Thursday, January 17, 2013

Jakarta, Pagi Ini

Welcome to Jakarta, Dear.

Ini pagi yang sangat random.

--

Air langit tumpah. Entah berapa volumenya. Kurasa banyak sekali. Kata bapak-bapak di kantorku ia tumpah sejak matahari belum muncul, mungkin pukul 2 dini hari. Dan sampai matahari belum muncul juga—langit kelabu, air langit berubah serupa tirai penghalang sinar matahari—pukul 8 pagi ini, ia masih saja tumpah.

--

Tadi di jalan, seorang pemilik kios media cetak terduduk memandangi entah apa. Biasanya ketika aku berjalan di depan kiosnya, koran, majalah, tabloid, sampai buku TTS sudah tertata rapi siap dipilih-dibaca-dibeli; beberapa orang berdiri membaca koran yang direntangkan selebar lengan sampai menutupi kepalanya; dan seorang pengecer koran—hanya koran, ia tak menjual yang lain— yang kuhafal karena ia membuka kios kecil bermodal sebuah meja putih berukuran sekitar 80cmx80cm dan berjarak hanya 3 meter dari kios pertama, mengambil beberapa koran dan menatanya di atas meja kecilnya. Tapi tadi pagi, tak ada satu koran atau majalah atau tabloid atau buku TTS yang tertata rapi. Semuanya hanya ditumpuk dan ditutupi plastik bening.

--

Untuk pertama kalinya dalam sejarah berkantor, inilah untuk pertama kalinya aku membawa jaket. Air langit yang tumpah di pagi hari kupikir membuat ruangan menjadi terasa lebih dingin. Dan akhir-akhir ini memang kantor dingin sekali. Kurasa suhu pendingin ruangan disetel di angka 16. Mungkin…. Tapi mungkin aku juga perlu bertanya pada petugas yang mengontrol suhu pendingin ruangan di gedung ini untuk mengetahui angka yang benar.

--

Ketika aku sampai di kantor, televisi sudah menyala. Menayangkan sinetron dengan lagu latar lebay, akting lebay, suara pemain yang disulih, dan jalan cerita yang kurasa juga akan lebay.
Ketika aku membuka twitter, dengan kondisi air menggenang di banyak titik di kota ini pagi ini, aku menebak ada kata ‘banjir’ di deretan topik terhangat dunia—mengingat banyak sekali pengguna twitter di kota ini. Tapi tebakanku salah. Aku malah menemukan #Mention15CewekCantik di urutan 2. Mungkin tidak ada hujan dan banjir di kota lain, sehingga pengguna twitternya bersatu padu mewujudkan topik terhangat tadi.

--

Aku juga jadi ikut random. Tak biasanya aku langsung menulis sesuatu sesampai di kantor.



17012013 
Salam,
Wahyu Widyaningrum
Semoga hujan cepat reda. Semoga banjir ini tidak berlanjut dan meluas ke wilayah lain. Semoga semua dimudahkan untuk membantu korban banjir. Dan semoga tetap ada senyum di pagi ini.

Friday, January 11, 2013

Ujian

Pusing.

Kenapa?

Besok ujian.

Ujian apa?

Kau lupa?

Sama sekali.

Tak percaya.

Kenapa?

Pencitraan.

Maksudmu?

Psy war. Atau psy trap. Apalah itu pokoknya.

Tak paham.

Pura-pura. Pasti sudah khatam bukunya kan?

Tidak.

Tapi sudah paham materinya. Itu sama saja.

Kau yang bilang. Aku tidak bilang begitu.

Soalnya kau sedang pencitraan. Psy war. Psy trap.

APA SIH MAKSUDMU?

Aku memukul meja. Hening. Orang-orang memandangku. Kurasa pandangan heran. Mungkin mereka belum terbiasa melihat orang yang bercakap dengan file di komputer jinjingnya.

明日試験があります。勉強は? まだです。まあ、魔法の力に信じてる。なんとかなるね。
110113

Thursday, January 10, 2013

The Little Thing I Need

Cuma ada monitor komputer dan beberapa alat tulis di atas meja.
Ada yang kurang.
Apa ya?
Begitu saya lihat meja sebelah dan saya amati makhluk-makhluk di atasnya, saya baru tahu apa yang kurang.
Kalender meja.

Nggak lengkap kalo di atas meja nggak ada kalender.
Kalau butuh lihat kalender harus klik kalender di komputer dulu. Itu pun nggak tau kapan tanggal merah. Kalau pengen tau, harus ngesot dikit, buka-buka kalender di dinding.
Nggak praktis.

Dan pergantian tahun masehi 7 hari lalu rasanya sangat pas buat naruh kalender meja. Tentu saja di atas meja saya sendiri.
Tapi ternyata nggak mudah juga nemu kalender meja yang bagus.

Beberapa pekan lalu saya ke toko buku di sebuah mal dan nemu kalender meja. Tapi ampun-tipis-banget. Tertiup angin mungkin bisa terbang. Warnanya juga putih, cuma tanggalnya yang enggak. Singkat kata, kalendernya nggak menarik. Saya jadi nggak tertarik.

Di tengah-tengah pencarian saya terhadap sebuah kalender meja, beberapa hari lalu saya secara nggak sengaja buka linimasa @sahabatanak di twitter. Dikatakan bahwa mereka menjual kalender. Saya lihat fotonya dan harganya. Lebih bagus dari kalender yang saya lihat di mal. Jadi saya kemudian konfirmasi ke narahubung yang tertera di sana.

Semalam, pas saya sampai di kos, sebuah paket sudah nangkring dengan manis di atas meja. Paket buat saya. Dari Yayasan Komunitas Sahabat Anak.
Isinya kalender meja dan Suara Sahabat, buletin produksi Yayasan Komunitas Sahabat Anak.



  Ini kalender mejanya, sudah duduk cantik di atas meja saya.


Ada stikernya juga. Bisa dipasang di tempat stiker di sudut halaman kalender.


Buletin sahabat anak.


Semuanya bilingual. Bahasa Indonesia-English.

Thank God I finally found the little thing I need :D

Sedikit tentang aktivitas Yayasan Komunitas Sahabat Anak, yang bisa diketahui dari keterangan di belakang kalender seharga Rp 50.000 berikut:
Seluruh hasil  keuntungan dialokasikan untuk memenuhi operasional Sahabat Anak berupa Bimbingan Belajar di 7 area binaan, 1 sekolah nonformal bagi remaja putus sekolah, 1 TK jalanan, 1 rumah singgah Kemala Hijau, beasiswa, program nutrisi, kelas keterampilan, program kemandirian/wirausaha anak, dan lainnya.

Tertarik membeli kalender Sahabat Anak atau bahkan bergabung menjadi sukarelawan dan donatur? Silakan berkunjung ke www.sahabatanak.org , like fanpage Facebook di ‘Sahabat Anak Page’ atau follow twitter @sahabatanak.

Btw, sampul kalendernya warna biru. Jadi makin suka deh :)


08012013
Salam,
Wahyu Widyaningrum

Thursday, January 3, 2013

Pulang

“Kemana kau akan pergi akhir pekan panjang ini?”

“Tidak ke mana-mana. Di sini saja.”

“Tidak pulang juga?”

“Tidak.”

“Tidak rindu?”

“Rindu sekali. Kau pernah mencintai teman sekelasmu ketika sekolah?”

“Pernah.”

“Setiap hari bertemu, bukan? Tapi ketika waktu-pulang tiba rasanya kau tak ingin pulang, ketika malam kau ingin pagi segera datang karena kau sangat merindukannya. Begitukah?”

“Tepat.”

“Rasa rinduku juga seperti itu. Bahkan ia sudah bertumpuk-tumpuk sekian lama, dan tumpukan itu meluap. Ia jauh lebih besar daripada rindumu pada teman sekelasmu waktu sekolah dulu.”

“Lantas?”

“Lantas? Hmm… Beberapa kali ia meluap ketika ada pesan atau telepon. Yang jelas-jelas membuat ia semakin tumpah adalah kalimat-kalimat seperti, ‘hati-hati, ya. Jangan lupa terus berdoa.’ Atau yang lebih singkat seperti, ‘sudah makan?’. Ketika rinduku tumpah, kadang air mataku tumpah juga. Kemudian doa-doaku ikut tumpah juga.”

“Apa?”

“Sederhana. Semoga ia selalu sehat dan bahagia.”

“Itu saja?”

“Itu yang utama.”

“Apa lagi?”

“Apa lagi? Terkadang aku merasa lebih dewasa darinya. Lebih mengkhawatirkannya. Kukatakan: jangan banyak-banyak minum kopi, jangan lupa makan, jangan tidur terlalu larut, jangan lupa olahraga, dan beberapa lainnya. Tapi aku tahu, ia jauh lebih mengkhawatirkanku. Ia jauh lebih banyak menumpahkan doa untukku. Dan ia jelas sangat merindukanku.”

“Begitukah?”

“Ya. Kurasa.”


Salam,
Wahyu Widyaningrum
Anata no yasashisa, aitaku naru.

Tuesday, January 1, 2013

Dua Ribu Tiga Belas

Pagi pertama di 2013.

Ah, sudah 2013 ternyata.

Sudah sekian tahun berkontribusi 'menyesaki' dunia, dan entah berapa lama lagi.

Bagaimana tahun baru semalam? Saya sih sebenarnya ingin nonton streaming Johnny's Count Down dan jejeritan liat NEWS, tapi kenyataannya saya ada di antara lautan manusia di Bundaran HI. Ada Jakarta Night Festival di sana. Tahun depan, kalau masih ada umur dan acara sejenis juga digelar, saya nggak bakal mau diajak ke sana lagi. Simply because it was too crowd
Hahaha

Oke.

Pagi ini, ketika membuka akun facebook, saya menemukan sebuah post status dari kawan saya Nur Fadiah seperti ini: "2013, saatnya membuka kotak kado masing-masing. Kalian dapat apa? Saya dapat segenggam mimpi, sekarung besar kerja keras serta semangat dan doa yang tidak terbatas untuk mengarungi 364 hari selanjutnya."

Saya suka rangkaian kalimat itu :)

Tidak ada yang lebih indah daripada mendapat sebuah suntikan semangat di pagi pertama di tahun yang baru. Apapun yang kita lakukan semalam di malam tahun baru, toh pagi ini kita sama-sama merobek kalender 2012 dan menggantinya dengan kalender 2013. Kalau punya kalender sih :p. Selain sama-sama mengganti kalender, kita juga harus sama-sama mengganti semangat.

Ah, istilah mengganti semangat sepertinya terlalu aneh. Intinya, kalau tahun lalu semangat kita terlalu rendah untuk menjalani hari, ya harus ditingkatkan. Kalau sudah semangat, ya tetap harus ditingkatkan lagi. Habis mau apa lagi? Hehe. Dan yang tak kalah penting, semangat tersebut harus dijaga. Karena, kata @AlissaWahid, "Sesuatu yang baru seringkali membuat kita bersemangat. Tapi hanya para pemenang yang akan bertahan sampai garis akhir."

Jadi, apa isi kotak kado kita masing-masing?


Salam,
Wahyu Widyaningrum
*Semoga semakin banyak #GreatMoment di 2013 ini. Ganbarou!

Thursday, December 27, 2012

Thank God

27 Desember. Besok terakhir ngantor di tahun 2012.

Dan postingan bulan Desember udah 10 baru 1.

Padahal dulu, ya kira-kira sebulan lalu lah, pernah bertekad menggalakkan aksi #onedayonepost. Ternyata belum terlaksana. Mari kita jadikan sebagai resolusi 2013! *kencangkan ikat kepala*

Enggak, kali ini saya nggak mau nyinyirin resolusi 2012 saya yang entah terlaksana berapa, juga nggak mau berkoar-koar tentang resolusi 2013 versi saya. Cukup satu poin, di paragraf atas tadi. Hehe

Beberapa waktu lalu, saya akhirnya khatam juga baca salah satu buku karangan Alwi Shihab berjudul Membedah Islam di Barat: Menepis Tudingan Meluruskan Kesalahpahaman terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 2004.  Buku itu saya beli sekitar bulan Mei, dan butuh 6 bulan lebih untuk menghabiskannya. Emang sayanya yang males sih :D

Membedah Islam di Barat banyak berkisah tentang interaksi Alwi Shihab dengan mahasiswa yang diajarnya di beberapa universitas di Amerika Serikat. Interaksi ini terjadi di dalam kelas saat perkuliahan maupun di luar kelas, via email dan mailing list.

Banyak komentar-komentar yang membuat saya melongo waktu baca buku itu—melihat Islam dari sudut pandang lain. Dibesarkan di lingkungan pemeluk Islam membuat saya nggak begitu ngerti gimana pandangan pemeluk agama lain terhadap agama yang saya anut. Jadilah komentar-komentar dari mahasiswa Alwi, yang mayoritas Kristen, bikin saya lumayan ngerti cara pandang mereka. Salah satu komentar unik datang dari mahasiswa Alwi bernama Rich Pownal di halaman 169 tentang muslim yang membaca Al Quran dalam bahasa Arab: "I personally think it's important to understand what you are reading. What you read is supposed to clarify what you believe. Therefore, I feel it's useless for Muslims to read and say in prayers from the Quran that they don't understand. Almost every piece of literature in any religion is open for translation by those reading it. For me personally, I don't read Bible as a word for word. I read the Bible and try to understand the message."

Selain bikin melongo, ada juga komentar yang bikin saya merenung. Pas di halaman 138, topik bahasannya adalah bahwa hampir seluruh mahasiswa Alwi menganggap penting kehidupan agama dalam kehidupan manusia.

Lalu ada satu kalimat berbunyi begini:

“God should not only be called upon to help in times of need. He should be thanked when things are wonderful.”  

Itu merupakan komentar dari salah satu mahasiswi Alwi, Diana. Memang bukan kalimat yang istimewa ataupun baru pertama kali didengar. Kalimat dengan inti yang sama tentu sudah sering berseliweran di telinga kita.

Pun demikian buat saya.

Tapi waktu itu, waktu saya baca halaman 138 dan sampai pada kalimat itu, tiba-tiba saya jadi mikir. Terus bergumam, “selama ini kayaknya saya cuma ‘ngeributin’ Tuhan pas lagi butuh aja, jarang banget berterima kasihnya.” Kalo lagi butuh, 24 jam nonstop berdoa terus ke Tuhan, bahkan dengan nada dan kalimat agak maksa. Tapi begitu dapet rejeki, lebih asik sama yang di depan mata daripada yang dari dulu diributin 24 jam.

Kalau cari pengibaratan, mungkin simpelnya begini:
Saya punya tetangga. Tetangga itu sumpah-demi-apa-baik-banget ke saya. Saya nggak punya beras, ketok pintu si tetangga buat minta beras atau makan. Nggak punya duit, ketok lagi pintu si tetangga buat minta duit. Dan begitu juga kalo pas genteng lagi bocor, rumah lagi kebanjiran, tukang kredit udah ngancem berkali-kali, solusinya gampang: ketok rumah si tetangga buat minta apa yang saya butuhkan. Toh dia baik banget dan saya merasa oke-oke aja buat minta. Tapi begitu suatu hari saya dapet kabar kalo dapet hadiah undian lotre sebesar 3 milyar rupiah, uang itu saya abisin sendiri. Saya hura-hura pagi-siang-sore-malem sampe bingung gimana lagi cara menghabiskan uang itu. Tapi kesenangan itu cuma buat saya pribadi. Saya nggak tengok si tetangga saya tadi. Nggak ngasih uang, nggak nyapa, bahkan bilang terima kasih aja enggak.

Kelupaan? Atau mungkin terlalu keblinger sampe cuma inget diri sendiri dan nggak inget sama orang yang udah selalu berbuat baik?

Mungkin saja begitu.

Itu bagi saya sih.

Kalimat itu, buat saya pribadi, menohok banget. Saking menohoknya, sampai-sampai halamannya saya kasih penanda. Sampai-sampai saya merasa harus menyebarkan kalimat itu ke seluruh dunia. Haha

Ingatan manusia memang terbatas, jadi mustahil seseorang bisa mengingat dengan baik semua peristiwa yang udah berlalu. Karena keterbatasan itulah, sebuah catatan diperlukan. Kata Ali bin Abi Thalib, “ikatlah suatu ilmu dengan menuliskannya.” Jadi, saya tuliskan catatan ini khususon buat saya pribadi, yang sering lupa untuk bersyukur dan berterima kasih. Biar saya inget dan lupanya berkurang :D

Tiba-tiba inget satu twit @avinaninasia: Allah itu Maha Baik, dan Selalu Baik.


Salam,
Wahyu Widyaningrum
*edited on Friday, Dec 28th 2012*

Thursday, December 13, 2012

Begitulah Kita Mengulang Kenangan

Semua berpakaian putih-merah. Lengkap dengan dasi merah. Beberapa meletakkan topinya di atas meja. Beberapa anak lain, sejauh yang bisa kulihat, tampak komat-kamit, mungkin merapal puisi atau lirik lagu untuk tampil nanti. Di saat-saat pemilihan siswa teladan seperti itu, seluruh kemampuan memang harus dikeluarkan. Kurasa karena ada nama sekolah yang dipertaruhkan di situ. Sementara aku duduk di bangku kedua-dari-belakang menunggu giliran, kau berdiri di depan kelas, membacakan sebuah puisi yang sangat sering kudengar karena itu adalah puisi paling populer di kalangan anak sekolah dasar. Begitulah kita pertama kali bertemu.

Senior yang cukup menyebalkan, dengan gaya sok dan suara yang menggelegar hampir memecahkan kaca. Warna seragam mereka sudah putih-biru, sedangkan aku dan teman-temanku masih mengenakan putih-merah. Lengkap dengan atribut aneh—yang tak mungkin dikenakan di hari-hari biasa—seperti rambut dikuncir entah berapa banyak dan topi juga tas berbahan kantong plastik. Juga kegiatan yang menurutku menyebalkan: meminta tanda tangan seluruh teman sekelas dan beberapa senior—karena kupikir aku tidak mungkin mengingat semua nama teman sekelas dengan cepat hanya dengan meminta tanda tangannya. Dibayang-bayangi pelototan dan nyinyiran senior, kulakukan juga kegiatan itu. Atas alasan itulah aku memintamu menuliskan nama dan menorehkan tanda tangan di buku kegiatanku. Tapi kurasa kita pernah bertemu sebelumnya. Sosok anak yang sedang membacakan sebuah puisi di depan kelas dua tahun lalu itu melintas di pikiranku. Kubaca namamu dan lebih kuperhatikan wajahmu. Aku tak salah ingat. Begitulah kita pertama kali berkenalan.

Sore yang kelam. Selain aku, di rumah hanya ada orang-orang aneh yang hanya bisa kudengar suaranya dan kulihat fisiknya tapi tak bisa kusentuh karena mereka hanyalah aktor dan aktris di televisi. Dering telepon membuatku terpaksa meninggalkan orang-orang yang kuanggap aneh tapi tetap saja kutonton itu. Di ujung sana, seseorang menanyakan namaku. Kujawab bahwa akulah yang ia cari, tapi ia tak mau menjawab ketika kutanyakan siapa dirinya. Lantas dari suara dan gaya bicara, aku tahu bahwa ia adalah kau. Beberapa detik basa-basi dan beberapa menit membicarakan hal-hal yang menurutku sangat menyenangkan membuatku lupa pada kesendirianku dan orang-orang aneh tadi. Aku bersyukur kau tidak menghubungiku hanya untuk sekedar menanyakan PR dan tugas sekolah. Begitulah kita pertama kali bercakap lewat telepon.

Metode berpindah-kelas. Membutuhkan lebih banyak tenaga karena harus mengangkat tas dan semua isinya—buku-buku yang banyak dan berat—ke kelas lain setiap ganti mata pelajaran. Tak ada jaminan di mana tempat duduk yang kosong karena semua tergantung seberapa cepat seseorang mengemasi tasnya, berlari menuju kelas lain, dan memilih tempat duduk yang dianggap strategis. Saat kau masuk kelas, hanya ada empat bangku yang masih kosong. Dua bangku yang bersebelahan, satu bangku di sebelah temanku-yang-paling-pintar di baris paling depan, dan satu bangku di sebelahku di baris kedua dari belakang. Kau lantas duduk di sebelahku. Tak ada yang menarik dari penjelasan guru biologi di depan kelas karena beliau hanya menampilkan tayangan teks berbahasa Inggris sedangkan beliau sendiri tak tahu artinya sehingga lebih sering membuka kamus yang mana hal itu sangat memakan waktu. Lalu akhirnya kita mulai bercakap-cakap. Tentang jurusan apa yang ingin diambil ketika kuliah dan kenapa, universitas mana yang ingin dituju dan alasannya, juga apa yang ingin dilakukan sekian tahun lagi. Begitulah kita pertama kali membincangkan masa depan.

Gelak tawa hadir di antara makanan yang hampir tandas dan minuman yang hampir habis. Ia, gelak tawa itu, bisa saja hadir karena semua dinyatakan lulus, bisa juga hadir karena semua waktu yang dilewati sangat menyenangkan. Beberapa hari lagi, wajah-wajah yang ditemui di dalam kelas tak lagi sama, kota yang dituju tak lagi sama, tempat yang dipijak tak lagi sama. Begitupun, cita-cita yang dikejar berbeda, impian yang ingin diraih berbeda, kisah-kisah yang akan dialami juga berbeda. Hanya satu yang sama: keinginan untuk bersua kembali entah berapa tahun lagi dengan kisah masing-masing yang luar biasa. Saat kau menghampiri dan menyalamiku, kau tersenyum indah sekali. Seingatku itulah senyum terbaikmu yang pernah kulihat—sampai aku juga ikut menyuguhkan senyum terbaikku. Kurasa aku merekam senyummu itu dengan sangat baik di kepalaku. Begitulah kita pertama kali berpisah.

Tak pernah ada pertemuan lagi selepas senyum itu.

“Entahlah, kenapa saat itu, ia menganggap lucu kata-kata itu. Mungkin itulah sebabnya, sering kita kangen pada saat-saat pertemuan pertama. Kita memang ingin selalu mengulang kenangan.” – Agus Noor: Cerpen Kunang-kunang di Langit Jakarta



Salam,
Wahyu Widyaningrum

Lately I've really had those sentences stuck in my head--Agus Noor's. Felt like i have to write something with it. So, voila! Hope it would stuck on you too :)