Sunday, June 19, 2011

Simple Plan Being, Do The Action!

Cerita bahwa laptop merupakan sebuah barang mewah dan berstatus kebutuhan tersier sepertinya sudah hampir terlupakan. Saat ini, laptop tampaknya sudah ‘naik kelas’ menjadi barang kebutuhan sekunder. Hal ini berlaku terutama bagi kalangan mahasiswa, yang hampir setiap hari mendapat bermacam tugas, entah presentasi, pembuatan laporan, atau lainnya.

Bagi mahasiswa yang tempat tinggalnya (rumah atau kost) dekat dengan kampus, tentu lebih enak pulang terlebih dahulu kemudian baru mengerjakan tugas. Bisa sambil leyeh-leyeh, tidur-tiduran, dan lainnya. Tapi bagi yang bertempat tinggal jauh dari kampus, pilihan paling efektif adalah mengerjakan tugas tersebut di kampus. Bisa di selasar gedung, plasa jurusan, gazebo, atau di manapun, yang penting ada tempat bersandar. Yang paling beruntung adalah yang bisa dapat tempat duduk di tempat-tempat tadi. Yang kurang beruntung ya tidak kebagian tempat duduk, kemudian duduk di lantai.

Mahasiswa yang kurang beruntung tadi menjadi lebih tidak beruntung karena mereka lebih cepat lelah. Bagaimana tidak? Laptop diletakkan di lantai sehingga untuk bisa lebih jelas melihat layar harus membungkukkan badan. Kalau capek membungkuk, maka laptop dipangku sehingga kaki terasa panas.

Hal-hal di atas ternyata menimbulkan ide bagi sekelompok mahasiswa fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS Surabaya) untuk membuat sebuah alat yang ergonomis sehingga para pengguna laptop tidak perlu membungkuk atau memangku laptopnya. Alat tersebut diberi nama eLAPIS (Ergonomic Intelligent Laptop Pillow and Stand).

“eLAPIS merupakan solusi bagi orang yang suka menggunakan laptop,” kata Marissa Alfia Rachmah, salah satu dari lima mahasiswa ITS yang menggagas eLAPIS. Mahasiswi kelahiran Gresik, 22 Februari 1990 ini mengatakan bahwa tujuan pembuatan eLAPIS adalah untuk menerapkan konsep ergonomis yang masih belum familiar di kalangan anak muda pengguna laptop, demi kesehatan mereka.


Marissa Alfia Rachmah, salah satu penggagas eLAPIS

Ressa, panggilan akrab Marissa, mengungkapkan bahwa sebenarnya proyek eLAPIS ini berawal dari iseng. “Dulu iseng ikut Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM), eh ternyata lolos seleksi dan berhasil mendapat dana dari Dikti sebesar lima setengah juta rupiah.”

“Produk ini lahir berkat keisengan saya dan kawan-kawan yang sering melihat mahasiswa ITS mengerjakan tugas di selasar gedung. Berjam-jam mereka berhadapan dengan laptop dalam dua posisi: membungkuk atau memangku laptop. Padahal posisi tersebut tidak baik untuk kesehatan tubuh. Makanya, kami kepudian terpikir untuk membuat produk yang ergonomis. Faktor ergonomis ini penting karena ia menyesuaikan pekerjaan dengan manusianya. Setelah riset kesana-kemari selama sekitar satu setengah bulan, jadilah desain produk yang kami beri nama eLAPIS ini.” jelas Ressa.

Ressa menjelaskan bahwa pembuatan desain eLAPIS tidak lepas dari proses kreatif. Proses kreatif tersebut meliputi beberapa hal, seperti konsultasi dengan dosen, bertukar pikiran dengan teman-teman lain, berkunjung ke tukang meubel, memanfaatkan teknologi, dan survei pasar suara konsumen dengan membagi kuesioner pada target pasar.

“Kami akhirnya membuat dua buah desain untuk eLAPIS ini.” Yang pertama berbentuk seperti meja dengan tinggi kaki yang dapat disesuaikan. Meja tersebut sudah dilengkapi dengan cooling fan. eLAPIS jenis ini memiliki berat sekitar 1,5 kg sehingga lebih cocok untuk diletakkan di suatu tempat misalnya ruang sekretariat atau kantor. Produk eLAPIS kedua merupakan model bongkar pasang sehingga mudah dibawa kemana-mana. “Keduanya sudah diproduksi. Alhamdulillah, responnya positif.”




Dua bentuk desain eLAPIS

Lebih lanjut, mahasiswi semester 6 jurusan Teknik Industri ITS Surabaya ini mengungkapkan bahwa berdasarkan survey yang dilakukan, konsumen merasa bahwa keberadaan eLAPIS adalah penting. Beberapa aspek yang membuat eLAPIS lebih unggul dibanding kompetitor sejenis adalah ergonomis, harga, umur produk, kenyamanan, dan kekuatan produk.

Tiap unit eLAPIS dipasarkan dengan harga Rp 80.000 per unit. “Harga ini lebih murah dibandingkan produk kompetitor. Selain itu, harga sekian itu karena kami masih memproduksi dalam jumlah kecil. Kalau diproduksi massal, harga eLAPIS per unitnya bisa sekitar Rp 35.000.” Sampai sekarang, Ressa dkk sudah memproduksi 70 unit eLAPIS. “Hal ini juga karena dana dari Dikti baru turun setengahnya sehingga kami baru bisa memproduksi 70 unit.”

Ketika ditanya mengenai hambatan dalam proses perencanaan hingga pemasaran eLAPIS, Ressa menjawab, “Kendala kami ada pada pemasok produk. Di Surabaya, tukang kayu mematok harga yang tinggi. Selain itu, proses pengerjaannya juga lama. Itu kendala terbesar kami.”

Apa pesan Ressa untuk pembaca tulisan ini?
“Jangan takut untuk berpikir out of the box. Amati sekitarmu. Simple plan being, do the action!”


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Sumber foto:
1. Dok. pribadi
2. http://us.surabaya.detik.com/read/2011/05/25/165011/1647031/466/berlama-lama-di-depan-laptop-dengan-meja-elapis

Thursday, June 2, 2011

Malu

Selama kuliah hampir tiga tahun, tas tetap saya hanya satu. Warnanya cokelat khaki, modelnya selempang. Saya masih ingat, tas itu saya beli di BG Junction Surabaya. Bapak yang mengantar saya ke sana. Waktu itu saya masih berstatus mahasiswa ITS Surabaya. Rupanya ketika masuk STAN, saya tetap membawa serta tas tersebut.

Sebenarnya ada satu tas lagi. Tas ransel untuk laptop, warnanya hitam. Saya beli di Ramayana Gresik, lagi-lagi bapak yang mengantar. Tapi tasnya besar, saya kurang suka. Makanya saya jarang pakai. Paling-paling saya cuma pakai tas itu kalau bawa laptop atau kalau bepergian yang butuh membawa barang agak banyak.

Nah, tas saya yang warna cokelat khaki ini, karena sudah saya pakai hampir tiga tahun, warnanya sudah mulai pudar. Dia memakai pengait berupa magnet. Kalau saya tidak sabar, saya sering menariknya dengan lumayan keras. Makanya, sekarang pengait magnetnya sudah tak karuan bentuknya. Bahkan sudah berlubang. Kadang-kadang malu juga saya kalau pakai tas itu.

Di tengah malunya saya terhadap sebuah tas, saya bertemu dengan Risma. Bukan pertemuan pertama, sih. Pertama kali saya bertemu dengan dia sekitar sepekan lalu. Saat itu, informasi yang saya ketahui tentang Risma hanya sebatas dia adalah kakak dari Halimah, salah seorang murid PAUD Komunitas Menara.

Kemarin, saya bertemu lagi dengan Risma. Dia akan mengikuti tes masuk SMP Terbuka Ibnu Sina di kawasan Jombang, Tangerang Selatan. Kebetulan saya diajak berkunjung ke SMP itu.

Kami sudah berada di SMP Ibnu Sina sekitar pukul 11.30, padahal tes baru dimulai pukul 13.00. Masih ada sekitar 1,5 jam lagi. Saya isi dengan membaca buku Andy’s Corner yang terpampang di salah satu rak di aula SMP Ibnu Sina dan mengobrol dengan Risma.

Tahun lalu, Risma masih tercatat sebagai seorang siswa di salah satu MTs di daerah Peladen (seingat saya sih begitu). Ketika hampir ujian semester genap kelas 8, orang tua Risma tidak sanggup lagi membayar biaya sekolah Risma. Hasilnya, Risma terpaksa putus sekolah.

Risma adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Anak kedua adalah Jihan, sekarang kelas 6 SD. Kata Risma, orang tuanya akan menyekolahkan Jihan di sebuah pesantren yang dimiliki oleh Pertamina. Saya kurang jelas juga, apakah pesantren tersebut dimiliki atau dibiayai atau dinaungi oleh Pertamina. Risma sendiri juga bingung. Anak ketiga bernama Arif, duduk di kelas 1 SD. Halimah, murid PAUD KM yang saya kenal, rupanya adalah anak keempat. Seorang lagi, anak kelima, masih bayi. Entah berapa usianya dan siapa namanya. Yang jelas, saya sering melihat ibu Halimah mengantar-jemput Halimah dengan menggendong anak kelima tersebut.

Ayah Risma adalah seorang tukang las keliling. Saya tidak tahu berapa penghasilannya. Dan saya lebih tidak tahu lagi bagaimana pengelolaan uang di keluarga tersebut sehingga sanggup menghidupi tujuh nyawa dengan penghasilan dari las keliling.

Keberadaan SMP Terbuka Ibnu Sina yang tidak memungut biaya apapun dari siswanya selama masa pendidikan membuat Risma ingin masuk ke SMP tersebut. Jadi ia bisa melanjutkan sekolahnya yang sempat terputus. Kalau lolos tes dan diterima di SMP Ibnu Sina, maka Risma akan duduk di kelas 8 (lagi).

“Nggak malu, Ris?” Tanya saya.

“Teman-teman juga menanyakan hal yang sama, kak. Kata mereka, ‘ih, lo nggak malu apa ngulang kelas 8? Kalo gue mah ogah.’ Saya cuma bilang, ‘ngapain malu?’ Nih ya kak, bahkan kalo saya harus ngulang dari kelas 1 SD pun bakal saya jalanin. Saya nggak malu, tuh. Yang penting saya bisa tetep sekolah.”

Saya tersenyum. Lantas kembali menghadap buku Andy’s Corner di tangan saya, pura-pura membaca. Padahal saya tengah termenung. Di samping saya, Risma bahkan rela mengulang sekolahnya tanpa rasa malu sedikitpun. Sedangkan saya, malu hanya karena sebuah tas.

Saya lihat tas saya yang tergeletak di atas meja di depan saya. Hei, kamu kan yang sudah menemani saya selama hampir tiga tahun, ya? Kasihan sekali kamu, bahkan tuanmu pun malu atas keberadaanmu.

Saya ambil tas saya, dan saya melihat Risma. Baiklah, rasa malu saya terhadap sebuah tas rasanya bukan pada tempatnya. Saya jadi malu pada diri sendiri yang kalah pada seorang remaja berusia 16 tahun bernama Risma.

Salam,
Wahyu Widyaningrum

Friday, May 20, 2011

Ketika Bulan Berbentuk Bulat Penuh

Lihatlah ke atas, mendongaklah. Disana, bulan sedang berbentuk bulat penuh.

Dan aku mengingat kalian. Kemudian aku mengingat kita, dan kisah-kisah kita.

Kita adalah orang-orang terpilih. Aku sangat meyakini itu. Jikalau tidak, mana mungkin kita bertahan? Di tengah gempuran cemoohan dan pandangan tak enak dari orang-orang di luar kita.

Bersama kalian aku senang, apapun keadaannya. Aku masih ingat ketika suatu kali, kita pernah sama-sama tak mandi beberapa hari. Kamar mandi yang terbatas, waktu yang sempit, dan jumlah orang yang luar biasa banyak membuat kita terpaksa melakukannya. Aku bahkan ingat, waktu karnaval di hari terakhir itu, kita pun tak mengguyurkan air ke tubuh kita. Dan waktu perjalanan pulang dengan mengendarai truk bak terbuka, kita sama-sama kelelahan. Mungkin lelah karena aktivitas yang padat. Atau mungkin lelah mencium betapa wanginya manusia yang tak mandi.
(Baiklah, paragraf di atas sungguh sebuah kisah yang memalukan. Namun tetap menggelitik tiap kali diingat )

Bersama kalian aku senang, apapun keadaannya. Aku ingat dengan jelas ketika suatu kali, kita pernah sama-sama mencapai sebuah air terjun dengan medan yang aduhai. Waktu itu, jumlah kita ganjil. Lantas seekor kucing mengikuti kita sebagai penggenap, sejak kita berangkat hingga kembali lagi ke lokasi kita bermalam. Dan ternyata medan yang aduhai itu ‘hanya’ berakhir di sebuah air terjun dengan aliran air berbentuk sejajar yang kecil dan tidak terlalu deras. Kala itu aku sedikit kecewa. Namun kecewaku menjadi lenyap ketika melihat kalian saling ribut karena beberapa lintah yang menempel di kaki, ketika melihat senyum kalian saat berfoto, dan ketika melihat ekspresi kalian saat menciduk dan meminum air secara langsung.

Bersama kalian aku senang, apapun keadaannya. Aku ingat ketika pada malam hari kita berjalan melangkah setapak demi setapak demi mencapai sebuah lokasi untuk beristirahat, beberapa kilometer di atas sana. Ketika itu aku sungguh lelah, namun bantuan dan semangat kalian sungguh membuatku tak menyerah. Meskipun pada akhirnya aku tak berhasil mencapai puncak dan hanya main kartu selama beberapa jam, namun aku tetap senang. Semalaman aku khawatir ketika kalian tak juga kembali. Dan aku tertawa ketika mendengar cerita kalian bahwa kalian ‘tersesat’ malam itu sehingga tak kembali tepat waktu.

Dan yang membuatku mengingat kalian, kita, dan kisah kita adalah bulan di atas sana, yang berbentuk bulat penuh. Kita sering sekali bermalam ketika bulan sedang berbentuk bulat penuh. Pada malam itu, kita akan berada di luar tenda sambil menyanyi-nyanyi. Atau hanya duduk di depan tenda sambil bermain kartu. Atau cuma berada di dalam tenda sambil berbagi cerita.

Dimanapun kalian, lihatlah ke atas dan mendongaklah. Disana, bulan sedang berbentuk bulat penuh.

Aku merindukan kalian.


Kamis, 19 Mei 2011

Pojok kamar, ditemani If You’re Not The One – Danield Beddingfield



Salam,
Wahyu Widyaningrum



P.S. Tulisan ini untuk seluruh skuad Pramuka SMPN 1 Gresik dan SMAN 1 Gresik. Untuk Rulissa Qurrata A’yun, Siti Mushonifah, Gusti Eman Ayu Sasmita Jati, Dwi Setyorini, Irfan Syaifudin, Tedi Aji Siswoyo, Deny Novydyanto, Virdia Devi Maharani, Achmad Romansyah, Dewi Kartika, Ari Koesworo, Klepon (sori Pon, ane lupa nama asli ente), dan Afrizon Teguh Prasetyo. Sebenarnya aku tidak sungguh merindukan kalian, hanya saja aku merindukan berada di sebuah tenda di bawah bulan bersama kalian :D.

Wednesday, May 11, 2011

Al Zaytun, Kemegahan yang Pernah Saya Cita-Citakan

Sembilan tahun lalu, apa yang ada di depan mata saya adalah sebuah kemegahan. Kemegahan itu lantas menghipnosis saya untuk mati-matian belajar demi sebuah cita-cita: bersekolah di Al Zaytun.

Saya tak pernah menyangka bahwa saat ini (sebenarnya kasus ini sudah sejak dahulu bergulir), nama Pondok Pesantren Al Zaytun, atau yang juga biasa disebut Ma'had Al Zaytun, sangat lekat dengan Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah 9 (KW 9). Saya tak pernah menyangka bahwa Panji Gumilang, yang dulu namanya tak pernah saya dengar karena saya hanya tahu nama pesantrennya, saat ini tengah menjadi pusat perhatian karena kemampuannya memeroleh dan mengelola uang sekian triliun demi pesantren dan NII-nya.

Saya mengenal Al Zaytun sejak kelas 5 SD. Saat itu, murid ibu-saya adalah seorang santri di Al Zaytun. Ibu saya kemudian memeroleh cerita tentang pesantren tersebut dari ibu muridnya. Cerita itu lantas diturunkan kepada saya, bahwa Al Zaytun adalah pesantren yang sangat bagus: menjamin setiap santrinya hafal Al Quran begitu lulus dari sana, mengembalikan seluruh ‘uang pangkal’ yang telah dibayar di awal pendidikan ketika sudah lulus, dan bla bla bla lain.

Yang menjadi sedikit masalah adalah, untuk bisa menjadi santri Al Zaytun, ada beberapa tes. Salah satu tesnya adalah hafalan Juz Amma atau juz 30 dalam Al Quran.

Terdorong oleh keinginan untuk menjadi bagian dari ribuan santri Al Zaytun, saya akhirnya mulai hafalan surat-surat dalam juz 30. Ketika itu, kota saya juga sepertinya sedang demam Al Zaytun. Banyak anak yang juga ingin bersekolah di Al Zaytun, dan fakta ini membuat saya semakin tertekan. Dibantu ibu saya, saya jadi semakin rajin menghafal ayat-ayat Allah juz 30. Kadang patah arang karena tidak kunjung hafal, tapi ibu tetap memberi semangat.

Nah, beberapa ratus meter dari rumah saya, tapi masih dalam satu komplek, ada sebuah rumah yang menjadi semacam pusat penggemblengan hafalan juz 30 khusus untuk anak yang ingin masuk Al Zaytun. Semacam asrama begitu. Di sana kegiatannya hanya menghafal dan menghafal. Sempat terpikir untuk mengikuti penggemblengan tersebut, namun akhirnya urung. Saya takut tak kuat dan takut juga membayangkan betapa membosankannya hidup tanpa televisi (di ‘asrama’ tak boleh nonton teve).

Selain dari cerita ibu, ada juga cerita-cerita dari majalah yang mampir ke rumah. Al Zaytun memiliki majalah sendiri, seingat saya nama majalahnya juga Al Zaytun. Salah satu kaver belakang majalah yang saya ingat adalah gambar burung Rangkong. Kabarnya, Al Zaytun memiliki penangkaran burung Rangkong yang terancam punah.

Suatu kali, ayah saya mengajak saya berkunjung ke rumah salah seorang kawannya. Kawan ayah ini memiliki putra yang usianya setahun lebih tua dari saya, dan ia adalah santri Al Zaytun. Saat itu, ia sedang liburan dan berada di rumah. Saya bertemu dengannya. Kawan ayah bercerita banyak tentang betapa enaknya bersekolah di Al Zaytun, sambil sesekali bertanya kepada putranya tersebut.

Sepulang dari tempat kawan ayah, keinginan saya untuk masuk Al Zaytun makin besar. Sayangnya, saya tak juga berhasil menghafalkan juz 30. Hafalan saya masih patah-patah. Kadang lupa, terbolak-balik, atau macet. Padahal, kabarnya, tes hafalan untuk masuk Al Zaytun ini dilakukan secara acak. Tak ada yang tahu surat apa yang akan diujikan, kemungkinannya 1 dari 37 karena ada 37 surat dalam juz 30. Kalau misalnya dapat surat Asy Syams sih masih mending. Kalau dapat Al Fajr, An Nazi’ah, atau surat agak panjang lainnya? Tentu saya puyeng, karena hafalan dengan ibu saja masih kacau, apalagi hafalan di depan penguji.

Sekitar bulan Desember ketika saya kelas 6 SD, kalau saya tak salah ingat, ada rombongan santri dan wali santri yang akan kembali ke Al Zaytun selepas liburan. Wali santri hanya bertugas mengantar, jadi jumlahnya tak begitu banyak. Yang lebih banyak adalah santrinya (ya iyalah). Seingat saya tidak hanya satu bus yang memberangkatkan para santri ini.

Saya tidak tahu dari siapa ide ini muncul—entah ayah entah ibu—, tiba-tiba ayah mengajak saya ikut rombongan ini. Kami berdua akan melihat sendiri bagaimana Al Zaytun. Kami membawa perlengkapan seperlunya. Saya tidak ingat apa saja yang ayah masukkan ke dalam tas besar kami.

Saya dan ayah tidak mungkin ikut dalam rombongan santri, jadi kami ikut rombongan wali santri. Wali santri tidak ikut naik bus, tapi naik mobil. Entah ada berapa mobil yang ikut berkonvoi dalam perjalanan Gresik-Indramayu ini, yang jelas saya dan ayah ada dalam salah satu mobil di antara rangkaian konvoi itu. Selain kami berdua, di dalam mobil tersebut empat orang wali murid. Jadi ketika itu, sayalah yang paling imut dan unyu :p.

Perjalanan panjang antara Gresik dan Indramayu ini kami tempuh dalam waktu entah berapa jam entah berapa hari. Saya sudah lupa. Yang jelas, kami sering mampir di SPBU. Bukan untuk isi bahan bakar, tapi sekedar untuk buang air atau menegakkan salat.

Singkat cerita, sampailah kami pada sebuah pondok pesantren bernama Al Zaytun. Oiya. Jalan menuju ke pesantren adalah jalan raya yang tidak terlalu lebar. Di samping jalan raya masih banyak sawah yang membentang. Pokoknya ndeso banget lah.

Tapi jangan tanya apakah Al Zaytun ndeso. Sama sekali tidak. Gedungnya justru keren-keren.

Saya menginap di salah satu kamar santri perempuan, ayah saya bersama wali santri lain. Ah, saya lupa siapa nama santri yang memberi saya tumpangan tidur. Nama gedung asramanya pun saya lupa. Yang saya ingat, gedung-gedung Al Zaytun dinamai seperti sahabat Rasulullah. Jadi ada gedung Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash Ahiddiq, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Aisyah, Fatimah Az Zahra, dan Khadijah.

Di Al Zaytun, kegiatan saya dan ayah tak lain adalah jalan-jalan. Kami berkunjung ke masjid utama Al Zaytun. Di sinilah saya terpesona untuk pertama kalinya. Masjid ini memiliki kolam ikan di bawahnya! Jadi kalau mengantuk, jangan duduk di pinggir masjid. Bisa-bisa nanti tercebur ke kolam. Saya tidak tahu ikan apa yang dipelihara, tapi yang jelas ikan itu berukuran besar. Panjang ikan-ikan itu sekitar dua jengkal orang dewasa. Menurut santri di sana, ikan itu untuk keperluan konsumsi sehari-hari. Selain di bawah masjid, ada lagi beberapa kolam ikan lainnya.

Kemudian, kami mengitari kompleks pesantren Al Zaytun dengan menggunakan bus. Saking besarnya sampai butuh bus untuk mengelilinginya.

Berturut-turut, pemandangan berikut hadir di hadapan saya:
Peternakan sapi. Sapi-sapi ini selain diambil dagingnya, juga diperah susunya. Jadi, santri dan guru minum susu perah asli, hasil peternakan sendiri.
Peternakan ayam. Tentu Anda sekalian sudah tahu hasil apa yang ingin diperoleh dari sebuah peternakan ayam. Yang super, kandang ayamnya dilengkapi dengan AC alias pendingin ruangan. Katanya sih, biar steril.
Perkebunan mangga. Kebun mangga ini luas sekali. Entah berapa ton mangga yang dihasilkan ketika musim panen. Mungkin mangganya adalah mangga indramayu, tapi saya tidak tahu juga.
Sawah. Ini yang super. Mereka punya sawah sendiri untuk memenuhi kebutuhan beras bagi ribuan mulut di pesantren Al Zaytun.
Deretan pohon kurma. Saya melihat beberapa pohon kurma yang berjejer. Saya tidak tahu kenapa pohon-pohon kurma itu ditanam karena setahu saya pohon kurma tidak bisa berbuah di Indonesia. Tapi menurut beberapa kabar, di Al Zaytun pohon kurma itu berhasil berbuah.
Pohon zaytun. Mungkin dari sinilah nama itu diambil, jadi pihak pesantren menanam pohonnya. Saya tidak begitu ingat bagaimana bentuk pohonnya, karena mereka terhampar di lahan yang luas.
Lapangan olahraga. Ada lapangan sepakbola yang seingat saya berjumlah enam buah, lapangan basket, dan voli. Super sekali pokoknya.
Koperasi. Gedung koperasinya besar sekali, tidak seperti Alfa Mart. Yang dijual pun beragam, bahkan hingga pakaian seragam santri.

Sepertinya masih banyak yang saya lihat, tapi hanya itu yang bisa saya ingat.

Begitulah. Sepulang dari Al Zaytun, keinginan saya untuk bisa bersekolah disana semakin besar. Saya semakin bersemangat menghafal, dan sepertinya orang tua saya juga makin bersemangat untuk mengumpulkan uang pangkal yang seingat saya sebesar 20 juta rupiah ketika itu.

Lantas, bagaimana kelanjutan kisahnya?

Kisah selanjutnya adalah, saya justru meneruskan sekolah di SMP Negeri 1 Gresik, bukan di Pondok Pesantren Al Zaytun. Saya tak ingat mengapa akhirnya saya tidak jadi mendaftar untuk bersekolah disana. Mungkin salah satu sebabnya adalah saya tidak berhasil menghafal keseluruhan surat dalam juz 30 Al Quran. Hehe

Sampai sekarang, ketika mendengar nama Al Zaytun, yang ada di benak saya adalah sebuah pondok pesantren yang hebat karena fasilitasnya yang sedemikian lengkap. Terkadang bahkan saya tak percaya pada berita-berita tentang NII-Panji Gumilang-Al Zaytun itu.

Bagaimanapun, beginilah jalan hidup saya. Allah swt telah memilihkan jalan terbaik untuk saya. Kalau dulu saya diterima di Al Zaytun, mungkin saya sekarang tidak kuliah di STAN. Kalau dulu saya diterima di Al Zaytun, mungkin saya bisa menguasai bahasa Sunda (nggak nyambung). Juga kalau dan mungkin lainnya.

Sampai sekarang, saya masih ingat dengan jelas kolam ikan di bawah masjid itu…


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Monday, May 2, 2011

Aku (Tidak) Suka Menulis

Aku tidak suka menulis.

Menonton serial drama Jepang atau Korea lebih menyenangkan. Jang Geun Seok, Lee Min Ho, Kim Bum, dan Tomohisa Yamashita sangat memukau ketika berakting—atau aku terbius oleh tampang mereka, bukan akting mereka? Entahlah—. Jalan cerita yang terkadang berlebihan dan berlawanan dengan realita tetap menarik untuk ditonton. Menghabiskan waktu bersama serial drama selalu kusukai, dan memang aku selalu sedemikian suka. Menonton serial drama Jepang atau Korea lebih menyenangkan daripada menulis.

Aku tidak suka menulis.

Tidur lebih menyenangkan. Ia menjadi obat yang sangat pas ketika aku lelah beraktivitas, ketika aku malas menyalakan komputer untuk menonton serial drama, atau ketika aku merasa memang harus tidur. Aku menjadi lupa segalanya ketika tidur, maka aku menyukainya. Sekejap saja, beberapa jam telah kuhabiskan dengan kegiatan ini. Tidur lebih menyenangkan daripada menulis.

Aku tidak suka menulis.

Menonton televisi lebih menyenangkan. Berita tidak penting selalu menarik untuk diikuti. Tidak terlalu menarik sebetulnya, namun memang tak ada pilihan tayangan lain yang lebih pantas untuk diikuti. Briptu norman, teror bom, NII KW 9, dan William-Kate memaksa pemirsa, termasuk aku, untuk setia di depan televisi. Tidak terlalu setia sih, tapi ya aku cukup mengikuti perkembangan lah. Sambil menjejali otakku dengan berita-berita aneh namun disiarkan terus-terusan itu, aku bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam. Menonton televisi lebih menyenangkan daripada menulis.

Aku tidak suka menulis.

Membaca novel lebih menyenangkan. Konflik antara tokoh Astari, Satrijo, dan Hendrik dalam novel Bidik! lebih menarik untuk diikuti. Cerita rekaan ini menyita beratus-menit waktuku. Lomografi dan marketing komunikasi menyisipi pikiranku gara-gara buku cerita fiksi ini. Aku juga suka berkhayal menjadi tokoh ‘aku’ yang berpikir bahwa Bruno, dalam novel The History of Love, adalah tokoh nyata padahal ia tak lain hanyalah sesuatu yang tak pernah ada. Aku juga mereka-reka bagaimana hari tuaku esok, akankah sama jadinya dengan tokoh ‘aku’ tersebut. Membaca tak butuh banyak berpikir, jadi aku menyukainya. Membaca novel lebih menyenangkan daripada menulis.

Aku tidak suka menulis.

Mendengarkan lagu lebih menyenangkan. Album E.M.D, David Archuleta, dan OST Hwang Jin Yi sangat akrab di telingaku. Aku tak pernah bosan mendengarkan rangkaian lagu-lagu mereka, meskipun aku menyetelnya berulang-ulang. Apalagi dengan bernyanyi keras-keras mengikuti mereka, rasa-rasanya aku menjadi orang paling bebas dan bahagia sedunia. Aku suka itu. Mendengarkan lagu lebih menyenangkan daripada menulis.

Aku tidak suka menulis. Menulis butuh berpikir. Menulis butuh pengetahuan. Menulis butuh ide. Menulis butuh kemauan. Menulis butuh tekad. Menulis butuh waktu.

Aku tidak suka menulis. Maka aku mengingkari janjiku sendiri untuk menulis setidaknya satu cerpen atau satu tulisan setiap hari. Maka aku menjauh dari targetku mengirim naskah cerpen ke media massa setidaknya seminggu sekali. Maka aku menjauh dari mimpiku untuk meraih KLA 2012.

Aku tidak suka menulis. Tapi ketika aku menulis kalimat ‘aku tidak suka menulis’, aku mengingkari hatiku. Ketika menulis kalimat tersebut, aku berbohong pada cita-cita dan mimpiku. Ketika menulis kalimat tersebut, aku sadar bahwa aku adalah orang yang paling bodoh sedunia.


Sabtu, 30 April 2011. Pukul 18.28
Pojok kamar, ditemani Anywhere is Paradise – E.M.D


Salam,
Wahyu Widyaningrum

Sunday, April 17, 2011

Tiga Potongan Puzzle Ketika Senja (2)

(2)

Bagiku, senja selalu menyenangkan. Aku suka melihat semburat warna jingga di langit barat, yang menurutku indah sekali. Terlebih jika aku bisa melihat langsung sepersekian bagian matahari yang perlahan tenggelam di balik gedung dan bangunan lain.

Namun selain semburat jingga, ada satu hal lagi yang membuatku menyukai senja. Sekitar pukul empat, aku sudah memberesi meja kerjaku. Hanya komputer yang menyala. Aku selalu berharap tak ada lagi pekerjaan untukku selepas pukul empat itu. Jikalau ada, aku akan dengan cepat menyelesaikannya. Mengetik data dengan cepat, mengantarkan arsip ke bagian lain dengan hampir berlari, mencetak dokumen dengan selalu berdoa semoga printer bisa bekerja lebih cepat, atau menggandakan dokumen dengan doa yang sama.

Sisa waktu kugunakan untuk melihat ke arah luar. Tuhan baik sekali padaku, Ia sangat mengerti kesukaanku. Kepala-seksiku menyuruhku menempati meja paling ujung, langsung bersebelahan dengan jendela. Dan mejaku yang berada di lantai tujuh ini membuatku lebih senang, karena senja bisa tampak lebih indah.

Ah, aku selalu tak sabar menanti pukul lima sore. Terkadang, di sela-sela memandangi suasana senja dan semburat jingga, aku melihat kawan-kawanku. Beberapa masih bekerja lantaran tadi pagi terlalu banyak mengobrol, beberapa sedang mengobrol karena tadi pagi sudah mencicil pekerjaannya.

Mereka yang bekerja tampak sibuk sekali, dan lebih gugup. Tangannya lebih sulit membalik kertas-kertas yang bertumpuk. Aku selalu begitu, mengalami kesulitan membalik kertas ketika gugup, jadi kurasa mereka pun mengalaminya karena gugup. Sedangkan mereka yang mengobrol terkadang tertawa lebar, kaki diangkat di atas kaki satunya, dan tangan bebas bergerak.

Lima menit menjelang pukul lima, aku mematikan komputerku. Beberapa kawan lain sudah beranjak, mengantre di mesin absen untuk menempelkan jempol-jempol mereka. Tapi aku tidak. Aku baru beranjak ketika jam dinding di ruangan sudah menunjukkan pukul lima tepat.

Inilah yang kusukai dari senja. Senja berarti aku selesai bekerja, dan punya banyak waktu untuk kuhabiskan di rumah. Senja berarti aku bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan orang yang kusayangi. Senja berarti menjelang malam, dan akan ada makan malam yang selalu indah. Senja berarti, esok aku akan kembali ke kantor ini, duduk di mejaku di samping jendela, dan kembali menanti senja berikutnya.


Jurangmangu, 170411

Salam,
Wahyu Widyaningrum

P.S. Post pertama dari Tiga Potongan Puzzle Ketika Senja (1) dapat dibaca disini.

Tuesday, April 12, 2011

Au Neko

Seorang wanita tua duduk di emperan sebuah toko. Ia mengenakan daster panjang bergambar bunga-bunga. Bunga-bunga di dasternya seharusnya berwarna merah, kuning, dan oranye. Kenyataannya, bunga-bunga itu sudah berubah warna, menjadi serupa abu-abu. Mungkin bunga-bunga itu ada di sebuah taman yang letaknya dekat dengan tempat orang-orang membakar sampah sehingga mereka tertutup abu yang beterbangan dan akhirnya warna asli mereka tak lagi tampak.

Wanita itu seharusnya mengenakan daster dengan jahitan rapi. Kenyatannya,di dasternya banyak sekali lubang-lubang, baik besar maupun kecil. Lebih banyak dari lubang-lubang itu adalah sebentuk garis berjajar yang dibuat dengan benang untuk menyambungkan dua sisi kain yang terbelah. Entah siapa yang menjahit-tangan dasternya.


Tidak ada yang tahu persis berapa usia wanita itu. Beberapa orang menerka-nerka, namun sebagian besar dari mereka setuju bahwa wanita itu berusia antara 55 sampai 60 tahun. Jika ditanya bagaimana orang-orang itu menerka angka sekian, mereka akan menjawab bahwa memang wanita itu berpenampilan seperti seorang berusia 55 sampai 60 tahun. Mungkin maksud mereka adalah kekencangan kulit dan roman muka wanita itu yang menyatakan demikian. Mereka hanya menerka, tidak ada yang bertanya langsung kepada wanita itu sehingga mendapatkan jawaban langsung yang tentu lebih akurat dan melegakan dibanding hanya menerka-nerka tanpa dasar yang jelas.

Wanita itu sedang menggendong seorang anak perempuan. Seperti bagaimana orang-orang tak tahu berapa persisnya usia si wanita, mereka pun tak tahu berapa usia anak perempuan yang digendong si wanita. Namun, dari perawakan anak itu, mereka menebak ia berusia sekitar 3 sampai 4 tahun. Perawakannya kecil, kulitnya putih, dan senyumnya indah.

Tapi kali ini tak ada yang mampu melihat seindah apa senyum anak perempuan itu. Sejak tadi ia tidak tersenyum. Sejak tadi ia hanya meringkuk di gendongan seorang wanita tua. Ia merasa ingin sekali menangis dan mengeluarkan air mata, tapi tak ada setetes pun air matanya yang keluar. Ia tak tahu kenapa. Mungkin sudah surut dan kelenjar air matanya tak lagi berproduksi lantaran sudah terlampau lama ia menangis. Pipinya sudah tak lagi basah oleh air mata, tapi masih tampak bekas-bekas air mata disana.

Seorang pun tak ada yang tahu kenapa sejak tadi anak perempuan itu menangis. Gengsi mereka terlalu tinggi untuk sekedar bertanya mengapa ia menangis. Mereka terlalu acuh untuk mendekat. Aktivitas mereka masing-masing lebih menarik perhatian daripada melangkah mendekati sepasang wanita tua dan anak perempuan kemudian mencoba membantu mereka berdua.

Sejak tadi, wanita itu hanya menepuk-nepuk punggung anak di gendongannya sambil menggoyang-goyangkan badannya. Ia mengatakan sesuatu, tapi juga tak ada yang tahu. Orang-orang hanya menerka apa yang ia katakan. Mereka menerka dari gerak bibirnya, berapa kali ia membuka-tutup mulutnya dan berapa jumlah suku kata yang sepertinya ia ucapkan. Mereka kemudian sepakat, bahwa ia tak mengucapkan “jangan menangis” atau “cup cup cup”.

Suara tangis anak perempuan dalam gendongan wanita tua makin kencang, meskipun tetap saja tak ada air mata yang keluar. Sejak dua hari lalu ia tak makan apapun. Hanya air putih yang diambilkan wanita itu dari kran air di depan sebuah rumah. Perutnya sudah tak tahan lagi. Ia butuh makan, tak lagi butuh air. Perutnya menolak dan protes, menyuruh pikirannya untuk menangis. Jadi menangislah ia sejak tadi. Wanita yang menggendongnya hanya menepuk-nepuknya, sambil mengatakan sesuatu. Orang-orang di sekitarnya tak ada yang mendekat barang sejenak bahkan untuk berbasa-basi. Mereka hanya memandang dari jauh sambil membicarakannya.

Wanita itu tak punya apa-apa, dan tak bisa apa-apa. Yang bisa ia lakukan saat itu adalah terus saja menepuk-nepuk punggung anak perempuan di gendongannya sambil mengatakan sesuatu. Lama kelamaan, tangis anak itu reda. Mungkin lelah menangis, atau mungkin juga lelah meminta tapi tak ada yang menuruti. Atau lelah meminta tapi tak ada yang mengerti.

Suasana sepi, tak ada lagi tangis yang pecah. Orang-orang tetap memandang si wanita yang masih saja menepuk punggung anak itu dan mengatakan sesuatu meskipun ia sudah tak lagi menangis. Mereka mempertajam pendengarannya. Beberapa orang mampu mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, dan mereka sedikit berdiksusi sambil menerka-nerka. Akhirnya mereka sepakat, wanita itu sejak tadi berkata, “Au neko.”

Ia berkata au neko, aku sayang kamu.


Salam,
Wahyu Widyaningrum

N.B.: Au neko adalah bahasa Timor, artinya kurang lebih aku sayang kamu. Kisah ini terinspirasi oleh tulisan ini.