Tuesday, June 26, 2012

Hari Terakhir Hari


Demi apapun, aku tak akan pernah melakukan hal ini lagi. 

Sejak tadi aku sudah mengelilingi lokasi ini. Tadinya kupikir pencarianku tak akan sesulit ini. Ketika pertama memasuki gang, kulihat beberapa meter dari mulut gang ada sekelompok ibu-ibu sedang berkumpul. Aku mendekat, kukatakan bahwa aku mencari orang bernama Hari. Satu persatu, ibu-ibu itu menggeleng. 

“Hari siapa, mbak?” Tanya salah satu dari mereka.

Aku juga menggeleng. Aku tak tahu nama lengkap Hari. 

“Orangnya kayak apa?” Tanya mereka lagi.

Hari yang kukenal adalah seorang laki-laki dengan usia sekitar setahun di atasku. Tinggi badannya rata-rata, sekitar 172 cm. Tidak gemuk, juga tidak kurus. Standar lah. Rambutnya pendek. Mengenakan kaca mata dengan gagang penuh berwarna cokelat. Apa lagi? Ah iya. Lesung pipi di pipi sebelah kiri.

Ibu-ibu di depanku kembali menggeleng setelah aku menjelaskan perawakan Hari. Gelengan mereka membuatku mengucapkan terima kasih untuk kemudian balik badan, mencari ibu-ibu atau bapak-bapak lainnya yang bisa kumintai informasi mengenai keberadaan Hari.

Dan ternyata kumpulan ibu-ibu di dekat mulut gang tadi adalah satu-satunya yang kutemukan. Selanjutnya aku tak menemukan ada kumpulan orang lagi. Jadi aku menyusuri jalan pelan-pelan, mencari rumah yang pintunya sedikit terbuka—aku berpikir bahwa rumah dengan pintu tertutup berarti penghuninya sedang sibuk atau tak mau diganggu—dan bertanya pada sang tuan rumah. Tentu saja mengenai Hari.

Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 13.30, hasil masih nihil. Aku beristirahat sejenak di bawah sebatang pohon kersen. Ada batu lumayan besar. Aku duduk di atas batu itu.

Sambil mengibas-ngibaskan tangan dan memandangi matahari yang entah kenapa sinarnya seperti makin terang, aku merutuki diriku sendiri. Merutuki kenapa aku tak tahu siapa nama lengkap Hari, kenapa aku tak tahu apa pekerjaan dia dengan jelas—yang kutahu, dia bekerja di sebuah bengkel motor. Titik.—, dan kenapa aku hanya tahu nama kampung tempat tinggalnya: Kampung Sumur dekat pasar. Jadi bekalku hanya: Hari, tinggal di Kampung Sumur dekat pasar, kerja di bengkel.

Ponselku bergetar. Aku sedikit berharap, jangan-jangan pesan masuk dari Hari!

Segera kurogoh kantongku, kubuka ponselku dengan cepat. Dan semangatku kembali meredup ketika nama pengirim yang muncul bukanlah nama Hari. Sejak sebulan lalu nomor ponselnya tak aktif.

Rabu lalu, saat berkunjung ke rumah singgah, aku dihujani pertanyaan yang kesekian kalinya oleh adik-adik di sana.

“Kak, Kak Hari kapan ke sini? Kok Kak Hari nggak pernah dateng lagi sih?”

Aku pertama kali bertemu dengan Hari tujuh bulan lalu, saat ada pertemuan sukarelawan mengajar di rumah singgah. Sejak perkenalan pertama, entah kenapa rupanya Hari mampu menarik perhatian anak-anak di rumah singgah yang kebanyakan berusia 4-12 tahun. Hari jadi magnet utama anak-anak untuk datang setiap Rabu dan Sabtu di rumah singgah. Kalau tak ada Hari, rumah singgah jadi sepi. 

Tujuh bulan berjalan, jumlah sukarelawan menyusut. Mulanya ada sepuluh orang, kini tinggal dua. Hanya tersisa aku dan Hari. Oh salah. Kini tinggal satu. Hanya aku. Karena Hari sudah tak pernah hadir sejak sebulan lalu. 

Rumah singgah sudah sepi. Hanya tinggal aku, mbak Mei, dan mbak Lis. Mereka adalah pengurus yayasan. Ketika aku sedang memasang sepatu di bibir pintu, seorang anak menghampiriku. Namanya Adit. Usianya sekitar lima tahun.

“Kak, besok sabtu Kak Hari dateng nggak? Kalo Kak Hari nggak dateng, aku sama Nina juga nggak dateng.” Ucapnya ringan. Nina adalah adik Adit, usia mereka terpaut satu tahun.

Aku tersenyum. “Iya, besok Kak Hari dateng kok. Jadi, Adit dan Nina harus dateng juga, ya.”

“Kak Hari dateng? Janji?”

“Iya. Janji.” Kuacungkan jempolku sambil tersenyum lebar.

Adit mengangguk ceria, kemudian berlari meninggalkanku.

Demi janji itulah aku berada di sini sekarang. Untuk mencari dan menemukan sosok Hari. Supaya anak-anak di rumah singgah tak kehilangan semangatnya untuk belajar karena ketidakhadiran Hari.

Kuputuskan melanjutkan pencarian. Apapun yang terjadi, Hari harus kutemukan. Besok ia harus datang!
Sebuah rumah tampak terbuka sedikit pintunya. Kuucap permisi sambil kuketuk pintunya.

Seseorang menjawab dengan sedikit berteriak, kemudian kudengar langkah kakinya mendekat ke arah pintu.

Di depanku, berdiri seorang laki-laki. Yang sebulan belakangan menghilang. Yang tak bisa dihubungi. Yang dirindukan anak-anak di rumah singgah. Yang kucari-cari sedemikian rupa. 

Hari!!!!!

Ia hanya tersenyum meringis.

“Maaf.” Itu kata pertamanya. Aku dipersilakan masuk. Ia menghidangkan segelas air putih yang kuminum dengan semangat, sebelum kusadari bahwa rasanya agak payau.

“Bengkel tempatku bekerja tutup. Bangkrut. Sampai sekarang aku belum bekerja lagi. Ponselku kujual untuk menyambung hidup. Aku tak sempat mampir ke rumah singgah, setiap hari aku berkeliling kota mencari pekerjaan. Mungkin nanti, kalau aku sudah dapat kerja, aku bisa bantu di rumah singgah lagi.”

“Besok, bisa? Anak-anak mencarimu. Beberapa sudah tak pernah datang lagi sejak kamu menghilang.”

“Aku tidak menghilang. Hanya istirahat sebentar dari sumah singgah.”

“Apapun lah. Gimana? Besok bisa?”

Hari terdiam lama.

“Oke. Besok aku datang. Oiya, di sini orang mengenalku dengan nama Ahmad.”

*****

Dua orang sukarelawan-baru datang. Ia akan membantu aku, Mbak Mei, dan Mbak Lis mengajar anak-anak di rumah singgah ini.

“Hari.” Kata salah seorang sukarelawan tersebut.

“Novi.” Kataku memperkenalkan diri.

Ah, kenapa namanya sama dengan Hari yang dulu? Aku mengingat-ingat persitiwa dua bulan lalu, saat terakhir kali Hari datang ke rumah singgah. Ia datang dengan senyum, tawa, keriangan, dan kehangatan seperti biasa. Sabtu itu, rumah singgah penuh oleh anak-anak. 

Di akhir pertemuan, anak-anak seperti biasa mencium tangan kami—para pengajar. Hari juga tetap mengelus kepada setiap anak, seperti biasanya. Tak ada yang berubah. 

Tunggu sebentar. Sepertinya ada yang berbeda.

Ah iya. Saat itu, Hari mengambil posisi berjongkok. Sambil mengelus kepala tiap anak, kurasa ia mengucapkan sesuatu. Entah apa. Mungkin nasihat agar mereka tetap rajin belajar dan datang ke rumah singgah. Atau mungkin berpesan bahwa esoknya ia tak akan datang lagi.

Sabtu itu adalah hari terakhir Hari datang ke rumah singgah. Pada hari Rabu pekan depannya, ia tak datang. Begitu juga pada Rabu dan Sabtu berikutnya. Hari tak pernah datang lagi. 

Aku pernah kembali ke tempat tinggalnya, tapi Hari tak kutemukan. Tetangganya bilang ia pindah, tak ada yang tahu ke mana.

Aku memandang salah satu sudut rumah singgah yang berukuran 3x5 meter ini. Sehelai kertas tertempel di sana. Beberapa baris tulisan tertulis di atasnya: Tetap rajin belajar ya. Raihlah cita-cita setinggi bintang.  Hari.



Numpang di kamar orang, Juni 2012
Cerpen pertama setelah sekian abad :)


Tuesday, June 12, 2012

Tipe Orang Saat Mendaki Gunung: Opini Sok Tau


“Waduh gawat, minggu depan aku beneran jadi naik gunung!” Warga kos sedang asik berkumpul di depan tv saat teman saya tiba-tiba berteriak demikian. Serempak, kami menoleh ke arahnya.

“Ngapain naik gunung? Kapan?”

Teman saya, yang masih syok dengan kabar yang dia peroleh dari temannya melalui sms, menjawab sambil terus melihat hapenya. “Diklat, Selasa sampai Jumat minggu depan.”

“Aduuuh… kok naik gunung sih? Sama Kopassus pula.” Gumamnya. Mungkin masih syok.

“Ih kan keren. Kopassus gitu loh.” Kata saya.

“Keren dari Hongkoooong…” sungutnya. “Heran deh. Judulnya diklat kepemimpinan, kok malah naik gunung ya?” katanya.

Saya merenungi pertanyaan teman saya sebentar. Tak begitu lama, jawabannya muncul di kepala saya. Dan saya setuju ide siapapun-itu yang menggagas diklat kepemimpinan berupa mendaki gunung. Kalau boleh, saya mau ikut deh #eh

Haha.

Ketika mendaki gunung, akan terlihat bagaimana watak asli seseorang.
Saya pernah dua kali naik gunung *yaelah, cuma dua kali toh. Gitu aja bangga*. Biarin lah ya, daripada enggak pernah naik sama sekali. Lagipula biasanya, orang yang sok-sokan tahu sesuatu *seperti saya, dalam kasus naik gunung ini* akan lebih banyak berkomentar dan berceloteh.

Dua kali saya naik gunung itu, saya selalu berada dalam posisi terbelakang, alias yang paling lambat. Memang jarang olahraga sih, jadi gampang capek. Sedikit-sedikit minta berhenti, ngaso. Padahal yang lain masih belum berkeringat. 

Dalam posisi terbelakang itu, ada beberapa karakter yang bisa saya lihat. 

Pertama, orang yang cuek. Saya nggak tau juga sih ini cuek atau gimana. Tapi, jika orang seperti ini mempunyai teman yang ketinggalan, dia cenderung terus berjalan. Nggak peduli lagi deh pokoknya. Entah berbeda jarak berapa ratus meter, dia nggak bakal berhenti dan menunggui temannya tersebut kecuali diminta oleh teman-teman lainnya. Atau juga dia nggak bakal berhenti kecuali dia sendiri yang capek.

Kedua, teman yang baik. Orang seperti ini bakal selalu ada di samping kita. Nggak selalu juga sih. Haha. Tapi kalau dia melihat kita sedikit kelelahan, dia akan menanyai kita dan menawari bantuan. Orang bertipe teman yang baik ini juga selalu menghibur kita dengan terus memberi semangat ataupun mengajak ngobrol sehingga lupa kalau sebenarnya capek. Tiba-tiba aja sudah sampai puncak. Wohooo..

Ketiga, tipe silent. Kalau yang ini, dia antara acuh-tak acuh. Kalau di dunia maya mungkin tergolong silent reader gitu. Liat doang, tapi nggak ikut berpendapat atau urun rembug. Kalau ada temannya capek, dia cuma ngeliat, trus ikutan berhenti. Nggak nanyain atau nawarin bantuan. Kalau si temannya yang capek tadi udah ada yang nemenin di belakang, kadang juga dia langsung tancap gas, nggak ikutan berhenti.

Keempat, tipe pahlawan. Biasanya sih yang begini ini ya para koordinatornya atau penanggung jawabnya. Nggak tau juga sih. Tapi selama ini yang jadi pahlawan buat saya ya cuma koordinatornya #ngenes. Haha. Orang-orang ini selalu ada di belakang orang yang paling belakang. Kalau ada yang capek, dia bakal nemenin si yang capek tadi. Dan kalau jarak dari teman-teman yang lain sudah jauh, dia bakal meminta sekelompok buat berhenti. Dia juga paling sering kasih semangat, meskipun itu dengan ngibul yang becanda. Misalnya, “Tinggal lima belokan lagi nih.” Padahal faktanya: lima belokan ke kanan dan entah berapa puluh belokan ke kiri. Hahahaha

Kelima, tipe gampang menyerah. Saya banget nih *kok bangga -.-‘*. Tipe ini, kalo udah beberapa kali capek, bakal nggak mau nerusin perjalanan. Eh tapi saya nggak gitu ding. Saya cuma minta istirahat, tapi ya lanjut jalan *ngeles*. Yang bisa bikin dia nggak menyerah, salah satunya adalah “Sebentar lagi sampe di puncak, koook.” Haha

Begitulah lima tipe yang sejauh ini saya kenali dalam perjalanan naik gunung saya. Mungkin masih banyak yang lain, tapi sayanya yang nggak ngeh karena emang masih newbie dalam dunia daki-mendaki. 

Menulis begini, saya jadi ingin naik gunung lagi. Lelah, tapi seru!


 Gunung Gede, November 2010


Menjelang Zuhur, 12 Juni 2012
Salam,
Wahyu Widyaningrum



Tuesday, May 29, 2012

Donor Darah (Lagi)

Tuhan itu Maha Baik. Selalu Baik. 

Butuh bukti? Salah satunya sih Dia memilihkan saya kost di daerah Kramat, which is deket banget sama UTDD PMI DKI Jakarta.

Iya, cerita saya kali ini memang tentang donor darah *lagi*. Haha

Terakhir kali saya donor adalah 11 Februari 2012. Jadi selang 90 hari ya harusnya 11 Mei kan ya? Tapi karena 11 Mei itu hari Jumat dan hari Jumat saya masih harus ngantor, jadi saya ke PMInya Sabtu, 13 Mei 2012. Anyway, saya baru tau kalau jarak waktu donor bisa 75 hari :)

Sabtu, 13 Mei 2012 saya berangkat ke UTDD PMI DKI Jakarta yang berlokasi di Jl. Kramat Raya No. 49, Jakarta Pusat. Siang-siang tuh, sekitar pukul 12.30. 

Dan saya memasuki gedung PMI itu dengan gagah. Tapi begitu sampai dalam, ya mengkerut juga. Karena ternyata ruang periksa Hb nya saja luas dan penuh kursi. Apa artinya? Artinya, pendonornya sering overload kayanya. Hehe. Kalau di UTDD PMI Gresik, saya biasanya pilih buat periksa Hb dulu baru isi formulir biar nggak mubazir. Kalau ternyata Hb kurang dan nggak bisa donor kan nggak buang-buang kertas formulir :). Tapi di UTDD Kramat ini, saya diharuskan isi formulir terlebih dulu, baru tes Hb. Hasilnya, kadar Hb saya 14,9. Amaaaan :D

Setelah tes Hb, saya dipersilakan menunggu di ruang tunggu *ya iyalah*. Sambil nunggu giliran donor, bisa nyambi nonton televisi atau minum teh gitu. Kursinya sendiri ada 9 buah kalo nggak salah.

Saya baru masuk ruang donor sekitar pukul 13.15. Bukan kebanyakan pendonor, tapi emang saya yang kabur dulu buat salat Zuhur di masjid sebelah PMI. Hehe

Setelah dipanggil petugas pake pengeras suara *pengeras suaranya bukan toa, kok*, saya masuk. Terus dicek tekanan darahnya. Alhamdulillah, tekanan darah saya 120/80. Kemudian saya masuk ke ruang donornya. Daaaaan… saya jadi ndeso mendadak.

Ndeso melihat sekian banyak bed yang tersedia. Haha. ada sekitar 15 bed disana. Ada banyak kursi. Ada wastafel untuk cuci lengan. Dan ada bed yang dilengkapi mesin khusus yang setelah saya tanya ke petugasnya ternyata itu adalah mesin untuk mengambil trombosit.

Saya cerita sedikit tentang mesin ini. Jadi, kata mbak petugas yang ngambil darah saya, itu mesinnya khusus buat ambil trombosit. Kenapa pakai mesin khusus? Biar trombosit yang terambil banyak. Kalau pemisahan lewat kantong darah biasa yang 350 cc itu, trombositnya cuma bisa dapat 30 cc. Tapi kalau pakai mesin itu bisa dapet lebih banyak. Saya juga lupa sih persisnya berapa. Haha. Tapi, untuk mengambil sekian banyak trombosit, butuh waktu sekitar 1 jam loh. Superrr…  

Cara kerja mesinnya sih, kata mbak petugasnya, mesinnya ambil darah, kemudian dipisah antara trombosit dan zat lain (sel darah merah, dll). Trombositnya langsung dimasukkan ke kantong yang tersedia, nah zat-zat lain tadi dikembalikan lagi ke dalam tubuh. Jadi nggak sia-sia gitu lah. Daaan… mesinnya itu untuk sekali pakai. Pasti harga sekantong trombosit mahal banget ya, wong mesinnya aja sekali pakai begitu..

Kembali ke kisah donor darah.

Kemarin saya lumayan lama diambil darahnya. Karena darah yang keluar nggak lancar. Jadi saya musti pegang bola karet dan diremas-remas. Kata mbak petugasnya sih biar memompa darahnya gitu, jadi bisa lebih lancar.

Setelah donor selesai, saya ambil kartu donor saya dong. Dan betapa dongkolnya saya pas tau ternyata kantong plastik tempat kartu donor saya cuma berisi obat penambah zat besi. Nggak ada plastik lain berisi biskuit, susu, kue, dan lain-lain. Sempat ngedumel dalam hati juga sih, betapa pelitnya PMI DKI Jakarta ini. Huh…

Kemudian saya keluar ruangan. Saya tanya jalan keluar ke salah seorang petugas kebersihan karena saya nggak tau dimana jalan keluarnya. Nah, saya ditanya sama petugas itu, “Mau pulang langsung, mbak? Nggak makan dulu? Makan dulu aja, itu di kantin…”

Saya refleks nolak dong, soalnya takut harganya nggak pas di kantong. Haha.

“Nggak apa-apa, mbak. Makan dulu aja. Itu vouchernya tukerin aja. Itu kan ada kertas ijo di kartu donornya tuh mbak. Tukerin aja sama makanan.”

Oooh. Dan saya baru nyadar.

Saya nggak jadi langsung balik, tapi mampir dulu ke kantin donor itu. Saya tukarkan kertas hijau yang sebenarnya hasil cetak formulir itu. Saya tinggal duduk manis dan menunggu untuk tak lama kemudian, tadaaaaa… sebaki hidangan datang ke hadapan saya. Haha

Ada semangkuk mie rebus, sebutir telur rebus, secangkir susu cokelat hangat, dan segelas air putih. Cocok untuk orang yang kelaparan seperti saya saat itu. Ya memang jam makan siang sih. Haha

Yang membuat saya senang sebenarnya bukan makanannya *karena makanannya ya sama dengan donor di tempat lain*, tapi pelayanannya. Bagaimana pendonor dilayani seperti itu, tinggal sodorin voucher, duduk, makan. Juga  kantinnya itu sendiri. Benar-benar layak. Ada sekitar belasan meja dengan tiap meja ditemani empat kursi *atau dua ya? saya lupaaaaa :D*. Menyenangkan lah. Saya merasa sangat dihargai saat itu :)

Dan yang jelas saya menyesal udah ngedumel waktu ambil kartu donor. Yang saya terima sangat luar biasa ternyata :)

Bener deh, nggak ada ruginya donor darah. Berbagi kan emang nggak pernah rugi.

Jadi, ayo donor darah!!!!  *teteup*




Ditemani suara vokalis Ikimonogakari yang *maaf* aneh :p
14 Mei 2012

Salam,
Wahyu Widyaningrum



Friday, April 20, 2012

Selamat Ulang Tahun :)

Tahukah kau apa makna ulang tahun?

Aku tak tahu. Karena menurutku, kata ‘ulang tahun’ sendiri itu aneh. Kenapa harus kata ‘ulang’ yang disandingkan dengan kata ‘tahun’? Seakan-akan kita mengulang tahun yang sama. Bukankah mengulang tahun berarti mengulang pengalaman, mengulang segala peristiwa selama setahun itu? Bukankah mengulang tahun berarti tetap di situ, di tempat yang sama, tidak beranjak maju barang sedikit pun? Bukankah mengulang tahun berarti tidak ada perubahan?

Ah. Mungkin juga itulah mengapa awalan untuk kata ‘ulang tahun’ adalah ber-, bukan me-. Karena jika ditambah ber- menjadi berulang tahun.

Sebenarnya menurutku arti dari berulang tahun tidak berbeda dengan mengulang tahun. Toh berulang tahun bukannya bermakna tahun yang berulang?

Atau sampai disini kau melihat kebodohanku karena menganggap aneh kata ulang tahun?

Apapun itu, aku selalu berharap orang yang berulang tahun—aku tak tahu kata apa yang paling tepat untuk menggantikan kata ulang tahun, jadi aku tetap menggunakan kata itu—akan menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam hal apapun. Kuliah, pekerjaan, agama, asmara—ah, aku tak selayaknya mencantumkan kata terakhir. Haha—. Juga semoga selalu bahagia, karena aku sangat bahagia jika melihat orang lain bahagia.

Terutama jika itu kamu :)

Untukmu, selamat ulang tahun. Semoga kau selalu sehat dan bahagia di sana :)

Tuesday, April 17, 2012

Aku Tahu Apa yang Kau Rindukan


Aku tahu apa yang kau rindukan. Memang kau tak pernah mengungkapkannya langsung kepadaku, tetapi aku tahu. Bukan karena aku memiliki indera kesekian atau intuisi yang tajam dan akurat sehingga bisa tahu yang kau rindukan. Bukan juga karena aku pernah bertanya pada semacam orang pintar yang, ah, bahkan aku pun tak percaya bahwa mereka se’pintar’ itu sehingga disebut orang pintar.

Kau merindukan apa yang kau sebut hidup. Bukan nyawa, tapi hidup. Lama kau tak melakukan apa yang menjadi hidupmu, makanya kau menjadi tak hidup. Seakan mati. Tak pernah bergairah dan bersemangat. Kau benar-benar kehilangan hidupmu. Semangatmu. Cahayamu.


Kau tahu kau merindukan hidup itu. Dan aku juga tahu itu. Kau rindu terburu-buru mencari kertas dan alat tulis atau ponsel pintar atau komputer jinjingmu ketika selintas ide tiba-tiba menghampirimu dan singgah di kepalamu. Aku ingat, sekali waktu kau bahkan pernah menulis di atas tisu karena tak menemukan kertas dan kau lupa dimana ponsel pintar dan komputer jinjingmu berada.


Kau rindu menyalakan komputer jinjing kesayanganmu untuk mengetik, aku tak yakin apakah kau menulis cerita atau puisi atau keduanya atau yang lain, dan mengedit tulisanmu. Sambil biasanya kau memutar lagu-lagu kesayanganmu, yang jumlahnya ada 99 itu. Seingatku kau tak pernah mengganti lagu-lagu di playlist itu. Kau hanya mengatur ulang susunannya dan memainkannya dengan mode acak. 


Aku tahu kau rindu semua itu. Dan aku juga tahu bahwa kau ingin mendapatkan hidupmu kembali. Hanya saja, katamu, kau tak tahu bagaimana caranya. 


Bahkan setelah kau berdiskusi ringan dengan seorang kawanmu yang lebih banyak menulis dan lebih beruntung karena banyak tulisannya yang terbit di media massa, kau tak juga tahu bagaimana caranya untuk meraih hidupmu kembali. Mungkin ada sekat tipis antara kau dan hidupmu tadi. Atau sekat itu tak lagi tipis, tapi sudah sangat tebal sehingga kau kesulitan melihat hidupmu dan kesulitan menembus sekat tebal tersebut.


Aku tahu apa yang kau rindukan, dan aku tahu apa yang kurindukan.


Aku merindukanmu. Merindukan dirimu yang dulu. Yang bersemangat, bercahaya, dengan mata yang berkilat-kilat cerdas ketika berdiskusi.
Yang sehat. Tak memerlukan selang-selang aneh yang tumpang tindih di tubuhmu saat ini. Tak memerlukan tempat aneh dengan bau obat macam ini.
Yang juga merindukanku. Bukan begitu, Tom?
 

Thursday, April 12, 2012

Kisah Topi di Sore Hari


Selamat hari Kamis!

Dan selamat menghadapi SAMAPTA untuk 55 teman-teman WonderGirls di DJBC :). 5 minggu bukan waktu yang lama, kawan. Semangat!


Selamat juga untuk semua yang sudah tersesat di blog ini dan membaca postingan saya yang absurd-amburadul ini.


Yang ingin saya ceritakan kali ini adalah sebuah kejadian berminggu-minggu lalu. Sesaat setelah mengalaminya, saya sudah berniat untuk menuliskannya. Lantas kemarin saya teringat niat tersebut, jadilah saya tulis saja langsung.


Sore hari. Dalam angkot. Ada 4 orang sedang mengobrol, dan beberapa penumpang lain yang entah melakukan apa. Obrolan 4 orang tadi sungguh kemana-mana, tak ada arah. Sebentar tentang kerjaan di kantor, sebentar tentang harga BBM yang *saat itu* dikabarkan akan naik, sebentar tentang kejadian yang lalu, dan banyak penggalan kisah lainnya. Yang sebentar-sebentar tadi kadang dialihtopikkan oleh teriakan penumpang yang akan turun, lambaian tangan calon penumpang yang akan naik, pengereman mendadak oleh sang sopir angkot, dan kemacetan.


Tapi sepertinya bukan macet. Hanya padat.


Di tengah kepadatan tersebut, sesuatu terjatuh di tengah jalan. Tak lama kemudian banyak kendaraan yang hampir melindasnya.


Bukan, yang terjatuh tadi bukan benda hidup. Bukan ayam, kucing. Juga bukan bayi.


Hanya sebuah topi. Topi milik seorang anak kecil yang sedang berada di dalam angkot bersama kedua orang tuanya.


Mengetahui topi anaknya jatuh, si ibu langsung bergegas turun dari angkot dan mendekat ke lokasi terjatuhnya topi milik anaknya tadi dengan setengah berlari. Sementara si ayah, setelah turun dari angkot, terus menggendong anaknya.


Si ibu dengan agak susah payah berusaha menyetop motor-motor yang hendak melindas topi anaknya. Setelah ia mendapatkan topi anaknya, ia mengibaskan topi tersebut. Lantas ia kembali ke tempat suami dan anaknya, dan mengenakan kembali topi tersebut ke kepada anaknya.


4 orang yang tengah ngobrol amburadul ngalor-ngidul di dalam angkot tak luput memerhatikan rangkaian kejadian tersebut. 


Salah seorang kemudian berkomentar, “itulah pengorbanan seorang ibu.”


“Bukan harga yang membuat si ibu tadi turun dari angkot dan kemudian berusaha mendapatkan kembali topi itu. Tapi perjuangan memperoleh topi itu. Mungkin saja ada perjuangan luar biasa yang dilakukan sebelum topi itu sampai di tangan mereka.”


“Dan dengan kejadian ini, akan ada cerita menarik untuk anak mereka. Bahwa topi itu pernah jatuh di jalan raya, hampir terlindas kendaraan yang melintas, tapi akhirnya berhasil diperoleh kembali.”


“Si anak juga dapat menyaksikan sendiri perjuangan ibunya demi memperoleh kembali topinya yang jatuh. Ada kisah perjuangan, nilai kenangan, kasih sayang, dan entah apa lagi. Mungkin masih banyak.”


Gambar dari https://osolihin.wordpress.com/tag/kasih-sayang/
 
Perjalanan masih jauh. Obrolan beralih topik setelah si sopir tiba-tiba mengerem angkot secara mendadak. Tak ada lagi suara yang membahas seorang ibu yang mengambil topi anaknya yang terjatuh di jalan raya.


Di tengah obrolan amburadul ngalor-ngidul tersebut, saya merasa bersalah. 


Karena tepat saat saya melihat si ibu turun dari angkot dan berlari ke lokasi topi anaknya jatuh, saya berpikir, “Ngapain ibu itu? Topi gitu doang kok dibela-belain buat ambil sampai hampir tertabrak motor.”


Namun ucapan yang-saya-sebut-seseorang-di-atas lantas menyadarkan saya.


Bahwa ada alasan di balik sesuatu. Bahwa memandang sesuatu dengan positif jauh lebih menyenangkan. Bahwa melihat dengan perspektif lain itu penting. Dan bahwa pengorbanan seorang ibu itu sungguh besar. Bahwa-bahwa ini tentu masih bisa diperpanjang lagi oleh diri Anda masing-masing.


Sekali lagi, selamat hari Kamis! Nggak ada yang istimewa sih, tapi ya selamat aja :D



Ditemani secangkir kopi dan suara orang-orang di luar kamar yang sibuk nonton Full House.
Rabu, 11 April 2012


Salam,
Wahyu Widyaningrum



 

Thursday, March 29, 2012

PR: Ini Amanah, Sekarang Tuntas Sudah


Sebenarnya ini adalah PR dari bertahun-tahun berbulan-bulan lalu dari kawan saya Aang Kunaefi. Setelah inget dan gak malas, akhirnya saya kerjakan juga PR ini. For Eng: Sori, Eng. belum kadaluarsa kan ya? Hehe

Ini aturan mainnya.


Dan inilah jawaban saya atas aturan main tersebut, yaitu berupa 11 hal tentang diri saya. Agak boong dikit nggak apa-apa kan? Hahaha
Saya itu:
1. Suka melakukan hal-hal di luar rencana. Saya suka tiba-tiba pergi ke manaaaa gitu, atau ngelakuin apaaa gitu. Pokoknya yang nggak biasanya saya lakuin.
2. Suka NEWS. Apa itu NEWS? Silakan lihat di sini. Saya juga pernah tulis tentang NEWS di sini. Oke, sebenarnya saya terlebih dulu jatuh hati *eciyeeee* pada Yamapi. Terus karena tau bahwa Yamapi adalah personel NEWS, saya cari tau tentang NEWS juga. Eh, suka deh. Bahkan ketika sekarang Yamapi udah keluar dari NEWS, saya tetep suka NEWS. Hehehe
3. Sering nggak enakan sama orang. Apalagi kalau sama yang lebih senior, baik dalam usia ataupun jabatan. Saya bakal berusaha melakukan apa yang mereka ekspektasikan ke saya. Agak repot sih, karena jadinya lebih ribet dan bisa-bisa jadi kacau semua. Pfffft...
4.  Paling nggak suka menunggu. Menunggu adalah hal paling menyebalkan. Karena itu, saya berusaha tepat waktu, bahkan sebelum waktu kalau janjian. Karena saya tau menunggu itu nggak enak, saya sebisa mungkin nggak bikin orang lain menunggu saya.
5. Suka tantangan. Saya suka diberi hal-hal baru yang saya belum pernah coba. Etapi nggak juga ding. Meskipun udah pernah coba, beberapa hal tetep aja selalu ingin saya lakukan. Misal: kemping dan naik gunung. Yaaaaa....walaupun napasnya ngos-ngosan dan nyampenya agak lama gitu. Hehe
6. Kagum pada wartawan, penulis, penyiar radio, pencinta alam, dan sukarelawan. Mereka itu keren sekali di mata saya. Kereeeeen sekali :D
7. Plegmatis. 
8. Kalau udah suka sama sesuatu, bisa suka beneran. Halah. Contoh begini deh. Saya dulu suka nonton bulu tangkis. Nonton doang, kalau mainnya nggak begitu suka. Nah, saking sukanya nonton bulu tangkis, saya sampai koleksi video-video pertandingannya. Terutama pertandingan pasangan Nova-Butet. Terus saya juga tiap hari bela-belain beli koran demi cari seuprit berita tentang bulu tangkis, dan bela-belain nonton berita olah raga yang tayang pukul 23.30 demi tau perkembangan terkini. Haha
9. Agak gimanaaaa gitu sama cicak dan kecoa. Kalo cicak, karena waktu kecil saya pernah manjat pohon, kemudian si cicak masuk ke dalam baju saya. Karena geli, saya langsung lompat dari pohon dan lari masuk rumah. Setelah baju itu dikibas-kibaskan, barulah si cicak keluar kemudian kabur ke balik lemari. Haha. Kalo kecoa, nggak ada alasan khusus sih. Geli aja karena dia matinya susah. Hehe
10. Nggak suka nganggur. Menganggur itu kata yang agak tabu buat saya. Haha. Menyangkut harga diri juga sih kalau hal ini :p
11. Apa lagi yaaaa...? Emm. Oke. Saya adalah Wahyu Widyaningrum. Sekian.



Nah, itu tadi sebelas hal tentang diri saya. Sekarang, mari kita melangkah menuju tahap selanjutnya. Ada sebelas pertanyaan dari si Aang yang harus saya jawab. These are his questions and my answers:

T: Tujuan kamu blogging apa?? Nyari duit? Nyalurin bakat menulis? Curhat? Hobi? Atau yang lain?
J: Tujuan blogging? Hmmm... *mikir* Kalau nyari duit, saya rasa enggak. Nyalurin bakat menulis? Mungkin lebih tepatnya biar mau nulis aja. Curhat? Enggak, saya udah punya puraibeto nikki sendiri soalnya. Hobi? Bukan juga. Yang lain? Saya rasa sebagai tinggalan jejak diri sendiri aja. Bahwa saya pernah begini dan begitu.

T: Hal apa yang membuatmu bergadang?
J: Mungkin maksudnya begadang, ya. Kalau begadang sih paling pas ujian atau nonton. Haha. Begadang lho ya, bukan nggak tidur. Karena saya nggak merelakan waktu tidur saya dirampas oleh apapun, bahkan ujian sekalipun. Huahaha

T: Apa yang kamu lakukan jika dihadapkan dengan 2 atau lebih pilihan yang belum kamu ketahui seluk-beluk masing2 pilihan itu??
J: Kenapa lah tanyanya yang bikin pusing begini :p. Kalau ada waktu untuk berpikir, jelas saya akan cari tahu dulu konsekuensi tiap pilihan sebelum memilih. Kalau nggak diberi waktu, ya saya akan pilih berdasarkan pengetahuan saya dan intuisi saja.

T: Lebih condong kemana? Mencari cinta sejati atau membangun cinta sejati?
J: Masalah cinta ya. Emmm.... Karena disini frase yang digunakan adalah 'cinta sejati', maka saya tafsirkan itu sebagai Gusti Allah swt. Karena sejatinya memang hanya Allah swt-lah yang patut menjadi cinta sejati. Jadi saya pilih membangun, bukan mencari. Saya sudah menemukan cinta sejati saya yaitu Allah swt, yang saya perlu lakukan adalah membangun rasa cinta sejati itu agar kadarnya semakin besar dan benar-benar bisa menjadi cinta sejati :)

T: Apakah kamu percaya sepenuhnya dengan media massa?
J:  Repot ini. Kadang iya, kadang tidak. Karena yang bikin media massa ya manusia, jadi pasti ada bias. Kalau sudah lebay banget, saya nggak akan percaya. Bagaimana menentukan kadar lebaynya? Kembali ke intuisi. Haha

T: Arti sukses menurut kamu?
J: Arti sukses? Saya sudah pernah menulis. Sila baca di sini :)

T: Posisi orang tua dalam hidup kamu?
J: Orang tua itu...ichiban taisetsu na hito.

T: Kalau harus memulai bisnis, bisnis apa yang akan kamu pilih?
J: Bisnis kuliner atau agrowisata.

T: Gimana sikap kamu jika berinteraksi dengan orang baru?
J: Ya nggak gimana-gimana. Biasa aja tuh. Ahaha

T: Pendapat kamu tentang boyband n gilrsband yang lagi happening?
J: Biasa ajaaaaa... Itu cuma cara mereka dalam berekspresi aja. Toh saya juga suka NEWS, which is boyband juga.

T: Ceritakan kesan kamu tentang kampung halamanmu dimana kamu dilahirkan/dibesarkan?? Maksimal 5 kalimat :D
J: Ini pertanyaan yang paling saya suka!!! Saya lahir dan besar di Gresik, Jawa Timur. Kota industri, kota santri, kota pudak, kota yang menyenangkan. Banyak makanan lezat, banyak destinasi wisata religi dan budaya, tapi sedikit wisata alam. Cuacanya panas tapi bikin kangen :)

Tuntas. Saya boleh kan nggak melanjutkan permainan ini? Ah, meskipun jawabannya nggak boleh, saya anggap aja boleh :p. Jadi saya nggak kasih tongkat estafet ke siapapun.
Terima kasih sudah mengajak saya bermain di permainan ini. Seru juga, loh!
Semoga tetap bermanfaat :)


Kamis, 29 Maret 2012

Salam,
Wahyu Widyaningrum