin lebih untuk novel ini. Akhir kisah perjalanan George dan Lennie inilah yang mempermainkan emosi saya, mengaduk-aduk perasaan saya, dan berhasil membuat saya mbrebes mili pagi-pagi. Siapa yang tega membayangkan seorang Lennie, yang terus menerus bertanya, “Kau tidak akan meninggalkanku, kan, George?”; mengancam “Aku akan pergi ke bukit dan mencari sebuah goa jika kau tidak menginginkan aku.”; atau merengek “Ayo kita lakukan itu sekarang. Ayo kita ambil tempat iitu sekarang.”, pada akhirnya harus bertanggung jawab atas suatu perbuatan yang ia lakukan begitu saja tanpa niat. Setelah sampai di halaman terakhir, saya masih bisa membayangkan sesuatu yang sampai kapan pun tetap menjadi idaman mereka berdua, yaitu sebuah rumah kecil, seekor sapi, dan beberapa ekor ayam—di tanah itu mereka akan punya sebidang kecil padang rumput alfalfa untuk kelinci-kelinci yang akan diurus oleh Lennie atas permintaannya sendiri, dan mereka akan hidup di atas tanah yang subur.

Ah, saya tidak merasa rugi menghabiskan Sabtu pagi saya dengan Of Mice and Men ini. 



230814.
Kamar kos. Ruang tengah berisik sekali, rupanya karena teman kos sedang menonton Super Junior yang tampil di HUT RCTI.

Friday, June 20, 2014

Kartu Pos yang Tak Juga Sampai




Kisah ini diceritakan oleh kakak beberapa tahun silam.

Saat itu aku masih tersengguk-sengguk, kelelahan menangis sebab diikat di sebuah tiang di lantai-dua rumah. Aku terlambat pulang sekolah tanpa izin kepada ibu terlebih dulu, jadi inilah hadiah dari ibu.
Kakak, yang jatuh kasihan padaku namun tidak punya kuasa untuk membebaskanku dari hukuman, duduk di sampingku. Cuaca sangat panas saat itu. Apalagi atap rumah kami terbuat dari seng sehingga suhu di dalam rumah mampu membuat baju basah oleh keringat. Sesekali kakak meniup wajahku.

"Kamu tahu bagaimana bentuk barisan semut yang berjalan?" Tanya kakak tiba-tiba.
Aku mencerna kata-katanya sambil sesenggukan beberapa kali. Sungguh, tersedu seperti ini adalah cara menangis yang paling kubenci sebab aku susah bernafas karenanya.
"Lurus. Satu-satu. Kayak... orang... baris." Jawabku patah-patah.
Kakakku tersenyum. "Kamu tahu kenapa bisa begitu?"
Aku menatap mata kakakku agak lama, "antre?"
Kakak menggeleng.
"Mmm…" Aku ikut menggeleng.
"Mau dengar cerita kakak?"
Aku diam saja.
"Kisah ini diceritakan oleh kakek. Dan kakek bilang, kakek cuma cerita pada kakak. Jadi ini kisah yang langka." 
"Waktu kakek masih hidup?"
Kakak mengangguk. Sekali lagi ia meniup wajahku.
"Mau?"
Aku mengangguk sambil tetap bernafas satu-satu.

*
Sejak dahulu, bangsa semut memang memiliki tradisi berjalan dengan cara berbaris. Satu-satu. Sebagai sebuah tradisi, memang begitulah yang diajarkan oleh induk kepada anak-anaknya turun-temurun sampai beberapa generasi.
Pada generasi kesekian, seekor semut memiliki cara pandang lain terhadap tradisi mereka.
"Berjalan satu-satu begini, bukan berdampingan dua-dua atau berkelompok, sesungguhnya lebih dari sebuah tradisi. Menurutku ia lebih hebat dari itu." Katanya di depan banyak semut dalam koloninya.
"Bagaimana maksudmu?" tanya seekor semut lain.
"Dengan aku berjalan di belakangmu, aku bisa menjagamu. Apapun, sesuatu yang buruk misalnya, bisa datang dari arah manapun kan? Tapi kau tak memiliki daya untuk mengetahui yang ada di belakangmu. Di situ keberadaanku bisa berguna. Setidaknya kamu tidak akan terkena sesuatu atau apapun itu dari belakang, karena ada aku di situ." Semut-semut lain mengangguk-angguk.
"Pun dengan ada di belakang, jangkauan penglihatanku menjadi lebih luas dibandingkan denganmu. Aku bisa melihat medan lebih lebar." Ia berhenti sejenak, "dan yang jelas, aku bisa selalu melihatmu."
Semut-semut bertepuk tangan. Nampaknya mereka setuju dengan nilai lebih dari apa yang selama ini mereka sebut sebagai tradisi.

Seorang tukang kaca sibuk menurunkan kaca dari gerobak ke lantai. Saking cepatnya ia bekerja, ia tak melihat lantai sedikitpun. Yang ia jaga hanyalah supaya kacanya tidak pecah.
Ia bekerja cepat namun hati-hati. Pun demikian, lantaran ia tak melihat lantai dengan saksama, tanpa sadar ia telah memotong barisan serombongan semut. Si tukang kaca meletakkan kacanya di antara semut-semut.
  
"Hei!" Seekor semut berteriak kaget. Jalan di depannya tiba-tiba terhalang sesuatu yang tembus pandang—ia masih bisa melihat teman-teman di depannya yang berjalan menjauhimya.
"Aku mau lewat!" Ia berteriak. Tidak ada celah yang cukup untuk menyelinap. Benda tembus pandang di depannya seperti sudah menempel pada lantai.
Ia mendongak. Benda itu tinggi sekali.
"Lebih baik aku mengambil jalan memutar," pikirnya.
Tampak di depan matanya, teman-temannya sudah semakin jauh. Semut terakhir di barisan itu sudah jauh, ia tak berani membayangkan sudah sampai di mana semut ketua di ujung depan.
"Ini tidak akan terjadi kalau aku berjalan di samping semut terakhir itu. 
Kalau di belakang, pandanganku memang lebih luas. Tapi bukankah kalau berjalan di sampingnya kami bisa memiliki jangkauan pandangan yang sama? Kalau di belakang, aku bisa melindunginya dari bahaya dari arah belakang terlebih dulu. Tapi bukankah kalau aku berjalan di sampingnya, kami bisa menghadapi semuanya bersama? Kalau aku berjalan di sampingnya, aku tidak perlu berdiri di sini sekarang dan berjalan memutar sendirian demi menyusul teman-teman. 
Nanti akan kusampaikan pada teman-teman bahwa tradisi berjalan berbaris ini tidak menguntungkan. Ia tak lebih sebagai sebuah tradisi, tidak ada nilai lebihnya."
Semut tersebut mulai berjalan menyusuri kaca, sendirian.

Tukang kaca meletakkan kaca terakhirnya di lantai. Tugasnya telah selesai, semua kaca di gerobaknya telah ia pindahkan. Namun ia tidak sadar bahwa kaca terakhirnya telah menimpa seekor semut yang sedang berjalan sendiri. Ia hanya melihat serombongan semut terus berjalan berbaris ke arah meja di teras rumah. Ada sepiring putu—dengan gula merah yang meleleh keluar—di sana.

*
“Bagaimana ceritanya?”
Aku sudah cukup tenang. Tangisku sudah reda, keringatku sudah kering. Sejak tadi kakak tak henti meniup wajahku di sela-sela ceritanya.
"Semut. Bagus." jawabku sambil tersenyum.

Kepala ibu muncul dari balik tangga. Tanpa berkata apapun, ia mendekatiku, menyuruh kakak agak menjauh, lalu melepas ikatan tali di tanganku.

Aku menghambur ke pelukan kakak. Aku memaksa ia menunduk. Lantas aku menelungkupkan telapak tanganku di telinga kanannya, berbisik, "aku ingin dengar cerita-cerita kakek lainnya."




Dikawani Sayonara ni Sayonara, beberapa menit setelah menonton JKT48 dengan River-nya di televisi. 
Kartu pos untukku tak juga sampai, meski ada dua lembar prangko 2500 rupiah yang ditempel. Di mana mereka?
19 Juni 2014
pic http://www.deviantart.com/art/ants-55311047