Thursday, January 30, 2014

Atticus dan Radley pada Suatu Sore


“Aku suka Atticus. Ini kalimat yang pernah ia ucapkan yang kemudian menjadi favoritku: "Bukankan kau suka berkhayal? Pura-pura saja kau berada di rumah Radley."”

“Siapa Atticus? Pacarmu? Dan siapa Radley? ”

“Lihatlah langit di sebelah sana. Gelap sekali. Sepertinya sebentar lagi hujan turun dengan deras di sana. Rumahmu ada di arah sana kan? Sebaiknya nanti kau pulang membawa payung dan mantel yang selalu kau simpan di lacimu.”

“Aku merasa sangat keren kalau hujan-hujanan. Apalagi kalau setelahnya aku tidak terkena flu atau demam.”

Aku kembali pada buku di tanganku. Aku sadar sepenuh hati bahwa membaca buku memerlukan tempat dan waktu yang tepat: tak boleh ada yang ngobrol di dekatku. Otakku secara otomatis akan menyuruh telingaku untuk menguping, ketimbang fokus melanjutkan bacaan. Dan tentu saja tak boleh ada yang mengajakku ngobrol. Bisa-bisa aku membaca satu paragraf yang sama sampai lima kali.

Seperti kali ini. Ia berbicara lagi.

“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa Atticus?”

Aku mengulang bacaanku ke kalimat pertama.

“Apakah dia pacarmu?”

Kuhentikan bacaanku.

“Kenapa kau tak memperkenalkannya padaku?”

Mataku mundur, membaca beberapa kata terakhir di kalimat pertama.

“Dan siapa Radley?”

Kuhembuskan nafas, agak keras. Aku menutup buku dan memasukkannya ke tas.

“Mendung. Aku mau pulang.” Aku pergi dengan langkah cepat.

Buru-buru ia memberesi gawainya—ia punya empat buah dan semuanya selalu ia bawa kemanapun— dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian menyusulku .

Aku suka berkhayal. Dan sekarang aku berpura-pura melihatnya sedang hujan-hujanan. Tanpa payung, tanpa mantel. Dia keren sekali.













Hey, lusa sudah bulan baru.
もっと 頑張りましょうよ!
300114
pic 

Tuesday, November 19, 2013

Kampung Betawi yang Kurang Betawi


Kampung Betawi | 16-17 Nov | Kawasan Kota Tua ow.ly/qQuDX #jktevent

Berbekal twit @infojakarta pada beberapa hari lalu itu, saya memutuskan untuk mengisi akhir pekan saya dengan mengunjungi kawasan Kota Tua. Atau lebih tepatnya, dengan mengunjungi Kampung Betawi di kawasan Kota Tua. Yang paling saya incar memang embel-embel 'Kampung Betawi'-nya, karena banyak yang masih ingin saya ketahui dari Betawi.

Turun di Halte Transjakarta Stasiun Kota, saya, bersama kawan saya Novi, jalan kaki sedikit ke arah Kota Tua, melewati Museum Mandiri dan Museum Bank Indonesia. Di gerbang selatang kawasan Kota Tua ini, kami disambut spanduk bertuliskan Kampung Betawi, yang membuat saya yakin saya menjejakkan kaki di tempat yang sesuai dengan harapan saya.

Dari gerbang selatan, sampai Cafe Batavia, tidak ada banyak perbedaan suasana dengan Kota Tua pada akhir pekan lainnya. Hanya keberadaan sebuah panggung kosong di sebelah barat Cafe Batavia dengan backdrop bertuliskan Kampung Betawi dan pelataran Museum Sejarah Jakarta yang ditutup melingkar dengan seng hijau yang membuat pemandangan berbeda. kami memutari pagar seng dan sampai di pelataran depan kantor pos. Tetap saja tidak ada yang berbeda. 

Tidak ada tanda-tanda keberadaan sebuah Kampung Betawi di Kota Tua.

Akhirnya kami memutuskan untuk makan pecel yang penjualnya bertebaran di depan Museum Wayang. Ini berarti kami harus kembali lagi mengitari pagar seng.

Sampai di depan panggung, saya melihat ada terop di kawasan depan rumah akar--sebuah rumah tua yang dindingnya dipenuhi akar tumbuhan. Saya pikir mungkin itulah lokasinya, jadi kami menuju ke sana.

Di sepanjang jalan tersebut, selain ada terop dengan banyak meja--tapi banyak yang kosong, ada juga beberapa booth berbentuk tenda. Di antaranya adalah booth dari Taman Arkeologi Onrust, Museum Wayang, Museum Tekstil, Museum Sejarah Jakarta, dan Sudin Kebudayaan Kota Administratif  Jakarta Barat. 



Di depan booth Museum Wayang, ada dua orang bapak-bapak tengah sibuk membuat sesuatu dengan memegang kerangka dari bambu tipis. Saya mendekat dan bertanya, kemudian mereka menjelaskan bahwa mereka sedang membuat wayang janur. Ketika saya bertanya bolehkah saya ikut membuat dan diperbolehkan, akhirnya saya mendudukkan diri di atas tikar yang sudah disediakan. Saya meneruskan membuat wayang--yang sebelumnya sudah mereka buat seperempat jadi--dengan membelit-belitkan janur pada kerangka yang ada.

Menurut penjelasan mereka--ah, saya lupa bertanya nama dua orang itu--, wayang yang saya buat itu adalah wayang Bima. Sedangkan janur yang digunakan, bukan janur segar yang masih berwarna hijau, melainkan sudah direbus dahulu sekitar setengah jam, dijemur, kemudian dipotong-potong lebarnya sesuai yang diperlukan.

"Kalau mampir ke Museum Wayang bisa juga bikin beginian, mbak. Tapi kalau di sana bayar 15 ribu. Nah kalau ada acara-acara begini, baru gratis." Saya mengangguk-angguk sambil bertanya dalam hati kenapa dulu saya tidak menemukan aktivitas membuat wayang janur ketika saya berkunjung ke Museum Wayang.

Ketika saya membuat wayang itu, lama-lama booth Museum Wayang menjadi ramai. Banyak yang kemudian ikut duduk di tikar, membelit-belitkan janur pada kerangka bambu. Dengan bantuan bapak-bapak itu, akhirnya wayang Bima saya berhasil selesai dalam waktu sekitar 15 menit.

Seusai mendapatkan wayang yang kemudian saya tenteng-tenteng dengan bangga itu, saya kemudian mampir ke booth Museum Tekstil yang terletak di sebelah booth Museum Wayang. Ada kain putih dengan corak batik yang belum selesai, beberapa canting, dan pemanas listrik berisi lilin. Setelah menunggu agak lama, petugas Museum Tekstil muncul dan langsung kami 'todong' untuk mengajari kami membatik. Kami diberi selembar kain putih berukuran persegi yang sudah digambari motif berberntuk bunga. Kain tersebut kemudian dipasang di alat berbentuk lingkaran yang biasa digunakan untuk menyulam--apa sih ya namanya >.<. Setelah lilin dipanaskan, barulah kami mulai membatik. 

Beda tangan memang beda hasil. Punya kami berantakan sekali, ketebalan lilinnya tidak rata. Sementara batik milik petugas tadi jadinya bagus dan rapi :(. Menurut salah satu petugas, di Museum Tekstil ada program membatik. Untuk pengunjung yang ingin ikut dalam sekali kunjungan, biayanya 40 ribu. Sedangkan untuk yang ingin belajar lebih intensif, ada juga program khusus dengan beberapa kali tatap muka. Keterangan lebih lanjut dapat ditanyakan ke pihak Museum Tekstil :).

Setelah itu, kami bermaksud melihat Toko Merah. Tetapi mata kami rupanya lebih tertarik pada apa yang ada di belokan sebelah kanan setelah rumah akar--Toko Merah ada di belokan sebelah kiri. Di ujung jalan, terpasang sebuah panggung yang lebih besar daripada panggung di depan Cafe Batavia. Di depannya berjejer banyak kursi tamu, dan ada tiga set rumah tradisional Betawi yang berdiri tegak. Saya tidak tahu persis apakah memang set rumah Betawi ini permanen atau dipasang khusus untuk acara ini saja.

Di atas panggung tadi ada sekelompok orang berpakaian tradisional Betawi tengah memainkan sebuah lagu dengan seperangkat alat musik khas Betawi. Banyak orang menonton sambil duduk di trotoar, kursi tamu, maupun berdiri saja.

Puas berjalan-jalan, kami bermaksud langsung kembali ke kos. Namun ketika lewat depan Museum Wayang, terdengar suara dari arah lapangan depan kantor pos. Beberapa yang dapat saya tangkap adalah, "...akan segera dimulai." Penasaran, saya pun menuju ke sana.

Ternyata sudah banyak orang yang berkumpul di lapangan, membentuk lingkaran, menyisakan area kosong di tengah dan menampakkan beberapa set gubuk dan tanaman-tanaman. Saya edarkan pandangan, dan baru saya sadari maksud dari spanduk di ujung Museum Sejarah Jakarta yang kira-kira bertuliskan: "Rekonstruksi Penyerangan Sultan Agung Banten Tahun 1628-1629." Didukung oleh puluhan pemain teater berpakaian ala pribumi dan kompeni, rekonstruksi sejarah itu berlangsung di bawah gerimis langit Jakarta. 


Satu yang saya sayangkan dari rekonstruksi ini. Pemain harus mengkaver sedemikian luas area terbuka tanpa pengeras suara. Saya yang berjarak sekitar tujuh meter sudah tidak dapat mendengar lagi dialog mereka--padahal mereka sudah berteriak-teriak. Saya menyerah, dan memutuskan untuk pulang.



Membawa pulang sebuah wayang Bima dari janur, sudah mencoba membatik, dan mendapatkan sebuah buku bergambar tentang Peter Elbervert serta stiker dari Museum Sejarah Jakarta tidak serta-merta membuat saya senang dengan perjalanan saya kali ini. 

Kampung Betawi, yang ingin saya kunjungi, hanya bisa saya temukan berupa set rumah tradisional, pemain beserta alat musik tradisional, dan rekonstruksi teater. Kalaupun memang ada kesenian tradisional lain yang ditampilkan, tidak adanya keterangan jadwal acara membuat saya kekurangan informasi. Terop yang sudah dilengkapi meja namun sepi penyewa, mungkin bisa menjadi bukti bahwa tidak banyak pihak yang mengetahui digelarnya acara ini. Sudin Kebudayaan Jakarta Barat, kalau memang berniat membuat  sebuah acara bertitel Kampung Betawi di tahun mendatang, dapat lebih bekerja keras untuk menyebarluaskan informasi acara dan merancang apa saja yang akan ditampilkan dalam acara tersebut.



Di dalem berisik banget, 19 Nov 2013


Monday, November 11, 2013

Kota Santri Abad 19: Kota Perdagangan Regional dan Internasional


Judul Buku: Kota Gresik 1896-1916: Sejarah Sosial Budaya dan Ekonomi
Penulis: Oemar Zainuddin
Penerbit: Ruas
Tahun Terbit: April 2010
Tebal Buku: viii + 160 halaman


Ketika disebut kata “Gresik”, sebuah kabupaten di sebelah utara Jawa Timur, mungkin yang langsung muncul dalam pikiran adalah nasi krawu, Sunan Giri, dan Maulana Malik Ibrahim. Saya pun, yang menghirup udara selama delapan belas tahun di sana, mungkin juga akan menyebutkan hal yang sama ketika Gresik disebut. Atau kalau pun bisa menambah sedikit, hanya deretan nama makanan dan kerajinan khas—pudak, otak-otak, jubung, nasi romo, masin, damar kurung, kopiah—yang mampu saya sebutkan.

Namun siapa sangka, pada abad 19-an, Gresik ternyata terkenal akan industri penyamakan kulitnya. Dengan pusat-kisah industri penyamakan kulit, penulis buku ini, Oemar Zainuddin, mengisahkan juga bagaimana kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Gresik pada tahun 1896-1916.

Sebagian wilayah Gresik yang terdiri dari tanah tandus, gersang, dan bukit kapur membuat sektor pertanian tidak dapat berkembang dengan baik. Mayoritas masyarakat Gresik hidup sebagai pengrajin dan pedagang. Profesi ini diuntungkan oleh posisi geografis Gresik yang terletak di pantai utara Jawa sehingga memungkinkan dibangunnya pelabuhan Gresik—yang kemudian menjadi pelabuhan internasional saat itu—atas jasa Sunan Giri, salah satu wali penyebar agama Islam yang bermukim di daerah Giri, Gresik.  

Dalam buku ini digambarkan bagaimana Industri penyamakan kulit yang terletak di Desa Kebungson, Gresik, mulai berkembang pada akhir abad 19 dan mencapai puncaknya pada awal abad 20. Dalam rentang waktu 1896-1916, industri ini telah mampu menyuplai kulit ke 24 daerah di pulau Jawa, di antaranya Batavia, Semarang, Surakarta, dan Malang. Bukti kejayaan para pemilik industri penyamakan kulit di Gresik dapat dilihat di Kampung Kemasan, di mana masih berdiri sebelas rumah megah yang sudah berusia lebih dari seabad.

Hal lain yang juga menarik untuk disimak adalah bagaimana tokoh-tokoh industri penyamakan kulit Kampung Kemasan ikut berperan dalam pelestarian kebudayaan Gresik. Oemar Zainuddin, yang juga merupakan keturunan ketiga keluarga H. Oemar, saudagar pelopor industri kulit di Kampung Kemasan, menuliskan beberapa kesenian dan budaya yang sering digelar keluarga H. Oemar, yaitu Pencak Macan, Tradisi Jomblang, Tradisi Bedug Teter, Tradisi Tayung Raci Sidayu, dan Tradisi Mulutan. Keunikan tiap tradisi digambarkan dengan cukup jelas dalam buku ini.

Dilengkapi dengan foto surat, iklan, nota dagang, dan dokumen lawas yang disimpan dengan baik oleh keluarga H. Oemar, penulis cukup dapat menceritakan peran dan perkembangan industri penyamakan kulit di Gresik. Hal yang disayangkan adalah tidak adanya subbab dalam buku ini, sehingga pembahasan tiap bab, meskipun masih dalam kerangka judul bab, agak kurang tertata penceritaannya dan terasa melebar.

Di tengah sulitnya mencari referensi tentang sejarah kota Gresik, buku ini mampu mengisahkan apa yang terjadi di kota tersebut pada tahun 1896-1916. Termasuk memberi pengetahuan bahwa pusat kota Gresik pada saat itu ada di wilayah Kelurahan Bedilan, Pekelingan, Pulau Pancikan, Gapura Sukolilo, Karangpoh, dan Kroman—beberapa di antaranya bahkan baru saya ketahui saat membaca buku ini. 

Dengan buku ini, selamat datang di Gresik Kota Santri!


11 11 13
Wanna go home right now. And happy birthday, Tegoshi Yuya!

Thursday, October 24, 2013

Tips Menulis ala Ahmad Fuadi


Kemarin pagi, meskipun terlambat satu jam, saya akhirnya bisa menghadiri acara Bedah Buku Trilogi Negeri 5 Menara yang diadakan oleh Perpustakaan BKF, Kementerian Keuangan. Acara bedah buku ini menghadirkan langsung Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara.

Sekali lagi, Ahmad Fuadi.

Bukan Anwar Fuadi.

….

Meskipun banyak yang dikisahkan oleh Bang Fuadi,—panggilan akrab Ahmad Fuadi—antara lain tentang mimpi, pengalaman, dan karakter, kali ini saya hanya akan berbagi tentang tips menulis yang diberikan oleh beliau.

Ada empat tips yang diberikan oleh bang Fuadi:

1.       Why
Kenapa kita menulis? Apa alasan yang membuat kita memutuskan menulis?
Semakin kuat alasan itu ada di pikiran kita, tulisan yang dihasilkan akan semakin mempunyai ‘hati’.
Bang Fuadi sendiri berkisah demikian: ketika masih nyantri di Gontor, orang tuanya meninggal dan menyebabkan terjadinya perubahan pada banyak hal—termasuk kiriman uang untuk biaya hidup. Sempat berjualan pakaian untuk memperoleh uang, ia akhirnya mencoba menulis, mengirimkan tulisannya ke media cetak, dan ternyata segalanya berawal dari sana. Jawaban dari ‘why’ versi bang Fuadi adalah: menulis untuk memperoleh uang.

2.       What
Apa yang ingin kita tuliskan?
Tips dari bang Fuadi, agar lebih mudah sebaiknya kita menuliskan hal yang paling kita mengerti dan kita sukai. Atau kata bang Fuadi: sesuatu yang kalau kita cerita bisa tiga hari tanpa henti dan tanpa bosan—palingan yang bosan ya pendengarnya.
Dan inilah yang membuat bang Fuadi bisa berkisah tanpa henti selama tiga hari: pengalamannya belajar di pondok pesantren. Karena menurutnya pengalaman itu sangat berharga, berkesan, dan penuh dengan nilai positif.

3.       How
Bagaimana kita menuliskannya?
Ini lebih ke teknis penulisan sih. Bang Fuadi sendiri menyarankan agar lebih banyak membaca buku how-to tentang menulis.

4.       When
Kapan kita menulis? Apakah kita ingin menyampaikan apa yang ingin kita tuliskan saat ini? Atau minggu depan? Atau mungkin bertahun-tahun lagi?
Dan sesungguhnya inilah bagian yang paling susah (iya, ini menurut saya aja)—karena menyangkut komitmen dan kedisiplinan dalam menulis.
Tapi kata bang Fuadi, menulis itu mudah. Karena modalnya hanya pena dan kertas. Lalu mulailah menulis.

Semoga empat tips di atas membantu memudahkan proses menulis.
Selamat menulis :)















In silence, 241013
Ayo menulis, Wahyu! *getok kepala sendiri

Monday, September 16, 2013

Genius at Faking Smiles

Ternyata aku memiliki saudara kembar, dan hal itu baru kuketahui beberapa bulan setelah aku masuk SD. Saat itu aku sedang sendirian di teras, menghitung kelopak bunga melati yang kupetik dari pohon di depan rumah. Tiba-tiba saja ia sudah ada di hadapanku dan memandangku sampai aku merasa bahwa aku sedang berada di depan cermin.

Kami memiliki wajah, tinggi badan, bentuk tubuh, dan tanda lahir yang sama. Aku punya tahi lalat di telapak tangan dan di bahu, dan dia juga memilikinya. Kami kembar identik. Lebih identik dari saudara kembar manapun.

Tapi kami tidak lahir dari ibu yang sama. Orang yang kupanggil ibu adalah seorang wanita dengan kulit kuning, tinggi badan sedang, dan wajah cantik. Sedangkan ia, kembaranku, memanggil ibu kepada seorang wanita yang berkulit agak gelap dan berwajah manis. 

Kami lahir di jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun yang sama. Senin pahing pukul 09.59. Namun karena ibu kami berbeda, kami lahir di rumah sakit yang berbeda. Atau mungkin kembaranku bahkan tidak lahir di rumah sakit. Bisa jadi ibunya melahirkannya di tempat praktik seorang bidan di dekat rumahnya. Aku tak pernah bertanya tentang ini kepadanya, tapi sekali waktu ibuku pernah bercerita padaku bahwa pada Senin pahing itu, hanya ia yang melahirkan di rumah sakit itu. Tidak ada ibu-ibu lainnya.

Kami memiliki kebiasaan dan karakter yang sama. Kami mudah disenangkan oleh hal-hal sederhana dan mungkin terlihat bodoh bagi orang lain, seperti stiker, kertas surat, amplop, dan kartu dengan gambar dan bentuk unik; replika bendera negara-negara di dunia; prangko berseri; dan semangka. Ketika ada lelaki yang dekat dengan kami, kami mudah jatuh cinta—dan kami selalu jatuh cinta pada lelaki yang sama—, namun sulit untuk bangun lagi meskipun kami tahu lelaki itu tidak mencintai salah satu dari kami. Dan bagi kami berdua, mal adalah tempat yang menyebalkan. Kami sepakat tentang hal tersebut dan tidak pernah pergi ke mal manapun dalam tiga bulan terakhir.

--

Kemarin, setelah berpisah cukup lama, kami bertemu di pesta seorang teman. Baik temanku maupun temannya tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa kami adalah kembar identik. Hanya kami berdua yang mengetahui hal itu, dan tidak ada seorang pun dari kami yang berminat untuk menceritakannya pada orang lain. Karena pasti ada banyak pertanyaan panjang yang sama dan membosankan dari semua orang.

Kami kembar identik. Tapi karena dibesarkan oleh ibu yang berbeda, ada satu hal yang membuat kami tidak tampak identik. Celana kargo dan jaket adalah segalanya untukku. Namun baginya, ia tak pantas keluar rumah tanpa rok, bedak, dan pemerah bibir.

Tapi selain pakaian, sebenarnya sejak dulu aku merasa kami memiliki satu lagi perbedaan. Dan kemarin, setelah melihat lekat-lekat, aku mengerti apa yang membuat kami tidak tampak identik: senyumnya palsu.

















Pic from http://www.deviantart.com/art/MMD-NJXA-Purple-twin-tie-with-crown-Download-334571581

Yes, I think i'm genius at faking smiles.
160913

Thursday, August 15, 2013

Lebaran: A.B.C-Z

Bukan tentang jumlah pesan masuk dengan isi hampir sama yang jumlahnya menurun lantaran lebih banyak yang ‘lempar’ pesan di grup. Bukan juga tentang ketupat dan opor yang tidak ada di meja makan di rumah, karena memang biasanya baru terhidang di H+7 Lebaran.

Bukan juga tentang kamu.

-
Gresik. Jalanan penuh. Mobil banyak, sepeda motor apalagi. Era “Jalanan sepi pas Lebaran” mungkin sudah berakhir beberapa tahun lalu. Pun tahun lalu seingatku jalan raya tak seramai ini. Kurasa ini pengaruh dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan ketidakpuasan terhadap kondisi angkutan umum. Atau mungkin ada juga pengaruh dari tingginya rasa gengsi, yang membuat seseorang membeli sepeda motor karena tetangganya mempunyai sepeda motor baru juga.
-
Mobil angkot berjalan dengan kecepatan minimum.  Mencari penumpang. Atau menunggu penumpang? Berharap ada yang tiba-tiba muncul dari belokan di ujung jalan kemudian melambai, ikut naik sampai di tempat tertentu. Karena kisah tentang orang-orang yang mengenakan pakaian terbaik di hari Lebaran berdiri di pinggir jalan raya menunggu angkot lewat sudah bukan topik yang asik untuk dibicarakan. Tema tentang siapa yang punya mobil baru di Lebaran kali ini jauh lebih menarik.
-
Angkutan massal sepertinya sudah berkurang popularitasnya di mata sebagian orang. Di jalan kecil menuju makam kakekku, berjejer tiga mobil dengan plat B. Yang kupikirkan cuma satu saat itu: luar biasa. Aku bisa tidur di kereta atau pesawat, tapi orang-orang ini begadang menyetir mobil dari Jakarta ke Gresik.
-
Kasur di kamar Bulik mengecil. Meskipun sesungguhnya ukuran tubuh kami yang membesar. Dulu kasur ini muat untuk tujuh, bahkan delapan orang. Tempat kami semua, keponakan-keponakan perempuan, tiduran dan bersembunyi dari tamu-tamu simbah yang tidak kami kenal. Tahun ini aku dan beberapa sepupuku mengalah tidak ikut tiduran dan bersembunyi di kasur. Sepupuku yang lain yang jumlahnya empat orang sudah memenuhi seluruh bagian kasur.
-
Aku jadi sering membuka dompet. Meskipun dulu juga begitu, untuk memasukkan uang Lebaran dari saudara-saudara yang baik hati mau menyisihkan sebagian gaji atau bahkan menambah hutang mereka dan berharap selalu bertemu lagi tahun depan dengan uang Lebaran yang lebih besar. Namun harapanku itu harus kuhentikan tahun lalu, karena mulai tahun lalu uang Lebaranlah yang keluar dari dompetku. Aku sendiri juga tak tahu apakah aku melakukannya agar aku dianggap punya banyak uang, baik hati, suka menolong, sukses di tanah jauh, sekedar ikut-ikutan, atau yang lainnya.
-
Bertemu setahun sekali tak membuat durasi pertemuan itu menjadi lebih lama. Dulu, pukul 9 aku sekeluarga sudah sampai di rumah simbah. Setelah saling bertukar senyum, uang, dan kabar—baik yang benar terjadi maupun rekayasa agar terdengar hebat, kami mampir ke rumah tetangga simbah. Kemudian ke rumah adik-adik simbah yang masih satu kecamatan. Lalu kembali ke rumah simbah. Disambung makan bakso dan es kelapa muda atau es campur sambil nonton televisi. Tahu-tahu bangun sudah di kasur Bulik. Sore, baru kami saling bertukar senyum lagi, terkadang ditambah kecup di pipi. Beberapa tahun belakangan, bakso sudah dicoret dari menu Lebaran karena penjualnya, yang menyewa salah satu petak milik simbah di belakang rumah, meninggal dunia. Kami menggantinya dengan jajanan macam siomay, rujak buah, pempek, dan es krim yang dibeli di alun-alun. Tidak sampai sore, tapi sudah lewat cukup lama dari siang hari. Tahun ini, tak ada jajanan. Dan lepas pukul 13, rumah simbah sudah sepi.
-
Biasanya aku tenang-tenang saja ketika Lebaran karena aku punya tameng yang kekuatannya luar biasa: kakakku. Pertanyaan yang katanya menyebalkan bagi para single, seperti “kapan menikah?” selama ini selalu hanya ditujukan pada kakakku. Tapi kisah menjadi lain karena Juni lalu kakakku menikah. Tahun ini, akulah korbannya. Oh my, ternyata pertanyaan itu memang menyebalkan.
-
Buku catatan transportasi mudikku selalu dipenuhi oleh bis. Atau sepeda motor, meskipun seingatku hanya satu kali. Kali ini, aku bisa menambah satu moda transportasi baru di buku catatan itu: mobil. Meskipun penuh dengan logistik makanan; bisa bergerak lebih bebas; bisa memutar lagu sesukaku; tapi setelah tiba di tempat tujuan, aku sampai pada keputusan ini: aku lebih suka mudik dengan bis daripada mobil. Karena di bis aku tak perlu mendengar cerita-cerita yang entah benar entah tidak.
-
Tulungagung. Lontong Tahu khas Tulungagung di warung pinggir jalan. Kupikir akankah ia seperti Tahu Campur, Tahu Tek, atau Kupat Tahu yang masih ada tambahan bahan lain. Lontong tahu ternyata benar-benar hanya berisi lontong dan tahu. Dengan siraman kuah kecap yang dicampur bawang putih dan petis, serta taburan daun bawang dan bawang goreng. Setelah makan, aku merasa sangat beruntung lahir dan besar di Gresik.
-
Trenggalek. Tak sedingin biasanya. Tak lagi berkabut tebal seperti biasanya ketika pagi. Aku bahkan tak menggigil ndeso seperti dulu ketika bangun tidur atau tubuhku terkena air. Tak lagi malas mandi pagi-pagi. Meskipun ketika aku berkata begitu kepada temanku yang tinggal di kota itu juga, dia cuma bilang, “sek tetep adeeeem. Aku ae lho jaketan. Masih tetap dingiiiin. Aku saja pakai jaket.”
-
Anakmu ndak iso Jowoan to?” Aku cuma cengar-cengir. Bapakku menjawab, “nek ngoko yo iso. Tapi nek kromo yo ngerti tapi angel ngomonge. Kalau bahasa Jawa kasar ya bisa. Tapi kalau bahasa Jawa alus ya ngerti tapi susah bicaranya.” Mungkin sepupu-bapak yang bertanya itu belum tahu bahwa aku sangat jago sekali berucap dalam bahasa Jawa halus, “nggih, mboten, sampun, dereng. Iya, tidak, sudah, belum.” Ada juga beberapa tambahan kata seperti wonten, duko, sami-sami. Ada, entah, sama-sama.
-
Teguran kadang datang hanya dengan sebuah kalimat. Pakdheku bertanya, “kantormu depannya kantor Pak Bidin (sepupu Bapak) to, Ndhuk?” Kuiyakan. “Wong kantor cedhak ae kok ndak tau mampir iki piye lho. Kantor dekat saja kok nggak pernah mampir ini gimana sih.” Setelah kutanyakan pada Bapak, sehari sebelumnya ternyata Pak Bidin sudah berkunjung ke rumah Pakdheku ini. Pantas Pakdheku tahu.
-
Alun-alun di malam hari. Tak begitu banyak orang, tapi sebagian besar orang berkumpul di depan tulisan besar TRENGGALEK yang dipasang di salah satu sisi. Antre berfoto. Mungkin untuk dipasang di layar ponsel, komputer, atau sekedar tanda bahwa ini adalah salah satu kota yang pernah dikunjungi selama hidup.
-
Seseorang dan lainnya terhubung oleh enam orang. Aku semakin agak memercayainya ketika kemarin tahu bahwa rumah teman kosku semasa kuliah ternyata ada di belakang rumah salah satu kerabatku, dan mereka saling mengenal. Sayangnya ketika aku berkunjung ke rumah Belinda, temanku ini, dia sudah tidak di rumah. Panggilan tugas membuatnya kembali ke Jakarta sehari sebelumnya. Padahal aku di sini masih enak-enak makan kue dan minum soda.
-
Pertanyaan yang sama kuajukan setiap tahun ketika berkunjung ke rumah kerabat. “Ini siapanya Bapak?” Tiap tahun pula Bapakku mengulang kisah yang sama tentang silsilah keluarga. Dan tiap tahun aku mengangguk-angguk, sok mengerti. Untuk kemudian di tahun berikutnya bertanya dengan pertanyaan yang sama, “ini siapa?” Kurasa aku perlu menggambar silsilah keluarga mulai dari buyutku, lengkap dengan nama dan foto tiap orang.
-
Trenggalek-Madiun. “Tahu kenapa begitu banyak makanan manis saat lebaran? Karena ada banyak kepahitan yang perlu disembunyikan. -Ruslan, buruh serabutan-.“  Twit @el_nonymous. Saat itu aku tengah berada di satu titik di jalan penghubung Trenggalek-Madiun yang berkelok-kelok mengikuti alur gunung. Dan saat itu pula aku ingin sekali bertemu dengan Ruslan. Kalau dia ikut nyaleg, kurasa aku akan langsung mendukungnya tanpa dia perlu memberiku pamflet berisi foto dan nama dirinya serta lambang dan foto pemimpin partai.
-
Madiun. Pun tak sedingin dulu. Mungkin karena sudah ada Matahari, Giant, Carrefour, dan A&W di kota ini. Mungkin juga karena salah satu calon wali kotanya punya kekayaan Rp 12,8 miliar. Memang tidak ada hubungannya sih. Aku hanya mencari sebab kenapa kota ini tidak dingin seperti dulu.
-
Ponorogo. Cuma numpang naik bis. Karena sudah pasti tidak ada kursi yang kosong kalau aku (dan Bapakku) naik di Madiun. Semua akan menyenangkan kalau perjalanan ini berlalu seperti biasa. Tetapi menjadi tidak menyenangkan ketika perjalanan Ponorogo-Gresik yang seharusnya enam jam bertambah dua kali lipat menjadi sebelas jam lebih. Tak ubahnya seperti perjalanan Surabaya-Jakarta dengan kereta api. Jalanan penuh dengan sangat banyak mobil dan cukup banyak bis. Sepeda motor pindah jalur ke trotoar. Sampai di sini, aku berpikir bahwa orang-orang yang naik mobil di jalanan ini sangat egois. Anggota keluarga bertambah satu, beli mobil baru. Tetangga punya mobil, ikutan beli mobil. Ada mobil murah, jadi beli mobil. Padahal sudah ada bis yang bisa mengangkut banyak orang. Tapi kemudian aku sadar bahwa akulah yang paling egois di antara orang-orang ini karena cuma bisa menyalahkan orang lain.
-
RATCHANOK INTHANON, THE YOUNGEST CHAMPIONS EVER. Pesan itu (yang memang dikirim oleh temanku dengan huruf kapital) dan beberapa pesan lain yang mengabarkan bahwa Owi-Butet dan Hendra-Ahsan memenangi Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2013 cukup membuatku sejenak lupa bahwa aku tengah berada di dalam bis menuju Surabaya, bukan di gedung olahraga di Guangzhou ataupun di depan televisi yang menyiarkan pertandingan itu.
-
Ah, kupikir aku bisa menyelesaikan sampai 26 poin. Ternyata tidak. Kadang manusia memang menilai dirinya terlalu tinggi, sampai ia sadar atau disadarkan bahwa kemampuannya tidak setinggi yang ia pikirkan.


Menjelang maghrib, 14 Agustus 2013
Selamat Hari Pramuka :)


Tuesday, July 16, 2013

Dan Ji Ki

Dari tujuh orang yang ada di kelas—termasuk sensei—, cuma saya yang Jawa muslim.

Sabtu terakhir menjelang bulan Ramadan, sensei bertanya pada saya, “Wahyu-san sudah puasa?” Karena memang saat itu belum mulai puasa—wong sidang isbat aja baru akan dilaksakanan Senin selanjutnya—, saya jawab, “Belum, Sensei.”

Kemudian kata sensei, “Ja, mina san. Raishuu kara tabemono no hanashi wa dame. Gokyouryoku onegaishimasu.” Mulai minggu depan, jangan berbicara tentang makanan ya. Mohon kerja samanya.

Sabtu berikutnya, alias Sabtu lalu, benar-benar tidak ada obrolan tentang makanan di kelas. Padahal biasanya selalu ada bahasan tentang toko ramen, sushi, atau makanan Jepang lain. Bahkan ketika ada kalimat yang menggunakan kata kerja taberu, makan, teman-teman langsung berkata, “Ssst… dame dame.” Sampai saya bilang sambil tertawa, “biasa aja kaliiii…”

Biasanya, di tahun-tahun sebelumya, Ramadan ya Ramadan aja. Nggak pernah ada larangan buat ngomongin makanan. Iklan di televisi aja kalo Ramadan jadi penuh produk makanan—dan minuman—, nggak mungkin buat nggak ngomongin makanan.

Tahun-tahun sebelumnya, saya nggak pernah di’gitu’in. Ini pertama kalinya.

Karena sebelumnya, saya selalu jadi mayoritas. Teman saya yang beda agama dan beda suku atau ras, bisa dihitung dengan jari, saking sedikitnya. Sesama mayoritas? Ya tau sama tau aja. Ya tetep ngomongin makanan, tetep ngomongin minuman, tetep ngomongin orang *eh* (astaghfirullah).

Jadi buat saya, perilaku sensei dan teman-teman—meskipun agak berlebihan sampai nggak ada obrolan tentang makanan di kelas—adalah satu bentuk toleransi. Kalau pas SD dulu sering menulis jawaban ‘saling menghormati, menghargai, dan toleransi’ untuk banyak pertanyaan di pelajaran PPKn, nah ini wujud nyatanya. Buat saya pribadi, tanjun ni, kandoshimasu. Sederhananya, saya terharu.

Sesederhana itu.














150713
久しぶり。ずっと 書いたいんですが、 書けなかった。 いろいろね。 :)